You are on page 1of 13

BAB I

PENDAHULUAN

Primary survey merupakan penilaian cepat, untuk menemukan kondisi


yang mengancam nyawa dan harus segera ditangani pada saat itu juga. Secara
teoritis, ditulis secara berurutan (ABCDE), namun pada kenyataannya dapat
dilakukan secara simultan. Bila ditemukan hal yang membahayakan nyawa
pasien, dapat dilakukan langsung dilakukan tindakan resusitasi. Primary survey
dapat dilakukan pada pasein traumatik maupun non traumatik.
Penilaian keadaan pasein dan prioritas terapi didasarkan jenis perlukaan,
tanda-tanda vital dan mekanisme trauma. Pada pasien yang terluka parah, terapi
diberikan berdasarkan prioritas. Penilaian tanda vital harus dilakukan secara cepat
dan efisien. Pengelolaan pasien diawali dengan primary survey dan kemudian
pengelolaan dengan resusitasi jika diperlukan kemudian dilanjutkan dengan
penilaian secodary survey dan diakhiri terapi definitif. Penilaian primary survey
terdiri dari Airway, Breathing, Circulation, Disability, Exposure/Environmental.
Setelah semua penilaian primary survey dilakukan dan dapat dikelola dengan
efisien dilanjutkan dengan penilaian secondary survey meliputi anamnesis dan
pemeriksaan fisik.
Setiap pemeriksaan yang lengkap memerlukan anamnesis mengenai
riwayat perlukaan. Pada penilaian secondary survey harus diingat AMPLE yaitu
Alergi, Medikasi, Past illnes, Last meal, Event.Environment.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. PRIMARY SURVEY
Primary survey adalah penilaian utama terhadap pasien, dilakukan dengan
cepat, bila ditemukan hal yang membahayakan nyawa pasien, langsung dilakukan
tindakan resusitasi.

Gangguan Mati Dalam


Airway Sumbatan 3-5
Breathing Henti nafas 3-5
Circulation Shock berat 1-2 jam
Disability Koma 1-2 minggu

1. AIRWAY
Lakukan penilaian jalan nafas, jika pasien sadar : dengarkan suara yang
dikeluarkan pasien, ada obstruksi airway atau tidak sedangkan jika pasien tidak
sadar : Look (ada sumbatan airway atau tidak), Listen (dengar suara-suara nafas),
Feel (rasakan hembusan nafas pasien).
Langkah 1 : Penilaian
a. Mengenal patensi airway
b. Penilaian secara cepat dan tepat akan adanya obstruksi
Langkah 2 : Pengelolaan airway
a. Lakukan chin lift dan atau jaw thrust dengan kontrol servikal in-line
immobilisasi
b. Bersihkan airway dari benda asing bila perlu suctioning dengan alat yang
rigid
c. Pasang pipa nasofaringeal atau orofaringeal
d. Fiksasi leher
Langkah 3 : Anggaplah bahwa terdapat kemungkinan fraktur servikal pada
setiap penderita multi trauma, terlebih bila ada gangguan kesadaran atau
perlukaan diatas klavikula.
Langkah 4 : Evaluasi : fiksasi leher dengan berbagai cara setelah airway baik.
Terdapat 2 hal yang penting dalam mengontrol airway:
a. Harus mengenal macam - macam penyebab gangguan airway
Penyebab gangguan airway yang utama adalah obstruction / sumbatan, hal ini
dapat sebabkan baik oleh karena:
Posisi kepala (sniffing position)
Adanya darah dan gigi yang patah dalam rongga mulut (akan tampak
suara gurgling)
Lidah yang jatuh ke belakang (akan tampak suara snoring)
Fraktur pada laring, atau edema pada laring akibat luka bakar (akan tampak
suara snoring)
Adanya trauma multiple pada wajah
GCS 8 atau kurang - cedera kepala berat (CKB)
b. Harus mengetahui teknik dasar dan teknik lanjutan untuk menjaga
patensi airway dapat dilakukan dengan bantuan alat, maupun tanpa bantuan
alat.
Jaw thrust dan Chin lift-Head tilt Manuver :
Chin lift dilakukan dengan maksud mengangkat otot pangkal lidah ke
depan. Caranya : gunakan jari tengah dan telunjuk untuk memegang
tulang dagu pasien kemudian angkat.
Head tilt dlilakukan bila jalan nafas tertutup oleh lidah pasien. Tidak
boleh dilakukan pada pasien dugaan fraktur servikal. Caranya : letakkan
satu telapak tangan di dahi pasien dan tekan ke bawah sehingga kepala
menjadi tengadah dan penyangga leher tegang dan lidahpun terangkat
ke depan
Jaw thrust dilakukan dengan caranya : dorong sudut rahang kiri dan kanan
ke arah depan sehingga barisan gigi bawah berada di depan barisan gigi
atas
Nasofaring dan orofaringeal airway
Intubasi Nasotrakheal dan Orotrakheal
Needle Crycothyroidektomy
Surgical Crycothyroidektomy
Finger sweep : Kepala miring (kecuali pada dugaan fraktur tulang leher)
jaw thrust tekan dagu ke bawah (maneuver emaresi). Dengan 2 jari (jari
telunjuk dan jari tengah) yang bersih atau dibungkus dengan sarung
tangan/kassa/kain untuk membersihkan rongga mulut dengan gerakan
menyapu.

