You are on page 1of 11

PENDAHULUAN

Diabetes melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan


karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduaduanya (American diabetes Association , 2010).1,2 WHO memprediksikan kenaikan jumlah
penyandang DM di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun
2030. Laporan dari hasil penelitian di berbagai daerah di Indonesia pada dekade 1980-an
menunjukkan sebaran prevalensi DM tipe 2 antara 0,8% di Tanah Toraja sampai 6,1% yang
didapatkan di Manado.1
Diabetes melitus diklasifikasikan menjadi DM tipe 1, DM tipe 2, tipe lain dan DM
gestasional.3 Diabetes Melitus tipe 2 merupakan penyakit metabolik yang prevalensinya
meningkat dari tahun ketahun dan merupakan penyakit progresif yang dapat mengakibatkan
komplikasi akut maupun kronik.1
Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang diabetes, seperti keluhan klasik
poliuria, polidipsia, polifagia dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya
serta keluhan lain seperti lemah badan, kesemutan , gatal, mata kabur, disfungsi ereksi pada pria
dan pruritus vulvae pada wanita.4 Diagnosis DM dapat ditegakkan melalui pemeriksaan kadar
glukosa darah.
Adapun kriteria diagnosis DM yaitu:1
1. Ditemukan gejala klasik DM dan pemeriksaan glukosa plasma sewaktu > 200 mg/dL
2. Ditemukan gejala klasik DM dan pemeriksaan glukosa plasma puasa > 126 mg/dL
3. Kadar gula plasma 2 jam pada Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) > 200mg/dL
Pemeriksaan HbA1c (>6,5%) oleh ADA 2011 sudah dimasukkan menjadi salah satu kriteria
diagnostik DM, jika dilakukan pada sarana laboratorium yang telah terstandardisasi dengan
baik.5,6
Menajemen DM tipe 2 yaitu mengendalikan glukosa dengan cara diet/ gaya hidup sehat,
latihan jasmani, obat/insulin ; mengatasi kelainan yang merupakan faktor resiko yaitu
dislipidemi, hipertensi, obesitas, penyakit jantung koroner, serta pengelolan komplikasi baik akut
(hipoglikemi, ketoasidosi diabetikum, hiperosmolar non ketotik) dan kronik (retinopati,
nefropati, neuropati dan ulkus diabetikum).1

Penderita diabetes mellitus berisiko tinggi terjadi komplikasi ulkus diabetika.


Ulkus diabetika merupakan luka terbuka pada permukaan kulit yang
disebabkan adanya makroangiopati sehingga terjadi vaskuler insusifiensi dan
neuropati.7 Ulkus diabetika mudah berkembang menjadi infeksi karena
masuknya kuman atau bakteri dan adanya gula darah yang tinggi menjadi
tempat

yang

strategis

untuk

pertumbuhan

kuman.

Ulkus

diabetika

merupakan komplikasi menahun yang paling ditakuti dan mengesalkan bagi


penderita DM, baik ditinjau dari lamanya perawatan, biaya tinggi yang
diperlukan untuk pengobatan yang menghabiskan dana 3 kali lebih banyak
dibandingkan tanpa ulkus.7

LAPORAN KASUS
Pasien Tn. PK, umur 63 tahun, pendidikan tamat SLTP, pekerjaan swasta. Pasien tinggal
di Manibang Lingkungan II, Manado, Sulawesi Utara. Pasien berwarga Negara Indonesia, suku
Minahasa, agama Kristen Protestan, beristrikan Ny. DA, IRT yang berpendidikan terakhir SD.
Pasien masuk Rumah Sakit 11 Juli 2012.
Pasien masuk Rumah Sakit dengan keluhan utama luka di telapak kaki kanan sejak 1
minggu sebelum masuk Rumah Sakit. Awalnya pasien mengeluh kesemutan dan nyeri di telapak
kaki kanan setelah memakai alas kaki + 3 minggu sebelum masuk RS, kemudian kaki kanan
menjadi bengkak dan melepuh semakin lama semakin membesar akhirnya pecah dan menjadi
luka. Pasien juga mengeluh sering haus sehingga banyak minum dan sering buang air kecil

