You are on page 1of 12

A.

Analisis dan Perancangan Balok


Balok merupakan bagian struktur yang penting, bertujuan untuk memikul beban
transversal, yang dapat berupa beban lentur, geser maupun torsi/puntir (Sudarmoko,
1996).
1. Tulangan lentur balok.
Analisis penulangan lentur balok ini dimaksudkan untuk menyediakan sejumlah
tulangan baja agar mampu menahan dua hal utama yang dialami oleh balok yaitu kondisi
tekan dan tarik. Penyebab kondisi tersebut antara lain di-karenakan adanya pengaruh
lentur ataupun gaya lateral. Mengingat gaya tarik beton kira-kira 10% dari kuat tekannya,
bahkan dalam problema lentur sering kuat tarik ini tidak diperhitungkan, sehingga timbul
usaha untuk memasang baja tulangan pada bagian tarik guna mengatasi kelemahan beton
tersebut (Wahyudi dan Rahim, 1997)
1.1. Balok persegi dengan tulangan tunggal.
a. Analisis .
Gambar 3.2 Penampang diagram regangan tegangan tulangan tunggal
Dalam keadaan seimbang gaya tekan beton (Cc) = gaya tarik tulangan baja
(Cs) serta dengan anggapan tulangan baja telah mengalami keluluhan (fs = fy), maka
berlaku kondisi sebagai berikut :
Cc = Ts (3.E.1)
Cc = 0,85 . fc . a . b (3.E.2)
Ts = As . f s = As . f y (3.E.3)
b
h
c

c
= 0,003

s
=
y
=fy/Es
a
c
c
T
s
sumbu
netral
sumbu
balok
penampang
melintang
tegangan
regangan
d
-

.
a

.
a
d
d
s
0,85.f c
a =
1
. c ;
1
= 0,85 f c 30 MPa (3.E.4)
Mn = Ts (d a) = Cc (d a) (3.E.5)
Mr = . Mn Mu (3.E.6)
b. Perancangan .
Dari data di lapangan dimensi balok (b, h), mutu baja (fy) dan mutu beton (f
c) sudah diketahui, maka yang dicari adalah dimensi dan jumlah tulangan yang
diperlukan, dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1) Menentukan kuat lentur balok (Mu,b) yang diambil dari nilai terbesar dari
kombinasi pembebanan dan faktor keamanan berikut ini:
M
u,b
= 1,2 M
D,b
+ 1,6 M
L,b
(3.E.7)
M
u,b
= 1,05 (M
D,b
+ M
Lr,b
t M
E,b
) (3.E.8)
M
u,b
= 0,9 (M
D,b
t M
E,b
) (3.E.9)
2) Penentuan rasio tulangan ( ) terdapat tiga cara menurut Wang dan Salmon
(1993) : menggunakan grafik hubungan koefisien perlawanan (Rn) dan rasio
tulangan ( ), perbandingan pendekatan Rn, serta dengan rumus empiris (hampir
eksak). Dengan rumus empiris adalah sebagai berikut :
Rn = Mn (b . d
2
) = Mu ( . b . d
2
) (3.E.10)
m = fy (0,85 . f c) (3.E.11)

,
`

.
|

y
Rn . m . 2
1 1
m
1
f

(3.E.12)
3) Pengecekan nilai rasio tulangan ( ) dengan batasan yang ada :

min

maks

y 600
600
y
. c ' . 85 , 0
75 , 0 . 75 , 0
y
4 , 1
1
b
f f
f
f +



(3.E.13)
4) Menghitung dan pemilihan luas tulangan baja yang diperlukan (As) :
As = . b . d (3.E.14)
Syarat dari luas tulangan yang dipakai :
a) 1,4. bw . d fy As 7 . bw . d fy (3.E.15)
b) As 0,5 . As (3.E.16)
5) Kontrol tulangan baja leleh atau belum :
Cc = Ts 0,85 . f c . a . b = As . f y
b c 85 0
y As
a
. ' . ,
.
f
f

(3.E.17)
a = c
1
c = a .
1
c = a 0,85
) y s (
Es
s
003 , 0
c
c d
s f f
f

leleh baja tulangan (3.E.18)


) Es . s s (
Es
s
003 , 0
c
c d
s <

f
f
leleh belum baja tulangan
(3.E.19)
6) Kontrol kekuatan penampang yang ada :
Mn = Ts (d .a) = Cc (d .a)
Mr = . Mn Mu atau Mn Mu
M
kap, b
=
O
. M
nak, b
;
O
= 1,25 untuk fy 400 MPa (3.E.20)
Pada sisi muka join M
kap
+
0,5 . M
kap


