You are on page 1of 20

STATUS MEDIS PASIEN

1.1. IDENTITAS PASIEN


Nama : Tn. AN
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 25 tahun
Alamat : Cianjur
Pekerjaan : Karyawan
Status : Menikah
Agama : Islam

ANAMNESIS

Keluhan Utama
Lemas dan pusing sejak 1 bulan lalu

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan lemas dan pusing sejak 1 bulan SMRS.
Keluhan ini disertai dengan wajah dan kulit yang terlihat pucat. Pasien juga mengeluhkan
sesak. Sesak dirasakan hilang timbul dan biasanya timbul kapan saja. Sesak tidak disertai
dengan bunyi ngik-ngik, biasanya sesak menghilang bila beristirahat. Sesak dirasakan
memberat sejak 2 minggu SMRS. Keluhan seperti pingsan, demam, mual dan muntah
disangkal. Pasien mengeluhkan bahwa sering BAB berdarah, darah berwarna merah segar
dan biasanya darah menetes. Pada bagian anus jg pasien mengaku terdapat benjolan dengan
ukuran 1 cm yang kadang-kadang timbul dan kadang-kadang hilang. Biasanya benjolan
pada anus tersebut timbul bila pasien BABnya keras. BAK tidak ada keluhan. Riwayat
mengkonsumsi jamu, obat-obat warung dan setelan disangkal.

Riwayat penyakit dahulu


Riwayat asma bronkhial (-)
Riwayat Hipertensi (-)
Riwayat Diabetes Mellitus (-)
Riwayat ambeien (+)

Riwayat penyakit dalam keluarga


Riwayat asma bronkhial (-)
Riwayat Hipertensi (-)
Riwayat Diabetes Mellitus (-)

Riwayat Pengobatan
Belum pernah berobat sebelumnya
Riwayat Alergi
Riwayat alergi obat, makanan (seafood), debu, bulu kucing disangkal.

Riwayat Psikososial
Pasien baru saja berhenti merokok dan minum kopi sejak 2 bulan lalu. Pasien jg
mengaku jarang sekali mengkonsumsi sayuran. Tidak pernah mengkonsumsi obat-
obatan dalam jangka panjang sebelumnya

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : tampak sakit sedang
Kesadaran : komposmentis
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 120 x/m, regular, kuat angkat isi cukup
RR : 20 x/menit, regular
Suhu : 36.5 oC (aksilla)

Status Generalis
Sistem Deskripsi
Kepala Bentuk normocephal, warna rambut hitam, distribusi rambut
merata, rambut tidak mudah rontok
Mata Konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-), refleks cahaya
(+/+), kornea jernih (+/+)
Hidung Sekret (-/-), epistaksis (-/-), septum deviasi (-/-), nafas cuping
hidung (-)
Telinga Normotia, simetris, serumen (-/-).
Leher Tidak didapatkan pembesaran KGB, pembesaran kelenjar
tiroid (-), JVP tidak terlihat adanya peningkatan
Jantung Inspeksi: iktus kordis tidak tampak
Palpasi: iktus kordis teraba di sela iga 6 linea axilaris sinistra
Perkusi: Batas kanan jantung : linea parasternalis dextra
Batas kiri jantung : linea midclavicularis sinistra
Auskultasi: BJ I dan BJ II normal, murmur (-), gallop (-)
Paru Inspeksi : dada simetris (+/+), retraksi dinding dada
(-/-) penggunaan otot bantu pernafasan (-/-)
Palpasi : Vokal fremitus sama di kedua lapang paru
Perkusi : Sonor pada ke 2 lapang paru, batas paru dan
hepar setinggi ICS 5
Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+), ronkhi (-/-),
wheezing (-/-)
Abdomen Inspeksi : datar
Auskultasi : bising usus (+) normal
Palpasi : nyeri tekan epigastrium (+)
Perkusi : timpani
Ekstremitas teraba hangat, CRT kurang dari 2 detik, edema (-/-),sianosis
atas (-/-)
Ekstremitas teraba hangat, CRT kurang dari 2 detik, edema (-/-)
bawah

