You are on page 1of 2

Aeromodelling, Cara Seru Menikmati Olahraga Sambil Belajar dan Berwisata Oleh Endie Wibowo

Olahraga di zaman ini seharusnya telah menjadi kebutuhan pokok manusia mengingat kesehatan sudah mulai berkurang peminatnya. Akan tetapi, sebagian besar masyarakat belum menyadari arti pentingnya olahraga bagi kesehatan. Mobilitas yang tinggi membuat waktu yang tersedia semakin sedikit untuk berolahraga. Ditambah lagi olahraga yang mereka kenal hanya itu-itu saja sehingga membuat bosan. Namun, sebenarnya masih banyak cabang olahraga yang sudah lama hadir di sekitar kita tetapi belum kita ketahui, salah satunya adalah olahraga kedirgantaraan. Seperti namanya, olahraga dirgantara merupakan cabang olahraga yang dilakukan di udara. Olahraga ini meliputi banyak jenis, diantaranya terjun payung, microlight, aeromodelling, paramotor, gantolle airtow, dan paralayang. Kebanyakan dari olahraga ini memang sangat memacu adrenalin. Tetapi hal itu tidak menghalangi para penikmatnya untuk merasakan sensasi berolahraga di atas awan. Namun, bagi mereka yang takut pada ketinggian, solusinya adalah aeromodelling. Aeromodelling merupakan salah satu olahraga dirgantara paling favorit karena tidak membuat pemainnya mengalami sport jantung namun tetap seru dan mendebarkan. Aeromodelling adalah cabang olahraga dirgantara yang terkait dengan perencanaan, perancangan, pembuatan, dan penerbangan pesawat model. Bentuk-bentuk dari pesawat model bermacam-macam, dari yang sederhana hingga yang rumit, mengikuti bentuk pesawat sungguhan yang ada dengan skala tertentu. Untuk melakukan olahraga ini, dibutuhkan lapangan yang terbuka dan luas. Pesawat model dikenal dunia setelah pesawat sungguhan ditemukan pada tahun 1903 oleh Wright bersaudara. Penemuan ini membuat perhatian dunia terarah kepada pesawat. Orang-orang mulai membuat pesawat model dari kayu ringan, seperti balsa untuk diterbangkan dengan cara diluncurkan ataupun menggunakan tenaga karet dengan baling-baling. Kemudian, perkembangan ini berlanjut pada tahun 1930-an dan 1940-an ketika gas dan bensin mulai digunakan sebagai sumber energi pesawat model. Sejak saat itulah, aeromodelling menjadi hobi baru yang mengasyikan dan menjadi salah satu sarana olahraga dirgantara paling populer di dunia. Di Indonesia sendiri, aeromodelling mulai dikenal pada tahun 1946 oleh anggota TNI Angkatan Udara di Yogyakarta, bertepatan dengan dirintisnya pembuatan pesawat layang pertama. Sejak saat itu, peminat pesawat model mulai menjamur di kota-kota besar di Indonesia, seperti Bandung, Malang, Surabaya, dan Surakarta dengan klub-klub tersendiri. Klub-klub ini kemudian untuk pertama kalinya bertemu unutk mengikuti perlombaan tahunan pada tanggal 27 Januari 1952 yang diadakan oleh Biro Aero Club di Pangkalan Udara Halim Perdana Kusumah Jakarta. Selain itu, klub-klub ini juga mengadakan kursus yang ditujukan untuk semakin memahami pesawat model. Lalu, oleh karena olahraga ini mulai diminati oleh banyak masyarakat, maka atas usulan Letnan Suhartono, Ketua Kursus Aeromodelling dan Peroketan saat itu, dibentuklah suatu organisasi resmi yang menjadi wadah berkumpulnya seluruh para aeromodeller (atlet pesawat model) Indonesia bernama Federasi Aeromodelling Seluruh Indonesia (FASI). Kemudian, FASI menjadi induk seluruh cabang olahraga dirgantara Indonesia dan namanya berubah menjadi Federasi Aero Sport Indonesia. Pada dasarnya, pesawat model terbagi menjadi statis dan dinamis. Pesawat model yang statis hanya sebatas pembuatan model pesawat dengan skala tertentu dan tidak bisa diterbangkan. Dengan kata lain, hanya menajdi objek hiasan. Sedangkan pesawat model dinamis dapat diterbangkan dengan

