You are on page 1of 5

Adzan Jumat Dua Kali

28 SEPTEMBER 2011 OLEH IBNUABBASKENDARI TINGGALKAN SEBUAH KOMENTAR

Assalamualaikum. Mengenai adzan shalat jumat, ada yang membuat dua kali, apa ada dasar(sunnah)nya? Jazakumullah khairan. [081275435XXX] Waalaikumussalam wa rahmatullahi wa barokatuh. Segala puji bagi Allah. Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah. Wa badu. Adzan jumat dua kali memang ada dasarnya, yakni sebuah atsar Utsman bin Affan -radhiallohu anhu-. Berikut ini kami bawakan secara lengkap atsar tersebut, sebagaimana yang telah dibawakan oleh Syaikh al-Albani -rahimahullah- pada kitab al-Ajwibah an-Nafiah an As`ilah Lajnah Masjid al-Jamiah, hlm. 8-9. HADITS ADZAN JUMAT DUA KALI Imam az-Zuhri -rahimahullah- berkata: as-Sa`ib bin Yazid mengabarkan kepadaku:

] [ ] [ ] [ ] [ ) : : ( ] ] [ [ [ ] ]
Bahwasanya adzan yang telah Allah sebutkan di dalam al-Qur`an pada mulanya dikumandangan ketika imam duduk di atas mimbar dan ketika sholat akan ditegakkan pada hari jum'at di depan pintu masjid pada masa Nabi -shollallahu alaihi wa sallam-, Abu Bakar dan Umar. Kemudian ketika tiba khilafah Utsman dan orang-orang semakin bertambah banyak serta rumah-rumah saling berjauhan, Utsman memerintahkan pada hari jum'at untuk dikumandangkan adzan yang ketiga (pada sebuah riwayat disebutkan: pertama. Dan di riwayat lainnya disebutkan: adzan kedua) di atas sebuah rumah miliknya di sebuah pasar yang bernama az-Zaura`. Lalu adzan dikumandangkan di az-Zaura` sebelum beliau keluar untuk memberitahukan kepada orang-orang bahwa waktu jum'at telah tiba. Maka demikianlah seterusnya hal tersebut berlangsung, dan orang-orang tidak mencela beliau atas hal itu, akan tetapi mereka pernah mencela beliau lantaran menyempurkana shalat (tidak mengqasharnya) ketika berada di Mina. [HR. al-Bukhari, jilid 2, hlm. 314, 316, 317, Abu Dawud, jilid 1, hlm. 171, an-Nasa`i, jilid 1, hlm. 297, at-Tirmidzi, jilid 2, hlm. 392 dan Ibnu Majah, jilid 1, hlm. 228. Juga diriwayatkan oleh asy-Syafi'i, Ibnul Jarud, al-Baihaqi, Ahmad, Ishaq, Ibnu Khuzaimah, ath-Thabrani, Ibnul Munzdir, dll.] Dengan demikian jelaslah bahwa adzan dua kali yang rutin dikerjakan masyarakat umum sekarang ini berdasarkan dalil yang shahih. DUA POIN PENTING [1]. Dua Alasan Utsman -radhiallohu anhu- Adzan Dua Kali. Dapat kita ketahui bersama dari hadits di atas bahwa Utsman -radhiallohu anhu- menambahkan adzan yang pertama karena dua alasan yang sangat masuk akal: 1). Semakin banyaknya manusia, dan