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Laboratorium tanggal 11-03-2017


Pemeriksaan Hasil Rujukan Satuan
Hematologi
Hemoglobin 4.8 13.5 17.5 g/dl
Hematokrit 18.9 42 52 %
Eritrosit 3.37 4.2 5.4 10^6/ul
Leukosit 6.6 4.8 10.8 10^3/ul
Trombosit 996 150 450 10^3/ul
MCV 56.1 80 84 fL
MCH 14.2 27 31 pg
MCHC 25.4 33 37 %
RDW-SD 58.3 37 54 fL
PDW 15 9 14 fL
MPV 6.4 8 12 fL
Differential
LYM% 29.8 26 36 %
MXD % 7 0 11 %
NEU% 62.4 40 70 %
EOS% 0.3 1-3 %
BAS% 0.5 <1 %
Absolut
LYM# 1.98 1.00 1.43 10^3/L
MXD # 0.46 0 12 10^3/L
NEU# 4.13 1.8 7.6 10^3/L
EOS # 0.02 0.02 0.50 10^3/L
BAS # 0.03 0.00 0.10 10^3/L
ASSESSMENT
1. Hematoschezia e.c dd/ Hemoroid interna
2. Anemia trombositosis e.c perdarahan GI

Follow Up

Tanggal S O A P
12-03-2017 Pusing, Kes : CM Haematochezia 1. Ivfd Nacl 0.9 %
lemas, sesak TD : 110/70 ec dd/hemoroid 1000cc/ 24 jam
2. Transfusi PRC 2
(-), nyeri ulu N : 92 x/m interna,
Anemia labu/ hari target Hb
hati, BAB S : 36,5 oC
trombositosis >8
berdarah RR : 18 x/m
3. Kalnex 3 x 1
ec perdarahan
kadang- Mata : ca +/+, si -/- 4. Vit. K 3 x 1
GI 5. Metronidazole 3 x
kadang tapi Leher : JVP tidak
500mg
hari ini tidak meningkat
6. Konsul bedah
Cor : BJ I dan II
normal, murmur -,
gallop
Pulmo : VBS
kanan = kiri, wh
-/-, rh -/-
Abd :BU +, NT
epigastrium (+)
Eks : akral hangat,
edema (-)

Pemeriksaan Laboratorium tanggal 12-03-2017


Pemeriksaan Hasil Rujukan Satuan
Hematologi
Hemoglobin 7.9
Post 13.5 17.5 g/dl
tranfusi
Hematokrit 27.2 42 52 %
Eritrosit 4.48 4.2 5.4 10^6/ul
Leukosit 6.8 4.8 10.8 10^3/ul
Trombosit 848 150 450 10^3/ul
MCV 50.7 80 84 fL
MCH 17.6 27 31 Pg
MCHC 29.1 33 37 %
PDW 14.9 9 14 fL
MPV 6.2 8 12 fL
Differential
LYM% 26.9 26 36 %
MXD % 6.9 0 11 %
NEU% 64.9 40 70 %
EOS% 0.8 1-3 %
BAS% 0.5 <1 %
Absolut
LYM# 1.83 1.00 1.43 10^3/L
MXD # 0.48 0 12 10^3/L
NEU# 4.42 1.8 7.6 10^3/L
EOS # 0.05 0.02 0.50 10^3/L
BAS # 0.03 0.00 0.10 10^3/L

Pemeriksaan Laboratorium tanggal 12-03-2017


Kimia Klinik
Glukosa Darah 46 70 - 110 mg%
Puasa
Faal Ginjal
Ureum 30 15 37 U/L
Kreatinin 19 14 59 U/L
Faal Hati
SGOT 15.7 10 50 mg%
SGPT 0.7 0.5 1.0 mg%

