You are on page 1of 3

Museum Merajut Kerukunan Hidup Berbangsa

Dewan Museum Internasional atau ICOM mendefinisikan museum sebagai


sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani
masyarakat, dan terbuka untuk umum. Dikatakan juga tugas museum adalah
mencari, melestarikan, dan memamerkan benda-benda perihal jati diri manusia dan
lingkungannya untuk tujuan studi (riset), pendidikan (edukasi), dan hiburan
(rekreasi). Museum harus bersifat rekreatif-edukatif dan berperan sebagai lembaga
pendidikan nonformal.
Dalam beberapa tahun terakhir ini, banyak orang mendirikan museum.
Memang museum bukan hanya milik pemerintah. Swasta atau pribadi boleh saja
mendirikan museum. Syarat minimal pendirian museum sudah tertuang dalam
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2015. Koleksi, tempat
(bangunan/ruangan), sumberdaya manusia, dan sumber pendanaan merupakan
syarat mutlak. Khusus untuk museum swasta atau museum pribadi, ada lagi syarat
tambahan, yakni harus berbadan hukum (yayasan). Memiliki visi dan misi serta
nama museum merupakan syarat tambahan untuk museum ideal.
Setelah terbentuk, museum harus didaftarkan. Tempat pendaftaran tergantung
lokasi museum, yakni Menteri, untuk museum yang didirikan oleh pemerintah atau
pemerintah daerah provinsi; Gubernur, untuk museum yang didirikan oleh
pemerintah daerah kabupaten/kota, atau Bupati/Walikota, untuk museum yang
didirikan oleh setiap orang atau masyarakat hukum adat.

Museum kebudayaan
Umumnya museum memamerkan hasil-hasil kebudayaan yang disokong oleh
orang-orang Indonesia. Pada masa kolonial, adanya museum-museum kebudayaan
mampu membangkitkan semangat juang dan menanamkan jiwa patriotisme di
kalangan cendekiawan pribumi. Bahkan lembaga museum mampu melahirkan
pemikiran-pemikiran baru, yaitu pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu
para pejuang kemerdekaan sering mengunjungi museum. Dari museumlah para
pejuang bercermin kepada kemegahan masa silam Nusantara untuk segera
mengusir penjajahan Belanda. Demikian salah satu tulisan tokoh permuseuman
Amir Sutaarga.
Perspektif sejarah dan kemegahan masa silam Nusantara sebelum menjadi
daerah jajahan telah mulai disimpan dalam museum-museum yang ada pada masa
itu. Pembangunan Museum Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen
(sekarang Museum Nasional Jakarta/1868), Museum Bali (1932), dan Museum
Sonobudoyo (Yogyakarta, 1935), merupakan tiga museum penting yang berkenaan
dengan kebudayaan Nusantara.
Setelah Indonesia merdeka, kata Prof. Agus Aris Munandar, perhatian
terhadap pembangunan museum sangat meningkat. Sekarang ini hampir semua
provinsi di Indonesia memiliki museum negeri provinsi. Bangunan-bangunan
museum itu memiliki arsitektur tradisional yang berkembang secara dominan di
daerah masing-masing. Koleksinya pun berkenaan dengan wilayah dan kebudayaan
lokal.
Museum juga merupakan salah satu lembaga pembinaan kesadaran sejarah
Indonesia. Berbagai peristiwa sejarah terekam dari beberapa museum. Dari Museum
Kebangkitan Nasional, masyarakat tahu adanya Sekolah Dokter Jawa yang
kemudian berkembang menjadi Sekolah Kedokteran Bumi Putera (STOVIA). Dari
Museum Sumpah Pemuda, masyarakat tahu peran para pemuda dari berbagai etnis,
termasuk Arab dan Tionghoa, untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Dari Museum Perumusan Naskah Proklamasi, masyarakat tahu bagaimana dan
siapa-siapa saja yang berperan untuk menuju Indonesia merdeka. Dari Museum
Benteng Vredeburg, masyarakat tahu bagaimana peristiwa perjuangan di
Yogyakarta.
Beberapa museum di Indonesia sudah menginformasikan beragam
kebudayaan yang unik. Kita memiliki Museum Indonesia, Museum Asmat, dan
Museum Hakka (Museum Tionghoa) di kompleks Taman Mini Jakarta. Di
Tangerang ada Museum Benteng Heritage, mengisahkan peranakan Tionghoa dan
benda-benda budayanya.
Kita juga memiliki museum keagamaan. Ada Museum Katedral di Lapangan
Banteng, Museum Alkitab di Salemba, dan Museum Istiqlal di Taman Mini. Itulah
keunikan Indonesia, bercirikan Bhinneka Tunggal Ika.
Belum lagi museum-museum Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan
Tentara Nasional Indonesia (TNI). Dari kedua jenis museum ini, masyarakat tahu
bagaimana beratnya perjuangan kedua institusi demi keutuhan Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI).

