You are on page 1of 7

Nama : Putu Elvira Yulianthi

NIM : 1608511050

SOAL

1. Perbedaan molekul DNA dan RNA

2. Mengapa disebut asam nukleat?

3. Basa purin dan pirimidin terikat pada atom C nomer berapa dalam molekul gula?

4. Apa maksud dari

5 3

3 5

5. Secara alamai, konformasi mana yang ditemukan di alam? Konformasi A, B atau


Z?

6. Mengapa A selalu berpasangan dengan T dan G selalu berpasangan dengan C ?

JAWABAN

1. Struktur Asam Deoksiribonukleat (DNA)

Asam ini adalah polimer yang terdiri atas molekul-molekul deoksiribonukleotida


yang terikat satu sama lain sehingga membentuk rantai polinukleotida yang panjang.
Molekul DNA yang panjang ini terbentuk oleh ikatan antara atom C nomor 3 dengan
atom C nomor 5 pada molekul deoksiribosa dengan perantaraan gugus fosfat.

Struktur sekunder DNA ditemukan oleh James D. Watson dan F.H.C Crick
(1953). Mereka menyusun pola difraksi sinar X yang menunjukkan model
polideoksiribonukleotida berbentuk heliks ganda.

Gambar diatas menjelaskan bahwa (A) pita pada diagram menunjukkan tulang
belakang gula-fosfat dari dua untai DNA. Heliks ini adalah heliks tangan kanan,
berlekuk keatas dengan arah kekanan. Kedua untaian diikat bersama oleh ikatan
hidrogen (digambarkan garis titik-titik) diantara basa nitrogen, yang berpasangan
dibagian dalam heliks ganda. (B) menunjukkan sebagian struktur kimia, dengan dua
untai yang diuraikan, untaian memiliki orientasi arah yang berlawanan. (C) pasangan
basa nitrogen yang terikat kuat tampak jelas pada model komputer (tiga dimensi).
Daya tarik menarik antara pasangan basa yang berpotongan mempunyai peranan
penting dalammempertahankan molekul.
Struktur Asam Ribonukleat (RNA)

Asam ribonukleat adalah suatu polimer yang terdiri atas molekul-molekul


ribonukleotida. Seperti DNA asam ribonukleat terbentuk oleh adanya ikatan antara
atom C nomor 3 dengan atom C nomor 5 pada molekul ribosa dengan perantaraan
gugus fosfat. Rumus strukturnya sama dengan gambar dibwah ini. Tetapi gulanya
adalah ribosa ( atom C nomor 2 mengikat gugus -OH)

Struktur sekunder RNA adalah kumparan acak tunggal dan beberapa bagian
berbentuk heliks yang menunjukkan pasangan basa. Struktur sekunder RNA
bermacam-macam sesuai jenis RNA-nya. Jenis mRNA dapat berbentuk heliks, tRNA
berbentuk daun semanggi dan rRNA berbentuk acak.

2. Asam nukleat adalah makromolekul biokimia yang kompleks, berbobot molekul


tinggi dan tersusun atas rantai nukleotida yang mengandung informasi genetik. Asam
nukleat yang paling umum adalah Asam deoksiribonukleat (DNA) dan Asam
ribonukleat (RNA).
Asam nukleat dinamai demikian karena keberadaan umumnya di dalam inti
(nukleus) sel. Awalnya Miescher menemukan adanya senyawa organik yang tidak
biasa dalam inti sel dan senyawa tersebut diberi nama nuklein. Dikatakan senyawa
tidak biasa karena mengandung nitrogen dan fosfor, selain karbon, hidrogen dan
oksigen. Nukelin adalah salah satu senyawa organik pertama yang telah ditemukan
yang berisi kombinasi elemen. Penelitian menunjukkan bahwa berbagai bentuk
nuklein terdapat pada bagian sel yang lain, bukan dalam inti sel. Jadi, asam nukleat
merupakan bentuk modifikasi dari nuklein.

3. Basa purin atau pirimidin terikat pada pentosa oleh ikatan glikosidik, yaitu pada
atom karbon nomor 1.

Pada gambar diatas, purin atau pirimidin berikatan secara kovalen dengan
D-ribofuranosa (ribonukleosida) atau dengan 2-deoksi-D-ribofuranosa
(deoksiribonukleosida) dalam suatu ikatan N--glikosidik. Ikatan ini melibatkan
gugus hemiasetal C-1dari pentosa dan atom nitrogen N-9 dari suatu purin atau N-1
dari suatu pirimidin.
4.

