You are on page 1of 31

METODE PENYELIDIKAN

Definisi Bencana, bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang


mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang
disebabkan oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia
sehingga

mengakibatkan

timbulnya

korban

jiwa

manusia,

kerusakan

lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.


Longsor merupakan salah satu bencana alam yang sering terjadi di
Indonesia.

Umumnya,

gerakan

massa

melanda

daerah

perbukitan

dan

pegunungan dengan tingkat kelerengan curam-sangat curam, terutama pada


musim penghujan. Kerusakan yang ditimbulkan oleh bencana tanah longsor ini
secara langsung seperti fasilitas umum, konstruksi bangunan, lahan pertanian
dan jalan. Kerusakan secara tidak langsung dapat melumpuhkan kegiatan
pembangunan, aktivitas ekonomi di daerah bencana dan sekitarnya, bahkan
dapat menyebabkan kegiatan migrasi besar-besaran ke daerah yang lebih layak
untuk dihuni.
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah pengamatan sepanjang
lintasan dan pendeskripsian batuan langsung di lapangan yang berupa pengukuran
penampang stratigrafi pada suatu lintasan yang dilalui, pendeskripsian litologi,
pengukuran

dan

penafsiran

struktur

geologi,

pengambilan

sampel

batuan,

membuat catatan pada buku lapangan dan plotting data geologi hasil pengukuran
ke atas peta topografi (peta dasar), serta pembuatan profil yang ditunjang dengan
analisa data sekunder yang berupa parameter-parameter pengontrol dan pemicu
terjadinya

gerakan

massa.

Pengamatan

dan

pengukuran

parameter

yang

bersangkutan dengan gerakan massa, antara lain: pengukuran tinggi dan lebar
longsoran, pengamatan arah longsoran, pengamatan asosiasi longsor dengan
sekitarnya, pengukuran kemiringan bidang longsoran, pengukuran panjang dan
lebar rekahan, serta pengamatan kondisi lereng. Hasil dari pengukuran penampang
stratigrafi

dan

pengukuran

struktur

geologi

dapat

menginterpretasi

tektonostratigrafi yang terjadi pada objek utama yang dijadikan penelitian yaitu
suatu singkapan batuan dari formasi tertentu yang berada pada suatu area

tertentu. Sehingga nantinya akan mendapatkan suatu informasi geologi yang


lengkap.

Jenis-Jenis Gerakan Tanah


Gerakan tanah menurut Varnes (1978), dibagi berdasarkan mekanisme dan
material dari gerakan tanah tersebut. Mekanisme gerakan tanah ialah jenis dari
pergerakan tanahnya yaitu jatuhan (fall), rebahan (topple), longsoran (slide),
lamparan (spread) dan aliran (flow). Sedangkan, material gerakan tanah adalah
jenis massa yang bergerak dengan mekanisme tersebut, yaitu batuan (rock),
puing-puing (debris) dan tanah (earth). Dalam penamaannya, gerakan tanah
menggunakan gabungan antara mekanisme dan material gerakan tanahnya.
Berikut merupakan pengertian aspek terkait mengenai gerakan massa dan
jenis gerakan massa menurut Varnes (1978) dalam Highland dan Bobrowsky
(2008) :

Batuan adalah massa yang keras, kuat dan utuh yang belum mengalami
transportasi dari tempat aslinya.

Tanah adalah material penyusun longsoran 80% atau lebih merupakan


partikel yang ukurannya kurang lebih 2mm atau tidak lebih dari ukuran
pasir.

Lumpur adalah material penyusun longsoran 80% atau lebih merupakan


partikel yang ukurannya kurang dari 0,06mm, hingga batas ukuran butir
lanau.

Material rombakan adalah material penyusun longsoran yang terdiri dari


campuran material dengan komposisi 20-80% partikelnya berukuran lebih
besar dari 2mm, dan sisanya kurang dari 2mm.

Tabel 1.1.Tabel yang menunjukkan klasifikasi gerakan tanah berdasarkan jenis gerakan dan jenis
materialnya.