Peran museum
Museum memiliki tiga peran utama, yaitu sebagai pusat pewarisan nilai-nilai
budaya, sebagai pusat penelitian, dan sebagai media pembelajaran, termasuk di
dalamnya tentang nilai perjuangan dan kejuangan bangsa. Museum sebagai pusat
pewarisan nilai-nilai budaya, dapat diartikan melalui museum kita bisa
mendapatkan informasi mengenai perjalanan budaya Indonesia.
Koleksi Museum Nasional, misalnya, menginformasikan tentang perjalanan
sejarah budaya bangsa Indonesia dari masa prasejarah, masa Hindu-Buddha, masa
Islam, dan masa Kolonial. Di museum ini masyarakat juga dapat melihat hasil karya
berbagai etnik yang ada di Indonesia.
Museum sebagai pusat penelitian berarti keberadaan museum bukan hanya
tempat menyimpan benda-benda bernilai penting. Tetapi tempat para mahasiswa
atau akademisi melakukan kajian guna mempelajari perkembangan budaya suatu
bangsa, kelompok, atau masyarakat.
Museum sebagai media pembelajaran berarti museum harus dapat dijadikan
sarana untuk memahami budaya dan sejarah suatu masyarakat, kelompok, atau
bangsa oleh segala golongan secara terbuka. Museum berperan pula dalam dunia
pendidikan. Belajar lewat cara ini dipandang lebih bermakna karena adanya
keterkaitan antara materi yang disampaikan dengan apa yang dapat dilihat peserta
didik di lingkungannya secara nyata.
Keberadaan museum tidak boleh lepas dari tiga pilar permuseuman, yakni
mencerdaskan bangsa, mengidentifikasikan dan membentuk kepribadian bangsa,
serta menanamkan konsep ketahanan nasional dan wawasan Nusantara. Ketiga
pilar merupakan landasan kegiatan operasional museum yang dibutuhkan di era
globalisasi ini. Pada saat masyarakat mulai kehilangan orientasi akar budaya atau
jati dirinya, maka museum dapat mempengaruhi dan memberi inspirasi tentang hal-
hal penting yang harus diketahui dari masa lalu untuk menuju ke masa depan.
Koleksi dan museum diyakini merupakan jantung sebuah museum.
Pengunjung datang ke museum tidak lain untuk mencocokkan pengetahuan atau
mendapatkan pengalaman baru tentang apa yang ia telah ketahui. Untuk itu
museum harus mampu menyajikan pesan dan nilai secara demokratis dan wajar.
Umumnya masyarakat menaruh harapan besar terhadap museum agar
lembaga ini mampu menyediakan informasi yang terpercaya. Bahkan hasil
penelitian di Universitas Indiana, sebagaimana dikemukakan Dr. Daud Aris
Tanudirdjo, museum dianggap sumber informasi sejarah yang lebih dapat
diandalkan dibanding buku, guru, atau kesaksian pribadi.

Penguatan jati diri


Museum merupakan sarana untuk mengembangkan budaya dan peradaban
manusia. Untuk itu museum tidak hanya bergerak di sektor budaya dan sejarah,
tetapi sangat luas, seperti di sektor ekonomi, politik, sosial, dan iptek. Selain itu
museum merupakan wahana yang memiliki peranan strategis terhadap penguatan
jati diri (identitas) masyarakat.
Sangat disayangkan pendirian museum daerah belum merata. Padahal
museum bukan hanya menunjukkan sarana belajar tetapi juga sebagai maskot
daerah atau kepedulian dari pemimpin daerah terhadap potensi daerahnya.
Diharapkan museum mampu menjadi mediator dan menciptakan peradaban
yang multikultural. Bahkan membantu generasi muda menjadi benteng untuk
menuju patriotisme dan nasionalisme menghadapi arus globalisasi. Lewat cara ini
museum akan merajut kerukunan hidup berbangsa.***