You are on page 1of 47

BAB I PENDAHULUAN

Aset adalah barang atau benda yang terdiri dari benda tidak bergerak dan benda bergerak baik yang berwujud (tangible) dan tidak berwujud (intangible) yang tercakup dalam aktiva/kekayaan perusahaan. Tujuan kebijakan akuntansi asset adalah untuk mengatur perlakuan akuntansi untuk asset dan pengungkapan informasi penting lainnya yang harus disajikan dalam laporan keuangan. Kebijakan ini mengatur bagaimana suatu asset diklasifikasi, diakui, diukur, disajikan, dan diungkapkan dalam laporan keuangan, sehingga para pemakai laporan keuangan mendapatkan informasi yang dibutuhkannya sesuai dengan kondisi yang sebenarnya pada saat itu. Jika suatu asset tidak disajikan dan diungkapkan sesuai standar, maka pemakai laporan keuangan tidak dapat mengetahui kondisi ekonomi perusahaan secara transparan. Dengan demikian, penulis mencoba akan menjelaskan seluruh bagian-bagian dari asset yang ada di dalam laporan keuangan berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Per 12 Juni 2012.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Aktiva Pengertian Aktiva/Aset dapat dilihat dari beberapa definisi menurut para ahli, sebagai berikut: Menurut S munawir (2002:30), mengemukakan pengertian aktiva sebagai berikut: Aktiva adalah sarana atau sumber daya ekonomik yang diniliki oleh suatu kesatuan usaha atau perusahaan yang hargan perolehannya atau nilai wajarnya harus diukur secara objektif. Sedangkan menurut Thompson learning yang diterjemahkan oleh

skoussen dkk (2001:131), mengemukakan pengertian aktiva sebagai berikut: Aktiva adalah kemungkinan keuntungan ekonomi di masa depan yang diperoleh atau dikontrol oleh entitas tertentu sebagai hasil dari transaksi atau kejadian dimasa lalu. Sedangkan menurut Djarwanto PS. (2001:15) pengertian aktiva adalah sebagai berikut: Aktiva merupakan bentuk dari penanaman modal perusahaan, bentuk-bentuknya dapat berupa harta kekayaan atau hak atas kekayaan atau jasa yang dimiliki perusahaan yang bersangkutan. Sedangkan menurut Mamduh M.Hanafi (2003:24), mengemukakan

pengertian aktiva sebagai berikut: Aktiva adalah sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan darinya manfaat ekonomi dimasa depan diharapkan akan diraih oleh perusahaan.

Berdasarkan pengertian-pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa aktiva adalah bentuk dari penanaman modal perusahaan, bentuk-bentuknya dapat berupa

harta kekayaan, dan diharapkan mampu memberikan kontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung dimasa yang akan datang. Dalam penulisannya dalam pelaporan keuangan Aktiva/Aset ini diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang akan dijelaskan selanjutnya. 2.2 2.2.1 Properti Investasi (PSAK 13) Pengertian Properti investasi adalah tanah atau bangunan atau bagian dari suatu bangunan atau kedua duanya yang dikuasai oleh pemilik atau lesse melalui sewa pembiayaan untuk menghasilkan rental atau kenaikan nilai atau keduanya dan tidak untuk : 1. Digunakan dalam produksi atau penyedia barang atau jasa atau untuk tujuan administratif atau 2. Dijual dalam kegiatan sehari-hari Contoh properti investasi :
1.

Tanah yang dikuasai dalam jangka panjang untuk kenaikan nilai dan bukan untuk dijual jangka pendek dalam kegiatan sehari-hari

2. 3.

Tanah yang dikuasai saat ini yang penggunaannya belum ditentukan Bangunan yang dimiliki melalui sewa pembiayaan dan disewakan kepada pihak lain melalui satu atau lebih sewa operasi

4.

Bangunan yang belum terpakai tetapi tersedia untuk disewakan kepada pihak lain melalui satu atau lebih sewa operasi

5.

properti dalam proses pembangunan atau pengembangan yang di masa depan digunakan sebagai properti investasi.

Contoh bukan properti investasi:

1.

Properti yang dimaksud untuk dijual dalam kegiatan usaha sehari-hari atau sedang dalam proses pembangunan untuk dijual (PSAK 14 Persediaan)

2.

properti dalam proses pembangunan atau pengembangan atas nama pihak ketiga Properti yang digunakan sendiri (PSAK 16 Aset Tetap) Properti yang disewakan kepada entitas lain dengan cara sewa pembiayaan

3. 4.

2.2.2

Pengakuan

Properti investasi diakui sebagai asset jika dan hanya jika : 1. Besar kemungkinan manfaat ekonomik masa depan yang terkait dengan properti investasi akan mengalir ke entitas; dan 2. Biaya perolehan properti investasi dapat diukur secara andal. Entitas mengevaluasi sesuai dengan prinsip pengakuan atas seluruh biaya perolehan properti investasi pada saat terjadinya. Biaya perolehan termasuk biaya yang terjadi pada saat memeroleh properti investasi dan biaya yang terjadi setelahnya untuk penambahan, penggantian bagian properti atau perbaikan properti.

2.2.3

Pengukuran Properti investasi diukur sebesar biaya perolehan. Biaya transaksi termasuk

dalam pengukuran awal tersebut.. Biaya perolehan properti investasi yang dibeli meliputi harga pembelian dan setiap pengeluaran yang dapat diatribusikan secara langsung. Termasuk biaya yang diatribusikan secara langsung : - Biaya jasa hukum - Pajak penjualan - Biaya transaksi lainnya Setelah pengakuan awal, Emiten atau Perusahaan Publik wajib memilih model nilai wajar atau model biaya sebagai kebijakan akuntansinya dan menerapkan kebijakan tersebut pada seluruh Properti Investasi. Hal ini mensyaratkan seluruh entitas untuk

menentukan nilai wajar properti investasi, baik untuk tujuan pengukuran (jika entitas menggunakan model nilai wajar) atau pengungkapan (jika menggunakan model biaya). Entitas dianjurkan, tetapi tidak diharuskan, untuk menentukan nilai wajar properti investasi berdasarkan atas penilaian oleh penilai independen yang diakui dan memiliki kualifikasi profesional yang relevan serta memiliki pengalaman mutakhir di lokasi dan kategori properti investasi yang dinilai. 1. Model Nilai Wajar Dalam model ini, Properti Investasi dicatat pada nilai wajar pada tanggal pelaporan. 2. Model biaya Dalam model ini, Properti Investasi dicatat pada biaya perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai.

2.2.4

Pengungkapan Perseroan wajib menjelaskan antara lain kebijakan akuntansi untuk: 1. 2. Pengakuan awal Properti Investasi; Pengukuran setelah pengakuan awal Properti Investasi (model nilai wajar atau model biaya); 3. 4. 5. Estimasi umur manfaat dan/atau tarif penyusutan untuk model biaya; dan Penghentian pengakuan Properti Investasi Jumlah yang diakui dalam laba rugi untuk penghasilan rental dari

properti investasi dan beban operasi langsung (mencakup perbaikan dan pemeliharaan) yang timbul dari properti investasi yang menghasilkan penghasilan rental selama periode.

Khusus untuk Properti Investasi yang menggunakan model Nilai Wajar, selain pengungkapan sebagaimana dimaksud diatas ditambahkan pengungkapan:

1. Rekonsiliasi antara jumlah tercatat Properti Investasi pada awal dan akhir periode dengan menunjukkan penambahan, pengurangan, dan reklasifikasi; 2. Saat suatu penilaian terhadap Properti Investasi disesuaikan secara signifikan untuk tujuan pelaporan keuangan, maka Perseroan mengungkapkan rekonsiliasi antara penilaian tersebut dan penilaian yang telah disesuaikan yang dilaporkan dalam laporan keuangan, dengan menunjukkan secara terpisah yaitu jumlah agregat dari pengakuan kewajiban sewa yang telah ditambahkan kembali dan penyesuaian signifikan lain Khusus untuk Properti Investasi yang menggunakan model biaya, selain pengungkapan sebagaimana dimaksud diatas ditambahkan pengungkapan: 1. Rekonsiliasi jumlah tercatat bruto dan akumulasi penyusutan Properti Investasi pada awal dan akhir periode dengan menunjukkan penambahan, pengurangan, dan reklasifikasi; 2. Jumlah penyusutan untuk masing-masing periode penyajian dan alokasi beban penyusutan; 3. Jumlah rugi penurunan nilai yang diakui, dan jumlah pemulihan rugi penurunan nilai, selama satu periode sesuai SAK yang berlaku; 4. Transfer ke dan dari persediaan dan properti yang digunakan sendiri; dan 5. Nilai Wajar Properti Investasi. 6. Metode penyusutan yang digunakan. Khusus untuk Properti Investasi dalam proses pembangunan dan pengembangan, Emiten atau Perusahaan Publik wajib mengungkapkan: 1. Rincian Properti Investasi dalam proses pembangunan dan pengembangan; 2. Persentase jumlah tercatat terhadap nilai kontrak; 3. Estimasi saat penyelesaian; 4. Hambatan kelanjutan penyelesaian; 5. Jumlah pengeluaran yang diakui dalam jumlah tercatat Properti Investasi dalam proses pembangunan dan pengembangan

Dalam hal terdapat kapitalisasi biaya pinjaman untuk properti investasi yang memenuhi kriteria aset kualifikasian, maka wajib diungkapkan jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi selama periode berjalan dan tarif kapitalisasi yang digunakan untuk menentukan jumlah biaya pinjaman yang layak dikapitalisasi.

2.3 2.3.1

Persediaan (PSAK 14) Pengertian Persediaan adalah aktiva yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha

normal, dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan atau dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa. Nilai realisasi bersih adalah taksiran harga penjualan dalam kegiatan usaha normal dikurangi taksiran biaya penyelesaian dan taksiran biaya yang diperlukan untuk melaksanakan penjualan. Persediaan meliputi barang yang dibeli dan disimpan untuk dijual kembali, misalnya, barang dagang dibeli oleh pengecer untuk dijual kembali, atau pengadaan tanah dan properti lainnya untuk dijual kembali. Persediaan juga mencakupi barang jadi yang telah diproduksi, atau barang dalam penyelesaian yang sedang diproduksi perusahaan, dan termasuk bahan serta perlengkapan yang akan digunakan dalam proses produksi.

