You are on page 1of 5

NAMA : INDRA BUDI SETIAWAN

KELAS : 1-J / MANAJEMEN


TUGAS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

1. Mekanisme Penilaian Aswaja

Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi
pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat.
Menyadari betapa pentingnya peran agama bagi kehidupan umat manusia maka internalisasi
nilai-nilai agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh
melalui pendidikan baik pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.

Pendidikan Aswaja dan Ke-NU-an merupakan salah satu komponen yang dimaksudkan
untuk peningkatan potensi spiritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika,
budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama. Peningkatan potensi spritual
mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai ahlusunnah wal jama’ah, serta
pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan.
Peningkatan potensi spritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi
yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai
hamba Allah SWT.

Pendidikan Aswaja dan Ke-NU-an diberikan dengan mengikuti tuntunan bahwa visi Aswaja
adalah untuk mewujudkan manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, etis,
jujur dan adil (tawassuth dan i’tidal), berdisiplin, berkesimbangan (tawazun), bertoleransi
(tasamuh), menjaga keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya
ahlussunnah waljama’ah (amar ma’ruf nahi munkar). Tuntutan visi ini mendorong
dikembangkannya standar kompetesi sesuai dengan jenjang persekolahan yang secara nasional
ditandai dengan ciri-ciri:

1.Menitik beratkan pencapaian kompetensi secata utuh selain penguasaaan materi;


2.Mengakomodasikan keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia;
3. Memberikan kebebasan yang lebih luas kepada pendidik di lapangan untuk
mengembangkan strategi dan program pembelajaran seauai dengan kebutuhan dan ketersedian
sumber daya pendidikan.

Pendidikan Aswaja dan Ke-Nu-an diharapkan menghasilkan manusia yang selalu


berupaya menyempurnakan iman, taqwa, dan akhlak, serta aktif membangun peradaban dan
keharmonisan kehidupan, khususnya dalam memajukan peradaban dan martabat ahlussunnah
wal jama’ah. Kader Nahdlatul Ulama diharapkan tangguh dalam menghadapi tantangan,
hambatan, dan perubahan yang muncul dalam pergaulan masyarakat baik dalam lingkup lokal,
nasional, regional maupun global.
Pendidik diharapkan dapat mengembangkan metode pembelajaran sesuai dengan standar
kompetensi dan kompetensi dasar. Pencapaian seluruh kompetensi dasar perilaku terpuji dapat
dilakukan tidak beraturan. Peran semua unsur sekolah, orang tua siswa dan masyarakat sangat
penting dalam mendukung keberhasilan pencapaian tujuan Pendidikan Aswaja dan Ke-NU-an.

B. Tujuan
Pendidikan Aswaja dan Ke-NU-an bertujuan untuk:
Menumbuhkembangkan aqidah ahlussunnah waljama’ah melalui pemberian, pemupukan,
dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman
peserta didik tentang Aswaja sehingga menjadi muslim yang terus berkembang keimanan dan
ketakwaannya kepada Allah SWT berdasarkan faham Ahlussnnah waljama’ah.
Mewujudkan umat Islam yang taat beragama dan berakhlak mulia yaitu umat yang
berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, etis, jujur dan adil (tawassuth dan i’tidal),
berdisiplin, berkesimbangan (tawazun), bertoleransi (tasamuh), menjaga keharmonisan secara
personal dan sosial serta mengembangkan budaya ahlussunnah waljama’ah (amar ma’ruf nahi
munkar) dalam komunitas madrasah dan masyarakat.

2. Mekanisme Penilaian Jabarriah

Kata jabariah berasal dari kata “jabara” yang artinya “memaksa”. Secara istilah Jabariah
adalah suatu golongan yang mengatakan segala perbuatan manusia sesunggungnya datang dari
Allah dengan kata lain segala perbuatan manusia terpaksa dilakukan.

a. Golongan Ekstrim

Mengatakan bahwa segala sesuatu perbuatan manusia bukan merupakan perbuatan yang
timbul dari kemauannya sendiri, tetapi perbuatan yang dipaksakan pada dirinya.
Pendapat Jham bin Shofyan orang dari khurasan dan tinggal di Khuffah mengatakan
tentang teologi Jabariah Ekstrim adalah:

