You are on page 1of 6

Optimasi Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Angin

Menggunakan Maximum Power Point Tracker


(MPPT) dengan Metode Gradient Approximation
Dzulfiqar Rais Mushthafa, Prof. Dr. Ir. Mochamad Ashari, M.Eng, Vita Lystianingrum, ST, M.Sc
Jurusan Teknik Elektro FTI-ITS
AbstrakDalam Tugas Akhir ini dilakukan studi tentang
turbin angin sistem mandiri (stand-alone) serta dibahas
mengenai pemodelan terhadap pelacakan titik daya maksimum
dengan menggunakan MPPT (Maximum Power Point Tracker)
dengan metode gradient approximation. Metode tersebut bekerja
dengan mengukur tegangan dan arus pada beban, kemudian
merubah besar duty cycle pada konverter DC-DC untuk
mendapatkan daya maksimal. Untuk mendapatkan tegangan
output AC dipergunakan single phase full bridge inverter. Dari
hasil simulasi menunjukkan perbandingan daya rata-rata tanpa
MPPT dengan daya maksimum = 79.408% dan perbandingan
daya rata-rata menggunakan MPPT dengan daya maksimum =
94.5%. Dapat disimpulkan bahwa turbin angin yang
menggunakan MPPT memiliki daya rata-rata yang lebih besar
daripada tidak menggunakan MPPT.
Kata kunci: Turbin Angin, MPPT, Stand-alone.

I.

mengukur kcepatan angin, kemudian kita mendapatkan


kecepatan rotor yang optimal sehingga bisa didapatkan daya
yang optimal. Pada tugas akhir ini digunakan metode gradient
approximation yaitu mengukur tegangan dan arus pada beban,
kemudian merubah duty cycle pada converter dengan
membandingkan daya output sekarang dengan daya output
sebelumnya. Dengan metode tersebut beban optimal mampu
dicapai.

II.

KARAKTERISTIK TURBIN ANGIN

Karakteristik dari turbin angin dapat dilihat dari kurva


hubungan antara kecepatan rotor dengan daya yang dihasilkan
( -P) dan kurva hubungan kecepatan angin dengan daya.

PENDAHULUAN

embangkit Listrik Tenaga Angin sebagai salah satu


penghasil energi listrik mengalami perkembangan yang
cukup pesat. Hal ini disebabkan karena kelebihankelebihan yang dimiliki oleh pembangkit tersebut, seperti
ramah lingkungan, bebas polusi dan merupakan penghasil
energi listrik yang dapat diperbaharui. Seiring dengan
perkembangan semikonduktor dan elektronika daya maka
Pembangkit Listrik Tenaga Angin juga semakin banyak
digunakan dalam sistem tenaga. Pada tahun 2006, di Eropa,
negara yang mempunyai kapasitas total generator tenaga angin
terbesar adalah Jerman dengan 20621 MW. Spanyol dan
Amerika Serikat di urutan kedua dan ketiga dengan lebih dari
11603 MW. Berdasarkan data GWEC (Global Wind Energy
Council), pertumbuhan pembangunan generator tenaga angin
sebesar 32 % dari tahun 2005 [1].
Pembangkit listrik tenaga angin sangat sesuai untuk negara
kepulauan seperti di Indonesia. Pembangkit listrik tenaga
angin mampu dibangun di daerah-daerah yang tidak
terjangkau listrik karena jauh dari pusat pembangkit, sehingga
rasio elektrifikasi mampu meningkat. Namun perlu diketahui
bahwa efisiensi dari pembangkit listrik tenaga angin sesuai
dengan the Betz Law tidak lebih dari 59 %, oleh karena itu
perlu dilakukan optimasi. Sehingga efisiensi dari pembangkit
listrik tenaga angin mampu mendekati 59 %.
Banyak metode untuk mengoptimalkan daya output dari
turbin angin. Bisa dengan mengukur kecepatan putar rotor
generator, kemudian output yang optimal dihitung lalu
dibandingkan dengan output nyatanya. Bisa juga dengan

