You are on page 1of 12

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Efusi Pleura


3.1.1 Definisi1,2
Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat cairan pleura dalam jumlah yang
berlebihan di dalam rongga pleura yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara pembentukan
dan pengeluaran cairan pleura. Dalam keadaan normal terdapat 10-20 cc cairan.

3.1.2 Epidemiologi3,4,5
Estimasi prevalensi efusi pleura adalah 320 kasus per 100.000 orang di negara-negara
industri, dengan distribusi etiologi terkait dengan prevalensi penyakit yang mendasarinya.
Secara umum, kejadian efusi pleura adalah sama antara kedua jenis kelamin. Namun,
penyebab tertentu memiliki kecenderungan seks. Sekitar dua pertiga dari efusi pleura ganas
terjadi pada wanita. Efusi pleura ganas secara signifikan berhubungan dengan keganasan
payudara dan ginekologi. Efusi pleura yang terkait dengan lupus eritematosus sistemik juga lebih
sering terjadi pada wanita dibandingkan pada pria. Insiden efusi pleura pada kejadian
mesotelioma (kegananasan pleura) lebih tinggi pada laki-laki, hal ini berhubungan dengan
tingginya angka paparan terhadap asbes (asbestosis). Efusi pleura yang berhubungan dengan
penkreatitis kronik juga lebih banyak terjadi pada pria dengan mayoritas riwayat konsumsi
alkohol sebagai salah satu faktor etiologi.
Efusi pleura biasanya terjadi pada orang dewasa. Akan tetapi kejadian pada anak-anak
sudah semakin meningkat, dengan pneumonia sebagai salah satu penyakit yang mendasari.

3.1.3 Etiologi dan Faktor Risiko2,3,6


Ruang pleura normal mengandung sekitar 1 mL cairan, hal ini memperlihatkan adanya
keseimbangan antara tekanan hidrostatik dan tekanan onkotik dalam pembuluh darah pleura
viseral dan parietal dan drainase limfatik luas. Efusi pleura merupakan hasil dari
ketidakseimbangan tekanan hidrostatik dan tekanan onkotik.
Efusi pleura merupakan indikator dari suatu penyakit paru atau non pulmonary, dapat
bersifat akut atau kronis. Meskipun spektrum etiologi efusi pleura sangat luas, efusi pleura
sebagian disebabkan oleh gagal jantung kongestif,. pneumonia, keganasan, atau emboli paru.
Mekanisme sebagai berikut memainkan peran dalam pembentukan efusi pleura:
1. Perubahan permeabilitas membran pleura (misalnya, radang, keganasan, emboli paru)
2. Pengurangan tekanan onkotik intravaskular (misalnya, hipoalbuminemia, sirosis)
3. Peningkatan permeabilitas kapiler atau gangguan pembuluh darah (misalnya, trauma,
keganasan, peradangan, infeksi, infark paru, obat hipersensitivitas, uremia, pankreatitis)
4. Peningkatan tekanan hidrostatik kapiler dalam sirkulasi sistemik dan / atau paru-paru
(misalnya, gagal jantung kongestif, sindrom vena kava superior)
5. Pengurangan tekanan dalam ruang pleura, mencegah ekspansi paru penuh (misalnya,
atelektasis yang luas, mesothelioma)
6. Penurunan drainase limfatik atau penyumbatan lengkap, termasuk obstruksi duktus
toraks atau pecah (misalnya, keganasan, trauma)
7. Peningkatan cairan peritoneal, dengan migrasi di diafragma melalui limfatik atau
cacat struktural (misalnya, sirosis, dialisis peritoneal)
8. Perpindahan cairan dari edema paru ke pleura viseral
9. Peningkatan tekanan onkotik di cairan pleura yang persisiten menyebabkan adanaya
akumulasi cairan di pleura
10. Pembentukan cairan yang berlebihan, karena radang (tuberkulosis, pneumonia, virus,
bronkiektasis, abses amuba subfrenik yang menembus ke rongga pleura), karena tumor
dan trauma

3.1.4 Klasifikasi1,2,6,8,9,10
Efusi pleura umumnya diklasifikasikan berdasarkan mekanisme pembentukan cairan dan
kimiawi cairan menjadi 2 yaitu atas transudat atau eksudat. Transudat hasil dari
ketidakseimbangan antara tekanan onkotik dengan tekanan hidrostatik, sedangkan eksudat adalah
hasil dari peradangan pleura atau drainase limfatik yang menurun. Dalam beberapa kasus
mungkin terjadi kombinasi antara karakteristk cairan transudat dan eksudat.

