You are on page 1of 15

ANALISIS PENGARUH INVESTOR INSTITUTIONAL DAN KINERJA

FUNDAMENTAL DENGAN GROWTH DAN SIZE SEBAGAI VARIABEL


KONTROL TERHADAP KEBIJAKAN DIVIDEN

(Studi Pada Perusahaan Non Keuangan yang Listing di Bursa Efek Indonesia
Periode Tahun 2010-2013)

Widi Artiningsih, SE
12010110400166
Magister Manajemen Universitas Diponegoro
Jl. Erlangga Tengah No. 17, Semarang

ABSTRACT

This study is performed to examine the effect of investor institutional, return


on asset (ROA), debt to equity ratio (DER,) growth and size, toward Dividend Payout
Ratio (DPR) in companies that is listed in BEI. Sampling technique used here is
purposive sampling on criterion (1) the non financial company that trade their stocks
in Indonesian Stock Exchange; (2) the non financial company having institutional
ownership per December 2010-2013; and (3) the company that continually share
their dividend per December 2010-2013. During 2010-2013 period show as deviation
has not founded this indicate clasiccal assumption that the available data has fulfill
the condition to use multi linier regression model. Empirical evidence show ROA,
DER, growth and size to have influence toward DPR at level of significance less than
5%, investor institutional have not influence toward DPR at level of significance
more than 5%.
Keywords: investor institutional, return on asset (ROA), debt to equity ratio (DER,)
growth, size, and dividend payout ratio (DPR.)

PENDAHULUAN
Investor mempunyai tujuan investasi (return) baik berupa
utama dalam menanamkan dananya ke pendapatan dividen (dividen yield)
dalam perusahaan yaitu untuk mencari maupun pendapatan dari selisih harga
pendapatan atau tingkat kembalian jual saham terhadap harga belinya

1
(capital gain). Dalam hubungannya dihadapkan pada berbagai macam
dengan pendapatan dividen, para pertimbangan antara lain: perlunya
investor umumnya menginginkan menahan sebagian laba untuk
pembagian dividen yang relatif stabil, reinvestasi yang mungkin lebih
karena dengan stabilitas deviden dapat menguntungkan, kebutuhan dana
meningkatkan kepercayaan investor perusahaan, likuiditas perusahaan, sifat
terhadap perusahaan sehingga pemegang saham, target tertentu yang
mengurangi ketidakpastian investor berhubungan dengan rasio pembayaran
dalam menanamkan dananya ke dalam dividen dan faktor lain yang
perusahaan. Di sisi lain, perusahaan berhubungan dengan kebijakan
yang akan membagikan dividen deviden (Brigham, 2005).
Husnan (1989) menyatakan untuk menentukan berapa banyak
bahwa perusahaan dalam mengelola dividen yang harus dibagikan kepada
keuangannya selalu dihadapkan pada para pemegang saham. Keputusan-
tiga permasalahan penting yang saling keputusan tersebut akan mempunyai
berkaitan. Ketiga permasalahan pengaruh terhadap nilai perusahaan
tersebut adalah keputusan investasi, yang tercermin dari harga pasar
keputusan pendanaan dan kebijakan perusahaan.
Dividen payout ratio (DPR) (retained) di dalam perusahaan. Dari
adalah suatu keputusan untuk pengertian tersebut, DPR didasarkan
menentukan berapa besar bagian dari pada rentang pertimbangan antara
pendapatan perusahaan yang akan kepentingan pemegang saham disatu
dibagikan kepada para pemegang sisi dan kepentingan perusahaan disisi
saham dan yang akan diinvestasikan yang lain (Jensen et al., 1992).
kembali (reinvestment) atau ditahan
Kebijakan dan pembayaran menerus untuk mempertahankan
dividen pada perusahaan yang go kelangsungan hidupnya, dan sekaligus
public mempunyai dampak yang juga harus memberikan kesejahteraan
sangat penting baik bagi para investor yang lebih besar kepada para
maupun bagi perusahaan yang akan pemegang sahamnya. Hal tersebut
membayarkan dividennya. Pada dapat menimbulkan permasalahan,
umumnya para investor mempunyai karena di satu sisi kebijakan dividen
tujuan utama untuk meningkatkan adalah sangat penting untuk memenuhi
kesejahteraannya yaitu dengan harapan para pemegang saham
mengharapkan return dalam bentuk terhadap dividen dan di sisi lain
dividen maupun capital gain. Di lain bagaimana kebijakan dividen ini bisa
pihak, perusahaan juga mengharapkan dilakukan tanpa harus menghambat
adanya pertumbuhan secara terus- pertumbuhan perusahaan.
Penelitian Hasnawati (2008) dengan pemegang saham, selain itu
menemukan bahwa perusahaan akan juga ditemukan bahwa pada kebijakan
membayarkan dividen untuk dividen indikator dividend pay out
mengurangi konflik antara manajemen ratio memiliki kemampuan yang

