You are on page 1of 18

STATUS RESPONSI

ILMU KESEHATAN ANAK


NEONATORUM HIPERBILIRUBINEMIA

Disusun oleh :

Irstina Tassa Novera 4151131458


Dita Siwi Wulandari 4151131462
Gusti Ayu Sinta D.A 4151131475
Yudha Febrian 4151131477
Yustina Amelia 4151131419
Fitri Dwiyani 4151131431
Rosalina Helmi 4151131453
Yunike Putri Nurfauzia 4151131470
Primandika Rachmanda 4151131508
XLIII-EF

Preceptor:
Elly Noer Rochmah, dr., SpA., M.Kes
BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
RS DUSTIRA / FAKULTAS KEDOKTERAN UNJANI
CIMAHI
2014

STATUS RESPONSI
I. ANAMNESIS (Heteroanamnesis tanggal 26 November 2014)

A. KETERANGAN UMUM
Nama :By. Muhammad Raihan
Jenis Kelamin :Laki-laki
Tempat, Tanggal Lahir :Cimahi, 11 November 2014
Umur :15 hari
Golongan darah : AB
Anak Ke : 5 dari 5 bersaudara (G5P5A0)
Partus Jenis : Spontan
Dengan Pertolongan : Bidan
BB dan PB Lahir : 2500 gram, 47 cm
Tanggal Dirawat : 26 November 2014
Tanggal Pemeriksaan : 26 November 2014

Identitas Orang Tua


Nama Ayah :Tn. Toton
Umur : 45 tahun
Golongan darah : Tidak diketahui
Pendidikan : SD
Pekerjaan / Jabatan : Buruh
Alamat : Jl. Kampung Babut Girang RT/RW: 2/11,
Cihanjuang
Nama ibu : Ny. Heni
Umur : 42 tahun
Golongan darah :B
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Jl. Kampung Babut Girang RT/RW: 2/11,
Cihanjuang

B. KELUHAN UTAMA
Bayi kuning.
C. ANAMNESIS KHUSUS
Seorang bayi berusia 15 hari tampak kuning sejak hari ke-14 setelah dilahirkan.
Ibu pasien menyadari kuning terlihat dari kepala sampai kedua tungkai bawah.

D. ANAMNESIS UMUM
Keluhan kuning tidak disertai dengan panas, kejang dan penurunan kesadaran.
Buang air besar tidak tampak seperti dempul dan buang air kecil tidak tampak
berwarna teh pekat. Semenjak kuning bayi menjadi malas menetek, gerak tidak aktif.
Riwayat demam disangkal ibu pasien
Kehamilan ini merupakan yang kelima. Ibu selalu memeriksakan kehamilannya
pada bidan dan kontrol secara teratur setiap bulan. Selama kehamilan ibu mengaku
tidak pernah minum obat selain vitamin dari bidan Kenaikan berat badan selama
kehamilan 11 kg. Ibu pasien mendapatkan vaksinasi teratur.
Riwayat ibu sakit tekanan darah tinggi selama kehamilan ada sebesar 140/90
mmHg, tidak ada riwayat kencing manis, sakit kuning, abortus, maupun riwayat
kelainan darah dalam keluarga. Golongan darah ibu adalah B, sedangkan golongan
darah ayah tidak diketahui, rhesus tidak diketahui, golongan darah anak AB. HPHT
ibu tidak diketahui.
Bayi lahir 15 hari yang lalu dari seorang ibu G5P5A0, kehamilan tunggal. Bayi
lahir secara spontan ditolong Bidan. Bayi langsung menangis, gerak aktif dan tali
pusat langsung dipotong. Berat badan lahir 2500 gram, panjang badan lahir 47 cm,
ketuban bening, dan langsung menangis. Riwayat kebiruan saat persalinan tidak ada.
Bayi mendapatkan ASI pada hari ke 1, ibu pasien mengatakan saat lahir anak
langsung diberikan kepada dada ibu dan langsung menetek.
Bayi diberikan ASI on demand setiap 2 jam/kali pemberian selama 15-20 menit.
Pasien menetek kuat.
Ibu pasien mengatakan pasien mengalami kuning sejak 1 hari SMRS. Semenjak
kuning pasien menjadi malas menetek dan gerak kurang aktif.