Pemeriksaan Laboratorium tanggal 12-03-2017


Urin
Makroskopis
Warna Kuning Kuning
Kejernihan Agak keruh Jernih
Berat jenis 1.010 1.013 1.030
pH 7.0 4.6 8.0
Nitrit Negatif Negatif
Protein urin Negatif Negatif mg/dL
Glukosa Normal Normal mg/dL
(reduksi)
Keton Negatif Negatif mg/dL
Urobilinogen Normal Normal UE
Bilirubin Negatif Negatif mg/dL
Eritrosit Negatif Negatif /L
Leukosit Negatif Negatif /L
Mikroskopis
Leukosit 12 1-4 /LPB
Eritrosit Negatif 0-1 /LPB
Epitel 01
Kristal Negatif Negatif
Silinder Negatif Negatif /LPK
Lain-lain Negatif Negatif

IMUNOSEROLOGI

Feritin 42 12 - 300 ng/mL

EKG (Tanggal 12 Maret 2017)

Tanggal S O A P
13-03-2017 lemas, nyeri Kes : CM Haematochezi Ivfd Nacl 0.9 %
ulu hati, TD : 120/70 a ec 1000cc/ 24 jam
Transfusi PRC 2
BAB keras, N : 88 x/m dd/hemoroid
labu/ hari target Hb >
berdarah S : 36,7 oC interna,
Anemia 8
sedikit (+) RR : 18 x/m
Kalnex 3 x 1
trombositosis
Mata : ca +/+, si -/- Vit. K 3 x 1
Leher : JVP tidak ec perdarahan Metronidazole 3 x
meningkat GI 500mg
Cor : BJ I dan II
normal, murmur -,
gallop
Pulmo : VBS
kanan = kiri, wh
-/-, rh -/-
Abd :BU +, NT
epigastrium (+)
Eks : akral hangat,
edema (-)

Pemeriksaan Laboratorium tanggal 13-03-2017


Pemeriksaan Hasil Rujukan Satuan
Hematologi
Hemoglobin 9.1 13.5 17.5 g/dl
Hematokrit 30.6 42 52 %
Eritrosit 4.71 4.2 5.4 10^6/ul
Leukosit 7.2 4.8 10.8 10^3/ul
Trombosit 730 150 450 10^3/ul
MCV 64.9 80 84 fL
MCH 19.3 27 31 pg
MCHC 29.8 33 37 %
PDW 15.1 9 14 fL
MPV 6.4 8 12 fL
Differential
LYM% 18 26 36 %
MXD % 3.3 0 11 %
NEU% 76.7 40 70 %
EOS% 1.4 1-3 %
BAS% 0.6 <1 %
Absolut
LYM# 1.29 1.00 1.43 10^3/L
MXD # 0.23 0 12 10^3/L
NEU# 5.49 1.8 7.6 10^3/L
EOS # 0.10 0.02 0.50 10^3/L
BAS # 0.04 0.00 0.10 10^3/L
BAB II
PEMBAHASAN

1. HEMATOSCHEZIA
Definisi
Hematochezia diartikan sebagai darah segar atau berwarna merah maroon yang keluar
melalui anus dan merupakan manifestasi tersering dari perdarahan saluran cerna bagian
bawah. Namun, perdarahan dari saluran pencernaan bagian atas yang masif juga dapat
menimbulkan hematochezia

Etiologi
Penyebab perdarahan saluran cerna bagian bawah :
a. Perdarahan divertikel kolon

Divertikel adalah kantong yang terjadi karena penonjolan kearah luar usus melalui lapisan
otot . Proses terbentuknya divertikel berhubungan dengan kebiasaan makan pasien. Pasien
dengan divertikel mempunyai kebiasaan makan makanan yang tidak atau kurang berserat,
akibatnya tinja yang terbentuk keras dan volumenya kecil, sehingga kolon harus berkontraksi
lebih keras untuk menggiring tinja keluar, maka sering timbul tekanan tinggi dalam kolon
biasanya di bagian bawah. Tekanan yang besar ini dapat menekan celah lemah pada dinding
usus. Paling sering divertikel ditemukan di bagian sigmoid . Kelainan ini lebih sering
ditemukan usia lebih dari 50 tahun. Pasien dengan divertikel yang cukup banyak disebut
divertikulosis. Bila divertikel ini meradang disebut divertikulitis. Penonjolan ini besarnya
berkisar antara beberapa milimeter sampai dua cm. Leher divertikel dan pintunya biasanya
sempit. Kadang-kadang di dalamnya terbentuk fecolith.

