You are on page 1of 11

VOLUME MOLAR GAS

1. Tujuan Percobaan
1. Menentukan volume realitve dari zat dalam wujud yang berbeda
2. Mempelajari cara penentuan tetapan gas dan volume molar gas
3. Mempelajari hukum Boyle, Avogadro, Charles dan Gay-Lussac

2. Landasan Teori
Benda-benda di bumi sangat banyak jenis dan jumlahnya. Contohnya air, oksigen
dan tanah merupakan benda-benda yang banyak tersedia di alam ini. Benda-benda di
alam raya ini dapat digolongkan menjadi tiga golongan, diantaranya :
a. Zat padat
Benda yang termasuk zat padat identik dengan bentuk dan volume yang
tetap.
Selain itu benda padat memiliki partikel dengan sifat-sifat yaitu, partikel-
partikel yang menempati posisi yang tetap, jika partikel zat padat menempati
posisi yang teratur disebut kristal, dan jika zat padat menempati posisi yang
tidak teratur, maka disebut amorf.
Gaya tarik-menarik antar partikel sangat kuat
Gerakan partikel hanya berupa getaran di sekitar posisi tetapnya. Karena
gaya tarik antar partikel pada zat padat sangat kuat maka bentuk zat padat
cenderung tetap bila tidak ada gaya atau reaksinya yang mempengaruhinya.
Contoh zat padat adalah batu, kayu, dan besi.
b. Zat cair
Gaya tarik antar partikel zat cair agak kuat artinya lebih lemah dibanding
dengan gaya tarik pada partikel zat padat. Agak lemahnya gaya tarik ini
mengakibatkan bentuk zat cair dapat berubah-ubah sesuai dengan tempatnya
(wadahnya). Sehingga dapat diketahui partikel-partikel zat cair sebagai berikut.
Jarak antar partikel tetap dan agak berjauhan
Gaya tarik menarik antar partikel lemah dibandingkan zat padat
Gerakan partikel lebih lincah dari pada zat padat dan partikel dapat berpindah
tempat Jarak antar partikel yang tetap menyebabkan zat cair mempunyai
volume yang tetap. Gerakan partikel yang lincah dan dapat berpindah posisi
menyebabkan zat cair dapat mengalir yang menyebabkan bentuk zat cair
selalu mengikuti bentuk wadahnya. Contoh zat cair antara lain adalah air, dan
air raksa.
c. Gas
Gas melakukan tekanan pada permukaan apapun ketika saling bersentuhan,
karena molekul-molekul gas senantiasa dalam keadaan bergerak. Atmosfer yang
mengelilingi bumi adalah campuran berbagai gas. Tekanan atmosfer adalah
tekanan yang diberikan oleh atmosfer bumi.
Diantara ketiga penggolongan benda, sifat gas lebih sederhana dibandingkan
wujud lainnya. Zat cair dan zat padat mempunyai sifat yang berlainan dengan gas
dimana zat cair dan zat padat tidak peka terhadap perubahan tekanan dan sedikit
sekali mempunyai kemampuan untuk mengisi tempat secara merata. Terdapat tempat
variabel penting yang mempengaruhi sifat-sifat fisis gas yakni suhu, tekanan, volume
dan jumlah gas
Gas melakukan tekanan pada permukaan apapun ketika saling bersentuhan,
karena molekul-molekul gas senantiasa dalam keadaan bergerak. Atmosfer yang
mengelilingi bumi adalah campuran berbagai gas. Tekanan atmosfer adalah tekanan
yang diberikan oleh atmosfer bumi. Partikel-partikel zat gas memiliki sifat sebagai
berikut :
a. Memiliki jarak partikel yang berubah ubah
b. Hampir tidak ada gaya tarik-menarik
c. Gerakan partikel sangat bebas dibandingkan zat padat dan cair
Gas dapat dimanfaatkan dalam tempat tertutup, tetapi jika dimasukkan kedalam
tempat yang lebih besar dari volume semula, gas dapat mengisi tempat itu secara
merata. Dimana gas mempunyai sifat-sifat khusus antara lain :
a. Peka terhadap perubahan temperatur
b. Peka terhadap perubahan tekanan
Selain hal tersebut gas mempunyai sifat-sifat fisis yang khas yaitu :
