You are on page 1of 5

APAKAH DISYARIATKAN ADZAN PADA TELINGA BAYI YANG BARU LAHIR ?

Oleh
Salim bin Ali bin Rasyid Asy-Syubli Abu Zurah
Muhammad bin Khalifah bin Muhammad Ar-Rabah.
Judul di atas dibuat dalam konteks kalimat tanya sebagaimana yang anda lihat untuk menarik
perhatian pembaca yang mulia agar mempelajari pembahasan yang dikandung judul tersebut.
Karena tidak ada seorang pun yang menulis tentang bab ini kecuali menyebutkan judul sunnahnya
adzan pada telinga anak yang baru lahir, padahal tidaklah demikian karena lemahnya hadits-hadits
yang diriwayatkan dalam permasalahan ini. [*]
_____________________________
[*] Kami telah meneliti sedapat mungkin riwayat-riwayat dan jalan-jalannya, dan berikut ini kami
terangkan dalam pembahasan ini, kami katakan :

Ada tiga hadits yang diriwayatkan dalam masalah adzan pada telinga bayi ini.

Pertama.
Dari Abi Rafi maula Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam ia berkata : Aku melihat Rasulullah
mengumandangkan adzan di telinga Al-Hasan bin Ali dengan adzan shalat ketika Fathimah
Radhiyallahu anha melahirkannya.

Dikeluarkan oleh Abu Daud (5105), At-Tirmidzi (4/1514), Al-Baihaqi dalam Al-Kubra (9/300) dan Asy-
Syuab (6/389-390), Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (931-2578) dan Ad-Dua karya beliau (2/944),
Ahmad (6/9-391-392), Abdurrazzaq (7986), Ath-Thayalisi (970), Al-Hakim (3/179), Al-Baghawi dalam
Syarhus Sunnah (11/273). Berkata Al-Hakim : Shahih isnadnya dan Al-Bukhari dan Muslim tidak
mengeluarkannya. Ad-Dzahabi mengkritik penilaian Al-Hakim dan berkata : Aku katakan : Ashim
Dlaif. Berkata At-Tirmidzi : Hadits ini hasan shahih.

Semuanya dari jalan Sufyan At-Tsauri dari Ashim bin Ubaidillah dari Ubaidillah bin Abi Rafi dari
bapaknya.

Dan dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (926, 2579) dan Al-Haitsami meriwayatkannya
dalam Majma Zawaid (4/60) dari jalan Hammad bin Syuaib dari Ashim bin Ubaidillah dari Ali bin Al-
Husain dari Abi Rafi dengan tambahan : Beliau adzan pada telinga Al-Hasan dan Al-Husain.

Rawi berkata pada akhirnya : Dan Nabi memerintahkan mereka berbuat demikian.

Dalam isnad ini ada Hammad bin Syuaib, ia dilemahkan oleh Ibnu Main. Berkata Al-Bukhari
tentangnya : Mungkarul hadits. Dan pada tempat lain Bukhari berkata : Mereka meninggalkan
haditsnya.

Berkata Al-Haitsami dalam Al-Majma (4/60) : Dalam sanadnya ada Hammad bin Syuaib dan ia
lemah sekali.

Kami katakan di dalam sanadnya juga ada Ashim bin Ubaidillah ia lemah, dan Hammad sendiri telah
menyelisihi Sufyan At-Tsauri secara sanad dan matan, di mana ia meriwayatkan dari Ashim dan Ali
bin Al-Husain dari Abi Rafi dengan mengganti Ubaidillah bin Abi Rafi dengan Ali bin Al-Husain dan ia
menambahkan lafadz : Al-Husain dan perintah adzan. Hammad ini termasuk orang yang tidak
diterima haditsnya jika ia bersendiri dalam meriwayatkan. Dengan begitu diketahui kelemahan
haditsnya, bagaimana tidak sedangkan ia telah menyelisihi orang yang lebih tsiqah darinya dan lebih
kuat dlabtnya yaitu Ats-Tsauri. Karena itulah hadits Hammad ini mungkar, pertama dinisbatkan
kelemahannya dan kedua karena ia menyelisihi rawi yang tsiqah.

Adapun jalan yang pertama yakni jalan Sufyan maka di dalam sanadnya ada Ashim bin Ubaidillah.
Berkata Ibnu Hajar dalam At-Taqrib : Ia Dlaif, dan Ibnu Hajar menyebutkan dalam At-Tahdzib (5/42)
bahwa Syubah berkata : Seandainya dikatakan kepada Ashim : Siapa yang membangun masjid
Bashrah niscaya ia berkata : Fulan dari Fulan dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bahwa sanya
beliau membagunnya.

Berkata Adz-Dzahabi dalam Al-Mizan (2/354) : Telah berkata Abu Zurah dan Abu Hatim :
Mungkarul Hadits. Bekata Ad-Daruquthni : Ia ditinggalkan dan diabaikan. Kemudian Daruquthni
membawakan untuknya hadits Abi Rafi bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam adzan pada
telinga Al-Hasan dan Al-Husain (selesai nukilan dari Al-Mizan).