E. ANAMNESIS TAMBAHAN
1. RIWAYAT IMUNISASI
Nama Dasar (bulan) Ulangan (tahun)

Hepatitis B 0
BCG
DTP
Polio 0
Campak

2. KEADAAN KESEHATAN
Ayah dan ibu dalam kedaan sehat

II. PEMERIKSAAN FISIK


Keadaan Umum
Kesadaran : Kualitatif : Alert. Menangis kuat, gerak aktif
Kuantitatif : 15 (E 4 V 5 M 6)
Kesan sakit : Tampak sakit ringan
Sesak : PCH (-) Retraksi (-)
Sianosis : Sentral/perifer (-/-)
Ikterus : (+) Kramer V
Edema : Pitting edema (-) Anasarka (-)
Dehidrasi : (-)
Anemi : (-)
Kejang : Lokal/umum (-) Tonik/klonik (-)
Pengukuran
Umur : 15 hari
Berat badan : 2500 gram
Panjang badan : 47 cm
Lingkar kepala : 33 cm normocephal
Lingkar dada : 32 cm
Status Gizi : Grafik Lubchenco: presentil 25-50 Appropriate for Gestational
Age (AGA).
Tanda Vital
Heart rate (Bunyi jantung) : 146 x/menit
Laju napas : 44 x/menit, regular, tipe abdominothorakal
Suhu : 37,4 oC

1. PEMERIKSAAN KHUSUS
Rambut : tak ada kelainan
Kuku : tak ada kelainan
Kulit : Ikterik Kramer 5
Kelenjar Getah Bening : sulit dipriksa
Kepala : Molase (-)
Mata : Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik +/+
Pupil : Bulat Isokor
Hidung : Rhinorrhae (-)
Telinga : Otorrhae -/-
Tenggorokan :
Tonsil : sulit dinilai
Farings : sulit dinilai
Bibir : Tak ada kelainan
Mulut : Mukosa basah
Gusi : Tak ada kelainan
Langit-langit : Tak ada kelainan
Leher :
Kaku Kuduk : sulit dinilai
Kelenjar Getah Bening : sulit di nilai
Lain-lain : tak ada kelainan

1. Thorax
a. Dinding Dada
Depan
R L
Inspeksi : Bentuk dan gerak simetris
Palpasi : Vokal fremitus kanan = kiri
Perkusi : Sonor kanan = kiri
Auskultasi : VBS kanan = kiri
Ronkhi -/- Wheezing -/-

L R
Belakang Inspeksi : Bentuk dan gerak simetris
Palpasi : Vokal fremitus kanan = kiri
Perkusi : Sonor kanan = kiri
Auskultasi : VBS kanan = kiri
Ronkhi -/- Wheezing -/-

b. Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
R L
Palpasi : Ictus cordis teraba ICS 5 Linea
Midclavicularis Sinistra
Perkusi : Tidak dilakukan pemeriksaan
Auskultasi : Bunyi Jantung I dan II murni reguler
Bunyi Jantung tambahan tidak ada

2. Abdomen
Inspeksi : Cembung, supel, tali pusat sudah puput
Palpasi : Lembut, distensi abdomen (-)
Hepar : Teraba 1 cm bac tepi tajam, permukaan rata,
konsistensi kenyal
Lien : Tidak teraba
Perkusi : Thympani
Auskultasi : Bising usus (+)
Genitalia
Jenis Kelamin : Laki - Laki
Kelainan : Tidak ada kelainan
Maturitas Seks : Normal
Susunan Saraf
Reflek : Reflek cahaya (pupil) : +/+
Reflek kornea : normal
Rangsang Meningen : kaku kuduk : (-)
Brudzinsky I/II/III : (-)
Kernig : (-)
Laseque : (-)
Saraf otak : normal
Motorik : gerak aktif
Sensorik : normal
Vegetatif : BAB dan BAK tidak ada kelainan
Reflek Fisiologis : APR : normal, KPR : normal
Reflek Patologis : Babinsky : -/-
Chaddock : -/-
Oppenheim : -/-
Gordon : -/-
Pemeriksaan Ballard Score
Neuromuscular Maturity (Ballard) :
1. Posture : Ballard score = 3
2. Square window : 30o (Ballard score = 3)
3. Arm recoil : <90o (Ballard score = 4)
4. Popliteal angle : 100o (Ballard score = 3)
5. Scarf sign : (Ballard score = 2)
6. Heel to ear : (Ballard score = 2)
Physical Maturity (Ballard)
Kulit : permukaan pecah-pecah, vena jarang (Ballard score = 3)
Lanugo : menipis (Ballard score = 2)
Permukaan plantar kaki : lipatan pada 2/3 anterior (Ballard score = 3)
Payudara : areola terangkat, puncak 3-4 mm (Ballard score = 3)
Daun telinga : pinna melengkung sempurna, kaku, lunak rekoil baik (Ballard score =
3)
Kelamin perempuan : testis turun, rugae dangkal (Ballard score = 2)