2
sangat kuat dalam membentuk variable dengan Dividend Yield.
kebijakan dividen dibandingakan
Profitabilitas merupakan rasio
yang penting dalam mempengaruhi
kebijakan dividen. Nilai Return on
Asset (ROA) yang tinggi akan
menunjukkan bahwa perusahaan
mampu menghasilkan keuntungan
berbanding asset yang relatif tinggi.
Investor akan menyukai perusahaan
dengan nilai ROA yang tinggi, karena
perusahaan dengan nilai ROA yang
tinggi mampu menghasilkan tingkat
keuntungan lebih besar dibandingkan
perusahaan dengan ROA rendah.
Perusahaan yang mempunyai aliran
kas atau profitabilitas yang baik bisa
membayar dividen atau meningkatkan
dividen. Semakin besar keuntungan
yang diperoleh, maka akan semakin
besar pula kemampuan perusahaan
untuk membayar dividen .
Kemampuan perusahaan dalam
memenuhi seluruh kewajibannya, yang
ditunjukkan oleh berapa bagian modal
sendiri yang digunakan untuk
membayar hutang juga mempengaruhi
kebijakan dividen, dimana peningkatan
hutang pada gilirannya akan
mempengaruhi besar kecilnya laba
bersih yang tersedia bagi para
pemegang saham termasuk dividen
yang akan diterima, karena kewajiban
tersebut lebih diprioritaskan daripada
pembagian dividen. Jika beban hutang
semakin tinggi, maka kemampuan
perusahaan untuk membagi dividen
akan semakin rendah (Wicaksana,
2012.

3
Ukuran perusahaan (Size) merupakan bahwa ukuran perusahaan (Size)
suatu bentuk pengklasifikasian antar dijadikan variabel kontrol dalam
perusahaan yang satu dengan penelitian ini (Margaretta, 2010). Nilai
perusahaan yang lain. Semakin besar penjualan (Net Sales) dipakai sebagai
jumlah penjualan yang dimiliki maka ukuran perusahaan karena selama ini
perusahaan tersebut akan digolongkan masih terdapat compounding effect
ke dalam perusahaan dengan ukuran yang timbul karena perusahaan yang
yang besar dan cenderung mempunyai besar selalu diidentikkan dengan nilai
kontrol yang baik untuk mendapatkan penjualan yang besar pula (Rafique,
laba yang besar, sedangkan semakin 2012). Growth juga dijadikan sebagai
kecil jumlah penjualan yang dimiliki variabel kontrol dalam penelitian ini
maka perusahaan tersebut akan (Gupta dan Banga, 2010), dimana
digolongkan kedalam perusahan perusahaan dengan tingkat
dengan ukuran yang kecil dan pertumbuhan tinggi diduga mampu
cenderung mendapatkan laba yang membagikan dividen yang tinggi.
kecil. Hal ini yang menjadi alasan
KAJIAN TEORI membayarkan dividennya jika hanya
tidak memiliki kesempatan investasi
Teori Residual Dividen yang menguntungkan.
Menurut teori residual
dividend, perusahaan akan
Bird in The Hand Theory earning). Alasan mereka adalah bahwa
pembayaran dividen merupakan
Myron Gordon dan J. Litner penerimaan yang pasti dibandingkan
dengan teorinya Bird in The Hand dengan capital gain. Mereka
Theory mengemukakan bahwa para mengkiaskan bahwa satu burung di
pemegang saham lebih suka kalau tangan lebih berharga dari pada seribu
earning dibagikan dalam bentuk burung di udara (Sartono, 1998).
dividen, dari pada ditahan (retained