Gambar diatas memperlihatkan struktur dari suatu fragmen tetranukleotida RNA


yang mengandung empat basa nitrogenosa utama dari asam nukleat ini.
Masing-masing nukleotida dihubungkan oleh ikatan fosfodiester yang melibatkan
atom karbon 3- dan 5- dari residu ribosil dan disebut ikatan 3-5-fosfodiester.
Ikatan 3-5-diester yang sama terjadi antara residu deoksiribosil dari DNA. Seperti
protein, banyak asam nukleat, yang merupakan polimer linier, memiliki dua termini.
Satu disebut terminus-5 (ujung -5) dan yang lain disebut terminus-3.

5 3

3 5
Basa yang dimiliki analog dengan gugus rantai samping dari asam amino yakni
bervariasi tanpa mengubah struktur ikatan kovalen fosfodiester. Urutan ditulis dari
ujung 5' ke 3' : 5'-ATGCTAGC-3. Karena DNA merupakan rantai ganda dan
atom-atom karbon mempunyai aturan untuk mengikat basa nitrogen dan gugus fosfat
maka satu rantai DNA terlihat berdiri tegak sedangkan rantai pasangannya justru
terbalik. Maka pada notasi penulisan kode genetik DNA, ditulis -5 kode genetik -3,
sedangkan untuk rantai pasangannya justru ditulis -3 kode genetik -5. Pengaturan ini
disebut konfigurasi antiparalel.

5.

Struktur DNA seperti yang dikemukakan oleh Watson dan Crick dapat
dikelompokkan pada tipe B. Molekul DNA tipe B mempunyai lekukan besar dan
lekukan kecil. Dibandingkan dengan tipe A, lekukan besar pada tipe B lebih mudah
mengikat protein tertentu karena lekukan besar pada tipe A lebih dalam. Bentuk A
lebih menyerupai konformasi bagian untai-ganda molekul RNA (misalnya pada
tRNA). Molekul hibrid DNA-RNA juga cenderung mempunyai bentuk tipe A.

DNA tipe Z adalah satu-satunya DNA yang untaiannya mempunyai orientasi


putar-kiri (left-handed). Molekul DNA tipe semacam ini mempunyai kerangka
gula-fosfat yang berbentuk zigzag (sehingga disebut Z). Pada awalnya diduga bahwa
DNA Z tidak akan ditemukan secara in vivo karena tipe ini hanya akan stabil dalam
kondisi kadar garam yang tinggi. Akan tetapi bukti-bukti menunjukkan bahwa DNA Z
dapat menjadi stabil dalam kondisi fisiologis normal jika basa cytosine mengalami
metilasi menjadi 5-methylcytosine. Dengan teknik antibodi fluoresen (fluorescent
antibody) dapat dibuktikan bahwa DNA tipe Z ada pada bagian tertentu kromosom
Drosophila. Bukti lain juga menunjukkan bahwa DNA Z dapat ditemukan secara in
vivo, yaitu dengan ditemukannya suatu protein pada jaringan Drosophila yang hanya
dapat berikatan dengan DNA Z sintetik, tetapi tidak dapat berikatan dengan DNA tipe
B.

6. Basa guanin (G) selalu berikatan dengan basa sitosin (C) dan basa adenin (A)
selalu berikatan dengan timin (T). Perpasangan ini didasarkan pada penelitian
Chargaff, sehingga biasa disebut dengan aturan chargaff. Chargaff telah mengisolasi
DNA dari beberapa organisme, dan mendapatkan bahwa banyaknya basa purin selalu
sama dengan banyaknya basa pirimidin, banyaknya A selalu sama dengan T, dan
jumlah G sama dengan jumlah C atau (A+G)/(T+C)=1. Jumlah G+C tidak sama
dengan A+T, atau perbandingan (G+C)/(A+T) tidak sama dengan satu tetapi
bervariasi tergantung dari organismenya. Antara basa G dan C dapat terbentuk 3
ikatan hidrogen, dan antara A dan T dihubungkan dengan 2 ikatan hidrogen, sehingga
ikatan antara G-C lebih kuat dibandingkan dengan A-T. Oleh sebab itu DNA yang
banyak mengandung G dan C lebih sulit didenaturasi (dirusak atau diuraikan)
dibandingkan dengan DNA yang banyak mengandung A dan T.