You are on page 1of 19

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tidur
2.1.1. Pengertian Tidur
Tidur merupakan periode untuk tubuh dan pikiran, yang selama masa ini
kemauan dan kesadaran ditangguhkan sebagian atau seluruhnya, dan fungsi-
fungsi tubuh sebagian dihentika. Tidur juga didefenisikan sebagai status tingkah
laku yang ditandai dengan posisi tidak bergerak yang khas dan sensitivitas
reversibel yang menurun, tapi siaga terhadap rangsangan dari luar5.
Tidur didefenisikan sebagai suatu keadaan bawah sadar dimana orang
tersebut dapat dibangunkan dengan pemberian rangsang sensorik atau rangsang
lainnya. Tidur harus dibedakan dengan koma, dimana koma merupakan keadaan
bawah sadar yang tidak dapat dibangunkan6.

2.1.2. Fisiologi Tidur


Pola siklus tidur dan bangun (irama sirkandian), adalah bangun sepanjang
hari disaat cahaya terang dan tidur sepanjang malam disaat gelap7. Jadi faktor
kunci adalah perubahan gelap dan terang. Stimulasi cahaya terang akan masuk
melalu mata dan mempengaruhi suatu bagian hipotalamus yang disebut nukleus
supra-chi asmatic (NSC). NSC akan mengeluarkan neurotransmiter yang
mempengaruhi pengeluaran berbagai hormon pengatur temperatur badan, kortisol,
growth hormone (GH), dan lain lain yang memegang peranan untuk bangun dan
tidur.jika pagi hari cahaya terang masuk, NSC segera mengeluarkan hormon yang
menstimulasi peningkatan temperatur badan, kortisol, dan GH sehingga orang
terbangun. Jika malam tiba NSC merangsang pengeluaran hormon melatonin
sehingga orang mengantuk dan tidur. Melatonin adalah hormon yang diproduksi
glandula pineal (suatu bagian kecil di otak tengah). Saat hari mulai gelap,
melatonin dikeluarkan dalam darah dan akan memepengaruhi terjadinya relaksasi
serta penurunan temperatur badan dan kortisol. Kadar melatonin dalam darah

3
meningkat pada jam 9 malam, terus meningkat sepanjang malam dan menghilang
pada jam 9 pagi (Gambar 1).

12 jam

9 pagi 9 malam

Gambar 1. Kadar Melatonin dalam Darah

Fisiologi tidur sendiri dapat dilihat melalui gambaran elektrofisiologi sel-


sel otak selama tidur (Gambar 2). Polisomnografi merupakan alat yang dapat
mendeteksi aktifitas otak selama tidur. Pemeriksaan polisomnografi sering
dilakuka saat tidur pada malam hari. Alat tersebut dapat mencatat aktifitas
gelombang otak elektroensefalogram (EEG), gerakan mata pada elektroekulogram
(EOG), dan tonus otot dalam elektromiogram (EMG).
Stadium tidur (diukur dengan polisomnografi) terdiri dari dua tahap yaitu ;
1. Fase rapid eye movement (REM) disebut juga active sleep.
2. Fase nonrapid eye movement (NREM) disebut juga quiet sleep.
REM adalah gelombang gigi gergaji. Selama fase REM yang berperan
adalah sistem kolinergik yang dapat ditingkatkan dengan reseptor agonis dan
dihambat dengan antikolinergik. Fase REM (tahap R) ditandai oleh atonia otot,
aktivasi kortikal, desinkronisasi bertegangan rendah dari EEG dan gerakan cepat
dari mata.

4
Gambar 2. Elektroensefalografi stadium tidur
Tidur yang normal, masa tidur REM berlangsung 5-20 menit, rata-rata
timbul setiap 90 menit dengan periode pertama terjadi 80-100 menit setelah
seseorang tertidur 6.
Terdapat beberapa hal yang penting dalam tidur REM
1. Tidur REM biasanya berhubungan dengan mimpi yang aktif.
2. Pada tahap tidur REM biasanya orang lebih sukar dibangunkan daripada
waktu non REM walaupun telah diberikan rangsangan sensorik, dan
ternyata orang-orang terbangun di pagi hari sewaktu episode tidur REM
dan bukan pada waktu non REM.
3. Tonus otot di seluruh tubuh sangat berkurang dan ini menunjukkan adanya
hambatan yang kuat pada serat-serat proyeksi spinal dari area eksitatorik
batang otak.
4. Frekuensi denyut jantung dan pernafasan menjadi ireguler dan ini
merupakan sifat dari keadaan tidur dengan mimpi.
5. Walaupun ada hambatan yang sangat kuat pada otot-otot perifer, masih
timbul juga beberapa gerakan otot yang tidak teratur.Keadaan ini
khususnya mencakup pergerakan cepat dari mata
6. Pada tidur REM, otak menjadi sangat aktif, dan metabolisme di seluruh
otak meningkat sebanyak 20%. Juga pada elektoensefalogram (EEG)
terlihat pola gelombang yang serupa dengan yang terjadi selama keadaan
siaga. Tidur tipe ini disebut juga tidur paradoksikal karena hal ini bersifat