Maka dengan demikian hadits ini dhaif karena perputarannya pada Ashim dan anda telah
mengetahui keadaannya.

Ibnul Qayyim telah menyebutkan hadits Abu Rafi dalam kitabnya Tuhfatul Wadud (17), kemudian
beliau membawakan dua hadits lagi sebagai syahid bagi hadits Abu Rafi. Salah satunya dari Ibnu
Abbas dan yang lain dari Al-Husain bin Ali. Beliau membuat satu bab khusus dengan judul
Sunnahnya adzan pada telinga bayi. Namun kita lihat keadaan dua hadits yang menjadi syahid
tersebut.

Hadits Ibnu Abbas dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Syuabul Iman (6/8620) dan Muhammad bin
Yunus dari Al-Hasan bin Amr bin Saif As-Sadusi ia berkata : Telah menceritakan pada kami Al-
Qasim bin Muthib dari Manshur bin Shafih dari Abu Mabad dari Ibnu Abbas.

Artinya : Sesungguhnya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam adzan pada telinga Al-Hasan bin Ali pada
hari dilahirkannya. Beliau adzan pada telinga kanannya dan iqamah pada telinga kiri.

Kemudian Al-Baihaqi mengatakan pada isnadnya ada kelemahan.

Kami katakan : Bahkan haditsnya maudhu (palsu) dan cacat (ilat)nya adalah Al-Hasan bin Amr ini.
berkata tentangnya Al-Hafidh dalam At-Taqrib : Matruk.

Berkata Abu Hatim dalam Al-Jarh wa Tadil 91/2/26) tarjumah no. 109 :Aku mendengar ayahku
berkata : Kami melihat ia di Bashrah dan kami tidak menulis hadits darinya, ia ditinggalkan haditsnya
(matrukul hadits).

Berkata Ad-Dzahabi dalam Al-Mizan : Ibnul Madini mendustakannya dan berkata Bukhari ia
pendusta (kadzdzab) dan berkata Ar-Razi ia matruk.

Sebagaimana telah dimaklumi dari kaidah-kaidah Musthalatul Hadits bahwa hadits yang dlaif tidak
akan naik ke derajat shahih atau hasan kecuali jika hadits tersebut datang dari jalan lain dengan
syarat tidak ada pada jalan yang selain itu (jalan yang akan dijadikan pendukung bagi hadits yang
lemah, -pent) rawi yang sangat lemah lebih-lebih rawi yang pendusta atau matruk. Bila pada jalan
lain keadaannya demikian (ada rawi yang sangat lemah atau pendusta atau matruk, -pent) maka
hadits yang mau dikuatkan itu tetap lemah dan tidak dapat naik ke derajat yang bisa dipakai untuk
berdalil dengannya. Pembahasan haditsiyah menunjukkan bahwa hadits Ibnu Abbas tidak pantas
menjadi syahid bagi hadits Abu Rafi maka hadits Abu Rafi tetap Dlaif, sedangkan hadits Ibnu Abbas
maudlu.

Adapun hadits Al-Husain bin Ali adalah dari riwayat Yahya bin Al-Ala dari Marwan bin Salim dari
Thalhah bin Ubaidillah dari Al-Husain bin Ali ia berkata : bersabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa
sallam.

Siapa yang kelahiran anak lalu ia mengadzankannya pada telinga kanan dan iqamah pada telinga
kiri maka Ummu Shibyan (jin yang suka mengganggu anak kecil, -pent) tidak akan
membahayakannya.

Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Syuabul Iman (6/390) dan Ibnu Sunni dalam Amalul Yaum wal
Lailah (hadits 623) dan Al-Haitsami membawakannya dalam Majma Zawaid (4/59) dan ia berkata :
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Yala dan dalam sanadnya ada Marwan bin Salim Al-Ghifari, ia
matruk.

Kami katakan hadits ini diriwayatkan Abu Yala dengan nomor (6780).

Berkata Muhaqqiqnya : Isnadnya rusak dan Yahya bin Al-Ala tertuduh memalsukan hadits.
Kemudian ia berkata : Sebagaimana hadits Ibnu Abbas menjadi syahid bagi hadits Abi Rafi, Ibnul
Qayyim menyebutkan dalam Tuhfatul Wadud (hal.16) dan dikelurkan oleh Al-Baihaqi dalam Asy-
Syuab dan dengannya menjadi kuatlah hadits Abi Rafi. Bisa jadi dengan alasan ini At-Tirmidzi
berkata : Hadits hasan shahih, yakni shahih lighairihi. Wallahu alam (12/151-152).

Kami katakan : tidaklah perkara itu sebagaimana yang ia katakan karena hadits Ibnu Abbas pada
sanadnya ada rawi yang pendusta dan tidak pantas menjadi syahid terhadap hadist Abu Rafi
sebagaimana telah lewat penjelasannya, Wallahu alam.