a. Gas mempunyai volume dan bentuk menyerupai wadahnya
b. Gas merupakan wujud materi yang paling mudah dimampatkan
c. Gas-gas akan segera bercampur secara merata dan sempurna jika
ditempatkan dalam wadah yang sama.
d. Gas memiliki kerapatan yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan cairan
dan padatan.
Gas ideal sebenarnya tidak ada, jadi hanya merupakan gas hipotesis. Semua gas
sebenarnya tidak nyata. Pada gas ideal dianggap, bahwa molekul tidak tarik-menarik
dan volume molekulnya dapat diabaikan terhadap volume gas itu sendiri atau ruang
yang ditempati. Sifat ideal ini hanya didekati oleh gas beratom satu pada tekanan
rendah dan pada temperatur yang relatif tinggi. Bila digunakan harga STP (1 atm 0C
atau 273 K) dan kita ambil 1 mol gas, maka volume gasnya dapat diukur yang kita
sebut volume molar pada STP, karena merupakan volume dari 1 mol gas pada tekanan
1 atm dan 0oC. Bila kita lakukan hal ini untuk berbagai gas terlihat harganya berbeda-
beda karena memang gas nyata bukan gas ideal. Dari berbagai pengukuran volume
rata-rata ditempat oleh satu mol gas pada STP = 24 L. Maka harganya ini diambil
untuk volume molar dari gas ideal dengan menggunakan harga-harga tersebut, dapat
dihitung dengan R.
Tekanan atmosfer gas adalah tekanan yang diberikan oleh atmosfer bumi. Volume
molar gas menyatakan volume 1 mol gas pada suhu dan tekanan tertentu. Jika
pengukuran dilakukan pada suhu 0oC dan tekanan 1 atm, volume molar gas disebut
sebagai volume molar standar. Hal itu disebabkan keadaan suhu 0 oC dan tekanan 1
atm merupakan keadaan standar gas dan disingkat STP (Standard Temperature and
Pressure). Nilai tekanan atmosfer sesungguhnya tergantung pada letak, suhu, dan
kondisi cuaca. Tekanan atmosfer diukur menggunakan Barometer. Barometer
sederhana terdiri dari tabung kaca panjang, yang salah satu ujungnya tertutup dan pipa
diisi dengan merkuri, sehingga tidak ada udara yang memasuki tabung, maka
sebagian merkuri dari tabung akan mengalir keluar memasuki cawan, menimbulkan
ruang hampa di bagian atas tabung yang tertutup. Tekanan atmosfer standar (1 atm)
sama dengan tekanan yang menopang kolom merkuri tepatnya setinggi 760 mm (76
cm) pada permukaan laut pada suhu 0oC. Dengan kata lain, atmosfer standar sama
dengan tekanan 760 mmHg, jika mmHg menyatakan tekanan yang diberikan oleh
kolom merkuri setinggi 1 mm. Satuan mmHg juga disebut torr, yang berasal dari
ilmuwan Italia bernama Evangelista Torricelli, yang menemukan barometer. Maka :
1 torr = 1 mmHg
1 atm = 760 mmHg
Hubungan antara atmosfer dan pascal :
1 atm = 101.325 Pa = 1,01325 x 10 5 Pa , karena 1000 Pa = 1 kPa (kilopascal), 1
atm = 1,01325 x 102 kPa
Untuk gas ideal berlaku persamaan sebagai berikut : P.V = n.R.T
Dimana:
P = tekanan gas (atmosfir)
V = volume gas (liter)
n = mol gas
R = tetapan gas universal = 0.082 lt.atm/mol
T = suhu mutlak (Kelvin)
Perubahan-perubahan dari P, V dan T dari keadaan 1 ke keadaan 2 dengan
kondisi-kondisi tertentu dicerminkan dengan hukum-hukum berikut :
A. Hukum Gay Lussac
Gay Lussac adalah seorang ilmuwan asal Perancis, meneliti hubungan antara
tekanan gas (P) dan temperature (T) gas pada volume tetap. Apabila botol dalam
keadaan tertutup dimasukkan ke api, maka botol tersebut akan meledak. Hal ini terjadi
karena naiknya tekanan gas didalamnya akibat kenaikan suhu. Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa Apabila volume gas yang berada pada ruang tertutup dijaga