Keluhan dan tandanya dapat berupa keluhan mulai dari yang ringan seperti mual, nyeri
pada perut kiri bawah, sembelit dan diare oleh karena gangguan pengerasan usus sampai
keluhan berat seperti pecahnya usus, abses dan perdarahan.
Pecahnya usus ditandai dengan perut yang menjadi tegang dan terasa nyeri. Abses ditandai
dengan adanya massa di perut kiri bawah yang sangat nyeri disertai keluhan sembelit, demam
dan keadaan umum penderita buruk. Perdarahan baru nyata setelah keluar perdarahan saat
penderita BAB, dan mungkin terjadi anemia. Pada penderita usia lanjut, dapat terjadi
perdarahan yang hebat sehingga menyebabkan syok dan tidak jarang memerlukan transfusi
darah.

b. Angiodisplasia
Angiodisplasia (vascularectasis) diklasifikasikan sebagai penyebab perdarahan saluran
cerna bagian bawah secara bertahap atau kronis. Lima puluh empat persen dari angiodisplasia
kronis menyebabkan perdarahan di dalam usus. Angiodisplasia adalah lesi degeneratif yang
berkaitan dengan penuaan. Dua pertiga pasien dengan angiodisplasia berusia di atas 70 tahun.
Patogenesis angiodisplasia tidak diketahui,mungkin disebabkan oleh parsial, obstruksi
intermiten,mulai dari vena-vena submukosa sampai terjadinya dilatasi, sehingga hubungan
arteriovenosa didirikan. Angiodisplasia didiagnosis dengan menggunakan kolonoskopi dan
angiography.

c. Arteriovenous Malformation
AVM dilaporkan sebagai sumber perdarahan saluran cerna bagian bawah pada 3-40%
pasien. AVMs biasanya kelainan kongenital dan ditemukan di usus pada 1-2% dari spesimen
autopsi. AVMs adalah suatu kelainan pada mukosa dan submukosa pembuluh darah memiliki
komunikasi langsung antara arteri dan vena tanpa campur tangan kapiler. Lebih dari
setengahnya berlokasi di kolon kanan, dan 47% persen pasien mengalami hematochezia yang
tanpa nyeri serupa dengan perdarahan yang disebabkan oleh penyakit divertikular, dapat pula
muncul berupa perdarahan yang kronik dan intermitten. Faktor resikonya adalah orang tua,
berusia lebih dari 60 tahun, lokasi di sisi kanan kolon , dan pada pasien yang memiliki
penyakit gagal ginjal kronis dan stenosis aorta. Pemeriksaan terbaik untuk AVMs adalah
angiography.

d. Kolitis
Kolitis merupakan istilah yang menunjukkan adanya proses peradangan atau inflamasi
pada kolon. Kolitis sering diawali dengan infeksi, toksin, produk bakteri, yang terjadi pada
individu yang rentan . Pelepasan bahan toksin menimbulkan reaksi inflamasi yang
menyebabkan perubahan mukosa dan dinding. Kolitis dibagi 2, yaitu kolitis ulseratif non
spesifik dan kolitis Crohn. Kolitis ulseratif berlangsung lama dan disertai masa remisi dan
eksaserbasi yang berganti-ganti. Tanda dan gejala klinis yang penting adalah nyeri abdomen,
diare dan perdarahan rektum.6 Diagnosis banding antara lain : kolitis infeksi, IBS,
divertikulitis, enteritis radiasi, dan kanker kolon. Walaupun tidak ada tes darah yang spesifik
untuk kolitis iskemik, namun biasanya terdapat kenaikan leukosit, amilase, kreatin
fosfokinase dan serum laktat. Foto rontgen polos biasanya tidak ditemukan sesuatu yang
khas, meskipun tanda edema submukosa dan pneumatosis dapat dilihat biasanya pada pasien
dengan penyakit lanjut.Diagnosa dengan CT scan mungkin memperlihatkan penebalan
segmental kolon yang terkena. Evaluasi endoskopi dengan sigmoidoskopi atau kolonoskopi
dapat digunakan untuk menegakkan diagnosa pada pasien yang tidak jelas diagnosanya dan
tidak memperlihatkan tanda-tanda peritonitis atau perforasi.5