5
paradoks, yaitu seseorang tetap dapat tertidur walaupun aktivitas otaknya
nyata.
Non Rapid Eye Movement merupakan keadaan aktif yang terjadi melalui
osilasi antara talamus dan korteks. Tiga sistem utama osilasi adalah kumparan
tidur, delta osilasi, dan osilasi kortikal lambat. Kumparan tidur merupakan sebuah
ciri tahap tidur NREM yang dihasilkan dari hiperpolarisasi neuron GABAnergic
dalam nukleus retikulotalamus. Hiperpolarisasi ini menghambat proyeksi neuron
kortikotalamus. Sebagai penyebaran diferensiasi proyeksi kortikotalamus akan
kembali ke sinkronisasi talamus. Gelombang delta dihasilkan oleh interaksi dari
retikulotalamus dan sumber piramidokortikal sedangkan osilasi kortikal lambat
dihasilkan di jaringan neokorteks oleh siklus hiperpolarisasi dan depolarisasi7.
Status tidur primer dapat dilihat di (Tabel 1)
Stadium 1 : saat transisi antara bangun penuh dan tidur sakitar 30 detik
sampai 7 menit dengan karateristik gelombang low-voltage
pada pemeriksaan elektroensefalografi
Stadium 2 : juga ditandai dengan gelombang otak low-voltage pada
EEG. Perbedaan dengan stadium 1 adalah adanya
gelombang high-voltage yang disebut sleep spindles dan
K complexes.
Stadium 3&4 : sering disebut tidur yang dalam atau delta sleep. EEG
menunjukkan gelombang yang lambat dengan amplitudo
tinggi
REM ditandai oleh periode autonom yang bervariasi, seperti pertumbuhan detak
jantung, tekanan darah, laju pernafasan, dan berkeringat. Pada saat inilah mimpi
saat tidur terjadi.
Dua puluh lima persen waktu tidur dihabiskan pada status REM dan tujuh
puluh lima persen pada status non REM. Pada orang muda yang sehat waktu tidur
yang dibutuhkan dari stadium 1 sampai dengan 3 hanya 45 menit. Stadium 4
berlangsung sekitar 70-120 menit, berulang sampai 6 kali sebelum terbangun.
Pada pola tidur yang normal terdapat kecenderungan perpindahan stadium dari

6
tidur yang dalam menuju yang ringan. Empat jam pertama tidur terdiri atas
pengulangan status non REM dan kebanyakan pada stadium 3 dan 4 sedangkan 4
jam kedua lebih banyak terjadi pengulangan pada stadium 1 dan 2 serta status
REM7.

Gambar 3. Siklus tidur


2.1.3 Durasi Waktu Tidur yang Dibutuhkan
Di Amerika penelitian oleh ahli-ahli faal mendapatkan bahwa pada bayi
tidur yang dibutuhkan rata-kira 16 jam, kadang-kadang kurang atau lebih.
Penelitian pada bayi yang tidur kurang dari 16 jam menunjukkan, perkembangan
intelektualnya ternyata tidak mempunyai efek pada perkembangannya. Peneliti
yang sama mendapatkan bahwa siswa umur 16 tahun perlu tidur 10 sampai 11
jam, mahasiswa perlu 8 jam sedangkan yang lebih tua dapat melakukan adaptasi
dan kekurangan tidumya dapat dibayar pada keesokan harinya. Pada orang tua
kebutuhan tidurnya makin berkurang, pada umur 45-60 tahun, kira-kira 7 jam.
Pada orang yang berumur lebih dari 50 tahun, tingkat 4 dari NREM hampir
hilang. Pada keadaan tidak tidur yang ekstrim terjadi halusinasi, paranoid , mudah
tersinggung, gangguan penglihatan, selain itu suaranya menjadi tidak jelas,
kehilangan kemampuan untuk konsentrasi dan mengingat 8.

