You are on page 1of 17

ANALISA LAPORAN KEUANGAN

RESUME BAB 5, 6, & 7

DISUSUN OLEH

NURSIDA DEWI
BCA 112 316

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS PALANGKA RAYA

2016
Analisis Sumber dan Penggunaan Modal Kerja

Modal kerja didefinisikan sebagai aktiva lancar dikurangi kewajiban lancar. Jhon Fred
Weston dan Thomas E.Copeland (1996 : 327) menjelaskan bahwa modal kerja merupakan
investasi perusahaan dalam bentuk uang tunai, surat berharga, piutang dan persediaan,
dikurangi dengan kewajiban lancar yang digunakan untuk membiayai aktiva lancar.
Menurut Munawir S (1995 : 114), ada tiga konsep atau definisi modal kerja yang umum
dipergunakan ), yaitu:
1.Konsep kuantitatif
Konsep ini Menitik beratkan kepada kuantum yang diperlukan untuk mencukupi kebutuhan
perusahaan dalam membiayai operasinya yang bersifat rutin atau menunjukkan jumlah dana
yang tersedia untuk tujuan operasi jangka pendek. Dalam konsep ini menganggap bahwa
modal kerja adalah jumlah aktiva lancar. Konsep ini tidak mementingkan kualitas dari modal
kerja, apakah modal kerja dibiayai para pemilik, hutang jangka pendek, sehingga dengan
modal kerja yang besar tidak apat mencerminkan tingkat keamanan para kreditur jangka
pendek yang besar juga. Bahkan menurut konsep ini dengan adanya modal kerja yang besar
tidak menjamin kelangsungan operasi yang akan datang, serta tidak mencerminkan likuiditas
perusahaan yang bersangkutan.
2.Konsep Kualitatif
Konsep ini menitik beratkan pada kualitas modal kerja, pengertian modal kerja dalam konsep
ini adalah kelebihan aktiva lancar terhadap hutang lancar. Definisi ini bersifat kualitatif
karena menunjukkan tersedianya aktiva lancar yang lebih besar dari hutang lancar dan
menunjukkan pula tingkat keamanan bagi para kreditur jangka pendek, serta menjamin
kelangsungan operasi dimasa mendatang dan kemampuan perusahaan untuk memperoleh
tambahan pinjaman jangka pendek dengan jaminan lainnya. 3.Konsep Fungsional Konsep ini
menitik beratkan pada fungsi dana yang dimiliki dalam rangka menghasilkan pendapatan
(laba) dari usaha pokok perusahaan. Pada dasarnya dana yang dimiliki oleh perusahaan
sepenuhnya akan digunakan untuk menghasilkan laba, ada sebagian dana yang akan
digunakan untuk memperoleh atau menghasilkan laba dimasa yang akan datang. Misalnya
bangunan, pabrik, alat-alat kantor dan aktiva tetap lainnya. Ada 2 konsep utama modal kerja
menurut James C. Van Horn dan John M. Wachowicz, Jr. (1997 : 214) yaitu : 1.Modal Kerja
Bersih, yaitu perbedaan jumlah aktiva lancar dengan kewajiban lancar. Konsep ini merupakan
ukuran sejauh mana perusahaan dilindungi dari masalah likuiditas. 2.Modal Kerja Kotor,

yaitu Investasi perusahaan dalam aktiva lancar (seperti kas, sekuritas, piutang, dan
persediaan).
SEBAB PERUBAHAN MODAL KERJA
-

Adanya kenaikan sektor modal baik yang berasal dari laba maupun adanya pengeluaran

modal saham atau tambahan investasi dari pemilik perusahaan maka modal kerja akan
bertambah.
-

Ada pengurangan atau penurunan aktiva tetap yang diimbangi dengan bertambahnya

aktiva lancar karena adanya penjualan aktiva tetap maupun melalui proses depresiasi, modal
kerja akan bertambah.
-

Ada penambahan hutang jangka panjang baik dalam bentuk obligasi, hipotek, atau

hutang jangka panjang lainnya yang diimbangi dengan bertambahnya aktiva lancar, maka
modal kerja akan bertambah.
-

Karena kerugian yang diderita oleh perusahaan, baik kerugian normal maupun kerugian

exidentil.maka akan mengurangi modal kerja.