1. Manusia tidak mampu untuk berbuat apa-apa, tidak mempunyai daya, tidak mempunyai
pilihan.
2. Surga dan neraka tidak kekal, tidak ada yang kekal selain Tuhan
3. Iman adalah ma’rifat atau membenarkan dalam hati.
4. Al-qur’an adalah makhluk.
b. Golongan Moderat
Mengatakan bahwa Tuhan memang menciptakan perbuatan manusia, baikn perbuatan
baik dan buruk, tetapi manusia mempunyai bagian didalamnya.
Pendapat An-Najjar (wafat : 230 H) diantara pendapatnya dari Jabariah Moderat dari
golongan Jabariah Moderat adalah :
Tuhan menciptakan segala sesuatu perbuatan manusia, tetapi manusia mengambil bagian
atau peran dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan itu. Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat nanti,
tetapi Tuhan bisa saja memindahka hati (ma’rifat) pada mata sehingga manusia dapat melihat
Tuhan.

3. Mekanisme Penilaian Mu”tajillah

Dari sisi ilmu manusia dibagi menjadi dua Ulama dan AWAM. KIta semua, SAYA dan anda
semua adalah mayoritas Awamyang keilmuannya rendah dan sebaiknya bertanya kepada Ulama
dan bicara merujuk kepada perkataan orang-orang yang berilmu yakni ulama.

Dalam sejarah islam seorang tokoh Mu'tazillah yakni sekte filosof islam yang akhirnya
mengakui bahwa metode filsafat tidak dapat menciptakan kepuasan mereka dalam memahami
agama yakni Abu Hasan Al-asyari yang akhirnya rujuk ke Ahlusunnah selama 20 tahun ia
menjadi tokoh pembela mu'tazillah. Ia bertaubat dan ia menganggap metode sunnah dalam
menetapkan teologi adalah yang paling mudah, simple dan memuaskan dari pada metode filsafat
dalam menetapkan persoalan teologi. dimana semakin dalam ia mencari makna justru semakin ia
bingung Ssperti mu'tazillah (sekte filosof islam)dalam sejarahnya yang berjaya dan menjadi
mahzab resmi

Pada periode kekhalifahan al-ma'mun. Menangkap, mengadili dan Memaksa setiap ulama
untuk mengakui bahwa Al-Quran adalah mahluk dan bukan kalammullah (firman AlloH) dan
memaksa untuk mengikuti pemikira mereka tersebut...

Salah satu ulama besar yang ditangkap ialah imam ahmad bin hambal yang dipaksa
mengatakan al-qur'an itu mahluk. Tetapi karena imam ahmad tetap kokoh pada keyakinannya
yang kuat bahwa Al-Qur'an adalah Firman atau perkataan Alloh dan bukan mahluk ia disiksa dan
dipenjara.

Orang mu'tazillah mengatakan Al-Qur'an adalah mahluk karena jika AL-quran adalah
mahluk maka akal pun mahluk. jadi karena akal dan Al-qur'an sama-sama mahluk Al-qur'an bisa
di rubah seenaknya saja oleh akal mereka pikir "kan sama-sama mahluk...."
4. Mekanisme Penilaian Qodariah

Qodariah berasal dari bahasa Arab yaitu qadara artinya kemampuan dan kekuatan,
sedangkan arti terminologinya adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan atau
perbuata manusia tidak diintervensi oleh Tuhan.

5. Mekanisme Penilaian Shuffiyyah

Allah memiliki sifat melakukan perbuatan-perbuatan yang disengaja seperti beristiwa


menuju langit, beristiwa di atas arsy, menggenggam, melipat, datang, turun dan sebagainya.
Bahkan menciptakan dan menghidupkan serta mematikan. Allah telah menyifati dirinya dengan
perbuatan-perbuatan lazim (yang tidak membutuhkan obyek) seperti beristiwa`. Dan juga dengan
perbuatan-perbuatan muta'addiy (yang membutuhkan obyek) seperti menciptakan. Dan
perbuatan muta'addiy meniscayakan adanya perbuatan lazim. Karena suatu perbuatan
mengharuskan adanya pelaku, baik perbuatan itu membutuhkan obyek atau tidak, dan seorang
pelaku itu mengharuskan adanya perbuatan, baik perbuatan itu hanya terbatas pada dirinya
sendiri atau mengena kepada selain dirinya. Dan suatu perbuatan yang mengena kepada selain
diri pelaku, tidak akan menjadi sedemikian sampai perbuatan tersebut dilakukan oleh si pelaku.
Sebab suatu perbuatan mengharuskan adanya pelaku. Kenyatan ini diketahui melalui informasi
dan rasio.

