You are on page 1of 10

1

BAGAIMANA PERLAKUAN PAJ AK


DARI TRANSAKSI E -COMMERCE DI INDONESIA?

Oleh:
Agung Budilaksono
Widyaiswara Pusdiklat Bea dan Cukai


A. Latar Belakang Masalah
Menarik untuk mencermati perkembangan e-commerce di Amerika yang telah
berkembang dengan saat pesatnya. Pemerintah Federal Amerika dengan alasan deficit
anggaran belanja Negara, mulai untuk memberlakukan pajak atas e-commerce atau e-trading.
Proyek ini dikenal dengan nama Streamlined Sales Tax Project (SSTP). Menurut Alisa Shelton,
SSTP ini berbenturan dengan keputusan Mahkamah Agung Amerika yang menyebutkan secara
jelas bahwa internet dan catalogue merchants tidak dapat dipungut pajak penjualannya, karena
keduanya tidak memenuhi syarat kehadiran fisik (Nexus) dalam setiap negara bagian para
pelanggannya.
SSTP diselenggarakan pada bulan Maret 2000, dimana tujuannya adalah untuk
menyederhanakan dan modernisasi sistem penjualan, penggunaan pengumpulan pajak dan
administrasi di Amerika Serikat. SSTP diharapkan dapat mengeliminasi terjadinya perbedaan di
antara tingkatan pajak Negara, dan juga dapat menghapus hambatan utama dalam
pengumpulan pajak pada penjualan online, sekaligus berusaha meyakinkan Kongres dan
pengadilan, dalam upaya memperoleh dukungan untuk dapat mengumpulkan pajak secara
teratur.
Hal ini muncul sebagai tanggapan terhadap upaya Kongres Amerika yang melarang
secara permanen Negara melakukan pengumpulan pajak penjualan pada perdagangan online.
Larangan tersebut dianggap oleh pemerintah akan memiliki konsekuensi keuangan yang serius
bagi Negara. Oleh karena itu kemudian SSTP diluncurkan sebagai upaya untuk mencoba
meminimalkan banyaknya perbedaan di antara tingkatan pajak Negara.
Mahkamah Agung Amerika Serikat telah memutuskan pada tahun 1992 (dalam kasus
Quill Corpay North Dakota) bahwa mail-order pengecer (retailer) tidak membayar pajak untuk
negara, karena kompleksitas untuk melakukannya. Tentu saja hal ini membuat para pedagang
internet dan katalog bersemangat, karena daya saingnya kian menguat. Itu juga sebabnya,
mengapa perdagangan dengan kedua moda tersebut kini semakin marak dilakukan di Amerika.
Hal ini terutama didukung oleh pernyataan Mahkamah Agung Amerika yang tertuang dalam