meluncur (gliding) ataupun menggunakan tenaga bantuan. Kemudian, berdasarkan kelasnya, aeromodelling terbagi menjadi empat, yaitu kelas F1 (terbang bebas), kelas F2 (terbang keliling), kelas F3 (remote control), F4 (model skala), dan F5 (R/C elektrik). Kelas F1 merupakan kelas paling ringan di mana pesawat tidak dapat dikendalikan dan tidak menggunakan mesin. Sedangkan kelas F2 pesawat model menggunakan mesin dan dapat dikendalikan menggunakan kawat. Lebih tinggi tingkatannya yaitu kelas F3 di mana pesawat model dapat dikendalikan menggunakan remote control. Selanjutnya adalah kelas F4 yang merupakan golongan pesawat model statis. Terakhir adalah kelas F5 yang menggunakan remote control juga namun berbeda dengan golongan F4 yang ada pada sumber tenaga. Jika kelas F4 menggunakan bahan bakar minyak atau gas, di kelas F5 pesawat model menggunakan energi listrik. Bagi pemula, pesawat yang meluncur atau yang menggunakan tenaga karet lebih disarankan karena sederhana dan mudah untuk dibuat. Untuk tingkatan yang lebih tinggi, pesawat model menggunakan mesin bertenaga gas atau bensin kemudian dapat dikendalikan menggunakan remote control. Pesawat yang menggunakan remote control pada perlombaan biasanya dibagi lagi menjadi dua macam, yaitu meluncur dan akrobatik, yang selalu mengundang decak kagum yang melihatnya. Pesawat model memiliki banyak manfaat selain sebagai sarana olahraga, yaitu sebagai media pendidikan, hobi, dan pariwisata. Sebagai media pendidikan, pesawat model menyediakan berbagai macam informasi mengenai teknologi kedirgantaraan, seperti bagaimana pesawat dapat terbang, pengaruh tekanan dan kecepatan angin pada keseimbangan pesawat, berapa tenaga yang diperlukan dan berapa sudut yang tepat untuk menerbangkan pesawat, dan masih banyak lagi. Maka dari itu, olahraga ini memberikan ilmu yang akan semakin bertambah mengikuti perkembangan teknologi di cabang aeromodelling. Selain sebagai media pendidikan, tentunya olahraga ini juga memberikan hiburan tersendiri bagi para penikmatnya. Merupakan suatu kebanggaan bagi para atlet ketika mereka bisa menyalurkan hobi dengan menerbangkan pesawat model dan melakukan atraksi-atraksi yang spektakuler di udara. Kemudian, kegiatan aeromodelling sering diadakan di lokasi dengan alam terbuka yang indah seperti di perbukitan hijau dan tempat-tempat menarik lainnya. Maka dari itu, olahraga ini juga menjadi sarana pariwisata. Selain itu, biasanya perlombaan yang akan dilaksanakan bekerjasama dengan dinas pariwisata setempat yang dapat digunakan sebagai media promosi pariwisata. Jadi, aeromodelling merupakan sarana olahraga yang bisa dinikmati sambil belajar dan berwisata. Olahraga aeromodelling merupakan olahraga yang mengasyikan. Namun, walaupun sudah lama hadir di Indonesia, masyarakat masih banyak yang belum mencoba jenis olahraga ini. Mereka menganggap bahwa olahraga seperti ini hanya untuk orang-orang yang memiliki kantong lebih. Memang, dalam membuat pesawat model bermesin dibutuhkan biaya yang tak sedikit. Akan tetapi, hal itu bukan berarti menjadi rintangan sehingga mengubur dalam-dalam keinginan untuk mencoba suasana olahraga yang baru, lebih seru dan mengasyikan. Pesawat model sederhana sebenarnya dapat dibuat sendiri dengan harga yang relatif murah. Di dunia maya sendiri banyak sekali bertebaran tutorial yang menyediakan cara pembuatan pesawat model bertenaga karet menggunakan kayu balsa. Sederhana memang, namun tetap tidak mengubah kesenangan saat menikmatinya. Yang terpenting dalam olahraga ini adalah kesabaran, ketelitian, dan rasa disiplin yang tinggi. Olahraga ini membawa manfaat yang banyak bagi penikmatnya. Maka dari itu, sosialisasi kepada masyarakat sangat diperlukan agar kedepannya olahraga aeromodelling bisa semakin berkembang di Indonesia dan mampu mengukir prestasi di ajang dunia.