Total Ballard score :19 + 14= 33


Masa gestasi : 37 minggu

III. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Tanggal/ 26 November 2014 28 November 2014 30 November 2014
Pemeriksaan HS: 15, HR: 1 HS: 18, HR: 3 HS: 20, HR: 5
Bil. Total 15,58 mg/dl 9,69 mg/dl 7,58 mg/dl
Bil. Direk 0,52 mg/dl 0,56 mg/dl 0,44 mg/dl
Bil. Indirek 15,06 mg/dl 9,13 mg/dl 7,14 mg/dl
A. LABORATORIUM tanggal 26-30 November 2014

URINE :
Tidak dilakukan pemeriksaan
FESES:
Tidak dilakukan pemeriksaan

IV.RESUME
Seorang bayi usia 15 hari dengan jenis kelamin laki-laki diantar oleh ibunya
dengan keluhan tampak kuning dari kepala hingga tungkai bawah. Ibu menyadari
mulai terlihat kuning 14 hari setelah dilahirkan.
Ibu memiliki riwayat kehamilan G5P5A0 serta selama kehamilan melakukan
Ante Natal Care secara teratur ke bidan kurang lebih 9 kali. Selama kehamilan ibu
mengkonsumsi vitamin dari bidan dan vaksinasi teratur.
Anak lahir di Bidan dengan proses persalinan spontan. Saat lahir bayi langsung
menangis, gerak aktif dengan berat badan lahir 2500 gram dan panjang badan 47 cm.
Golongan darah ibu B, bapak tidak diketahui dan golongan darah pasien AB.
Setelah lahir anak diberikan ASI on demand mendapatkan ASI pada hari ke 1,
ibu pasien mengatakan saat lahir anak langsung diberikan kepada dada ibu dan
langsung menetek.
Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan:
Kesadaran : Alert
Keadaan sakit : Tampak sakit ringan
Berat Badan : 2500 g
Panjang Badan: 47 cm
Lingkar Kepala: 33 cm (normocephal)
Lingkar Dada : 32 cm
Status Gizi : Grafik Lubchenco: presentil 25-50 Appropriate for Gestational
Age (AGA).

Tanda Vital :
Laju Napas : 44x/menit
Suhu : 37.4 oC
Laju Nadi : 146x/menit
Kepala : normocephal
Mata : Sklera ikterik +/+, Konjungtiva anemis -/-
Mulut : mukosa basah
Abdomen : Datar, Bising Usus (+), Hepatomegali (-), Splenomegali (-)
Kulit : Kramer V
Ekstremitas : Akral hangat
Dari hasil pemeriksaan penunjang didapatkan:
Bilirubin Total : 15,58 mg/dl
Bilirubin Direk : 0,52 mg/dl

V. DIAGNOSIS
DIAGNOSIS BANDING
BBLC + BKB + SMK + Spontan + Ikterus Neonatorum Fisiologis
BBLC + BKB + SMK + Spontan + Ikterus Neonatorum Patologis e.c anemia
hemolitik

