You are on page 1of 16

1.

UU Pornografi Bertentangan dengan UUD 1945

Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi kini sedang diuji oleh Mahkamah Konstitusi. Melalui perkara No. 17/PUU-VII/2009 yang diajukan oleh 28 penggugat baik dari institusi (NGO) maupun perorangan dari berbagai latar belakang sosial seperti seniman, masyarakat adat, aktivis sosial, dan lain-lain yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka memberikan kuasanya kepada Tim Advokasi Bhinneka Tunggal Ika. Para pemohon mengalami kerugian atas hak konstitusionalnya karena pasal-pasal dari UU Pornografi melanggar berbagai ketentuan hak asasi yang dijamin dalam konstitusi. Tujuan dari gugatan yang dilayangkan pada 13 Maret 2009 lalu adalah membatalkan seluruh isi UU Pornografi karena bertentangan dengan UUD 1945. Di antaranya; Pasal 28 D ayat (1) UUD 1945: Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil, Pasal 28 E ayat (2) UUD 1945; Setiap orang atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya, Pasal 28 F UUD 1945: Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan mengunakan segala jenis saluran yang tersedia. Seluruh hak-hak tersebut terlanggar jelas-jelas oleh pasal 1 angka 1 UU Pornografi di mana pornografi didefinisikan, Pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat. Suatu definisi yang sangat kabur, multiinterpretasi, diskriminatif dan mengabaikan asas kebhinnekaan. Sebagai akibatnya, UU Pornografi tersebut menyebabkan ketidakpastian hukum, pemarginalan yang berkepanjangan, dan berpotensi menimbulkan disintegrasi bangsa. UU Pornografi, meski selalu menyebutkan soal kebinnekaan dalam konsideran maupun asasnya, ternyata malahan berupaya untuk menyeragamkan pandangan pandangan soal moral dan akhlak masyarakat penduduk dari suatu perspektif yang sempit, dangkal dan bersumber dari satu pandangan tertentu. Penyeragaman pandangan ini terlihat dari salah satu tujuan UU Pornografi yaitu memberikan pembinaan dan pendidikan terhadap moral dan akhlak masyarakat. Terlebih dalam penjelasan umum UU Pornografi, dinyatakan bahwa ketentuan yang diatur di antaranya menjunjung tinggi nilai-nilai moral yang bersumber pada ajaran agama dan memberikan ketentuan yang sejelas-jelasnya tentang batasan dan larangan yang harus dipatuhi oleh setiap warga negara serta menentukan jenis sanksi bagi yang melanggarnya. Maksud dari pengaturan UU Pornografi ini adalah hendak menyeragamkan pikiran dan pandangan masyarakat atas suatu nilai moral dan akhlak, yang berbasiskan pada pemaksaan atas nilai dan pandangan dari sudut pandang tertentu. Padahal realitas kebhinekaaan di Indonesia menujukkan adanya pandangan atas nilai moral dan akhlak yang berbeda. Penyeragaman dengan melalui sarana

hukum dan memberikan ancaman pidana menunjukkan negara telah berupaya untuk melakukan pemaksaan (coersion) atas suatu pandangan yang berbeda.

Sumber

: https://www.facebook.com/notes/cinta-indonesia/uu-pornografi-bertentangan-denganuud-1945/106300638054

2.

Perjanjian ACFTA Melanggar UUD 1945

Ditilik dari dasar hukum pemberlakuan ACFTA di Indonesia, perjanjian ini berlaku hanya dengan sebuah Keputusan Presiden No 18/2008 yang ditandatangani oleh Yudhoyono pada tanggal 26 Febuari 2008. Landasan hukum Keppres tersebut antara lain UUD 1945 Pasal 11 dan UU No 24/2000 tentang Perjanjian Internasional. Setelah penulis analisa kedua landasan hukum Keppres tersebut, terdapat cacat konstitusi dalam penerapan perjanjian ACFTA di Indonesia. Kesimpulannya demi konstitusi, ACFTA harus dibatalkan berlaku di Indonesia hari ini juga. Dasar pemikiran penulis adalah sebagai berikut: Pertama, Perjanjian ACFTA seharusnya berlaku jika telah diratifikasi oleh DPR karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Pasal 11 Ayat 2 UUD 1945 hasil perubahan ketiga pada 10 November 2002 dengan lugas berbunyi: Pemerintah dalam membuat perjanjian internasional lainnya yang menimbulkan akibat luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara, dan / atau mengharuskan perubahan atau pembentukan undang-undang harus dengan persetujuan DPR. Menilik isi dan dampak perjanjian ACFTA, perjanjian ini mempengaruhi perekonomian masyarakat secara masif dan akan mengurangi potensi penerimaan negara dari sektor bea masuk. Dari rumusan Pasal 11 ini tidak disangsikan lagi bahwa ACFTA telah nyata-nyata melanggar UUD 1945 karena hanya disahkan oleh Keppres. Kedua, Perjanjian ACFTA seharusnya telah berakhir saat ini menilik klausul yang terletak di Pasal 18 Ayat h UU No 24/2000 Tentang Perjanjian Internasional. Klausul ini berbunyi sebagai berikut: Perjanjian Internasional berakhir apabila terdapat hal-hal yang merugikan kepentingan nasional. Dalam konteks ACFTA, ayat ini memberikan pesan yang jelas perjanjian ACFTA ini harus berakhir ketika kepentingan nasional terganggu. Berdasarkan dua alasan konstitusi diatas, perjanjian ACFTA adalah ilegal karena berdasarkan UUD 1945 tidak disetujui oleh DPR terlebih dahulu. Jikalaupun Keppres tersebut dianggap cukup untuk legalitas ACFTA (menurut UU No 24/2000, perjanjian bidang ekonomi dan perdagangan cukup disahkan dengan Keppres) maka seharusnya telah dinyatakan berakhir berdasarkan Pasal 11 Ayat h UU No 24/2000. Dengan kata lain menilik dua landasan konstitusi diatas, Keppres Yudhoyono sebagai landasan hukum belakunya ACFTA dianggap telah almarhum dengan sendirinya. Sumber : http://hukum.kompasiana.com/2011/05/12/perjanjian-acfta-melanggar-uud-1945/

3.