7
2.2. Klasifikasi Gangguan Tidur
Secara internasional klasifikasi klasik gangguan tidur mengacu pada 3
sistem diagnostik yaitu ICD (International Code of Diagnostic) 10, DSM
(Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder) IV dan ICSD
(international Classificasion of Sleep Disorders).
Menurut ICSD 10, gangguan tidur dibagi menjadi 2 yaitu organik dan non
organik. Untuk non organik dibagi lagi menjadi 2 kategori yaitu dissomnia dan
parasomnia. Dissomnia dibagi menjadi 2 yaitu insomnia dan hipersomnia. Dalam
ICSD 10 tidak dibedakan antara insomnia primer maupun insomnia sekunder
akibat penyakit ataupun akibat penyakit / kondisi abnormal lain. Insomnia disini
adalah insomnia kronik yang sudah diderita paling sedikit 1 bulan dan sudah
menyebabkan gangguan fungsi dan sosial (Feldman S, 2000).
Dalam DSM IV, gangguan tidur (insomnia) dibagi menjadi 4 tipe yaitu :
1. Gangguan tidur yang berkorelasi dengan gangguan mental lain
2. Gangguan tidur yang disebabkan oleh kondisi medis umum
3. Gangguan tidur yang diinduksi oleh badan-badan / keadaan tertentu
4. Gangguan tidur primer (disini gangguan tidur tidak berhubungan sama
sekali dengan kondisi mental, fisik / penyakit ataupun obat-obatan).
Gangguan tidur primer disini pengertiannya mirip dengan insomnia non
organik pada ICD 10 yaitu gangguan tidur sudah menetap dan diderita lebih dari 1
bulan. Dalam ICSD klasifikasi gangguan tidur lebih lengkap dan rinci, dibagi
dalam 12 sub tipe dan lebih dari 50 tipe sindrom insomnia dan untuk diagnosis
nya diperlukan berbagai pemeriksaan penunjang laboratorium tidur, klinik dan
radiologi seperti CT scan, PET, serta EEG (Feldman S, 2000).
American Academy of Sleep (2005) mengenalkan klasifikasi ICSD versi 2
yang merupakan manual diagnosis dan koding.
Kategori yang digunakan dalam insomnia dalam ICSD 2 meliputi :
1. Insomnia (insomnias)
2. Gangguan tidur yang berkaitan dengan nafas (Sleep-Related Breathing
Disorders)

8
3. Hypersomnia bukan karena gangguan tidur berkaitan dengan nafas
(Hypersomnia Not Due to a Sleep-Related Breathing Disorders)
4. Gangguan irama sirkandian tidur (Circandian Rhythm Sleep Disorders)
5. Parasomnia (parasomnias)
6. Gangguan tidur yang berkaitan dengan gerakan (Sleep-Related Movement
Disorders)
7. Gejala-gejala terisolasi, tampak sebagai variasi normal, issu yang tak
terselesaikan (Isolated Symptoms, Apparently NormalVariants, and
Unresolved Issues)
8. Gangguan tidur lainnya (Other Sleep Disorders)

2.3 Insomnia
2.3.1. Pengertian Insomnia
Insomnia in" (no) and "somnus" (sleep) karakteristik penyakit ini adalah
tidak bisa tidur atau tidur dengan waktu yang sebentar. Menurut DSM-IV,
Insomnia didefinisikan sebagai keluhan dalam hal kesulitan untuk memulai atau
mempertahankan tidur atau tidur non-restoratif yang berlangsung setidaknya satu
bulan dan menyebabkan gangguan signifikan atau gangguan dalam fungsi
individu. The International Classification of Diseases mendefinisikan Insomnia
sebagai kesulitan memulai atau mempertahankan tidur yang terjadi minimal 3
malam/minggu selama minimal satu bulan. Insomnia adalah kesulitan tidur yang
terjadi hampir setiap malam, disertai rasa tidak nyaman setelah episode tidur
tersebut8. Jadi, Insomnia adalah gejala kelainan dalam tidur berupa kesulitan
berulang untuk tidur atau mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan untuk
melakukannya. Insomnia bukan suatu penyakit, tetapi merupakan suatu gejala
yang memiliki berbagai penyebab, seperti kelainan emosional, kelainan fisik dan
pemakaian obat-obatan. Insomnia dapat mempengaruhi tidak hanya tingkat energi
dan suasana hati tetapi juga kesehatan, kinerja dan kualitas hidup.
Keluhan umum yang juga sering dijumpai pada lansia berupa kesulitan
masuk tidur (sleep onset problem),kesulitan mempertahankan tidur nyenyak (deep
maintance problem), dan bangun terlalu pagi (early morning aweakening / EMA).