Gambar. 1. Kurva hubungan kecepatan rotor dengan daya pada


kecepatan angin yang bervariasi

Dari Gambar. 1 juga dapat dilihat bahwa daya maksimal


yang dihasilkan setiap kecepatan angin berbeda.
Daya yang ditangkap oleh turbin angin adalah fungsi
dari bentuk dari baling-baling, pitch angle, diameter balingbaling dan kecepatan rotasi rotor.
1
= (, ) 2 3
2
Dimana

= kerapatan udara (biasanya 1.22 kg/m3)


= tip-speed ratio
= pitch angle (dalam derajat)
= koefisien daya dari wind turbine

(1)

= diameter baling-baling (dalam meter)


= kecepatan angin (dalam m/s)

Persamaan dari didefinisikan sebagai

(2)

Dimana adalah kecepatan rotor dari turbin angin dengan


satuan (rad/s), dan didapat dari persamaan
5
2
3 4 + 6

1
1
0.035
=
3
+ 0.08 + 1

(6)

Sedangkan untuk besarnya nilai kapasitor kita gunakan


persamaan :

, = 1

(1 )2

(3)

(7)

Inisialisasi variabel
program

(4)

Ukur V(k) dan I(k)


Nilai dari 1 hingga 6 tergantung dari karakteristik
turbin angin.
Hitung daya P(k)
III. MAXIMUM POWER POINT TRACKER
Untuk memodelkan suatu pembangkit listrik tenaga
angin, akan dengan digabungkan semua komponen meliputi
turbin angin, permanent-magnet synchronous generator,
rectifier, konverter DC-DC, Inverter, dan beban serta
ditambah dengan pemasangan baterai dengan tipe lead acid.
Pada rangkaian komponen tersebut akan ditambahkan MPPT
yang dihubingkan dengan konverter DC-DC. Maximum Power
Point Tracker (MPPT) digunakan untuk mendapatkan nilai
daya yang optimal sehingga didapat daya keluaran yang
maksimal dari suatu turbin angin. Flowchart MPPT
ditunjukkan oleh gambar 3.
Konverter DC-DC yang digunakan adalah Buck-Boost
Converter. Buck-Boost Converter digunakan untuk menaikkan
dan menurunkan tegangan DC. Adapun gambar rangkaian dari
buck boost konverter diperlihatkan pada gambar 2.

P(k) > P(k-1)

Balik
tanda D

D(k+1) = D(k) + D

Gambar. 3. Flowchart MPPT

IV. SIMULASI DAN ANALISIS


Pertama kali akan dicari daya yang mampu dihasilkan oleh
turbin angin dengan mengalikan torsi dan kecepatan rotor pada
generator. Daya maksimal turbin angin ditunjukkan oleh
tabel1.
TABEL I
DAYA MAKSIMAL TURBIN ANGIN

Kecepatan
Angin (m/s)
3
4
5
6
7
8
9
10

Gambar. 2. Gambar Rangkaian Buck-Boost

Adapun persamaan yang digunakan untuk mencari besarnya


tegangan output :
=

(5)

Parameter komponen induktor yang digunakan diperoleh


melalui persamaan :

Daya
Maksimum (W)
128.8
305.3
597.5
1031
1639
2446
3484
4780

Kec Rotor
(rad/s)
140
196
238
280
336
378
434
476

Daya turbin angin (Watt)

6000

3 m/s
4 m/s
5 m/s
6 m/s
7 m/s
8 m/s
9 m/s
10 m/s

5000
4000
3000
2000
1000
0
0

10

20

30

Analisis yang dilakukan adalah membandingkan daya


output yang dihasilkan saat menggunakan MPPT dan tanpa
menggunakan MPPT. Perbandingan tersebut dilakukan
dengan kecepatan angin serta beban yang bervariasi. Gambar
dari rangkaian MPPT ditunjukkan pada gambar 6.