Gambar 1. Teknik Fingger Sweep

Sumbatan parcial dengan teknik abdominal thrust, back blow/back slaps,


chest thrust .
Abdominal Thrust (Manuver Heimlich) dapat dilakukan dalam posisi
berdiri dan terlentang. Caranya berikan hentakan mendadak pada ulu hati
(daerah subdiafragma abdomen).
- Abdominal Thrust (Manuver Heimlich) pada posisi berdiri atau duduk
caranya : penolong harus berdiri di belakang korban, lingkari
pinggang korban dengan kedua lengan penolong, kemudian kepalkan
satu tangan dan letakkan sisi jempol tangan kepalan pada perut
korban, sedikit di atas pusar dan di bawah ujung tulang sternum.
Pegang erat kepalan tangan dengan tangan lainnya. Tekan kepalan
tangan ke perut dengan hentakan yang cepat ke atas. Setiap hentakan
harus terpisah dan gerakan yang jelas.
- Abdominal Thrust (Manuver Heimlich) pada posisi tergeletak (tidak
sadar) caranya : korban harus diletakkan pada posisi terlentang dengan
muka ke atas. Penolong berlutut di sisi paha korban. Letakkan salah
satu tangan pada perut korban di garis tengah sedikit di atas pusar dan
jauh di bawah ujung tulang sternum, tangan kedua diletakkan di atas
tangan pertama. Penolong menekan ke arah perut dengan hentakan
yang cepat ke arah atas. Berdasarkan ILCOR yang terbaru, cara
abdominal thrust pada posisi terbaring tidak dianjurkan, yang
dianjurkan adalah langsung melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP).
- Abdominal Thrust (Manuver Heimlich) pada yang dilakukan sendiri.
Pertolongan terhadap diri sendiri jika mengalami obstruksi jalan
napas. Caranya : kepalkan sebuah tangan, letakkan sisi ibu jari pada
perut di atas pusar dan di bawah ujung tulang sternum, genggam
kepala itu dengan kuat, beri tekanan ke atas kea rah diafragma dengan
gerakan yang cepat, jika tidk berhasil dapat dilakukan tindakan
dengan menekan perut pada tepi meja atau belakang kursi
Back Blow (untuk bayi). Bila penderita sadar dapat batuk keras,
observasi ketat. Bila nafas tidak efektif atau berhenti, lakukan back blow
5 kali (hentakan keras pada punggung korban di titik silang garis antar
belikat dengan tulang punggung/vertebrae)
Chest Thrust (untuk bayi, anak yang gemuk dan wanita hamil). Bila
penderita sadar, lakukan chest thrust 5 kali (tekan tulang dada dengan jari
telunjuk atau jari tengah kira-kira satu jari di bawah garis imajinasi antara
kedua putting susu pasien). Bila penderita sadar, tidurkan terlentang,
lakukan chest thrust, tarik lidah apakah ada benda asing, beri nafas
buatan
Penangan masing-masing penyebab :
Pasien dengan posisi kepala sniffing position / posisi bernafas, cenderung
memiliki airway yang sempit. Sehingga perlu kita lakukan manuver chin
lift untuk clear airway (tapi tidak boleh sampai hiperekstensi kepala, karena
dapat memperburuk cedera cervical yang mungkin ada) dan dapat dilanjutkan
dengan pemasangan naso atau orofaringeal airway.
Pasien dengan darah dan gigi yang patah dalam rongga mulut, maka darahnya
di suctionatau giginya di swap finger, kemudian dilanjutkan dengan manuver
chin lift dan pemasangan naso atau orofaringeal airway.
Pasien dengan lidah yang jatuh ke belakang, maka setelah dilakukan manuver
chin lift, dapat langsung dilanjutkan dengan pemasangan orofaringeal airway.
Pasien dengan fraktur pada laring, atau edema pada laring akibat luka bakar,
maka penting untuk melakukan intubasi endotrakeal lebih dini, untuk menjaga
patensi airway dari ancaman edema laring late onset.
Pasien dengan trauma multiple pada wajah, jika tidak memungkinkan untuk
dilakukan intubasi dini maka, lakukan needle crycothyroidektomy dan
dilanjutkan dengan surgical crycothyroidektomy
Pada pasien dengan GCS 8 atau kurang - cedera kepala berat (CKB), maka
merupakan indikasi untuk melakukan intubasi endotrakeal dini untuk
mempertahankan airway.