2). Rumah-rumah mereka yang saling berjauhan. Barang siapa memalingkan pandangan dari dua alasan ini dan berpegang teguh dengan adzan Ustman -radhiallohu anhu- secara mutlak, maka dia tidak mengikuti petunjuk beliau -radhoallohu anhu-, bahkan ia menyalahi beliau, sebab dia tidak mau mengambil pelajaran dari dua alasan tersebut, yang mana jika keduanya tidak ada niscaya Ustman -radhiallohu anhu- tidak akan menambah Sunnah Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- dan dua khalifah sebelumnya Abu Bakar dan Umar radhiallohu anhuma. Dan dua sebab tersebut hampir tidak tidak terwujudkan pada masa sekarang. Apalagi hampir seluruh masjid yang ada sudah menggunakan speaker untuk mengumandangkan adzan, sehingga semuanya dapat mendengarkan adzan jumat baik yang dekat maupun yang jauh. [2]. Adzan Sekali atau Dua Kali? Pendapat yang tepat dan benar dalam masalah ini adalah, bahwa adzan jumat sekarang ini cukup dikumandangkan sekali saja. Berikut alasannya: 1. Tidak adanya sebab yang mendorong untuk mengumandangkan adzan dua kali sebagaimana yang dilakukan Utsman bin Affan -radhiallohu anhu- lantaran adanya dua asalan yang masuk akal di atas. 2. Mengikuti sunnah Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam-, Abu Bakar dan Umar -radhiallohu anhuma-. Dan tentu saja sunnah beliau jauh lebih kita cintai dari pada sunnah yang lainnya. Imam as-Syafii -rahimahullah- berkata di kitab al-Umm, jilid 1, hlm. 172-173: Dan saya menyukai adzan pada hari jumat dikumandangkan ketika imam masuk masjid dan duduk di atas mimbar. Apabila imam telah melakukan hal itu, maka muadzdzin memuali adzan. Bila telah usai, maka imam berdiri dan menyampaikan khutbahnya, dan tidak boleh ditambah-tambahi (adzan lain) lagi. Lalu beliau menyebutkan hadits as-Sa`ib di atas dan berkata: Dahulu Atho` mengingkari bahwa Utsman yang memulainya dan berkata: Yang membuatnya adalah Muawiyah. Siapapun yang memulainya, (kata Imam asy-Syafii) maka perkara yang telah ada pada masa Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- tentu lebih aku cintai. [Disimpulkan dari kitab al-Ajwibah an-Nafi'ah 'an As`ilah Lajnah Masjid al-Jami'ah, karya Syaikh al-Albani, cetakan al-Maktab al-Islami] KESIMPULAN Dari pembahasan ringkas ini dapat kita simpulkan, bahwa adzan dua kali berdasar kepada atsar Utsman, dan bahwasanya yang benar untuk masa sekarang ini adalah mencukupkan adzan jumat sekali saja. Wallahu alam

