You are on page 1of 5

- 1 - BIOKIMIA

ANALISA KUANTITATIF KARBOHIDRAT (Analisa Kadar Glukosa dalam Urin) 1. 2. TUJUAN PERCOBAAN Menentukan kadar glukosa dalam urine manusia yang berpuasa Menentukan kadar glukosa dalam urine manusia yang tidak berpuasa DASAR TEORI

Glukosa adalah salah satu dari monosakarida yang mempunyai peranan besar sebagai indikator penyakit diabetes melilitus (DM). diabetes melilitus adalah suatu keadaan yang timbul karena defisiensi insulin, baik secara relatif maupun absolut. Karena terhambatnya penyerapan glukosa ke dalam sel serta gangguan metabolismenya, maka timbul hiperglikemia. Dalam keadaan normal, kira-kira 50% glukosa yang dimakan mengalami metabolisme sempurna menjadi CO2 dan air, 5% diubah menjadi glikogen dan kira-kira 30-40% diubah menjadi lemak. Pada diabetes melilitus semua proses tersebut terganggu, sehingga sebagian besar glukosa tetap dalam sirkulasi darah dan energi terutama diperoleh dari metabolisme protein dan lemak. Selain dalam darah, glukosa juga ditemukan dalam air seni. Kadar glukosa darah meningkat seiringan dengan pencernaan dan penyerapan glukosa dari makanan. Pada individu sehat dan normal,kadar tersebut tidak melebihi sekitar 140 mg/dL karena jaringan akan menyerap glukosa dari darah menyimpannya untuk digunakan kemudian atau mengoksidasinya untuk menghasilkan energi. Setelah makanan dicerna dan diserap, kadar glukosa darah menurun karena sel terus metabolis glukosa. Apabila kadar glukosa terus meningkat setelah makan, konsentrasi glukosa yang tinggi dapat menyebabkan keluarnya air dari jaringan akibat efek osmotik glukosa. Jaringan akan mengalami dehidrasi dan fungsinya akan terganggu. Dehidrasi otak dapat menyebabkan koma hiperosmolar. Di pihak lain, apabila kadar glukosa darah terus turun setelah makan, jaringan yang bergantung pada glukosa akan menderita kekurangan energi. Apabila kadar glukosa turun secara mendadak, otak tidak akan mampu membentuk ATP dalam jumlah memadai. Akan timbul pusing dan kepala terasa ringan, diikuti oleh mengantuk, dan akhirnya koma. Sel darah merah tidak akan mampu menghasilkan ATP dalam jumlah cukup untuk mempertahankan integritas membrannya. Hemolisis sel ini akan menurunkan transport oksigen ke jaringan tubuh. Akhirnya, semua jaringan yang menggantungkan diri pada oksigen untuk memperoleh energi akan terganggu fungsi normalnya. Apabila gangguan ini cukup berat, maka dapat terjadi kematian. Konsekuensi kelebihan atau kekurangan glukosa yang berbahaya dalam keadaan normal dihindari karena tubuh mampu mengatur kadar glukosa darahnya. Sewaktu konsentrasi glukosa darah mendekati rentang puasa normal yaitu 80 100 mg/dL sekitar 2 jam setelah makan, terjadi pengaktifan proses glikogenolisis di hati. Glikogen hati merupakan sumber utama glukosa selama beberapa jam pertama puasa. Kemudian glukoneogenesis suatu proses yang terjadi di hati berasal dari jaringan lain. Otot yang teraktivasi dan sel darah
http://jejaringkimia.blogspot.com