DIAGNOSIS KERJA
BBLC + BKB + SMK + Spontan + Ikterus Neonatorum Fisiologis

VI. USUL PEMERIKSAAN


Apus darah tepi
Coombs test
G6PD screening

DISKUSI
DEFINISI
- Ikterus Neonatorum
Adalah keadaan klinis pada bayi yang ditandai oleh pewarnaan ikterus pada
kulit dan sklera akibat akumulasi bilirubin tak terkonjugasi yang berlebih. Ikterus
secara klinis akan mulai tampak pada bayi baru lahir bila kadar bilirubin darah 5-7
mg/dl.
- Hiperbilirubinemia
Adalah terjadinya peningkatan kadar plasma bilirubin 2 standar deviasi atau
lebih dari kadar yang diharapkan berdasar umur bayi atau lebih dari persentil 90.

ETIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO


Seorang bayi usia 15 hari dengan jenis kelamin laki-laki diantar oleh ibunya
dengan keluhan tampak kuning dari kepala hingga tungkai bawah. Ibu menyadari
mulai terlihat kuning 14 hari setelah dilahirkan.
Hiperbilirubinemia bisa disebabkan oleh proses fisiologis maupun nonfisiologis
atau kombinasi keduanya. Risiko hiperbilirubinemia meningkat pada bayi yang
mendapat ASI, bayi kurang bulan, dan bayi yang mendekati cukup bulan. Neonatal
hiperbilirubinemia terjadi akibat peningkatan produksi atau penurunan clearance
bilirubin, lebih sering terjadi pada bayi imatur.
Bayi yang mendapat ASI memiliki kadar bilirubin serum yang lebih tinggi

disbanding bayi yang diberi susu formula. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh

beberapa faktor antara lain frekuansi menyusu yang tidak adekuat atau kehilangan

berat badan dan dehidrasi. Tabel 1 menunjukkan faktor etiologi yang berhubungan

dengan hiperbilirubinemia pada bayi yang mendapat ASI.

Tabel 1. Faktor etiologi yang berhubungan dengan hiperbilirubinemia pada bayi yang
mendapat ASI
Asupan cairan Kelaparan
Frekuensi menyusui
Kehilangan berat badan/dehidrasi
Hambatan ekskresi bilirubin hepatik Pregnandiol
Lipase-free fatty acid
Unidentified inhibitor
Reabsorpsi bilirubin intestinal Pasase mekonium terlambat
Pembentukan urobilinoid bakteri
Beta-glukoronidase
Hidrolisis alkaline
Asam empedu

Hiperbilirubinemia yang signifikan dalam 36 jam pertama biasanya

disebabkan oleh peningkatan produksi bilirubin (terutama akibat hemolisis) karena

pada periode ini hepatic clearance jarang memproduksi bilirubin lebih dari 10 mg/dL.

Peningkatan hemoglobin 1% akan meningkatkan kadar bilirubin 4 kali lipat. Tabel 1.2

menunjukkan penyebab neonatal hiperbilirubinemia indirek.

Tabel 1.2 Penyebab neonatal hiperbilirubinemia indirek

Dasar Penyebab
Peningkatan produksi bilirubin Inkompatibilitas darah fetomaternal (Rh,
ABO), masa hidup eritsosit pada bayi
lebih singkat (70-90 hari).
Peningkatan penghancuran hemoglobin Defisiensi enzim kongenital (G6PD,
galaktosemia), perdarahan tertutup
(sefalhematom), sepsis.
Peningkatan jumlah hemoglobin Polisitemia (twin totwin transfusion,
SGA), keterlambatan klem tali pusat.
Peningkatan siklus enterohepatik Keterlambatan pasase mekonium, ileus
mekonium, meconium plug syndrome,
puasa atau keterlambatan minum, atresia
atau stenosis intestinal.
Perubahan clearance bilirubin hati Imaturitas, buruknya konjugasi bilirubin
dengan asam glukoronat oleh hati pada
neonatus.
Perubahan produksi atau aktivitas uridine Gangguan metabolik/endokrin (Penyakit
Difosfoglukoronil transferase Criglar-Najjar, hipotiroidisme, gangguan
metabolisme asam amino).
Perubahan fungsi konjugasi hati Asfiksia, hipoksia, hipotermia,
hipoglikemia, sepsis atau inflamasi, obat-
obatan atau hormon (novobiasin,
pregnandiol).
Obstruksi hepatik Anomali kongenital (atresia biliaris,
fibrosis kistik), stasis biliaris (hepatitis,
sepsis), billirubin load (sering pada
hemolisis berat).

