You are on page 1of 11

Literatur Buku 1

Judul
: Pengantar Filsafat
Karangan
: Drs.H. Burhanuddin salam
Tahun terbit : 2005
Penerbit
: Bumi Aksara
Halaman
: Halaman 38-41

Sikap Ilmiah
Sikap ilmiah adalah pandangan seseorang terhadap cara berfikir yang
sesuai dengan metode ilmiah, sehingga timbulah kecenderungan untuk menerima
atau menolak terhadap cara berfikir yang sesuai dengan keilmuan tersebut.
Seorang ilmuan jelas harus memiliki sikap yang positif atau kecenderungan untuk
menerima cara berfikir yang sesuai dengan metode keilmuan yang
dimanifestasikan didalam kognisinya,emosi,atau perasaannya serta di dalam
perilakunya.
Ada beberapa sikap ilmiah yang perlu dimiliki oleh seorang ilmuan seperti
yang dikemukakan oleh Prof. Drs Harsojo sebagai berikut:
1. Objektivitas
2. Sikap relatif
3. Sikap skeptif
4. Kesabaran intelektual
5. Kesederhanaan
6. Sikap tidak memihak secara etik
Pengertian dari keenam sikap ilmiah tersebut adalah:
1. Objektivitas
Seorang ilmuan harus memiliki sikap objektif artinya bahwa ia
harus berfikir sesuai dengan objeknya melalui peristiwa atau bendabenda yang memang dipelajari dan diselidiki. Seorang ilmuan berfikir
objektif akan menjauhkan penilaian yang subjektif yang dipengaruhi nilai
nilai kedirian,keinginan,harapan,serta dorongan pribadinya.
Begitu pula dengan kesimpulan dari hasil penelitian akan bersifat
obyektif apabila hasil penelitian tersebut tidak dipengaruhi oleh:
pandangan hidup,ras,agama,kebudayaan, dan faktor faktor politik.
Sikap obyektif dalam ilmu sosial akan lebih sulit dibandingkan
ilmu kealaman. Ilmu-ilmu sosial yang menjadi lapangan penelitiannya
adalah manusia yang menyangkut obyek-obyek,peristiwa-peristiwa,serta
masalah-masalah sosial lainnya yang banyak menyangkut masalah
pribadi,masalah status,masalah kelangsungan hidup,keselamatan hidup
pribadi, dan lain sebagainya. Karena itu penguasaan emosi merupakan
faktor utama dalam penelitian ilmu ilmu sosial.
Contoh: pada saat suatu ilmuan sedang mencari suatu sifat larutan asam
atau basa,pada kehidupan sehari hari mereka mulai mengidentifikasi
suatu bahan makanan (cuka,deterjen,jeruk,dll) dan ilmuan tersebut
akhirnya dapat menyimpulkan suatu bahan itu bersifat asam atau basa
1