4
Balancing Theory Agency Theory menyatakan
bahwa yang disebut principal adalah
Model struktur modal dalam pemegang saham dan yang dimaksud
lingkup balancing theories menurut agen adalah para professional yang
Myers (1984) dalam Husnan (1998) dipercaya oleh principal untuk
disebut sebagai teori keseimbangan mengelola perusahaan. Dalam
yaitu menyeimbangkan komposisi menjalankan usaha biasanya pemilik
hutang dan modal sendiri. Teori ini menyerahkan atau melimpahkan
pada intinya menyeimbangkan antara kepada pihak lain yaitu manajer yang
manfaat dan pengorbanan yang timbul menyebabkan timbulnya hubungan
sebagai akibat penggunaan hutang. keagenan.(Pujiastuti, 2008)
Sejauh manfaat masih besar, hutang
akan ditambah. Tetapi bila Dalam teori agency perusahaan
pengorbanan menggunakan hutang merupakan titik hubungan keagenan
sudah lebih besar maka hutang tidak antara pemilik perusahaan dengan
lagi ditambah. Pengorbanan karena manajemen dengan masing-masing
menggunakan hutang tersebut bisa pihak yang terlibat dalam hubungan
dalam bentuk biaya kebangkrutan agensi, mereka akan berusaha
(bankruptcy cost) dan biaya keagenan memaksimalkan utilitas masing-
(agency cost). Biaya kebangkrutan masing. Kepentingan antara
antara lain terdiri dari legal fee yaitu manajemen dengan kepentingan
biaya yang harus dibayar kepada ahli pemegang saham sering kali
hukum untuk menyelesaikan klaim dan bertentangan, hal inilah yang
distress price yaitu kekayaan menimbulkan adanya konflik agensi.
perusahaan yang terpaksa dijual Konflik agensi muncul sebagai akibat
dengan harga murah sewaktu adanya pemisahan antara kepemilikan
perusahaan dianggap bangkrut. dan pengendalian perusahaan. Di mana
Semakin besar kemungkinan terjadi perusahaan yang memisahkan antara
kebangkrutan dan semakin besar biaya kepemilikan dengan fungsi
kebangkrutan, semakin tidak menarik pengelolaan akan semakin rentan
menggunakan hutang. Hal ini terhadap konflik agensi. Konflik
disebabkan karena adanya biaya agensi dapat diminimkan dengan suatu
kebangkrutan, biaya modal sendiri mekanisme pengawasan atau
akan naik dengan tingkat yang makin monitoring yang dapat mensejajarkan
cepat. Sebagai akibatnya, meskipun kepentingan-kepentingan yang terkait
memperoleh manfaat penghematan tersebut.
pajak dari penggunaan hutang yang
besar berdampak oleh kenaikan biaya Dividen dapat digunakan
modal sendiri yang tajam, sehingga dalam mengurangi agency conflict
berakhir dengan menaikkan biaya antara manajer dengan pemegang
perusahaan. saham. Bathala et al. (1994) dalam
Darman (2008) mengemukakan bahwa
Agency Theory kepemilikan institusional (institutional