e. Penyakit perianal
Contohnya adalah hemoroid dan fissura ani, biasanya menimbulkan perdarahan dengan
warna merah segar tetapi tidak bercampur dengan feces. Polip dan karsinoma kadang
menimbulkan perdarahan yang mirip dengan yang disebabkan oleh hemoroid, oleh karena itu
pada perdarahan yang diduga dari hemoroid perlu dilakukan pemeriksaan untuk
menyingkirkan kemungkinan polip dan karsinoma kolon. Pemeriksaan dilakukan
menggunakan anoskopi dan kolonoskopi. Kelainan perianal diterapi dengan obat
(suppositoria, pelumas, hydroxitison) tetapi sering kambuh sehingga skleroterapi / koagulasi,
ligasi, atau intervensi bedah dapat dipertimbangkan.5
f. Neoplasia kolon
Baik tumor ganas dan jinak di usus bisa mirip divertikulosis, dan kebanyakan terjadi pada
usia tua.Neoplasma jarang menyebabkan perdarahan masif. Perdarahan bisa berupa sebentar-
sebentar, atau kebanyakan kasus adalah perdarahan tersembunyi ( occult blood). Dulu,
diagnosis dibuat menggunakan barium enema, namun kini dengan menggunakan kolonoskopi
dan biopsi diagnosa dapat langsung dilakukan. Pengelolaan tumor saluran cerna bagian
bawah adalah dengan eksisi, baik dibantu oleh endoskopi atau melalui operasi.5

g. Divertikulum Meckel7
Divertikulum Meckel adalah suatu kelainan bawaan, yang
merupakan suatu kantung (divertikula) yang menonjol dari dinding
usus halus. Divertikula bisa mengandung jaringan lambung
maupun jaringan pankreas. Divertikulum meckel adalah suatu sisa
dari struktur perkembangan yang tidak diserap seluruhnya pada
masa perkembangan janin. Penyebab yang pasti dari tidak
diserapnya sisa struktur tersebut tidak diketahui. Sekitar 2% dari
jumlah penduduk memiliki divertikulum meckel, tetapi hanya
sebagian kecil yang menunjukkan gejala.
Divertikulum meckel biasanya tidak menimbulkan gejala, tetapi kantungnya dapat
melepaskan asam dan menyebabkan ulkus, sehingga terjadi perdarahan melalui rektum yang
tidak disertai nyeri. Tinja biasanya berwarna keunguan atau kehitaman. Pada remaja dan
orang dewasa, divertikulum lebih cenderung menyebabkan penyumbatan usus, sehingga
timbul nyeri kram dan muntah. Bisa terjadi peradangan mendadak pada divertikulum yang
disebut divertikulitis akut. peradangan ini menyebabkan nyeri perut yang hebat, seringkali
disertai muntah.Jika tidak menimbulkan gejala, maka tidak perlu dilakukan pengobatan
khusus. Jika terjadi perdarahan, maka dilakukan pengangkatan divertikulum disertai
pengangkatan jaringan usus di sekitarnya yang telah mengalami kerusakan.Jika tidak
ditemukan kerusakan pada jaringan usus di sekitarnya, maka yang dibuang hanya
divertikulumnya. Untuk memperbaiki anemia, mungkin perlu diberikan zat besi tambahan.
Jika terjadi perdarahan yang hebat, mungkin perlu dilakukan transfusi darah.