konstan, maka tekanan gas berbanding lurus dengan suhu mutlaknya. Pernyataan
tersebut dikenal dengan Hukum Gay Lussac. Secara matematis dapat ditulis :
P
T = Konstan
P1 P 2
T1 = T 2
Keterangan :
P1 = Tekanan gas pada keadaan 1 (N/m2)
P2 = Tekanan gas pada keadaan 2 (N/m2)
T1 = Suhu mutlak gas pada keadaan 1 (K)
T2 = Suhu mutlak gas pada keadaan 2 (K)
B. Hukum Boyle
Boyle memperhatikan bahwa, jika suhu dijaga konstan, volume (V) dari sejumlah
tertentu gas menurun, sejalan dengan kenaikan tekanan totalnya (P), yaitu tekanan
atmosfir ditambah dengan tekanan yang disebabkan oleh penambahan merkuri.
Hukum Boyle berbunyi Tekanan dari sejumlah tetap suatu gas pada suhu yang dijaga
konstan adalah berbanding terbalik dengan volumenya.
Hukum ini diturunkan dari persamaan keadaan gas ideal dengan
n1 = n2 dan T1 = T2 , sehingga diperoleh :
P1 . V1 = P2 . V2
C. Hukum Charles
Hubungan antara volume gas dan suhu ditemukan oleh fisikawan Perancis
Jacques Charles pada tahun 1787 dan secara terpisah oleh Joseph Louis Gay Lussac
yang empublikasikannya pada tahun 1802. Hukum Charles dapat dinyatakan dengan
Volume dari sejumlah gas pada tekanan konstan adalah berbanding lurus dengan
suhu Kelvin (mutlak). Secara matematis dapat ditulis :
V
T =k
Keterangan :
V = Volume (m3)
T = Suhu mutlak (K)
k = konstanta
Hukum Charles dapat juga ditulis dengan :
V1 V 2
T1 = T 2
Keterangan :
V1 = Volume awal
V2 = Volume akhir
T1 = Suhu awal
T2 = Suhu akhir
D. Hukum Avogadro
Hukum Avogadro (Hipotes Avogadro, atau Prinsip Avogadro) adalah hukum gas
yang diberi nama sesuai dengan ilmuwan Italia Amedeo Avogadro, yang pada 1811
mengajukan hipotesis bahwa Gas-gas yang memiliki volum yang sama, pada
temperatur dan tekanan yang sama, memiliki jumlah partikel yang sama pula.
Artinya, jumlah molekul atau atom dalam suatu volum gas tidak tergantung
kepada ukuran atau massa dari molekul gas. Sebagai contoh, 1 liter gas hidrogen dan
nitrogen akan mengandung jumlah molekul yang sama, selama suhu dan tekanannya
sama. Aspek ini dapat dinyatakan secara matematis :
P.V = n. R. T
Keterangan :
P = tekanan total (atm)
V= Volume (L)
n = mol gas (mol)
R = konstanta (0,082 L.atm/K.mol)
T = temperatur (K)
Akibat paling penting dari hukum Avogadro adalah bahwa Konstanta gas ideal
memiliki nilai yang sama bagi semua gas memiliki nilai yang sama untuk semua gas,
tidak tergantung pada ukuran atau massa molekul gas. Hipotesis Avogadro dibuktikan
melalui teori kinetika gas.
Satu mol gas ideal memiliki volum 22.4 liter pada kondisi standar (STP), dan
angka ini sering disebut volum molar gas ideal. Gas-gas nyata (non-ideal) memiliki
nilai yang berbeda.
p1.V 1 p 2.V 2
T 1.n1 = T 2.n2 = konstanta
Keterangan :
P adalah tekanan gas
V adalah volume gas
E. Persamaan Gas Ideal
Persamaan gas ideal menerangkan hubungan antara keempat variabel P,V,T, dan
n. Gas Ideal adalah gas hipotetis yang perilaku tekanan, volume, suhunya dapat
dijelaskan secara lengkap melalui persamaan gas ideal. Dari hukum-hukum gas yaitu
Hukum Boyle, Hukum Charles, dan hukum Avogadro tersebut dinyatakan bahwa pada
temperatur dan tekanan yang sama setiap 1 mol gas akan mempunyai volume yang
sama. Artinya jika mol dipakai dalam satuan kuantitas gas, maka 1 mol setiap gas
akan mempunyai persamaan :
P.V=R.T
Jadi, V sebanding dengan T dan n, dan berbanding terbalik pada P. Hubungan
ini dapat digabungkan menjadi satu persamaan :
P.V = n.R.T
R adalah tetapan baru. Dimana nilai dari R = 8,3145 J mol-1 K-1