2

Internet Tax Freedom Act yang ternyata sangat di setujui oleh Senat Amerika Serikat. Dimana
Undang-undang ini melarang semua negara bagian dan lokal di Amerika untuk memajaki
informasi & perdagangan melalui Internet.
Meningkatnya penggunaan internet khususnya di Indonesia juga memberikan dampak
yang besar bagi dunia bisnis. J ika dahulu, orang-orang berdagang hanya di tingkat lokal di
suatu negara, dan ketika hendak mengembangkan usahanya di luar negara tersebut, maka
pedagang itu harus memiliki modal yang sangat besar, untuk mengurus berbagai hal, mulai dari
perizinan, sewa gedung, upah para pekerjanya.
Saat ini jika seorang ingin berdagang atau ingin mempromosikan barang dagangannya
sampai ke luar negeri, pedagang itu cukup membuat situs dan menampilkan barang
dagangannya di halaman situsnya, para calon pembeli yang ada di luar negeri dapat melihat
barang yang ditawarkannya dan jika si calon pembeli tertarik, maka dia dapat memesan barang
tersebut cukup hanya dengan beberapa klik pada mouse dan ketikan nomor kartu kredit pada
tombol keyboard. Tidak lagi diperlukan biaya yang besar untuk mengurus perizinan, biaya untuk
mendirikan toko di luar negeri, tidak perlu sewa gedung, dan juga membayar upah pekerja.
Para pihak dalam transaksi tidak perlu bertemu face to face cukup melalui peralatan komputer
dan telekomunikasi.
Hubungan antara pemajakan dengan masalah yurisdiksi ini adalah mengenai siapa yang
berhak mengenakan pajak atas transaksi e-commerce. Seperti yang kita ketahui bahwa pada
transaksi e- commerce, para pihak (pihak penjual maupun pihak pembeli) tidak semuanya
berada di satu negara, kadang penjual dan pembeli berasal dari Negara yang berbeda dan
tunduk pada sistem hukum yang berbeda pula. Hal inilah yang menimbulkan kerumitan dalam
pemungutan pajak pada transaksi e- commerce karena dapat menimbulkan double taxation
(pengenaan pajak ganda) dan merugikan para pihak baik pihak penjual maupun pihak pembeli.
J ika kita memperbandingkan hal ini dengan negara-negara lain, banyak negara yang
juga mengenakan pajak pada transaksi e-commerce seperti Kanada, Amerika Serikat, Uni
Eropa dan J epang. J epang bahkan membentuk Cyber Tax Office dan tim yang dinamakan
Professional Team for E-Commerce Taxation (PROTECT) khusus untuk mengatasi masalah
perpajakan pada transaksi e-commerce. Lalu bagaimana dengan di Indonesia?
B. Gambaran Umum E-Commerce
Kondisi e-commerce di AS ternyata jauh berbeda dengan Indonesia. Transformasi
belanja konvensional menjadi e-commerce justru diprediksi baru dimulai tahun 2011 di Tanah
Air. Pasalnya, masyarakat di Indonesia masih belum siap. Nilai penjualan ritel e-commerce di
Amerika Serikat, pada kuartal I 2010 diperkirakan menyentuh angka USD 34 miliar. Nilai itu

3

naik 10 persen dibandingkan periode sama pada tahun sebelumnya. Demikian laporan seputar
pengeluaran warga Amerika Serikat untuk berbelanja di dunia maya atau e-commerce, yang
dikeluarkan ComScore Inc, lembaga riset global khusus dunia digital.
E-commerce merupakan bagian dari e-business, di mana cakupan e-business lebih luas,
tidak hanya sekedar perniagaan tetapi mencakup juga kolaborasi di antara mitra bisnis,
pelayanan nasabah, lowongan pekerjaan dll. Selain teknologi jaringan, E-commerce juga
memerlukan teknologi basis-data atau pangkalan data (databases), e-surat atau surat
elektronik (e-mail), dan bentuk teknologi non komputer yang lain seperti halnya sistem
pengiriman barang, dan alat pembayaran untuk E-commerce ini.
E-commerce pertama kali diperkenalkan pada tahun 1994 pada saat pertama kali
banner-electronic dipakai untuk tujuan promosi dan periklanan di suatu halaman-web (website).
Menurut Riset Forrester, e-commerce dunia telah menghasilkan penjualan sampai senilai
AS$12,2 milyar pada tahun 2003. Menurut laporan yang lain pada bulan oktober 2006 yang
lalu, pendapatan ritel online yang bersifat non-travel di Amerika Serikat diperkirakan mencapai
seperempat trilyun dolar US pada tahun 2011.
Istilah e-commerce telah berubah sejalan dengan waktu. Awalnya, e-commerce berarti
pemanfaatan transaksi komersial, seperti penggunaan EDI untuk mengirim dokumen komersial
seperti pesanan pembelian atau invoice secara elektronik. Kemudian dalam perjalanannya
berkembang menjadi suatu aktivitas yang mempunyai istilah web perdagangan pembelian
barang dan jasa melalui World Wide Web atau melalui server (HTTPS), yaitu protokol server
khusus yang menggunakan enkripsi untuk merahasiakan data penting pelanggan.
Pada awalnya ketika web mulai terkenal di masyarakat pada 1994, banyak jurnalis
memperkirakan bahwa e-commerce akan menjadi sebuah sektor ekonomi baru. Namun, baru
sekitar empat tahun kemudian, protokol seperti HTTPS telah banyak digunakan. Antara 1998
dan 2000 banyak bisnis di AS dan Eropa mengembangkan situs web perdagangan ini.
E-commerce merupakan proses pengelolaan transaksi keuangan secara online oleh
individu atau perusahaan. Yang termasuk dalam e-commerce adalah transaksi-transaksi dari
perusahaan ke perusahaan bisnis (business-to-business/B2B), perusahaan ke konsumen
(business-to-consumer/B2C) dan perusahaan perusahaan ke pemerintah (business-to-
government/ B2G). Hal pokok dari e-commerce adalah pada sistem dan prosedur dimana
segala tipe dokumen keuangan dan informasi dihubungkan. Hal ini termasuk transaksi kartu
kredit online, e-cash (kas elektronik), e-billing (tagihan elektronik), e-cheque (cek elektronik),
faktur elektronik, pesanan pembelian dan laporan keuangan. E-commere sangat terkait dengan
teknologi yang menunjang fungsi EDIsalah satu fungsi dalam internet.