-

Adanya pembentukan dana atau pemisahan aktiva lancar untuk tujuan-tujuan tertentu

dalam jangka panjang, maka akan mengurangi modal kerja.


-

Adanya penambahan atau pembelian aktiva tetap maka akan mengurangi modal kerja.

Pengambilan uang atau barang yang dilakukan oleh pemilik perusahaan untuk

kepentingan pribadi.
TUJUAN DAN SUMBER MODAL KERJA
Tujuan laporan perubahan modal kerja adalah memberikan ringkasan transaksi keuangan
yang terjadi selama satu periode dengan menunjukan sumber dan penggunaan modal kerja
dalam periode tersebut. Laporan perubahan modal kerja akan memberikan gambaran tentang
bagaimana management mengelolah perputaran atau sirkulasi modalnya. Dimana sumbersumber modal kerja berasal
1.

Hasil operasi perusahaan.

2.

Keuntungan dari pernjualan surat-surat berharga ( investasi jangka pendek )

3.

Penjualan aktiva tidak lancar

4.

Penjualan saham atau obligasi


LANGKAH-LANGKAH DALAM ANALISIS SUMBER DAN PENGGUNAAN MODAL
KERJA

Sebelum mengemukakan langkah-langkah dalam menganalisis sumber dan penggunaan


modal kerja, akan dikemukakan terlebih dahulu yang termasuk kedalam sumber modal kerja
dan juga penggunaan modal kerja. Sumber modal kerja terdiri dari dua pokok, yaitu:
a. Bagian yang tetap atau bagian yang permanen yaitu jumlah minimum yang harus
tersedia agar perusahaan dapat berjalan dengan lancar tanpa kesulitan keuangan, dan
b. Jumlah modal kerja yang variabel yang jumlahnya tergantung pada aktivitas
musiman dan kebutuhan-kebutuhan diluar aktivitas yang biasa.
Sumber-sumber modal kerja pada umumnya berasal dari:
1) Hasil operasi perusahaan, adalah jumlah pendapatan yang nampak dalam laporan
perhitungan laba rugi ditambah dengan depresiasi dan amortisasi.
2) Keuntungan dari penjualan surat-surat berharga (investasi jangka pendek), dalam
menganalisis sumber modal kerja yang berasal dari keuntungan penjualan surat-surat
berharga harus dipisahkan dengan modal kerja yang berasal dari hasil usaha pokok
perusahaan. Dari hasil penjualan surat berharga ini menyebabkan terjadinya
perubahan dalam unsur modal kerja yaitu dari bentuk surat berharga berubah menjadi
kas.
3) Penjualan aktiva tidak lancar, perubahan aktiva tidak lancar menjadi kas atau
piutang akan menyebabkan bertambahnya modal kerja. Apabila hasil dari penjualan
aktiva tetap atau aktiva tidak lancar ini tidak digunakan untuk mengganti aktiva yang
bersangkutan, akan menyebabkan keadaan aktiva lancar sedemikian besarnya
sehingga melebihi jumlah modal kerja yang dibutuhkan (adanya modal kerja yang
berlebih-lebihan).
4) Penjualan saham atau obligasi, Perusahaan dapat mengeluarkan obligasi atau
bentuk hutang jangka panjang guna memenuhi kebutuhan modal kerjanya penjualan
obligasi ini mempunyai konsekuensi bahwa perusahaan harus membayar bunga tetap,
oleh karena itu dalam mengeluarkan hutang dalam bentuk obligasi ini harus
disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan Penjualan obligasi yang tidak sesuai
dengan kebutuhan (terlalu besar) disamping menimbulkan beban bunga yang besar,
juga akan mengakibatkan keadaan aktiva lancar yang besar sehingga melebihi jumlah
modal kerja yang dibutuhkan.

1.