terutama pada malam hari dengan frekuensi + > 4x setiap malam. Nafsu makan menurun dan
berat badan pasien menurun 5 kg dalam waktu + 3 bulan (70 kg menjadi 65kg). Pasien juga
mengeluh demam sumer-sumer sejak 1 minggu yang lalu dan lemah badan. Batuk,sesak, mual
dan muntah disangkal pasien. Buang air besar biasa.
Pada riwayat penyakit dahulu, diketahui pasien menderita penyakit gula (Diabetes Melitus)
sekitar 3 tahun yang lalu dan minum obat ( glibenklamide) tidak teratur. Riwayat asam urat ada,
diketahui pasien sejak 1 tahun yang lalu. Riwayat penyakit hipertensi, jantung, kolesterol dan
ginjal tidak diketahui pasien. Pada riwayat penyakit keluarga, ibu pasien menderita penyakit
diabetes. Pasien memiliki kebiasaan merokok sampai sekarang ( 1 bungkus rokok habis dalam 2
hari ) dan juga kebiasaan minum alkohol.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang, kesadaran compos
mentis. Tekanan darah 130/70 mmHg, nadi 68x/menit, respirasi 20x/menit, suhu badan 36,7 0 C.
Tinggi badan 165cm, berat badan 65kg. Indeks masa tubuh 24,07 kg/m 2 (preobese). Kepala
tampak simetris, pada mata tidak ditemukan konjungtiva anemis dan sklera ikterik, telinga sekret
tidak ada, hidung secret tidak ada, tenggorokan tampak T1, faring tidak hiperemis, pada leher
tidak terjadi pembengkakan kelenjar getah bening, JVP 5+0. Dada bentuk simetris. Pada
pemeriksaan jantung, iktus kordis tidak terlihat, dan teraba. Batas jantung kanan sela iga IV linea
parasternalis dextra, batas jantung kiri sela iga V linea midclavikularis sinistra. Pada auskultasi
bunyi jantung 1 dan 2 normal, bising tidak ada. Pada pemeriksaan paru ditemukan inspeksi
simetris antara paru kiri dan kanan, palpasi stem fremitus kiri sama dengan kanan, perkusi bunyi
sonor dan pada auskultasi ditemukan suara paru vesikuler, tidak ditemukan ronkhi dan wheezing.
Pada pemeriksaan abdomen didapatkan inspeksi abdomen datar, auskultasi bising usus normal,
perkusi timpani dan palpasi lemas, nyeri tekan epigastrium tidak ada, nyeri tekan supra pubik
tidak ada. Hepar dan lien tidak teraba. Pada pemeriksaan ekstremitas, akral teraba hangat dan
edema ada. Regio tarsal pedis didapatkan luka berwarna hitam ukuran 7x5cm , ada pus dan
berbau.
Hasil laboratorium pada tanggal 11 Juli 2012 Hb 12,3 gr/dL, leukosit 8.800/mm3 , trombosit
285.000/ mm3 , eritrosit 3,95x106 / mm3 , hematokrit 36,4%, GDS 325 mg/dL, creatinine 1,0
mg/dL, Natrium 137mg/dL, kalium 2,8 mg/dL, clorida 97 mg/dL.

Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium, paasien ini didiagnosa
dengan ulkus diabetikum + Diabetes mellitus tipe 2, hipokalemi. Berdasarkan diagnosa tersebut,
pasien diterapi dengan pemberian cairan intravena Aserhing diberikan 20gtt/ menit,
ciprofloksasin 2x400 mg drips, clyndamicin 2x300 mg tab, Levemir 1x8 unit, novorapid 3x6
unit, KSR 3x1, rawat luka dan diet DM 1800 kalori.
Planning pemeriksaan GDP/GD2PP, HbA1C, protein total, albumin, globulin, profil lipid, UL,
photo thoraks, photo pedis dekstra, konsul mata, konsul gizi, konsul neurologi dan konsul poli
kaki.
Pada perawatan hari kedua (12 Juli 2012), keluhan berupa luka di telapak kaki kanan..
Keadaan umum sakit sedang, kesadaran kompos mentis. Tekanan darah 130/80mmHg, nadi
68x/menit, respirasi 24x/menit dan suhu badan 36,3 0 C. Mata konjungtiva anemis -/-, sclera
ikterik -/-. Leher JVP 5+0cmHg. Cor SI-II normal, bising tidak ada. Pulmo suara pernapasan
vesikuler, ronkhi -/-, wheezing