Di sembarang penampang dari komponen struktur M
kap
+
0,25 . M
kap, maks
1.2. Balok persegi dengan tulangan rangkap.
a. Analisis .
Dalam keadaan setimbang dan menganggap tulangan mengalami luluh
berlaku ketentuan sebagai berikut :
T
1
= Cc As
1
. fy = 0,85 . f c . a . b (3.E.21)
As
1
= As As
2
= As As (3.E.22)
Mn
1
= As
1
. fy (d -.a) = (As As) . fy (d - .a) (3.E.23)
b
d
s
d
d h
c

c
=
0,003

s
=
y

=fy/Es
a
c
s c
c
T
1
sb netral
sb. balok
penampang melintang kopel momen beton-baja regangan
Gambar 3.3 Penampang balok, diagram regangan, tegangan
dan gaya-gaya dalam pada tulangan rangkap
d

-

a
d

T
2
A
s1
A
s2
A
s

kopel momen baja-baja


0,85.f c
As = As
2
= As As
1
(3.E.24)
T
2
= Cs = As
2
. f y (3.E.25)
Mn
2
= As
2
. f y (d d) (3.E.26)
Mn = Mn
1
+ Mn
2
= (As As) . f y (d .a) + As . f y (d d) (3.E.27)
b . c ' . 85 , 0
y . ) ' As As (
b . c ' . 85 , 0
y . As
a
1
f
f
f
f

; tulangan tarik/tekan luluh (
S

Y
)
(3.E.28)

S
= (c-d)/c . 0,003, dan
Y
= fy/Es
Bila tulangan tekan belum luluh (
S
<
Y
) fs= (c-d)/c . Es . 0,003, maka
nilai a dapat dicari dengan persamaan kuadrat nilai c
Cc + Cs Ts = 0 (3.E.29)
{0,85.f c.b.
1
.c + 0,003.(c-d)/c.Es.As As.fy = 0} . c (3.E.30)
(0,85.f c.b.
1
).c
2
+ (0,003.Es.As- As.fy)c d.(0,003).Es.As = 0 (3.E.31)
a =
1
. c
Mn = 0,85.f c.a.b.(d - a) + As . f s.(d d) (3.E.32)
Mr = . Mn Mu (3.E.33)
b. Perancangan .
Langkah-langkah yang diperlukan untuk menentukan dimensi dan jumlah
tulangan adalah :
1). Menetapkan kekuatan maksimum untuk penampang bertulangan tunggal :
d c
y c
c
b

+

(3.E.34)
c
b maks
= 0,75 . c
b
a
b maks
=
1
. c
b maks
= 0,85 . c
b maks
(3.E.35)
Ts
maks
= Cc
maks
= 0,85 . f c . a
b maks
. b (3.E.36)
Mn
1
= Cc
maks
. (d a
b maks
/2) (3.E.37)
Jika Mu Mn
1
/ balok berupa tulangan tunggal, dan
Jika Mu > Mn
1
/ balok beupa tulangan rangkap
2). Menetapkan tulangan tekan dan menjaga agar c
b maks
= 0,75 . c
b
:
1 2
Mn
Mu
Mn

(3.E.38)
( ) ' d d
Mn
Cs
2

(3.E.39)
003 0
c
d c
S
,
'
'


(3.E.40)
Jika
S

y
tulangan tekan luluh dan fs = fy
Jika
S
<
y
tulangan tekan luluh dan fs =
S
. Es
3). Menetapkan luas tulangan perlu :
y
Cs Cc
As
maks
f
+

(3.E.41)
'
'
s
Cs
As
f

(3.E.42)
4). Kontrol luas tulangan yang disyaratkan :
a) 1,4 . bw . d fy As 7 . bw . d fy
b) As 0,5 . As
5). Kontrol kekuatan penampang sesuai pers. (3.E.21) sampai (3.E.33) :
M
kap, b
=
o
. M
nak, b
;
O
= 1,25 untuk fy 400 MPa (3.E.43)
Pada sisi muka join M
kap
+
0,5 . M
kap


