You are on page 1of 4

A STUDY OF PREVALENCE AND RISK FACTORS OF ADENOMYOSIS AT

HYSTERECTOMY
(Studi Prevalensi dan Faktor Risiko dari Adenomyosis pada Histerektomi)
ABSTRAK
Latar belakang : Adenomyosis sering terjadi, dengan diagnosis yang sulit, sering
diketahui dengan analisis patologis yang dilakukan setelah histerektomi. Kondisi ini
menyebabkan perdarahan uterus abnormal dan dismenorea, yang merupakan alsan
untuk berkonsultasi dan histerektomi.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi profil klinis adenomiosis
Bahan dan metode : Data dalam penelitian ini berasal dari 896 tindakan histerektomi
yang dilakukan di J. J. M Medical Colege, Davangere, untuk jangka waktu 2 tahun.
Adenomiosis dilaporkan pada 896 (49,04%) dari 1.827 uterus yang dimasukkan
dalam studi, terlepas dari diagnosis praoperasi.
Hasil : Dari 1.827 spesimen histerektomi yang diterima selama periode 2 tahun,
adenomiosis dilaporkan pada 896 uteri (49,04%). Usia pasien berkisar 20-75 tahun
dengan usia rata-rata 39.8 tahun. Puncak insiden terlihat pada dekade keempat. 892
pasien adalah unipara (99.5%).

Paritas berkisar dari satu sampai sepuluh.

Menorrhagia adalah gejala yang paling umum.


Kesimpulan : Temuan kami tidak mendukung gagasan bahwa adenomisos lebih
sering berhubungan dengan kondisi klinis tertentu dan menyarankan asosiasi paritas
dengan peningkatan frekuensi adenomiosis
PENDAHULUAN
Adenomiosis merupakan penyakit yang sering terjadi, dengan diagnosis yang
sulit, sering diketahui dengan analisis patologis yang dilakukan setelah histerektomi.
Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan abnormal uteri dan dismenorrhoea, hal
tersebut merupakan alasan yang paling sering muncul untuk konsultasi dan
histerektomi. Perkembangan dari ultrasonografik dan teknik magnetic resonance
imaging memungkinkan adanya diagnosis preoperasi.

Dalam meninjau literatur, adenomiosis memang merupakan lesi yang sulit


dipahami. Ada beberapa alasan untuk hal ini, yaitu:
1. Etiologi yang tepat untuk adenomiosis tidak dikteahui
2. Insidensi yang tepat dalam specimen bedah tidak diketahui dan dilaporkan
variansi antara 8%-40%, tergantung pada ulasan dari studi atau teks. Ulasan
tertentu melaporkan diagnosis pra-operasi yang benar adalah kurang dari 10%
dari kasus yang terbukti adenomiosis
BAHAN DAN METODE
Selama periode penelitian 2 tahun didapatkan 1827 spesimen histerektomi
pada departemen patologi dari J. J. M Medical College, Davangere. Adenomiosis
dilaporkan pada 896 (49.04%) uteri terlepas dari diagnosis preoperative yang
dilibatkan dalam penelitian tersebut. Kriteria diagnositik yang digunakan dalam
identifikasi adalah adanya kelenjar endometrium dan stroma setidaknya satu bidang
dibawah lapisan basal endometrium dikelilingi oleh myometrium.
Hasil patologis kemudian ditinjau dan dianalisis menurut umur, paritas, dan
presentasi klinis.
HASIL
Dari 1827 spesimen histerektomi

yang diterima selama periode 2 tahun,

adenomiosis dilaporkan pada 896 uteri (49.04%).


Umur pasien berkisar 20-75 tahun. Mayoritas pasien pada dekade ke 4 dan ke
5 dengan insiden umur tertinggi pada dekade ke 4 (48.43%) Umur rata-rata adalah
39.8%. (Tabel 1)

Tabel 1 Distribusi Umur

Paritas berkisar dari 1- 10. 896 pasien adalah parous (99.5%) dan hanya 4
adalah nulliparous. Tabel 2

Tabel 2 Distibusi Parity

Menorrhagia merupakan gejala yang paling sering terjadi pada 453 pasien
(50.55%) yang di observasi diikuti dengan dismenorrhoea pada 387 (43.19%) pasien,
polimenorrhagia (1.1%), Metrorrhagia (1.04%), mass per vagina (1.1%), WDPV pada
0.9%, nyeri abdomen bawah pada 1.1%, perdarahan post coital pada 0.79%, dan
perdarahan post menopause ada pada 2 pasien (0.23%). Tabel 3

Tabel 3 Presentasi klinis pada kasus adenomiosis

DISKUSI
Insidensi adenomiosis yang tepat tidak diketahui. Frekuensi adenomiosis
dilaporkan pada literatur berkisar dari 5-70%. Insidensi adenomiosis pada studi ini
adalah 49.04% dan diagnosis klinis preoperative adenomiosis dilakukan hanya pada
31 kasus (3.46%) sama dengan studi lainnya
UMUR/PARITY
Dalam penelitian ini adenomiosis tertinggi terjadi pada usia decade keempat
dan kelima (73.88%) dimana sesuai dengan penelitian lainnya. Adenomiosis biasanya
mempengaruhi pasien multipara. Dalam penelitian ini, sebagian besar pasien
merupakan multipara (99.55%) seperti penelitian lainnya. Populasi besar pasien
unipara dalam berbagai penelitian memberikan dukungan sebuah konsep bahwa
melahirkan anak mungkin memainkan peran sebagai etiologi dari adenomiosis
GEJALA
Gejala yang berasosiasi dengan adenomiosis adalah perdarahan uterus berlebih
disertai dengan memburuknya dismenorea, Namun adenomiosis mungkin sama sekali
asimptomatik. Dalam penelitian ini, kejadian menorrhagia pada pasien dengan
adenomiosis adalah 50,55% mirip dengan studi lainnya. Dismenorea dari penelitian
ini berkorelasi dengan studi lainnya. Seperti penelitian lain pada penelitian ini
dilaporkan gejala pada kasus adenomiosis heterogen, nonspesifik dan mungkin terkait
dengan penyakit yang berhubungan.
Kesimpulannya temuan pada penilitian ini tidak mendukung gagasan bahwa
adenomiosis lebih sering berhubungan dengan kondisi klinis tertentu dan bahwa
terdapat asosiasi parity dengan peningkatan frekuensi adenomiosis