tanpa dipengaruhi oleh apapun dan oleh siapapun karena sudah ditinjau
dari objek yang telah diamati.
2. Sikap Relatif
Lawan dari relatif adalah mutlak dan abadi. Sikap relatif adalah
suatu keharusan dalam ilmu, karena ilmu hanya berhubungan dengan
dunia fenomena yang penuh dengan perubahan selalu mengalami
perkembangan. Ilmu tidak mencoba mencari sesuatu yang mutlak. Yang
mutlak bukan lapangan ilmu itu dipelajari pada filsafat yang pada akhirnya
akan bermuara kepada agama. Hal ini tidak berarti bahwa ilmu harus
dipisahkan dari filsafat apalagi dari agama.
Dalam ilmu tidak mengenal kemutlakan artinya ilmu yang
dihasilkan oleh ilmu sekarang,dapat digugurkan oleh hasil penemuan
penemuan barunya. Apalagi dalam ilmu ilmu sosial sangat rawan kalau
sampai pada pengertian mutlak. Suatu penemuan dapat diterapkan di Jawa
barat tapi belum tentu dapat diterapkan di Sulawesi, apalagi diluar
indonesia.
Contoh: pada saat mempelajari tentang teori atom,dulunya atom
ditemukan oleh Dalton yang awalnya digambarkan sebagai bola
pejal,kemudian berkembang lagi dengan penemuan Thomson Dan
Ruterford dan hingga sekarang adalah penemuan atom Bohr dan pada
akhirnya berkembang teori atom modern. Disini dapat dilihat suatu teori
atom yang berbeda antara ilmuan yang satu dengan yang lain,sehingga
seorang ilmuan itu harus memilik sikap ketidak mutlakan pada hasil
penemuan karena semua yang telah ditemukan belum tentu bisa diterapkan
pada penemuan yang lain dan tidak dapat dipadukan antara yang satu
dengan yang lain.
3. Sikap Skeptis
Artinya memiliki pandangan yang ragu-ragu terhadap suatu ide.
Menurut Rene Descartes keraguan itu tidak hanya pada masalah-masalah
yang belum cukup kuat dasar pembuktiannya bahkan kepada ide atau
yang telah kita milikipun harus ragu-ragu. Maka karena itu ilmuwan
berhubungan dengan sikap skeptif ini,dia harus hati-hati dan teliti dalam
mengambil keputusan akhir dalam memberikan pernyataan dan penilaian
ilmiah.
Dengan keraguan ini seorang ilmuan akan lebih bersikap kritis
terhadap sesuatu atau peristiwa,tidak mudah untuk mengikatkan dalam
suatu paham atau politik tertentu.
Contoh: seorang ilmuan harus memiliki sikap ini,seperti halnya ada
pernyataan bahwa indikator alam itu bermacam-macam seperti bunga
sepatu dan kunyit,maka dari itu perlu diragukan terlebih dahulu sebelum
melakukkan pengujian terhadap bahan alam tersebut dapat digunakan
sebagai indikator atau tidak.
4. Kesabaran Intelektual
Suatu penelitian ilmiah memerlukan kesabaran untuk
mengumumkan hasilnya tidak tergesa-gesa. Bekerja dalam ilmu harus
2

sistematis,teliti dan tekun. Hal ini jangan ada suatu kesimpulan yang
kontroversi.
Contoh: para ahli lemari es dengan hasil eksperimennya yang begitu lama
dan teliti menghasilkan tabung yang berisi freon,yang menurut sifatnya
refrigeran freon yang ada di pasaran (dalam lemari es) tidak beracun,tidak
korosif,tidak iritasi,tidak terbakar dalam semua keadaan penggunaan
(laporan laboratorium teknik kondisi lingkungan hidup ITB). Namun kita
dikejutkan dengan suatu laporan ilmiah juga (karena hasil penelitian
Laboratorium) bahwa suatu ledakan yang dapat menghancurkan 5
bangunan rumah dan menewaskan enam manusia berasal dari tabung
freon lemari es yang terbakar,apakah ini suatu penelitian yang tidak
seksama atau keputusan yang dipengaruhi emosi-emosi perlu kita uji
kembali.
Nah peristiwa diatas harus kita kembalikan bahwa tidak ada yang
mutlak dalam ilmu,jadi relatif ilmuan harus terbuka untuk mengadakan
penelitian kembali apakah betul freon bisa meledak atau tidak. Dan
disinilah diperlukan kesabaran intelektual.
5. Kesederhanaan
Kesederhanaan merupakan sikap ilmiah artinya sederhana dalam
cara berfikir,dalam cara menyatakan, dan dalam cara membuktikan.
Bahasa yang digunakan harus jernih,jelas dan terang,serta tidak
menggambarkan emosional peneliti yang sehingga tidak mengaburkan
hasil penelitiannya sendiri.
Contoh: dalam menjelaskan suatu penemuan harus dengan cara berfikir
yang sederhana,tidak melebar luas pada ranah yang tidak harus
dijelaskan,seperti halnya ditemukannya faktor pemicu laju reaksi ada luas
permukaan,katalis,suhu dan juga tekanan maka penjelasan dari masingmasing faktor tersebut harus tepat,seerhana, dan mudah dimengerti oleh
khalayak.
6. Tidak Memihak Kepada Etik
Telah dikemukakan bahwa etika berbeda dengan psikologi,
antropologi dan dan sosiologi. Bahwa ilmu tidak mengadakan penilaian
tentang baik dan buruknya sesuatu yang diteliti. Ilmu hanya mengajukan
diskripsi benar atau salah secara relatif. Namun pada akhirnya kalau
sampai kepada penggunaan hasil ilmu tadi tetapakan berhubungan dengan
etika tertentu.
Contoh: seorang ahli nuklir,suatu membuat bom nuklir tidak dipengaruhi
oleh nilai etika tertentu,semata-mata dibina oleh kaidah- kaidah teknik
akademis. Dalam hal ini dibina oleh pengetahuan teknis dalam ilmu fisika.
Dia tidak akan berhasil membuat bom atom seandainya dia
memperhitungkan nilai-nilai politik, religi, perhitungan psikologi,
sosiologi, dsb. Namun pada akhirnya kalau ditanyakan bagaimana
penggunaan bom atom itu,dia diharuskan mengambil sikap yang
mengandung penilaian etik atau religi. Harjoso (2005:38-40) dalam
salam