40

Kec rotor (rad/s)


Gambar. 4. Daya maksimal turbin angin setiap kecepatan angin dibanding
kecepatan rotor.

Untuk paremeter komponen konverter DC-DC adalah L =


0.0005 dan C = 0.0125. Pengujian efisiensi dari konverter
ditunjukkan oleh gambar 5. Dapat dilihat bahwa efisiensi
konverter rata-rata diatas 92%.

Gambar. 7. Turbin Angin Dihubungkan dengan Beban Bervariasi tanpa


MPPT

100

Efisiensi (%)

80
Vin 100 V

60

Vin 200 V
40

Vin 300 V

Gambar. 8. Turbin Angin Dihubungkan dengan Beban Bervariasi dengan


MPPT

20
0
0

5000

10000

P out (Watt)

15000

Pengujian ini dilakukan dengan menghubungkan turbin


angin dengan hambatan yang nilainya berubah dari 10 ohm
sampai 300 ohm. Pengujian dan analisis dilakukan pada lima
kecepatan angin, yaitu 3m/s, 5m/s, 7m/s, 9m/s, dan 10m/s.

Gambar. 5. Efisiensi Buck-Boost Converter

Daya (watt)

2000
1500
1000
tanpa MPPT
dengan MPPT

500
0
0

100

200
R (ohm)

300

400

Gambar. 9. Daya output dengan nilai hambatan 10-300 ohm saat kecepatan
angin 7 m/s

Daya (watt)

4000
3000
2000
tanpa MPPT
dengan MPPT

1000
0
0

Gambar. 6. Rangkaian MPPT pada Simulink

200
300
400
R (ohm)
Gambar. 10. Daya output dengan nilai hambatan 10-300 ohm saat kecepatan
angin 9 m/s

100

Setelah kita mendapatkan daya output dengan beban


yang bervariasi dari 10 ohm hingga 300 ohm pada kecepatan
angin yang bermacam-macam, maka kita bisa mendapatkan
daya output rata-rata yang dihasilkan saat menggunakan
MPPT dan tanpa menggunakan MPPT.

5000
Daya (watt)

4000
3000
2000
tanpa MPPT
dengan MPPT

1000
0
0

100

200
300
400
R (ohm)
Gambar. 11. Daya output dengan nilai hambatan 10-300 ohm saat kecepatan
angin 10 m/s

TABEL V
DAYA OUTPUT RATA-RATA YANG DIHASILKAN MENGGUNAKAN
MPPT DAN TANPA MPPT, DIBANDINGKAN DAYA MAKSIMAL

TABEL II
DAYA BEBAN TANPA MPPT DAN MENGGUNAKAN MPPT UNTUK
KECEPATAN ANGIN 7 M/S

Daya
R
10
50
100
150
155
200
300

Tanpa
MPPT
2.668
12.14
23.58
35.5
1401
1137
882

Dengan
MPPT
9.674
1359
1375
1398
1394
1373
1331

Duty
Cycle

Vdc
Output
Konverter
(V)

0.33
0.45
0.53
0.57
0.57
0.6
0.65

9.823
269.2
377
456.6
464.7
523.9
631.7

Kec
angin

Daya
Max

Tanpa
MPPT
(W)

Dengan
MPPT
(W)

Tanpa
MPPT
(%)

Dengan
MPPT
(%)

85.59

68.549

79.633

80.09%

93.04%

566.5

466.796

538.76

82.4%

95.1%

1401

1140

1366

81.37%

97.5%

3266

2512

3025.38

76.9%

92.63%

10

4380

3341.8

4131.6

76.28%

94.32%

Nilai prosentase dari kolom ke-5 dan ke-6 tabel diatas


didapatkan dengan membandingkan nilai daya output tanpa
MPPT dan dengan MPPT dibanding daya maksimal pada tiap
kecepatan saat pembebanan optimum.
Berikut ditampilkan kondisi dari daya output dari turbin
angin saat menggunakan MPPT dan tanpa MPPT dengan
kecepatan angin yang berubah-ubah serta beban yang berubah
ubah dalam suatu kondisi waktu tertentu.