3.1.4.1 Klasifikasi berasarkan mekanisme pembentukan cairan:


3.1.4.1.1 Transudat
Dalam keadaan normal cairan pleura yang jumlahnya sedikit itu adalah transudat.
Transudat terjadi apabila terjadi ketidakseimbangan antara tekanan kapiler hidrostatik dan koloid
osmotik, sehingga terbentuknya cairan pada satu sisi pleura melebihi reabsorpsinya oleh pleura
lainnya. Biasanya hal ini terjadi pada:
1. Meningkatnya tekanan kapiler sistemik
2. Meningkatnya tekanan kapiler pulmoner
3. Menurunnya tekanan koloid osmotik dalam pleura
4. Menurunnya tekanan intra pleura

Penyakit-penyakit yang menyertai transudat adalah:

1. Gagal jantung kiri (terbanyak)


2. Sindrom nefrotik
3. Obstruksi vena cava superior
4. Asites pada sirosis hati (asites menembus suatu defek diafragma atau masuk melalui
saluran getah bening)

3.1.4.1.2 Eksudat

Eksudat merupakan cairan yang terbentuk melalui membrane kapiler yang permeabelnya
abnormal dan berisi protein berkonsentrasi tinggi dibandingkan protein transudat. Bila terjadi
proses peradangan maka permeabilitas kapiler pembuluh darah pleura meningkat sehingga sel
mesotelial berubah menjadi bulat atau kuboidal dan terjadi pengeluaran cairan ke dalam rongga
pleura. Penyebab pleuritis eksudativa yang paling sering adalah karena mikobakterium
tuberkulosis dan dikenal sebagai pleuritis eksudativa tuberkulosa.Protein yang terdapat dalam
cairan pleura kebanyakan berasal dari saluran getah bening. Kegagalan aliran protein getah
bening ini (misalnya pada pleuritis tuberkulosis) akan menyebabkan peningkatan konsentasi
protein cairan pleura, sehingga menimbulkan eksudat.
Penyakit yang menyertai eksudat, antara lain:
1. Infeksi (tuberkulosis, pneumonia)
2. Tumor pada pleura
3. Iinfark paru,
4. Karsinoma bronkogenik
5. Radiasi,
6. Penyakit dan jaringan ikat/ kolagen/ SLE (Sistemic Lupus Eritematosis).