2.3.2

Pengukuran Persediaan Persediaan harus diukur berdasarkan biaya atau nilai realisasi bersih, mana

yang lebih rendah. Biaya persediaan harus meliputi semua : 1. Biaya Pembelian, meliputi : a) Harga Beli b) Bea Import c) Pajak lainnya (kecuali bisa ditagih kpd otoritas pajak) d) Biaya angkut

e) Biaya penanganan f) Biaya lain yang secara langsung dapat diatribusikan pada perolehan barang atau jasa. 2. Biaya Konversi, meliputi : a) Biaya Langsung terkait produksi - Tenaga kerja langsung b) Alokasi sistematis biaya overhead tetap dan variabel : 1. Overhead Produksi tetap - Penyusutan Aset - Pemeliharaan Aset - Biaya Manajemen dan administrasi pabrik 2. Overhead produksi variabel - Bahan tidak langsung - Tenaga kerja tidak langsung 3. Biaya Lain-lain Hanya dibebankan sebagai biaya persediaan sepanjang biaya tersebut timbul agar persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini. Biaya-biaya yang dikeluarkan dari biaya persediaan dan diakui sebagai beban periode terjadinya : a. Biaya pemborosan bahan, tenaga kerja atau biaya produksi lainnya yang tidak normal. b. Biaya penyimpanan, kecuali diperlukan untuk proses produksi selanjutnya. c. Biaya administrasi dan umum yang tidak terkait proses produksi. d. Biaya penjualan Rumus Biaya Biaya persediaan untuk barang yang lazimnya tidak dapat diganti dengan barang lain (not ordinary interchangeable) dan barang serta jasa yang dihasilkan dan dipisahkan untuk proyek tertentu harus diperhitungkan berdasarkan identifikasi khusus terhadap biayanya masing-masing. Biaya persediaan harus dihitung dengan

menggunakan rumus biaya masuk pertama keluar pertama (MPKP/FIFO) dan Ratarata tertimbang (Weighted Average Cost Method)). Pengakuan sebagai biaya Jika barang dalam persediaan dijual, maka nilai tercatat persediaan itu harus diakui sebagai beban pada periode diakuinya pendapatan atas penjualan tersebut. Setiap penurunan nilai persediaan dibawah biaya menjadi nilai realisasi bersih dan seluruh kerugian persediaan harus diakui sebagai biaya pada periode terjadinya penurunan atau kerugian tersebut. Setiap pemulihan kembali penurunan nilai persediaan karena peningkatan kembali nilai realisasi bersih harus diakui sebagai pengurangan terhadap jumlah beban persediaan pada periode terjadinya pemulihan tersebut.

2.3.3

Pengungkapan

Laporan keuangan harus mengungkapkan: 1. Kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan , termasuk rumus biaya yang dipakai; 2. Total jumlah tercatat persediaan dan jumlah nilai tercatat menurut klasifikasi yang sesuai bagi perusahaan; 3. Jumlah tercatat persediaan yang dicatat sebesar nilai realisasi bersih; 4. Jumlah dari setiap pemulihan dari setiap penurunan nilai yang diakui sebagai penghasilan selama periode. 5. Kondisi atau peristiwa penyebab terjadinya pemulihan nilai persediaan yang diturunkan. 6. Nilai tercatat persediaan yang diperuntukkan sebagai jaminan kewajiban.

Laporan keuangan harus mengungkapkan salah satu informasi tersebut yaitu biaya persediaan yang diakui sebagai beban selama periode tertentu, atau biaya

operasi, yang dapat diterapkan pada pendapatan diakui sebagai beban selama periode laporan keuangan, diklasifikasikan sesuai dengan hakekatnya.

2.4 2.4.1

Aset Tetap (PSAK 16) Pengertian Aset tetap seringkali merupakan komponen yang signifikan dalam Neraca

Perusahaan. Aset Tetap bersifat tangible dan digunakan dalam jangka panjang. Dalam PSAK 16 definisi Aset tetap adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk direntalkan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif dan diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode.

2.4.2

Pengakuan Biaya perolehan aset tetap harus diakui sebagai aset jika dan hanya jika besar

kemungkinan manfaat ekonomis di masa depan berkenaan dengan aset tersebut akan mengalir ke entitas dan biaya perolehan aset dapat diukur secara andal. Suku cadang dan peralatan pemeliharaan (service equipment) biasanya dicatat sebagai persediaan dan diakui dalam laba rugi pada saat dikonsumsi. Namun, suku cadang utama dan peralatan siap pakai memenuhi kriteria aset tetap ketika entitas memperkirakan akan menggunakan aset tersebut lebih dari satu periode. Sama halnya suku cadang dan peralatan pemeliharaan yang hanya bisa digunakan untuk aset tetap tertentu, juga dicatat sebagai aset tetap. Entitas harus mengevaluasi berdasarkan prinsip pengakuan ini terhadap semua biaya perolehan aset tetap pada saat terjadinya. Biaya-biaya tersebut termasuk biaya awal untuk memperoleh atau mengkonstruksi aset tetap dan biaya-biaya selanjutnya yang timbul untuk menambah, mengganti, atau memperbaikinya.

2.4.3

Pengukuran

1. Pengukuran Awal

Suatu aset tetap yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai aset tetap pada awalnya harus diukur sebesar biaya perolehan. Biaya perolehan aset tetap terdiri dari: a) Purchase Price Harga perolehan, termasuk bea impor dan pajak pembelian yang tidak boleh dikreditkan setelah dikurangi diskon pembelian dan potongan lain; b) Directly Attributable Cost Biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa aset ke lokasi dan kondisi diinginkan agar aset siap digunakan sesuai dengan keinginan dan maksud manajemen c) Dismantling Cost Estimasi awal biaya pembongkaran dan pemindahan aset tetap dan restorasi lokasi aset. Kewajiban atas biaya tersebut timbul: 1. Ketika aset tersebut diperoleh, atau 2. Karena entitas menggunakan aset tersebut selama periode tertentu untuk tujuan selain untuk menghasilkan persediaan. Contoh biaya yang dapat diatribusikan secara langsung adalah: a. Biaya imbalan kerja yang timbul secara langsung dari pembangunan atau akuisisi aset tetap; b. c. d. Biaya penyiapan lahan untuk pabrik; Biaya handling dan penyerahan awal; Biaya perakitan dan instalasi;

2. Pengukuran Setelah Pengakuan Awal Entitas memilih model biaya atau model revaluasi sebagai kebijakan akuntansinya dan menerapkan kebijakan tersebut terhadap seluruh aset tetap dalam kelompok yang sama. a. Model Biaya (Cost Model)

Setelah diakui sebagai aset, aset tetap dicatat sebesar biaya perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai aset. b. Model Revaluasi (Revaluation Model) Setelah diakui sebagai aset, aset tetap yang nilai wajarnya dapat diukur secara andal harus dicatat pada jumlah revaluasian, yaitu nilai wajar pada tanggal revaluasi dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai yang terjadi setelah tanggal revaluasi. Revaluasi harus dilakukan dengan keteraturan yang cukup reguler untuk memastikan jumlah tercatat tidak berbeda secara material dari jumlah yang ditentukan dengan menggunakan nilai wajar pada akhir periode pelaporan.

3. Penentuan Nilai Wajar Nilai wajar tanah dan bangunan biasanya ditentukan melalui penilaian yang dilakukan oleh penilai yang memiliki kualifikasi profesional berdasarkan bukti pasar.Nilai wajar pabrik dan peralatan biasanya mengunakan nilai pasar yang ditentukan penilai.Jika tidak ada pasar yang dapat dijadikan dasar penentuan nilai wajar karena sifat aset tetap yang khusus dan jarang diperjual-belikan, kecuali sebagai bagian dari bisnis yang berkelanjutan, maka entitas mungkin perlu mengestimasi nilai wajar menggunakan pendekatan penghasilan atau biaya pengganti yang telah disusutkan (depreciated replacement cost approach).

4. Frekuensi Penilaian Frekuensi revaluasi tergantung perubahan nilai wajar dari asset tetap yang direvaluasi.Jika nilai wajar dari asset yang direvaluasi berbeda secara material dari jumlah tercatatnya, maka revaluasi lanjutan perlu dilakukan.Beberapa asset tetap mengalami perubahan nilai wajar secara signifikan dan fluktuatif, sehingga perlu direvaluasi secara tahunan.Revaluasi tahunan tidak perlu dilakukan apabila perubahan nilai wajar tidak signifikan.Namun, asset tersebut mungkin perlu direvaluasi setiap tiga atau lima tahun sekali.

Revaluasi harus dilakukan secara regular untuk memastikan jumlah tercatat tidak berbeda secara material dengan nilai wajar pada tanggal neraca. Jika suatu aset tetap direvaluasi, maka akumulasi penyusutan pada tanggal revaluasi diperlakukan dengan salah satu cara berikut ini: a. disajikan kembali secara porposional dengan perubahan dalam jumlah tercatat bruto aset sehingga jumlah tercatat aset setelah revaluasi sama dengan jumlah revaluasiannya. Metode ini sering digunakan apabila aset direvaluasi dengan cara memberi indeks untuk menentukan biaya pengganti yang telah disusutkan. b. dieliminasi terhadap jumlah tercatat bruto aset dan jumlah tercatat neto setelah eliminasi disajikan kembali sebesar jumlah revaluasian dari aset tersebut. Metode ini sering digunakan untuk bangunan. Contoh Metode Proporsional Aset senilai $ 10.000 diperoleh tanggal 1 Januari 2008 dengan masa manfaat ekonomis 5 tahun tanpa nilai sisa. tanggal 31 Desember 2008 nilai wajar aset adalah $ 12.000. 1/1/08 Dr. Aset tetap Cr. Kas $10,000 $10,000

31/12/08 Dr. Beban Penyusutan Cr.

$ 2,000 $ 2,000

Akumulasi Penyusutan

31/12/08 Dr. Aset Tetap Cr.

$ 5,000 $ 1,000* $ 4,000

Akumulasi Penyusutan Surplus Revaluasi

*((12.000-8.000)/8.000) x 2.000 Contoh Metode Eliminasi

Aset senilai $ 10.000 diperoleh tanggal 1 Januari 2008 dengan masa manfaat ekonomis 5 tahun tanpa nilai sisa. tanggal 31 Desember 2008 nilai wajar aset adalah $ 12.000.

