You are on page 1of 5

Infeksi Hookworm

1. Definisi
Infeksi cacing tambang (hookworm) pada manusia yang disebabkan oleh
Necator americanus (nekatoriasis) dan Ancylostoma duodenale (ancylostomiasis),
dimana keduanya merupakan soil transmitted helminth.
2. Epidemiologi
Infeksi cacing tambang merupakan salah satu penyakit yang sering ditemukan
terutama di wilayah Asia dan diikuti oleh Afrika. Necator americanus lebih sering
ditemukan dibangdingkan Ancylostoma duodenale.
Prevalensi cacing tambang akan meningkat pada daerah perkebunan. Menurut
penelitian dan studi epidemilogi menunjukkan angka infeksi pada perkebunan di
Sukabumi Jawa Barat (93,1%) dan Kebun Kopi Jawa Timur (80,69%). Prevalensi
cacing tambang juga akan meningkat sejalan dengan bertambahnya umur.
3. Etiologi
Disebabkan oleh nematoda usus, STH, spesies hookworm yang paling sering
menginfeksi adalah Ancylostmia duodenale (ancylostomiasis) dan Necator
americanus (necatoriasis).
4. Daur hidup dan Patogenesis
Cacing dewasa hidup di lumen usus halus dengan menempel di dinding usus.
Cacing yang paling dewasa akan mati hingga 1-2 tahun. Cacing dewasa akan bertelur
dan telurnya akan terbawa aliran usus karena terbawa gerak peristaltik usus yang
akhirnya keluar bersama feces. Telur yang ikut keluar bersama feces, jika berada di
lingkungan yang sesuai akan menetas menjadi larva dalam 1-2 hari, yaitu larva
rhabditiform. Kemudian setelah 5-10 hari akan berubah menjadi larva filariform yang
merupakan stadium infektif dari hookworm. Larva infektif ini dapat bertahan 3-4
minggu dalam kondisi lingkungan yang menguntungkan. Ketika kontak dengan
manusia, larva melakukan penetrasi kulit manusia, biasanya pada kaki manusia yang
tidak menggunakan alas kaki.
Kemudian dibawa melalui pembuluh darah ke jantung dan paru-paru.
Kemudian menembus alveoli paru-paru, naik ke cabang bronchial ke faring, dan
kemudian tertelan. Setelah itu larva akan mencapai usus halus dimana ia tinggal dan
berkembang biak karena mencapai fase dewasa.
Gambar 1. Daur Hidup Hookworm

Gambar 2. Patogenesis Hookworm

5. Patofisiologi
Ketika larva filariform melakukan penetrasi ke kulit kaki manusia akan
menyebabkan timbulnya ruam yang menonjol dan terasa gatal (ground itch). Demam,
batuk, dan bunyi nafas wheezing biasa terjadi ketika perpindahan larva melalui paru-
paru. Cacing dewasa seringkali menyebabkan nyeri perut bagian atas. Anemia
defisiensi zat besi dan rendahnya kadar protein di dalam darah bisa terjadi akibat
perdarahan usus. Hal ini disebabkan karena cacing menancapkan dirinya dengan kait
di lumen usus halus bagian atas dan menghisap darah.
Iritasi dinding usus menyebabkan gerakan hiperperistaltik. Gerakan
hiperperistaltik inilah yang nantinya akan menyebabkan diare. Malnutrisi terjadi
karena nutrisi yang seharusnya diserap tubuh penderita justru diserap oleh cacing
melalui darah. Eosinofilia menunjukkan adanya infeksi parasit.
6. Manifestasi klinis
Infeksi hookworm dibagi ke dalam 3 fase :
Fase cutaneus, yaitu cutaneus larva migrans, berupa efek larva menembus
kulit. Larva ini menyebabkan dermatitis yang disebut ground itch. Timbul rasa
gatal dan nyeri di tempat penetrasi.
Fase pulmonary, berupa efek yang disebabkan oleh migrasi larva dari
pembuluh darah kapiler ke alveolus. Larva ini menyebabkan batuk kering,
asma yang disertai dengan wheezing dan demam.
Fase intestinal, berupa efek yang ditimbulkan karena perlekatan cacing
dewasa pada mukosa usus halus dan penghisapan darah. Cacing ini
mengiritasi usus halus dan menyebabkan mual, muntah, nyeri perut, diare, dan
feses yang berdarah dan berelndir. Anemia defisiensi zat besi sering
ditemukan. Jumlah darah yang hilang per hari per satu ekor cacing adalah 0,03
mL pada infeksi Necator americanus dan 0,15 mL pada infeksi Ancylostoma
duodenale. Jumlah darah yang hilang perharinya adalah 2 mL/1000 telur/gram
tinja pada infeksi Necator americanus dan 5 mL/1000 telur/gram tinja pada
infeksi Ancylostoma duodenale, sehingga kadar hemoglobin dapat turun
mencapai level 5gr/dl atau lebih rendah. Pada anak, infeksi cacing ini dapat
mengganggu pertumbuhan fisik dan mental.
7. Diagnosis
Diagnosis dapat di tegakkan melalui anamnesis dengan melihat pekerjaan dan
penyebab. Kemudian dengan melihat gejala klinis yang sesuai dengan infeksi
hookworm. Untuk diagnosis pastinya adalah dengan menemukan telur hookworm
pada feses atau tinja.
8. Hasil pemeriksaan fisik dan Pemeriksaan penunjang