UU Perkebunan Abaikan Pasal 33 UUD 1945

Pasal 21 dan 47 Undang -Undang Nomor 18 tahun 2004 tentang Perkebunan dinilai telah mengabaikan UUD 1945. Secara ideologis filsafati keduanya sama-sama mengacu pada Pasal 33 ayat 3 UUD 1945. Tetapi secara yuridis telah terjadi penghapusan keterkaitan norma," ujar ahli hukum agraria Universitas Brawijaya (Unibraw) Suhariningsih dalam sidang pengujian undang-undang yang dipimpin oleh Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Achmad Sodiki, Jakarta, Selasa (10/5). Ahli yang dihadirkan oleh pemohon itu menyatakan penghapusan norma itu tidak secara langsung melanggar Pasal 33 UUD 1945, namun berpotensi mengilangkan hak-hak warga negara. Menurut Suhariningsih, konflik pertanahan yang sering terjadi antara pemerintah maupun badan hukum swasta dengan petani di sekitar perkebunan seringkali tidak berpihak pada rakyat kecil. Negara, katanya, tidak boleh mengorbankan rakyatnya demi kepentingan pihak investor. "Undang-Undang Perkebunan secara substansi dan normatif telah tidak berkesesuaian dengan cita-cita negara hukum Indonesia untuk mensejahterakan rakyatnya," kata Suhariningsih. Suhariningsih pun mengutip pendapat Prof Achmad Sodiki dalam sebuah seminar nasional, sepuluh tahun lalu. Dalam seminar itu, kata Suhariningsih, Sodiki menyebut ketika negara tidak mampu meningkatkan perekonomian dan selanjutnya bergandengan tangan dengan para pemodal asing maka telah terjadi perubahan substantif. "Menurut saya materi muatan dalam pasal-pasal itu tidak mengandung asas pengayoman terhadap rakyat miskin. Dalam kenyataan di lapangan, masyarakat hukum adat justru tersingkir dari akses tanah sebagai sumber kehidupan mereka karena hadirnya investor," tukas Suhariningsih. Hal senada disampaikan oleh pakar antropologi Prof I Nyoman Nurjaya. Guru Besar Fakultas Hukum Unibraw itu mengatakan Pasal 21 Undang-Undang 18 Tahun 2004 itu sebagai pasal mengada-ada, karena di KUHAP juga telah mengatur soal pidana. "Redaksi pasal ini sudah ada di KUHAP. Jadi tak perlu lagi diatur (dalam Unadng-Unadng 18 Tahun 2004)," ujarnya. Pasal 21 Undang-Undang tersebut mengatur tentang larangan menggunakan tanah perkebunan tanpa izin karena tindakan itu melanggar hak atas tanah orang lain. Sementara, Pasal 47 tidak bisa dilepaskan dari Pasal 21. Sebab, berdasarkan penafsiran sistematis siapapun yang melanggar unsur-unsur Pasal 21 baik disengaja atau karena kelalaiannya dapat dituntut pidana sesuai Pasal 47 yang memuat sanksinya Permohonan pengujian undang-undang ini diajukan oleh empat petani dari tiga daerah. Mereka adalah Sakri (Blitar, Jatim), Ngatimin alias Keling (Serdang Begadai, Sumut), serta Vitalis Andi dan Japin (Ketapang, Kalbar).

Bersama kuasa hukum mereka, Wahyu Wagiman dan Andi Muttaqien, serta pihak terkait dari LSM Sawit Watch, mereka meminta MK agar membatalkan Pasal 21 juncto Pasal 47 ayat 1 dan 2 Undang-Undang 18 Tahun 2004. Wahyu, usai sidang, menjelaskan ketentuan dalam pasal tersebut juga mencerminkan adanya pembedaan kedudukan, ketidakadilan, serta ketidakpastian hukum yang merugikan petani. Undang-Undang tersebut, ujarnya, harus mampu melindungi hak-hak masyarakat adat dan penduduk lokal. "Sebab dengan adanya ketentuan tersebut maka tindakan untuk memperjuangkan hak petani dapat dianggap mengganggu jalannya usaha perkebunan," kata Wahyu. Ia menuturkan sampai pertengahan 2010, sedikitnya terjadi 106 kasus kriminalisasi petani akibat bersengketa dengan perusahaan perkebunan. Wahyudi pun menerangkan bahwa Ngatimin telah terlibat dalam konflik lahan itu sejak tahun 1968, saat ia masih bersama orang tuanya. "Kalau tidak direview akan menimbulkan banyak konflik agraria. Seolah-olah konflik dipelihara," tukas Wahyu. Pada sidang sebelumnya, 20 April 2011, pemerintah menyatakan tujuan Undang-Undang perkebunan adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat, penerimaan negara, produktivitas, nilai tambah dan daya saing. Sedangkan pada pasal yang diuji materi, ahli dari pemerintah Achyar Salmi menyatakan ketentuan pidana dalam pasal itu telah sesuai dengan asas legalitas. Sumber : http://www.djpp.depkumham.go.id/berita-hukum-dan-perundang-undangan/1300-uuperkebunan-abaikan-pasal-33-uud-1945.html

4.

