You are on page 1of 9

Muthiah Ramadhina (5)

04121401050

ANALISIS MASALAH I

1. Bagaimana perkembangan anak normal sampai usia 24 bulan?

2. Etiologi:
d. Senang bermain bola tetapi tidak suka bermain dengan anak lain

i. Tidak mau bermain dengan anak lain


Terdapat kelainan interaksi sosial pada pasien ini. Berarti telah
terdapat paling tidak dua gejala kelainan interaksi sosial yang
diperlukan dalam penegakkan diagnosis autisme. Gangguan
nueronal yang mungkin mengakibatkan kelainan interaksi sosial
adalah adanya disfungsi dari lobus frontalis atau penurunan
reseptor gamma-aminobutyric acid-B (GABAB) di korteks girus
cingulatus yang berperan dalam hubungan sosial, emosi, dan
kognisi atau girus fusiformis yang berperan penting dalam
pengevaluasian bentuk muka dan ekspresi muka. Selain itu dapat
pula terjadi gangguan metabolisme di otak seperti disfungsi
serotonin, neuropeptida oksitosin, atau kelainan neurotransmiter
lain seperti asetilkolin dan glutamat
Terdapat pada
Asperger disorder
ADHD
Autisme
Mental retardasi

m. Tidak melihat ke benda yang ditunjuk


Tidak dapat melihat benda yang ditunjuk dan menunjukan benda
yang ditanyakan merupakan bagian dari gangguan interaksi sosial.
Hal ini dapat disebabkan oleh gangguan pada system mirror. Sistem
ini berasal dari bagian korteks prefrontal (korteks premotorik),
korteks motorik primer, dan korteks sensori primer.

ANALISIS MASALAH II

1. Bagaimana keterkaitan antara riwayat kehamilan ibu dengan keluhan


yang dialami:
a. Usia

ANALISIS MASALAH III

1. Bagaimana interpretasi dari pemeriksaan fisik:


d. Tidak ada gambaran dismorfik

2. Bagaimana interpretasi dari hasil pengamatan:


e. Tidak ada gerakan aneh yang diulang-ulang
i. Tidak bisa bermain pura-pura
Interpretasi : gangguan komunikasi dalam hal permainan
imajinatif/khayalan

m. Tes pendengaran normal


Menyingkirkan diagnosis banding berupa gangguan pendengaran.

TEMPLATE

Faktor Resiko

- Riwayat keluarga autistic

faktor genetik berperan penting dalam autisme. Jika suatu keluarga memiliki
anak autisme. Jika suatu keluarga memiliki anak autisme, maka kemungkinan
memiliki anak dengan autisme lagi adalah 3-8%. Sedangkan jika salah 1 anak
kembar menderita autisme, kemungkinan kembarannya juga menderita autisme
adalah 30%. Abnormalitas kromosom DNA dan masalah pada susunan saraf
ditemukan pada sebagian besar anak autisme.

- Usia orang tua

Sebuah studi lain menemukan kaitan antara usia orangtua dengan resiko
autisme. Jika salah satu orangtua dengan resiko autisme. Jika salah satu orang
tua berusia 35-39 tahun, faktor resiko terjadinya autisme sebesar 27%.
Sedangkan jika ibu yang berusia 35-40 tahun, resikonya meningkat 65%
dibandingkan jika ayahnya yang berusia itu yang hanya sebesar 44%.

- Kesehatan ibu selama mengandung

Pada beberapa anak, autisme juga dihubungkan dengan penyakit sebelumnya.


Misalnya ibu terkena infeksi rubella, toksoplasmosis atau sitomegalovirus selama
kehamilan, adanya kelainan bawaan sejak lahir, adanya kelainan bawaan sejak
lahir (tuberous sclerosis, kelainan saraf, dll), infeksi pada anak setelah lahir
seperti ensefalopati, meningitis bakterialis dll.

Patogenesis
Prognosis

Dubia ad bonam. Dengan terapi yang baik, penderita autis akan menunjukkan
perbaikan. Akan tetapi, sejauh ini penderita autis tidak bisa sembuh secara total,
namun dapat diminimalisir sehingga anak mampu tumbuh dalam hidup dan
perkembangan yang normal. 2-15% pasien yang mendapatkan peningkatan
fungsi kognitif dan adaptive yang baik. Anak-anak autistik dengan IQ > 70 dan
mereka yang menggunakan bahasa komunikatif pada usia 5-7 tahun memiliki
prognosis yang terbaik, prognosis membaik jika lingkungan atau rumah adalah
suportif dan mampu memenuhi kebutuhan anak tersebut yang sangat banyak.