9
Gejala dan tanda yang sering muncul berupa kombinasi dari ketiga gangguan
tersebut dan dapat muncul sementara atau kronik (Tabel 2). Pada penelitian yang
dilakukan di labolatorium, seorang lansia mempunyai durasi yang lebih pendek
pada tidur delta (stadium 3 dan 4, durasi yang lebih panjang pada stadium 1 dan 2)
dan meningkatnya frekuensi terbangun di malam hari atau meningkatnya
fragmentasi tidur karena seringnya terbangun7.

2.3.2. Klasifikasi Insomnia


Secara umum insomnia dibagi menjadi 3, yaitu transient, short-term
insomnia, dan long-term.
1. Insomnia Transient
Penderita transient insomnia sebenarnya termasuk orang yang tidur
normal, tetapi di karenakan dalam suatu situasi yang menimbulkan stress yang
berlangsung dalam waktu yang tidak terlalu lama (misalnya: perjalanan jauh
dengan pesawat terbang yang melampaui zona waktu, hospitalisasi , pengaruh zat
yang dikonsumsi dan sebagainya) orang tersebut mengalami insomnia. Biasanya
transient insomnia berlangsung tidak lebih dari beberapa hari
2. Insomnia Short-term
Penderita short-term insomnia adalah mereka yang mengalami keadaan
stress (kehilangan atau kematian orang terdekat, perubahan pekerjaan dan
lingkungan pekerjaan, pemindahan dan lingkungan tertentu ke lingkungan lain,
pengaruh dari zat yang dikonsumsi atau penyakit medis akut). Biasanya Short-
term insomnia berlangsung kurang dari 3 minggu dan akan pulih lagi seperti biasa
3. Long-term Insomnia
Insomnia long-term ini dapat berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-
tahun. Hal ini dapat disebabkan oleh kelainan tidur (seperti sleep apnea),
pengaruh obat-obatan dan penyakit medis kronis seperti diabetes, sakit ginjal,
arthritis atau penyakit yang sering kali menyebabkan kesulitan tidur. Insomnia
jenis ini biasanya memerlukan intervensi psikiatri atau medis.

10
2.3.3. Tanda dan Gejala Insomnia 9,10

Kesulitan untuk memulai tidur pada malam hari


Sering terbangun pada malam hari
Bangun tidur terlalu awal
Kelelahan atau mengantuk pada siang hari
Iritabilitas, depresi atau kecemasan
Konsentrasi dan perhatian berkurang
Peningkatan kesalahan dan kecelakaan
Ketegangan dan sakit kepala
Gejala gastrointestinal

2.3.4. Etiologi Insomnia10,11

Stres. Kekhawatiran tentang pekerjaan, kesehatan sekolah, atau keluarga


dapat membuat pikiran menjadi aktif di malam hari, sehingga sulit untuk
tidur. Peristiwa kehidupan yang penuh stres, seperti kematian atau
penyakit dari orang yang dicintai, perceraian atau kehilangan pekerjaan,
dapat menyebabkan insomnia.
Kecemasan dan depresi. Hal ini mungkin disebabkan ketidakseimbangan
kimia dalam otak atau karena kekhawatiran yang menyertai depresi.
Obat-obatan. Beberapa resep obat dapat mempengaruhi proses tidur,
termasuk beberapa antidepresan, obat jantung dan tekanan darah, obat
alergi, stimulan (seperti Ritalin) dan kortikosteroid.
Kafein, nikotin dan alkohol. Kopi, teh, cola dan minuman yang
mengandung kafein adalah stimulan yang terkenal. Nikotin merupakan
stimulan yang dapat menyebabkan insomnia. Alkohol adalah obat
penenang yang dapat membantu seseorang jatuh tertidur, tetapi mencegah
tahap lebih dalam tidur dan sering menyebabkan terbangun di tengah
malam.
Kondisi medis. Jika seseorang memiliki gejala nyeri kronis, kesulitan
bernapas dan sering buang air kecil, kemungkinan mereka untuk