Literatur Buku 2
Judul
: Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia
Pengarang
: Drs. Surajiyo
Tahun terbit : cetakan kelima,2010
Penerbit
: Bumi Aksara
Halaman
: 152

Sikap Ilmiah Yang Harus Dimiliki Ilmuwan


Ilmu bukanlah merupakan pengetahuan yang datang demikian saja sebagai
barang yang sudah jadi dan datang dari dunia khayal. Akan tetapi ilmu merupakan
suatu cara berfikir yang demikian tentang suatu objek yang khas dengan
pendekatan yang khas pula sehingga menghasilkan suatu kesimpulan yang berupa
pengetahuan ilmiah. Ilmiah yang berarti sistem dan struktur ilmu dapat
dipertanggungjawabkan secara terbuka. Oleh karena itu dia terbuka untuk diuji
oleh siapapun.
Pengetahuan ilmu adalah pengetahuan yang ada didalam dirinya memiliki
karakteristik kritis,rasional,logis,objektif dan terbuka. Hal ini merupakan suatu
keharusan bagi seorang ilmuan untuk melakukkannya. Namun selain itu masalah
mendasar yang dihadapi ilmuan setelah membangun suatu bangunan kuat adalah
masalah kegunaan ilmu bagi kehidupan manusia. Memang tidak dapat disangkal
bahwa ilmu dapat membawa manusia kearah perubahan yang cukup besar. Akan
tetapi,dapatkah ilmu yang kokoh,kuat,dan mendasar itu menjadi penyelamat
manusia bukan sebaliknya. Disinilah letak tanggung jawab seorang ilmuan,moral
dan akhlak sangat diperlukan. Oleh karena itu penting bagi ilmuan memiliki sikap
ilmiah.
Manusia sebagai makhluk Tuhan bersama-sama dengan alam dan berada
di alam itu. Menusia akan menemukan pribadinya dan akan membudayakan
dirinya bilamana manusia hidup dalam hubungan dengan alamnya. Manusia yang
merupakan bagian alam. Manusia selalu terbiasa berintegrasi dengan alamnya.
Sesuai dengan matrabatnya,manusia merupakan bagian alam harus senantiasa
bagian dari alam itu. Dengan demikian,tampaklah antara manusia dengan alam itu
ada hubungan yang bersifat keharusan dan mutlak.Oleh sebab itu manusia harus
terus menjaga kelestarian alam dalam keseimbangannya yang bersifat mutlak.
Kewajiban ini merupakan kewajiban moral tidak saja sebagai manusia biasa
lebihlebih seorang ilmuan dengan senantiasa menjaga kelestarian dan
keseimbangan alam yang bersifat mutlak.
Para ilmuan sebagai orang profesional dalam bidang keilmuan sudah
barang tertentu mereka juga perlu memiliki visi moral yaitu moral khusus sebagai
ilmuan. Moral inilah dalam filsafat ilmu disebut juga sebagai sikap ilmiah (Abbas
Hamman M,1996:161)
Sikap ilmiah harus dimiliki oleh seorang ilmuan. Hal ini disebabkan oleh
sikap ilmiah adalah suatu sikap yang diarahkan untuk mencapai pengetahuan
ilmiah yang bersifat objektif. Sikap ilmiah bagi seorang ilmuan bukanlah
membahas tujuan dari ilmu,melainkan bagaimana cara mencapai suatu ilmu yang
bebas dari prasangka pribadi dan dapat dipertanggungjawabkan secara sosial
4