TABEL III
DAYA BEBAN TANPA MPPT DAN MENGGUNAKAN MPPT UNTUK
KECEPATAN ANGIN 9 M/S

Daya
R
10
30
40
50
100
200
300

Tanpa
MPPT
6.907
20.22
2762
3266
2927
2049
1557

Dengan
MPPT
3120.2
3138
3122.7
3117.2
3056
2959
2872

Duty
Cycle

Vdc
Output
Konverter
(V)

0.3
0.42
0.46
0.48
0.57
0.64
0.69

176.6
306.3
353.42
395.3
552.4
769.1
928.1

dengan MPPT

tanpa MPPT

Gambar. 12. Daya output dengan dan tanpa menggunakan MPPT dengan
nilai hambatan bervariasi dan kecepatan angin 7 m/s

TABEL IV
DAYA BEBAN TANPA MPPT DAN MENGGUNAKAN MPPT UNTUK
KECEPATAN ANGIN 10 M/S

Daya
R
10
20
35
40
100
200
300

Tanpa
MPPT
10.49
20.66
3956
4380
3798
2607
1968

Dengan
MPPT
4242
4307
4301
4112
4198
4079
3968

Duty
Cycle

Vdc
Output
Konverter
(V)

0.32
0.39
0.46
0.5
0.59
0.66
0.7

205.6
293.6
387.9
405.4
647.7
903
1091

dengan MPPT
tanpa MPPT

Gambar. 13. Daya output dengan dan tanpa menggunakan MPPT dengan
nilai hambatan 100 ohm dan kecepatan angin 7m/s - 10m/s

Gambar. 14. Rangkaian Pembangkit Listrik Tenaga Angin Menggunakan Simulink

Pengujian kali ini digunakan kecepatan angin yang


berubah-ubah seperti pada gambar 15. Beban yang digunakan
juga berubah-ubah, sehingga kita mampu mengetahui
kemampuan dari rangkaian MPPT untuk mengikuti perubahan
kecepatan angin dan beban.

dengan tidak menggunakan MPPT, kemudian hasil dari


inverter haruslah tegangan yang konstan dengan Vrms = 220V
seiring perubahan beban. Pada pengujian ini digunakan
kecepatan angin dan beban yang berubah-ubah seiring
berubahnya waktu.

Gambar. 15. Kecepatan angin dengan satuan m/s


Gambar. 17. Kecepatan Angin yang Digunakan

dengan MPPT
tanpa MPPT

Gambar. 16. Daya output turbin angin dengan beban dan kecepatan angin
berubah-ubah

Pengujian diatas adalah pengujian daya output turbin angin


dengan beban DC tanpa terhubung ke inverter. Pada pengujian
kali ini dilakukan dengan menggabungkan semua komponen
dari pembangkit listrik tenaga angin, yakni dari turbin angin,
generator, rectifier, konverter DC-DC, Inverter, dan beban
serta ditambah dengan pemasangan baterai. Dalam pengujian
ini dianalisa apa manfaat dari pemasangan MPPT dibanding

Gambar. 18. Tegangan pada Beban

Tegangan dan arus output pada inverter berbentuk


sinusoidal seperti ditunjukkan pada gambar 18 dan gambar 19.
Sedangkan pada gambar 20 dan gambar 21 menunjukkan
perbandingan pengisian baterai saat menggunakan MPPT dan
tanpa menggunakan MPPT.
5

perbandingan daya rata-rata tanpa MPPT = 79.408 % dan


perbandingan daya rata-rata menggunakan MPPT = 94.5 %.