2. BREATHING
Airway yang baik tidak menjamin ventilasi yang baik. Ventilasi yang baik
meliputi: fungsi paru, dinding dada dan diafragma dan saraf. Nilai frekuensi
pernafasannya, lihat ada sesak atau tidak, lihat ada trauma di thorax atau tidak,
tanda-tanda sianosis juga harus diperhatikan.
Tanda-tanda pernafasan yang memadai (adekuat)
Dada dan perut bergerak naik turun seirama dengan pernafasan
Udara terdengar dan terasa saat keluar dari mulut/hidung
Penderita tampak nyaman
Frekuensi cukup
Tanda-tanda pernafasan tidak adekuat
Gerakan dada kurang baik
Ada suara nafas tambahan
Sianosis
Frekuensi kurang atau lebih
Perubahan status mental (gelisah)
Tanda-tanda tidak adanya pernafasan
Tidak ada gerakan dada atau perut
Tidak terdengar aliran udara mulut atau hidung
Tidak terasa hembusan nafas dari mulut atau hidung

Langkah 1 : Penilaian
Buka leher dan dada penderita, dengan tetap memperhatikan kontrol
servikal in-line immobilisasi
Tentukan laju dan dalamnya pernapasan
Inspeksi dan palpasi leher dan thoraks untuk mengenali kemungkinan
terdapat deviasi trakhea, ekspansi thoraks simetris atau tidak.
Perkusi thoraks untuk menentukan redup atau hipersonor
Auskultasi thoraks bilateral
Dada pasien harus dibuka untuk melihat ekspansi pernafasan. Auskultasi
dilakukan untuk memastikan masuknya udara ke dalam paru. Perlukaan yang
mengakibatkan gangguan ventilasi yang berat adalah tension pneumothoraks, flail
chest dengan kontusio paru dan open pneumothoraks. Keadaan tersebut harus
dikenali pada saat dilakukan primary survey. Hematothoraks, simple
pneumothoraks, fraktur costae dan kontusio paru menganggu ventilasi dalam
derajat yang lebih ringan dan harus dikenali pada saat melakukan secondary
survey.
Langkah 2 : Pengelolaan
Pengelolaan jika terdapat henti napas :
Hal yang dapat dilakukan antara lain resusitasi paru, bisa dilakukan melalui :
a. Mouth to mouth
b. Mouth to mask
c. Bag to mask (Ambu bag).
Jika menggunakan ventilator oksigen dapat diberikan melalui :
1. Kanul. Pemberian Oksigen melaui kanul hanya mampu memberikan oksigen
24-44 %. Sementara saturasi oksigen bebas sebesar 21 %.
2. Face mask/ rebreathing mask. Saturasi oksigen melalui face mask hanya
sebesar 35-60%.
3. Non-rebreathing mask. Pemberian oksigen melalui non-rebreathing mask inilah
pilihan utama pada pasien cyanosis. Konsentrasi oksigen yang diantarkannya
sebesar 80-90%. Perbedaan antara rebreathing mask dan non-rebreathing mask
terletak pada adanya valve yang mencegah udara ekspirasa terinhalasi kembali.