Pasal 27 UU Pemilu Bertentangan dengan UUD 1945

Mahkamah Konstitusi (MK) menetapkan bahwa Pasal 27 UU Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum bertentangan dengan UUD 1945. "Frasa 'dengan alasan yang dapat diterima' dalam Pasal 27 ayat (1) huruf b UU Nomor 15 Tahun 2011 bertentangan dengan UUD 1945," ujar Ketua MK, Mahfud MD dalam pembacaan amar putusan di Gedung MK, Jakarta Pusat, Rabu (4/1/2012). Menurut Mahkamah, penjelasan dalam Pasal 27 UU Nomor 15 tahun 2011 bertentangan dengan konstitusi karena menghalang-halangi kemerdekaan pemohon untuk mencapai kebahagiaan serta upayanya untuk memajukan dirinya serta kebebasan Pemohon untuk mencari pekerjaan. Selain itu, Pasal 27 ayat (3) UU Nomor 15 Tahun 2011 bertentangan dengan UUD 1945 serta tidak mempunyai kekuatan hukum tetap. Dalam pertimbangannya, Mahkamah mengatakan tidak ada kemungkinan untuk ditolaknya permohonan pengunduran diri. Oleh karena itu, permohonan Pemohon sepanjang menyangkut Pasal 27 ayat (3) UU Nomor 15 Tahun 2011 beralasan hukum.

"Harus dikemukakan dulu bahwa pengunduran diri seseorang untuk memilih pekerjaan lain adalah salah satu kebebasan yang merupakan salah satu hak asasi manusia sebagaimana diatur dalam Pasal 28 E ayat (1) UUD 1945," jelas Hakim konstitusi Muhammad Alim. Sumber : http://www.tribunnews.com/2012/01/04/pasal-27-uu-pemilu-bertentangan-dengan-uud1945

5.

Terjadi Pelanggaran Terhadap Undang-undang dan Konstitusi

Opsi yang ditawarkan oleh Ketua DPR sudah menggiring DPR pada pelanggaran terhadap UU dan UUD 1945, alasannya: Pasal 7 ayat 6 yang berisi Harga jual BBM bersubsidi tidak mengalami kenaikan sudah menjadi Undang-undang, artinya TIDAK BOLEH DI-VOTING LAGI. Pemaksaan OPSI tersebut artinya DPR MELANGGAR UU. Tambahan pasal 6A: Dalam hal harga rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) mencapai 15% pemerintah boleh menaikan harga BBM enam bulan ke depan. Padahal berdasarkan keputusan MK terhadap pasal 28 UU Migas, harga BBM tidak boleh diserahkan pada mekanisme pasar. Artinya, dengan opsi tersebut DPR TELAH MELANGGAR KONSTITUSI UUD 1945. Keputusan yang diambil Koalisi (minus PKS) TETAP MENYETUJUI KENAIKAN HARGA BBM PADA ENAM BULAN ke depan (kira-kira bulan September). Keputusan tersebut JELAS AKAN MEMICU KENAIKAN HARGA KEBUTUHAN POKOK! Partai Koalisi (minus PKS) seolah telah menyepakati keberadaan BLSM yang tertera pada pasal 15A (pasal tambahan) TANPA MELALUI MEKANISME KEPUTUSAN PARIPURNA! Kesimpulan : Jadi, dengan Keputusan sidang paripurna DPR-RI pada hari Sabtu, 31 Maret 2012 memperlihatkan: Menyepakati kenaikan harga BBM; Cacat prosedural; Melanggar undang-undang; Melanggar konstitusi (UUD 1945), karena melawan keputusan Mahkamah Konstitusi.

6.

UU Pemilu Dinilai Melanggar Konstitusi

UU Pemilu yang disahkan oleh DPR RI, menurut Ketua Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Didik Supriyanto, mengabaikan prinsip pemilu demokratis dan melanggar konstitusi. "Pemberlakuan ambang batas perwakilan atau parliamentary threshold, secara nasional, baik untuk memilih anggota DPR maupun anggota DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota. Pada titik inilah RUU Pemilu mengandung masalah besar," ujar Didik dalam jumpa pers yang digelar di Bakoel Coffee Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (13/4/2012). Didik menjelaskan, penetapan ambang batas nasional untuk memilih anggota DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota, juga merupakan kejahatan politik luar biasa. Sebab, ketentuan tersebut menghilangkan atau merusak keaslian hak pilih warga negara. Didik menerangkan, disebut kejahatan politik, lantaran warga negara memilih anggota DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota, yang diukur melalui pemilihan anggota DPR. "Lalu apa artinya pemilih menggunakan tiga surat suara berbeda, yaitu kuning untuk memilih DPR, biru untuk memilih DPRD provinsi, dan putih untuk memilih anggota DPRD kabupaten/kota? Jika, yang jadi tolok ukur untuk menentukan anggota DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota hanya surat suara kuning," tutur Didik. Sementara, besaran ambang batas 3,5 persen suara nasional juga berpotensi melanggar konstitusi, lantaran angka tersebut akan menaikkan jumlah suara terbuang, sehingga bisa meningkatkan indeks disproporsionalitas. "Jika indeks disproporsionalitas tinggi, maka hasil pemilu tidak proporsional. Padahal, pemilu anggota legislatif menggunakan sistem pemilu proporsional sebagaiamana diatur dalam pasal 22E ayat (3) UUD 1945," beber Didik. Atas dasar itulah, Perludem akan membawa persoalan UU Pemilu ini ke Mahkamah Konstitusi, karena melanggar pasal 22E ayat (1), ayat (3) dan Pasal 27 ayat (1) UUD 1945. Sumber : http://www.tribunnews.com/2012/04/13/uu-pemilu-dinilai-melanggar-konstitusi

7.