3.1.5 Patofisiologi1,2,11,12
Dalam keadaan normal, selalu terjadi filtrasi cairan ke dalam rongga pleura melalui
kapiler pada pleura parietalis tetapi cairan ini segera direabsorpsi oleh saluran limfe, sehingga
terjadi keseimbangan antara produksi dan reabsorpsi. Kemampuan untuk reabsorpsinya dapat
meningkat sampai 20 kali. Apabila antara produk dan reabsorpsinya tidak seimbang
(produksinya meningkat atau reabsorpsinya menurun) maka akan timbul efusi pleura.
Patofisiologi terjadinya efusi pleura tergantung pada keseimbangan antara cairan dan
protein dalam rongga pleura.Dalam keadaan normal cairan pleura dibentuk secara lambat sebagai
filtrasi melalui pembuluh darah kapiler. Filtrasi yang terjadi karena perbedaan tekanan osmotic
plasma dan jaringan interstitial submesotelial kemudian melalui sel mesotelial masuk ke dalam
rongga pleura.Selain itu cairan pleura dapat melalui pembuluh limfe sekitar pleura.Pergerakan
cairan dari pleura parietalis ke pleura visceralis dapat terjadi karena adanya perbedaantekanan
hidrostatik dan tekanan koloid osmotik. Cairan kebanyakan diabsorpsi oleh sistem limfatik dan
hanya sebagian kecil yang diabsorpsi oleh sistem kapiler pulmonal. Hal yang memudahkan
penyerapan cairan pada pleura visceralis adalah terdapatnya banyak mikrovili di sekitar sel-sel
mesothelial.
Bila penumpukan cairan dalam rongga pleura disebabkan oleh peradangan. Bila proses
radang oleh kuman piogenik akan terbentuk pus/nanah, sehingga terjadi empiema/piotoraks. Bila
proses ini mengenai pembuluh darah sekitar pleura dapat menyebabkan hemotoraks.
penumpukan cairan pleura dapat terjadi bila:
1. Meningkatnya tekanan intravaskuler dari pleura meningkatkan pembentukan cairan
pleura melalui pengaruh terhadap hukum Starling.Keadaan ni dapat terjadi pada gagal
jantung kanan, gagal jantung kiri dan sindroma vena kava superior.
2. Tekanan intra pleura yang sangat rendah seperti terdapat pada atelektasis, baik karena
obstruksi bronkus atau penebalan pleura visceralis.
3. Meningkatnya kadar proteindalam cairan pleura dapat menarik lebih banyak cairan
masuk ke dalam rongga pleura
4. Hipoproteinemia seperti pada penyakit hati dan ginjal bisa menyebabkan transudasi
cairan dari kapiler pleura ke arah rongga pleura
5. Obstruksi dari saluran limfe pada pleum parietalis. Saluran limfe bermuara pada vena
untuk sistemik. Peningkatan dari tekanan vena sistemik akan menghambat pengosongan
cairan limfe, gangguan kontraksi saluran limfe, infiltrasi pada kelenjar getah bening.
Efusi pleura akan menghambat fungsi paru dengan membatasi pengembangannya.
Derajat gangguan fungsi dan kelemahan bergantung pada ukuran dan cepatnya perkembangan
penyakit. Bila cairan tertimbun secara perlahan-lahan maka jumlah cairan yang cukup besar
mungkin akan terkumpul dengan sedikit gangguan fisik yang nyata.

Kondisi efusi pleura yang tidak ditangani, pada akhirnya akan menyebabkan gagal nafas.
Gagal nafas didefinisikan sebagai kegagalan pernafasan bila tekanan partial Oksigen (Pa O2)
60 mmHg atau tekanan partial Karbondioksida arteri (Pa Co2) 50 mmHg melalui pemeriksaan
analisa gas darah.
Efusi pleura masif merupakan salah satu komplikasi yang biasa ditemukan pada penderita
keganasan dan terutama disebabkan oleh kanker paru dan kanker payudara. Efusi pleura
keganasan memiliki dua sifat yang khas, yaitu cairan pleura lazim berwarna merah (hemoragik)
dan pada umumnya cepat terbentuk kembali setelah diaspirasi.
Jumlah cairan pleura pada pasien dengan efusi pleura masif biasanya banyak (> 500 mL),
sehingga mengakibatkan pendorongan mediastinum ke arah sisi yang sehat dengan segala
akibatnya. Foto toraks X-Ray akan sangat membantu dalam mengenali kondisi ini.
Cairan pelicin yang terdapat di dalam rongga pleura individu normal dihasilkan oleh
suatu anyaman pembuluh kapiller permukaan pleura parietalis dan diabsopsi oleh kapiler dan
pembuluh getah bening pleura vicerasalis dengan kecepatan yang seimbang dengan kecepatan
pmbentukannya.
Oleh karena itu gangguan apapun yang menyangkut proses penyerapan dan
bertambahnya kecepatan proses pembentukan cairan ini akan menimbulkan penimbunan cairan
secara patologik di dalam rongga pleura.
Beberapa faktor yang berperan dalam patogenesis efusi pleura keganasan adalah:
1. Infiltrasi sel-sel tumor secara langsung pada pleura;
2. Penyumbatan pembuluh getah bening atau vena;
3. Penyumbatan bronkus disertai dengan atelektasis;
4. Pneumonia pasca-obstruksi yang disertai dengan efusi parapneumonik;
5. Hipoproteinema;

3.1.6 Penegakan Diagnosis


Diagnosis efusi pleura masif ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang (X-Ray). Konfirmasi diagnosis dilakukan dengan melakukan aspirasi
cairan pleura, yang sekaligus dapat dilakukan untuk tujuan terapi.