1/1/08

Dr. Aset tetap Cr. Kas

$10,000 $10,000

31/12/08 Dr. Beban Penyusutan Cr. Akumulasi Penyusutan

$ 2,000 $ 2,000

31/12/08 Dr. Akumulasi Penyusutan Cr Aset Tetap

$ 2,000 $ 2,000 $ 4,000 $ 4,000

Dr. Aset Tetap Cr. Surplus Revaluasi

Surplus revaluasi yang disajikan di ekuitas dapat dipindahkan langsung ke sado laba pada saat aset tersebut dihentikan penggunaannya. Namun, pemindahan ke saldo laba dapat dilakukan seiring dengan penggunaan aset oleh entitas. Dipindahkan sebesar perbedaan penyusutan dengan revaluasian dan penyusutan dengan biaya perolehan. (atau nilai surplus revaluasi dibagi sisa manfaat ekonomis)

5. Penyusutan (Depresiasi) Penyusutan adalah alokasi sistematis jumlah yang dapat disusutkan (depreciable amount) dari suatu aset selama umur manfaatnya (useful life). Setiap bagian dari aset tetap yang memiliki biaya perolehan cukup signifikan terhadap total biaya perolehan seluruh aset harus disusutkan secara terpisah. Entitas

mengalokasikan jumlah pengakuan awal aset pada bagian aset tetap yang signifikan dan menyusutkan secara terpisah setiap bagian tersebut.

Umur manfaat aset ditentukan berdasarkan kegunaan yang diharapkan oleh entitas. Kebijakan manajemen aset suatu entitas dapat meliputi pelepasan aset yang bersangkutan setelah jangka waktu tertentu atau setelah pemanfaatan sejumlah proporsi tertentu dari manfaat ekonomik masa depan yang melekat pada aset.

6.Metode Penyusutan Metode penyusutan yang biasa digunakan adalah sebagai berikut: Metode Penyusutan Garis Lurus Keterangan Menghasilkan pembebanan yang tetap sepanjang umur manfaat selagi nilai residu tidak berubah Saldo Menurun Menghasilkan pembebanan yang menurun sepanjang umur manfaat

7. Penurunan Nilai PSAK 48 menetapkan bahwa: rugi penurunan nilai diakui jika jumlah tercatat asset melebihi jumlah terpulihkan. Rugi penurunan nilai adalah suatu jumlah yang merupakan selisih lebih nilai tercatat suatu aset atau unit penghasil kas atas jumlah terpulihkannya. Jumlah tercatat adalah jumlah yang diakui untuk suatu asset setelah dikurangi akumulasi penyusutan (amortisasi) dan akumulasi rugi penurunan nilai. Jumlah terpulihkan suatu asset atau unit penghasil kas adalah jumlah yang lebih tinggi antara nilai wajarnya dikurangi biaya penjualan dan nilai pakainya.

2.4.4

Pengungkapan Laporan keuangan mengungkapkan, untuk setiap kelompok aset tetap yaitu

dasar pengukuran yang digunakan dalam menentukan jumlah tercatat bruto, metode penyusutan yang digunakan, umur manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan, jumlah tercatat bruto dan akumulasi penyusutan (dijumlahkan dengan akumulasi rugi penurunan nilai) pada awal dan akhir periode dan rekonsiliasi jumlah tercatat pada

awal dan akhir periode yang menunjukkan penambahan, aset diklasifikasi sebagai tersedia untuk dijual atau termasuk dalam kelompok lepasan yang diklasifikasikan sebagai tersedia untuk dijual sesuai PSAK 58 (revisi 2009): Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan dan pelepasan lainnya, akuisisi melalui kombinasi bisnis, peningkatan atau penurunan akibat dari revaluasi sesuai paragraf 31, 39, dan 40 serta dari rugi penurunan nilai yang diakui atau dijurnal balik dalam pendapatan komprehensif lain sesuai PSAK No. 48 (revisi 2009): Penurunan Nilai Aset, rugi penurunan nilai yang diakui dalam laba rugi sesuai PSAK 48, rugi penurunan nilai yang dijurnal balik dalam laba rugi sesuai PSAK 48, penyusutan, selisih nilai tukar neto yang timbul dalam penjabaran laporan keuangan dari mata uang fungsional menjadi mata uang pelaporan yang berbeda, termasuk penjabaran dari kegiatan usaha luar negeri menjadi mata uang pelaporan dari entitas pelapor, danperubahan lain. Jika aset tetap disajikan pada jumlah revaluasian, hal berikut diungkapkan: tanggal efektif revaluasi; apakah penilai independen dilibatkan; metode dan asumsi signifikan yang digunakan dalam mengestimasi nilai wajar aset; penjelasan mengenai nilai wajar aset yang ditentukan secara langsung berdasarkan harga terobservasi (observable prices) dalam suatu pasar aktif atau transaksi pasar terakhir yang wajar atau diestimasi menggunakan teknik penilaian lainnya; untuk setiap kelompok aset tetap, jumlah tercatat aset seandainya aset tersebut dicatat dengan model biaya; dan surplus revaluasi, yang menunjukkan perubahan selama periode dan pembatasan-pembatasan distribusi kepada pemegang saham.

2.5 2.5.1

Aset Tidak Berwujud (PSAK 19) Pengertian Aset tak berwujud merupakan aset non moneter yang teridentifikasi tanpa

wujud fisik. Entitas sering kali mengeluarkan sumber daya maupun menciptakan liabilitas dalam perolehan, pengembangan, pemeliharaan dan peningkatan sumber daya tak berwujud. Unsur-unsur yang memenuhi definisi aset tak berwujud yaitu keteridentifikasian, pengendalian atas sumber daya, dan adanya manfaat ekonomi masa depan.

2.5.1.1 Keteridentifikasian Keteridentifikasian aset tak berwujud dapat dibedakan secara jelas dengan goodwill. Goodwill dalam suatu kombinasi entitas bisnis diakui sebagai aset yang menggambarkan manfaat ekonomi masa depan yang muncul dari aset lain yang diakuisisi dalam kombinasi bisnis yang tidak teridentifikasi secara individual dan diakui secara terpisah. Suatu aset dikatakan teridentifikasi jika dapat dipisahkan, yaitu dapat dipisahkan atau dibedakan dari entitas dan dijual, dialihkan, dilisensikan, disewakan atau ditukarkan, baik secara individual atau bersama dengan kontrak terkait, aset teridentifikasi atau liabilitas teridentifikasi, terlepas apakah entitas bermaksud untuk melakukan hal tersebut dan timbul dari hak kontraktual atau hak legal lain, terlepas apakah hak tersebut dapat dialihkan atau dipisahkan dari entitas atau dari hak dan kewajiban.

2.5.1.2 Pengendalian Atas Sumber Daya Entitas mengendalikan aset jika entitas memiliki kemampuan untuk memperoleh manfaat ekonomi dimasa depan yang timbul dari aset dan dapat membatasi akses pihak lain dalam memperoleh manfaat ekonomi tersebut. Kemampuan entitas untuk mengendalikan manfaat ekonomi masa depan dari suatu

aset tak berwujud biasanya timbul dari hak legal yang dapat dipaksakan dalam pengadilan. Namun hak legal bukan merupakan syarat yang diharuskan. Manfaat ekonomi masa depan yang timbul dari aset tak berwujud dapat mencakup pendapatan dari penjualan barang atau jasa, penghematan biaya, atau manfaat lain yang berasal dari penggunaan aset oleh entitas. Misalnya, penggunaan hak kekayaan intelektual dalam suatu proses produksi tidak meningkatkan pendapatan masa depan, tetapi mengurangi biaya produksi masa depan.

2.5.2

Pengakuan dan Pengukuran Aset tak berwujud diakui jika dan hanya jika kemungkinan besar entitas akan

memperoleh manfaat ekonomi masa depan dari aset tersebutdan biaya perolehan aset tersebut dapat diukur secara andal. Dalam menilai kemungkinan adanya manfaat masa depan, entitas

menggunakan asumsi rasional dan dapat dipertanggungjawabkan yang merupakan estimasi terbaik manajemen atas kondisi ekonomi yang berlaku sepanjang umur manfaat aset tersebut. 1. Perolehan Terpisah Aset tak berwujud pada awalnya diakui sebesar biaya perolehan. Biaya perolehan aset tak berwujud terdiri dari : a. Harga beli, termasuk bea masuk dan pajak pembelian yang tidak dapat direstitusi, setelah dikurangi diskon dan rabat. b. Semua biaya yang dapat diatribusikan secara langsung dalam mempersiapkan aset tersebut sehingga siap untuk digunakan. 2. Perolehan sebagai Bagian dari Kombinasi Bisnis Sesuai dengan PSAK 22 (revisi 2010): Kombinasi Bisnis, jika aset tidak berwujud diperoleh dalam kombinasi bisnis, maka biaya perolehan aset tak berwujud adalah nilai wajar aset pada tanggal akuisisi. Pihak pengakuisisi mengakui pada tanggal akuisisi, aset tak berwujud pihak yang diakuisisi secara terpisah dari goodwill,

terlepas apakah aset telah diakui atau tidak diakui oleh pihak yang diakuisisi sebelum kombinasi bisnis. 3. Mengukur Nilai Wajar Aset Tak Berwujud yang Diperoleh dalam Kombinasi Bisnis Jika aset tak berwujud dihasilkan dari kombinasi bisnis dapat dipisahkan atau muncul dari hak kontraktual atau hak legal lain, maka tersedia informasi yang memadai untuk mengukur nilai wajar aset secara wajar. Jika pada saat mengukur nilai wajar aset tak berwujud terdapat berbagai kemungkinan atas hasil dengan probabilitas berbeda, maka ketidakpastian tersebut dimasukkan dalam perhitungan nilai wajar aset tak berwujud. Kuotasi harga pasar di pasar aktif memberikan estimasi nilai wajar yang paling andal untuk aset tak berwujud. Harga pasar yang tepat biasanya adalah harga penawaran saat ini. Jika tidak tersedia, maka harga terkini dari transaksi serupa dapat menjadi dasar untuk mengestimasi nilai wajar aset sepanjang tidak terdapat perubahan keadaan ekonomi yang signifikan antara tanggal transaksi dan tanggal ketika nilai wajar aset diestimasi. Jika tidak terdapat pasar aktif untuk aset tak berwujud, maka nilai wajar dari aset tersebut adalah jumlah yang bersedia dibayar entitas untuk mendapatkan aset tersebut, pada tanggal akuisisi, dalam suatu transaksi wajar antara pihak yang berpengetahuan dan berkeinginan berdasarkan tersedianya informasi terbaik. Dalam menentukan nilai tersebut, entitas mempertimbangkan hasil dari transaksi terkini untuk aset serupa.