Ketidaksesuaian RUU pengelolaan zakat terhadap UUD 1945

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah negara hukum yang bersifat demokratis dimana kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar 1945 dan nilai-nilai Pancasila. Oleh sebab itu, segala peraturan perundangan haruslah mengacu kepada tolok ukur ini. Dalam hal kehidupan beragama, negara perlu mengatur dan menfasilitasi berbagai agama, tanpa terkecuali, demi perkembangan mental dan spiritual setiap penduduknya. Ketidak-berpihakan negara ini menjadi jaminan bagi setiap penduduknya untuk dapat melakukan ibadah agamanya dengan baik. Potensi Ketidak-sesuaian terhadap UUD 1945 RUU Pengelolaan Zakat berpotensi melanggar Undang-Undang Dasar 1945 karena RUU ini tidak menjamin kemerdekaan beragama tiap-tiap penduduk, bersifat diskriminatif, dan melanggar Hak Asazi Manusia. Bila RUU Pengelolaan Zakat ini disahkan menjadi undang-undang dan diberlakukan, maka:

A. Negara tidak lagi menjamin kemerdekaan/kebebasan tiap-tiap penduduknya untuk memeluk dan beribadah menurut agamanya masing-masing (melanggar UUD 1945 pasal 28E ayat 1 dan pasal 29 ayat 2). Kemerdekaan memeluk dan beribadah menurut agamanya masing-masing diberikan kepada setiap individu penduduk Indonesia, dan bukannya kepada kelompok agama secara kolektif untuk mewajibkan kemauannya kepada individu dalam kelompok tersebut. Oleh sebab itu, negara tidak boleh merampas hak individu penduduk tersebut dengan membuat peraturan perundangan yang mengutamakan sebuah aturan agama. Pelaksanaan aturan agama harus berasal dari kesadaran dan dorongan hati nurani setiap individu penduduk, dan bukannya karena desakan undang-undang, dengan pengenaan sanksi pidana, baik pidana penjara dan/atau pidana denda. B. Negara bersifat diskriminatif karena negara mengutamakan kesejahteraan fakir miskin yang menganut agama tertentu saja (melanggar UUD 1945 pasal 34, pasal 23 A, dan menyimpang dari Pembukaan UUD 1945 alinea ke 4) Zakat adalah sebuah keharusan agama dimana penggunaannya bukan ditujukan untuk semua fakir miskin, tetapi ditujukan untuk fakir miskin dari agama tersebut saja. Sebuah undang-undang yang meng-anak emas-kan sebuah ajaran agama, demi kepentingan kesejahteraan fakir miskin kelompok agama tersebut saja, adalah undang-undang yang bersifat diskriminatif. Pasal 23A UUD 1945 mengungkapkan bahwa pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa adalah untuk keperluan negara. Kalau zakat termasuk dalam pungutan lain yang bersifat memaksa, maka zakat harus dipakai untuk kepentingan negara sesuai dengan tujuan negara yang dinyatakan di Pembukaan UUD 1945 alinea ke 4, antara lain untuk memajukan kesejahteraan umum. Apabila negara memperkenankan pungutan zakat untuk digunakan bukan untuk kesejahteraan umum seluruh rakyat tanpa terkecuali, maka negara telah menyimpang dari amanat Pembukaan UUD 1945 alinea ke 4 tersebut. C. Negara menggunakan APBN secara diskriminatif untuk melaksanakan aturan agama tertentu. (melanggar UUD 1945 pasal 23 ayat 1) Uang pajak merupakan salah satu sumber pemasukan APBN yang diambil dari setiap wajib pajak, tanpa memperhatikan agama yang dianutnya. Oleh sebab itu, APBN harus digunakan untuk kemakmuran rakyat secara umum tanpa memperhatikan apakah seseorang berasal dari kelompok agama tertentu atau tidak. Keterlibatan pemerintah dalam pengelolaan zakat merupakan tindakan diskriminatif yang akan membebani APBN dalam biaya implementasinya (misalnya biaya pengelolaan, biaya enforcement dan biaya proses pidana), demi kepentingan kelompok agama tertentu. D. Negara melakukan pelanggaran HAM terhadap warganegaranya (melanggar UUD 1945 pasal 28I, pasal 28H ayat 4) Sesuai prinsip negara hukum yang demokratis, negara seharusnya bertanggung jawab untuk memberikan jaminan perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM) untuk setiap orang terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif, dan bukannya malah mendukung tindakan diskriminatif tersebut. Dukungan negara terhadap RUU Pengelolaan Zakat ini dapat dilihat sebagai pelanggaran HAM dari negara terhadap penduduknya karena negara mengutamakan satu kelompok warganegara dengan latar belakang agama tertentu dibandingkan dengan yang lainnya. Kelalaian negara dalam memberikan jaminan perlindungan HAM ini merupakan pelanggaran UUD 1945 pasal 28I.

Apabila negara mengharuskan penerapan suatu aturan agama, maka negara melakukan pemaksaan atas nama agama. Dengan demikian, negara telah bertindak sewenang-wenang terhadap hak milik pribadi warganegaranya dalam bentuk keharusan dalam membayar zakat. Dengan demikian, negara telah melanggar UUD 1945 pasal 28 H ayat 4.

Apa Yang Harus Dilakukan Melihat potensi ketidak-sesuaian RUU Pengelolaan Zakat terhadap UUD 1945, maka RUU Pengelolaan Zakat seharusnya tidak dapat disahkan untuk menjadi undang-undang. Bila ada RUU-RUU lain yang memiliki potensi ketidak-sesuaian yang sejenis, maka RUU-RUU lain tersebut seharusnya tidak dapat disahkan juga untuk menjadi undang-undang. Sumber : http://www.leimena.org/id/page/v/140/ketidak-sesuaian-ruu-pengelolaan-zakat-

terhadap-uud-1945

8.