4

Ada tiga hal yang diperlukan untuk membangun definisi e-commerce yang diterima
masyarakat internasional. Tiga hali tersebut berkaitan dengan: jaringan yang lebih relevan
dengan kegiatan yang dilaksanakan; proses yang patut dimasukkan ke dalam domain umum e-
commerce; dan pelaku yang terlibat dalam transaksi.
Definisi jaringan terdiri dari definisi secara luas dan secara sempit. Definisi secara luas
yaitu menganggap e-commerce sebagai transaksi elektronik untuk menjual dan membeli
barang atau jasa, baik antara perusahaan, rumah tangga, individu, pemerintah dan organisasi
publik maupun swasta, yang dilakukan melalui komuter dengan menggunakan jaringan. Barang
dan jasa dipesan melalui jaringan tersebut, tetapi pembayaran dan pengiriman barang atau jasa
tersebut dapat dilakukan secara online maupun offline.
Definisi secara sempit yaitu menganggap e-commerce sebagai transaksi internet untuk
menjual atau membeli barang atau jasa, baik antara perusahaan, rumah tangga, individu,
pemerintah dan organisasi publik maupun swasta, yang dilakukan melalui internet. Barang dan
jasa di pesan melalui internet, tetapi pembayaran dan pengiriman barang dan jasa tersebut
dapat dilakukan secara online atau offline.
Mengenai istilah dan hal-hal yang akan dimasukkan, banyak negara yang ingin
membatasi definisi untuk aspek pembelian dan penjualan yang tergabung dalam definisi di
atas, dan masih banyak hal lain yang akan dimasukkan ke jenis proses bisnis, seperti
pemasaran dan periklanan. Negara-negara berkembang juga akan ikut terlibat dalam
pembentukn definisi tersebut, yaitu meliputi kegiatan usaha yang terkait dengan pembelian dan
penjualan, mengingat beberapa batasan yang dihadapi negara-negara tersebut dalam
melakukan pembayaran online.
E-commerce seringkali digambarkan sebagai satu dari tiga jenis: perusahaan ke
perusahaan (business-to-business/B2B), perusahaan ke konsumen (business-to-
consumer/B2C) dan perusahaan ke pemerintah (business-to-government/ B2G). Sebagian
besar minat dan literatur berfokus pada e-commerce B2B dan B2C. Sekitar 80 persen dari nilai
total e-commerce di dunia saat ini memilih e-commerce B2B. E-commerce B2B memberikan
potensi keuntungan yang paling besar dalam hal laba produktivitas. E-commerce B2C memiliki
potensi efek substansial pada cara hidup dan interaksi dalam masyarakat dan hal-hal tersebut
merupakan aspek pokok untuk pengukuran statistiknya. Hanya sebagian kecil negara yang
sejauh ini telah ikut berpartisipasi dalam pengukuran e-commerce B2G.
Kegiatan usaha e-commerce dapat dilakukan melalui apa yang disebut "Application
Service Provider (ASP) yang biasanya menjadi sarana utama bagi pelaku usaha di bidang ini.
ASP menyediakan disk space untuk disewa pengusaha untuk menawarkan produksinya.