Laporan Sumber-Sumber Dan Penggunaan Dana (Dalam Artian Kas)

a. Langkah-langkah menyusun laporan sumber-sumber dan penggunaan dana

1) Menyusun laporan perubahan neraca, yang menggambarkan perubahan masingmasing elemen neraca antara dua titik waktu yang akan dianalisa (bulanan atau
tahunan)
2) Mengelompokkan

perubahan-perubahan

dalam

golongan

perubahan

yang

memperbesar/memperkecil kas
3) Mengelompokkan elemen-elemen dalam laporan rugi dan laba (laporan laba
ditahan) ke dalam golongan yang memperbesar/ memperkecil kas
4) Mengadakan konsolidasi dari semua informasi ke dalam laporan sumber-sumber
dan penggunaan dana
b.

Perubahan elemen neraca antara dua saat efeknya memperbesar kas disebut sumber-

sumber dana
1)

Berkurangnya aktiva lancar selain kas


a) Berkurangnya barang (inventory) terjadi karena terjualnya barang tersebut
dan hasil penjualan itu merupakan sumber dana/ kas bagi perusahaan.
b) Berkurangnya piutang berarti piutang telah dibayar dan penerimaan piutang
merupakan penambahan dana yang diterima oleh perusahaan yang
bersangkutan.
c) Berkurangnya surat-surat berharga (efek) berarti efek itu terjual dan hasil
penjualan tersebut merupakan sumber dana/ kas bagi perusahaan

2)

Berkurangnya aktiva tetap


a) Berkurangnya aktiva tetap bruto berarti sebagian aktiva tetap harus dijual
dan hasil penjualannya merupakan sumber dana
b) Berkurangnya aktiva tetap neto berarti adanya depresiasi dalam tahun yang
bersangkutan

3)

Bertambahnya setiap jenis hutang


Bertambahnya hutang (hutang lancar, hutang jangka panjang) berarti terjadi
penambahan dana yang diterima oleh perusahaan yang bersangkutan

4)

Bertambahnya modal
Bertambahnya modal disebabkan adanya emisi saham baru dan hasil
penjualan saham baru tersebut merupakan sumber dana

5)

Adanya keuntungan dari operasi perusahaan


Apabila perusahaan mendapatkan keuntungan neto dari operasinya berarti
bahwa ada tambahan dan bagi perusahaan yang bersangkutan. Mengenai
perubahan-perubahan yang efeknya memperkecil dana/ kas, antara lain :

a.

Bertambahnya aktiva lancar selain kas


Bertambahnya aktiva lancar dapat terjadi karena pembelian barang dan

pembelian barang membutuhkan dana. Dengan demikian, penambahan aktiva


lancar merupakan penggunaan dana.
b.

Bertambahnya aktiva tetap


Bertambahnya aktiva tetap bruto dapat terjadi karena adanya pembelian

aktiva tetap dan pembelian aktiva tetap merupakan penggunaan dana


c.

Berkurangnya hutang
Berkurangnya hutang, baik hutang lancar maupun hutang jangka panjang

dapat terjadi karena perusahaan telah melunasi atau mengangsur hutangnya.


Pembayaran kembali hutang berarti penggunaan dana
d.

Berkurangnya modal

Berkurangnya modal dapat terjadi karena pemilik perusahaan mengambil


kembali atau mengurangi modal yang tertanam dalam perusahaan.
Berkurangnya modal berarti berkurangnya dana. Ini berarti bahwa penggunaan
modal itu merupakan penggunaan dana. Dalam P.I. pembelian kembali
sahampun merupakan penggunaan dana
e.

Pembayaran cash deviden

Pembayaran cash deviden merupakan penggunaan dana. Cash deviden


dibayarkan dari keuntungan neto sesudah pajak
6)

Kerugian operasi perusahaan


Timbulnya kerugian selama periode tertentu dapat disertai dengan
berkurangnya aktiva atau bertambahnya hutang. Sebenarnya bertambahnya
hutang merupakan sumber dana tetapi dengan adanya kerugian. Dengan
demikian, maka adanya kerugian merupakan penggunaan dana.