Di sembarang penampang dari komponen struktur M
kap
+
0,25 . M
kap, maks
2. Tulangan geser balok .
a. Analisis .
Analisis penulangan geser balok ini dimaksudkan untuk menyediakan
sejumlah tulangan baja agar mampu menahan gaya tarik arah tegak lurus ter-hadap
retak tarik diagonal yang akhirnya dapat mencegah terjadinya bukaan retak lebih
lanjut (Dipohusodo, 1994), menambah integritas beton pada daerah tekan dan
retak geser
bentang geser
(bagian bentang yang terjadi geser tinggi)
Gambar 3.4 Kerusakan tipikal akibat tarik diagonal
menambah daktilitas balok dengan cara mencegah menjalarnya retak-retak miring
sehingga memberikan peringatan awal dalam hal terjadinya keruntuhan (Winter dan
Nilson, 1993) serta mengikat tulangan memanjang agar tetap ditempatnya sehingga
dapat meningkatkan kapasitas pasaknya. Dasar perhitungan tulangan geser balok
sebagai berikut:
Vn = Vs + Vc (3.E.44)
Vu . Vn ; = 0,6 Vu 0,6 (Vs + Vc) (3.E.45)
Vc = 1/6 . f c . b
w
. d (3.E.46)
Vs = (Vu - . Vc) = Vu - Vc (3.E.47)
Vs = Av . fy . d s (tulangan geser sumbu aksial struktur) (3.E.48)
s
perlu
= Av . fy . d Vs ; nilai Av dapat ditentukan dahulu (= D10) (3.E.49)
b. Perancangan .
Langkah-langkah yang diperlukan untuk menentukan dimensi dan jarak
tulangan geser (Kusuma, 1993) adalah :
1). Menentukan gaya geser perlu balok (Vu, b) :
M
kap, b
=
o
. M
nak, b
;
o
= 1,25 untuk fy 400 Mpa. (3.E.50)
Vg . 05 , 1
ln
' M M
. 7 , 0 b , Vu
kap kap
+
+

(3.E.51)

,
`

.
|
t +
b , E b , L b , D
V .
K
0 , 4
V V . 05 , 1 b , Vu
(3.E.52)
2). Menentukan gaya geser beton (Vc) :
Vc = 1/6 . f c . b
w
. d ; = 0,6
Vu . .Vc ; tidak perlu tulangan geser (3.E.53)
. .Vc < Vu .Vc ; tulangan geser minimum (3.E.54)
.Vc < Vu ( .Vc+2/3.f c.b
w
.d) ; tulangan
geser sebesar Vs (3.E.55)
Vu > ( .Vc+2/3.f c.b
w
.d) ; dimensi balok diperbesar (3.E.56)
3). Menentukan jarak tulangan geser pada daerah sendi plastis ( 2 h
b
dari join balok
- kolom) :
Vc = 0 (3.E.57)
Vs = Vu - Vc (3.E.58)
Vs 2/3 . f c . b
w
. d (3.E.59)
s = Av . fy . d Vs (3.E.60)
dengan spasi maksimum sebagai berikut :
s d 4 ; d = jarak tulangan ke serat tekan balok (3.E.61)
Gambar 3.5 Penampang susunan tulangan geser pada balok
h
2.h 2.h > 2.h
ln
L
50m
m
50mm
s 8 . d
b
; d
b
= diameter tulangan balok terkecil (3.E.62)
s 24 . d
s
; d
s
= diameter tulangan geser (3.E.63)
( ) y . As As
As . y . 1600
s
b a
l l
f
f
+

; As
l
: luas satu kaki tulangan geser (3.E.64)
s 200 mm ; As
a,b
: luas tulangan longitudinal
atas, bawah
(3.E.65)
setelah didapat jarak tulangan geser kemudian dikontrol dengan :
a) Kontrol luas tulangan :
y . 3
s . b
Av Av
min
f

(3.E.66)
b) Kontrol kekuatan gaya geser :
( ) Vu . Vc Vs Vu
s
d . y . Av . n
Vs
r
+
f
(3.E.67)
4). Menentukan jarak tulangan geser pada daerah diluar sendi plastis (> 2 h
b
dari join
balok - kolom) :
Vc = 1/6 . f c . b
w
. d (3.E.68)
Vs = Vu - Vc (3.E.69)
s = Av . fy . d Vs (3.E.70)
dengan spasi maksimum sebagai berikut :
s d 2 ; d = jarak tulangan ke serat tekan balok (3.E.71)
s 600 mm (3.E.72)
Bila Vs 1/3 . f c . b
w
. d maka jarak spasi maksimum adalah :
s d 4 ; d = jarak tulangan ke serat tekan balok (3.E.73)
s 300 mm (3.E.74)
Hasil tulangan yang dipilih dikontrol sebagaimana tulangan di daerah sendi
plastis.
Catatan :
Bila balok mempunyai momen torsi terfaktor Tu > .1/24.f c. (X
2
.Y), maka nilai
Vc memakai persamaan berikut :
( )
Y . X
d . bw
Ct ;
Vu
Tu
. Ct . 5 , 2 1
d . bw . ) 6 / c ' (
Vc
2
2

