You are on page 1of 8

Aeromonas hydrophila

Aeromonas hydrophila pertama kali ditemukan pada tahun 1962, oleh Hoshina T, ketika mengamati penyebab dari penyakit yang menyerang ikan dan belut yang dinamakan red fin. A. hydrophila telah dihubungkan dengan beberapa penyakit pada ikan antara lain: lesi pada ekor, kerusakan pada insang dan hemoragik septikemia (Martin, 2004). A.hydrophila adalah mikroorganisme patogen oportunistik dari berbagai hewan air dan darat, termasuk manusia. A. hydrophila menyebabkan Motil Aeromonas Septicemia (MAS) yang merupakan penyakit terbesar yang mempengaruhi keberhasilan budidaya ikan di seluruh dunia (Ruth, 2002).

Morfologi Aeromonas hydrophila

Aeromonas hydrophila merupakan bakteri yang bersifat Gram-negatif, mempunyai morfologi batang pendek dengan ukuran bervariasi antara lebar 0,8 sampai 1,0 mikron dengan panjang 1,0 sampai 3,5 mikron, tidak memiliki spora, bakteri bersifat motil karena mempunyai flagela monotrichous. Morfologi koloni permukaannya agak menonjol, berbentuk bulat, mengkilat, krim dengan tepi koloni entire, diameter 2-3 mm (Austin dan Austin, 1987).

Kultur dan karakter biokemis

A. hydrophila merupakan bakteri yang mampu memfermentasi laktosa, oleh sebab itu kultur primer pada umumnya dipergunakan media yang bisa membedakan bakteri tersebut memfermentasi laktosa atau tidak, antara lain: Briliant Green Agar (BGA), MacConkey Agar (Mc/C). Menurut Cipriano (2001) beberapa media lain dapat digunakan untuk kultur primer A. hydrophila antara lain Tryptic Soy Agar (TSA), dan Brain Heart Infusion Agar (BRIA). Shotts dan Rimler (1973) secara khusus mampu memformulasikan media untuk keperluan isolasi Aeromonas tersebut yang diberi nama Rimler-Shotts agar (R-S). R-S agar ini mempunyai kandungan, yaitu : maltosa, L-lisin hydrochloride, L-ornithine hydrochloride, L-cystine hydrochloride, bromothymol blue, yeast extract, sodium thiosulphate, ferric citrate. Setelah di inkubasi pada suhu 37C selama 24 sampai 48 jam, pada media ini A.hydrophila akan mengalami pertumbuhan koloni berwarna kuning.

Beberapa

karakter

biokemis

yang

lain

A.hydrophila

mempunyai

kemampuan

menghidrolisis eskulin, memfermentasi salisin dan arabinose, sedangkan A. sobria tidak menggunakan senyawa ini (Lallier et al., 1981 cet Austin et al., 1987). Kemampuan A. hydrophila memfermentasikan glukosa merupakan reaksi kritis yang membedakan Aeromonas motil dari jenis Pseudomonas. A.hydrophila menghasilkan sitokrom oksidase, 2,3 butanediol dan mengubah nitrat menjadi nitrit. Hsu et al., (1985) mencatat bahwa sebanyak 164 isolat dari Aeromonas motil yang diteliti menghasilkan asam dari fruktosa, galaktosa, maltosa, manitol, trehalosa, dan glikogen, 99,4% dari galur yang memproduksi asam dari glukosa, 98,8% dari manose dan 98,2% dari gliserol. Shotts et al., (1985) juga menemukan bahwa semua galur A. hydrophila menghidrolisa albumin, kasein, dan fibrinogen dan sebagian besar galur juga mencerna gelatin (99,9%), hemoglobin (94,3%) dan elastin (73,2%), sejauh ini tidak ditemukan adanya galur yang menghidrolisa kolagen.

Gejala Klinis

Ascencio et al., (1998) menunjukkan bahwa hati dan ginjal adalah organ target dari septisemia akut. Hati menjadi pucat atau memiliki warna kehijauan sementara ginjal bisa menjadi bengkak mudah hancur. Kerusakan tersebut disebabkan toksin bakteri yang mampu mengakibatkan organ-organ tersebut hilang integritas strukturalnya. Bakteri ada di dalam sarung retikuler dari elipsoid limpa yang merupakan pusat dari aktivitas pagositik makropage, bakteri merusak sel endothelial dan retikuler dari elipsoid. Perubahan patologis pada limpa dari ikan yang diinjeksi dengan A. hydrophila, sedangkan ikan yang diinfeksi secara oral menunjukkan sedikit atau tanpa kerusakan limpa. Usus bagian bawah terisi mukus kuning dan anus kadang meradang, membengkak, dan menonjol keluar.

