You are on page 1of 16

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

PANDANGAN ISLAM TERHADAP PENGGUNAAAN AETHANOLUM


(C2H6O) SEBAGAI KOSOLVEN DALAM SEDIAAN ELIXIR

Disusun oleh :
Wige Sudirman
NIM : 21154621A

Dosen Pengampu : Mohammad Zaki Suaidi

JURUSAN S-1 FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI SURAKARTA
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat, karunia serta
taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang Pandangan Islam
Terhadap Penggunaan Aethanolum (C2H6O) Sebagai Kosolven Sediaan Elixir ini dengan baik
meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih kepada Bapak
Mohammad Zaki Suaidi selaku Dosen mata kuliah Pendidikan Agama Islam USB yang telah
memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita mengenai bagaimana Islam memandang penggunaan alcohol dalam
sediaan sirup obat batuk dan juga bagaimana seorang muslim menyikapi hal tersebut. Kami
juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari
kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi
poerbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada
sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang
yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di
masa depan.

Surakarta, 02 Oktober 2015

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN

A. Tema
Pandangan Islam tentang isu-isu kesehatan, kedokteran dan reproduksi.
B. Latar Belakang
Dewasa ini perkembangan dunia kefarmasian melaju dengan sangat pesat, hal ini
dapat dibuktikan dengan munculnya jenis-jenis obat baru yang lebih efektif dalam hal terapi,
daripada obat pendahulunya. Akan tetapi perlu diketahui bahwa banyak masyarakat saat ini
tidak mengetahui dan menyadari bahwa sebagian obat membutuhkan treatment khusus dalam
hal peracikan sebelum akhirnya menjadi sebuah sediaan siap pakai. Salah satunya adalah
penggunaan alkohol sebagai kosolven dalam sediaan elixir.
Elixir merupakan sediaan larutan yang mempunyai rasa dan bau sedap, mengandung
selain obat juga zat tambahan seperti gula dan atau pemanis lainnya, zat warna, zat wewangi
dan zat pengawet; digunakan sebagai obat dalam. Sebagai pelarut utama digunakan etanol
yang dimaksud untuk meningkatkan kelarutan obat.
C. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Islam memandang penggunaan alkohol sebagai kosolven dalam

sediaan

elixir?
2. Bagaimana hukumnya seorang muslim mengonsumsi obat-obatan dengan alcohol sebagai
kosolven didalamnya?
3. Bagaiman kita sebagai muslim bersikap tentang hal ini?
D. Tujuan
1. Menjelaskan tentang penggunaan alcohol sebagai kosolven dalam sediaan elixir,
2. Menjelaskan tujuan penggunaan alcohol sebagai kosolven dalam sediaan elixir,
3. Memaparkan pandangan Islam terhadap penggunaan alcohol sebagai kosolven dalam
sediaan elixir.

BAB II PEMBAHASAN

A. Deskripsi Elixir
Berikut ini paparan beberapa pengertian tentang elixir dari beberapa literatur
kefarmasian :
1. Farmakope Indonesia Ed. III 1976, hal 8:
Elixir adalah sediaan berupa larutan yang mempunyai rasa dan bau sedap,
mengandung selain obat juga zat tambahan seperti gula dan atau pemanis lainnya,
zat warna, zat wewangi dan zat pengawet; digunakan sebagai obat dalam.
Sebagai pelarut utama digunakan etanol yang dimaksudkan