5

C. Tinjauan Aspek Pajak Penghasilan
Implikasi pajak atas kegiatan usaha dengan e-commerce timbul dalam hal penyewa atas
space di ISP (penyedia jasa Internet) adalah perusahaan yang berdomisili di luar negeri.
Pertama-tama adalah apakah dengan hadirnya perusahaan luar negeri melalui suatu situs web,
perusahaan tersebut dapat dianggap mempunyai "bentuk usaha tetap" di Indonesia. Definisi
"bentuk usaha tetap" yang diatur dalam Pasal 2 ayat (5) Undang-undang PPh,
mengindikasikan bahwa keberadaan di Indonesia ditunjukkan melalui harta berwujud,
disamping kegiatan pemberian jasa di Indonesia.
Dengan demikian, apabila sebuah perusahaan luar negeri melakukan kegiatan usaha
melalui website, sesuai dengan definisi, kegiatan ini tidak menimbulkan "bentuk usaha tetap".
Hal yang sama juga dapat dikatakan bila perusahaan luar negeri tersebut adalah perusahaan
yang berdomisili di negara yang mempunyai Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B)
dengan Indonesia
1
. Namun, bila kegiatan dari perusahaan tersebut memberikan jasa melalui
website-nya maka pembayaran yang diterima dari Indonesia merupakan objek pemotongan
PPh Pasal 26, dengan asumsi bahwa perusahaan tersebut berdomisili di negara-negara yang
tidak mempunyai P3B dengan Indonesia. Undang-undang Pajak Penghasilan belum mencakup
masalah definisi "bentuk usaha tetap" dari ISP, dengan demikian Pasal 2 ayat (5) UU PPh
idealnya perlu diubah dan ditambah.
J ika situasi tersebut dikaitkan dengan P3B maka ada dua hal yang perlu
dipertimbangkan, yaitu pertama, dalam UU domestik dari negara-negara yang terlibat
mempunyai aturan tersebut, dan kedua, sesuai dengan commentary dari OECD, keberadaan
ISP memenuhi ketentuan Pasal 5 dari OECD Model. Pasal 5 dari OECD Model mensyaratkan
bahwa peralatan apapun yang digunakan sebagai server, sifatnya harus tetap. Artinya server
tersebut harus mempunyai lokasi yang tetap dan pasti.
2

Secara garis besar, semua transaksi dalam kaitannya dengan persiapan untuk
mengoperasikan website, dalam hal server dimiliki oleh wajib pajak luar negeri, maka
perlakuannya sama dengan apa yang dikemukakan sebelumnya. Misalkan salah satu dari
penyewa website, yaitu wajib pajak luar negeri, menggunakan website-nya untuk menyimpan
informasi yang menyangkut industri tertentu, yang kemudian ditawarkan kepada pihak ketiga
untuk menjadi pelanggannya (subscriber). Pelanggan tersebut membayar iuran untuk dapat
mengakses informasi dimaksud. Implikasi pajak penghasilan dari transaksi tersebut adalah

1
Surahmat, Rachmanto, PartnerPrasetio, Sarwoko & Sandjaja Consult, dalam Bisnis Indonesia edisi Senin, 11 & 18 April 2005
2
Surahmat, idem