-/-. Abdomen datar, lemas, Bising usus normal, nyeri tekan

epigastrium tidak ada, nyeri tekan suprapubik tidak ada, hepar dan lien tidak teraba. Ekstremitas
hangat, edema ada. Regio tarsal pedis didapatkan luka berwarna hitam ukuran 7x5cm , ada pus
dan berbau.
Laboratorium : gula darah puasa (GDP) 212 mg/dL, gula darah 2 jam post prandial (GD2PP)
240mg/dL, HbA1C 10,8%, protein total 6,53 g/dL, globulin 3,10 g/dL, albumin 3,53 g/dL, total
kolesterol 170 mg/dL, LDL 123,1 mg/dL, trigliseride 123 mg/dL. Hasil foto thoraks dalam batas
normal dengan CTR ( 2+5/ 14 x 100% = 50%).
Jawaban konsul mata non proliferative retinopati diabetikum. Jawaban konsul neuro kesan
neurophati perifer.
Pasien didiagnosa ulkus DM dan DM tipe 2. Pasien diterapi lanjut dengan cairan intravena
Aserhing diberikan 20gtt/ menit, ciprofloksasin 2x400 mg drips (H2), clyndamicin 2x300 mg tab
(H2), Levemir 1x8 unit, novorapid 3x6 unit, rawat luka dan diet DM. Planing kultur pus dan
sensitivity test, kultur darah dan sensitivity test, UL, X-foto pedis, dan konsul poli kaki.
Pada perawatan hari ketiga (13 Juli 2012), keluhan berupa luka di telapak kaki kanan..
Keadaan umum sakit sedang, kesadaran kompos mentis. Tekanan darah 120/70 mmHg, nadi

68x/menit, respirasi 24x/menit dan suhu badan 36,2 0 C. Mata konjungtiva anemis -/-, sklera
ikterik -/-. Cor SI-II normal, bising tidak ada. Pulmo suara pernapasan vesikuler, ronkhi -/-,
wheezing

-/-. Abdomen datar, lemas, bising usus normal, nyeri tekan epigastrium tidak ada,

nyeri tekan suprapubik tidak ada, hepar dan lien tidak teraba. Ekstremitas hangat, edema
menurun. Regio tarsal pedis didapatkan luka berwarna hitam ukuran 7x5cm, pus masih ada.
Hasil urinalisis warna kuning muda, jernih, epitel 3-5/lpk, eritrosit 1-2/lpb, leukosit 8-10/lpb,
berat jenis 1,005, pH 6, leukosit (+), nitrit (-), protein (-), glukosa (+++), keton (-), urobilinogen
normal, bilirubin (-).
Pasien didiagnosa ulkus DM dan DM tipe 2. Pasien diterapi lanjut dengan cairan intravena
Aserhing diberikan 20gtt/ menit, ciprofloksasin 2x400 mg drips (H3), clyndamicin 2x300 mg tab
(H3), Levemir 1x8 unit, novorapid 3x6 unit, rawat luka dan diet DM. Planing kultur pus dan
sensitivity test, kultur darah dan sensitivity test (tunggu jaminan).
Pada perawatan hari keempat (14 Juli 2012), keluhan berupa luka di telapak kaki kanan.
Keadaan umum sakit sedang, kesadaran kompos mentis. Tekanan darah 120/70 mmHg, nadi
64x/menit, respirasi 20x/menit dan suhu badan 36,6 0 C. Mata konjungtiva anemis -/-, sklera
ikterik -/-. Cor SI-II normal, bising tidak ada. Pulmo suara pernapasan vesikuler, ronkhi -/-,
wheezing