untuk

meningkatkan kelarutan obat. Dapat ditambahkan gliserol, sorbitol dan


propilenglikol sebagai pengganti gula dapat digunakan sirop gula.
2. Farmakope Indonesia Ed. IV. 1995, hal. 15:
Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang
terlarut, misal: terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau
campuran pelarut yang saling bercampur. Karena molekul-molekul dalam larutan
terdispersi secara merata, maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan,
umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang
baik jika larutan diencerkan atau dicampur.
Bentuk sediaan larutan digolongkan menurut cara pemberiannya, misalnya
larutan oral, mengandungsatu atau lebih zat dengan atau tanpabahan pengaroma,
pemanis atau pewarna yang larut dalam air atau campuran air.
Pengenceran larutan oral dengan air yang mengandung kosolven seperti
etanol, dapat menyebabkan pengendapan bahan terlarut.
Larutan oral yang mengandung sukrosa atau gula lain kadar tinggi, dinyatakan
sebagai sirup. Larutan sukrosa hampir jenuh dalam air dikenal sebagai sirup atau
sirup simpleks. Penggunaan istilah sirup juga digunakan untuk bentuk sediaan cair
lain yang dibuat dengan pengental dan pemanis, termasuk suspense oral.
Disamping sukrosa dan gula lain, senyawa poliol tertentu seperti sorbitol dan
gliserin dapat digunakan dalam larutan oral untuk menghambat penghabluran dan
untuk mengubah kelarutan, rasa dan sifat lain zat pembawa. Umumnya juga
ditambahkan anti mikroba untuk mencegah pertumbuhan bakteri, jamur dan ragi.
Larutan oral yang mengandung etanol sebagai kosolven dinyatakan sebagai elixir.
3. Fornas Ed. II, hal. 313:
Elixir adalah sediaan larutan yang mempunyai rasa dan bau yang sedap,
mengandung selain obat juga zat tambahan seperti gula dan atau zat pemanis
lainnya, zat pengawet, zat warna dan zat pewangi, untuk digunakan sebagai obat
dalam. Sebagai pelarut utama digunakan etanol 90% yang dimaksudkan untuk

mempertinggi kelarutan obat. Dapat ditambahkan gliserol, sorbitol dan


propilenglikol. Sebagai pengganti gula dapat ditambahkan sirup simpleks.
Elixir merupakan produk yang kurang umum. Elixir umumnya mengandung
obat yang poten seperti antibiotic, antihistamin dan sedative, dan diformulasikan
dengan rasa yang enak dan biasanya sangat stabil. Jika perlu rasa yang pahit dan
rasa yang memabukkan (nauseous) ditutupi dengan flavour, dan pewarna buatan
dapat ditambahkan untuk memberikan penampilan yang menarik.
4. BP 2001, hal. 800:
Cairan oral adalah sediaan cair yang homogen, biasanya terdiri dari larutan,
suspense atau emulsi dengan satu atau lebih zat aktif dalam pembawa yang cocok.
Dimaksudkan untuk diminum dengan diencerkan atau setelah dilarutkan terlebih
dahulu.
Pembawa untuk partikel cairan oral seharusnya dipilih yang baik untuk zat
aktif atau bahan-bahan lain sehingga memiliki karakteristik organoleptik yang
cocok untuk digunakan dalam sediaan.
Elixir adalah larutan oral yang jernih dan memiliki rasa dan bau yang enak,
mengandung satu atau lebih zat aktif yang dilarutkan dalam pembawa yang
biasanya mengandung sukrosa yang tinggi atau polihidrik alcohol yang cocok, dan
dapat juga mengandung etanol (95%) atau pelarut etanol.
5. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi (Ansel). Hal.304:
Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang
dapat larut, yang biasanya dilarutkan dalam air, yang karena bahan-bahannya, cara
peracikan atau penggunaannya, tidak dimasukkan kedalam golongan produk
lainnya. Larutan obat-obatan dalam air yang mengandung gula disebut sirup,
larutan yang mengandung hidroalkohol yang diberi gula (kombinasi dari air dan
etil alcohol) disebut elixir.
Larutan oral, sirup dan elixir dibuat dan digunakan karena efek tertentu dari
zat obat yang ada. Dalam sediaan ini zat obat umumnya diharapkan dapat
memberikan efek sistemik. Kenyataan obat-obat itu diberikan dalam bentuk
larutan biasanya bahwa absorpsinya dalam system saluran cerna ke dalam
sirkulasi sistemiik dapat diharapkan terjadi lebih cepat daripada bentuk sediaan
suspense atau padat dari zat obat yang sama.
Dalam larutan yang diberikan secara oral biasanya terdapat zat-zat lain selain
bahan obat. Bahan-bahan tambahan ini biasanya meliputi pemberi warna, pemberi
rasa, pemanis atau penstabil larutan. Dalam penyusunan formula atau
pencampuran larutan farmasi, ahli farmasi harus memanfaatkan keterangan
tentang kelarutan dan kestabilan dari masig-masing zat terlarut yang ada dengan