Gejala dan tanda klinis infestasi cacing tambang bergantung pada jenis spesies
cacing, jumlah cacing, dan keadaan gizi penderita.
Pemeriksaan Fisik
1. Konjungtiva pucat
2. Perubahan pada kulit (telapak kaki) bila banyak larva yang menembus kulit, disebut
sebagai ground itch.
Telur/larva dalam tinja melalui pemeriksaan langsung atau biakan Harada
Mori. Identifikasi stadium cacing dewasa dapat melalui endoskopi.
Ciri-ciri telur hook worm :

berbentuk oval
ukuran : panjang 60 m dan lebar 40 m
dinding 1 lapis tipis dan transparan
isi telur tergantung umur :
-Tipe A berisi pembelahan sel (1 4 sel)
-Tipe B berisi pembelahan sel (> 4 sel)
-Tipe C berisi larva
9. Penatalaksanaan
Umum : Dengan pemberian nutrisi, suplemen preparat besi untuk pasien
dengan gejala klinis yang berat.
Spesifik : Bisa dengan pemeberian albendazol dosis tunggal 400 mg,
mebendazol 100 mg/2x/hari, tetrakloretilen (merupakan pilihan utama dan
drug of choice dari ancylostomiasis) yang memiliki kontraindikasi pada pasien
alkoholisme, kelainan pencernaan, dan konstipasi. Kemudian bias juga dengan
pemberian befanium hidroksifanat untuk necatoriasis. Selain itu bias juga
dengan pemberian pirantel pamoat dan heksilresolnisol.

10. Pencegahan
cara terbaik untuk menghindari infeksi cacing tambang adalah dengan tidak
berjalan bertelanjang kaki di daerah di mana cacing tambang umum ditemukan dan di
tempat yang mungkin terdapat kontaminasi tinja manusia di tanah. Selain itu, hindari
kontak kulit lainnya dengan tanah tersebut dan menghindari menelan tanah tersebut.
Infeksi juga dapat dicegah dengan tidak buang air besar di luar ruangan dan dengan
sistem pembuangan limbah yang efektif.
11. Daftar pustaka
1. Gandahusada, S. 2000. Parasitologi Kedokteran. Edisi ketiga. Jakarta. Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. (Gandahusada, 2000)
2. Written for World Water Day. 2001. Reviewed by staff and experts from the cluster
on Communicable Diseases (CDS) and Water, Sanitation and Health unit (WSH),
World Health Organization (WHO).
3. King CH. Hookworms. In: Berhman RE, Kliegman RM, Arvin AM, editors.
Nelsons Tetxbook of Pediatrics. 19th ed. Philadelphia: W.B.Saunders Company;
2012. p.1000-1.