11
mengalami insomnia lebih besar dibandingkan mereka yang tanpa gejala
tersebut. Kondisi ini dikaitkan dengan insomnia akibat artritis, kanker,
gagal jantung, penyakit paru-paru, gastroesophageal reflux disease
(GERD), stroke, penyakit Parkinson dan penyakit Alzheimer.
Perubahan lingkungan atau jadwal kerja. Kelelahan akibat perjalanan jauh
atau pergeseran waktu kerja dapat menyebabkan terganggunya irama
sirkadian tubuh, sehingga sulit untuk tidur. Ritme sirkadian bertindak
sebagai jam internal, mengatur siklus tidur-bangun, metabolisme, dan suhu
tubuh.
'Belajar' insomnia. Hal ini dapat terjadi ketika rasa khawatir berlebihan
tentang tidak bisa tidur dengan baik muncul dan berusaha terlalu keras
untuk jatuh tertidur. Kebanyakan orang dengan kondisi ini tidur lebih baik
ketika mereka berada jauh dari lingkungan tidur yang biasa atau ketika
mereka tidak mencoba untuk tidur, seperti ketika mereka menonton TV
atau membaca.

2.3.5. Diagnosis

a. Anamnesis1

Untuk mendiagnosis insomnia, dilakukan penilaian terhadap :

Pola tidur penderita


Pemakaian obat-obatan, alkohol, atau obat terlarang.
Tingkatan stres psikis.
Riwayat medis.
Aktivitas fisik
Diagnosis berdasarkan kebutuhan tidur secara individual.Sebagai
tambahannya, dokter akan melengkapi kuisioner untuk menentukan pola tidur dan
tingkat kebutuhan tidur selama 1 hari. Jika tidak dilakukan pengisian kuisioner,
untuk mencapai tujuan yang sama bisa dilakukan dengan mencatat waktu tidur
selama 2 minggu12.

12
b. Pemeriksaan fisik/mental

Pemeriksaan fisik akan dilakukan untuk menemukan adanya suatu permasalahan


yang bisa menyebabkan insomnia12.

c. Pemeriksaan penunjang

Ada kalanya pemeriksaan darah juga dilakukan untuk menemukan masalah pada
tiroid atau pada hal lain yang bisa menyebabkan insomnia. Jika penyebab dari
insomnia tidak ditemukan, akan dilakukan pemantauan dan pencatatan selama
tidur yang mencangkup gelombang otak, pernapasan, nadi, gerakan mata, dan
gerakan tubuh

Kriteria diagnosis untuk gangguan tidur non-organik insomnia non-organik


menurut ICD-10:

1. Keluhan adalah kesuilitan untuk memulai tidur, mempertahankan tidur, atau


tidur yang tidak menyegarkan

2. Gangguan tidur terjadi paling tidak 3 (tiga) kali dalam seminggu atau paling
sedikit 1 bulan

Kriteria Diagnostik Insomnia Non-Organik berdasarkan PPDGJ 3:

Hal tersebut di bawah ini diperlukan untuk membuat diagnosis pasti:

1. Keluhan adanya kesulitan masuk tidur atau mempertahankan tidur, atau


kualitas tidur yang buruk
2. Gangguan minimal terjadi 3 kali dalam seminggu selama minimal 1
bulan
3. Adanya preokupasi dengan tidak bisa tidur dan peduli yang berlebihan
terhadap akibatnya pada malam hari dan sepanjang siang hari
4. Ketidakpuasan terhadap kuantitas dan atau kualitas tidur menyebabkan
penderitaan yang cukup berat dan mempengaruhi fungsi dalam sosial
dan pekerjaan

13
Adanya gangguan jiwa lain seperti depresi dan anxietas tidak
menyebabkan diagnosis insomnia diabaikan.
Kriteria lama tidur (kuantitas) tidak diguankan untuk menentukan
adanya gangguan, oleh karena luasnya variasi individual. Lama
gangguan yang tidak memenuhi kriteria di atas (seperti pada transient
insomnia) tidak didiagnosis di sini, dapat dimasukkan dalam reaksi stres
akut (F43.0) atau gangguan penyesuaian (F43.2).