memperhatikan pelarut atau system pelarut yang digunakan. Ahli farmasi harus
berhati-hati menghadapi pengunaan kombinasi obat atau bahan-bahan farmasi
yang menimbulkan interaksi kimia atau fisika yang akan mempengaruhi mutu
terapeutik dan stabilitas farmaseutik produk.
Untuk larutan dengan zat terlarut tunggal atau terutama untuk larutan dengan
zat terlarut banyak macamnya, ahli farmasi harus mengetahui sifat-sifat kelarutan
yang khas dari zat terlarut, dan cara-cara melarutkannya dari pelarut farmasi
tertentu. Setiap bahan kimia memiliki kelarutan sendiri-sendiri dalam pelarut yang
digunakan.
Elixir yang mengandung > 10-12% alcohol bersifat sebagai pengawet sendiri
(self preservative) dan tidak membutuhkan penambahan zat anti mikroba untuk
pengawetnya.
6. Remington Pharmaceutical Science hal. 746
Konsentrasi alcohol yang terdapat dalam sediaan OTC oral berdasarkan FDA :
Anak < 6 tahun
: maksimal 0,5%
Anak 6-12 tahun
: maksimal 5%
Anak >12 tahun dan dewasa
: maksimal 10%
Pada RPS 2005 hal. 756, disebutkan bahwa elixir termasuk dalam golongan
larutan non-aqueous dengan kandungan bervariasi mulai dari 3-5% sampai 2123%.
7. British Pharmacopeia Codex 1973
Dalam contoh sediaan elixir yang terdapat dalam pustaka tsb, digunakan
etanol 90 dan 95% v/v. konsentrasi etanol dalam sediaan bervariasi; ada sediaan
yang mengandung etanol 90% v/v sampai 40%.
Dari bebrapa paparan diatas dapat disimpulkan bahwa elixir adalah larutan oral yang
mengandung etanol 90% yang berfungsi sebagai kosolven (pelarut) dan untuk mempertinggi
kelarutan obat. Kadar etanol berkisar antara 3% dan 4%, dan biasanya elixir mengandung
etanol 5-10%. Untuk mengurangi kadar etanol yang dibutuhkan untuk pelarut, dapat
ditambahkan kosolven lainseperti gliserin, sorbitol, dan propilen glikol. Penggunaan alkohol
sebagai kosolven memiliki tujuan yaitu:
a.
b.
c.
d.
e.

Mempertinggi kelarutan zat berkhasiat;


Agar homogenitas lebih terjamin;
Zat berkhasiat lebih mudah terabsorpsi dalam keadaan terlarut;
Sediaan berasa manis dan aroma lebih sedap;
Dapat digunakan oleh orang yang sukar menelan obat seperti anak-anak dan lansia.

Akan tetapi setiap sediaan juga memilik keuntungan dan kekurangan, begitu juga dengan
elixir. Adapun keuntungannya adalah:

a. Lebih mudah ditelan daripada bentuk padat, sehingga dapat digunakan untuk bayi,
anak-anak, dan orang tua;
b. Segera diabsorbsi karena sudah dalam bentuk larutan;
c. Obat secara homogeny terdistribusi dalam seluruh sediaan;
d. Bersifat hidroalkohol sehingga elixir lebih mampu mempertahankan komponen
e.
f.
g.
h.
i.
j.