Melalui informasi, yaitu para pakar Bahasa Arab, bahasa yang dengannya Al Quran
diturunkan, dan bahasa non-arab, bersepakat bahwa apabila seseorang berkata: "si fulan telah
berdiri atau telah duduk", atau berkata "si fulan memakan suatu makanan atau meminum suatu
minuman", maka perbuatan muta'addiy (yang mengena kepada suatu obyek) pastilah
mengandung lebih dari apa yang dikandung oleh perbuatan lazim. Di dalam masing-masing dari
dua kalimat tersebut, terdapat fi'il (perbuatan) dan fa'il (pelaku). Kalimat kedua memiliki
keistimewaan dengan adanya obyek penderita dari perbuatan makan/minum (sedang kalimat
pertama tidak). Kalau dalam perbuatan lazim hanya terdapat pelaku dan perbuatan, maka dalam
kalimat yang mengandung perbuatan muta'addiy terdapat pelaku, perbuatan, plus obyek
penderita. Kalau saja ada yang mengatakan bahwa kalimat kedua tidak mengandung perbuatan
yang terjadi pada diri pelaku sebagaimana pada kalimat pertama, bahkan perbuatan "makan"
dan "minum" itu mengena pada obyek penderita "makanan" dan "minuman" tanpa terlebih dahulu
terkait dengan pelaku (atau terjadi pada diri pelaku), perkataan tersebut sudah jelas keliru. Yang
benar adalah, perbuatan "makan" dan "minum" itu terlebih dahulu terkait dan terjadi pada diri
pelaku, sebagaimana terkaitnya perbuatan "berdiri" dan "duduk" pada diri pelaku, kemudian
barulah perbuatan makan/minum itu mengena pada obyek makanan/minuman. Jadi jelas bahwa
di dalamnya terdapat apa yang terdapat pada perbuatan lazim, ditambah dengan obyek
penderita.
Kalau sudah jelas bahwa pendapat yang menafikan perbuatan Allah tidak mungkin
menyertai pendapat keterciptaan alam, sedangkan alam ini nampak sedemikian jelas ada
(tercipta), maka berarti rasio telah menunjukkan kebenaran wahyu yang berkaitan dengan hal
tersebut. Dan Allah bersifat dengan sifat-sifat yang sempurna dan terlepas dari segala
kekurangan dan cela.

5. Mekanisme Penilaian wahabiyah

Wahai jamaah sekalian, takutlah kalian kepada Allah. Kedustaan yang digemborkan ini
telah dibantah oleh kenyataan kondisi mereka. Sebab tidak mungkin bagi mereka memperturuti
keinginan orang-orang yang berada di negeri mereka. Akan tetapi yang mereka tampilkan tidak
lain lahir dari lubuk hati, keimanan terhadap kalimat "Laa ilaha Illallaah wa anna Muhammad
Rosulullaah" Serta semangat untuk mengikuti manhaj Rosulullaah shollallaahu 'alaihi wasallam
tanpa menambah, tidak tidak aku katakan tidak mengurangi. Sebab ekurangan adalah tabiat
manusia, tidak ada manusia yang mampu untuk menghindar darinya. Akan tetapi dari segi
Akidah tidak dilebihkan dan tidakdikurangi dari yang semestinya. Sedangkan dari segi ibadah
tidak dilebihkan namun bisa saja kurang dari yang semestinya. Misalnya sebagian mereka tidak
melakukan sholat di waktu malam di saat manusia tertidur, dan ini adalah kekurangan. Namun
kekurangan ini tidak mempengaruhi akidah serta tidak mengurangi nilai keislaman yang dimiliki.
Kalimat Wahabiyah masih saja dijadikan bahan untuk melakukan tuduhan suatu kelompok
masyarakat mengenai perkara-perkara yang mereka berlepas dari darinya sebagaimana
dikatakan "terbebasnya serigala dari darah putra Ya'qub."