Shalat Dhuha Shalatnya Orang-Orang Yang Bertaubat


22 FEBRUARI 2011 OLEH IBNUABBASKENDARI 7 KOMENTAR

Ustadz Abdul Kholiq Puji syukur senantiasa kita panjatkan kepada Allah, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada suri tauladan kita, Nabi MuhammadShallallahu alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang setia mengikutinya sampai datang hari kiamat, amin. Para pembaca yang dirahmati Allah Taala, dalam edisi ini insya Allah akan kami uraikan perkara yang berkaitan dengan shalat Dhuha. Semoga sedikit yang disampaikan ini bisa menggugah hati kita untuk mau membiasakan diri melaksanakannya, amin. DEFINISI DAN KEUTAMAANNYA Dhuha secara bahasa artinya waktu terbitnya matahari atau naiknya matahari. Sedangkan menurut istilah ahli fiqih, dhuha adalah waktu antara naiknya matahari sampai menjelang zawal (tergelincir matahari). Jadi shalat Dhuha artinya shalat sunnah yang dilakukan pada waktu antara naiknya matahari sampai menjelang zawal. Banyak hadist yang menjelaskan tentang keutamaan shalat Dhuha, diantaranya hadist dari Abu Dzar radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sesungguhnya beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Setiap ruas jari salah seorang di antara kalian wajib untuk disedekahi setiap hari. Maka setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, mengajak kepada kebaikan adalah sedekah, dan mencegah dari kemungkaran juga sedekah. Dan semua itu bisa tercukupi (setara) dengan dua rakaat yang dia lakukan di waktu Dhuha.[1] Dalam hadist yang lain, beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Dalam tubuh manusia ada 360 ruas tulang. Maka wajib baginya setiap hari untuk menyedekahi atas masing-masing ruas tulang tadi dengan suatu sedekah. Para sahabat bertanya, Siapa yang mampu melakukannya, wahai Rasulullah? Beliau Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, Dahak yang kamu lihat di dalam masjid lalu kami menimbunnya, atau sesuatu yang (mengganggu) kamu singkirkan dari jalan (termasuk sedekah), kemudian apabila kamu tidak mampu, maka dua rakaat di waktu Dhuha sudah mencukupi bagimu. [2] Dalam hadist yang lain dijelaskan : Shalatnya orang yang bertaubat adalah ketika anak unta mencari tempat yang teduh. [3] HUKUM SHALAT DHUHA Ulama berselisih pendapat tentang hukum shalat Dhuha : 1. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa shalat Dhuha hukumnya sunnah secara mutlak, dan sebaiknya seseorang bisa membiasakannya setiap hari. Mereka berdalil beberapa hadist, diantaranya : Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata : Kekasih saya (Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam) telah berwasiat kepada saya dengan tiga perkara : Puasa tiga hari dalam setiap bulan, shalat dua rakaat di waktu Dhuha, dan shalat Witir sebelum tidur. [4] Dan juga keumuman hadist yang menjelaskan keutamaan shalat dhuha, khususnya hadist yang menjelaskan bahwa shalat Dhuha bisa mengganti kewajiban sedekah atas setiap ruas tulang setiap harinya.

Dan juga keumuman sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam : Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dikerjakan secara berkelanjutan meskipun sedikit. [5] 2. Disunnahkan dilakukan kadang-kadang, tidak terus menerus. Diantara dalil yang dipakai pendapat ini adalah : Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu anhu dia berkata : Adalah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam shalat Dhuha sampai-sampai kami mengatakan beliau tidak meninggalkannya. Dan beliau juga meninggalkan shalat Dhuha sampai-sampai kami mengatakan beliau tidak mengerjakannya. [6] Fulan bin Jarud berkata kepada Anas radhiyallahu anhu : Apakah Nabi shalat Dhuha ? Dia menjawab, Saya tidak melihat beliau melakukan shalat Dhuha selain hari tersebut. [7] Aisyah radhiyallahu anha berkata : Sungguh apabila Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam meninggalkan suatu amalan padahal beliau senang melakukannya, maka itu karena beliau khawatir manusia akan ikut melakukannya lalu diwajibkan atas meraka. Dan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak melaksanakan shalat Dhuha sama sekali, tapi aku sendiri sungguh melakukannya. [8] 3. Tidak disunnahkan kecuali apabila ada sebabnya, seperti ketika seseorang luput shalat malam maka disunnahkan baginya untuk mengqadha-nya diwaktu Dhuha. Diantara dalil yang menunjukkan pendapat ini : a. Apa yang diceritakan Ummu Hani bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam masuk Shallallahu alaihi wa rumahnya pada waktu Fathu Makkah (penaklukan kota Makkah), lalu beliau sallam mandi dan shalat delapan rakaat di waktu Dhuha.[9] Mereka mengatakan :Shalat delapan rakaat yang dilakukan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam disebabkan oleh Fathu Makkah, dan kebetulan dilakukan di waktu Dhuha. b. Kisah shalatnya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam di rumah Itban bin Malik ketika beliau Shallallahu alaihi wa sallam diundang datang ke rumahnya untuk melaksanakan shalat, yang akhirnya tempat shalatnya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dijadikan sebagai musholla (tempat shalat), dan shalat yang dilakukan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bertepatan di waktu Dhuha. [10] c. Aisyah radhiyallahu anha menjelaskan ketika ditanya Abdullah bin Syaqiq : Apakah RasulullahShallallahu alaihi wa sallam melaksanakan shalat Dhuha ? maka dia menjawab, Tidak, kecuali apabila beliauShallallahu alaihi wa sallam pulang dari bepergian.[11] Dari tiga pendapat diatas, pendapat yang lebih mendekati kebenaran insya Allah pendapat yang pertama, yaitu disunnahkan shalat Dhuha secara mutlak, dan juga disunnahkan untuk dibiasakan setiap hari, berdasarkan keumuman hadist yang memberikan dorongan untuk melaksanakan shalat Dhuha. Terlebih lagi hadist yang menjelaskan bahwa shalat Dhuha bisa menggantikan 360 sedekah atas ruas tulang manusia yang setiap harinya wajid disedekahi. Adapun berkaitan dengan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang beliau tidak membiasakannya setiap hari, maka ini bukan berarti shalat Dhuha tidak disyariatkan. Sebab kebiasaan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallambukanlah merupakan syarat disyaratkannya suatu amalan. Oleh karena itulah Aisyah radhiyallahu anha berkata :Dan tidaklah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melaksanakan shalat Dhuha sama sekali, tapi aku sendiri benar-benar melakukannya.[12] WAKTU DAN JUMLAH RAKAAT Waktu shalat Dhuha diawali sejak naiknya matahari, yaitu sekitar jam setelah munculnya matahari sampai menjelang zawal (tergelincirnya matahari), selagi belum masuk waktu terlarang untuk shalat. Dan sebaiknya seseorang yang ingin melaksanakan shalat Dhuha agar mengakhirkan waktunya sampai sengatan terik matahari terasa panas, berdasarkan hadist Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam : Shalatnya orang-orang yang bertaubat adalah ketika anak unta mencari tempat yang teduh. Dan ini biasanya terjadi menjelang zawal.