3.1.6.1 Anamnesis
Keluhan nyeri dada dan sesak adalah dua kondisi yang banyak disampaikan pasien. Rasa
nyeri membuat penderita membatasi pergerakan rongga dada dengan bernapas dangkal atau tidur
miring ke sisi yang sakit.
Sesak napas dapat ringan atau berat, tergantung pada proses perbentukan efusi, jumlah
cairan efusi pleura, dan kelainan yang mendasari timbulnya efusi. Selain itu, dapat dijumpai
keluhan yang berkaitan dengan keganasan penyebab efusi pleura. Sekitar 25% penderita efusi
pleura keganasan tidak mengalami keluhan apapun pada saat diagnosis ditegakkan.

3.1.6.2 Pemeriksaan Fisik


Pada pemeriksaan fisik, penderita dapat terlihat sesak napas dengan pernapasan yang
dangkal, hemitoraks yang sakit lebih cenderung, ruang sela iga melebar, medatar dan tertinggal
pada pernapasan.
Fremitus suara melemah sampai menghilang, dan pada perkusi terdengan suara redup
sampai pekak di daerah efusi (tergantung jumlah cairan). Setidaknya paling sedikit harus
terdapat cairan sekitar 500 ml untuk menimbulkan suata pekak saat perkusi.
Selain itu, dapat ditemukan tanda-tanda jantung dan mediastinum "terdorong" ke arah sisi
yang sehat. Pada auskultasi, suara pernapasan melemah sampai menghilang pada daerah efusi
pleura.

3.1.6.3 Pemeriksaan Penunjang


3.1.6.3.1 Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi mempunyai nilai yang tinggi dalam menegakkan diagnosis efusi
pleura masif, meskipun tidak bermanfaat dalam menentukan faktor penyebabnya. Pada foto
toraks terlihat perselubungan homogen dengan batas atas yang cekung atau datar, dan sudut
kostofrenikus yang tumpul.
Cairan dengan jumlah yang sedikit hanya akan memberikan gambaran berupa
penumpulan sudut kostofrenikus. Cairan berjumlah kurang dari 100 ml tidak akan terlihat pada
foto toraks yang dibuat dengan teknik biasa. Bayangan homogen baru dapat terlihat jelas apabila
efusi lebih dari 300 ml. Apabila carian tidak tampak pada foto postero-anterior (PA), maka dapat
dibuat foto pada posisi lateral dekubitus.

3.1.6.3.2 Pungsi Pleura


Pungsi Pleura selain bermanfaat untuk konfirmasi diagnosis, aspirasi cairan pleura juga
dapat dikerjakan dengan tujuan terapetik. Aspirasi cairan (torakonsentesis) dapat dilakukan
sebagai berikut:
Penderita dalam posisi duduk dengan kedua lengan merangkul atau diletakkan di atas
bantal; jika tidak mungkin duduk, aspirasi dapat dilakukan penderita dalam posisi tidur
terlentang.
Lokasi penusukan jarum dapat didasarkan pada hasil foto toraks, atau didaerah sedikit
medial dari ujung skapula, atau pada linea aksilaris media dibawah batas suara sonor dan redup.
Setelah dilakukan anestasi secara memadai, dilakukan penusukan dengan jarum
berukuran besar (ukuran 16). Kegagalan aspirasi biasanya disebabkan karena penusukan jarum
terlampau rendah sehingga mengenai diafragma atau terlalu dalam sehingga jaringan paru, atau
jarum tidak mencapai rongga pleura oleh karena jaringan subkutis atau pleura parietalis tebal.
Pemeriksaan makroskopik dan sitologi dilakukan pada cairan yang diperoleh. Cairan
efusi pleura keganasan pada umumnya merupakan suatu eksudat serta lazim bersifat hemoragik.
Kadar protein pada umumnya tinggi (lebih dari 3 g/dL), demikian juga kadar LDH (diatas 200
UI). Kadar glukosa kurang dari 60 mg/dl, jumlah eosinofil meningkat, jumlah limfosit pada
hitung jenis leukosit 50% atau lebih, dan jumlah eritosit lebih dari 100.000/ml.