5
ownership) merupakan suatu agen Elizabeth, SE, dkk (2009)
monitoring yang berperan aktif dalam dalam penelitiannya menemukan
melindungi kepentingan investasinya bahwa ketika perusahaan
dalam perusahaan dan untuk mengemukakan kenaikan dari dividen
mengurangi agency conflict, karena maka hal tersebut membuat pasar
dapat mengendalikan perilaku bereaksi positif dan ketika perusahaan
opportunistic manajer. mengumumkan penurunan dari
dividen maka hal tersebut membuat
Signalling Theory pasar bereaksi negatif. Reaksi positif
dan negatif tersebut dapat terlihat dari
Teori signalling menyatakan
rata-rata abnormal return yang positif
bahwa perusahaan yang berkualitas
signifikan dan negatif signifikan pada
baik dengan sengaja akan memberikan
dividend announcement date. Hasilnya
sinyal pada pasar yang berupa
juga terlihat bahwa ada perbedaan
informasi, dengan demikian pasar
antara profitabilitas perusahaan saat ini
diharapkan dapat membedakan
dengan profitabilitas perusahaan pada
perusahaan yang berkualitas baik dan
masa yang akan datang yang
buruk. Agar sinyal tersebut efektif,
mengemukakan kenaikan atau
maka harus dapat ditangkap pasar dan
penurunan dividen. Hasilnya dapat
dipersepsikan baik, serta tidak mudah
terlihat dari rata-rata ROEt+1>rata-rata
ditiru oleh perusahaan yang berkualitas
ROEt pada kenaikan dividen dan rata-
buruk (Husnan, 1998).
rata ROEt+1<rata-rata ROEt pada
Signalling Theory merupakan penurunan dividen dengan signifikansi
langkah-langkah manajemen dalam 5%.
perusahaan yang sebenarnya
PERUMUSAN HIPOTESIS DAN
memberikan petunjuk secara implisit
kepada investor tentang bagaimana KERANGKA PEMIKIRAN
prospek perusahaan. Dividen Dasar penyusunan hipotesa
merupakan salah satu signal bagi adalah konsep teori yang dipergunakan
investor dalam melihat prospek dalam penelitian ini sedangkan
perusahaan. Jika perusahaan penelitian terdahulu merupakan
mengumumkan peningkatan dividen, pendukung basis teori. Hal itu
maka investor akan menganggap disebabkan pada penelitian terdahulu
kondisi perusahaan saat ini dan akan merupakan kondisi empiris yang
datang relatif baik dan begitu juga belum tentu stabil. Berikut ini
sebaliknya (Kahar, 2008). kerangka pemikiran penelitian.

6
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian

Investor
Institusional
(H1)
Investor (H2)
Institusional
(H3) Investor
Institusional
Investor
Institusional (H4)

Investor
Institusional (H5)

Investor
Institusional

Dari Kerangka Pemikiran H3 : DER berpengaruh


Penelitian lalu dapat diringkas terhadap Kebijakan
hipotesis sebagai berikut: Dividen (DPR)
H1 : Investor Institusional H4 : Growth berpengaruh
berpengaruh terhadap terhadap Kebijakan
Kebijakan Dividen (DPR) Dividen (DPR)
H2 : ROA berpengaruh H5 : Size berpengaruh
terhadap Kebijakan terhadap Kebijakan
Dividen (DPR) Dividen (DPR)

METODE PENELITIAN Untuk sampel penelitian ini diambil


dengan menggunakan metode
Populasi dan Sampel Penelitian purposive sampling.
Populasi dari penelitian ini
adalah perusahaan non keuangan yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia
(BEI) selama periode 2010 2013.

7
Definisi Operasional
Tabel 1. Ringkasan Definisi Operasional Variabel

Variabel (Proksi) Definisi Operasional Skala Pengukuran Variabel


Dividend Payout Ratio Merupakan proporsi Rasio DPS
(DPR) dari laba bersih yang DPR X 100%
EPS
dibagikan kepada
pemegang saham

Investor Institusional Merupakan proporsi Rasio SahamInvestorInstitusional


kepemilikan investor IO
SeluruhSah amBeredar
institusional

Return on Asset (ROA) Merupakan ukuran Rasio Labasetelahpajak


efektifitas perusahaan di ROA x100%
TotalAsset
dalam menghasilkan
keuntungan dengan
memanfaatkan aktiva
yang dimilikinya

Debt to Equity Ratio Merupakan Rasio TotalDebt


(DER) perbandingan total DER x100%
TotalShareHolderEqui ty
hutang dengan total
shareholder equity yang
dimiliki perusahaan

Pertumbuhan Asset Rasio antara total asset Rasio TotalAsset (t ) TotalAsset (t 1)