untuk melestarikan dan keseimbangan alam semesta ini,serta dapat


mempertanggungjawabkan kepada Tuhan. Artinya selaras dengan kehendak
manusia dengan Tuhan.
Menurut Abbas Hamami M (2010: 153) dalam Surajiyo sikap ilmiah
adalah suatu sikap yang diarahkan untuk mencapai pengetahuan ilmiah yang
bersifat objektif. Sikap ilmiah yang perlu dimiliki para ilmuan terdiri dari 6,
yaitu:
1. Tidak ada rasa pamrih (disinterestedness) artinya suatu sikap yang
diarahkan untuk mencapai pengetahuan ilmiah yang objektif dengan
menghilangkan pamrih atau kesenangan pribadi.
Contoh : Budi membantu Ani yang akan menguji/menentukan anion dan
kation dalam suatu sampel(analit). Kemudian dia berhasil membuktikan
bahwa anion yang terkandung dalam analit tersebut adalah Cl - dan kation
nya adalah Ba2+. Dia tidak meminta imbalan kepada Ani,dia tulus
membantu Ani.
2. Bersikap selektif yaitu suatu sikap yang tujuannya agar para ilmuan
mampu mengadakan pemilihan terhadap segala sesuatu yang dihadapi.
Misalnya, hipotesis yang beragam, metodologi yang masing-masing
menunjukkan kekuatannya, atau cara penyimpulan yang satu cukup
berbeda walaupun masing-masing menunjukkan akurasinya.
Contoh: Dalam tahap melakukan rekristalisasi,kita harus bisa memilih
pelarut yang cocok digunakan dalam proses rekristalisasi. Misalnya dia
memilih kloroform atau fenol agar dapat melarutkan zat tersebut secara
baik. Tindakan seperti itu dinamakan bersikap selektif dalam memilih
bahan praktikum.
3. Adanya rasa percaya yang layak baik terhadap kenyataan maupun terhadap
alat-alat indra serta budi (mind).
Contoh: sebagai seorang ilmuan harus mengandalkan semua alat indranya
dalam melakukkan penelitian dan mempercayai keahlian indra yang
dimiliki seperti halnya saat mengidentifikasi buah jeruk bersifat asam dan
saat diuji dengan kertas lakmus biru berubah menjadi merah,hal ini
seorang ilmuan mengandalkan indranya untuk melihat hasil
pengidentifikasian.
4. Adanya sikap yang berdasar pada suatu kepercayaan (belief) dan dengan
merasa pasti (conviction) bahwa setiap pendapat atau teori yang terdahulu
telah mencapai kepastian.
Contoh: Dalam pembuatan aspirin,seorang ilmuwan mencoba
menambahkan asam sulfat dalam campuran 2,5 gram asam salisilat dan