Hal-hal yang menjadi faktor risiko ikterus neonatorum antara lain ketidak

sesuaian golongan darah ibu dengan bayi, pemberian ASI eksklusif, usia kehamilan

35-36 minggu, hematoma sefal atau memar yang nyata, ras asia, ikterus pada 24 jam

pertama kehidupan, dan kadar bilirubin sebelum bayi pulang pada zona berrisiko

nyata.

KRITERIA DIAGNOSIS

Ikterus fisiologis

1. Timbul setelah 24 jam pertama kehidupan.

2. BCB nilai puncak 6-8 mg/dl biasanya pada hari ke-3 sampai 5.

3. BKB nilainya 10 12 mg/dL bahkan sampai 15 mg/dL.

4. Peningkatan bilirubin serum < 5 mg/dl/hari

Ikterus Non Fisiologis

1. Ikterus terjadi sebelum umur 24 jam.

2. Setiap peningkatan kadar bilirubin serum yang memerlukan fototerapi.

3. Peningkatan kadar bilirubin serum >0, 5 mg/dL/hari.

4. Adanya tanda-tanda penyakit yang mendasari pada setiap bayi (muntah,

letargis, malas menetek, penurunan berat badan yang cepat, apneu, takipneu,

atau suhu yang tidak stabil).

5. Ikterus bertahan setelah 8 hari pada bayi cukup bulan atau setelah 14 hari pada

bayi kurang bulan.

Anamnesis:
a. Riwayat keluarga

Riwayat keluarga dengan ikterik, anemia, splenektomi atau gangguan metabolik

adalah signifikan. Riwayat ikterik pada saudara sekandung sebelumnya dapat diduga

grup inkomtabilitas darah, breast milk jaundice atau defisiensi G6PD.

b. Riwayat Ibu

Ikterus neonatorum meningkat jika terdapat riwayat ibu diabetes atau infeksi.

Trauma kelahiran, asfiksia, pemutusan tali pusat yang lambat dan prematuritas

berhubungan dengan peningkatan resiko hiperbilirubinemia pada neonatus.

c. Riwayat Bayi

Bayi asfiksia meningkatkan kadar bilirubin yang disebabakan ketidak mampuan

hepar untuk memproses bilirubin atau oleh adanya perdarahan intra kranial.

Perlambatan pemutusan tali pusat berhubungan dengan polisitemia neonatus dan

peningkatan jumlah bilirubin. Faktor yang berhubungan dengan saluran cerna dapat

berpengaruh terhadap kadar bilirubin. Faktor ini termasuk riwayat dan frekuensi dari

pemberian ASI.

PATOFISIOLOGI

Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan.


Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan beban bilirubin
di sel hepar yang terlalu berlebihan. Hal tersebut dapat ditemukan pada peningkatan
penghancuran eritrosit, polisitemia, memendeknya umur eritrosit janin/bayi, atau
terdapat peningkatan sirkulasi enterohepatik.
Keadaan lain yang dapat meningkatkan kadar bilirubin :
1. Peningkatan penghancuran sel darah merah (produksi berlebihan)
Inkompatibilitas golongan darah Rhesus
Defek sel darah merah (G6PD, sferositosis)
Inkompatibilitas golongan darah yang jarang
Polisitemia
Darah yang terkumpul (luka, hematom)
Infeksi
Keterlambatan klem tali pusat
2. Perubahan produksi atau aktivitas UDPGT
Gangguan metabolik/endokrin (Crigler-Najjar disease)
Hipotiroidisme, gangguan metabolisme asam amino
3. Perubahan fungsi dan perfusi hati (kemampuan konjugasi)
Asfiksia, hipoksia, hipotermi, hipoglikemi
inflamasi, sepsis
Obat-obatan
4. Peningkatan sirkulasi enterohepatik
Meconium plug syndrome
Puasa atau keterlambatan minum
5. Obstruksi hepatik (berhubungan dengan hiperbilirubinemia direk)
Stasis biliaris (Hepatisis, sepsis)
Anomali kongenital (atresia biliaris, fibrosis kistik)
Bilirubin load berlebihan (sering pada hemolisis berat)
Pada bayi yang mendapat ASI terdapat 2 bentuk neonatal jaundice yaitu early
(berhubungan dengan breast feeding) dan late (berhubungan dengan ASI, breastmilk
Jaundice). Bentuk early onset diyakini berhubungan dengan proses pemberian
minum. Bentuk late onset diyakini dipengaruhi oleh kandungan ASI ibu yang
mempengaruhi proses konjugasi dan ekskresi. Faktor ini mempengaruhi aktifitas
UDPGT atau pelepasan bilirubin konjugasi dari hepatosit, peningkatan aktifitas
lipoprotein lipase yang kemudian melepaskan asam lemak bebas kedalam usus halus,
penghambatan konjugasi akibat peningkatan asam lemak unsaturated; atau adanya
faktor lain yang mungkin mengakibatkan peningkatan siklus enterohepatik.
Pada derajat tertentu bilirubin akan bersifat toksik dan merusak jaringan tubuh.
Toksisitas yang dapat terjadi terutama pada bilirubin indirek yang bersifat mudah larut
dalam lemak. Sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologik pada sel otak apabila
menembul sawar darah otak, atau yang disebut juga kern ikterus atau ensefalopati
biliaris. Kelainan pada sistem saraf tersebut akan timbul pada kadar bilirubin indirek
lebih dari 20mg/dl, sering pada bayi dalam keadaan imatur, berat lahir rendah.

MANIFESTASI KLINIS

Tanda dan gejala


Ikterus secara klinis terlihat jika kadar bilirubin serium mendekati sekitar 5-7

mg/dL. Ikterus biasanya mula-mula terlihat pada wajah, hidung, kemudian turun ke

dada dan ekstermitas bawah. Ikterus tampak denga cara menekan ringan pada kulit

dengan jari, warna kuning lebih mudah terlihat pada daerah penekanan dibandingkan

dengan kulit sekitar.

Gejala hiperbilirubinemia dikelompokkan menjadi:

1. Gejala akut : gejala yang dianggap sebagai fase pertama kernikterus pada

neonatus adalah letargi, tidak mau minum dan hipotoni.

2. Gejala kronik : tangisan yang melengking (high pitch cry) meliputi hipertonus

dan opistonus (bayi yang selamat biasanya menderita gejala sisa

berupa paralysis serebral dengan atetosis, gengguan pendengaran, paralysis

sebagian otot mata dan displasiadentalis).

Sedangkan menurut Handoko (2003) gejalanya adalah warna kuning (ikterik)

pada kulit,membrane mukosa dan bagian putih (sclera) mata terlihat saat kadar

bilirubin darah mencapaisekitar 40 mol/l. Gejala utamanya adalah kuning di kulit,

konjungtiva dan mukosa. Disamping itu dapat pula disertai dengan gejala-gejala:

1. Dehidrasi, asupan kalori tidak adekuat (misalnya: kurang minum, muntah-muntah)

2. Pucat, sering berkaitan dengan anemia hemolitik (mis. Ketidakcocokan golongan

darah ABO, rhesus, defisiensi G6PD) atau kehilangan darah ekstravaskular.

3. Trauma lahir, Bruising, sefalhematom (peradarahan kepala), perdarahan tertutup

lainnya

4. Pletorik (penumpukan darah). Polisitemia, yang dapat disebabkan oleh

keterlambatan memotong tali pusat.

5. Letargik dan gejala sepsis lainnya.


6. Petekiae (bintik merah di kulit). Sering dikaitkan dengan infeksi congenital, sepsis

atau eritroblastosis.

7. Mikrosefali (ukuran kepala lebih kecil dari normal) Sering berkaitan dengan

anemia hemolitik,infeksi kongenital, penyakit hati

8. Hepatosplenomegali (pembesaran hati dan limpa)

9. Omfalitis (peradangan umbilikus)

10. Hipotiroidisme (defisiensi aktivitas tiroid)

11. Massa abdominal kanan (sering berkaitan dengan duktus koledokus)

12. Feses dempul disertai urin warna coklat. Pikirkan ke arah ikterus obstruktif,

selanjutnya konsultasikan ke bagian hepatologi.