-/-. Abdomen datar, lemas, bising usus normal, nyeri tekan epigastrium tidak ada,

nyeri tekan suprapubik tidak ada, hepar dan lien tidak teraba. Ekstremitas hangat, edema tidak
ada. Regio tarsal pedis ulkus (+). GDS (06.00) 173 mg/dL
Pasien didiagnosa ulkus DM dan DM tipe 2. Pasien diterapi dengan cairan intravena NaCl 0,9%
diberikan 20gtt/ menit, ciprofloksasin 2x400 mg drips (H4), clyndamicin 2x300 mg tab (H4),
Levemir 1x8 unit, novorapid 3x6 unit, rawat luka dan diet DM. Plan kontrol darah lengkap,
diffcount, GDS, asam urat, Na, K, Cl, Ur, Cr, profil lipid.
Pada perawatan hari kelima (15 Juli 2012), keluhan berupa luka di telapak kaki kanan
yang semakin membaik. Keadaan umum sakit sedang, kesadaran kompos mentis. Tekanan darah
130/80 mmHg, nadi 70x/menit, respirasi 22x/menit dan suhu badan 36,5 0 C. Mata konjungtiva
anemis -/-, sklera ikterik -/-. Cor SI-II normal, bising tidak ada. Pulmo suara pernapasan
vesikuler, ronkhi -/-, wheezing

-/-. Abdomen datar, lemas, bising usus normal, nyeri tekan

epigastrium tidak ada, nyeri tekan suprapubik tidak ada, hepar dan lien tidak teraba. Ekstremitas
hangat, edema tidak ada. Regio tarsal pedis ulkus (+).
Hasil laboratorium : leukosit 6500/mm3 , eritrosit 3,74x106 /mm3 , hemoglobin 11,7 g/dL,
hematokrit 34,2x103 /mm3 , trombosit 263.000/mm3. Eosinofil 0%, basofil 0%, netrofil batang
0%, segmen 69%, limfosit 26%, monosit 5%. GDS 155 mg/dL, Cr 0,9 mg/dL, Ur 18 mg/dL,
total cholesterol 155 mg/dL, HDL 19 mg/dL, LDL 113 mg/dL, trigliseride 113 mg/dL, Na
140mmol/L, K 3,29 mmol/L, Cl 101,5 mmol/L.
Pasien didiagnosa ulkus DM dan DM tipe 2, hipokalemi. Pasien diterapi lanjut dengan cairan
intravena NaCl 0,9% diberikan 20gtt/ menit, ciprofloksasin 2x400 mg drips (H5), clyndamicin
2x300 mg tab (H5), Levemir 1x8 unit, novorapid 3x10 unit, KSR 3x1, rawat luka dan diet DM.
Pada perawatan hari keenam (16 Juli 2012), keluhan berupa luka di telapak kaki kanan
yang semakin membaik. Keadaan umum sakit sedang, kesadaran kompos mentis. Tekanan darah
110/70 mmHg, nadi 68x/menit, respirasi 24x/menit dan suhu badan 36,6 0 C. Mata konjungtiva
anemis -/-, sklera ikterik -/-. Cor SI-II normal, bising tidak ada. Pulmo suara pernapasan
vesikuler, ronkhi -/-, wheezing