2. HEMORRHOID
Definisi
Hemorhoid adalah pelebaran pleksus hemorrhoidalis yang tidak
merupakan keadaan patologik. Hanya jika hemorhoid ini menimbulkan
keluhan atau penyulit sehingga diperlukan tindakan.
Kata hemorrhoid berasal dari kata haemorrhoides (Yunani) yang
berarti aliran darah (haem = darah, rhoos = aliran) jadi dapat diartikan
sebagai darah yang mengalir keluar.
Hemoroid dapat menimbulkan gejala karena banyak hal. Faktor
yang memegang peranan kausal ialah mengedan pada waktu defekasi,
konstipasi menahun, kehamilan, dan obesitas.

Tipe Hemorrhoid
Hemoroid dibedakan atas hemorrhoid interna dan eksterna.
Tingkat I Tingkat II Tingkat III Tingkat IV
I I

Derajat Pada Hemorrhoid Interna


Klasifikasi Tingkat Penyakit Hemoroid (IH=Internal Hemoroid,
EH=External Hemoroid, AC=Anal Canal, AT=Anchoring
Tisue, PL=Pecten Ligamen. Hemoroid Tingkat III dan IV,
Pleksus Hemoroid berada diluar anal kanal.

Tabel I
Klasifikasi Hemorrhoid Interna

Classification Treatment Options


1st Degree No rectal prolapse Diet
Local & general drugs
Sclerotherapy

Infrared coagulation

2nd Degree Rectal prolapse is Sclerotherapy


spontaneously reducible Infrared coagulation

Banding [recurring banding


may require Procedure for
Prolapse and Hemorrhoids
(PPH)]

3rd Degree Rectal prolapse is Banding


manually reducible Hemorrhoidectomy

Procedure for Prolapse and


Hemorrhoids (PPH)

4th Degree Rectal prolapse Hemorrhoidectomy


irreducible
Procedure for Prolapse and
Hemorrhoids (PPH)

Dikutip dari : ethicon-endo surgery , www.pph.com 2007

Gejala Klinis

Banyak kasus anorectal , termasuk fissura, fistulae, abses, atau iritasi


dan gatal (pruritus ani), memiliki gejala yang minimal dan akan
menimbulkan kearah diagnosa hemorrhoid yang keliru. Hemorrhoids
biasanya tidak berbahaya.Tetapi pada kenyataanya pasien dapat
megalami perdarahan yang terus menerus sehingga dapat menimbulkan
anemia bahkan kematian.

A. Hemorrhoid Eksterna

Pada fase akut, hemorrhoid eksterna dapat menyebabkan nyeri, biasanya


berhubungan dengan adanya udem dan terjadi saat mobilisasi.Hal ini
muncul sebagai akibat dari trombosis dari v.hemorrhoid dan terjadinya
perdarahan ke jaringan sekitarnya. Beberapa hari setelah timbul nyeri,
kulit dapat mengalami nekrosis dan berkembang menjadi ulkus.,
akibatnya dapat timbul perdarahan.

Pada beberapa minggu selanjutnya area yang mengalami thrombus tadi


dapat mengalami perbaikan dan meninggalkan kulit berlebih yang
dikenal sebagai skin tag . Akibatnya dapat timbul rasa mengganjal, gatal
dan iritasi.

B.Hemorrhoid Interna

Gejala yang biasa adalah protrusio, pendarahan, nyeri tumpul dan


pruritus. Trombosis atau prolapsus akut yang disertai edema atau
ulserasi luar biasa nyerinya. Hemoroid interna bersifat asimtomatik,
kecuali bila prolaps dan menjadi stangulata. Tanda satu-satunya yang
disebabkan oleh hemoroid interna adalah pendarahan darah segar tanpa
nyeri perrektum selama atau setelah defekasi.