4. Akuisisi dengan hibah pemerintah Aset tak berwujud dapat diperoleh melalui hibah pemerintah apabila pemerintah mengalihkan aset tak berwujud ke entitas. Entitas dapat memilih mengakui aset tak berwujud pada awalnya dengan nilai wajar dengan mengakui nilai nominal ditambah dengan segala pengeluaran yang dapat diatribusikan secara

langsung dalam menyiapkan aset tersebut agar dapat digunakan sesuai dengan maksud penggunaannya.

5. Pertukaran aset Aset tak berwujud yang diperoleh melalui pertukaran dengan aset lain, biaya perolehannya diukur dengan nilai wajar, kecuali : a) Transaksi pertukaran tersebut tidak memiliki substansi komersial b) Nilai wajar aset yang diterima dan diserahkan tidak dapat diukur secara andal. Jika aset yang diperoleh tidak diukur dengan nilai wajar, maka biaya perolehannya diukur dengan jumlah tercatat aset yang diserahkan. Nilai wajar aset tak berwujud dapat diukur secara andal meskipun tidak ada transaksi pasar sejenis jika : a) Veriabilitas rentang estimasi nilai wajar untuk aset tersebut adalah tidak signifikan. b) Probabilitas dari berbagai estimasi dalam rentang tersebut dapat dinilai secara rasional dan digunakan dalam menentukan nilai wajar.

6. Goodwill yang dihasilkan secara internal Entitas yang melakukan pengeluaran untuk menghasilkan manfaat ekonomi dimasa depan, tetapi pengeluaran tersebut tidak berakibat pada timbulnya aset tak berwujud yang dapat diakui dianggap memberikan kontribusi terhadap timbulnya goodwill yang dihasilkan secara internal. Goodwill yang dihasilkan secara internal tidak diakui sebagai aset karena goodwill tersebut bukan merupakan suatu sumber daya teridentifikasi (tidak dapat dipisahkan dan tidak timbul dari hak kontraktual atau hak legal lain) yang dikendalikan oleh entitas dan dapat diukur secara andal biaya perolehannya.

7. Aset tak berwujud yang dihasilkan secara internal Dalam menentukan apakah suatu aset tak berwujud yang dihasilkan secara internal memenuhi syarat untuk diakui, entitas mengelompokkan proses dihasilkannya aset tak berwujud menjadi tahap penelitian (tahap riset) dan tahap pengembangan a. Tahap Penelitian Entitas tidak mengakui aset tak berwujud yang timbul dari penelitian. Dalam tahap penelitian proyek internal, entitas tidak dapat menunjukkan bahwa aset tak berwujud yang ada akan memberikan kemungkinan besar manfaat ekonomi di masa depan. Dengan demikian, pengeluaran untuk penelitian diakui sebagai beban pada saat terjadinya. b. Tahap Pengembangan Aset tak berwujud yang timbul dari pengembangan diakui jika, dan hanya jika, entitas dapat menunjukkan semua hal berikut : kelayakan teknis penyelesaian aset tak berwujud sehingga dapat digunakan atau dijual. niat untuk menyelesaikan aset tak berwujud tersebut dan menggunakannya atau menjualnya. kemampuan untuk menggunakan atau menjual aset tak berwujud tersebut. Bagaimana aset tak berwujud tersebut akan menghasilkan kemungkinan besar manfaat ekonomi masa depan. Antara lain entitas mampu menunjukkan adanya pasar bagi keluaran aset tak berwujud tersebut atau apabila digunakan secara internal, entitas mampu menunjukkan kegunaan aset tak berwujud tersebut. Tersedianya kecukupan sumber daya teknis, keuangan, dan sumber daya lain untuk menyelesaikan pengembangan aset tak berwujud dan untuk menggunakan atau menjual aset tersebut, dan Kemampuan untuk mengukur secara andal pengeluaran yang terkait dengan aset tidak berwujud selama pengembangannya.

Pengeluaran untuk menghasilkan merk, kepala surat kabar, judul publisitas, daftar pelanggan dan hal yang secara substansi serupa yang dihasilkan secara internal tidak dapat dibedakan dengan biaya untuk mengembangkan usaha secara keseluruhan. Oleh karena itu, hal tersebut tidak diakui sebagai aset tak berwujud.

8. Biaya perolehan aset tak berwujud yang Dihasilkan secara internal Biaya perolehan aset tak berwujud yang dihasilkan secara internal adalah jumlah pengeluaran yang terjadi sejak tanggal aset tak berwujud pertama kali memenuhi kriteria pengukuran. Biaya perolehan aset tak berwujud yang dihasilkan secara internal terdiri atas seluruh biaya yang dibutuhkan yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membuat, menghasilkan, dan mempersiapkan aset tersebut sehingga siap untuk digunakan sesuai dengan maksud manajemen.

2.5.3

Pengakuan Beban

Pengeluaran untuk aset tak berwujud diakui sebagai beban pada saat terjadinya, kecuali pengeluaran itu merupakan bagian dari biaya perolehan aset tak berwujud yang memenuhi kriteria pengakuan dan sesuatu yang diperoleh melalui kombinasi bisnis dan tidak dapat diakui sebagai aset tak berwujud. Jika demikian halnya, maka pengeluaran tersebut merupakan bagian dari goodwill pada tanggal akuisisi.

2.5.3.1 Beban Masa Lalu Tidak Boleh Diakui sebagai Aset Pengeluaran atas pos aset tak berwujud yang awalnya diakui oleh entitas sebagai beban tidak diakui sebagai bagian dari biaya perolehan aset tak berwujud di kemudian hari.

2.5.4

Pengukuran Setelah Pengakuan Entitas memilih model biaya atau model revaluasi sebagai kebijakan

akuntansinya. Jika aset tidak berwujud dicatat dengan menggunakan model revaluasi,

maka semua aset lain dalam kelompok tersebut diperlakukan dengan menggunakan model yang sama, kecuali tidak ada pasar aktif untuk aset tersebut. 1. Model Biaya Setelah pengakuan awal, aset tak berwujud dicatat pada jumlah revaluasian, yaitu nilai wajar pada tanggal revaluasian dikurangi akumulasi amortisasi selanjutnya dan akumulasi rugi penurunan nilai aset selanjutnya. Untuk tujuan revaluasian, nilai wajar ditentukan dengan menggunakan referensi dari nilai pasar aktif. Revaluasi dilakukan secara rutin sehingga pada akhir tiap periode pelaporan jumlah tercatat aset tak berwujud tersebut tidak memiliki perbedaan yang material dengan nilai wajarnya. Model revaluasian tidak memperbolehkan : a) Revaluasian aset tak berwujud yang sebelumnya belum pernah diakui sebagai aset. b) Pengakuan awal aset tak berwujud pada jumlah tertentu selain biaya perolehannya. Jika aset tak berwujud direvaluasi, maka akumulasi biaya amortisasi pada tanggal revaluasi akan disajikan kembali secara proporsional dengan perubahan jumlah tercatat bruto aset sehingga jumlah tercatat aset setelah revaluasi menjadi sama dengan nilai revaluasiannya, atau dieliminasi terhadap jumlah tercatat bruto aset dan jumlah neto setelah eliminasi disajikan sesuai dengan nilai revaluasian aset tersebut. Jika suatu aset tak berwujud dalam sekelompok aset tak berwujud yang direvaluasi tidak dapat direvaluasi karena tidak terdapat pasar aktif untuk aset berwujud tersebut, maka aset tak berwujud dicatat pada harga perolehan dikurangi akumulasi amortisasi dan amortisasi rugi penurunan nilai. Jika nilai wajar aset tak berwujud yang direvaluasi tidak lagi dapat ditentukan dengan referensi pasar aktif, maka jumlah tercatat aset tak berwujud tersebut adalah nilai revaluasian pada tanggal terakhir kali revaluasi dilakukan dengan referensi nilai pasar aktif dikurangi akumulasi amortisasi dan akumulasi rugi penurunan nilai. Jika jumlah tercatat aset tak berwujud mengalami peningkatan akibat revaluasi, maka peningkatan tersebut diakui sebagai pendapatan komprehensif lain dan

diakumulasikan di ekuitas pada bagian surplus revaluasi. Namun peningkatan

tersebut diakui dalam laporan laba rugi untuk membalik penurunan revaluasi aset yang diakui sebelumnya dalam laporan laba rugi. Jika jumlah tercatat aset tak berwujud mengalami penurunan akibat revaluasi, maka penurunan tersebut diakui dalam laporan laba rugi . Namun, penurunan tersebut diakui pada pendapatan komprehensif lain jika terdapat saldo kredit dalam surplus revaluasi atas aset tersebut. Pengakuan penurunan di pendapatan komprehensif lain mengurangi jumlah yang terakumulasi di ekuitas pada bagian surplus revaluasi.

2.5.5

Umur Manfaat Entitas menilai apakah umur manfaat aset tak berwujud terbatas atau tidak

terbatas dan jika terbatas, jangka waktu atau jumlah produksi atau jumlah unit serupa yang dihasilkan selama umur manfaat. Aset tak berwujud dianggap oleh entitas memiliki umur manfaat tidak terbatas jika, berdasarkan analisis dari seluruh faktor relevan tidak ada batas yang terlihat pada saat ini atas periode mana aset diharapkan menghasilkan arus kas neto untuk entitas. Aset tak berwujud dengan umur terbatas diamortisasi dan aset tak berwujud dengan umur ekonomis yang tidak terbatas tidak diamortisasi. Umur manfaat aset tak berwujud yang timbul dari hak kontraktual atau hak legal lain tidak lebih lama dari masa hak kontraktual atau hak legal lain tersebut, tapi dapat lebih singkat tergantung periode kapan aset dapat digunakan entitas. Jika hak kontraktual atau hak legal lain memiliki batasan yang dapat diperbaharui , maka umur manfaat dari aset tak berwujud termasuk periode pembaharuan hanya jika terdapat bukti yang mendukung pembaruan umur manfaat tidak menimbulkan biaya yang signifikan. Umur manfaat hak yang diperoleh kembali sebagai aset tak berwujud dalam kombinasi bisnis adalah sisa periode kontraktual hak tersebut diberikan dan tidak termasuk periode pembaruan.