3,75 gram asetat anhidrida. Dia yakin bahwa asam sulfat dapat
mempercepat pembentukan aspirin.
5. Adanya suatu kegiatan rutin bahwa seorang ilmuan harus selalu tidak puas
terhadap penelitian yang telah dilakukan sehingga selalu ada dorongan
untuk riset dan riset sebagai aktivitas yang menonjol dalam hidupnya.
Contoh: Dalam melakukan titrasi penetralan yaitu menentukan kadar
CH3COOH dalam cuka pasar.Kita telah berhasil melakukan titrasi tersebut
dan memperoleh kadar CH3COOH dalam cuka pasar sekitar 2,03
%.Namun setelah membaca kadar asam cuka dalam kemasan tertera 25%.
Kemudian dia belum puas terhadap percobaan pertama,kemudian dia ingin
melakukan percobaan lagi.
6. Seorang ilmuan harus memiliki sikap etis (akhlak) yang selalu
berkehendak untuk mengembangkan ilmu,untuk kemajuan ilmu dan untuk
kebahagiaan manusia, lebih khusus untuk pembangunan bangsa dan
negara.
Contoh : Ilmuwan Dalton menyatakan tentang model atom bahwa materi
terdiri dari atom yang tak dapat dibagi. Kemudian Thomson berpendapat
tentang model atom bahwa atom merupakan bola pejal yang bermuatan
positif dan di dalamnya tersebar muatan negatif electron. Di situ terlihat
sikap Thomson yang ingin menyempurnakan dan mengembangkan teori
model atom dari Dalton.
Norma- norma umum bagi etika keilmuan yang dipaparkan secara
normatif berlaku bagi semua ilmuan. Hal ini pada dasarnya seorang ilmuan tidak
boleh terpengaruh oleh sistem budaya,politik,budaya,atau apa saja yang dapat
menyimpang pada tujuan ilmu. Tujuan ilmu yang dimaksud adalah objektifitas
yang berlaku secara universal dan komunal.
Disamping sikap ilmiah berlalu secara umum tersebut,pada kenyataannya
masih ada etika keilmuan yang secara spesifik berlaku ada kelompok ilmuan
tertentu. Misalnya etika kedokteran,bisnis,etia politisi,etika provesi lainnya yang
secara normatif berlaku dan dipatuhi oleh kelompoknya itu. Tata asas dan
kepatuhan terhadap norma etis yang berlaku pada ilmuan diharapkan akan
mehilangkan kegelisahan serta ketakutan manusia terhadap perkembangan ilmu
dan teknologi. Bahkan diharapkan manusia akan percaya pada ilmu yang
membawanya pada suatu keadaan dan membahagiakan dirinya sebagai manusia.
Hal ini sudah tentu jika pada diri ilmuan tidak ada yang lain kecuali pencapaian
obyektifitas dan demi kemajuan ilmu untuk kemanusiaan.
Yang perlu diperhatikan oleh para ilmuan khususnya di Indonesia adalah
sebagaimana tertuang dalam ketetapan MPR RI Nomor VI/MPR/2001 tentang
6

etika kehidupan berbangsa khususnya etika keilmuan dijelaskan bahwa etika


keilmuan dimaksudkan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan,ilmu
pengetahuan,dan teknologi agar warna negara mampu menjaga harkat dan
martabatnya,berpihak pada kebenaran untuk mencapai kemaslahatan dan
kemajuan sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya. Etika ini diwujudkan
secara pribadi atau kolektif dalam karsa,cipta dan karya yang tercermin dalam
perilaku
kreatif,inovatif,infentif
dan
komunikatif
dalam
kegiatan
membaca,belajar,meneliti,menulis,karya,serta sikap kondusif bagi pengemban
ilmu pengetahuan dan teknologi. Etika keilmuan menegaskan pentingnya budaya
kerja keras dengan menghargai dan memanfaatkan waktu disiplin dalam sikap dan
berbuat serta menepati janji dan komitmen diri untuk mencapai hasil yang baik.
Disamping itu,etika ini mendorong tumbuhnya kemampuan menghadapi
hambatan,rintangan,tantangan dalam kehidupan,mampu mengubah tantangan
menjadi peluang,mampu menumbuhkan kreatifitas untuk penciptaan kesempatan
baru dan tahan uji serta pantang menyerah. Abbas Hamami M (2010: 153)
dalam Surajiyo.