Pemeriksaan Sitologi cairan pleura perlu dipertimbangkan sejak pasien berada di IGD,
karena memiliki nilai diagnosis etiologi yang tinggi. Pemeriksaan sitoplasma dapat memberikan
akurasi diagnosis etiologi hingga 60% pada pemeriksaan pertama dan 80-90% pada pemeriksaan
kedua. Hasil aspirasi cairan pleura perlu disimpan untuk diperiksa di oleh dokter patologi
(Sp.PA). Namun, perlu diingat, hasil pemeriksaan sitologi yang negatif tidak dapat
menyingkirkan diagnosis efusi pleura masif karena keganasan.
Diagnosis efusi pleura masif dapat ditegakan bila didapat sel ganas dari hasil
pemeriksaan sitologi cairan pleura atau biopsi pleura. Menegakkan diagnosis efusi pleura masif
serta menetapkan tumor primer yang menjadi penyebabnya merupakan langkah pertama dalam
menanggulanginya. Seperti penyakit lain, anamnesis yang sistematis dan teliti dapat menuju ke
pencarian tumor primer. Pemeriksaan jasmani perlu untuk menentukan lokasi dan tingkat berat
ringannya keluhan dan perlu tidaknya tindakan segera untuk mengurangi keluhan dan terkadang
untuk menyalamatkan nyawa penderita. Pemeriksaan fisik menyeluruh perlu dilakukan untuk
mencari tumor primer. Pemeriksaan laboratorium cairan pleura dapat memastikan cairan adalah
eksudat. Pemeriksaan sitologi cairan pleura merupakan hal yang penting dalam mendiagnosis
efusi pleura masif. Pemeriksan radiologik dengan foto toraks PA/Lateral dilakukan untuk menilai
masif atau tidaknya cairan yang terbentuk, serta untuk melihat adanya tumor primer. Untuk
mendapatkan data yang informatif, pemeriksaan CT-Scan toraks sebaiknya dilakukan setelah
cairan dapat dikurangi semaksimal mungkin. Pemeriksaan penunjang lain seperti biopsi pleura
akan sangat membantu. Tindakan bronkoskopi, biopsi transtorakal, USG toraks, dan torakotomi
eksplorasi adalah prosedur tindakan yang terkadang perlu dilakukan untuk penegakan diagnosis.

3.1.7 Tatalaksana
Efusi pleura harus segera mendapatkan tindakan pengobatan karena cairan pleura akan
menekan organ-organ vital dalam rongga dada. Beberapa macam pengobatan atau tindakan yang
dapat dilakukan pada efusi pleura masif adalah sebagai berikut :1,2,3,4,5,6