Gejala yang muncul pada hemorrhoid interna dapat berupa:

1. Perdarahan

Merupakan gejala yang paling sering muncul; dan biasanya merupakan


awal dari penyakit ini. Perdarahan berupa darah segar dan biasanya
tampak setelah defekasi apalagi jika fesesnya keras. Selanjutnya
perdarahan dapat berlangsung lebih hebat, hal ini disebabkan karena
vascular cushion prolaps dan mengalami kongesti oleh spincter ani.

2. Prolaps

Dapat dilihat adanya tonjolan keluar dari anus. Tonjolan ini dapat masuk
kembali secara spontan ataupun harus dimasukan kembali oleh tangan.

3. Nyeri dan rasa tidak nyaman


Nyeri biasanya ditimbulkan oleh komplikasi yang terjadi (seperti fisura,
abses dll) hemorrhoid interna sendiri biasanya sedikit saja
yangmenimbulkan nyeri.Kondisi ini dapat pula terjadi karena terjepitnya
tonjolan hemorrhoid yang terjepit oleh spincter ani (strangulasi).

4. Keluarnya Sekret

Walaupun tidak selalu disertai keluarnya darah, secret yang menjadi


lembab sehingga rawan untuk terjadinya infeksi ditimbulkan akan
menganggu kenyamanan penderita dan menjadikan suasana di daerah
anus.

Tatalaksana
1. Hemorrhoid externa
Trombosis akut pada hemorrhoid eksterna merupakan penyebab
nyeri yang konstan pada anus. Penderita umumnya pederita berobat
kedokter pada fase akut ( 2- 3 hari pertama). Jika keluhan belum teratasi,
dapat dilakukan eksisi dengan local anestesi.Kemudian dilanjutkan
dengan pengobatan non operatif. Eksisi dianjurkan karena trombosis
biasanya meliputi satu pleksus pembuluh darah. Insisi mungkin tidak
sepenuhnya mengevakuasi bekuan darah dan mungkin menimbulkan
pembengkakan lebih lanjut dan perdarahan dari laserasi pembuluh
darah subkutan . Incisi tampaknya lebih sering menimbulkan skin tag
daripada eksisi.
2. Hemorrhoid Interna
A. Non InvasiveTreatment
Diperuntukan bagi penderita dengan keluhan minimal.Yang
disampaikan meliputi
a. Nasehat
- jangan mengedan terlalu lama
- mengkonsumsi makanan yang berserat tinggi
- membiasakan selalu defekasi, jangan ditunda
- minum sekira 8 gelas sehari
b. Obat-obatan vasostopik
Obat Hydroksyethylen yang dapat diberikan dikatakan dapat
mengurangi edema dan inflamasi. Kombinasi Diosmin dan
Hesperidin (ardium) yang bekerja pada vascular dan mikro
sirkulasi dikatakan dapat menurunkan desensibilitas dan stasis
pada vena dan memperbaiki permeabilitas kapiler.
Ardium diberikan 3x2tab selama 4 hari kemudian 2x2 selama 3
hari dan selanjutnya1x1tab.
B. Surgical
Hemorrhoidectomy
Merupakan metoda pilihan untuk penderita derajat III dan IV
atau pada penderita yang mengalami perdarahan yang berulang
yang tidak sembuh dengan cara lain.Penderita yang mengalami
hemorrhoid derajat IV yang mengalami trombosis dan nyeri yang
hebat dapat segera ditolong dengan teknik ini. Prinsip yang harus
diperhatikan pada hemorrhoidectomy adalah eksisi hanya dilakukan
pada jaringan yang benar-benar berlebihan, dengan tidak
mengganggu spincter ani

3. ANEMIA
Definisi
Anemia adalah penurunan massa eritrosit (red cell mass) sehingga tidak dapat
memenuhi fungsinya untuk menghantarkan oksigen yang cukup ke jaringan perifer
(penurunan oxygen carrying capacity)
Anemia didefinisikan sebagai keadaan dimana kadar hemoglobin <14 mg/dL atau
hemtokrit <40% pada pria, atau <12 mg/dL dan <38% pada wanita.
Parameter Penilaian Anemia
Parameter yang paling umum dipakai untuk menunjukkan penurunan massa eritrosit
adalah kadar :
1. Hemoglobin
2. Hematokrit
3. Hitung eritrosit