ANALISIS SUMBER DAN PENGGUNAAN KAS

1. Sifat Laporan Sumber Dan Penggunan Kas


Sifat laporan perubahan modal kerja adalah memberikan ringkasan transaksi keuangan
selama satu periode dengan menunjukan sumber dan penggunaan modal kerja dalam periode
tersebut, modal kerja meliputi seluruh aktiva lancar atau aktiva lancar dikurangi utang lancar.
Dengan demikian, yang di laporkan adalah perubahan aktiva lancar dan utang lancar serta
sebab-sebab perubahan tersebut atau sumber dan penggunaannya. Tekanan yang di berikan
dalam laporan ini adalah perubahan modal kerja atau aktiva lancar dan utang lancar secara
keseluruhan dan tidak akan menunjukan jumlah uang yang telah diterima atau dikeluarkan
selama periode tersebut.
Laporan sumber dan penggunaan kas akan dapat di gunakan sebagai dasar dalam menaksir
kebutuhan kas di masa mendatang dan kemungkinan sumber-sumber yang ada, atau dapat di
gunakan sebagai dasar perencanaan dan peramalan kebutuhan kas atau cash flow di masa
yang akan datang. Sedangkan bagi para kreditor atau bank dengan laporan sumber dan
penggunaan kas akan dapat menilai kemampuan perusahaan dalam membayar bunga atau
mengembalikan pinjamannya.

2. Sumber Kas
Kas merupakan aktiva yang paling likuid atau merupakan salah satu unsur modal yang paling
tinggi likuiditasnya, berarti semakin besar jumlah kas yang dimiliki oleh suatu perusahaan
akan semakin tinggi pula tingkat likuiditasnya. Akan tetapi, suatu perusahaan yang memiliki
tingkat likuiditas yang tinggi karena adanya kas dalam jumlah yang besar berarti tingkat
perputaran kas tersebut rendah dan mencerninkan adanya over investment dalam kas dan
berarti pula perusahaan kurang efektif dalam mengelola kas. Jumlah kas yang relatif kecil
akan diperoleh tingkat perputaran kas yang tinggi dan keuntungannya yang di peroleh akan
lebih besar, tetapi suatu perusahaan yang hanya mengejar keuntungan (rentabilitas) tanpa
memperhatikan likuiditas akhirnya perusahaan itu akan berada dalam keadaan likuid apabila
sewaktu-waktu ada tagihan.
Sumber penerimaan kas dalam suatu perusahaan pada dasarnya dapat berasal dari:

a. Hasil penjualan investasi jangka panjang, aktiva tetap baik yang berwujud maupun
yang tidak berwujud (intangible assets), atau adanya penurunan aktiva tidak lancar
yang diimbangi dengan penambahan kas.
b. Penjualan atau adanya emisi saham maupun adanya penambahan modal oleh
pemilik perusahaan dalam bentuk kas.
c. Pengeluaran surat tanda bukti utang, baik jangka pendek (wesel) maupun utang
jangka panjang (utang obligasi, utang hipotik, atau utang jangka panjang lain) serta
bertambahnya utang yang diimbangi dengan penerimaan kas.
d. Adanya penurunan atau berkurannya aktiva lancar selain kas yang diimbangi
denagn penerimaan kas pembayaran, berkurangnya persediaan barang dagangan
karena adanya penjualan secara tunai, adanya penurunan surat berharga (efek) karena
ada penjualan dan sebagainya.
e. Adanya penerimaan kas karena sewa, bunga atau dividen dari investasinya,
sumbangan ataupun hadiah maupun adanya pengembalian kelebihan pembayaran
pajak pada periode-periode sebelumnya.
f. Keuntunga dari operasi perusahaan, Apabila perusahaan memperoleh keuntungan
neto dari operasinya berarti ada tambahan dana dari perusahaan yang bersangkutan

3. Penggunaan Kas
Adapun penggunaan atau pengeluaran kas dapat di sebabkan oleh adanya transaksi-transaksi
sebagai berikut.
a. Pembelian saham atau obligasi sebagai investasi jangka pendek maupun jangka
panjang serta pembelian aktiva tetap lainnya.
b. Penarikan kembali saham yang beredar maupun adanya pengembalian kas
perusahaan oleh pemilik perusahaan.