Literatur Buku 3
Judul
: Pengantar Filsafat Ilmu Bagi Pendidik
Pengarang
: Prof.Dr.Anna Poedjiadi
Tahun terbit : 2001
Penerbit
: Yayasan Cendrawasih
Halaman
: 41

Sikap Ilmuan
Dalam melakukkan kegiatannya
baik dalam penelitian atau
pengembangan konsep hukum dan teori dalam disiplin ilmunya,seorang ilmuan
dituntut untuk memiliki sikap sikap tertentu. Beberapa sikap yang diuraikan
berikut ini,tidak hanya spesifik untuk ilmuan karena sifatnya yang memasuki
daerah etika dan moral misalnya kejujuran dan sikap menghargai pendapat orang
lain. Sikap tersebut akan dibahas singkat seperti dibawah ini :
1. Berfikir kritis
Dahulu berikir kritis diperguruan tinggi hanya diperlukan dalam
kegiatan menstransmisi informasi sejalan dengan adanya perkembangan
ilmu dan teknologi. Pada waktu itu berfikir kritis dikatakan sangat erat
kaitannya dengan disiplin logika. Artinya logika telah menjadi bagian
terpenting dari berikir kritis. Hal ini tampak dari kurikulum pendidikan
profesi yang selalu mencantumkan logika sebagai salah satu mata kuliah
yang penting. Bahkan para mahasiswa calon ilmuan yang mengalami
kesulitan dalam menunjukkan kemampuan berfikir kritis dianjurkan untuk
mengikuti perkuliahan logika sebagai tindakan remidial.

Dewasa ini timbul pendapat bahwa kemampuan berfikir kritis


dapat dikembangkan melalui ketrampilan menyelesaikan masalah. Dengan
demikian berfikir kritis erat kaitannya dengan logika dan kemampuan
menyelesaikan masalah.
Sebelum seseorang melaksanakan berfikir kritis dalam disiplin
tertentu dia lebih dahulu harus menguasai terminologi konsep konsep
metodologi disiplin tersebut. Dengan demikian metode berfikir kritis
berbeda dalam disiplin yang satu dengan yang lain.Pendapat ini diperkuat
dengan pendapat John Mc Peck dalam bukunya Critical Thingking And
Education yang menyatakan thingking is always thinking about x and
that x can never be everiting ingeral,but must always be something in
partikular yang paling penting darinya adalah bahwa berfikir kritis adalah
pengetahuan dasar atau epistemik dan disiplin tertentu. Sebagai contoh
seseorang tidak mungkin berfikir kritis tentang sejarah tanpa memiliki
pengetahuan dan teori sejarah. Mengingat tugasnya sebagai pengemban
ilmu,maka ketrampilan berfikir kritis sangat perlu dimiliki oleh seorang
ilmuan.
Contoh: Mencari literatur tentang alasan kenapa minyak tidak bisa larut
dalam air,hal ini merupakan sikap kritis dalam suatu pengetahuan yang
harus dicari tahu kebenarannya.
2. Inkuiri
Seorang ilmuan perlu selalu ingin menyelidik apabila menghadapi
fenomena tertentu. Sikap ini yang disebut dengan sikap inkuiri.
Sebenarnya adalah sikap naluriah yang dibawa anak sejak lahir. Apabila
sikap ini tetap dibina artinya diberikan peluang maka seorang anak akan
gemar meneliti sehingga dia menemukan sesuatu. Apresiasi terhadap hasil
penyelidikan yang berupa penemuan perlu diberikan oleh guru agar
peneliti atau penyelidik memiliki kegemaran. Karena ketrampilan mental
motorik dan kreativitasnya ia tidak hanya dapat menemukan (discover)
tapi dapat menemukan(invent) suatu karya. Perlu dijelaskan disini antara
discover dengan invent suatu karya. Secara harfiah to discover berarti
membuka tutup artinya sebelum dibuka tutupnya,sesuatu yang
ada,didalamnya belum diketahui orang. Sebagai contoh perubahan
pandang dari geosentrisme menjadi heliosentrisme dalam astronomi.
Nicolaus Copernicus memerlukkan waktu bertahun tahun guna melakukan
pengamatan dan perhitungan untuk menyatakan bahwa bumi berputar pada
porosnya,bahwa bulan berputar mengelilingi bumi dan matahari,bahwa
planet planet lain juga mengelilingi matahari. Kesalahan besar yang ia
lakukkan adalah bahwa ia yakin semua planet(termasuk bumi dan bulan)
mengelilingi matahari dalam bentuk lingkaran. Penemuan ini menggugah
Tycho Brahe melakukan lebih teliti terhadap gerakan planet. Data
8