Kriteria Menurut WHO


NO KELOMPOK KRITERIA
ANEMIA
1. Laki-laki dewasa < 13 g/dl

2. Wanita dewasa < 12 g/dl


tidak hamil

3. Wanita hamil < 11 g/dl


Etiologi

Klasifikasi Berdasarkan Morfologik

Klasifikasi Berdasarkan Morfologik dan Etiologinya


MORFOLOGI DEFINISI PENYAKIT
1 Anemia Normositik normokrom Dimana ukuran dan 1. kehilangan darah akut,
bentuk eritrosit 2. hemolysis, penyakit
normal serta kronik termasuk infeksi
mengandung 3. Gangguan endokrin
Hemoglobin dalam 4. Gangguan ginjal
jumlah normal (MCV 5. Kegagalan sumsum
dan MCHC normal tulang (aplasia)
atau normal rendah )
2 Anemia Makrositik normokrom Ukuran eritrosit lebih Gangguan atau terhentinya
besar dari normal dan sintesis asam nukleat DNA
nomokrom berarti seperti yang ditemukan pada :
konstentrasi Hb 1. defisiensi besi
normal (MCV 2. Defisiensifolat.
meningkat ; MCHC
normal )
3 Anemia Mikrositik hipokrom Mikrositik berarti 1. anemia defisiensi besi
kecil, Hipokrom 2. Keadaan sideroblastik
berarti mengandung 3. Kehilangan darah
jumlah Hb kurang kronik
(MCV dan MCHC 4. Penyakit thalassemia
kurang)
Keterangan :

MCV = Mean corpuscular volume (hemoglobin eritrosit rata-rata)


MCHC = Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (konsentrasi hemoglobin eritrosit rata-
rata)
MCH = Mean Corpuscular Hemoglobin (Hemoglobin eritrosit rata-rata)

Tanda dan Gejala Anemia


Sindrom anemia terdiri dari:
Rasa lemah, lesu, cepat lelah,
Telinga mendenging (tinnitus),
Mata berkunang-kunang,
Kaki terasa dingin,
Sesak nafas dan dispepsia.
Pada pemerikaan,:
Pasien tampak pucat yang mudah dilihat pada konjungtiva, mukosa mulut , telapak
tangan dan jaringan di bawah kuku.
Sindrom anemia bersifat tidak spesifik karena dapat ditimbulkan oleh penyakit di luar
anemia dan tidak sensitif karena timbul setelah penurunan yang berat (Hb<7 gr/dl).

Pendekatan Terapi
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian terapi pada pasien anemia ialah :
Pengobatan hendaknya diberikan berdasarkan diagnosis definitif yang telah
ditegakkan terlebih dahulu
Pemeberian hematinik tanpa indikasi yang jelas tidak dianjurkan
Pengobatan anemia dapat berupa :
Terapi untuk keadaan darurat seperti misanya pada perdarahan akut akibt anemia
aplastik yang mengancam jiwa pasien, atau pada anemia pasca perdarahan akut
yang disertai gangguan hemodinamik
Terapi suportif
Terapi yang khas untuk masing-masing anemia
Terapi kausal untuk mengobati penyakit dasar yang menyebabkan anemi tersebut.
Transfusi diberikan pada anemia pasca perdarahan akut dengan tanda-tanda
gangguan hemodinamik. Pada anemia kronik transfusi hanya diberikan jika anemia
bersifat simtomatik atau adanya ancaman payah jantung.
Di sini diberikan packed red cell,
Pada anemia kronik sering dijumpai peningkatan volume darah, oleh karena itu
transfusi diberikan dengan tetesan pelan. Dapat juga diberikan diuretik kerja cepat
seperti furosemid sebelum transfusi.