Kriteria diagnosis insomnia primer menurut DSM IV-TR : 1

1. Keluhan predominan adalah kesulitan mengawali atau mempertahankan


tidur, atau tidur yang tidak menyegarkan, paling tidak selama 1 bulan
2. Gangguan tidur (atau terkait kelelahan sepanjang hari) menyebabkan
distress atau gangguan sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain
3. Gangguan tidur tidak terjadi selama periode narkolepsi, gangguan tidur
terkait gangguan pernafasan, gangguan irama sirkadian tidur, atau
parasomnia
4. Gangguan tidur tidak terjadi selama periode gangguan mental lain (contoh:
gangguan depresif mayor, gangguan anxietas generalisata, delirium)
5. Gangguan bukan disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari suatu zat
(contoh: penyalahgunaan obat-obatan) atau kondisi medis umum

Kriteria diagnosis gangguan insomnia berdasarkan DSM V :

Gangguan kuantitas dan kualitas tidur (sulit menginisiasi dan


memertahankan tidur, serta terbangun dini hari dan tidak bisa tidur
kembali.
Menimbulkan penderitaan bermakna dan hendaya sosial, pekerjaan,
akademik, dan perilaku atau fungsi penting lainnya.
Kesulitan tidur terjadi 3 malam/minggu, selama 3 bulan.
Kesulitan tidur terjadi meskipun kesempatan untuk tidur cukup.

14
Tidak disebabkan oleh gangguan tidur-bangun lainnya (narkolepsi,
parasomnia, gangguan ritmik sirkadian, dan lain-lain).
Tidak disebabkan oleh efek fisiologik zat (penyalahgunaan zat atau
medikasi).
Keberadaannya bersama dengan gangguan jiwa atau kondisi medik
umum, keluhan insomnia predominan (American Psychiatric
Association, 2013).

2.3.6. Tatalaksana

Prinsip penatalaksanaan insomnia adalah mengobati penyebab atau penyakit


dasar, memperbaiki hygiene tidur, psikoterapi, dan farmakoterapi. Pengobatan
penyakit dasar dapat berupa penyakit fisik, penyakit psikiatri, penggunaan obat-
obatan, alkohol, kopi, rokok, dan lain-lain 13.

a. Non farmakologis

1. Sleep Hygiene

Sleep hygiene merupakan saran-saran seputar gaya hidup dan kondisi


kamar tidur yang didasari oleh teori fisiologis. Sleep hygiene umumnya meliputi
saran-saran sebagai berikut:

Bangun pada waktu yang sama setiap hari


Batasi waktu di tempat tidur setiap hari pada jumlah yang sama sebelum
terjadinya gangguan tidur
Hentikan obat yang bekerja pada SSP (kafein, alkohol, nikotin,
stimulan)
Hindari tidur sekejap di siang hari
Dapatkan kebugaran fisik dengan program olahraga yang rajin dan
bertahap di pagi hari
Hindari stimulasi malam hari, gantikan televisi dengan radio atau
bacaan santai

15
Coba berendam dalam air panas selama 20 menit untuk menaikkan
temperatur tubuh dekat dengan waktu tidur
Makan pada waktu yang teratur setiap hari, hindari makan dalam jumlah
besar sebelum tidur
Lakukan rutinitas relaksasi malam, seperti relaksasi otot progresif atau
meditasi
Pertahankan kondisi tidur yang menyenangkan1

2. Terapi pengontrolan stimulus

Terapi ini bertujuan untuk memutus siklus masalah yang sering dikaitkan
dengan kesulitan memulai atau jatuh tidur. Terapi ini membantu mengurangi
faktor primer dan reaktif yang sering ditemukan pada insomnia. Ada beberapa
instruksi yang harus diikuti oleh penderita insomnia:

Ke tempat tidur hanya ketika telah mengantuk.


Menggunakan tempat tidur hanya untuk tidur.
Jangan menonton TV, membaca, makan, dan menelpon di tempat tidur.
Jangan berbaring-baring di tempat tidur karena bisa bertambah frustrasi
jika tidak bisa tidur.
Jika tidak bisa tidur (setelah beberapa menit) harus bangun, pergi ke
ruang lain, kerjakan sesuatu yang tidak membuat terjaga, masuk kamar
tidur setelah kantuk datang kembali.
Bangun pada saat yang sama setiap hari tanpa menghiraukan waktu
tidur, total tidur, atau hari (misalnya hari Minggu).
Menghindari tidur di siang hari.
Jangan menggunakan stimulansia (kopi, rokok, dll) dalam 4-6 jam
sebelum tidur.
Hasil terapi ini jarang terlihat pada beberapa bulan pertama. Bila kebiasaan ini
terus dipraktikkan, gangguan tidur akan berkurang baik frekuensinya maupun
beratnya.