Menaikkan Harga BBM Pemerintah Melanggar Undang-undang

Pada diskusi yang diselenggarakan Keluarga Besar Nahdhiyin (PP GP Ansor, PP Fatayat, PP IPNU, PP IPPNU, PP Lakpesdam NU, PP LKKNU, the WAHID Institute, Desantara, P3M Jakarta) ini, hadir juga sebagai pembicara Ketua Lembaga Perekonomian NU Subiyakto Cakrawardaya dan aktivis BEM Universitas Nasional (UNAS) Reza Syariati. Hadir sebagai peserta ratusan aktivis baik dari organisasi mahasiswa maupun kemasyaratakan. Dikatakan Hendri, untuk menyelamatkan APBN, setidaknya ada tiga langkah alternatif yang bisa dilakukan: langkah jangka pendek, menengah dan panjang. Yang paling pendek, misalnya kita tidak membayar utang bunga obligasi, jelasnya sembari memerinci langkah-langkah lainnya. Alasan penyelamatan APBN, tegasnya, tak lebih sebagai kebohongan belaka karena banyak cara lain. Kita sudah diskusikan ke sana ke mari, tapi nggak diterima juga, katanya menyesalkan. Karena itu, Hendri menyebut hak angket atas kebijakan pemerintah menaikkan BBM yang telah disetujui DPR beberapa waktu lalu, adalah kemenangan rakyat Indonesia. Ini kesempatan atau pintu bagi untuk menguak berbagai permasalahan dalam pengelolaan sumber alam migas. Dan yang penting, kita bisa mengoreksi pengelolaan sumber alam migas selama ini, katanya. Selain menyelamatkan APBN, pemerintah beralasan kenaikan ini menyesuaikan harga BBM internasional. Kebijakan ini, menurut Hendri sudah dibatalkan Mahkamah Konstitusi (MK) karena tidak sesuai dengan semangat Undang-undang. Kalau sekarang pemerintah masih bersikeras membawa pada harga internasional, kita harus kejar. Ini melanggar UUD 1945 pasal 33, tandasnya.

Menurut Hendri, banyak hal lain yang harus dibongkar di balik alasan kenaikan harga BBM. Apalagi ini menyangkut migas, yang menjadi jantung perekonomian di semua negara. Kalau kita tidak menguasai energi, kita jangan bermimpi menjadi negara mandiri. Lupakan juga menjadi negara yang punya daya saing tinggi, ancamnya. Mantan Menteri Koperasi Republik Indonesia Subiyakto Cakrawardaya menyatakan, pemerintah memang tidak seharusnya menaikkam BBM karena banyak alternatif lain yang bisa dilakukan. Masalahnya, kebijakan pemerintah tidak didasarkan pada amanat Pasal 33 UUD 1945. Sistem ekonomi kita sudah ada dan jelas. Tinggal kita melaksanakan atau tidak, katanya. Energi harus dikuasai negara dan tidak boleh diserahkan pada pasar, sambungnya. Inilah kesalahan pemerintah. Kompensasi kenaikan harga BBM melalui pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) juga dinilainya tidak menyelesaikan masalah dan tidak tepat. BLT, katanya, justru akan memanjakan rakyat, bisa disalahgunakan oknum tertentu dan tidak mendidik secara ekonomi. Lebih baik pemerintah memberikan pelayanan, semisal membebaskan biaya pendidikan dan kesehatan, pintanya. Sedang Reza Syariati menyatakan, kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM adalah kezaliman dan penganiayaan luar biasa pada rakyat. Kebijakan itu, katanya, bagi orang waras tidak masuk akal sama sekali. Karenanya kita menuntut BBM diturunkan. Atau SBY-JK yang turun! ancam pria berkacamata ini. Reza juga menceritakan kematian rekannya, Maftuh Fauzi, akibat perjuangannya menolak kenaikan harga BBM. Apa yang dilakukan Maftuh, tak lain untuk membela perut rakyat. Namun yang diterimanya justru penganiayaan dari aparat. Saksikanlah, dia itu syuhada, tegasnya. Dari diskusi itu, Keluarga Besar Nahdhiyin (KBN) lantas menelorkan beberapa sikap atas kebijakan pemerintah yang tidak merakyat ini. KBN menilai, kekurangan dana lebih disebabkan banyaknya dana-dana yang dikorupsi para koruptor kakap dan pemborosan biaya birokrasi. Bukan karena harga minyak dunia, tulis pernyataan itu (lihat: Pernyataan Sikap KBN). Menurut KBN, pemerintah tidak mau melihat dan menghitung efek domino kenaikan ini, semisal naiknya harga sembako dan sebagainya, yang menyebabkan angka kemiskinan kian menaik. Pemerintah hanya mementingkan kepentingan penguasa, ekonom, calo investasi, serta pemodal bermazhab neoliberal, lanjut pernyataan itu. Kenyataan ini, menurut KBN, kian memperteguh keyakinan kita bahwa pemerintah memang untuk penguasa dan kekuasaan tertinggi bukan di tangan rakyat. Karenanya, KBN meminta pemerintah menurunkan harga BBM sesegera mungkin.

Sumber:http://www.wahidinstitute.org/Agenda/Detail/?id=30/hl=id/Menaikkan_Harga_

BBM_Pemerintah_Melanggar_Undang-undang

9.

UU Lambang Negara Burung Garuda Melanggar Konstitusi

Penggunaan lambang negara Burung Garuda oleh warga negara Indonesia sebaiknya biarkan dan berikan kekebasan rakyat berekspresi. Asal tidak melecehkan dalam penggunaan lambang negara tersebut. Oleh karenanya, UU No 24/2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan dinilai bertentangan dengan konstitusi. "Biarkan rakyat berekspresi sepanjang tidak melecehkan," kata komisioner Komisi Yudisial (KY), Taufiqurrohman Syahuri. Hal itu diungkapkan Taufiq dalam acara diskusi publik 'Belenggu UU No 24/2009, Pasal 57 poin c dan d Terhadap Raga Pancasila' yang di selenggarakan Forum Kajian Hukum dan Konstitusi (FKHK) di RM Pandan Resto, Ringroad Utara, Sleman, Kamis (15/12/2011). Menurut Taufiq, antara UUD 1945 dengan UU No 24/2009 memang bertentangan. Dalam UUD dinyatakan kebebasan berekspresi warga negara diatur dalam Pasal 28 UUD 1945 dan Pasal 28 C ayat (2) UUD 1945. Pasal tersebut menyatakan setiap orang berhak untuk memajukan irinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negaranya. Namun kenyataannya tidak setiap orang boleh memperjuangkan haknya untuk mencintai dan bangga terhadap lambang negaranya. Sebab Pasal Pasal 57 poin c dan d UU No 24/2009 telah memberikan batasan/larangan untuk menggunakan lambang negaranya sekalipun untuk maksud dan tujuan membangun rasa cinta kebangsaan dan kenegaraan dalam dirinya. "Jadi dalam UU tersebut penggunaan lambang negara hanya untuk pihak-pihak tertentu saja," tegas Taufiq. Menurut dia, dalam Pasal 57 huruf d menyatakan bahwa setiap orang dilarang menggunakan lambang negara untuk keperluan selain yang diatur dalam undang-undang. Sedangkan Pasal 51 dan 52 UU No 24/2009 menyatakan pada pokoknya penggunaan lambang negara hanya dapat digunakan bagi instnasi-instansi pemerintah atau bagi pejabat negara. "Ini berarti lambang negara hanya milik pemerintah atau pejabat negara bukan rakyat Indonesia. Dan setiap orang tidak berwenang menggunakan lambang negara. Bila ada rakyat Indonesua yang