larutan yang larut dalam air dan larut dalam alkohol dibandingkan dengan sirup;
Stabilitas yang khusus dan kemudahan dalam pembuatan;
Kemudahan penyesuaian dosis dan pemberian terutama pada anak-anak;
Dosis selalu seragam sehingga tidak perlu pengocokan;
Dosis dapat diubah sesuai kebutuhan penggunaannya;
Waktu absorbs lebih cepat maka kerja obat lebih cepat;
Sifat mengiritasi dari obat bisa diatasi dengan bentuk sediaan larutan karena adanya

factor pengenceran;
k. Anak-anak dan beberapa orang dewasa yang sukar menelantablet atau kapsul, akan
lebih mudah menelan sediaan larutan.
l. Sediaan larutan dengan mudah dapat ditambahkan zat pewangi, pemanis atau pewarna
untuk meningkatkan penampilan.
Tetapi elixir juga memiliki kekurangan yaitu:
a. Voluminus sehingga kurang menyenangkan untuk diangkut atau disimpan;
b. Stabilitas dalam bentuk larutan lebih jelek dibandingkan bentuk tablet atau kapsul
terutama bila bahan mudah terhidrolisis;
c. Larutan mudah ditumbuhi mikroorganisme
d. Ketepatan dosis tergantung pada kemampuan pasien menakar.
e. Rasa obat yang kurang enak akan lebih terasa dalam bentuk larutan disbanding bentuk
tablet;
f. Dibandingkan dengan sirup, elixir biasanya kurang manis dan kurang kentalkarena
mengandung kadar gula yang lebih rendah sehingga kurang efektif dalam menutupi
rasa obat disbanding dengan sirup;
g. Sediaan cair umumnya kurang stabil dibandingkan bentuk sediaan padat dan ada
h.
i.
j.
k.

beberapa obat yang tidal stabil dalam air;


Obat cairan memerlukan wadah yang besar sehingga merepotkan dibawa-bawa;
Beberapa obat yang mengandung bau yang kurang menyenangkan sukar ditutupi;
Memerlukan alat sendok untuk pemberian dosisnya;
Jika terjadi wadah obat bentuk larutan pecah maka isi akan terbuang semua.

B. Deskripsi Alkohol
1. Berikut ini adalah beberapa paparan deskripsi alcohol dari beberapa sumber dan
literature baku kefarmasian :
1.1 Farmakope Indonesia Ed. III, hal. 65
Etanol adalah campuran etilalcohol dan air. Mengandung tidak kurang dari
94,7% v/v atau 92,0% dan tidak lebih dari 95,2% v/v atau 92,7% C2H6O.
Pemerian cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak;bau