pengamatan kemudian membuat Johanes Kepler akhirnya mampu


merumuskan hukum-hukum gerak planet yang tepat.
Penemuan ketiga tokok ini adalah discoverydan cara seperti ini
digunakan dalam proses pembelajaran dalam istilah metode penemuan.
Contoh dalam inventionadalah penemuan Thomas Alva Edition (18471931) yakni perekam suara elektronik,penyempurnan mesin telegram yang
seara otomatis mencetak huruf,mesin piringan hitam,dan pengembangan
bola lampu pijar.Penyempurnaan mesin telegram membuat ia kaya raya
dan mesin piringan telah dipatenkan pada tahun 1897.
Contoh: perubahan pandang Dalton Dan Ruterford terhadap teori atom
yang merupakan perbedaan pandang.
3. Tekun dan teliti
Tekun merupakan senjata bagi para ilmuan karena tanpa ketekunan
dan ketelitian,eksperimen yang membosankan ditinjau dari segi waktu
tidak akan memberikan hasil yang dinginkan. Dimuka telah dikemukkan
bahwa Lavoasier menyatakan bahwa pembakaran logam merupakan reaksi
pembakaran logam dan oksigen. Disamping itu usahanya yang
memberikan pandangan menyeluruh tentang hasil eksperimen penelitian
penelitian sebelumnya telah dilakukkan dengan ketekunan yang luar
biasa.Pekerjaan ilmuan lainnya juga dipelajari dan diteliti kembali
sehingga dapat diperoleh pengetahuan yang masih kita ikuti saat ini.
Disamping pandangannya tentang proses pembakaran dan menolak adanya
flogiston,ia juga mengemukakan bahwa air merupakan gabungan antara
oksigen dan hidrogen,dan udara merupakan campuran antar oksigen dan
nitrogen. Dari hasil penelitiannya dalam bidang fisiologi dia dapat
menyatakan bahwa proses berkeringat pada dasarnya adalah pembakaran
secara perlahan-lahan. Energi yang diperoleh manusia dan binatang
berasalah dari pembakaran bahan organik dalam tubuh dengan oksigen
yang dihirup dari udara. Hasil hasil karya diatas dan penyelidikan
penyelidikan lainnya telah mendudukkan Lavoasier sebagai pendiri kimia
modern. Contoh: Lavoiser menyatakan bahwa pembakaran logam
merupakan reaksi antara logam dan oksigen disamping pandangannya
tentang proses pembakaran dan menolak adanya flogiston,Ia juga
mengemukakan bahwa air merupakan gabungan antara hidrogen dan
oksigen.
4. Skeptis
Istilah skeptis berarti tidak mudah dipercaya sebelum sesuatu dapat
dibuktikan. Atas dasar hal ini sikap skeptis akan mendorong seorang
ilmuan untuk meneliti kembali pekerjaan ilmuan sebelumnya,misalnya
denga memperbanyak variabel atau menelusuri prosedur penelitian
9