LI

Autisme

Definisi
Autis berasal dari kata autos yang artinya segala sesuatu yang mengarah pada diri
sendiri. Dalam Kamus Lengkap Psikologi, autisme didefinisikan sebagai (1) cara berpikir
yang dikendalikan oleh kebutuhan personal atau oleh diri sendiri, (2) menanggapi dunia
berdasarkan penglihatan dan harapan sendiri, menolak realitas, dan (3) keasyikan ekstrim
dengan pikiran dan fantasi sendiri .
Dalam DSM IV autistic disorder adalah adanya gangguan atau abnormalitas
perkembangan pada interaksi social dan komunikasi serta ditandai dengan terbatasnya
aktifitas dan ketertarikan. Munculnya gangguan ini sangat tergantung pada tahap
perkembangan dan usia kronologis individu. Autistic disorder kadang-kadang dianggap
early infantile autism, childhood autism, atau Kanners autism.
Perilaku autistic digolongkan dalam dua jenis, yaitu perilaku yang eksesif
(berlebihan) dan perilaku yang deficit (berkekurangan). Yang termasuk perilaku eksesif
adalah hiperaktif dan tantrum (mengamuk) berupa menjerit, menggigit, mencakar,
memukul, dsb. Di sini juga sering terjadi anak menyakiti dirinya sendiri (self-abused).
Perilaku deficit ditandai dengan gangguan bicara, perilaku social kurang sesuai, deficit
sensori sehingga dikira tuli, bermain tidak benar dan emosi yang tidak tepat, misalnya
tertawa-tawa tanpa sebab, menangis tanpa seba, dan melamun.
Prevalensi nya adalah 5 : 10.000 dengan perbandingan antara anak laki-laki dan
perempuan adalah 4 : 1. Jadi anak laki-laki memiliki kemungkinan mengidap autisme
lebih esar disbanding anak perempuan.
Karakteristik
Menurut kriteria diagnostic dalam DSM IV karakteristik penderita adalah:
A. Harus ada sedikitnya 6 gejala dari (1), (2), dan (3), dengan minimal 2 gejala dari (1)
dan masing-masing 1 gejala dari (2) dan (3).
(1) Gangguan kualitatif dalam interaksi social yang timbal balik.
a. Tak mampu menjalin interaksi social yang cukup memadai : kontak mata
sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak-gerik yang kurang tertuju
b. Tak bisa bermain dengan teman sebaya
c. Tak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain
d. Kurangnya hubungan social dan emosional yang timbal balik
(2) Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi
a. Bicara terlambat atau bahkan sama sekali tak berkembang (dan tidak ada
usaha untuk mengimbangi komunikasi dengan cara lain tanpa bicara)
b. Bila bisa bicara, bicara tidak dipakai untuk komunikasi
c. Sering menggunakan bahasa aneh yang diulang-ulang
d. Cara bermain kurang variatif,kurang imajinatif, dan kurang isa meniru
(3) Suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dari perilaku, minat, dan kegiatan.
a. Mempertahankan satu minat atau lebih, dengan cara yang sangat khas dan
berlebih-lebihan
b. Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistic atau rutinitas yang tak ada
gunanya
c. Ada gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang
d. Seringkali terpukau pada bagian-bagian benda
B. Sebelum umur 3 tahun tampak adanya keterlambatan atau gangguan dalam bidang:
a. Interaksi social
b. Bicara dan berbahasa
c. Cara bermain yang kurang variatif
C. Bukan disebabkan oleh Sindroma Rett atau Gangguan Disintegrasi Masa Kanak