menggunakan

dikenakan

pidana,"

katanya.

Dia menegaskan masalah pelecehan ataupun penghinaan harus bisa dibuktikan di pengadilan. Namun bukan dilakukan dengan cara-cara diluar pengadilan. "Untuk membuktikan bersalah atau tidak hanya di pengadilan," katanya. Hal senada juga dikatakan peneliti Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada (UGM), Diasma Sandi Swandaru. Lambang negara sebenarnya sudah hidup dalam kehidupa sosial masyarakat Indonesia sehingga jangan sampai dijauhkan dari rakyat. Dahulu Garuda Pancasila dijauhkan dan hanya ditempel di dinding ruangan, sekarang Pancasila sudah mendekat. "Garuda di Dadaku. Ke depan nilai-nilai Pancasila seharusnya menyatu dan hidup dalam setiap nafas dan laku masyarakat dan khususnya pemerintah pemegang kekuasaan," pungkas Diasma. Sumber : http://news.detik.com/read/2011/12/15/153315/1792079/10/uu-lambang-negara-burunggaruda-melanggar-konstitusi

10.

APAKAH MENGHUKUM PENCURI YG FAKIR MISKIN MELANGGAR UUD 1945 ?

UUD 1945 adalah peraturan perundang-undangan yang kedudukannya tertinggi dari seluruh peraturan perundang-undangan yang ada di Indonesia. Artinya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) berada dibawah UUD 1945. Pasal 362 KUHP mengatakan bahwa:

"Barang siapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah." Pasal "(1) Fakir 34 miskin dan UUD anak-anak yang 1945 mengatakan terlantar dipelihara oleh bahwa: negara

(2) Negara mengembangkan sistem jaringan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. (3) Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang." Apabila melihat ketentuan diatas, pertanyaannya adalah apakah Fakir Miskin yang mencuri hanya supaya bisa makan karena ia tidak/belum dipelihara oleh negara, boleh dihukum? Kalau dihukum, bukan justru malah melanggar hukum? Kenapa, melanggar hukum? Karena: 1. UUD 1945 telah menjanjikan bahwa Fakir Miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara 2. Kalau si Fakir Miskin itu tidak mau mencuri karena takut dihukum lalu ia mati kelaparan atau sengsara (padahal tidak ada siapapun yang bersedia membantu hidupnya) , bukannya malah jadi Pasal dibawah ini yang berlaku: Pasal 304 KUHP

"Barang siapa dengan sengaja menempatkan atau membiarkan seorang dalam keadaan sengsara, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan dia wajib memberi kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang itu, diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah." Jadi sebetulnya yang mana yang benar? Sumber : http://myquran.org/forum/index.php?topic=38982.0

11.

Pasal 32 UU KPK Langgar UUD

Saksi ahli yang dihadirkan pengacara Chandra-Bibit, Abdul Hakim Garuda Nusantara menilai pasal 32 ayat 1 huruf c UU tentang KPK dinilai bertentangan dengan UUD 1945. "Dalam pasal 32 ayat 1 huruf c uu KPK telah melanggar pasal uu 28 ayat 1 UUD 1945 karena melanggar asas parduga tak bersalah," kata Abdul Hakim dalam keterangannya di sidang uji materiil MK, Jakarta, Rabu (4/11). Abdul Hakim menjelaskan, alasan UU 32 yang diuji dengan pasal 27 dan 28 UUD 1945, bertentangan melanggar UUD 1945 karena pasal 28 uUD 45 mengandung tentang asaz praduga tak bersalah. Karena azas praduga tak bersalah yang jauh sebelumnya dianut diberbagai UU yang berlaku di Indonesia dan sudah dipraktekkan dalam kehidupan hukum. "Sehingga dalam kehidupan hukum kita sudah menjadi bagian dari kondisi hukum Indonesia. Dengan demikian, perspekif HAM, Asas praduga tak bersalah adalah hak dasar dari tiap orang yang berada dalam posisi sebagai tersangka, terdakwa yang wajib diakui, dijaga dihormati

dijamin

dan

dilindungi

negra

dan

badan

eksekutif,"

paparnya.

Selain itu, isu adanya pasal 32 mengganggu implementasi kinerja KPK. Diduga ini membuka presiden mencampuri dan pemberhentian ini memberikan dampak negatif KPK. Sumber : http://www.inilah.com/read/detail/176693/chandra-bibit-pasal-32-uu-kpk-langgar-uud

12.