6

perlakuan pajaknya terhadap pembayaran yang di lakukan oleh pelanggan. Yang prtama-tama
dilakukan adalah menentukan masuk dalam kategori penghasilan apa pembayaran tersebut?.
Dari sudut pandang UU Pajak Penghasilan, pembayaran untuk informasi yang belum
diungkapkan ke publik atau yang tidak dapat diperoleh melalui sarana yang tersedia di publik,
maka hal tersebut dimasukkan dalam kategori "royalti", sebagaimana ditegaskan dalam
penjelasan Pasal 4 ayat (1) huruf h UU PPh.
J adi kalau pelanggannya adalah wajib pajak Indonesia maka yang bersangkutan harus
memotong PPh Pasal 26, dengan catatan bahwa tarifnya tergantung domisili dari wajib pajak
yang menerimanya. Pemotongan PPh pasal 26 ini bisa tidak final jika server tersebut dianggap
sebagai "bentuk usaha tetap".
D. Tinjauan Aspek Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
Peluang untuk mengenakan pajak atas transaksi ini sangat besar terutama Pajak
Konsumsi yaitu Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Namun sampai dengan saat ini, ketentuan
perpajakan yang berlaku, yaitu UU PPN Tahun 2000, belum mengatur secara jelas tentang
bagaimana sistem dan prosedur pengenaan PPN atas transaksi ini
J enis-jenis transaksi e-commerce dibagi menjadi dua, yaitu transaksi yang berhubungan
dengan pembuatan (design) website, dan transaksi yang dilakukan melalui sebuah website.
D.1. Transaksi yang berhubungan dengan pembuatan website
Design dan pembuatan homepage adalah termasuk jasa periklanan, yang menurut
pasal 4A ayat 3 UU PPN dan pasal 5 dari PP-144/2000 bukan termasuk jenis jasa yang
dikecualikan dari pengenaan PPN. Oleh karena itu penyerahan jasa design website dan
pembuatan homepage adalah terutang PPN berdasarkan UU PPN.
Indonesia masih dimungkinkan melakukan pengenaan PPN atas transaksi e-commerce
berdasarkan ketentuan Undang-undang perpajakan terutama UU PPN Tahun 2000 dan UU
KUP Tahun 2007. Ketentuan pengenaan PPN diperkuat juga dengan dikeluarkannya aturan UU
Informasi dan Transaksi Elektronik (UU Nomor 11 Tahun 2008) yang intinya mengatur masalah
penggunaan dokumen elektronik, tanda tangan elektronik dan pengaturan pelaku transaksi e-
commerce.
Untuk itu diharapkan Direktorat J enderal Pajak agar membuat aturan yang jelas
mengenai transaksi e-commerce terutama dalam membuat sistem dan prosedur pengenaan
PPN atas transaksi e-commerce yang didasarkan atas asas kepastian hukum, asas
kemudahan dan berbiaya rendah dengan menggunakan bantuan teknologi.


7

D.2. Transaksi yang dilakukan melalui website
Sesuai dengan OECD Characterization terdapat 28 jenis transaksi e-commerce yang
dilakukan melalui sebuah website
3
dan berpeluang dikenakan pajak PPN, yaitu:
1) Electronic order processing of intangible product
Transaksi ini adalah pembelian melalui online catalog. Apabila produk yang diperdagangkan
bukan termasuk barang dan atau jasa sebagaimana diatur pasal 4A UU PPN dan PP-
24/2002 (pengganti PP-144/2000), maka transaksi tersebut merupakan penyerahan kena
pajak dan terutang PPN sesuai dengan pasal 4 UU PPN.
2) Electronic ordering and downloading of digital product.
Transaksi ini adalah pembelian produk melalui online catalog of software secara digital.
Dalam hal ini software adalah Barang Kena Pajak (BKP) tidak berwujud sesuai dengan
pasal 1 ayat 3 UU PPN
3) Electronic ordering and downloading of digital product for purpose of commercial exploitation
of the copyright
Transaksi ini adalah pemesanan secara online atas digital product dari online catalog.
Pemanfaatan produk digital untuk keperluan komersil (contoh; penggunaan merek dagang,
lisensi, dan lain-lain) berdasarkan ketentuan pasal 4 huruf (d) UU PPN adalah termasuk
pemanfaatan BKP tidak berwujud yang dinekan PPN.
4) Updates and adds on
Merupakan kegiatan update dan penambahan kelengkapan atas suatu software. Software
adalah BKP (tidak berwujud) sesuai dengan pasal 1 ayat 3 UU PPN dan pasal 4 A UU PPN
serta PP-144/2000, sehingga kegiatan update dan/atau penambahan fasilitas atas software
tersebut adalah penyerahan yang terutang PPN sesuai dengan pasal 4 UU PPN.
5) Limited duration software and other digital information licenses
Merupakan pemberian ijin secara Cuma-Cuma untuk memanfaatkan suatu software dalam
jangka waktu tertentu untuk keperluan promosi penjualan. Transaksi ini masuk kategori
terutang PPN
6) Single use software or other digital product
Transaksi ni pembeli mendapatkan hak untuk memakai software atau produk digital lainnya
satu kali. Software atau produk digital lainnya adalah BKP tidak berwujud, dengan demikian
masuk kategori terutang PPN.
7) Application hosting separate license