Penyebab
Menurut Bruno Bettelheim, dengan pendekatan Psikoanalisis dia berpendapat bahwa
ketika seorang anak berhadapan dengan sebuah dunia yang tidak responsive yaitu yang
merusak dan menyebabkan frustrasi, anak akan menarik diri darinya dan dari orang lain .
Tapi pendapat ini tidak banyak memberikan bukti ilmiah yang dibutuhkan untuk
mendukung teori tersebut.
Melalui pendekatan behaviorisme, Ferster mengemukakan pendapat bahwa
dikarenakan ketidakpedulian orang tua, khususnya ibu, menghentikan pembangunan
hubungan yang menjadi reinforcerment bagi manusia untuk bersosialisasi .
Akan tetapi autisme tampaknya tidak disebabkan oleh tigkah laku orang tua yang
dingin, tidak peduli, maupun perilaku patologis lainnya. Menurut sebuah penelitian yang
dilakukan oleh David Hansen dan Irving Gottesman dapat disimpulkan bahwa tidak ada
bukti kuat yang menunjukkan bahwa factor genetic tidak sepenuhnya berperan dalam
perkembangan autisme .Memang ditemukan kelainan kromosom pada anak autis, namun
kelainan itu tidak selalu pada kromosom yang sama .
Diyakini bahwa gangguan tersebut terjadi pada fase pembentukan organ-organ
(organogenesis) yaitu pada usia kehamilan antara 0-4 bulan. Organ otak sendiri baru
terbentuk pada usia kehamilan setelah 15 minggu. Pada kehamilan trisemester pertama
yaitu 0-4 bulan factor pemicu autisme biasanya terdiri dari infeksi toxoplasma, rubella,
candida, logam berat (Pb, Al, Hg, Cd), zat aditif (MSG, pengawet, pewarna), obat-obatan,
jamu peluntur, muntah-muntah yang hebat (hiperemesis), pendarahan berat, dll .
Pada sebuah studi, subjek autisme menunjukkan pengurangan aktifitas otak, otak
penderita autisme sedikit lebih lebar dan berat daripada orang normal, dan syaraf-
syarafnya dideskripsikan sebagai tidak berkembang dengan matang (Kendall, h. 514,
1998).
Dari penelitian yang dilakukan para pakar dari banyak Negara ditemukan beerapa
fakta yaitu adanya kelainan anatomis pada lobus patietalis cerebellum dan system
limbiknya. 43 % penyandang autisme mempunyai kelainan pada lobus parietalis otaknya
yang menyebabkan anak tidak peduli dengan lingkungannya. Kelainan juga ditemukan
pada otak kecil yang berfungsi pada proses sensoris, daya ingat, berfikir, belajar
berbahasa, dan proses atensi yaitu pada lobus ke VI dan VII
Sel purkinye juga sangat sedikit sehingga terjadi gangguan keseimbangan serotonin
dan dopamine yang mengakiatkan terjadinya gangguan penghantaran impuls di otak.
Selain itu ditemukan kelainan yang khas di dalam system limbic yang disebut
hipokampus dan amigdala yang mengakibatkan gangguan fungsi control terhadap agresi
dan emosi .
Hipokampus berpengaruh pada fungsi belajar dan daya ingat sehingga bila
hipokampus terganggu maka terjadi kesulitan menyimpan informasi baru. Perilaku yang
berulang-ulang, aneh dan hiperaktif juga disebabkan gangguan hipokampus .
Treatment
Dahulu dikatakan autisme merupakan kelainan seumur hidup, tetapi kini autisme
masa kanak-kanak dapat dikoreksi. Tatalaksana koreksi harus dilakukan pada usia sedini
mungkin. Dengan beberapa metode yang pernah dicoba, 47 % penderita autisme murni
dapat menjadi normal. Berikut beberapa jenis terapi:
1) Applied Behavioral Analysis (ABA)
ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai , telah dilakukan penelitian dan
didisain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi
pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian).
Jenis terapi ini bias diukur kemajuannya . Saat ini terapi inilah yang paling banyak
dipakai di Indonesia.
2) Terapi Wicara
Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan
berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistic yang
non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang. Kadang-kadang bicaranya cukup
berkembang, namun mereka tidak mampu untuk memakai bicaranya untuk
berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain. Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa
akan sangat menolong.
3) Terapi Okupasi
Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik
halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan
cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya,
dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih
mempergunakan otot-otot halusnya dengan benar.
4) Terapi Fisik
Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak diantara individu
autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam motorik kasarnya. Kadang-kadang
tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang
bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk
menguatkan otot-ototnya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya.
5) Terapi Sosial
Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme adalah dalam bidang
komunikasi dan interaksi . Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan dalam
keterampilan berkomunikasi dua arah, membuat teman dan main bersama ditempat
bermain. Seorang terapis sosial membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka
untuk bergaul dengan teman-teman sebaya dan mengajari cara-caranya.
6) Terapi Bermain
Meskipun terdengarnya aneh, seorang anak autistik membutuhkan pertolongan dalam
belajar bermain. Bermain dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi
dan interaksi social. Seorang terapis bermain bisa membantu anak dalam hal ini dengan
teknik-teknik tertentu.
7) Terapi Perilaku.
Anak autistik seringkali merasa frustrasi. Teman-temannya seringkali tidak
memahami mereka, mereka merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya, Mereka banyak
yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan sentuhan. Tak heran bila mereka sering
mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku
negatif tersebut dan mencari solusinya dengan merekomendasikan perubahan lingkungan
dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki perilakunya.
8) Terapi Perkembangan
Floortime, Son-rise dan RDI (Relationship Developmental Intervention) dianggap
sebagai terapi perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya, kekuatannya dan tingkat
perkembangannya, kemudian ditingkatkan kemampuan sosial, emosional dan
intelektualnya. Terapi perkembangan berbeda dengan terapi perilaku seperti ABA yang
lebih mengajarkan ketrampilan yang lebih spesifik.
9) Terapi Visual
Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners/visual thinkers).
Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar komunikasi
melalui gambar-gambar, misalnya dengan metode PECS ( Picture Exchange
Communication System). Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan
ketrampilan komunikasi.
10) Terapi Biomedik
Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam DAN!
(Defeat Autism Now). Banyak dari para perintisnya mempunyai anak autistik. Mereka
sangat gigih melakukan riset dan menemukan bahwa gejala-gejala anak ini diperparah
oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak.
Oleh karena itu anak-anak ini diperiksa secara intensif, pemeriksaan, darah, urin, feses,
dan rambut. Semua hal abnormal yang ditemukan dibereskan, sehingga otak menjadi
bersih dari gangguan. Terrnyata lebih banyak anak mengalami kemajuan bila
mendapatkan terapi yang komprehensif, yaitu terapi dari luar dan dari dalam tubuh
sendiri (biomedis).
Terapi medikamentosa
Obat hanyalah terapi pendamping, bukan yang utama. Perlu dinyatakan bahwa belum
ada obat yang dapat menyembuhkan autisme. Obat dibutuhkan hanya untuk membantu
mengatasi masalah-masalah yang timbul yang tidak dapat diatasi dengan metoda non obat,
seperti hiperaktivitas, agresivitas, menyakiti diri dan insomnia. Atau bila metoda intervensi
non obat dikombinasikan dengan obat, diharapkan intervensinya dapat maksimal. 7 Obat-obat
yang sering dipakai adalah:
Stimulan
Inatensi mungkin merupakan satu gejala yang mengganggu proses belajar. Harus
dibedakan antara inatensi yang merupakan bagian dari gejala autisme dengan inatensi
sebagai gejala gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD).
Deksamfetamin dan Levoamfetamin.
Metilfenidat.
Dapat meningkatkan atensi dan mengurangi distraktibilitas. Dosis: 0,3 mg/kg.
Spesifik serotonin reuptake inhibitor (ssri)
SSRI digunakan untuk mengatasi perilaku stereotipik seperti perilaku yang melukai
diri sendiri, resisten terhadap perubahan hal-hal rutin, ritual obsesif dengan anxietas
yang tinggi. Pemberian SSRI dimulai dari dosis terkecil dan secara bertahap
dinaikkan sampai mencapai dosis terapeutik.
Fluoxetine.
Fluvoksamin.
Neuroleptik
Neuroleptik tipikal potensi rendah (Thioridazine).
Dapat menurunkan agreivitas dan agitasi. Dosis: 0,5-3 mh/kg/hari, dibagi dalam 2-3
kali/hari.
Neuroleptik tipikal potensi tinggi (Haloperidol dan Pimozide).
Dalam dosis kecil: 0,25-3 mg/hari, dapat menurunkan agresivitas, hiperaktivitas,
iritabilitas dan stereotipik.
Neuroleptik atipikal (Risperidon).
Bila digunakan dalam dosis yang direkomendasikan: 0,5-3 mg/hari dibagi dalam 2-3
kali/hari, dapat dinaikkan 0,25 mg setiap 3-5 hari sampai dosis inisial tercapai 1-2
mg/hari dalam 4-6 minggu, akan tampak perbaikan pada hubungan sosial, atensi dan
gejala obsesif.