terhadap hal tertentu dan dengan memperbanyak variabel terjadilah


pengembangan ilmu.
Contoh: Mendelev melanjutkan penelitian yang pernah dilakukan para
ilmuan lain misalnya yang dilakukan Julius Lothar Meyer dalam
penyusunan Tabel Sistem Periodik.
5. Jujur dan Bertanggungjawab Terhadap Masyarakat
Dalam melakukkan penelitian seseorang ilmuan tidak boleh
memanipulasi data. Artinya apapun hasil yang diperoleh harus
dikomunikasikan di depan sesama ilmuan dengan penuh kejujuran. Namun
untuk menyampaikannnya kepada kalayak perlu adanya penyaringan agar
tidak terjadi keresahan atau salah tafsir yang dapat merugikan masyarakat.
Contoh: Antonie Lavoiser melakukan percobaan dengan memanaskan
timah dan oksigen dalam wadah tertutup dengan menimbang secara teliti,
Ia berhasil membuktikan bahwa dalam reaksi tersebut tidak terjadi
perubahan massa. pernyataan Lavoiser dikemukakan dalam hukum
Kekekalan massa yang berbunyi : Pada reaksi kimia, massa sebelm
reaksi ama dengan massa zat hasil reaksi.
6. Dapat menerima saran orang lain
Informasi tentang hasil penelitian biasanya memperoleh tanggapan
atau saran dari sesama ilmuan. Kritik yang membangun harusnya dapat
diterima dengan lapang dada. Karena dengan demikian seorang peneliti
dapat mengintrospeksi dan memperbaiki kesalahan atau kekurangtelitian
yang telah diperbuat. Dengan demikian disamping menyadari tentang
kekurangannya ia juga menghargai pendapat orang lain.
Contoh: Dalam pengertian asam basa menurut Arrhenius dalam pelarut air
asam merupakan zat yang menghasilkan ion hidrogen H+ dan basa
merupakan zat yang menghasilkan ion hidroksida OH -. Bronsted-Lowry
juga mengemuakan sifat asam basa ditentukan oleh kemampuan senyawa
melepas atau menerima proton (H+). (2001:41) dalam Anna Pudjieadi

10

SIKAP ILMIAH
Sikap ilmiah adalah suatu sikap atau pandangan yang harus dimiliki oleh
seorang ilmuan dalam melakukkan penelitian untuk mencapai pengetahuan ilmiah
yang bersifat objektif sehingga dapat mengembangkan ilmu.
Berdasarkan sumber diatas,maka sikap ilmiah menurut pendapat kelompok
kami adalah sebagai berikut:
1. Objektivitas yaitu sikap dimana seorang ilmuan harus memiliki sikap ini yang
mengarah pada objek dan peristiwa yang nyata dalam melakukkan
eksperimennya
2. Memiliki pemikiran yang relatif berarti bahwa ilmu itu tidak bersifat mutlak
yang penelitiannya juga tidak permanen atau mutlak,suatu saat dapat
ditemukan penemuan baru untuk pengembangan ilmu yang ditemukannya
3. Memiliki sikap sekeptis terhadap penelitian yang dilakukkan,hal ini menuntut
ilmuan memiliki keragu-raguan terhadap yang dilihat dan hal yang akan
diteliti karena hal ini akan memicu kreatifitas dalam melakukkan penelitian.
4. Memiliki sifat tekun dan teliti,sifat ini deperlukan karena ketelitian dan
ketekunan dalam melakukan sebuah eksperimen itu perlu karna jika tidak
memiliki sifat ini penelitian itu sulit membuahkan hasil
5. Memiliki sifat jujur dan tanggung jawab,artinya ilmuan dituntut untuk
mempertanggungjawabkan hasil dari yang diperoleh baik itu gagal atau
berhasil tanpa ada unsur pembohongan.
6. Memiliki sikap etis yaitu memiliki akhlak yang baik untuk mengembangkan
ilmu dan penemuannya dengan baik sehingga apa yang diperoleh itu
bermanfaat untuk perkembangan ilmu
7. Memiliki sifat selektif dimana ilmuan dituntut agar selalu menyeleksi apa
yang dia lihat dan apa yang sedang terjadi sehingga seorang ilmuan kritis
dalam menanggapi segala hal yang terjadi.

11