khas; rasa panas. Mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak
berasap.
1.2 Farmakope Indonesia Ed. IV, hal. 63
Etanol mengandung tidak kurang dari 92,3% b/b dan tidak lebih dri 93,8%
b/b, setara dengan tidak kurang dari 94,9% v/v dan tidak lebih dari 96,0% v/v,
C2H5OH, pada suhu15,56o . Pemerian cairan mudah menguap, jernih, tidak
berwarna. Bau khas dan menyebabkan rasa terbakar pada lidah. Mudah menguap
walau[pun pada suhu rendah dan mendidih pada suhu 78o. Mudah terbakar.
2. Sifat kimia dan struktur alcohol
Dalam ilmu kimia, alcohol adalah istilah yang umum bagi senyawa organic
apapun yang memiliki gugus hidroksil (-OH) yang terikat pada atom karbon, yang ia
sendiri terikat pada ataom hydrogen dan atau atam karbon lain. Dilihat dari gugus
fungsinya, alcohol memiliki banyak golongan. Golongan yang paling sederhana
adalah methanol dan etanol.
Alcohol dapat dianggap sebagai molekul organic yang analog dengan air. Kedua
ikatan C-O dan H-O bersifat polar karena elektronegatifitas pada oksigen. Sifat ikatan
O-H yang sangat polar menghasilkan ikatan hydrogen dengan alcohol lain atau
dengan system ikatan hydrogen dengan alcohol yang lain, misal alcohol dengan air
dan dengan amina. Jadi, alohol mempunyai titik didih yang cukup tinggi disebabkan
oleh adanya ikatan hydrogen antar molekul. Alcohol lebih polar disbanding
hidrokarbon, dan alcohol merupakan pelarut yang baik untuk molekul polar.
3. Penggunaan dan bahaya alcohol
Alcohol yang sering digunakan seebagai pelarut adalah jenis methanol, etanol dan
isopropanol. Methanol digunakan sebagai pelarut dalam cat, bahan anti beku dan
senyawa kimia lainnya. Sedangkan etanol banyak digunakan sebagai pelarut,
antiseptic, campuran obat batuk, anggur obat, bahan minuman keras dan minuman
lain yang mengandung alcohol.
Selama ini, stigma yang berkembang di masyarakat adalah alcohol yang merusak
tubuh. Agaknya pandangan seperti itu harus diluruskan. Pasalnya, pada dosis yang
rendah (tidak memabukkan), alcohol justru mengguntukan bagi tubuh. Beberpa hasil
studi melaporkan bahwa konsumsi alcohol mampu menurunkan serangan jantung,
stroke, dan mencegah kemungkinan munculnya serangan Alzheimer.
Kendati alcohol dalam dosis yang rendah bermanfaat bagi tubuh, namun alcohol
juga bersifat racun. Ada dua jenis alcohol yang bersifat racun yaitu etil alcohol atau
etanol dan metal alcohol atau methanol. Etil alcohol terdapat dalam minuman alcohol
dan obat yang diolah (larutan alcohol), keracunan ini ditandai dengan mabuk,
perubahan emosi yang mendadak, mual, muntah, tidak sadarkan diri bahkan

meninggal akibat lumpuhnya alat pernapasan. Metal alcohol biasanya digunakan


sebagai campuran cat, bahan pengencer, penghancur dan pemberi panas pada
makanan yang dikalengkan. Gejala yang ditimbulkan pada keracunan alcohol etil
hampir sama dngan keracunan etil alcohol. Hanya saja penderita biasanya mengalami
kebutaan akibat adanya pengrusakan saraf mata.
Pada umumnya, konsumsi alcohol merusak semua organ tubuh secara berangsurangsur akibat penggunaannya, dapat menyebabkan peradangan hati (liver chirrhosis),
menyebabakan pendarahan dalam perut (maag), penyakit jantung (cardiomyopathy),
hormone seks, dan system kekebalan tubuh. Pengaruhnya terhadap otak dapat secara
akut (intoksisasi, delirium) atau kronis (ataxia, pepula, koordinasi motorik).
Saat keadaan normal, di dalam otak terdapat control inhibitorik, yang akan
mencegah kita untuk tidak melakukan hal yang memalukan atau hal yang keliru.
Segala jenis obat-obatan terlarang yang bersifat supresif, termasuk alcohol, akan
menghambat jalan saraf otak dan menghilankan hambatan tersebut. Kemampuan
untuk membuat penilaian, melindungi tubuh dan kehormatan, kualitas kemanusiaan
akan berada di bawah pengaruh obat-obatan terlarang.
4. Alcohol dalam campuran
Berdasarkan ketentuan Standar Industri Indonesia (SII) dari departemen
perindustrian RI, minuman berkadar alcohol dibawah 20% tidak tergolong minuman
keras tapi juga bukan minuman ringan. Sedangakan dalam peraturan Menteri
Kesehatan RI No. 86/Men.Kes/Per/IV/1977 tanggal 29 april 1977 yang mengatur
produksi dan peredaran minuman keras, yang dimaksud dengan minuman keras
adalah semua jenis minuman beralkohol, tetapi bukan obat yang meliputi 3 golongan
sebagai berikut :
a. Golongan A (Bir), dengan kadar etanol 1% sampai dengan 5%. Golongan
ini dapat menyebabkan mabuk emosional dan bicara tidak jelas.
b. Golongan B (Champagne, Wine), dengan kadar etanol 5% sampai dengan
20%. Golongan ini dapat menyebabkan gangguan penglihatan, kehilangan
sesorik, ataksia, dan waktu reaksi yang lambat.
c. Golongan C (Wiski), dengan kadar etanol lebih dari 20 sampai 50%.
Golongan ini dapat menyebabkan gejala ataksia parah, penglihatan ganda
atau kabur, pingsan dan kadang terjadi konvulsi.
Alkohol banyak digunakan sebagai campuran, untuk makanan, minuman, dan
obat-obatan ada yang berpendapat bahwa alkohol boleh digunakan selama kadarnya
kurang dari satu persen.
5. Halal Haram Kandungan Alkohol