Sedangkan haidts Al-Husain bin Ali ini adalah palsu, pada sanadnya ada Yahya bin Al-Ala dan
Marwan bin Salim keduanya suka memalsukan hadits sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Al-
Albani dalam Ad-Dlaifah (321) dan Albani membawakan hadits Ibnu Abbas dalam Ad-Dlaifah nomor
(6121). Inilah yang ditunjukkan oleh pembahasan ilmiah yang benar. Dengan demikian hadits Abu
Rafi tetap lemah karena hadits ini sebagaimana kata Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam At-Talkhish
(4/149) : Perputaran hadist ini pada Ashim bin Ubaidillah dan ia Dlaif.

Syaikh Al-Albani telah membawakan hadits Abu Rafi dalam Shahih Sunan Tirmidzi no. (1224) dan
Shahih Sunan Abi Daud no (4258), beliau berkata : Hadits hasan. Dan dalam Al-Irwa (4/401)
beliau menyatakan : Hadits ini Hasan Isya Allah.

Dalam Adl-Dlaifah (1/493) Syaikh Al-Albani berkata dalam keadaan melemahkan hadits Abu Rafi ini
: At-Tirmidzi telah meriwayatkan dengan sanad yang lemah dari Abu Rafi, ia berkata :Aku melihat
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam adzan dengan adzan shalat pada telinga Al-Husain bin Ali
ketika ia baru dilahirkan oleh ibunya Fathimah.

Berkata At-Timidzi : Hadits shahih (dan diamalkan).

Kemudian berkata Syaikh Al-Albani : Mungkin penguatan hadits Abu Rafi dengan adanya hadits
Ibnu Abbas. (Kemudian beliau menyebutkannya) Dikelurkan oleh Al-Baihaqi dalam Syuabul Iman.

Aku (yakni Al-Albani) katakan : Mudah-mudahan isnad hadits Ibnu Abbas ini lebih baik daipada
isnad hadits Al-Hasan (yang benar hadits Al-Husain yakni hadits yang ketiga pada kami, -penulis)
dari sisi hadits ini pantas sebagai syahid terhadap hadits Abu Rafi, wallahu alam. Maka jika
demikian hadits ini sebagai syahid untuk masalah adzan (pada telinga bayi) karena masalah ini yang
disebutkan dalam hadits Abu Rafi, adapaun iqamah maka hal ini gharib, wallahu aalam.

Kemudian Syaikh Al-Albani berkata dalam Al-Irwa (4/401) : Aku katakana hadits ini (hadits Abu Rafi)
juga telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas degan sanad yang lemah. Aku menyebutkannya seperti
syahid terhadap hadits ini ketika berbicara tentang hadits yang akan datang setelahnya dalam
Silsilah Al-Hadits Adl-Dlaifah no (321) dan aku berharap di sana ia dapat menjadi syahid untuk
hadits ini, wallahu aalam.

Syaikh Al-Albani kemudian dalam Adl-Dlaifah (cetakan Maktabah Al-Maarif) (1/494) no. 321
menyatakan : Aku katakan sekarang bahwa hadits Ibnu Abbas tidak pantas sebagai syahid karena
pada sanadnya ada rawi yang pendusta dan matruk. Maka Aku heran dengan Al-Baihaqi kemudian
Ibnul Qayyim kenapa keduanya merasa cukup atas pendlaifannya. Hingga hampir-hampir aku
memastikan pantasnya (hadits Ibnu Abbas) sebagai syahid. Aku memandang termasuk kewajiban
untuk memperingatkan hal tersebut dan takhrijnya akan disebutkan kemudian (61121) (selesai
ucapan Syaikh).

Sebagai akhir, kami telah menyebutkan masalah ini secara panjang lebar untuk anda wahai saudara
pembaca dan kami memuji Allah yang telah memberi petunjuk pada Syaikh Al-Albani kepada
kebenaran dan memberi ilham padanya. Maka dengan demikian wajib untuk memperingatkan para
penuntut ilmu dan orang-orang yang mengamalkan sunnah yang shahihah yang tsabit dari
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pada setiap tempat bahwa yang pegangan bagi hadits Abu
Rafi yang lemah adalah sebagaimana pada akhirnya penelitian Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dlaifah
berhenti padanya. Dan inilah yang ada di hadapan anda. Dan hadits ini tidaklah shahih seperti yang
sebelumnya beliau sebutkan dalam Shahih Sunan Tirmidzi dan Shahih Sunan Abu Daud serta
Irwaul Ghalil, wallahu alam.

Kemudian kami dapatkan syahid lain dalam Manaqib Imam Ali oleh Ali bin Muhammad Al-Jalabi
yang masyhur dengan Ibnul Maghazil, tapi ia juga tidak pantas sebagai syahid karena dalam
sanadnya ada rawi yang pendusta.

[Disalin dari kitab Ahkamul Maulud Fi Sunnatil Muthahharah edisi Indonesia Hukum Khusus Seputar
Anak Dalam Sunnah Yang Suci, hal 31-36 Pustaka Al-Haura]
Sumber: https://almanhaj.or.id/1553-apakah-disyariatkan-adzan-pada-telinga-bayi-yang-baru-
lahir.html