3. Alat dan Bahan


A. Alat :
Gelas ukur
Ember
Neraca analitik
Thermometer
Barometer
B. Bahan :
Air
Butana cair (korek api yang bahan bakarnya dari butana)

4. Cara Kerja
Korek api yang bahan bakarnya butana dan dindingnya tembus cahaya
disiapkan dan ditimbang lalu diperkirakan volume dari cairan butana dalam
korek api tersebut. Lalu, gelas ukur yang berisi penuh air diletakkan terbalik di
atas ember yang berisi air. Gelas ukur tersebut berfungsi sebagai alat
penampung gas. Selain itu, disiapkan pula 2 gelas ukur lain yang penuh air.
Klep dari korek api dibuka dan diletakkan di bawah alat penampung gas
sehingga gas yang dibebaskan tertampung. Alat penampung ditandai dan
dicatat bila telah penuh kemudian diganti dengan alat penampung yang lain.
Lalu, dilanjutkan mengumpulkan gas yang dibebaskan sampai korek api
tersebut hampir kosong. Setelah itu, klep dari korek api tersebut ditutup.
Semua gas butana yang dikumpulkan dicatat. Lalu, korek api tersebut
ditimbang dan diperkirakan volume dari cairan butana yang berubah menjadi
gas. Selanjutnya perbandingan dari volume gas butana dengan volume cairan
butana yang massanya sama dihitung.

5. Data Pengamatan
No Identifikasi Keterangan
1 Volume cairan butana 4 ml
2 Massa awal korek api (m1) 17,43 gram
3 Volume gas butana 1115 ml
4 Tekanan (P) 1 atm
5 Suhu (T) 27 oC
6 Tetapan (R) 0,082 liter. atm/mol.K
7 Massa korek api kosong 15,02 gram
(m2)