3.1.7.1 Obati penyakit yang mendasarinya


1. Hemotoraks
Jika darah memasuki rongga pleurahempotoraks biasanya dikeluarkan melalui sebuah
selang.Melalui selang tersebut bisa juga dimasukkan obat untuk membantu memecahkan
bekuan darah (misalnya streptokinase dan streptodornase).Jika perdarahan terus berlanjut
atau jika darah tidak dapat dikeluarkan melalui selang, maka perlu dilakukan tindakan
pembedahan
2. Kilotoraks
Pengobatan untuk kilotoraks dilakukan untuk memperbaiki kerusakan saluran getah
bening.Bisa dilakukan pembedahan atau pemberian obat antikanker untuk tumor yang
menyumbat aliran getah bening.
a. Empiema
Pada empiema diberikan antibiotik dan dilakukan pengeluaran nanah.Jika
nanahnya sangat kental atau telah terkumpul di dalam bagian fibrosa, maka
pengaliran nanah lebih sulit dilakukan dan sebagian dari tulang rusuk harus diangkat
sehingga bisa dipasang selang yang lebih besar.Kadang perlu dilakukan pembedahan
untuk memotong lapisan terluar dari pleura (dekortikasi).
b. Pleuritis TB.
Pengobatan dengan obat-obat antituberkulosis (Rimfapisin, INH,
Pirazinamid/Etambutol/Streptomisin) memakan waktu 6-12 bulan. Dosis dan cara
pemberian obat seperti pada pengobatan tuberkulosis paru. Pengobatan ini
menyebabkan cairan efusi dapat diserap kembalai, tapi untuk menghilangkan eksudat
ini dengan cepat dapat dilakukan torakosentesis.Umumnya cairan diresolusi dengan
sempurna, tapi kadang-kdang dapat diberikan kortikosteroid secara sistematik
(Prednison 1 mg/kgBB selama 2 minggu, kemudian dosis diturunkan). 2

3.1.7.2 Torakosentesis
Keluarkan cairan seperlunya hingga sesak - berkurang (lega); jangan lebih 1-1,5 liter
pada setiap kali aspirasi. Zangelbaum dan Pare menganjurkan jangan lebih 1.500 ml dengan
waktu antara 20-30 menit. Torakosentesis ulang dapat dilakukan pada hari berikutnya.
Torakosentesis untuk tujuan diagnosis setiap waktu dapat dikerjakan, sedangkan untuk tujuan
terapeutik pada efusi pleura tuberkulosis dilakukan atas beberapa indikasi:
1. Adanya keluhan subjektif yang berat misalnya nyeri dada, perasaan tertekan pada
dada.
2. Cairan sudah mencapai sela iga ke-2 atau lebih, sehingga akan mendorong dan
menekan jantung dan alat mediastinum lainnya, yang dapat menyebabkan kematian
secara tiba-tiba.
3. Suhu badan dan keluhan subjektif masih ada, walaupun sudah melewati masa 3
minggu. Dalam hal seperti ini biasanya cairan sudah berubah menjadi pyotoraks.
4. Penyerapan cairan yang terlambat dan waktu sudah mendekati 6 minggu, namun
cairan masih tetap banyak.

3.1.7.3 Chest tube


jika efusi yang akan dikeluarkan jumlahnya banyak, lebih baik dipasang selang dada
(chest tube), sehingga cairan dapat dialirkan dengan lambat tapi sempurna. Tidaklah bijaksana
mengeluarkan lebih dari 500 ml cairan sekaligus. Selang dapat diklem selama beberapa jam
sebelum 500 ml lainnya dikeluarkan. Drainase yang terlalu cepat akan menyebabkan distres pada
pasien dan di samping itu dapat timbul edema paru. 2

3.1.7.4 Pleurodesis
Pleurodesis dimaksudkan untuk menutup rongga pleura sehingga akan mencegah
penumpukan cairan pluera kembali. Hal ini dipertimbangkan untuk efusi pleura yang rekuren
seperti pada efusi karena keganasan Sebelum dilakukan pleurodeSis cairan dikeluarkan terlebih
dahulu melalui selang dada dan paru dalam keadaan mengembang
Pleurodesis dilakukan dengan memakai bahan sklerosis yang dimasukkan ke dalam
rongga pleura. Efektifitas dari bahan ini tergantung pada kemampuan untuk menimbulkan
fibrosis dan obliterasi kapiler pleura. Bahan-bahan yang dapat dipergunakan untuk keperluan
pleurodesis ini yaitu : Bleomisin, Adriamisin, Siklofosfamid, ustard, Thiotepa, 5 Fluro urasil,
perak nitrat, talk, Corynebacterium parvum dan tetrasiklin Tetrasiklin merupakan salah satu obat
yang juga digunakan pada pleurodesis, harga murah dan mudah didapat dimana-mana. Setelah
tidak ada lagi cairan yang keluar masukkanlah tetrasiklin sebanyak 500 mg yang sudah
dilarutkan dalam 20-30 ml larutan garam fisiologis ke dalam rongga pleura, selanjutnya diikuti
segera dengan 10 ml larutan garam fisiologis untuk pencucian selang dada dan 10 ml lidokain
2% untuk mengurangi rasa sakit atau dengan memberikan golongan narkotik 1,5-1 jam sebelum
dilakukan pleurodesis. Kemudian kateter diklem selama 6 jam, ada juga yang melakukan selama
30 menit dan selama itu posisi penderita diubah-ubah agar tetrasiklin terdistribusi di seluruh
rongga pleura. Bila dalam 24-48 jam cairan tidak keluar lagi selang dada dicabut.2