-/-. Abdomen datar, lemas, bising usus normal, nyeri tekan

epigastrium tidak ada, nyeri tekan suprapubik tidak ada, hepar dan lien tidak teraba. Ekstremitas
hangat, edema tidak ada. Regio tarsal pedis ulkus (+).
Pasien didiagnosa ulkus DM dan DM tipe 2, hipokalemi. Pasien diterapi lanjut dengan cairan
intravena NaCl 0,9% diberikan 20gtt/ menit, ciprofloksasin 2x400 mg drips (H6), clyndamicin
2x300 mg tab (H6), Levemir 1x10 unit, novorapid 3x12 unit, KSR 3x1, rawat luka dan diet DM.
Plan : DL, GDS, Ur, Cr, Na, K, Cl
Pada perawatan hari ketujuh (17 Juli 2012), keluhan berupa luka di telapak kaki kanan
yang semakin membaik. Keadaan umum sakit sedang, kesadaran kompos mentis. Tekanan darah
130/80 mmHg, nadi 64x/menit, respirasi 20x/menit dan suhu badan 36,6 0 C. Mata konjungtiva
anemis -/-, sklera ikterik -/-. Cor SI-II normal, bising tidak ada. Pulmo suara pernapasan
vesikuler, ronkhi -/-, wheezing

-/-. Abdomen datar, lemas, bising usus normal, nyeri tekan

epigastrium tidak ada, nyeri tekan suprapubik tidak ada, hepar dan lien tidak teraba. Ekstremitas
hangat, edema tidak ada, ulkus (+).

Hasil laboratorium : leukosit 6.700/mm3 , eritrosit 3,95x106 /mm3 , hemoglobin 10,5 g/dL,
hematokrit 34,2x103 /mm3 , trombosit 323.000/mm3. GDS 155 mg/dL, Cr 0,7 mg/dL, Ur 20
mg/dL. Na 143 mmol/L, K 3,76 mmol/L, Cl 102,3 mmol/L.
Pasien didiagnosa ulkus DM dan DM tipe 2, hipokalemi. Pasien diterapi lanjut dengan cairan
intravena NaCl 0,9% diberikan 20gtt/ menit, ciprofloksasin 2x400 mg drips (H7), clyndamicin
2x300 mg tab (H7), Levemir 1x10 unit, novorapid 3x12 unit, KSR (stop), rawat luka dan diet
DM.
Plan : konsul poli kaki
Pada perawatan hari kedelapan (18 Juli 2012), luka di telapak kaki kanan yang semakin
membaik. Keadaan umum sakit sedang, kesadaran kompos mentis. Tekanan darah 130/80
mmHg, nadi 72x/menit, respirasi 20x/menit dan suhu badan 36,6 0 C. Mata konjungtiva anemis
-/-, sklera ikterik -/-. Cor SI-II normal, bising tidak ada. Pulmo suara pernapasan vesikuler,
ronkhi -/-, wheezing

-/-. Abdomen datar, lemas, bising usus normal, nyeri tekan epigastrium

tidak ada, nyeri tekan suprapubik tidak ada, hepar dan lien tidak teraba. Ekstremitas hangat,
edema tidak ada, ulkus (+) 6x3cm. GDS 140mg/dL.
Pasien didiagnosa ulkus DM dan DM tipe 2.
Aff IVFD, ciprofloksasin 2x500 mg tab, clindamicin 2x300 mg tab, Levemir 1x10 unit,
novorapid 3x12 unit, diet DM 1800 kalori, rawat luka (Pasien sudah bisa rawat jalan dan
dianjurkan untuk kontrol di poli endokrin/ poli kaki).

PEMBAHASAN
Diagnosa pada pasien ini ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang lainnya.
Dari anamnesis ditemukan keluhan utama luka di telapak kaki kanan sejak 1 minggu
dimana awalnya pasien mengeluh kesemutan dan nyeri di telapak kaki kanan, kemudian menjadi
bengkak dan melepuh semakin lama semakin membesar akhirnya pecah dan menjadi luka.
Selain itu ditemukan gejala klasik seperti pasien mengeluh sering haus sehingga banyak minum
(polidipsi), sering buang air kecil terutama pada malam hari (poliuri/nokturi), penurunan berat
badan 5kg dalam waktu + 3 bulan, serta ditemukan gejala lainnya seperti lemah badan. Gejala ini
sesuai teori dimana polidipsi, poliuri, penurunan berat badan dan lemah badan merupakan gejala
DM tipe 2. Selain itu pada pasien ini terdapat faktor risiko dimana ibu dari pasien memiliki