2.5.5.1 Aset Tak Berwujud Dengan Umur Manfaat Terbatas Periode Amortisasi dan Metode Amortisasi Jumlah tersusutkan aset tak berwujud dengan umur manfaat terbatas dialokasikan secara sistematis selama umur manfaatnya. Amortisasi dimulai ketika aset tersedia untuk digunakan, yakni ketika aset berada pada lokasi dan dalam kondisi untuk beroperasi sesuai dengan cara yang dimaksudkan oleh manajemen. Amortisasi dihentikan pada waktu mana yang lebih dulu antara ketika aset tersebut digolongkan sebagai aset yang dimiliki untuk dijual dan tanggal ketika aset dihentikan pengakuannya. Metode amortisasi yang digunakan menggambarkan pola konsumsi entitas atas manfaat ekonomi di masa depan yang diharapkan (mencakup metode garis lurus, metode saldo menurun, dan metode unit produksi) . Jika pola tersebut tidak dapat ditentukan secara andal, maka digunakan metode garis lurus. Amortisasi yang dibebankan untuk setiap periode diakui dalam laporan laba rugi kecuali diizinkan oleh PSAK atau mensyaratkan amortisasi tersebut dimasukkan dalam jumlah tercatat aset lain.

Nilai Residu Nilai residu aset tak berwujud dengan umur manfaat terbatas diasumsikan sama dengan nol, kecuali ada komitmen dari pihak ketiga untuk membeli aset tak berwujud tersebut pada akhir umur manfaatnya, atau ada pasar aktif untuk aset tak berwujud tersebut dan nilai residu aset tak berwujud dapat ditentukan dengan mengacu pada harga berlaku di pasar tersebut, dan terdapat kemungkinan besar bahwa pasar akan tetap tersedia sampai akhir umur manfaat aset tersebut. Nilai residu aset tak berwujud dapat meningkat ke suatu jumlah yang setara atau lebih besar dari jumlah tercatatnya. Jika hal tersebut terjadi, maka amortisasi yang dibebankan adaah nol kecuali dan hingga nilai residu selanjutnya berkurang menjadi lebih rendah dari jumlah tercatat aset tak berwujud tersebut.

Penelaahan Periode Amortisasi dan Metode Amortisasi Periode amortisasi dan metode amortisasi aset tak berwujud dengan umur manfaat terbatas ditelaah setidaknya setiap akhir tahun buku. Jika perkiraan umur manfaat aset berbeda secara signifikan dalam perkiraan pola konsumsi manfaat ekonomi aset, maka metode amortisasi diubah untuk mencerminkan pola yang berubah tersebut. Perlakuannya sebagai perubahan estimasi akuntansi sesuai PSAK 25 (revisi 2009) : Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan.

2.5.5.2 Aset Tak Berwujud Dengan Umur Manfaat Tidak Terbatas Aset tak berwujud dengan umur manfaat tidak terbatas tidak diamortisasi. Sesuai PSAK 48 (revisi 2009): Penurunan Nilai Aset, entitas disyaratkan untuk menguji aset tak berwujud dengan umur manfaat tidak terbatas untuk penurunan nilai dengan membandingkan jumlah terpulihkan dengan jumlah tercatatnya setiap tahun dan kapanpun terdapat indikasi bahwa aset tak berwujud mengalami penurunan nilai.

Penelaahan Penilaian Umur Manfaat Umur manfaat aset tak berwujud yang tidak diamortisasi ditelaah setiap periode untuk menentukan apakah peristiwa dan kondisi dapat terus mendukung penilaian bahwa umur manfaat tetap tidak terbatas. Jika tidak, maka perubahan umur manfaat yang muncul tidak terbatas menjadi terbatas diperlakukan sebagai perubahan estimasi akuntansi sesuai PSAK 25 (revisi 2009): Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan.

2.5.6

Penghentian dan Pelepasan Aset tak berwujud dihentikan pengakuannya jika dilepas, ketika tidak terdapat

lagi manfaat ekonomi masa depan yang diharapkan dari penggunaan atau pelepasannya.

Keuntungan dan kerugian yang timbul dari penghentian pengakuan aset tak berwujud merupakan perbedaan antara nilai neto pelepasan dan jumlah tercatat aset. Keuntungan dan kerugian diakui dalam laporan laba rugi pada saat penghentian pengakuan. Kecuali PSAK 30 (revisi 2007): sewa mensyaratkan sebaliknya dalam jual dan sewa balik, keuntungan tidak diakui sebagai pendapatan.

2.5.7

Pengungkapan

Entitas mengungkapkan hal berikut untuk setiap kelompok aset takberwujud, dipisahkan antara aset tak berwujud yang dihasilkan secara internal dan aset tak berwujud lain: 1. Umur manfaat tidak terbatas atau terbatas dan, jika umur manfaat terbatas diungkapkan, tingkat amortisasi yang digunakan atau umur manfaatnya. 2. Metode amortisasi yang digunakan untuk aset tak berwujud dengan umur manfaat terbatas. 3. Jumlah tercatat bruto dan akumulasi amortisasi (secara agregat dengan akumulasi rugi penurunan nilai) pada awal dan akhir periode. 4. Pos dalam laporan laba rugi komprehensif yang mana amortisasi aset tak berwujud termasuk didalamnya. 5. Rekonsiliasi atas jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan : Penambahan, yang secara terpisah mengindikasikan aset tak berwujud dari pengembangan internal, diperoleh secara terpisah, dan diperoleh melalui kombinasi bisnis. Aset yang dikelompokkan sebagai aset yang dimiliki untuk dijual atau termasuk dalam kelompok aset lepasan yang dikelompokkan sebagai dimiliki untuk dijual sesuai PSAK 58 (revisi 2009), Aset Tidak Lancar Yang Dimiliki untuk Dijual dan Operasi Yang Dihentikan, dan pelepasan lain.

Peningkatan atau penurunan selama periode yang berasal dari revaluasi dan dari pengakuan rugi penurunan nilai atau pembalikan di pendapatan komprehensif lain sesuai dengan PSAK 48 (revisi 2009) : Penurunan Nilai Aset, jika ada.

Rugi penurunan nilai yang diakui dalam laporan laba rugi selama periode sesuai PSAK 48 (revisi 2009). Rugi penurunan nilai yang dibalik dalam laporan laba rugi selama periode sesuai dengan PSAK 48 (revisi 2009). Setiap amortisasi yang diakui selama periode. Selisih kurs neto yang timbul dari nilai penjabaran laporan keuangan ke mata uang penyajian, dan penjabaran operasi luar negeri ke mata uang penyajian yang digunakan entitas, dan

Perubahan nilai pada jumlah tercatat aset tersebut selama periode.

Entitas juga mengungkapkan untuk aset tak berwujud yang dinilai dengan umur manfaat tidak terbatas, jumlah tercatat aset dan alasan yang mendukung penilaian umur manfaat tidak terbatas tersebut. Dalam memberi alasan, entitas menjelaskan faktor signifikan dalam menentukan aset yang dimiliki memiliki umur tak terbatas.Penjelasan, jumlah tercatat, dan sisa periode amortisasi dari setiap aset tak berwujud yang material terhadap laporan keuangan entitas. Untuk aset tak berujud yang diperoleh melalui hibah pemerintah dan awalnya diakui pada nilai wajar: Nilai wajar pada pengakuan awal atas aset tersebut Jumlah tercatatnya, dan Aset tersebut diukur setelah pengakuan awal dengan model biaya atau model revaluasi. Keberadaan dan jumlah tercatat aset tak berwujud yang kepemilikannya dibatasi dan jumlah tercatat aset tak berwujud yang menjadi jaminan untuk liabilitas. Nilai komitmen kontraktual untuk akuisisi aset tak berwujud.

Jika aset tak berwujud dicatat pada nilai revaluasian, maka entitas mengungkapkan hal-hal berikut : Berdasarkan kelompok aset tak berwujud : 1. Tanggal efektif revaluasi 2. Jumlah tercatat aset tak berwujud yang direvaluasi 3. Jumlah tercatat yang akan diakui jika aset tak berwujud diukur dengan model biaya setelah pengakuan awal Jumlah surplus revaluasi aset tak berwujud pada awal dan akhir periode, mengindikasikan perubahan selama periode dan pembatasan apapun dalam pendistribusian saldo (surplus) kepada pemegang saham, dan Metode asumsi signifikan dalam mengestimasi nilai wajar aset tersebut. Entitas dianjurkan, namun tidak diharuskan untuk mengungkapkan informasi berikut : a. Penjelasan mengenai aset tak berwujud yang telah diamortisasi seluruhnya tetapi masih digunakan. b. Penjelasan mengenai aset tak berwujud signifikan yang dikendalikan entitas namun tidak diakui sebagai aset karena tidak memenuhi kriteria pengakuan karena aset tersebut diperoleh atau dihasilkan sebelum PSAK 19 : Aset Tidak Berwujud efektif diberlakukan. 2.6 Sewa (PSAK 30) Elemen tanah dan bangunan dalam suatu perjanjian sewa perlu untuk diklafikasikan sebagai sewa pembiayaan atau sewa operasi secara terpisah, dengan mempertimbangkan sifat tanah yang memiliki umur ekonomis yang tidak terbatas. Hal ini tidak perlu dilakukan apabila hak atas properti yang diperoleh melalui sewa operasi diklasifikasikan sebagai properti investasi sesuai dengan PSAK 13 (revisi 2011) : Properti Investasi.