DAFTAR PUSTAKA
[1]

[2]
[3]
Gambar. 19. Arus pada Beban

[4]

[5]
[6]
[7]
[8]

Gambar. 20. SOC dari baterai saat tidak menggunakan MPPT

[9]

Z.Chen, F.Blaabjerg. Wind farm-A power source in future


power systems. Elsevier Renewable and Sustainable Energy
Reviews 13 (2009) 12881300. 2009
Rashid M.H, Power Electronics Handbook, Academic Press,
2001.
Ying-Yi Hong, Shiue-Der Lu, Ching-Sheng Chiou. MPPT for
PM wind generator using gradient approximation. Elsevier
Conversion and Management 50 (2009) 82-89. 2009
Koutroulis, Eftichious. Kalaitzakis, Kostas. 2006. Design of a
Maximum Power Point Tracking System for Wind-EnergyConversier Applications. IEEE Transactions on Industrial
Electronics, vol.53 (2006) 02780046.
Masters, Gilbert M.. Renewable &Efficient Electric *ower
System. Wiley Interscience.London.2004
Mochamad Ashari. Diktat Kuliah Elektronika Daya, Jurusan
Teknik Elektro FTI-ITS. 2006
Mahmudsyah, Syarifuddin, Modul Kuliah Audit Energi,
Surabaya. 2008
Kurniawan,
Aries
Pratama.Optimalisasi
Sel
Surya
menggunakan Maximum Power Point Tracker (MPPT) Sebagai
Catu Daya Base Tranceiver Station (BTS).Jurusan Teknik
Elektro Fakultas Teknologi Industri, ITS. 2010
Zhang ,Jianzhong. Cheng, Ming. Chen, Zhe. Fu, Xiaofan.
Pitch Angle Control for Variable Speed Wind Turbines,
Nanjing. 2009

RIWAYAT HIDUP

Gambar. 21. SOC dari baterai saat menggunakan MPPT

V.

KESIMPULAN

Metode Gradient approximation yang digunakan untuk


optimasi turbin angin yang digunakan pada tugas akhir ini
mempunyai beberapa keuntungan yaitu: 1) tidak diperlukan
untuk mengetahui karakteristik daya output dari turbin angin
(karakteristik turbin angin), 2) tidak diperlukannya sensor
kecepatan angin dan kecepatan rotor dari generator sehingga
biaya yang diperlukan lebih murah dan 3) MPPT dengan
metode ini mampu bekerja mengikuti perubahan beban dan
kecepatan angin.
Dari hasil simulasi, diketahui bahwa turbin angin dapat
digunakan sebagai catu daya yang berdiri sendiri dengan
dilengkapi baterai sebagai backup turbin angin. Didapatkan
kenaikan rata-rata daya turbin angin jika menggunakan MPPT
dibanding dengan tidak menggunakan MPPT pada beban yang
besar adalah 179% dan dilihat dari perbandingan daya,

Dzulfiqar Rais Mushthafa, lahir di


Surabaya pada tanggal 7 Februari 1991.
Merupakan anak pertama dari dua
bersaudara. Memulai pendidikannya di TK
Cahaya Muda Surabaya, kemudian
melanjutkan ke tingkat dasar di SDN
Lidah Kulon II Surabaya. Setelah lulus
tingkat dasar, melanjutkan ke tingkat
menengah pertama di SMPN 1 Surabaya
dengan masuk ke kelas akselerasi. Dua
tahun kemudian melanjutkan ke SMAN 9
Surabaya. Setelah lulus dari bangku sekolah, kemudian melanjutkan
ke bangku perguruan tinggi di Jurusan Teknik Elektro ITS Surabaya
pada tahun 2007 dan kemudian mengambil bidang studi Teknik
Sistem Tenaga. Semasa kuliah, penulis juga aktif dalam organisasi
kemahasiswaan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknologi
Industri ITS (BEM FTI ITS) selama dua tahun (2008-2010) dan juga
sebagai Asisten Laboratorium Instrumentasi, Pengukuran dan
Identifikasi Sistem Tenaga (2010-2011).