16
3. Sleep Restriction Therapy

Membatasi waktu di tempat tidur dapat membantu mengkonsolidasikan


tidur. Terapi ini bermanfaat untuk pasien yang berbaring di tempat tidur tanpa
bisa tertidur. Misalnya, bila pasien mengatakan bahwa ia hanya tertidur lima jam
dari delapan jam waktu yang dihabiskannya di tempat tidur, waktu di tempat
tidurnya harus dikurangi. Tidur di siang hari harus dihindari. Lansia dibolehkan
tidur sejenak di siang hari yaitu sekitar 30 menit. Bila efisiensi tidur pasien
mencapai 85% (rata-rata setelah lima hari), waktu di tempat tidurnya boleh
ditambah 15 menit. Terapipembatasan tidur, secara berangsur-angsur, dapat
mengurangi frekuensi dan durasi terbangun di malam hari.

4. Terapi relaksasi dan biofeedback

Terapi ini harus dilakukan dan dipelajari dengan baik. Menghipnosis diri
sendiri, relaksasi progresif, dan latihan nafas dalam sehingga terjadi keadaan
relaks cukup efektif untuk memperbaiki tidur. Pasien membutuhkan latihan yang
cukup dan serius. Biofeedback yaitu memberikan umpan-balik perubahan
fisiologik yang terjadi setelah relaksasi. Umpan balik ini dapat meningkatkan
kesadaran diri pasien tentang perbaikan yang didapat. Teknik ini dapat
dikombinasi dengan higene tidur dan terapi pengontrolan tidur.

b. Farmakologis

Idealnya tidak ada orang yang memerlukan obat untuk bisa tidur. Tetapi
kenyataannya banyak sekali orang yang membutuhkan obat untuk bisa tidur.
Apabila dengan perubahan perilaku dan peningkatan higiene tidur tidak
memperbaiki keadaan tidur pasien, maka dapat digunakan farmakoterapi.
Terdapat beberapa pertimbangan dalam memberikan pengobatan insomnia :

1. Memiliki efek samping yang minimal

2. Mempunyai onset yang cepat dalam mempersingkat proses memulai tidur

17
3. Lama kerja obat tidak mengganggu aktivitas di siang hari.Obat tidur hanya
digunakan dalam waktu yang singkat, yaitu sekitar 2-4 minggu.

Secara dasarnya, penanganan dengan obat-obatan bisa diklasifikasikan


menjadi14: benzodiazepine, non-benzodiazepine dan miscellaneous sleep
promoting agent.

1. Benzodiazepine

Benzodiazepine merupakan pilihan utama pada insomnia. Benzodiazepine


diindikasikan untuk penggunaan jangka pendek, sementara, situasional, dan
intermitten. Diberikan dengan dosis efektif terkecil dengan durasi penggunaan
obat sependek mungkin. Obat ini harus diberikan secara hati-hati pada penderita
yang masalah respirasi kronis seperti penyakit paru obstrutif kronis (PPOK)
karena efek samping yang paling sering berupa disters nafas, pusing, hipotensi,
penurunan kognitif, dan kecelakaan (terutama pada lansia). Kerja obat ini adalah
pada resepor - aminobutyric acid (GABA) postsynaptic, dimana obat ini
meningkatkan efek GABA (menghambat neurotransmitter di CNS) yang memberi
efek sedasi, mengantuk, dan melemaskan otot. Sebagian besar obat dimetabolisme
di hepar, diabsorpsi dan didistribusikan dengan cepat. Obat ini akan menyebabkan
latensi tidur menjadi pendek, durasi dan frekuensi terbangun berkurang, dan total
waktu tidur meningkat. Obat dapat diturunkan pelan-pelan untuk menghindari
rebound insomnia. Beberapa contoh obat dari golongan ini adalah : triazolam,
temazepam, dan lorazepam. Penggunaan obat jangka panjng dapat menyebabkan
psikomotor melambat (ataksia), jatuh (fraktur), mengantuk di siang hari,
penurunan kognitif, depresi pernafasan, toleransi dan putus obat, rebound
insomnia dan mimpi buruk bila obat dihentikan mendadak, frekuensi terbangun
meningkat, durasi tidur menjadi lebih pendek, beratnya tidur apneu meningkat,
potensi disalahgunakan dan ketergantungan, sehingga diperlukan edukasi yang
benar tentang penggunaan obat ini.