3
Winardi, Wahyu, 2002, Tesis: Aspek Pajak Pertambahan Nilai Atas Transaksi E-commerce Berdasarkan UU No.18 Tahun 2000, FISIP UI

8

Di dalam transaksi ini pmakai mempunyai hak tetap untuk memakai produk software melalui
perjanjian dengan host entity dengan menempatkansoftware copy pada server dan
pemakai menerima bantuan teknik. Fasilitas atau hak untuk menempatkan software dan
bantuan teknik merupakan jasa kena pajak sesuai pasal 1 ayat 6 dan pasal 4A UU PPN
serta PP-144/2000, dengan demikian kegiatan ini masuk kategori terutang PPN.
8) Application hosting bundled contract
Merupakan perjanjian dengan provider pemilik hak cipta untuk mengakses software.
Kegiatan masuk kategori terutang PPN
9) Transaksi ASP (Aplication Service Provider)
Pada transaksi ini ASP memperoleh lisensi untuk memakai suatu aplikasi software , dan
memberikan akses kepada pelanggan untuk aplikasi software , dan memberikan akses
kepada pelanggan untuk aplikasi software tersebut. Hal ini termasuk barang kena pajak
tidak terwujud sesuai dengan pasal 1 ayat 3 dan pasal 4A UU PPN serta PP-144/2000 dari
software vendor kepada ASP yangberupa lisensi. Oleh karena itu transaksi ini masuk
kategori terutang PPN.
10) ASP License fees
Application provider membayar provider aplikasi software sejumlah fee , yaitu sejumlah
persen dari penerimaan dari pelanggan ASP. Fee yang dibayar merupakan pemanfaatan
atas barang kena pajak tidak berwujud sesuai dengan pasal 1 ayat 3 UU PPN, sehingga
terkena ajak PPN.
11) Website hosting provider
Transaksi ini adalah pemberian tempat pada server untuk ditempati website. Hal ini masuk
kategori jasa kena pajak yang berdasarkan pasal 1 ayat 6 dan pasal 4A UU PPN serta PP-
144/2000 dikategorikan sebagai jasa kena pajak sehingga kegiatan ini terutang PPN
12) Software maintenance
Transaksi ini merupakan penggabungan antara software maintenance contract dengan
software updates dengan bantuan teknik. Hal ini dikategorikan sebagai jasa kena pajak
berdasarkan pasal 1 ayat 6 dan pasal 4A UU PPN serta PP-144/2000 sehingga kegiatan ini
terutang PPN
13) Data warehousing
Penempatan data computer pelanggan dalam server yang dimiliki dan dioperasikan oleh
provider yang merupakan jasa pemanfaatan space/tempat untuk menyimpan database yang
dikategorikan sebagai penyerahan jasa kena pajak berdasarkan pasal 1 ayat 6 dan pasal 4A
UU PPN serta PP-144/2000 sehingga kegiatan ini terutang PPN
14) Customer support over computer network