riwayat penyakit diabetes dan pasien ini juga memiliki riwayat penyakit diabetes yang diketahui
3 tahun yang lalu, sehingga luka di kaki (ulkus) merupakan salah satu komplikasi kronik yang
disebabkan oleh penyakit diabetes melitus tipe 2. Proses terjadinya ulkus DM adalah neurophati
diabetic dll.
Pada pemeriksaan fisik terlihat keadaan umum pasien tampak sakit sedang karena pasien
tidak dalam keadaan gawat darurat, kesadaran kompos mentis. Tanda-tanda vital dalam batas
normal yaitu tekanan darah 130/70 mmHg, nadi 68x/menit, respirasi 20x/menit, suhu badan
36,70 C. Tinggi badan 165cm, berat badan 65kg, indeks masa tubuh 24,07 kg/m 2 (preobese) yang
juga merupakan salah satu faktor resiko penyebab DM. Pada pemeriksaan kepala yang meliputi
mata, hidung dan tenggorokan semua dalam batas normal. Pemeriksaan leher juga dalam batas
normal. Pada pemeriksaan thoraks yang meliputi jantung dan paru-paru dan pemeriksaan
abdomen juga dalam batas normal.
Pada pemeriksaan ekstremitas, didapatkan akral teraba hangat dan edema ada pada kaki kanan.
Regio tarsal pedis didapatkan ulkus berwarna hitam ukuran 7x5cm , ada pus dan berbau. Ulkus
ini disebabkan oleh
Selain itu, dilakukan juga pemeriksaan laboratorium dan diperoleh hasil Hb 12,3 gr/dL, leukosit
8.800/mm3 , trombosit 285.000/ mm3 , eritrosit 3,95x106 / mm3 , hematokrit 36,4% (dalam batas
normal),

GDS 325 mg/dL ( nilai glukosa darah sewaktu tinggi yaitu > 200 mg/dL yang

merupakan salah satu pemeriksaan untuk menegakkan diagnosa DM tipe 2), creatinine 1,0
mg/dL, Natrium 137 mg/dL (dalam batas normal), kalium 2,8 mg/dL ( hipokalemi yaitu kalium <
3,3 mg/dL) dan clorida 97 mg/dL masih dalam batas normal.
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium, pasien ini didiagnosa
dengan ulkus diabetikum + Diabetes mellitus tipe 2 dan hipokalemia. Hal ini sesuai dengan teori
dimana ..
Berdasarkan diagnosa tersebut, pasien diterapi dengan pemberian cairan intravena Ashering
diberikan 20gtt/ menit, ciprofloksasin 2x400 mg drips, clyndamicin 2x300 mg tab, Levemir 1x8
unit, novorapid 3x6 unit, rawat luka dan diet DM 1800 kalori.
IVFD Ashering diberikan 20 gtt/ menit sebagai jalur untuk memasukkan

Ciprofloksasin .
Clyndamicin.
Levemir
Novorapid ..
Diet DM 30kalx65 = 1950 dll
Planning pemeriksaan GDP/GD2PP, HbA1C, protein total, albumin, globulin, profil lipid, UL,
photo thoraks, photo pedis dekstra, konsul mata, konsul gizi, konsul neurologi dan konsul poli
kaki.
Direncanakan untuk dilakukan pemeriksaan GDP/GD2PP dan HbA1C untuk memastikan
diagnose DM pada pasien ini. Sesuai teori
Protein total, albumin, globulin dan profil lipid di periksa untuk .
Urinalisis lengkap dilakukan untuk
Konsul mata, gizi, neuro dan poli kaki dilakukan untuk memantau keadaan pasien terhadap
terjadinya komplikasi kronik dari DM itu sendiri.

PENUTUP
1. KESIMPULAN
2. SARAN
- Pasien sebaiknya melakukan perawatan kaki dan mencegah timbulnya luka baru
-

khususnya pada bagian kaki.


Menjaga pola hidup/ diet yang seimbang, melakukan latihan fisik ringan 30-45
menit/hari, teratur minum obat / suntik insulin
Teratur kontrol gula darah dan kontrol di poli endokrin