2.6.1

Pengertian Sewa adalah suatu perjanjian dimana lessor memberikan kepada lessee hak

untuk menggunakan suau aset selama periode waktu yang disepakati. Sebagai inbalannya, lesse meakukan pembayaran atau serangkaian pembayaran kepada lessor. Suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan jika sewa tersebut mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset. Suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa operasi jika sewa tidak mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset. Situasi yang secara individual ataupun gabungan dapat juga menunjukkan bahwa sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan adalah: sewa mengalihkan kepemilikan aset kepada lessee pada akhir masa sewa; lessee memiliki opsi untuk membeli aset pada harga yang cukup rendah dibandingkan nilai wajar pada tanggal opsi mulai dapat dilaksanakan, sehingga pada awal sewa dapat dipastikan bahwa opsi akan dilaksanakan; masa sewa adalah untuk sebagian besar umur ekonomik aset meskipun hak milik tidak dialihkan; pada awal sewa, nilai kini dari jumlah pembayaran sewa minimum secara substansial mendekati nilai wajar aset sewaan; dan aset sewaan bersifat khusus dan hanya lessee yang dapat menggunakannya tanpa perlu modifikasi secara material. Indikator dari situasi yang secara individual ataupun gabungan dapat juga menunjukkan bahwa sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan adalah jika lessee dapat membatalkan sewa, maka rugi lessor yang terkait dengan pembatalan ditanggung oleh lessee, untung atau rugi dari fluktuasi nilai wajar residu dibebankan kepada lessee (misalnya, dalam bentuk potongan harga rental dan yang setara dengan sebagian besar hasil penjualan residu pada akhir sewa), danlessee memiliki

kemampuan untuk melanjutkan sewa untuk periode kedua dengan nilai rental yang secara substansial lebih rendah dari nilai pasar rental. 2.6.2 Sewa Dalam Laporan Keuangan Lesse Pada Sewa Pembiayaan

1. Pengakuan Awal Pada awal masa sewa, lesee mengakui sewa pembiayaan sebagai aset dan liabilitas dalam laporan posisi keuangan sebesar nilai wajar aset sewaan atau sebesar nilai kini dari pembayaran sewa minimum, jika nilai kini lebih rendah dari nilai wajar. Tingkat diskonto yang digunakan dalam perhitungan nilai kini dari pembayaran sewa minimum adalah tingkat suku bunga implisit dalam sewa , jika dapat ditentukan secara praktis, jika tidak, digunakan tingkat suku bunga pinjaman inkremental lessee. Biaya langsung awal yang dikeluarkan lesee ditambahkan ke dalam jumlah yang diakui sebagai aset. Meskipun bentuk legal perjanjian sewa menyatakan bahwa lessee tidak memperoleh hak legal atas aset sewaan, dalam hal sewa pembiayaan secara substansi dan realitas keuangan pihak lessee memperoleh manfaat ekonomik dari dari pemakaian aset sewaan tersebut selama sebagian besar umur ekonomisnya. Sebagai konsekuensinya lessee menanggung kewajiban untuk membayar hak tersebut sebesar suatu jumlah, pada awal sewa, yang mendekati nilai wajar dari aset dan beban keuangan terkait. Jika transaksi sewa tersebut tidak tercermin dalam laporan posisi keuangan lessee, sumber daya ekonomi an tingkat kewajian dari entitas menjadi terlalu rendah, sehingga mendistorsi rasio keuangan. Oleh karena itu, sewa pembiayaan diakui dalam laporan posisi keuangan lessee sebagai aset dan kewajiban untuk pembayaran sewa di masa depan. Pada awal masa sewa, aset dan liabilitas untuk pembayaran sewa di masa depan diakui di laporan posisi keuangan pada jumlah yang sama, kecuali untuk biaya langsung awal dari lessee yang ditambahkan ke jumlah yang diakui sebagai aset. Liabilitas dari aset sewaan tidak dapat disajikan sebagai pengurang aset sewaan dalam laporan keuangan. Jika penyajian liabilitas dalam laporan keuangan

dibedakan antara liabilitas jangka pendek dan liabilitas jangka panjang, hal yang sama berlaku untuk liabilitas sewa. Biaya langsung awal umumnya terjadi sehubungan dengan aktivitas negosiasi dan pemastian pelaksanaan sewa. Biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung kepada aktivitas lessee untuk suatu sewa pembiayaan ditambahkan ke jumlah yang diakui sebagai aset.

2. Pengukuran Setelah Pengakuan Awal Pembayaran sewa minimum dipisahkan antara bagian yang merupakan beban keuangan dan bagian yang merupakan pelunasan liabilitas. Beban keuangan dialokasikan ke setiap periode selama masa sewa sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu tingkat suku bunga periodik yang konstan atas saldo liabilitas. Rental kontijen dibebankan pada periode terjadinya. Suatu sewa pembiayaan menimbulkan beban penyusutan untuk aset yang dapat disusutkan dan beban keuangan dalam setiap periode akuntansi. Kebijakan penyusutan untuk aset sewaan konsisten dengan aset dimiliki sendiri, dan penghitungan penyusutan yang diakui berdasarkan PSAK 16 (revisi 2011) : Aset Tetap dan PSAK 19(revisi 2010): Aset Tak Berwujud. Jika tidak ada kepastian yang memadai bahwa lessee akan mendapatkan hak kepemilikan pada akhir masa sewa, aset sewaan disusutkan secara penuh selama jangka waktu yang lebih pendek antara periode masa sewa dan umur manfaatnya.

3. Pengungkapan Selain memenuhi ketentuan PSAK 60 : Instrumen Keuangan : Pengungkapan, lessee juga mengungkapkan hal-hal berikut yang berkaitan dengan sewa pembiayaan yaitu jumlah neto jumlah tercatat untuk setiap kelompok aset pada tanggal peaporan dan rekonsiliasi antara total pembayaran sewa minimum di masa depan pada tanggal pelaporan, dengan nilai kininya. Selain itu, entitas mengungkapan total pembayaran sewa minimum di masa depan pada tanggal pelaporan, dan nilai kininya, untuk setiap

periode ( sampai dengan satu tahun, lebih dari satu tahun sampai lima tahun dan lebih dari lima tahun). Rental kontijen yang diakui sebagai beban pada periode tersebut. Total perkiraan penerimaan pembayaran minimum sewa-lanjut di masa depan dari kontrak sewa-lanjut yang tidak dapat dibatalkan (non-cancelable subleases) Penjelasan umum isi perjanjian sewa yang material, yang meliputi, tetapi tidak terbatas pada, hal berikut : 1. Dasar penentuan utang rental kontijen 2. Ada tidaknya klausul-klausul yang berkaitan dengan opsi perpanjangan atau pembelian dan eskalasi beserta syarat-syaratnya 3. Pembatasan-pembatasan yang ditetapkan dalam perjanjian sewa, misalnya yang terkait dengan dividen, tambahan utang, dan sewa-lanjut.

2.6.3

Sewa dalam laporan Keuangan Lesse Pada Sewa Operasi

1. Pengakuan Pembayaran sewa dalam sewa operasi diakui sebagai beban dengan dasar garis lurus selama masa sewa kecuali terdapat dasar sistematis lain yang dapat lebih mencerminkan pola waktu dari manfaat aset yang dinikmati pengguna.

2. Pengungkapan Selain mengungkapkan hal yang dipersyaratkan dalam PSAK 60 : Instrumen Keuangan: Pengungkapan, lessee juga mengungkapkan hal berikut untuk sewa operasi : a. Total pembayaran sewa minimum di masa depan dalam sewa operasi yang tidak dapat dibatalkan untuk setiap periode berikut : 1. Sampai dengan satu tahun 2. Lebih dari satu tahun sampai lima tahun 3. Lebih dari lima tahun b. Total perkiraan penerimaan pembayaran minimum sewa-lanjut di masa depan dari kontrak sewa-lanjut yang ysng tidak dapat dibatalkan (non-cancelable subleases) pada tanggal pelaporan.

c. Pembayaran sewa dan sewa-lanjut yang diakui sebagai beban periode berjalan, dengan pengungkapan terpisah untuk masing-masing jumlah pembayaran minimum sewa, rental kontijen, dan pembayaran sewa-lanjut. d. Penjelasan umum perjanjian sewa lessee yang signifikan, yang meliputi, namun tidk terbatas pada : 1. Dasar penentuan utang rental kontijen 2. Eksistensi dan persyaratan untuk memperbarui kembali perjanjian sewa atau adanya opsi pembelian dan klausul eskalasi, dan 3. Pembatasan yang ada dalam perjanjian sewa, seperti pembatasan dividen, utang tambahan, dan sewa lanjutan.

2.6.4

Sewa Dalam laporan keuangan Lessor Pada Sewa Pembiayaan

1. Pengakuan Awal Dalam sewa pembiayaan, lessor mengakui aset berupa piutang sewa pembiayaan di laporan posisi keuangan sebesar jumlah yang sama dengan investasi sewa neto tersebut. 2. Pengukuran setelah pengakuan awal Pengakuan penghasilan pembiayaan didasarkan pada suatu pola yang mencerminkan suatu tingkat pengembalian periodik yang konstan atas investasi bersih lessor dalam sewa pembiayaan. Lessor pabrikan atau dealer mengakui laba atau rugi atas penjualan pada suatu periode sesuai kebijakan entitas atas penjualan biasa. Jika tingkat bunga ditentukan secara artifisial terlalu rendah, laba penjualan dibatasi sebesar laba apabila menggunakan tingkat bunga pasar. Biaya yang dikeluarkan oleh lessor pabrikan atau dealer sehubungan dengan negosiasi dan pengaturan sewa diakui sebagai beban ketika laba penjualan diakui.

3) Pengungkapan Selain mengungkapkan hal yag dipersyaratkan dalam PSAK 60: Instrumen Keuangan: Pengungkapan, lessor mengungkapkan hal berikut untuk sewa pembiayaan : a. Rekonsiliasi antara investasi sewa bruto dan nilai kini piutang pembayaran sewa minimum pada tanggal pelaporan. Di samping itu, lessor

mengungkapkan investasi sewa bruto dan nilai kini piutang pembayaran sewa minimum pada tanggal pelaporan, untuk setiap peride berikut 1. Kurang dari satu tahun 2. Lebih dari satu tahun sampai lima tahun 3. Lebih dari lima tahun b. Penghasilan pembiayaan tangguhan c. Nilai residu tidak dijamin yang diakui sebagai manfaat lessor d. Akumulasi penyisihan piutang tidak tertagih atas pembayaran sewa minimum e. Rental kontijen yang diakui sebagai penghasilan dalam periode berjalan f. Penjelasan umum isi perjanjian sewa lessor yang material

2.6.5

Sewa dalam laporan Keuangan Lessor Pada Sewa Operasi

1. Pengakuan Lessor menyajikan aset untuk sewa operasi di laporan posisi keuangan sesuai sifat aset tersebut. Biaya termasuk biaya penyusutan yang terjadi untuk memperoleh pendapatan diakui sebagai beban. Pendapatan sewa operasi diakui sebagai pendapatan dengan dasar garis lurus selama masa sewa, kecuali terdapat dasar sistematis lain yang lebih mencerminkan pola waktu dimana manfaat penggunaan aset sewaan menurun. Biaya langsung awal yang dikeluarkan oleh lessor dalam proses negosiasi dan pengaturan sewa operasi ditambahkan ke jumlah tercatat aset sewaan dan diakui seagai beban selama masa sewa dengan dasar yang sama dengan pendapatan sewa.