Growth
(Growth) sekarang dikurangi TotalAsset (t 1)
dengan total asset tahun
sebelumnya terhadap
total asset sebelumnya

Ukuran Perusahaan (Size) Merupakan ukuran dari Nominal LnOfNetSales


besarnya jumlah seluruh
penjualan yang dimiliki
perusahaan

8
Analisis Data berganda. Persamaan yang digunakan
yaitu:
Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis faktor-faktor yang DPR=
mempengaruhi DPR pada perusahaan
non keuangan yang listing di BEI. +1IO+2ROA+3DER+4GROWTH
Pengujian dilakukan dengan
menggunakan analisis regresi +5SIZE+

Hasil Pengujian Hipotesis dan Pembahasan


NO HIPOTESIS t SIGNIFIKANSI KEPUTUSAN TEORI
HITUNG
1 Investor 1,327 0,187 DITOLAK AGENCY
Institusional THEORY
berpengaruh
terhadap
DPR
2 ROA 2,402 0,021 DITERIMA SIGNALLING
berpengaruh THEORY
terhadap
DPR
3 DER -2,352 0,028 DITERIMA BALANCING
berpengaruh THEORY
terhadap
DPR
4 Growth 2,795 0,006 DITERIMA RESIDUAL
berpengaruh DIVIDEND
terhadap THEORY
DPR
5 Size 2,275 0,032 DITERIMA
berpengaruh
terhadap
DPR
Sumber: data sekunder yang telah diolah

Dari hasil perhitungan uji secara 0,187. Karena nilai signifikansi lebih
partial diperoleh nilai t hitung sebesar besar dari 5% maka hipotesis ditolak
(1,327) dan nilai signifikansi sebesar berarti tidak terdapat pengaruh

9
signifikan variabel Investor signifikansi lebih kecil dari 5% maka
Instiusional terhadap variabel DPR. hipotesis diterima berarti terdapat
Hasil pembuktian tersebut pengaruh signifikan negatif variabel
menunjukkan H1 ditolak. Hal ini DER terhadap variabel DPR. Hasil
menunjukkan bahwa peran pihak pembuktian tersebut menunjukkan H3
investor institusi dalam melakukan diterima. Peningkatan hutang pada
pengawasan relatif lemah, sehingga akhirnya akan mempengaruhi besar
tidak mampu mempengaruhi kecilnya laba bersih yang tersedia bagi
perusahaan dalam membuat kebijakan para pemegang saham termasuk
dividen. Hasil ini sejalan dengan dividen yang akan diterima, karena
Immanuella (2012), Darman (2008), kewajiban tersebut lebih diprioritaskan
Kumar (2007) yang menunjukkan daripada pembagian dividen. Jika
bahwa kepemilikan institusi tidak beban hutang semakin tinggi, maka
mempengaruhi besarnya DPR. kemampuan perusahaan untuk
membagi dividen akan semakin
Dari hasil perhitungan uji
rendah. Hasil ini sejalan dengan
secara partial diperoleh nilai t hitung
Prihantoro (2003), Atmaja (2009),
sebesar (2,402) dan nilai signifikansi
Pujiastuti (2008) dan Wicaksana
sebesar 0,021. Karena nilai
(2012) yang menunjukkan bahwa DER
signifikansi lebih kecil dari 5% maka
mempengaruhi besarnya DPR.
hipotesis diterima berarti terdapat
pengaruh signifikan positif variabel Dari hasil perhitungan uji
ROA terhadap variabel DPR. Hasil secara partial diperoleh nilai t hitung
pembuktian tersebut menunjukkan H2 sebesar (2,795) dan nilai signifikansi
diterima. Sinyal positif yang sebesar 0,006. Karena nilai
ditunjukkan perusahaan melalui signifikansi lebih kecil dari 5% maka
tingkat profitabilitas yang tinggi akan hipotesis diterima berarti terdapat
memberikan dividen yang tinggi, pengaruh signifikan positif variabel
dimana perusahaan yang profitable growth terhadap variabel DPR. Hasil
dengan sengaja akan memberikan pembuktian tersebut menunjukkan H4
sinyal pada pasar yang berupa diterima. Perusahaan harus
informasi agar sinyal tersebut efektif, menyediakan modal yang cukup untuk
maka harus dapat ditangkap pasar dan dapat mendanai pertumbuhannya
dipersepsikan baik, serta tidak mudah secara terus menerus guna
ditiru oleh perusahaan yang berkualitas mempertahankan kelangsungan hidup
buruk. Hasil ini sejalan dengan perusahaan. Oleh karenanya, potensi
Wicaksana (2012) dan Atmaja (2009) pertumbuhan perusahaan menjadi
yang menunjukkan bahwa ROA faktor penting yang menentukan
mempengaruhi besarnya DPR. kebijakan dividen perusahaan. Hasil
ini sejalan dengan Atmaja (2009) yang
Dari hasil perhitungan uji
menunjukkan bahwa growth
secara partial diperoleh nilai t hitung
mempengaruhi besarnya DPR.
sebesar (-2,352) dan nilai signifikansi
sebesar 0,028. Karena nilai