merah

RINO SAFRIZAL

- 2 - BIOKIMIA

menghasilkan laktat melalui glikolisis, otot juga memberi asam amino melalui penguraian protein dan terjadi pembebasan gliserol melalui mobilisasi simpanan triasilgliserol di jaringan adipose. Bahkan pada puasa jangka panjang, kadar glukosa darah tidak turun secara dramatis. Dalam keadaan kelaparan selama 5 6 minggu, kadar glukosa darah hanya menurun sampai sekitar 65 mg/dL. Setelah makan makanan yang mengandung karbohidrat, kadar glukosa darah meningkat, sebagian glukosa dalam makanan disimpan dalam hati sebagai glikogen. Setelah 2 jam atau 3 jam berpuasa, glikogen ini mulai diuraikan oleh proses glikogenolisis, dan glukosa yang terbentuk dibebaskan ke dalam darah. Seiringan dengan penurunan simpanan glikogen, juga terjadi penguraian triasilgliserol di jaringan adiposa, yang menghasilkan asam lemak sebagai bahan bakar alternatif dan gliserol untuk sintesis melalui glukoneogenesis. Asam amino juga dibebaskan dari otot untuk berfungsi sebagai prekusor glukoneogenik. Setelah puasa satu malam, kadar glukosa darah dipertahankan baik oleh glikogenolisis maupun glukoneogenesis. Namun setelah sekitar 30 jam berpuasa, simpanan glikogen hati habis, sesudah itu, glukoneogenesis adalah satu-satunya sumber glukosa. Perubahan dalam metabolisme glukosa yang berlangsung selama perpindahan dari keadaan kenyang ke keadaan puasa diatur oleh hormon insulin dan glukagon. Insulin meningkat pada keadaan kenyang dan glukagon meningkat selama puasa. Insulin merangsang transpor glukosa ke dalam sel tertentu misalnya sel otot dan jaringan adiposa. Insulin juga mengubah aktivitas enzim kunci yang mengatur metabolisme. Yang merangsang penyimpanan bahan bakar. Glukagon melawan efek insulin, yang merangsang pelepasan simpanan bahan bakar dan perubahan laktat, asam amino, serta gliserol menjadi glukosa. Selama puasa, sewaktu kadar glukosa menurun, kadar insulin menurun, dan kadar glukagon meningkat. Perubahan hormon-hormon ini menyebabkan hati menguraikan glikogen melalui glikogenesis dan membentuk glukosa melalui proses glikogenolisis dan membentuk glukosa melalui proses glukoneogenesis sehingga kadar glukosa darah dapat dipertahankan. Kadar glukosa darah dipertahankan tidak saja selama puasa, tetapi juga sewaktu kita berolahraga saat sel otot menyerap glukosa dari darah dan mengoksidasinya untuk memperoleh energi. Selama berolahraga, hati memasok glukosa ke dalam darah melalui proses glikogenolisis dan glukoneogenesis Perubahan hormon-hormon yang terjadi selama puasa merangsang penguraian triasilgliserol jaringan adiposa. Akibatnya terjadi pelepasan asam lemak dan gliserol. 3. ALAT reaksi Pipet tetes Tabung dan Bunsen Penjepit
RINO SAFRIZAL

ALAT DAN BAHAN Kaki tiga

tabung reaksi
http://jejaringkimia.blogspot.com

- 3 - BIOKIMIA

BAHAN 4. table WARNA Hijau Hijau kekuningan Kuning Jingga Merah 5.


Urine 3 orang berpuasa Urine 3 o rang tdk berpuasa

Urine 3 orang yang telah berpuasa 12 jam Urine 3 orang yang tidak berpuasa Reagen benedict CARA KERJA Sehari sebelum praktikum, mengambil contoh urine tiga orang yang telah Memasukkan sebanyak 2,5 ml reagen benedict ke dalam masing-masing Memanaskan tabung reaksi tersebut di atas Bunsen selama 1 menit dan

puasa dan tiga orang yang tidak berpuasa dengan menampungnya dalam botol vial tabung reaksi yang telah berisi 3 tetes sample urine. mengamati perubahan warnanya, lalu mencocokkan kadar glukosa dalam urine dengan

TAKSIRAN +1 +2 +3 +4

KONSENTRASI < 0,5 % 0,5 1,0 % 1,0 2,0 % > 2,0 %

KADAR GLUKOSA < 120 130 200 200 300 300 400 > 400

SKEMA KERJA
q q q q q M asukkan dlm botol vial A bil m m asing
2x

3 tetes sam urine pel 6 tabung reaksi (3 tabung u / berpuasa


2x

M asukkan ke dalam P anaskan 1m enit

& 3 tabung yg tidak berpuasa

+ 2.5 m reagen benedict ke dalamm l asing

tabung

B otol 1

B otol 2

B otol 3

B otol 4

B otol 5

B otol 6

Urine berpuasa

+ reagen benedict

Urine tdk berpuasa

+ reagen benedict

6. NO 1

TABEL PENGAMATAN PERLAKUAN 2,5 ml reagen benedict + 4 tetes sample urin pertama (Dedew) berlebih + urin gumpalan-gumpalan Terbentuk pada larutan, PENGAMATAN Warna biru

kehijauan

2
http://jejaringkimia.blogspot.com

warnanya hijau kebiruan lebih muda


RINO SAFRIZAL

- 4 - BIOKIMIA

an

Dipanask

Hijau

2,5 ml kehijauan reagen benedict + 4 tetes sample urin kedua (Aweng) berlebih + urin gumpalan-gumpalan an Persamaan reaksi : Dipanask