9

Bantuan teknik termasuk saran-saran untuk instalasi, informasi untuk memecahkan masalah
yang berupa technical support, trouble shooting database, yang dilakukan secara online,
termasuk jasa kena pajak yang terutang PPN.
15) Data retrieval
Merupakan penyerahan informasi kepada pelanggan yang menurut pasal 1 ayat 6 dan
pasal 4A UU PPN serta PP-144/2000 dikategorikan sebagai jasa kena pajak sehingga
kegiatan ini terutang PPN
16) Delivery of exclusive or other high value data
Produk yang diserahkan dalam bentuk informasi dengan tambahan analisis atas data
pelanggan, yang menurut pasal 1 ayat 6 dan pasal 4A UU PPN serta PP-144/2000
dikategorikan sebagai jasa kena pajak sehingga kegiatan ini terutang PPN.
17) Advertising atau banner adds
Merupakan transaksi pembayaran atas fee iklan yang muncul setiap user meng-klik web site
tertentu. Hal ini sesuai dengan pasal 1 ayat 6 dan pasal 4A UU PPN serta PP-144/2000 juga
dikategorikan sebagai jasa kena pajak yang terkena PPN.
18) Electronic access to professional advice
Merupakan konsultasi jasa professional (konsultan, pengacara, dan dokter), juga
merupakan jasa kena pajak yang terkena PPN
19) Technical information
Informasi teknis yang bersifat rahasia, merupakan jasa kena pajak yang terkena PPN
20) Information delivery
Informasi yang dikirim kepada pelanggan, juga masuk kategori kegiatan terkena PPN
berdasarkan pasal 1 ayat 6 dan pasal 1A ayat 1 dan pasal 4 UU PPN.
21) Access to an interactive website
Akses terhadap website tertentu termasuk informasi , music, video, game, dan kegiatan
lainnya.
22) Online shopping portals
Space yang dimanfaatkan oleh para merchant untuk menempatkan katalognya, merupakan
J asa Kena Pajak (J KP) , sehingga terkena pajak PPN.
23) Online auctions
Hak untuk mendisplay barang yang diterima oleh merchant merupakan jasa kena pajak,
sehingga terkena pajak PPN.
24) Sales referral program
Sales referral program yang diterima oleh online provider dari operator website.
25) Content acquisition transaction

10

Operator website membayar content provider atas cerita-cerita baru, informasi dan content
online lainnya.
26) Streamed (real time) web based broadcasting.
Pengguna mengakses database copyrighted audio dan/atau materi visual lainnya dan
broadcaster enerima langganan atau penghasilan iklan.
27) Carriage fees
Content provider membayar web site operator agar content-nya didisplay pada
website/network.
28) Subscription to web site allowing the downloading of digital products
Pelanggan membayar secara periodic biaya untuk mengakses website yang berisi digital
copyrighted content seperti music. Kegiatan ini masuk kategori terutang PPN

Kesimpulan
1. Peluang perolehan pajak dari transaksi e-commerce masih sangat besar di Indonesia
mengingat belum ada fatwa yang menghambat bagi pemerintah dalam mengumpulkan
pajak dari transaksi ini seperti yang terjadi di Amerika;
2. Trend kecenderungan nilai transaksi e-commerce di masamasa mendatang di Indonesia
akan semakin besar. Oleh karena itu Direktorat J enderal Pajak perlu secara jeli melihat
kelemahan-kelemahan aturan yang berkaitan dengan UU PPh dan PPN seperti yang
diuraikan dalam pembahasan PPh dan PPN, untuk menjadi payung hukum pemungutan
pajak-pajak dari transaksi ini;
3. Terdapat 28 jenis transaksi e-commerce yang berpeluang untuk dipungut pajaknya.
4. Diperlukan penyempurnaan aturan pajak yang berkaitan dengan pajak PPN dan PPh dalm
upaya mencari terobosan penerimaan pajak PPN dan PPh dari sector e-commerce yang
ada saat ini.