c. Pelunasan pembayaran angsuran utang jangka pendek maupun utang jangka


panjang.
d. Pembelian barang secara tunai, adanya pembayaran biaya opersi yang meliputi
upah dan gaji, pembelian supplies kantor, pembayaran sewa, bunga, premi asuransi,
advertensi, dan adanya persekot-persekot biaya maupun persekot pembelian.
e. Pengeluaran kas untuk pembayaran dividen (bentuk pembagian laba lainnya secara
tunai), pembayaran pajak, denda-denda, dan sebagainya.
f. Adanya kerugian dalam operasi perusahaan. Terjadinya kerugian dalam operasi
perusahaan dalam mengakibatkan berkurangnya kas atau menimbulkan utang yaitu
bila diperlukan dana untuk menutup kerugian tersebut. Timbulnya utang sebenarnya
merupakan sumber dana tetapi dana ini digunakan untuk menutup kerugian tersebut.

4. Laporan Sumber Dan Penggunaan Kas


Penyusunan laporan perubahan kas atau laporan sumber dan penggunaan kas dapat dilakukan
dengan meringkas jurnal penerimaan kas dan jurnal pengeluaran kas. Cara ini memakan
waktu yang lama karena harus menggolongkan setiap transaksi kas menurut sumber masingmasing serta tujuannya, dan cara ini hanya dapat dilakukan oleh internal analisis yang
memungkinkan memperoleh datanya dengan lengkap dan masih murni. Bagi eksternal
analisis, menyusun laporan sumber dan penggunaan kas dapat dilakukan dengan
menganalisis perubahan yang terjadi dalam laporan keuangan yang diperbandingkan antara
dua waktu atau akhir periode serta informasi-informasi lain yang mendukung terjadinya
perubahan tersebut. Dalam menganalisis perubahan yang terjadi harus diperhatikan
kemungkinan adanya perubahan atau transaksi yang tidak mempengaruhi kas (noncash
transaction).
Transaksi-transaksi yang tidak mempengaruhi uang kas antara lain sebagai berikut:
a. Adanya pengakuan atau pembebanan depresiasi, amortisasi dan deplesi terhadap
aktiva tetap, intangible asset, dan wasting assets. Biaya depresiasi ini merupakan
biaya yang tidak memerlukan pengeluaran kas.

b. Pengakuan adanya kerugian piutang baik dengan membentuk cadangan kerugian


piutang maupun tidak, dan penghapusan piutang karena piutang yang bersangkutan
sudah tidak dapat di tagih lagi.
c. Adanya penghapusan atau pengurangan nilai buku dari aktiva yang dimiliki dan
penghentian dari penggunaan aktiva tetap karena aktiva yang bersangkutan telah habis
disusut dan atau sudah tidak dapat dipakai lagi.
d. Adanya pembayaran stock devidend (dividen dalam bentuk saham), adanya
penyisihan atau pembatasan penggunaan laba, dan adanya penilaian kembali
(revaluasi) terhadap aktiva tetap yang dimiliki oleh perusahaan.

5. Langkah-Langkah Dalam Penyusunan Laporan Sumber-Sumber Dan Penggunaan


Dana Dalam Aliran Kas
Dalam menyusun laporan sumber-sumber dan penggunaan kas, dimana dana dalam artian kas
memiliki langkah-langkah sebagai berikut :
a. Mendaftar pos-pos neraca yang diperbandingkan antara dua titik waktu tertentu
dalam kolom pertama dan kedua.
b. Mendaftar pos-pos laporan laba rugi dari tahun yang diperbandingkan (current
year).
c. Tentukan kenaikan dan penurunan yang terjadi pada pos-pos neraca, tunjukkan
dalam kolom Perubahan debit dan kredit. Kolom perubahan debit untuk mencatat
adanya kenaikan aktiva, penurunan utang dan modal serta bertambahnya biaya serta
berkurangnya penhasilan. Sedangkan kolom kredit untuk mencatat penurunan aktiva,
kenaikan utang dan modal, bertambahnya penghasilan dan berkurangnya biaya.
d. Menganalisis perubahan-perubahan yang terjadi pada pos-pos neraca dan pos-pos
laba rugi untuk menentukan adanya perubahan yang tidak mempengaruhi kas.
e. Membuat jurnal penyesuaian dalam lembar kerja tersebut untuk menghilangkan
akibat atau pengaruhtransaksi nonkas yang sudah dicatat dalam periode tersebut.