Halal secara etimologi berasal dari kata halla-yahullu-hallan wa halalan wa


hulalan yang berarti melepaskan, menguraikan, membubarkan, memecahkan,
membebaskan, dan membolehkan. Sedangkan secara terminologi, kata halal
mempunyai arti hal-hal yang boleh dan dapat dilakukan karena bebas atau tidak
terikat dengan ketentuan-ketentuan yang melarangnya. Atau segala sesuatu yang
bebas dari bahaya duniawi dan ukhrawi.
Dalam Al-Quran kata halal disebutkan untuk menjelaskan beberapa
permasalahan seperti muamalah, kekeluargaan, perkawinan, dan terkait dengan
masalah makanan atau rezeki. Namun demikian, kata halal tersebut lebih banyak
digunakan dalam menerangkan masalah makanan, minuman, dan rezeki. Seperti yang
tertera dalam Surat Al-Baqarah: 168.
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi,
dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu
adalah musuh yang nyata bagimu
Jadi halal secara umum berarti boleh. Pada kasus makanan, kebanyakan
makanan termasuk halal kecuali secara khusus disebutkan dalam Al-Quran dan
hadist. Sedangkan haram adalah sesuatu yang Allah SWT melarang untuk dilakukan
dengan larangan yang tegas. Setiap orang menentangnya akan berhadapan dengan
siksaan Allah di akhirat. Bahkan akan terancam sanksi syariah di dunia ini.
Adapun prinsip-prinsip tentang hokum halal dan haram sebagai berikut:
a) Pada dasarnya segala sesuatu halal hukumnya.
b) Pengahalalan dan penghalaman hanyalah wewenang Allah SWT semata.
c) Mengharamkan yang halal dan menghalal yang haram termasuk perilaku
syirik kepada Allah SWT
d) Sesuatu yang diharamkan karena ia buruk dan berbahaya.
e) Pada sesuatu yang hallal sudah terdapat sesuatu yang dengannya tidak lagi
f)
g)
h)
i)

membutuhkan yang haram.


Susuatu yang mengantarkan kepada yang haram maka haram pula hukumnya.
Menyiasati yang haram, haram hukumnya.
Niat baik tidak menghapuskan hokum haram
Hati-hati terhadap yang syubhat agar tidak jatuh kedalam yang haram.

Haram adalah lawan dari halal, yaitu suatu istilah dalam ilmu yang berhubungan
dengan ketentuan hukum, yaitu sesuatu atau perkara-perkara yang dilarang oleh
syara. Berdosa jika mengerjakannya dan berpahala jika meninggalkannya, terhadap
sesuatu atau barang-barang yang haram, baik haramnya itu bendanya, zatnya,atau
hasil dari yang haram juga setiap muslim dianjurkan untuk menjauhinya.