Kebijakan penyusutan untuk aset sewaan harus konsisten dengan kbijakan penyusutan normal untuk aset sejenis sesuai PSAK 16: Aset Tetap dan PSAK 19 : Aset Tak Berwujud

2. Pengungkapan Selain mengungkapkan hal yang dipersyaratkan dalam PSAK 60: Instrumen Keuangan: Pengungkapan, lessor mengungkapkan hal berikut untuk sewa operasi : a. Jumlah agregat pembayaran sewa minimum di masa depan dalam sewa operasi yang tidak dapat dibatalkan untuk setiap periode berikut : 1. Sampai dengan satu tahun 2. Lebih dari satu tahun sampai lima tahun 3. Lebih dari lima tahun b. Total rental kontijen yang diakui sebagai penghasilan dalam periode berjalan c. Penjelasan umum isi perjanjian lessor

2.6.6

Transaksi Jual dan Sewa Balik Jika suatu transaksi jual dan sewa-balik merupakan sewa pembiayaan, selisih

lebih hasil penjualan dari jumlah tercatat tidak dapat diakui segera sebagai pendapatan oleh penjual-lessee, tetapi ditangguhkan dan diamortisasi delama masa sewa. Jika transaksi jual dan sewa-balik merupakan sewa operasi dan jelas bahwa transaksi tersebut terjadi pada nilai wajar, maka laba rugi diakui segera, kecuali rugi tersebut dikompensasikan dengan pembayaran sewa di masa depan yang lebih rendah dari harga pasar, maka rugi tersebut harus ditangguhkan dan diamortisasi secara proporsional dengan pembayaran sewa selama periode penggunaan aset. Jika harga jual di atas nilai wajar, selisih lebih dari nilai wajar tersebut ditangguhkan dan diamortisasi selama periode penggunaan aset.

Untuk sewa operasi, jika nilai wajar aset pada saat transaksi jual dan sewa-balik lebih rendah daripada jumlah tercatatnya, rugi sebesar selisih antara jumlah tercatat dan nilai wajar diakui segera. 2.7 Hak Atas Tanah (ISAK 25) Dengan dicabutnya PSAK 47 tentang Akuntansi Tanah melalui PSAK 16 (revisi 2011) tentang Aset Tetap, maka Dewan Standar Akuntansi Keuangan memutuskan untuk menerbitkan Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan yang mengatur mengenai tanah. Dewan Standar Akuntansi Keuangan telah menyetujui expodure draft ISAK 25 tentang Hak Atas Tanah dalam rapatnya tanggal 28 Juni 2011 untuk disebarluaskan dan ditanggapi oleh perusahaan, regulator, perguruan tinggi, anggota IAI dan pihak lainnya. Latar Belakang Hak kepemilikan tanah di Indonesia secara absolut dibatasi oleh Undangundang Dasar Negara tahun 1945. Dalam Undang-undang Dasar tersebut menyatakan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Atas dasar tersebut, entitas dalam memperoleh hak atas tanah harus melalui Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai. Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai yang diperoleh entitas dapat diperpanjang dan diperbarui dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan persyaratan dalam peraturan perundang-undangan. Dengan adanya perpanjangan dan pembaruan hak atas tanah secara terus menerus maka tanah dapat memiliki umur ekonomik yang tidak terbatas. Dalam peraturan perundang-undangan juga menjelaskan bahwa seluruh hak atas tanah memiliki fungsi sosial. Dalam kondisi tertentu, entitas dapat kehilangan kepemilikan tanah melalui Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai jika tanah yang diperoleh entitas harus dilepaskan untuk kepentingan sosial. Dengan demikian, tanah memiliki umurekonomik yang terbatas.

Ruang Lingkup Interpretasi ini diterapkan untuk akuntansi tanah sebagai aset tetap oleh entitas yang memiliki hak atas tanah melalui Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai. Jika tanah diakui sebagai properti investasi atau persediaan maka hak atas tanah dicatat berdasarkan PSAK 13 (revisi 2011): Properti Investasi dan PSAK 14 (revisi 2008): Persediaan. Interpretasi Biaya perolehan tanah dengan Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai diakui sebagai aset tetap sesuai dengan PSAK 16 (revisi 2011): Aset Tetap. Umur ekonomik tanah dengan Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai tidak terbatas sehingga tidak disusutkan, kecuali terdapat bukti sebaliknya yang mengindikasikan bahwa perpanjangan atau pembaruan hak atas tanah kemungkinan besar atau pasti tidak diperoleh Beberapa contoh yang menyebabkan umur ekonomik tanah menjadi terbatas, antara lain: a. manajemen mempunyai prediksi bahwa kondisi kualitas tanah dalam waktu tertentu tidak layak lagi untuk digunakan dalam operasi utama entitas; b. sifat operasi utama entitas meninggalkan tanah pada saat proyek selesai. Misalnya tanah yang digunakan untuk operasi utama atau proyek entitas terletak di daerah terpencil, sehingga tanah disusutkan sesuai perkiraan panjang jadwal operasi utama atau proyek tersebut; c. kebijakan dari pemerintah yang akan memanfaatkan tanah untuk kepentingan umum sehingga kemungkinan besar perpanjangan hak atas tanah tidak akan diperoleh. Biaya untuk mendapatkan hak legal atas tanah ketika tanah diperoleh pertama kali diakui sebagai bagian dari harga perolehan tanah.

2.8 2.8.1

Penurunan Nilai Aset Pengertian Penurunan Nilai Aset (impairment) terjadi apabila jumlah tercatatnya

melebihi jumlah terpulihkan. Jumlah terpulihkan suatu aset atau unit penghasil kas adalah jumlah yang lebih tinggi antara nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual dan nilai pakainya. Pada setiap akhir periode pelaporan, entitas menilai apakah terdapat indikasi aset mengalami penurunan nilai. Jika terdapat indikasi tersebut, maka entitas mengestimasi jumlah terpulihkan aset tersebut. Penurunan nilai didasarkan pada prinsip konservatisme dan kehati-hatian. Aset tak boleh dicatat overstated, dari nilai dapat diperoleh kembali. Aset harus disajikan sebesar nilai yang mencerminkan manfaat ekonomi yang akan diperoleh di masa depan. Jika nilai di masa depan lebih rendah dari nilai tercatat, maka aset harus diturunkan.Pengukuran penurunan nilai dapat dilakukan untuk satu unit aset tunggal maupun satu kelaompok aset. Ada aset yang dapat menghasilkan arus kas independen dari aset atau kelompok aset lain. Jika satu aset dapat menghasilkan arus kas independen maka pengukuran penurunan nilai dilakukan berdasarkan unit aset tersebut. Namun ada beberapa aset yang dapat menghasilkan arus kas jika berada dalam kelompok aset, sehingga penurunan nilai dilakukan untuk satu unit penghasil kas. Contoh unit penghasil kas adalah investasi asosiasi, investasi di anak perusahaan, suatu unit pabrik. Aset dapat diperoleh kembali melalui penjualan (value through sales) dan penggunaan (value through sales). Jika aset dijual, entitas akan mendapatkan nilai wajar dikurangi dengan biaya penjualan. Dalam penurunan nilai, yang dipilih adalah nilai tertinggi antara nilai yang dapat diperoleh kembali dan nilai yang digunakan.

2.8.2

Penggolongan

PSAK 48 ini menerapkan untuk akuntansi penurunan nilai terhadap semua aset, kecuali persediaan, aset yang timbul dari kontrak konstruksi, aset pajak tangguhan , aset yang timbul dari imbalan kerja, aset keuangan yang termasuk dalam ruang

lingkup PSAK 55: Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran, Properti investasi yang diukur pada nilai wajar, biaya akuisisi tangguhan, dan aset tidak berwujud, yang timbul dari hak kontraktual penanggung berdasarkan kontrak asuransi yang termasuk dalam ruang lingkup PSAK 28: Kontrak Asuransi dan aset tidak lancar (atau kelompok lepasan) yang diklasifi kasikan sebagai dimiliki untuk dijual sesuai dengan PSAK 58: Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan. PSAK 48 ini berlaku untuk aset keuangan yang dikelompokkan sebagai investasi dalam entitas anak PSAK 4: Laporan Keuangan Konsolidasian dan Laporan Keuangan Tersendiri; ventura bersama PSAK 12: Bagian Partisipasi Dalam Ventura Bersama entitas asosiasi PSAK 15. Investasi pada Entitas Asosiasi

PSAK 48 ini tidak berlaku untuk aset keuangan yang termasuk dalam ruang lingkup PSAK 55 dan properti investasi yang diukur pada nilai wajar sesuai PSAK 13. Namun demikian, PSAK 48 ini berlaku untuk aset yang dicatat pada jumlah revaluasian (yaitu nilai wajar) sesuai dengan Pernyataan lain, seperti model revaluasi dalam PSAK 16: Aset Tetap.

2.8.3

Indikasi Penurunan Nilai Aset

Ada 2 (dua) informasi minimum yang perlu dipertimbangkan entitas perihal adanya indikasi penurunan nilai, diantaranya : Informasi eksternal meliputi : a. Perubahan signifikan nilai pasar b. Perubahan signifikan teknologi, pasar, ekonomi dan lingkup hukum c. Perubahan suku bunga d. Jumlah tercatat aset neto entitas melebihi kapitalisasi pasarnya Informasi Internal yang meliputi :

a. Bukti keusangan atau kerusakan fisik aset b. Perubahan signifikan atas penggunaan, penghentian dan masa manfaat aset c. Bukti internal mengindikasikan bahwa kinerja ekonomi aset lebih buruk dari yang diharapkan

2.8.4

Pengungkapan

Untuk setiap kelompok aset, entitas mengungkapkan hal berikut ini: a. Jumlah rugi penurunan nilai yang diakui dalam laporan laba rugi selama periode tersebut dan unsur laporan laba rugi komprehensif yang didalamnya tercakup rugi penurunan nilai. b. Jumlah pembalikan rugi penurunan nilai yang diakui dalam laporan laba rugi selama periode tersebut dan unsur laporan laba rugi komprehensif yang didalamnya tercakup rugi penurunan nilai yang dibalik c. Jumlah rugi penurunan nilai atas aset revaluasian yang diakui dalam laporan laba rugi komprehensif lainnya selama periode itu. d. Jumlah pembalikan rugi penurunan nilai atas aset revaluasian yang diakui dalam laporan laba rugi komprehensif lainnya selama periode tersebut.