3. CIRCULATION
Sirkulasi adalah proses pengaliran darah yang seharusnya baik untuk menjamin
pasokan oksigen ke sel-sel tubuh termasuk sel otak. Keadaan dimana terjadinya
gangguan sirkulasi ditandai dengan :
- Penurunan tekanan darah,
- Peningkatan denyut nadi,
- Penyempitan tekanan nadi,
- Penurunan jumlah pengeluaran urin,
- Akral dingin,
- Gangguan kesadaran.
Langkah 1 : Penilaian
Sumber perdarahan (eksternal dan internal)
Perdarahan merupakan sebab utama kematian pasca trauma yang mungkin
dapat diatasi dengan terapi yang cepat dan tepat. Suatu keadaan hipotensi pada
pasien trauma harus dianggap disebabkan oleh hipovolemia, sampai terbukti
sebaliknya. Dengan demikian maka diperlukan penilaian yang cepat dari status
hemodinamik pasien.
Periksa nadi
Permeriksaan nadi yang besar seperti a.femoralis atau a.karotis (kiri-kanan)
untuk kecepatan, irama dan kekuatan nadi. Tidak diketemukannya pulsasi dari
arteri besar merupakan pertanda diperlukannya resusitasi masif segera untuk
memperbaiki volume dan cardiac output. Nadi yang tidak cepat, kuat dan
teratur biasanya merupakan tanda normovolemia (bila pasien tidak minum obat
beta-blocker). Nadi yang cepat dan kecil merupakan tanda hipovolemia
walaupun dapat disebabkan keadaan lain.
Periksa warna kulit
Warna kulit dapat membantu diagnosis hipovolemia. Pasien trauma yang
kulitnya kemerahan terutama pada wajah dan ekstremitas, jarang yang dalam
keadaan hipovolemia. Sebaliknya, wajah pucat keabu-abuan dan kulit
ekstremitas yang pucat merupakan tanda hipovolemia.
Tingkat kesadaran
Bila volume darah menurun, perfusi otak dapat berkurang yang akan
mengakibatkan penurunan kesadaran
Periksa tekanan darah (bila memngkinkan)
Langkah 2 : Pengelolaan
Penekanan langsung pada sumber perdarahan eksternal
Kenali perdarahan internal, kebutuhan untuk intervensi bedah serta konsultasi
pada ahli bedah.
Pasang kateter IV 2 jalur ukuran besar sekaligus mengambil sampel darah
untuk pemeriksaan rutin, kimia darah, tes kehamilan (pada wanita usia subur),
golongan darah serta Analisis Gas Darah.
Beri cairan kristaloid yang sudah dihangatkan dengan tetesan cepat.
Pasang bidai pneumatik untuk kontrol perdarahan pada pasien-pasien fraktur
pelvis yang mengancam nyawa.
Cegah hipotermia