18
2. Non-benzodiazepine15

Golongan non-benzodiazepine mempunyai efektifitas yang mirip dengan


benzodiazepine, tetapi mempunyai efek samping yang lebih ringan. Efek samping
seperti distress pernafasan, amnesia, hipotensi ortostatik dan jatuh lebih jarang
ditemukan pada penelitian-penelitian yang telah dilakukan. Zolpidem merupakan
salah satu derivate non-benzodiazepine yang banyak digunakan untuk pengobatan
jangka pendek. Obat ini bekerja pada reseptor selektif -1 subunit GABAA
reseptor tanpa menimbulkan efek sedasi dan hipnotik tanpa menimbulkan efek
anxiolotik, melemaskan otot dan antikonvulsi yang terdapat pada benzodiazepine.
Pada clinical trial yang dilakukan, obat ini dapat mempercepat onset tidur dan
meningkatkan jumlah waktu tidur dan mengurangi frekuensi terjadinya interupsi
sewaktu tidur tanpa menimbulkan efek rebound dan ketergantungan pada
penderita.

Zaleplon adalah pilihan lain selain zolpidem, adalah derivat


pyrazolopyrimidine. Obat ini mempunyai waktu kerja yang cepat dan sangat
pendek yatu 1 jam. Cara kerjanya sama seperti zolpidem yaitu pada reseptor
subunit -1 GABAA reseptor. Efektivitasnya sangat mirip dengan zolpidem,
tetapi, pada suatu penelitian, dikatakan obat ini memiliki efek yang lebih superior
berbanding zolpidem. Sering menjadi pilihan utama pada penderita dengan usia
produktif karena masa kerja obat yang sangat pendek sehingga tidak mengganggu
aktivitas sehari-hari.

Jenis-jenis obat untuk terapi insomnia

Jenis Obat Nama Dagang Dosis Dewasa (mg)


Diazepam Valium 2,5-40
Klonazepam Riklona 0,5-4
Alprazolam Xanax 0,5-6
Lorazepam Ativan 0,5-6
Klobazam Frisium 20-30

19
Bromazepam Lexapam 0,5-3
Midazolam Anesfar 1-3,5
Nitrazepam Dumolid 5-10
Estazolam Esilgan 1-4
Zolpidem Zolmia 10

3.Miscellaneous sleep promoting agent

Berfungsi untuk mengatur ritmik sirkadian. Ramelteon bekerja sebagai


agonis reseptor melatonin. Ada tiga reseptor melatonin, yaitu M1, M2,
M3.Hipnotik serotonergik. Contoh obatnya adalah antidepresan trazodon,
penggunaan dimulai dengan dosis kecil dan diberikan pada malam hari, bekerja
sebagai antagonis H1 dan adrenergik 1. Antagonis H1. Antihistamin memiliki
efek sedasi, seperti difenhidramin, dan lain-lain. Semua antihistamin memiliki
efek antikolinergik.Antipsikotik. Antipsikotik generasi I seperti haloperidol dan
klorpromazin dan antipsikotik generasi II seperti quetiapin, klozapin, dan
olanzapin memiliki efek sedasi. Semua generasi antipsikotik memiliki efek
antidopaminergik, misalnya EPS.

2.3.7 Dampak Insomnia

Dampak insomnia terhadap tubuh dapat berupa13:

1. Gangguan psikiatrik meningkat (ansietas, depresi, penyalahgunaan zat).


2. Kualitas hidup menurun.
3. Gangguan fisik meningkat. Insomnia dapat mempengaruhi sistem kelenjar
yang dapat menyebabkan terjadinya obesitas, diabetes melitus, hipertensi,
penyakit jantung koroner, penurunan sistem imun, dan lain-lain.
4. Hendaya pekerjaan, absensi meningkat, promosi menurun, finansial
menurun, dan kecelakaan dapat meningkat.
5. Defisit kognitif (atensi, memori, dan berbahasa menurun).
6. Penggunaan jasa kesehatan meningkat.

20
2.3.8 Prognosis16

Berdasarkan survei dari 1,1 juta penduduk di Amerika Serikat menemukan


bahwa mereka yang dilaporkan tidur sekitar 7 jam per malam memiliki tingkat
kematian rendah, sedangkan orang-orang yang tidur selama kurang dari 6 jam
atau lebih dari 8 jam memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi. Seseorang yang
memiliki jam tidur 8,5 jam atau lebih per malam meningkatkan angka kematian
sebesar 15%. Insomnia yang berat (tidur kurang dari 3,5 jam pada wanita dan 4,5
jam pada pria) dikaitkan dengan peningkatan 15% angka kematian. Mortalitas
rendah terlihat pada individu yang tidur 6,5 - 7,5 jam per malam.

21