f
(3.E.75)
3. Tulangan torsi/puntir balok .
a. Analisis .
Analisis penulangan puntir balok ini dimaksudkan untuk menyediakan
sejumlah tulangan baja agar mampu menahan gaya terpuntir terhadap sumbu
memanjang (Dipohusodo, 1994), Gaya puntir ini dalam kenyataanya tidak dapat
dipisahkan dengan gaya geser yang terdapat pada balok, sehingga dalam
perhitunganya dapat dihitung menjadi satu kesatuan.
Dasar perhitungan tulangan puntir balok sebagai berikut :
Tn = Ts + Tc (3.E.76)
Tu . Tn ; = 0,6 Tu 0,6 (Ts + Tc) (3.E.77)
Tu = . (1/3.f c . (X
2
Y)/3) (3.E.78)
( )

,
`

.
|

+

Y .
2
X
d . bw
Ct ;
2
Tu . Ct
Vu . 4 , 0
1
Y .
2
X c '
15
1
Tc
f
(3.E.79)
Ts = (Tu - . Tc) = Tu - Tc (3.E.80)
50 , 1
x
y
2
3
1
t ;
s
y . y . x . t . At
Ts
1
1 1 1

,
`

.
|
+
f
(3.E.81)
Ts
y . y . x . t . At
s
1 1
perlu
f
; At = luasan sengkang satu kaki (3.E.82)
b. Perancangan .
Langkah-langkah yang diperlukan untuk menentukan dimensi dan jarak
tulangan puntir adalah :
1).Menentukan gaya puntir dan geser perlu balok (Tu, b ; Vu, b) :
distribusi tegangan puntir
Gambar 3.6 Penampang balok puntir

m
ax

Y
Ts
y
1

X
x
1

Tu, b = berdasarkan analisis struktur
Tu, b = . (1/3.f c . (X
2
Y)/3)
Vg . 05 , 1
ln
' M M
. 7 , 0 b , Vu
kap kap
+
+

,
`

.
|
t +
b , E b , L b , D
V .
K
0 , 4
V V . 05 , 1 b , Vu
M
kap, b
=
o
. M
nak, b
;
O
= 1,25 untuk fy 400 MPa
2).Menentukan gaya puntir beton dan tulangan (Tc ; Ts) :
Tc = ... (= persamaan 3.B.79)
Tu < 1/20. f c . (X
2
.Y) ; tidak perlu
tulangan puntir (3.E.83)
Tu 1/20 . f c . (X
2
.Y) ; tulangan
puntir sebesar Ts (3.E.84)
Ts = Tu / Tc
Ts > 4 Tc ; dimensi balok harus diperbesar (3.E.85)
3). Menentukan jarak sengkang (s) :
s
puntir
= .... (= persamaan 3.B.82)
y . 3
s . b
Avt ;
d . y
Vs
y . y . x . t
Ts . 2
s
Av
s
At . 2
s
Avt
1 1
f f f
+ +

(3.E.86)
s
puntir + geser
= As (Avt/s) ; As = luas 2 kaki tulangan D10
dengan batasan spasi maksimum :
s . (x
1
+ y
1
) (3.E.87)
s 300 mm (3.E.88)
batasan luasan minumum sengkang :
Avt = Av + 2.At 1/3 . bw . s f y
4). Menentukan tulangan torsi memanjang (A
l
) :

,
`

.
| +

s
y x
2.At A
1 1
l
(3.E.89)
dipilih yang terkecil
(torsi keserasian)

,
`

.
|
]
]
]
]
]

,
`

.
|
+

+

s
y x
At . 2
Ct 3.
Vu
Tu
Tu
y
s . X . 2,8
A
1 1
f
l
(3.E.90)
Nilai 2.At diganti dengan 1/3.bw . s f y bila 1/3.bw . s f y > 2.At.
Luas A
l
tersebut dipilih terbesar kemudian didistribusikan merata ke empat sisi
penampangnya dengan jarak maksimal 300 mm, sehingga jumlah tulangan pada
penampang sebesar ( As) = A
l
+ As.