3.1.7.5 Pengobatan pembedahan mungkin diperukan untuk :


a. Hematoraks terutama setelah trauma
b. Empiema
c. Pleurektomi yaitu mengangkat pleura parietalis; tindakan ini jarang dilakukan kecuali
pada efusi pleura yang telah mengalami kegagalan setelah mendapat tindakan WSD,
pleurodesis kimiawi, radiasi dan kemoterapi sistemik, penderita dengan prognosis
yang buruk atau pada empiema atau hemotoraks yang tak diobati
Ligasi duktus torasikus, atau pleuropritoneal shunting yaitu menghubungkan rongga pleura
dengan rongga peritoneum sehingga cairan pleura mengalir ke rongga peritoneum. Hal ini
dilakukan terutama bila tindakan torakosentesis maupun pleurodesis tidak memberikan hasil
yang memuaskan; misalnya tumor atau trauma pada kelenjar getah bening.

3.1.7 Komplikasi
3.1.7.1 Infeksi.
Pengumpulan cairan dalam ruang pleura dapat mengakibatkan
infeksi (empiema primer), dan efusi pleura dapat menjadi terinfeksi setelah
tindakan torasentesis {empiema sekunader).Empiema primer dan sekunder harus didrainase dan
diterapi dengan antibiotika untuk mencegah reaksi fibrotik. Antibiotika awal dipilih gambaran
klinik. Pilihan antibiotika dapat diubah setelah hasil biakan diketahui.

3.1.7.2 Fibrosis
Fibrosis pada sebagian paru-paru dapat mengurangi ventilasi denganmembatasi
pengembangan paru. Pleura yang fibrotik juga dapat menjadi sumber infeksi kronis,
menyebabkan sedikit demam. Dekortikasi-reseksipleura lewat pembedahan-mungkin diperlukan
untuk membasmi infeksidan mengembalikan fungsi paru-paru. Dekortikasi paling baik
dilakukandalam 6 minggu setelah diagnosis empiema ditegakkan, karena selamajangka waktu ini
lapisan pleura masih belum terorganisasi dengan baik(fibrotik) sehingga pengangkatannya lebih
mudah.12,13
3.1.8 Prognosis11,13
Prognosis pada efusi pleura bervariasi sesuai dengan etiologi yang mendasari kondisi
itu.Namun pasien yang memperoleh diagnosis dan pengobantan lebih dini akan lebih jauh
terhindar dari komplikasi daripada pasien yang tidak memedapatkan pengobatan dini.
Efusi ganas menyampaikan prognosis yang sangat buruk, dengan kelangsungan hidup
rata-rata 4 bulan dan berarti kelangsungan hidup kurang dari 1 tahun.Efusi dari kanker yang
lebih responsif terhadap kemoterapi, seperti limfoma atau kanker payudara, lebih mungkin untuk
dihubungkan dengan berkepanjangan kelangsungan hidup, dibandingkan dengan mereka dari
kanker paru-paru atau mesothelioma.
Efusi parapneumonic, ketika diakui dan diobati segera, biasanya dapat di sembuhkan
tanpa gejala sisa yang signifikan. Namun, efusi parapneumonikyang tidakterobati atau tidak
tepat dalam pengobatannya dapat menyebabkan fibrosis konstriktif.4,5