Warna

biru

Terbentuk pada larutan,

warnanya hijau kebiruan lebih muda Warna hijau ada endapan yang berwarna putih

Glukosa : C 6H12O6 O C5H11 O5 C O R C 2Cu2+ H O C5H11O5 C H 2Cu 2+ C5H11OH C R C H O OH Cu2 O O OH Cu2O

PEMBAHASAN Praktikum kali ini bertujuan untuk menentukan kadar glukosa dalam urine manusia yang berpuasa. Pada pengujian kadar glukosa ini, digunakan dua sample urine manusia yang berbeda yang berpuasa selama < 12 jam. Pada pengujian kadar glukosa pada sample urine yang pertama , dilakukan dengan pertamatama 2,5 ml reagen benedict ditambah 4 tetes sample urine, dihasilkan warna biru kehijauan. Sedangkan bila ditambah dengan urine berlebih, pada larutan terbentuk gumpalan-gumpalan warnanya hijau kebiruan lebih muda. Kemudian dipanaskan, tujuan pemanasan ini adalah untuk mengetahui perubahan warna yang terjadi. Dari hasil pemanasan didapat warna hijau yang artinya kadar glukosa dari sample pertama ini, kurang dari 120 mg/dL. Sedangkan pada pengujian kadar glukosa pada sample urine yang kedua, setelah 2,5 ml reagen benedict dicampurkan dengan 4 tetes sample urine, menghasilkan warna yang sama pada sample pertama yaitu berwarna biru kehijauan. Dan setelah ditambah dengan urine berlebih, terbentuk juga gumpalan-gumpalan pada larutan, warnanya hijau kebiruan lebih muda. Kemudian larutan ini dipanaskan, dan warna larutan yang didapat adalah warna hijau dan ada endapan yang berwarna putih. Warna hijau dan endapan putih ini menunjukkan

http://jejaringkimia.blogspot.com

RINO SAFRIZAL

- 5 - BIOKIMIA

bahwa kadar glukosa pada sample urine yang kedua ini mendekati ambang batas normal yaitu mendekati 120 mg/dL . Jadi kadar glukosa pada sample yang pertama dan kedua, masih dalam batas kenormalan. Karena kadar glukosa yang normal adalah sekitar 120 140 mg/dL. Dan kadar glukosa yang normal pada saat berpuasa adalah sekitar 80 100 mg/dL. Setelah puasa satu malam, kadar glukosa darah dipertahankan perpindahan dari baik oleh glikogenolini insulin dan glikagon. maupun glukeneogenesis. Perubahan dalam metabolisme glukosa yang berlangsung selama kenyang ke keadaan berpuasa diatur oleh hormone Insulin menngkat pada keadaan kenyang dan glukagon meningkat selama berpuasa. KESIMPULAN Dari praktikum kali ini, dapat disimpulkan bahwa untuk mengetahu kadar glukosa dalam urine dapat dilakukan dengan mencampurkan sample urine ke dalam reagen benedict. Hasil pengujian pada sample pertama dan sample kedua diketahui bahwa kadar glukosa pada sample pertama masih dalam batas kenormalan yaitu kurang dari 120 mg/dL. Sedangkan pada sample urine yang kedua kadar glukosa juga masih dalam batas yang normal yaitu mendekati 120 mg/dL . DAFTAR PUSTAKA Harun, Ifriany.2006. Penuntun Praktikum Biokimia. Pontianak : FKIP UNTAN Lehninger.1998. Dasar-Dasar Biokimia jilid I. Jakarta : Erlangga Kusnawidjaja, K.1993. Biokimia. Bandung : Alumm Marks, B Dawa, Dkk.1996. Biokimia Kedokteran Dasar Sebuah Pendekatan Kimia. Jakarta : Kedokteran EGC Mahoharsono, S.1998. Biokimia. Togyakarta. UGM Gadjah Mada University Press

http://jejaringkimia.blogspot.com

RINO SAFRIZAL