f. Memindahkan saldo atau perubahan setelah disesuaikan kecuali perubahan kas) Ke


dalam kolom Kenaikan dan Penurunan Kas atau Sumber dan Penggunaan Kas.
Penurunan aktiva (selain kas), kenaikan utang, modal dan penghasilan merupakan
sumber kas, sedangkan kenaikan aktiva (selain kas), penurunan utang, modal dan
kenaikan biaya merupakan penggunaan kas. Perubahan kas tidak perlu dipindahkan
ke kolom sumber dan penggunaan kas karena perubahan kas inilah yang dianalisis,
selisih jumlah kolom sumber kas dengan penggunaan kas harus sama dengan
perubahan yang terjadi dalam pos Kas.
g. Untuk penyusunan laporan sumber dan penggunaan kas datanya diambil dari dua
kolom terakhir dari lembar kerja.

ANALISA BREAK EVEN POINT


A. Pengertian Analisi Break Even
Analisa break even adalah suatu teknik analisa untuk mempelajari hubungan antara biaya
tetap, biaya variabel, keuntungan dan volume kegiatan.
Adapun pengertian pengertian Break Even Point menurut para ahli:
1.

Menurut S. Munawir ( 2002) Titik break even point atau titik pulang pokok dapat

diartikan sebagai suatu keadaan dimana dalam operasinya perusahaan tidak memperoleh laba
dan tidak menderita rugi ( total penghasilan = total biaya)
2.

Menurut Abdullah (2004) Analisis Break even point disebut juga Cost volume profit

analysis
Arti penting analisis break even point bagi manajer perusahaan dalam pengambilan
keputusan keuangan adalah sebagai berikut:
a)

Guna menetapkan jumlah minimal yang harus diproduksi agar perusahaan tidak

mengalami kerugian
b)

Penetapan jumlah penjualan yang harus dicapai untuk mendapatkan laba

tertentu
c)

Penetapan seberapa jauhkah menurunnya penjualan bisa ditolerir agar

perusahaan tidak menderita rugi


3.

Menurut Purba (2002) Titik impas (break even point) berlandaskan pada pernyataan

sederhana, berapa besarnya unit produksi yang harus dijual untuk menutupi seluruh biaya
yang dikeluarkan untuk mengahsilkan produk tersebut.
4.

Menurut PS. Djarwanto (2002) Break even point adalah suatu keadaan impas yaitu

apabila telah disusun perhitungan laba dan rugi suatu periode tertentu, perusahaan tersebut
tidak mendapat keuntungan dan sebaliknya tidak menderita kerugiaan.
5.

Menurut Harahap (2004) Break even point berarti suatu keadaan dimana perusahaan

tidak mengalami laba dan juga tidak mengalami rugi artinya seluruh biaya yang dikeluarkan
untuk kegiatan produksi ini dapat ditutupi oleh penghasilan penjualan. Total biaya (biaya
tetap dan biaya variabel) sama dengan biaya total penjualan sehingga tidak ada laba atau rugi
6.

Menurut Garrison dan Noreen 92004) break even point adalah tingkat penjualan yang

diperlukan untuk menutupi semua biaya operasional, dimana break even tersebut laba