2.9 Aset Tidak lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan 2.9.1 Pengertian Aset Tidak Lancar yang Dimiliki Untuk Dijual Aset tidak lancar adalah aset yang tidak memenuhi definisi aset lancar, misalnya aset tetap atau aset tak berwujud. Dimiliki untuk dijual artinya nilai tercatat aset akan di pulihkan melalui penjualan , bukan digunakan dalam kegiatan usaha. Suatu aset yang dimiliki untuk dijual adalah ketika entitas berniat untuk tidak menggunakan aset tersebut dalam kegiatan operasinya, namun berniat untuk menjualnya.

2.9.1.1 Klasifikasi atau Penggolongan Entitas mengklasifikasikan suatu aset tidak lancar sebagai dimiliki untuk dijual ketika nilai tercatatnya akan dipulihkan melalui penjualan, bukan melalui penggunaan. Klasifikasi ini juga berlaku untuk kelompok aset lepasan (disposal group), yaitu kelompok yang tediri dari beberapa aset tunggal dan mungkin juga termasuk beberapa liabilitas di dalamnya, yang akan dijual dalam satu transaksi tunggal. Pengertian dimiliki untuk dijual juga termasuk aset tidak lancar yang akan didistribusikan kepada pemilik. Ketentuan mengenai ini akan diatur lebih lanjut dalam ISAK No.11 tentang Distribusi Aset Nonkas kepada Pemilik. Walaupun klasifikasi aset ini diawali dengan intensi (niat) entitas untuk menjual, namun terdapat kriteria lain yang cukup spesifik, yang harus dipenuhi untuk memastikan objektivitas informasi ini. Kriteria ini juga dimaksudkan untuk memastikan keterbandingan (comparability) klasifikasi antar laporan keuangan entitas. Kriteria suatu aset tidak lancar atau kelompok aset lepasan dapat diklasifikasikan sebagai aset dimiliki untuk dijual adalah sebagai berikut: a. Aset harus tersedia dan berada dalam keadaan dapat dijual dan penjualannya harus sangat mungkin terjadi (highly probable); b. Aset ini sudah dipasarkan secara aktif pada harga yang cukup masuk akal sesuai dengan nilai wajarnya kini; c. Penjualan harus sudah diselesaikan, atau diharapkan dapat diselesaikan dalam jangka waktu 12 bulan sejak tanggal klasifikasi; dan d. Tindakan yang diperlukan untuk menyelesaikan rencana tersebut sudah dilakukan sehingga mengindikasikan tidak mungkin terjadi perubahan signifikan atau pembatalan atas rencana tersebut.

Agar penjualan tersebut sangat mungkin terjadi, entitas harus berkomitmen untuk menjual dan secara aktif mencari pembeli. Mungkin saja penjualan ini tidak diselesaikan dalam waktu 12 bulan, asalkan penundaan ini bukan berasal dari kejadian yang berada di bawah kendali entitas dan entitas harus tetap berkomitmen untuk menjual aset tersebut. 2.9.1.2 Pengukuran Sebelum diklasifikasikan sebagai aset tidak lancar dimiliki untuk dijual, nilai tercatat aset diukur sesuai dengan PSAK terkait. Misalnya aset tetap, diukur sesuai dengan PSAK No. 16. Sesaat setelah diklasifikasikan menjadi aset tidak lancar dimiliki untuk dijual, aset tersebut diukur pada nilai yang lebih rendah antara nilai tercatat dan nilai wajar neto. Nilai wajar neto adalah nilai wajar setelah dikurangi dengan biaya untuk menjual. Jika penjualan diperkirakan akan diselesaikan lebih dari 1 tahun dan telah memenuhi kondisi kriteria pengakuan, maka entitas harus mengukur biaya untuk menjual pada nilai kininya. Biaya untuk menjual contohnya adalah ongkos angkut dan biaya untuk memasarkan penjualan aset tersebut. Aset tidak lancar dan kelompok lepasan yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual tidak didepresiasi. Nilai wajar netonya dievaluasi setiap akhir periode. Setelah klasifikasi awal, pada setiap tanggal neraca, aset ini harus dievaluasi apakah masih memenuhi kriteria sebagai aset tidak lancar dimiliki untuk dijual. Jika terjadi penurunan nilai wajar neto, maka penurunan nilai ini diakui sebagai kerugian di laporan laba rugi. Sedangkan jika di periode selanjutnya terjadi kenaikan nilai wajar neto, maka pemulihan penurunan nilai tersebut dapat diakui sebagai keuntungan, maksimum sebesar akumulasi penurunan nilai yang pernah diakui. Pada saat aset tersebut akhirnya dilepas atau dijual, maka selisih antara nilai tercatat akhir dengan perolehan penjualan diakui sebagai keuntungan atau kerugian pelepasan, bukan sebagai penyesuaian terhadap penurunan nilai yang pernah diakui sebelumnya.

Kalau kita amati, dengan diterapkannya dasar pengukuran tersebut, maka entitas akan mengakui rugi yang terjadi tidak hanya pada saat penjualan, tetapi juga pada saat keputusan menjual terjadi atau sebelum penjualan terjadi. 2.9.1.3 Penyajian dan Pengungkapan Aset tidak lancar atau kelompok lepasan yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual harus disajikan terpisah dari kelompok aset yang lain yang ada di Laporan Posisi Keuangan. Untuk kelompok lepasan yang terdiri dari aset dan liabilitas yang dimiliki untuk dijual, juga harus disajikan terpisah di Laporan Posisi Keuangan. Yang diungkapkan di Laporan Keuangan adalah: a. Deskripsi tentang aset atau kelompok lepasan yang dimiliki untuk dijual b. Deskripsi tentang fakta dan keadaan dari penjualan, atau yang mengarah kepada pelepasan yang diharapkan, dan cara serta waktu pelepasan c. Kerugian penurunan nilai dan pemulihannya, jika ada d. Jika dapat diterapkan, yaitu pengungkapan tentang segmen yang dilaporkan dalam aset tidak lancar dimiliki untuk dijual sesuai dengan PSAK 5 tentang segmen operasi Jika kriteria sebagai aset tidak lancar dimiliki untuk dijual baru terpenuhi setelah tanggal neraca, maka aset tersebut tidak disajikan sebagai aset tidak lancar dimiliki untuk dijual, namun perlu diungkapkan dalam catatan laporan keuangan. Aset tidak lancar yang akan ditinggalkan (abandoned) dan aset yang digunakan sampai akhir umur ekonomisnya kemudian dilepas, tidak dapat diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual. Aset ini masih didepresiasi sampai akhir umur ekonomisnya. Aset semacam ini tidak memenuhi kriteria sebagai aset dimiliki untuk dijual, karena manfaat aset ini akan diperoleh melalui pemakaian, bukan penjualan. Namun demikian, aset tidak lancar (atau kelompok lepasan) yang akan ditinggalkan dan memenuhi kriteria sebagai operasi dihentikan, maka entitas

harus menyajikan arus kas dan laba rugi dari kelompok lepasan tersebut sebagai operasi dihentikan pada tanggal aset tersebut dihentikan pemakaianannya. Entitas tidak boleh mencatat aset tidak lancar yang tidak digunakan sementara seakan-akan seperti telah ditinggalkan. 2.9.2 Pengertian Operasi yang Dihentikan

Operasi yang dihentikan (discontinued operation) adalah suatu komponen dalam entitas yang dilepas atau diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual, dan: a. Mewakili lini usaha atau area geografis operasi utama yang terpisah, atau b. Bagian dari rencana tunggal terkoordinasi untuk melepaskan lini usaha atau area geografis operasi utama yang terpisah, atau c. Entitas anak yang diperoleh secara khusus dengan tujuan dijual kembali 2.9.2.1 Penyajian Operasi Yang Dihentikan PSAK 58 mensyaratkan pengungkapan terinci mengenai pendapatan, beban, laba atau rugi sebelum pajak, secara terpisah di Laporan Laba Rugi dan di Catatan atas Laporan Keuangan. Sedangkan pada Laporan Arus Kas, arus kas bersih dari aktivitas operasi, investasi dan pendanaan yang terkait dengan Operasi Dihentikan harus disajikan terpisah. Ini dilakukan agar jelas terlihat, mana arus kas yang berasal dari Operasi Berlanjut, mana yang berasal dari Operasi Dihentikan. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa mungkin saja suatu aset (atau kelompok lepasan) yang memenuhi kriteria sebagai aset dimiliki untuk dijual dapat juga memenuhi kriteria sebagai Operasi yang Dihentikan. Aset ini akan disajikan terpisah baik di Laporan Posisi Keuangan, sebagai Aset tidak lancar dimiliki untuk dijual dan di Laporan Laba Rugi serta Laporan Arus Kas, sebagai Operasi Dihentikan.

BAB III KASUS

DAFTAR PUSTAKA Website :


http://www.bambanghariyanto.com/2012/06/pengertian-aktiva-menurut-para-ahli.html http://memebali.blogspot.com/2013/08/aset-4-psak-16-aset-tetap.html http://memebali.blogspot.com/2013/08/aset-5-psak-19-aset-tidak-berwujud.html http://memebali.blogspot.com/2013/08/aset-7-psak-48-penurunan-nilai-aset.html http://memebali.blogspot.com/2013/08/aset-8-psak-58-aset-tidak-lancar-yang.html http://memebali.blogspot.com/2013/08/aset-3-psak-14-persediaan.html http://memebali.blogspot.com/2013/08/aset-6-psak-30-sewa.html http://memebali.blogspot.com/2013/08/aset-2-psak-13-properti-investasi.html