Benda-benda yang dianggap haram secara umum dikelompokkan menjadi dua


yaitu, haram karena zatnya dan haram karena cara memperolehnya. Benda yang
haram karena zatnya seperti dalam Al-Quran Surat Al-Maidah ayat 3 dan Surat AlBaqarah ayat 173 yaitu bangkai, khamer, daging babi, dan binatang yang disembelih
bukan karena Allah. Semuanya dilarang untuk dimakan baik sedikit maupun banyak,
kecuali dalam keadaan yang sangat mendesak saja, yaitu ketika seseorang akan mati
jika tidak memakannya dan tidak ada makanan lain disekitarnya.
Khamer atau minuman yang mengandung alkohol sehingga berbahaya bagi
tubuh manusia karena dapat merusak akal, karena itu khamer harus ditinggalkan.
Minuman keras (minuman yang mengandung alkohol) menyebabkan system kerja
organ otak dalam diri manusia menurun sebagaimana yang terjadi bila menggunakan
obat bius. Akan tetapi, Syaukani mengatakan bahwa alkohol itu suci. Karena Allah
tidak pernah mengharamkan alkohol dalam Al-Quran seperti bangkai, daging babi,
dan darah. Hal inilah yang rajah (terkuat) karena alkohol bukan bangkai, bukan dari
bangkai, bukan daging babi dan bukan darah. Alkohol itu juga bukanlah khamer yang
sebenarnya dan tidak ada suatu nas pun yang mengatakan alkohol itu najis. Jika
ditinjau dari segi zatnya, alkohol terbagi menjadi dua yaitu alkohol sintesis (alkohol
dibuat di pabrik)dan alkohol hasil fermentasi. Alkohol fermentasi inilah yang disebut
khamer, yang secara hokum haram dan najis. Sedangkan alkohol sintesis
dinyatakansuci meskipun haram jika di konsumsi karena memiliki sifat dan karakter
yang sama dengan alkohol fermentasi.
C. Penggunaan Alkohol Menurut Islam
Dari penjelasan sebelumnya pada point A dan point B dapat bahwa elixir
adalah sedian obat yang mengandung alkohol lalu bagaiman Islam memandangnya
dan bagaiman hokum mengonsumsi obat tersebut. Pada dasarnya segala bentuk
pengobatan dibolehkan, kecuali jika mengandung hal-hal yang najis atau yang
diharamkan syariah. Untuk obat-obatn yang mengandung alkohol, selama
kandungannya tidak banyak serta tisak memabukkan, maka hukumnya boleh. Adapun
dasar dari penetapan hokum ini adalah sebagai berikut :
1. Bahwa yang menjadi illah (alasan) pengharaman khomr adalah karena
memabukkan. Jika alasan ini hilang, maka pengharamannya pun hilang. Ini sesuai
dengan kaedah ushul fiqh :

Suatu hokum itu akan mengikuti keberadaan illah (alasannya, kalau illahnya
ada, maka hokum itu ada, jika illah tidak ada maka hukumnya pun tidak ada
2. Alkohol dalam obat tersebut sudah hancur menjadi satu dengan materi yang lain,
sehingga cirri fisiknya menjadi hilang secara nyata. Para ulama menyebutnya
isthilak, yaitu bercampurnya benda najis atau haram dengan benda lainnya yang
suci atau halal yang jumlahnya lebih banyak sehingga menghilangkan sifat najis
dan keharaman benda yang najis tersebut.
Hal ini berdasarkan hadist Rasullulah shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau
bersabda :


Jika air telah mencapai dua qullah, maka tidak mungkin dipengaruhi kotoran
(najis) (Hadist Shahih Riwayat Daruquthni, Darimi, Hakim, dan Baihaqi).

3. Dalam suatu hadist disebutkan bahwa Rasulullah shallahu alaihi wassalam


bersabda :


