You are on page 1of 3

ANALIS GEMPA BUMI YOGYAKARTA TAHUN 2006

Kepulauan Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama, yaitu
lempeng Indo-Australia di bagian Selatan, lempeng Eurasia di bagian Utara, dan lempeng
Pasifik di bagian Timur sehingga letak geografis tersebut menyebabkan Indonesia
menjadi kawasan rawan terhadap bencana geologis. Seperti contonya kasus gempa bumi
di Yogyakarata pada tahun 2006 yang memuluhlantahkan daerah Bantul dan sekitarnya.
Hal ini karena berdasarkan peta lempeng di atas, dapat dilihat bahwa Pulau Jawa (Daerah
Istimewa Yogyakata, Bantul) terletak di atas lempeng indo-australia yang menjadi pusat
gempa dari gempa bumi.

Dari gambar di atas pusat gempa terjadi di dalam laut dengan kedalam 10 km,
yang merambat melalui sesar opak yang menuju ke utara sehingga pada derah yang
dilalui oleh sesar opak mengalami kerusakan yang cukup parah. Sesar Opak merupakan
sesar aktif yang memanjang di Sungai Opak dari pantai selatan ke utara Yogyakarta.
Daerah yang terkena dampak dari gempa bumi tektonik ini sekitar memanjang di
kecamatan Kretek, Bambanglipuro, Jetis, Imogiri, Pleret, Piyungan, Berbah, Kalasan, dan
Prambanan. Kerusakan akibat gempa memang berada di 9 (sembilan) kecamatan ini. Di
Kali Opak, minimal, ada empat tempuran (bertemunya dua buah sungai atau lebih), yaitu
tempuran Kali Winongo dan Opak di Kec. Kretek, Kali Code dan Opak di Kec Jetis, Kali
Gajah Uwong dan Opak di Kec. Pleret, serta tempuran Kali Gawe dan Opak di Kec.
Piyungan. Oleh karena itu, wilayah aliran Kali Winongo, Code, Gajah Uwong, dan Kali
Gawe terdapat kerusakan yang signifikan (berati), misalnya di Kec. Sewon, Bantul,
Kretek, dan Kec. Jetis Kab. Bantul. Namun jalur gempa menjalar hingga kearah timur
menuju sesar Dengkeng

Pada sesar dengkeng yang menyebabkan di Selatan Klaten, sekitar aliran Sungai
Dengkeng, ditemukan banyak rekahan tektonik dengan panjang ada yang menerus
sampai puluhan meter namun berarah barat-timur. Di salah satu lokasi, rekahan gempa ini
dengan tegas memotong sebuah tembok sumur dan menggesernya secara sinistral sebesar
25 cm.
Berdasarkan peta di atas bahwa kerusakan daerah Istimewa Yogyakarta yaitu terletak
pada daerah yang berdekatan dengan sungai. Kerusakan pada daerah bantaran sungai ini terjadi
karena di mana kekuatan dan kekakuan tanah berkurang dikarenakan gempa atau pergerakan
tanah lainnya. Hal ini merupakan suatu proses atau kejadian berubahnya sifat tanah dari keadaan
padat menjadi keadaan cair, yang disebabkan oleh tekanan pada waktu terjadi gempa. Tekanan
yang terjadi pada sesar opak maupun sesar dengkek membuat daerah sekitar terisi air sehingga
tekanan air pori (porewater) meningkat mendekati atau melampaui tegangan vertical, hal tersebut
yang disebut dengan likuifaksi. Likuifaksi terjadi di tanah jenuh, yaitu tanah di mana ruang
antara partikel individu benar-benar penuh dengan air. Air ini memberikan suatu tekanan pada
partikel tanah yang mempengaruhi seberapa erat partikel itu sendiri ditekan bersamaan. Sebelum
gempa, tekanan air relatif rendah. Namun, getaran gempa dapat menyebabkan tekanan air
meningkat ke titik di mana partikel tanah dengan mudah dapat bergerak terhadap satu sama lain.
Ketika likuifaksi terjadi kekuatan tanah menurun dan kemampuan deposit tanah untuk
mendukung pondasi untuk bangunan dan jembatan menjadi berkurang. Tanah yang mengalami
likuifaksi juga tekanannya lebih tinggi pada dinding penahan yang dapat menyebabkan struktur
tersebut menjadi miring atau geser. Sehingga hal tersebut menyebabkan kerusakan struktur pada
permukaan tanah. Likuifaksi terjadi pada tanah lunak (endapan rombakan gunung api muda,
endapan alluvial dan tanah urug) sehingga guncangan yang terjadi diperkuat karena tanah
tersebut memiliki efek mengembang.