KOMPLIKASI
Komplikasi Bilirubin ensefalopati ditandai dengan manifestasi klinis sebagai
berikut:
Awal
Letargis, hipotonik, refleks hisap buruk.
Intermediate
Moderate stupor, iritabilitas, hipertoni.
Lanjut
Demam, high-pitched cry, drowsiness, hipotoni (retrocollis dan opistotonus).

Sedangkan gejala-gejala klinis kernikterus berdasarkan stadiumnya antara lain


sebagai berikut:
Stadium 1
Refleks moro jelek, hipotoni, letargi, poor feeding, vomitus, high pitched cry.
Stadium 2
Opistotonus, kejang, panas, rigiditas, occulogyric crises, mata bergerak- gerak
ke atas.
Stadium 3
Spastisitas menurun, pada usia sekitar 1 minggu.
Stadium 4
Gejala sisa lanjut: spastitas, tuli parsial/ komplit, retardasi mental, paralisis bola
mata ke atas, displasia dental.

KLASIFIKASI

Berikut adalah penilaian derajat ikterik menurur Kramer (1969)

Lokasi Kadar Bilirubin

Kramer I Kepala dan leher 5 mg%


Kramer II Kramer I + badan bagian atas hingga umbilicus 9 mg%

Kramer III Kramer II + badan bagian bawah hingga lutut 11,4 mg%

Kramer IV Kramer III + sampai pergelangan tangan dan kaki 12,4 mg%

Kramer V Kramer IV + daerah telapak tangan dan kaki 16 mg%

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Usulan pemeriksaan yang diusulkan pada pasien ini adalah pemeriksaan apus
darah tepi, uji Coombs test direk dan enzim G6PD (glukosa 6-pospat dehidrogenase).
Dilakukan untuk mengetahui etiologi ikterus berasal dari prehepatik, hepatik atau post
hepatik dan untuk follow up terapi. Pada pasien ini etiologi ikterus neonatorum adalah
multifaktor peningkatan bilirubin yang tersedia akibat peningkatan produksi bilirubin
akibat peningkatan eritrosit, penurunan umur eritrosit, peningkatan early bilirubin dan
peningkatan resirkulasi aktif bilirubin di enterohepatik yang meningkatkan kadar
bilirubin yang tak terkonjugasi dan penurunan bilirubin clearance akibat penurunan
clearance dari plasma oleh protein karier dan penurunan metabolisme hepatik pada
enzim UDPGT.

PENATALAKSANAAN
Terapi yang diberikan pada pasien ini diantaranya adalah terapi umum berupa
pertahankan suhu 36,5 37,5 C dan ASI on demand. Penatalaksanaan ini
dimaksudkan sebagai tindakan pencegahan komplikasi karena hipotermi, mencegah
dehidrasi. Pemberian ASI yang sesering mungkin dimaksudkan agar bilirubin banyak
keluar bersama urin, sehingga kadar bilirubin dalam darah akan turun. Komplikasi
Blue Light Therapy diantaranya Baby Bronze Syndrome (bilirubin direk yang
meningkat akibat fototerapi menyebabkan destruksi cooper porpiris sehingga kulit
dan urin berwarna perunggu), diare akibat terterhambatnya fungsi enzim laktase,
dehidrasi karena peningkatan insensible water loss, dan ruam kulit/flea bite rash
akibat sel mast melepaskan histamin.
Selain diberikan terapi BLT, pasien juga dilakukan perubahan posisi dalam 24
jam, semua permukaan tubuh bayi terkena sinar, lindungi mata dan kelamin.
Penatalaksanaan ini dimaksudkan untuk mengurangi kadar bilirubin yang terdapat
dalam tubuh, melalui permukaan kulit melalui proses isomerisasi.

PROGNOSIS
Prognosis pada pasien ini baik dilihat dari perbaikan selama perawatan yakni
penurunan kadar bilirubin total maupun direk setelah 3 hari pemberian terapi BLT.