Massa butana yang digunakan = m1 - m2


= 17,43 gram - 15,02 gram
= 2,41 gram
6. Perhitungan
Mr Butana (C4H10) = Ar (C) . 4 + Ar (H) . 10 = (12.4) + (1.10) = 48 + 10 = 58
gram/mol
Tetapi melalui perhitungan hasil percobaan ini diperoleh Mr butana sebesar 53,17
gram/mol dengan perhitungan sebagai berikut :
Diketahui :
Volume gas butana = V = 1115 mL = 1,115 L
Massa gas butana = m = 2,41 gr
Suhu = T = 27oC = 300 K
Tekanan = P = 1 atm
Konstanta molar gas = R = 0,082 L.atm/K.mol
Ditanya :
Mr butana (C4H10) = ?
Jawab :
P . V = n. R. T
m
P . V = Mr x R x T
2,41
1 . 1,115 = Mr x 0,082 x 300
1,115 Mr = 59,286
59,286
Mr = 1,115 = 53,17 gram/mol
Perbandingan volume cair butana dengan volume gas butana :
butana = 600 kg/m3
= 0,6 gr/ml
massa
= V
17,43 - 15,02
0,6 = V
17,43 - 15,02
V= 0,6 = 4,017 ml = 4 ml
Perbandingan :
Volume cair butana : Volume gas butana
4 mL : 1115 mL
7. Pembahasan
Praktikum kali ini bertujuan untuk menentukan volume relatif dari zat dalam
wujud yang berbeda. Digunakan butana cair yang diperoleh dari korek gas yang
bahan bakarnya dari butana. Wujud dari butana yang digunakan adalah wujud cair,
berwarna bening dan biasanya digunakan untuk bahan bakar. Di antaranya pengisian
tabung gas LPG dan pengisian korek gas.
Dalam praktikum ini digunakan korek api dari bahan butana berwujud cair.
Setelah percobaan dalam praktikum ini dilakukan, diperoleh data pengamatan berupa
massa awal korek api seberat 17,43 gram dan massa akhir seberat 15,02 gram,
perkiraan volume awal butana dalam korek api sebanyak 4 ml serta tidak menyisakan
volume akhir. Kemudian saat pengukuran volume gas dalam gelas ukur, didapatkan
volume gas mencapai 1115 ml saat cairan butana dalam korek api habis. Sehingga
dapat dihitung volume cairan butana dengan cara volume awal butana dikurangi
volume akhir butana sebanyak 4 ml. Begitupula dengan massa butana yang digunakan
dapat dihitung dengan menghitung selisih massa korek api awal dikurangi massa
korek api akhir yaitu 2,41 gram. Dari hasil data percobaan tersebut, dapat diperoleh
perbandingan dari volume cairan butana dengan volume gas butana yang massanya
sama yaitu 4 ml berbanding 1115 ml atau disederhanakan menjadi 1 ml berbanding
278,75 ml. Data ini kemudian dihitung menggunakan hukum avogrado yaitu pada
tekanan dan suhu konstan, volume suatu gas berbanding langsung dengan jumlah mol
gas yang ada. Sehingga didapatkan massa 1 mol gas butana atau massa molekul relatif
(Mr) pada percobaan ini sebesar 53,17 gr/mol. Tetapi menurut literatur, butana dengan
rumus kimia C4H10 ini memiliki massa molekul relatif sebesar 58 gram dengan
perhitungan empat dikali massa atom karbon sebesar 12 ditambah sepuluh dikali satu
yang merupakan massa atom hidrogen. Sehingga diperoleh massa molekul relatifnya
yaitu 58 gram/mol. Sehingga diperoleh bahwa massa molekul relatif butana dalam
percobaan tidak sama dengan massa molekul relatif butana pada literatur. Perbedaan
ini dapat disebabkan karena ketidaktelitian melihat hasil pengukuran saat menimbang
massa korek api awal maupun akhir. Dapat juga disebabkan karena tidak teliti dalam
memperkirakan volume awal butana dalam korek api. Selain itu, gas dan suhu juga
sangat mempengaruhi keadaan suatu gas. Gas butana yang digunakan ini berasal dari
korek api yang bebas dibeli di toko, sehingga kemurnian gas ini tidak dapat
dipertanggungjawabkan. Selain itu pula, suhu ruangan jelas berbeda dengan suhu saat
keadaan gas tersebut ada dalam keadaan bebas di udara. Semua itu dapat menjadi
faktor ketidaksesuaian massa molekul relatif gas butana dalam percobaan dengan
literatur.

8. Kesimpulan
a. Kerapatan molekul gas sangat kecil sehingga volumenya mudah berubah-
ubah sesuai dengan tempatnya.
b. Persamaan gas ideal : P.V = n.R.T
c. Dari hasil perhitungan percobaan ini diperoleh massa 1 mol gas butana
adalah 53,17 gr/mol sedangkan menurut literatur adalah 58 gr/mol. Terdapat
ketidaksesuaian dalam percobaan ini disebabkan oleh beberapa hal, antara
lain :
Ketidaktelitian dalam pengukuran massa korek api awal dan akhir.
Ketidaktelitian dalam memperkirakan volume cairan butana yang
digunakan.
Ketidakmurnian gas butana yang digunakan.
Selain itu, gas dan suhu juga sangat mempengaruhi keadaan suatu gas.
Keadaan gas yang diukur dalam suhu ruangan tentu jelas berbeda dengan
suhu saat keadaan gas tersebut ada dalam keadaan bebas diudara.
DAFTAR PUSTAKA

Staf Kimia Dasar.2016.Penuntun Praktikum Kimia Dasar I. Jurusan Kimia FMIPA,


Universitas Udayana : Bukit Jimbaran, Bali.

Oxtoby,David W,H,P,dkk.2001. Prinsip-Prinsip Kimia Modern Edisi Ke-4 Jilid 1.


Jakarta : Erlangga

Wahyu, rizki. 2015. Laporan Volume Molar Gas.


http://documents.mx/documents/laporan-volume-molar-gas.html. (Diakses pada
tanggal 7-11-2016).