10
Dari hasil perhitungan uji pertumbuhan asset yang
secara partial diperoleh nilai t hitung tinggi akan dapat
sebesar (2,275) dan nilai signifikansi memberikan dividen yang
sebesar 0,032. Karena nilai tinggi juga.
signifikansi lebih kecil dari 5% maka 2. Perusahaan perlu menjaga
hipotesis diterima berarti terdapat tingkat profitabilitas,
pengaruh signifikan positif variabel dimana perusahaan yang
size terhadap variabel DPR. Hasil profitable akan dapat
pembuktian tersebut menunjukkan H5 memberikan sinyal positif
diterima. Perusahaan yang besar pada pasar. Sinyal positif
memiliki akses ke pasar modal lebih ini akan menarik minat
besar dibanding perusahaan kecil, investor untuk
sehingga lebih mudah bagi perusahaan menanamkan investasi pada
besar untuk memperoleh dana yang perusahaan. Untuk investor
pada akhirnya dapat membagikan perlu melihat profitabilitas
dividen. Hasil ini sejalan dengan perusahaan, karena
Lucyanda dan Lilyana (2012), Atmaja meningkatnya kemampuan
(2009), Hatta (2002) yang profitabilitas perusahaan
menunjukkan bahwa size akan diikuti kemampuan
mempengaruhi besarnya DPR. perusahaan dalam
menghasilkan laba bersih
yang pada akhirnya akan
mempengaruhi jumlah
IMPLIKASI DAN KEBIJAKAN dividen yang akan
dibagikan kepada investor.
MANAJERIAL 3. Perusahaan perlu menjaga
besarnya hutang, melalui
Implikasi kebijakan dalam penelitian kebijakan permodalan yang
ini dapat dijelaskan sebagai berikut: baik, untuk menarik minat
investor menanamkan
1. Perusahaan perlu sahamnya. Untuk Investor
meningkatkan pertumbuhan perlu mempertimbangkan
asset perusahaan, karena besarnya hutang
tingkat penjualan yang perusahaan karena
tinggi akan meningkatkan tingginya hutang
rangsangan kepada manajer menyebabkan tingkat
untuk terus meningkatkan kewajiban yang tinggi,
pangsa pasarnya. Untuk sehingga laba yang ada
investor perlu melihat akan digunakan untuk
pertumbuhan asset dari memenuhi kewajiban
suatu perusahaan, karena dibandingkan dengan
perusahaan dengan membayarkan dividen
kepada investor.