Shalat Dhuha minimalnya dua rakaat, tanpa ada perselisihan di kalangan ulama. Hal ini berdasarkan hadist yang disampaikan di muka : Dan semua itu bisa tercukupi (setara) dengan dua rakaat yang di lakukan di waktu Dhuha.[13] dan juga berdasarkan wasiatnya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepada Abu Hurairahradhiyallahu anhu untuk tidak meninggalkan dua rakaat di waktu Dhuha. Namun mereka berselisih pendapat tentang batas maksimalnya. Ada yang berpendapat maksimal adalah delapan rakaat, berdasarkan hadist dari Abdurrahman bin Abin Laila radhiyallahu anhu dia berkata : Tidak ada seorang pun yang mengabarkan kepada saya bahwasanya dia melihat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melaksanakan shalat Dhuha kecuali Ummu Hani. Sesungguhnya dia menceritakan bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam masuk rumahnya pada waktu Fathu Makkah, lalu beliau Shallallahu alaihi wa sallam shalat delapan rakaat [14] Dan ada yang berpendapat maksimalnya dua belas rakaat, berdasarkan hadist dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Barangsiapa shalat Dhuha dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan istana untuknya di surga kelak.[15] Dan diantara mereka ada yang berpendapat tidak ada batas maksimalnya. Dan inilah pendapat yang lebih benarinsya Allah, berdasarkan hadist dari Aisyah radhiyallahu anha dia berkata : Adalah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam shalat Dhuha empat rakaat dan beliau menambah (jumlah rakaatnya) sesuai kehendak Allah. [16] Adapun penjelasan Ummu Hani bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam shalat delapan rakaat pada saatFathu Makkah, maka sebagian ulama menjelaskan bahwa shalatnya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallamwaktu itu adalah shalat Fath, bukan shalat Dhuha. Anggaplah shalat itu adalah shalat Dhuha, maka jumlah delapan rakaat yang dilakukan beliau Shallallahu alaihi wa sallam itu tidak menunjukkan pembatasan, tapi merupakan kejadian tertentu atau kebetulan beliau Shallallahu alaihi wa sallam shalatnya delapan rakaat. Wallahu alam bish shawab.