Infeksi Aeromonas motil kronis biasanya ditandai dengan bentuk ulcerous dari penyakit dmana pada lesi kulit terdapat perdarahan fokal dan nampak peradangan. Dermis dan epidermis keduanya luruh dan otot dibawahnya mengalami kematian jaringan kemudian infeksi biasanya menjadi sistemik dan hemorage pinpoin (petechiae) bisa terjadi di seluruh peritoneum dan otot. Ikan hanya dengan infeksi kutan bisa memiliki beberapa tipe lesi yang tersembunyi termasuk peningkatan jumlah lipofuscin dan hemosiderin pada hati dan limpa; namun demikan, sebagian besar organ viseral tidak nekrotis. A. hydrophila telah dihubungkan dengan penyebab dari beberapa kondisi yang berbeda, termasuk busuk pada ekor/ sirip dan hemoragik septisemia. Hemoragik septisemia (dapat pula sebagai Motil Aeromonas Septicaemia) dikarakteristikkan oleh kemunculan dari luka kecil pada permukaan (yang memacu pengeringan lendir pada sisik),

mata menonjol keluar, hemoragik lokal biasanya terdapat pada insang dan anus, terjadi borok (ulcers), abses, dan penggelembungan perut. Pada organ dalam terutama ginjal dan hati terdapat akumulasi cairan asam, anaemia. Penyakit Redsore pada ikan bass juga berhubungan dengan A. hydrophila. Kondisi ini dikarakteristikkan dengan pengikisan sisik dan lesi hemoragik, lesi menutupi sampai 75% dari seluruh permukaan tubuh ikan. Hal itu akan menyebabkan tingkat kematian yang tinggi.

Patogenisitas

Pemeriksaan mikroskop elektron menunjukkan bahwa A.hydrophila mempunyai fimbriae (pili) yang dapat mempermudah perlekatan bakteri dengan sel hospes (del Corral 1990). Mekanisme patogenisitas A. hydrophila karena memiliki adhesin. Adhesin muncul secara selektif, mengenali D-mannose dan L-fukosa rantai samping pada polimer-polimer yang berlokasi pada permukaan sel eukariotik. Meskipun mekanisme yang tepat dari kerusakan sel dan jaringan yang tersisa belum dapat dibuktikan, literature yang ada menunjukkan pada keterlibatan baik endotoksin dan eksitoksin. Hemolisin adalah faktor virulensi utama dari A. hydrophila. Galur enterotoksigenik menghasilkan dua tipe enterotoksin, yang berhubungan secara antigen, tetapi mempunyai cara kerja yang berbeda. De Meuron dan Peduzzi (1979) mengisolasi dua tipe antigen: antigen K dan antigen O. Antigen K dianggap erat kaitannya dengan faktor patogenisitas berhubungan dengan enterotoksin atau sitotoksin, sedangkan antigen O berhubungan dengan endotoksin dan eksotoksin, antigen O mempunyai sifat stabil terhadap panas. Sebagian besar isolat virulen memiliki antigen O. Mekanisme patogenisitas A. hydrophila:

(1) perlekatan jaringan dan produksi toksin. Perlekatan jaringan dimediasi dengan lapisan S, dapat ditemukan pada A. salmonicida, A. hydrophila, dan pada A. sobria. Lapisan S mendukung perlekatan dan kolonisasi bakteri pada mukosa intestinal. Hal ini juga didukung dengan struktur filamen atau membran, dengan aktivitas hemaglutinasi, terutama ditemukan pada galur mesofilik. Toksin Aeromonas dapat diklasifikasikan sebagai eksotoksin dan endotoksin. Sitotoksin dan enterotoksin penting untuk patogenisitasnya.

Aeromonas. hydrophila dan A. sobria menghasilkan enterotoksin, faktor dermonekrotik dan hemolisin. Kedua spesies tersebut menghasilkan hemolisis pada plat agar darah pada suhu 300C, tetapi hanya A. hydrophila yang dapat menghasilkan hemolisis pada plat agar dara pada suhu 100C. Injeksi endotoksin atau hemolisin sendiri tidak menghasilkan kondisi patologi klinis pada katak namun ketika endotoksin dan hemolisin diinjeksikan bersama-sama pada hewan coba tersebut, mampu menyebabkan sakit dengan tanda klinis seperti penyakit kaki merah pada katak. Hemolisin stabil pada suhu 560C selama 20 menit dan pada 600C selama 10 menit karena hemolisin memiliki aktivitas esterasi pada beta naptil asetat. Menurut Zhang et al., (2000) perbedaan genetik antara isolat virulen dan avirulen, mengkonfirmasikan bahwa virulensi diantara Aeromonas motil bergantung pada banyak faktor. Sebagian besar galur virulen A.hydrophila mempunyai lima faktor virulensi yang telah yaitu: hemolisin (hlyA), protease (oligopeptidase A), protein membran luar (Omp), protein resistensi multi obat dan protein seperti histone (HU-2).