11
4. Perusahaan besar perlu Ang, Robert, (1997), Buku Pintar
menjaga ukuran perusahaan Pasar Modal Indonesia,
karena suatu perusahaan Jakarta: Media Soft Indonesia.
besar yang sudah mapan
akan memiliki akses yang
mudah menuju pasar
Atmaja, Lukas Setia, (2009),
modal, sementara
"Dividend Policy in Australia",
perusahaan yang baru dan
Jurnal Keuangan dan
masih kecil akan
Perbankan, Vol. 13, No.2.
mengalami kesulitan untuk
memiliki akses ke pasar
modal. Untuk investor
perlu memperhatikan Binastuti, Sugiharti dan Wibowo,
ukuran perusahaan karena Taqdir Edy, (2012), "Faktor
perusahaan yang besar yang Mempengaruhi Kebijakan
memiliki kemudahan akses Dividen (Studi pada
ke pasar modal, sehingga Perusahaan Manufaktur yang
fleksibilitas dan Tercatat di Bursa Efek
kemampuannya dalam Indonesia)",
memperoleh dana yang Taqdire.files.wordpress.com.
lebih besar mampu
membuatnya memiliki rasio
pembayaran dividen yang Chandra, Rudy, (2010), Analisis
lebih tinggi daripada Pemilihan Saham oleh Investor
perusahaan kecil. Asing di Bursa Efek
Indonesia, Bisnis dan
KETERBATASAN PENELITIAN Birokrasi, Jurnal Ilmu
Administrasi dan Organisasi,
Adanya keterbatasan data Mei-Agustus 2010:101-113.
dalam penelitian ini lebih ditekankan
pada generalisasi hasil penelitian
hanya pada perusahaan yang listed di Darman, (2008), Agency Costs dan
BEI dan hasil penelitian nilai adjusted kebijakan Dividen pada
R square sebesar 36,2% pada Emerging Market, Jurnal
perusahaan non keuangan, sehingga Keuangan.
generalisasi hanya pada obyek yang
diteliti.

Elizabeth, SE, dkk, (2009),"Analisis


DAFTAR PUSTAKA Kebijakan Dividen: Suatu
Pengujian Dividend Signalling
Theory dan Rent Extraction

12
Hypothesis", Fakultas Ekonomi Hatta, Atika Jauhari, (2002), "Faktor-
Universitas Bengkulu. Faktor yang Mempengaruhi
Kebijakan Dividen: Investigasi
Pengaruh Teori Stakeholder",
JAAI, Volume 6, No.2.
Embara, dkk, (2012), "Variabel-
Variabel yang Berpengaruh
Terhadap Kebijakan Dividen
serta Harga Saham pada Horne, James, C. Van, (1998),
Perusahaan Manufaktur di Financial Management and
Bursa Efek Indonesia", Jurnal Policy, 8th.Ed.
Manajemen, Strategi Bisnis
dan Kewirausahaan, Vol. 6,
No. 2. Immanuella, Intan, (2012), "Analisis
Pengaruh Collateral Asset,
Debt to Equity Ratio,
Ghozali, Imam. (2011). Analisis Kepemilikan Institusional dan
Multivariate dengan SPSS. Investment Opportunity Set
Universitas Diponegoro (IOS) terhadap Kebijakan
Semarang. Dividen pada Perusahaan
Manufaktur yang terdaftar di
BEI", Jurnal Ekonomi Vol. 5,
No. 12.
Gupta, Amitabh; dan Charu Banga,
(2010), The Determinants of
Corporate Dividend Policy,
Decision. Indriantoro, Nur dan Supomo, B.,
(1999), Metodelogi Penelitian
Bisnis untuk Akuntansi dan
Manajemen, Edisi Pertama,
Hartono, Jogianto. (1999). Teori
Yogyakarta: BPFE.
Portofolio dan Analisis
Investasi, BPFE. Yogyakarta.

Kahar, Soleman H. Abdul, (2008).


Kepemilikan Manajerial
Hasnawati, Sri, (2008), Analisis
Terhadap Kebijakan Pendanaan
Dampak Kebijakan Dividen
dan Dividen, Jurnal
terhadap Nilai Perusahaan
Keuangan dan Perbankan Vol.
Publik di Bursa Efek Jakarta,
12, No.3.
Jurnal Bisnis dan Manajemen
Vol. 13, No.2.

13
Kang et al, (2010), Impact of Foreign Margaretta, Yenni, (2010), Analisis
Institutional Investors on rasio keuangan, kebijakan
Dividend Policy in Korea: A dividen, dengan ukuran
Stock Market Perspective, perusahaan sebagai variabel
Journal of Financial kontrol, STIE Perbanas
Management and Analysis, Surabaya.
23(1):2010:10-26.