Sesuatu yang apabila banyaknya memabukkan, maka meminum sedikitnya
dinilai haram (Hadist Shahih Riwayat Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).
Maksud dari hadist tersebut adalah apabila sesuatu tersebut diharamkan walaupun
dikonsumsi dalam jumlah yang sedikit. Seperti khomr jika diminum dalam jumlah
yang banyak akan memabukkan, maka setetes khomr murni (tanpa campuran)
diharamkan untuk diminum, walaupun jumlahnya sedikit dan tidak memabukkan.
Lain halnya dengan air dalam suatu benjana dan diberi setetes khomr yang tidak
mempengaruhi air tersebut, baik dari segi warna, rasa, maupun sifat, dan dia tidak
memabukkan, maka minum air yang ada campuran setetes khomr itu dibolehkan.
Adapun perbedaan antara keduanya : setetes khomr yang pertama haram karena
murni khomr, dan seseorang jika mengonsumsi setetes khomr tersebut dikatakan
dia minum khomr. Adapun setetes khomr kedua tidak haram, karena sudah
dicampur dengan zat lain yang suci dan halal, serta tidak mempengaruhi zat itu,
maka halal. Dan seseorang jika meminum air dalam benjana yang ada campuran

setets khomr, akan dikatakan dia meminum air dari benjana dan tidak dikatakan
dia minnum khomr dari benjana. Hokum ini berlaku bagi obat yang ada campuran
dengan alkohol.
4. Bahwa alkohol tidaklah identik dengan khomr. Tidak setiap khomr itu alkohol,
karena disana ada zat-zat lain yang membukkan selain alkohol. Begitu juga
sebaliknya tidaklah setiap alkohol itu khomr. Menurut sebagian kalangan bahwa
jenis alkohol yang bisa memabukkan adalah jenis etil alkohol atau etanol. Begitu
juga khomr yang diharamkan pada zaman nabi Muhammad SAW bukanlah
alkohol tapi dari jenis lain.
5. Menurut sebagian ulama bahwa khomr tidaklah najis secar lahir, tetapi najis
secara maknawi, artinya bukanlah termasuk benda najis, seperti benda-benda
lainnya secara umum. Sehingga alkohol boleh dipakai unutk pengobatan luar.
6. Suatu minuman atau makanan dikatakan memabukkan jika memenuhi dua
kriteria, yaitu :
a. Minuman atau makanan itu menutupi akal
b. Yang

meminum

atau

yang

memakannya

merasakan

nikmat

ketika

mengonsumsi makanan atau minuman tersebut, bahkan sangat menikmatinya


serta merasakan senang dan gembira yang tiada taranya.

BAB III PENUTUP

Dari pembahasan di atas, bisa disimpulkan bahwa alkohol yang digunakan untuk
obat-obatan jika dipakai untuk obat luar, maka hukumnya boleh selama hal itu membawa
manfaat bagi yang berobat dan menurut sebagian ulama bahwa alkohol tidaklah najis
Adapun jika dipakai untuk obat dalam dan dikomsumsi(dimakan atau diminum),
maka hukumnya dirinci terlebih dahulu : jika obat tersebut diminum dalam jumlah yang
banyak akan memabukkan, maka hukumnya haram mengkonsumsi obat yang mengandung
alkohol tersebut, tetapi jika tidak memabukkan, maka hukumnya boleh.
Walaupun demikian dianjurkan setiap muslin untuk menghindari obat-obatan yang
beralkohol, karena berpengaruh buruk untuk kesehatan. Wallahu Alam

DAFTAR PUSTAKA

1. DirJen POM DepKes RI, Farmakope Indonesia Ed. III (Jakarta, DepKes RI:1979),
hlm. 65.
2. DirJen POM DepKes RI, Farmakope Indonesia Ed. IV (Jakarta, DepKes RI:1995),
hlm. 63.
3. A. Syamsuni, Ilmu Resep (Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC:2007), hlm. 103.
4. http://rumaysho.com/922-polemik-alkohol-dalam-obat-obatan.html Diakses pada
tanggal 30 September 2015 pukul 23:50 WIB.
5. http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/info-halal/08/12/30/23358-alkoholdalam-obat-batuk Diakses pada tanggal 30 September 2015 pukul 23:56 WIB.
6. http://eprints.walisongo.ac.id/4178/3/103711008_bab2.pdf Diakses pada tanggal 01
Oktober 2015 pukul 00:01 WIB.
7. https://www.academia.edu/10138969/teori_sediaan_eliksir Diakses pada tanggal 02
Oktober pikul 09:13 WIB.