PP No.20 Tahun 1994 Melanggar UUD 1945

Dalam Seminar di gedung DPD RI Bertajuk "Tegakkan Kedaulatan di Tambang Freeport: Bukan Sekedar Renegosiasi!" kamis (17/11) yang dilaksanakan oleh Anggota DPD Tonny Tesar bekerja sama dengan Institute Resources Studies (IRESS). Ekonom Indef Hendri Saparini mengungkapkan bahwa Renegoisasi kontrak Karya Freeport tidak cukup untuk mengatasi semua persoalan ketidakadilan yang dilakukan oleh Freeport kepada Indonesia. Salah satu persoalan yang sangat fundamental adalah, Peraturan Pemerintah (PP) No.20 Tahun 1994, yang menurutnya tidak sejalan dengan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 pasal 33. Dalam PP NO.20/94 Pasal 5 berbunyi: Perusahaan patungan dapat melakukan kegiatan usaha yang tergolong penting bagi negara dan mrnguasai hajat hidup rakyat banyak yaitu pelabuhan, produksi dan transmisi serta distribusi tenaga listrik untuk umum; telekomunikasi, pelayaran, penerbangan, air minum, kereta api umum, pembangkit tenaga atom dan media massa. Untuk mendukung PP tersebut, maka dengan semangat liberalisme, diterbitkanlah berbagai Undang- Undang (UU). Antara lain Undang-Undang penanaman modal, privatisasi air, migas, kelistrikan, BUMN, daln lain-lain, yang jelas-jelas tidak sejalan dengan UUD 45. Menurut Ekonom Senior Indef itu juga, Penyiasatan atas UU dengan menggunakan PP juga terjadi pada peraturan tentang penetapan harga BBM. Pemerintah menerbitkan PP untuk menyiasati Pasal 28 UU Migas yang sebelumnya telah dibatalkan MK.

Sumber : http://satunegeri.com/pp-no20-tahun-1994-melanggar-uud-1945.html 13. MK Tolak Uji Materi UU APBN 2011

Mahkamah Konstitusi (MK) menolak uji materi Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (UU APBN) 2011. Para pemohon dalam permohonannya meminta agar MK membatalkan pasal dalam UU APBN 2011 yang terkait dengan alokasi anggaran kesehatan,pembelian pesawat presiden, studi banding DPR, pembangunan Gedung DPR, dana percepatan pembangunan infrastruktur daerah, dana penyesuaian infrastruktur daerah,dan dana alokasi umum. Menyatakan menolak permohonan para pemohon untuk seluruhnya,tegas ketua majelis hakim Mahfud MD saat memba cakan putusan di Gedung MK, Jakarta, kemarin. Permohonan ini diajukan beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan individu. Mereka adalah Indonesian Human Rights Committee for Social Justice (IHCS),Prakarsa Masyarakat untuk Negara Kesejahteraan dan Pembangunan Alternatif (Prakarsa), Forum Indonesia untuk

Transparansi Anggaran (Fitra),Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (AsPPUK), Trade Union Rights Centre (TURC), Ridaya La Ode Ngkowe,dan Dani Setiawan. Dalam permohonannya, pemohon menjelaskan, anggaran kesehatan yang ada di UU APBN 2011 hanya sebesar Rp25,7 triliun atau setara dengan 1,94% APBN. Jumlah tersebut berlawanan dengan UU Kesehatan yang jelas mewajibkan anggaran kesehatan 5% dari APBN.Perbedaan kebijakan tersebut memunculkan ketidakpastian hukum sehingga melanggar UUD 1945. Atas permohonan tersebut, MK berpendapat bahwa masalah anggaran kesehatan adalah ketidaksesuaian antara satu UU dengan UU yang lain sehingga bukan masalah antara UU bertentangan dengan UUD 1945.Karena itu,MK menolak permohonan pembatalan UU APBN 2011 terkait anggaran kesehatan. Kemudian, pemohon juga menilai pemerintah melalui UU APBN 2011 telah menganggarkan kegiatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan seperti studi banding DPR, pembelian pesawat presiden, dan pembangunan gedung DPR.Karena itu,kebijakan tersebut dinilai bertentangan dengan UUD 1945. Atas permohonan tersebut, MK menilai bahwa ketiga item tersebut adalah masalah kebijakan dan bukan masalah pertentangan UU dengan UUD 1945. Karena itu, permohonan ketiga item tersebut ditolak. Permohonan pemohon yang lain yang tertera dalam UU APBN 2011 juga bukan masalah konstitusionalitas norma sehingga permohonan tersebut juga ditolak. Satu hakim konstitusi AchmadSodikimemunculkanbeda pendapat. Dia berpandang-an, ketidaksesuaianUU APBN2011 dengan UU Kesehatan adalah bentuk ketidakpastian hukum. Menurut dia, ketidakpastian hukum tersebut telah membuat masalah di tingkat masyarakat. Sebab, anggaran yang minim memungkinkan masyarakat tidak mendapatkan hak kesehatan secara layak.Karena itu, Sodiki menilai permohonan pemohon terkait anggaran kesehatan layak dikabulkan. Sementara itu,kuasa pemohon Ridwan Darmawan mengatakan, pihaknya akan mengevaluasi putusan MK tersebut. Kami akan mengeksaminasi ( mengevaluasi) putusan,tegasnya. Sumber : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/455825/

14.

Demi Kedaulatan, UU Migas Harus Digugurkan

Problemantika naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia melupakan polemik yang terus menghantui masyarakat. PP Muhammadiyah salah satu ormas Islam besar di Indonesia menunjukkan perannya untuk menyoroti masalah ini secara serius. Untuk mengkaji secara serius permasalahan ini, hari Jumat (20/04/2012) Muhammadiyah mengadakan diskusi publik dengan tema Bersama Mahkamah Institusi Kita Tegakkan Kedaulatan Negara. Acara berlangsung di kantor Pusat Muhammadiyah Jalan Menteng Jakarta Pusat.