4. DISABILITY
Penilaian neurologis cepat (apakah pasien sadar, member respon suara terhadap
rangsang nyeri, atau pasien tidak sadar). Tidak ada waktu untuk melakukan
pemeriksaan Glasgow Coma Scale, maka sistem AVPU pada keadaan ini lebih
jelas dan cepat:
- Awake (A)
- Verbal response (V)
- Painful response (P)
- Unresponsive (U)
Pada tahap ini dokter diharapkan menilai keadaan neurologic pasien. Status
neurologic yang dinilai melalui GCS (Glasgow Coma Scale) dan keadaan pupil
serta kecepatannya. Hal yang dinilai dari GCS antara lain (E-V-M)
Eye : 4. Membuka spontan
3. Membuka terhadap suara
2. Membuka terhadap nyeri
1. Tidak ada respon
Verbal : 5. Berorientasi baik
4. Berbicara tapi tidak berbentuk kalimat
3. Berbicara kacau atau tidak sinkron
2. Suara merintih atau menerang
1. tidak ada respon
Motorik : 6. Mengikuti perintah
5. Melokalisir nyeri
4. Fleksi normal (menarik anggota yang dirangsang)
3. Fleksi abnormal (dekortikasi)
2. Ekstensi abnormal (deserebrasi)
1. tidak ada respon (flasid)
Penilaian: Kesadaran baik >13, sedang 9 -12, Buruk /koma < 8

5. EXPOSURE/ENVIRONMENT
Pasien harus dibuka keseluruhan pakaiannya dan cari apakah ada luka/trauma lain
secara generalis. Tetapi jaga agar pasien tidak hipotermia. Buka pakaian pasien
untuk mengeksplorasi tubuh pasien untuk melihat kemungkinan adanya multiple
trauma. Kemudian selimuti pasien agar mencegah hipothermi. Setelah semua
dilakukan dan keadaan pasien menjadi stabil lakukan kembali Secondary Survey.

B. SECONDARY SURVEY
Seccondary survey baru dilakukan setelah primary survey selesai, resusitasi
dilakukan dan ABC-pasien dipastikan membaik. Secobdary survey adalah
pemeriksaan kepala sampai-kaki (head to toe exakination) termasuk re-evaluasi
pemeriksaan tanda vital.
1. ANAMNESIS
A: Alergi
M: Medikasi (obat yg diminum saat ini)
P: Past illnes ( penyakit penyerta)/ pregnancy
L: Last meal
E: Event/ environment (lingkungan) yg berhubungan dgn kejadian perlukaan
2. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan kepala
Kelainan kulit kepala dan bola mata
Telinga bagian luar dan membrana timpani
Cedera jaringan lunak periorbital
Pemeriksaan leher
Luka tembus leher
Emfisema subkutan
Deviasi trachea
Vena leher yang mengembang
Pemeriksaan neurologis
Penilaian fungsi otak dengan Glasgow Coma Scale (GCS)
Penilaian fungsi medula spinalis dengan aktivitas motorik
Penilaian rasa raba / sensasi dan refleks
Pemeriksaan dada
Clavicula dan semua tulang iga
Suara napas dan jantung
Pemantauan ECG (bila tersedia)
Pemeriksaan rongga perut (abdomen)
Luka tembus abdomen memerlukan eksplorasi bedah
Pasanglah pipa nasogastrik pada pasien trauma tumpul abdomen kecuali bila ada
trauma wajah
Periksa dubur (rectal toucher)
Pasang kateter kandung seni jika tidak ada darah di meatus externus
Pelvis dan ekstremitas
Cari adanya fraktura (pada kecurigaan fraktur pelvis jangan melakukan tes
gerakan apapun karena memperberat perdarahan)
Cari denyut nadi-nadi perifer pada daerah trauma
Cari luka, memar dan cedera lain
Pemeriksaan sinar-X (bila memungkinkan) untuk :
Dada dan tulang leher (semua 7 ruas tulang leher harus nampak)
Pelvis dan tulang panjang
Tulang kepala untuk melihat adanya fraktura bila trauma kepala tidak disertai
defisit neurologis fokal
DAFTAR PUSTAKA

1. American College of Surgeons Committe of Trauma. Penilaian Awal dan


Pengelolaannya. Dalam: Advanced Trauma Life Support for Doctors. Ikatan
Ahli Bedah Indonesia, penerjemah. Edisi 7. Komisi trauma IKABI, 2004