Sensitifitas Aeromonas hydrophila

Penyakit ikan yang disebabkan karena A. hydrophila sangat kompleks, karena kemampuan bakteri menyebar melalui peredaran darah atau septikemia, oleh karena itu manifestasi sistemik tersebut, dapat menyebabkan kerusakan berbagai organ tubuh ikan. Lesi tersebut antara lain: ulcer pada organ kulit, kerusakan mata, lesi pada sirip dan insang, pengelupasan sisik dan hemoragik septikemia. Pada penyakit bentuk akut, keadaan septikemia yang parah sering menyebabkan kematian yang cepat pada ikan (Cipriano, 2001), Aeromoniasis mempengaruhi pembudidayaan ikan sehingga menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar (Samsundari dan Hany, 2005).

Penanganan Aeromoniasis dapat menggunakan antibiotik. Penggunaan dosis antibiotika yang kurang tepat dan pemakaian yang terlalu sering akan menimbulkan suatu keadaan yang disebut resistensi (Brander et al., 1991). Menurut Setiabudy dan Gan (1995) resistensi sel mikroba ialah suatu sifat tidak terganggunya kehidupan sel mikroba oleh antimikroba. Ada pula pendapat lain yang mengatakan bahwa resitensi merupakan suatu keadaan berkurangnya pengaruh obat anti infeksi terhadap bakteri atau secara alamiah bakteri tidak sensitif oleh perlakuan antibiotika (Black, 1999). Terdapat tiga tipe resistensi yang diketahui yaitu resistensi genetik, resistensi non genetik dan resistensi silang (cross-resistance). Resistensi genetik merupakan mutasi spontan karena terjadi tanpa dipengaruhi keberadaan anti mikroba tersebut. Resistensi non genetik terdapat pada mikroba dalam keadaan istirahat (inaktivitas metabolik), bila berubah aktif kembali, mikroba dapat kembali menjadi sensitif dan turunannya juga bersifat sensitif terhadap antimikroba. Pada resistensi silang, bilamana suatu bakteri resisten terhadap satu antibiotik, sekaligus resisten terhadap antibiotik yang lain. Biasanya antara antimikroba dengan struktur yang hampir sama. Bakteri dapat menjadi resisten terhadap agen antibakterial oleh karena mengikuti satu atau lebih mekanisme dari:

1. Konjugasi

Suatu pemindahan unilateral bahan genetik terjadi selama masa proses perkawinan (konjugasi) antara bakteri dari genus yang sama atau genus yang berlainan. Pemindahan ini diatur oleh faktor kesuburan (F) yang mengakibatkan penjuluran pili seks dari sel donor (F+) ke penerima.

2. Transduksi

Transduksi merupakan pemindahan gen dari satu sel ke sel yang lain dengan perantara bakteriofage. Pada proses transduksi, faktor resistensi dipindahkan dari suatu mikroba resisten ke mikroba yang sensitif dengan perantara bakteriofage.

3. Translokasi

Pertukaran urutan DNA pendek (transposon, unsur-unsuur yang dipindahkan) terjadi antara satu plasmid dengan plasmid lain atau antara satu plasmid dengan sebagian kromosom bakteri dalam sel bakteri.

4. Transformasi

Transformasi adalah proses pemindahan molekul DNA bebas yang mengandung sejumlah informasi DNA yang terbatas, dari sel bakteri pendonor ke sel bakteri resipien. Transformasi terjadi ketika DNA yang dibebaskan oleh bakteri menembus dinding sel bakteri lain dan gen yang baru akan diekspresikan pada bakteri tersebut.

Mekanisme resistensi dapat melalui berbagai cara antara lain penginaktifan obat, perubahan target atau struktur enzim, penurunan akumulasi obat oleh sel, adanya variasi jalur metabolik maupun peningkatan konsentrasi metabolik.

Berdasarkan lokasi elemen dikenal resistensi kromosomal dan resistensi ekstra kromosomal. Resistensi kromosomal terjadi akibat mutasi spontan pada lokus yang mengendalikan kepekaan terhadap antimikroba yang diberikan (Jawetz, 1996). Resistensi ekstrakromosomal terjadi karena adanya pemindahan unsur-unsur genetik ekstrakromosom yang dinamakan plasmid dari satu bakteri ke bakteri yang lain, dari satu keturunan yang sama atau berlainan. Aeromonas |

Perikanan | All-Pages
www.pojok-vet.com/Perikanan/aeromonas/All-Pages.html