Diskusi menghadirkan narasumber KH. Hazim Muzadi mantan Ketua PB Nahdlatul Ulama (NU), Prof. Dr Sri Edi Swasono dan Dr Elli Ruslina, kegiatan ini menyoroti integritas dari keberadaan Pasal 33 Undang Undang Dasar (UUD) 1945. Menurut Ketua PP Muhammadiyah, Dr Din Syamsuddin, fakta mengatakan begitu banyak Undang Undang (UU) di negeri ini yang melanggar UUD 45. Salah satunya adalah UU Migas No. 22 Tahun 2001. Din menjelaskan bahwa keberadaan UU Migas ini sangat tidak menguntungkan rakyat dan hanya menguntungkan pihak asing bahkan merendahkan integritas dari kedaulatan konstitusi bangsa. UU ini sudah pernah digugat oleh kita pada tahun 2003. Namun semua perusahaan minyak asing di Indonesia mengadakan konferensi pers dan mengancam jika UU ini dibatalkan maka mereka akan menggugat pemerintah Indonesia di mahkamah Internasional, jelasnya dalam kata pengantarnya. Sementara itu, dalam uraiannya, Prof. Dr Sri Edi Swasono menjelaskan ada kebohongan yang disebarkan ke publik mengenai keberadaan UU Migas. Menurut salah satu guru besar Universitas Indonesia ini, keberadaan UU ini harus digugurkan demi kedaulatan hukum di Indonesia. Menurut beliau konsideran UU Migas mengatakan bahwa telah terjadi perubahan pada UUD 45 pasal 33, padahal perubahan itu tidak pernah ada. Dari sinilah kepalsuan konsideran UU Migas ini telah mencederai hukum di Indonesia. Berarti ini ada pertimbangan yang tidak konsisten dan ini pertimbangan palsu. Kalau dalam konsideran UU itu palsu, maka otomatis UU itu batal, jelas mantan anggota badan pekerja MPR ini. Edi Swasono mengakui bahwa ada rencana terpendam yang tersistem di negara ini untuk merubah UUD 45 menjadi UU yang bersifat Neo Liberal. Dengan gamblang Edi Swasono menjelaskan bahwa arah dari amandemen UU di Indonesia ini mengarahkan untuk membuka intervensi asing terhadapa kebijakan kebijakan kerakyatan di Indonesia. Senada dengan Edi Swasono. DR Elli Ruslina menjelaskan mengapa BUMN penting di Indonesia seperti Indosat sampai Krakatau Steel di jual, ini semua karena UU negara ini memberikan peluang privatisasi hingga ke angka 90%. Bahkan selain UU Migas, UU perbankan Indonesia sendiri telah mengalami intervensi asing. UU perbankan no.10 tahun 98 merupakan perubahan UU No7 tahun 92. Di situ ada klausul yang memberikan kesempatan bahwa saham boleh dimiliki oleh asing sampai 100% jelas penulis desertasi Pasal 33 Sebagai Dasar Perekonomian Indonesia; Telah Terjadi Penyimpangan Terhadap Mandat Konstitusi yang diluluskan oleh 7 guru besar UI dan 1 satu guru besar Universitas Padjajaran (Unpad). Sementara itu, KH. Hasyim Muzadi menegaskan bahwa masalah ini bukan masalah hukum biasa. Tapi kepentingan kedaulatan konstitusi ini berhadapan dengan kekuatan asing dan kekuatan dalam negeri yang selalu memihak kepada kepentingan asing. Karena itu menurut Hasyim sangat perlu untuk menggedor DPR untuk kembali mengingat kepentingan rakyatnya.

Yang digedor jangan pintunya, tapi yang digedor adalah mindset daripara legislator kita. Kita juga harus selalu mengatakan kepada rakyat bahwa ada UU yang dengan sengaja dan secara kolektif menjual negeri Indonesia, jelas pengasuh PP Al Hikam ini. Senada dengan Sri Edi, Dr Elli Ruslina menjelaskan mengapa BUMN penting di Indonesia seperti Indosat sampai Krakatau Steel i jual, ini semua karena UU negara ini memberikan peluang privatisasi hingga ke angka 90%. Bahkan selain UU Migas, UU perbankan Indonesia sendiri telah mengalami intervensi asing. Kegiatan yang juga di hadiri mantan politisi Dr Sri Bintang Pamungkas, Harris Abu Ulya (DPP Hizbut Tahrir Indonesia) dan perwakilan lintas agama ini sepakat akan melanjutkan perjuangan untuk membatalkan semua UU yang bertentangan dengan UUD 45 dan menolak intervensi asing dalam kebijakan kedaulatan NKRI, terutama intervensi dari nilai nilai neo liberalism ke dalam jati diri bangsa ini.

Sumber : http://hidayatullah.com/read/22317/22/04/2012/demi-kedaulatan,-uu-migas-harusdigugurkan.html

15.

Mengekang, UU Penyiaran Langgar UUD

UU Penyiaran dinilai malah mengekang demokrasi. Pasal 18 ayat 1 dan pasal 34 ayat 4 UU 32/2002 tersebut dinilai melanggar UUD 1945. "Saya menilai Undang-Undang Penyiaran melanggar Undang-Undang dasar," kata Amir Effendi Siregar yang menjadi ahli pemohon dalam sidang uji materi UU Penyiaran di Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Rabu (15/2/2012). Menurut dia, dalam membangun sistem penyiaran yang demokratis, tidaklah hanya menjamin kebebasan berbicara, berpendapat dan kemerdekaan pers, tetapi juga harus menjamin adanya keanekaragaman kepemilikan dan isi. "Sebenarnya dalam amanat UUD 45 ada demokratisasi dan desentralisasi sesuai pasal 18, 18A, dan 18B. Dan saat ini hak-hak masyarakat daerah untuk mempergunakan frekuensi dan terlibat dalam kegiatan penyiaraan dalam bentuk kepemilikan dan isi masih terabaikan," ujar Amir. Pasal 18 ayat 1 UU Penyiaran menyebutkan, pemusatan kepemilikan dan penguasaan lembaga penyiaran swasta oleh satu orang atau satu badan hukum, baik di satu wilayah siaran maupun di beberapa wilayah siaran, dibatasi. Pasal 34 ayat 4 UU Penyiaran menyebutkan, izin penyelenggaraan penyiaran dilarang dipindahtangankan kepada pihak lain. Sumber : http://www.centroone.com/news/2012/02/3ss/mengekang-uu-penyiaran-langgar-uud/