Nugraheni, ST, Novita, (2013),


Khan et al, (2012), "The Impact of Faktor-Faktor Yang
Ownership Structure on Mempengaruhi Nilai
Dividend Policy Evidence from Perusahaan : Dividend Payout
Emerging Markets KSE-100 Ratio, Profitabilitas dan Asset
Index Pakistan", International Growth sebagai variabel
Journal of Business and Social intervening (Studi Empiris :
Science. Perusahaan Manufaktur yang
di BEI), Tesis S-2 (tidak
dipublikasikan, Universitas
Diponegoro Semarang.
Kumar, Suwendra, (2007), Analisis
Pengaruh Struktur
Kepemilikan, Investment
Opportunity Set (IOS), dan Prihantoro, (2003), Estimasi
Rasio-Rasio Keuangan Pengaruh Dividend Pay Out
terhadap Dividend Payout Ratio pada Perusahaan Publik
Ratio (DPR) (Studi Komparatif di Indonesia, Jurnal Ekonomi
pada Perusahaan PMA dan dan Bisnis No. 1, Jilid 8.
PMDNdi Bursa Efek Jakarta
Periode Tahun 2003-2005),
Tesis S-2 (tidak
Pujiastuti, Triani, (2008), Agency
dipublikasikan), Universitas
Cost terhadap Kebijakan
Diponegoro Semarang.
Dividen Pada Perusahaan
Manufaktur yang Go Public di
Indonesia, Jurnal Keuangan
Lucyanda, Jurica dan Lilyana, (2012), dan Perbankan, Vol. 12, No. 2.
"Pengaruh Free Cash Flow dan
Struktur Kepemilikan terhadap
Dividend Payout Ratio", Jurnal
Rafique, Mahira, (2012), Factors
Dinamika Akuntasi. Affecting Dividend Payout:
Evidence from Listed Non
Financial Firms of Karachi

14
Stock Exchange, Bussiness Soesetio, Yuli, (2008), "Kepemilikan
Management Dynamics. Manajerial dan Institusional,
Kebijakan Dividen, Ukuran
Perusahaan, Struktur Aktiva
dam Profitabilitas terhadap
Rahmawati, Intan dan Akram, (2007),
Kebijakan Hutang", Jurnal
Faktor-faktor yang
Keuangan dan Perbankan,
Mempengaruhi Kebijakan
Vol. 12, No. 3.
Dividen dan Pengaruhnya pada
Nilai Perusahaan pada
Perusahaan-perusahaan di BEJ
periode 2000-2004. Jurnal Tjandra, Ronowati, (2005), "Pengaruh
Riset Akuntansi. Vol 6, No 1. Investment Opportunity Set
(IOS) terhadap Kebijakan
Dividen dengan Pemoderasi
Pilihan Prosedur Akuntansi
Riyanto, bambang, (1995), Dasar
pada Perusahaan yang Go
Dasar Pembelanjaan
Public di Bursa Efek Jakarta",
Perusahaan, Yogyakarta,
Jurnal Bisnis dan Manajemen,
BPFE.
Vol. 5, No. 1, 2005: 65-78.

Santoso, Habib Dwi, (2012), Analisis


Wicaksana, I Gede Ananditha, (2012),
Faktor-Faktor yang
"Pengaruh Cash Ratio, DER,
Mempengaruhi Kebijakan
ROA terhadap Kebijakan
Dividen ( Studi Empiris pada
Dividen pada Perusahaan
Perusahaan manufaktur yang
Manufaktur di Bursa Efek
Terdaftar di bursa Efek
Indonesia", Tesis S-2 (tidak
Indonesia Periode 2007-
dipublikasikan), Universitas
2009), Skripsi S-1 (tidak
Udayana Denpasar.
dipublikasikan), Universitas
Diponegoro Semarang.

Sartono, Agus, (1998), Manajemen


Keuangan, Yogyakarta: BPFE.

Sarwono, Jonathan, (2006), Analisis


Data Penelitian menggunakan
SPSS, Yogyakarta: ANDI.

15