sebelum bunga dan pajak sama dengan nol (0). Langkah pertama untuk menentukan break
even adalah membagi harga pokok penjualan (HPP) dan biaya operasi menjadi biaya tetap
dan biaya variabel. Biaya tetap merupakan fungsi dari waktu, bukan fungsi dari jumlah
penjualan dan biasanya ditetapkan berdasrkan kontrak, misalnya sewa gudang. Sedangkan
biaya variabel tergantung langsung dengan penjualan bukan fungsi dari waktu, misalnya
biaya angkut barang.
B. Gambar Break Even (Break Even Chart)
Dalam gambar break even point dapat ditentukan, yaitu pada titik dimana terjadi persilangan
antara garis peenghasilan penjualan dengan garis biaya total. Apabila dari titik tersebut kita
garis lurus vertikal ke bawah sampai sumbu X akan nampak besarnya break even dalam unit.
Kalau dari titik itu ditarik lurus horizontal ke samping sampai sumbu Y, akan nampak bsarnya
break even dalam rupiah.
Dalam menggambarkan garis biaya tetap dalam gambar break even itu dapat dilakukan
dengan dua cara, yaitu dengan menggambarkan garis biaya tetap secara horizontal sejajar
dengan sumbu X, atau dengan menggambarkan garis biaya tetap sejajar dengan garis biaya
variabel. Pada cara yang kedua, besarnya contribution margin akan nampak pada gambar
break even tersebut.
C. Perhitungan Break Even Point
Perhitungan break even point yang lebih tepat dapat dilakukan dengan cara trial and error
(serba coba-coba) atau dengan menggunakan rumus-rumus aljabar
1. Perhitungan Break Even Point dengan Cara Trial and Error
Perhitungan break even point dapat dilakukan dengan cara coba-coba, yaitu dengan
menghitungkeuntungan operasi dari suatu volume produksi/penjualan tertentu. Apabila
perhitungan tersebut menghasilkan keuntungan maka diambilvolume penjualan/produksi
yang lebih rendah. Apabila dengan mengambil suatu volume penjualan tertentu, perusahaan
menderita kerugian maka kita mengambil volume penjualan/produksi yang lebih besar.
Demikan dilakukan seterusnya hingga dicapai volume penjualan/produksi di mana
penghasilan penjualan tepat sama dengan besarnya biaya total.
Misalkan dari contoh 1 diambil volume produksi 6.000 unit. Dengan volume produksi 6.000
unit maka dapat dihitung keuntungan operasi sebagai berikut:
=(6.000 x Rp 100) Rp 300.000 + (6.000 x Rp 40)

= Rp 600.000 (300.000 + Rp 240.000)


= Rp 60.000
Pada volume produksi 6.000 unit perusahaan masih mendapatkan keuntungan. Ini berarti
bahwa break even pointnya terletak di bawah 6.000 unit.
Misalkan diambil 4.000 unit, dan hasil perhitungannya adalah sebagai berikut
=(4.000 x Rp 100) Rp 300.000 + (4.000 x Rp 40)
= Rp 400.000 (300.000 + Rp 160.000)
= Rp 60.000
Pada volume produksi 4.000 unit ternyata diderita kerugian sebesar Rp 60.000. Ini berarti
bahwa break even pointnya lebih besar dari 4.000 unit.
Misalkan diambil 5.000 unit, dan hasil perhitungannya adalah sebagai berikut
=(5.000 x Rp 100) Rp 300.000 + (5.000 x Rp 40)
= Rp 500.000 (300.000 + Rp 200.000)
= Rp 0
Ternyata pada volume produksi/penjualan 5.000 unit tercapai break even pointyaitu yang
dimanakeuntungan netonya sama dengan nol.
2.

Perhitungan Break Even Point dengan Menggunakan Rumus Aljabar

Perhitungan break even point dengan menggunakan rumus aljabar dapat dilakukan dengan
dua cara, yaitu
a) Atas dasar unit
Perhitungan break even point atas dasar unit dapat dilakukan dengan menggunakan rumus
BEP (Q) =

FC
PV

Dimana
P = harga jual per unit
V = biaya variabel per unit
FC = biaya tetap
Q = jumlah unit /kuantitas produk yang dihasilkan dan dijual

b) Atas dasar sales dalam rupiah


Perhitungan break even point atas dasar sales dalam rupiah dapat dilakukan dengan
menggunakan rumus aljabar sebagai berikut:

BEP=

FC
VC
1
S

Dimana
FC = biaya tetap
VC= biaya variabel
S = penjualan
D. Manfaat dan Kegunaan BEP
Manfaat BEP antara lain:
Alat perencanaan untuk hasilkan laba
Memberikan informasi mengenai berbagai tingkat volume penjualan, serta hubungannya
dengan kemungkinan memperoleh laba menurut tingkat penjualan yang bersangkutan.
Mengevaluasi laba dari perusahaan secara keseluruhaan.
Mengganti sistem laporan yang tebal dengan grafik yang mudah dibaca dan dimengerti
Telah dijelaskan sebelumbya bahwa analisa BEP sangat penting bagi pimpinan perusahaan
untuk mengetahui pada tingkat produksi berapa jumlah biaya akan sama dengan jumlah
penjualan atau dengan kata lain dengan mengetahui BEP kita akan mengetahui hubungan
antara penjualan, produksi, harga jual, biaya, rugi atau laba, sehingga memudahkan bagi
pimpinan untuk mengambil kebijaksanaan.
Analisis BEP berguna apabila beberapa asumsi dasar dipenuhi. Asumsi-asumsi tersebut
adalah:
a)

Biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan dapat dikelompokan dalam biaya variabel

dan biaya tetap.


b)

Besarnya biaya variabel secara total berubah-ubah secara proporsional dengan volume

produksi atau penjualan. Ini berarti bahwa biaya variabel per unitnya adalah tetap.

c)

Besarnya biaya tetap secara total tidak berubah meskipun ada perubahan volume

produksi atau penjualan. Ini berarti bahwa biaya tetap per unitnya berubah-ubah karena
adanya perubahan volume kegiatan.
d)

Jumlah unit produk yang terjual sama dengan jumlah per unit produk yang di produksi.

e)

Harga

f)

Perusahaan hanya memproduksi satu jenis produk, apabila lebih dari satu jenis

komposisi

jual

produk

per

masing-masing

unit
jenis

tidak

berubah

produk

dalam

dianggap

periode

tertentu.

konstan

(tetap)

Analisa BEP juga dapat digunakan oleh pihak manajemen perusahaan dlam berbagai
pengambilan keputusan dalam berbagai pengambilan keputusan, antara lain mengenai;

Jumlah minimal produk yang harus terjual agar perusahaan tidak mengalami kerugian

Jumlah penjualan yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak mengalami


kerugian

Besarnya penyimpanan penjualan berupa penurunan volume yang terjual agar


perusahaan tidak menderita kerugian.

Untuk mengetahui efek perubahan harga jual, biaya maupun volume penjualan
terhadap laba yang diperoleh.
BEP juga dapat digunakan dengan dalam tiga cara terpisah, namun ketiganya saling
berhubungan, yaitu untuk:
1.
lebih

Menganalisa program otomatisasi dimana suatu perusahaan akan beroperasi secara


mekanis

dan

otomatis

impak

dari

dan

mengganti

perluasan

biaya
tingkat

variabel
operasi

dan

biaya

secara

tetap.

2.

Menelaah

umum

3.

Untuk membuat keputusan tentang produk baru yang harus dicapai jika perusahaan

menginginkan BEP dalam suatu proyek yang diusulkan.


E. Kelemahan analisa BEP.
Sekalipun analisa BEP ini banyak digunakan oleh perusahaan, tetapi tidak dapat dilupakan
bahwa analisa ini mempunyai beberapa kelemahan. Kelemahan utama dari analisa BEP ini
anata lain : asumsi tentang linearity, kliasifikasi cost dan penggunaannya terbatas untuk
jangka waktu yang pendek.
Asumsi-asumsi dasar analisi BEP
1. Menentukan posisi laba rugi perusahaan

2. Menentukan penjualan minimal yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak


mengalami kerugiaan
3. Menetukan jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh keuntungan tertentu

F. Komponen yang berperan pada BEP


Komponen yang berperan pada BEP yaitu biaya, biaya yang dimaksud adalah biaya variabel
dan biaya tetap, dimana pada prakteknya untuk memisahkan atau menentukan suatu biaya itu
biaya variabel atau tetap bukanlah pekerjaan yang mudah dikeluarkan untuk menghasilkan
satu unit produksi jadi kalau tidak produksi maka tidak ada biaya ini.
Salah satu tujuan perusahaan adalah mencapai laba atau keuntungan sesuai dengan
pertumbuhan perusahaan. Untuk mencapai laba yang semaksimal mungkin dapat dilakukan
dengan tiga langkah sebagai berikut,yaitu:
1.

Menekan biaya produksi maupun biaya operasional serendah-rendahnya dengan

mempertahankan

tingkat

harga,

kualitas

dan

kuantitas.

2.

Menentukan harga dengan sedemikian rupa sesuai dengan laba yang dikehendaki.

3.

Meningkatkan volume kegiatan semaksimal mungkin