Jenis Gerakan

Jenis Material

Soil
Tanah

Jatuhan
Rebahan
Longsora
n

Jatuhan
Batuan
Rebahan
Batuan

Soil
dengan
tekstur
kasar
Jatuhan
Puing
Rebahan
Puing

Soil
dengan
tekstur
halus
Jatuhan
Tanah
Rebahan
Tanah

Longsoran
Batuan

Longsoran
Puing

Longsoran
Tanah

Aliran
Batuan
Sebaran
Batuan

Aliran
Puing
Sebaran
Puing

Aliran
Tanah
Sebarang
Tanah

Batuan
Dasar

Transla
si
Rotasi

Aliran
Sebaran

Sumber: http://pubs.usgs.gov/fs/2004/3072/images/Table_opt.jpg (dengan modifikasi).

A. Rebahan (topple) adalah terpisahnya batuan atau tanah dari lereng curam
yang kemudian ambruk dan terguling ke depan atau searah lereng.
Rebahan

terjadi

akibat

gravitasi

bumi,

retakan

pada

batuan

dan

perlapisan batuan. Rebahan ini umumnya terjadi pada massa batuan atau
tanah

yang

vertikal

yang

kemudian

terguling

dan

rebah

menjadi

horizontal. Penyebab dan pemicu dari rebahan ini pada dasarnya sama
dengan jatuhan. Berdasarkan material yang bergerak dengan mekanisme
rebahan, gerakan tanah jenis ini di bagi menjadi rebahan batuan (rock
topple), rebahan puing (debris topple), dan jatuhan tanah (earth topple).

B. Jatuhan (fall) adalah terpisahnya batuan atau tanah dari lereng curam
yang kemudian terjatuh bebas atau menggelinding di sepanjang lereng.
Jatuhan terjadi akibat adanya retakan atau bidang perlapisan batuan yang
dipicu oleh gravitasi bumi, getaran misalnya gempa, pelapukan mekanik
atau adanya erosi sungai. Jatuhan terjadi ketika material dalam kondisi
kering atau dengan kata lain tidak ada peran air sebagai factor
pemicunya. Berdasarkan material yang bergerak dengan mekasime
jatuhan, gerakan tanah jenis ini di bagi menjadi jatuhan batuan (rock
fall), jatuhan puing (debris fall), dan jatuhan tanah (earth fall).

C. Longsoran (avalanche) merupakan gerakan massa yang umumnya terjadi


pada lereng sangat terjal pada gunungapi. Jenis

avalanche dapat

mentransport material longsornya hingga beberapa kilometer. Kecepatan


dari jenis gerakan massa ini sangat cepat. Kecepatannya dapat mencapai
100 meter per detik.

D. Gelinciran (slide) adalah bergeraknya batuan atau tanah yang terjadi


pada bagian permukaan dari suatu lereng yang tidak stabil dan
memisahkannya dari bagian yang stabil di bawahnya. Gelinciran ini
umumnya terjadi akibat pengaruh morfologi dimana terdapat lereng
curam yang tidak stabil secara tatanan geologi atau stratigrafinya dan
juga dapat terjadi akibat ketidakstabilan dari material yang terdapat pada
lereng itu sendiri. Gelinciran ini dibagi menjadi 2 berdasarkan bidang
gelincir dari material geologinya, yaitu Gelinciran translasi dan Gelinciran
rotasi. Gelinciran translasi yaitu gelinciran yang terjadi pada bidang
gelincir yang datar dan

sejajar dengan arah perlapisan batuannya atau

bidang kestabilannya. Gelinciran rotasi yaitu gelinciran yang terjadi pada


bidang gelincir yang melengkung. Berdasarkan material yang bergerak
dengan mekanisme longsoran, gerakan tanah jenis ini dibagi menjadi
longsoran batuan (rock slide), longsoran puing (debris debris), dan
longsoran tanah (earth slide).

E. Aliran (flow) adalah gerakan material geologi pada permukaan bumi yang
berlangsung singkat yang menyerupai aliran cair yang pekat. Gerakan
tanah dengan mekanisme aliran ini dibagi menjadi beberapa jenis
berdasarkan material yang terangkut. Jenis-jenis gerakan aliran yang
berdasarkan materialnya ini berbeda dengan jenis gerakan sebelumnya.
Aliran

batuan

adalah

pergerakan

batuan

dasar

yang

juga

ikut

menggerakkan soil dan material lain yang berada di atasnya dikarenakan


batuan dasar yang memiliki banyak rekahan atau pun kemiringan lapisan
yang curam. Runtuhan batuan adalah gerakan fragmen batuan yang

menyerupai aliran. Umumnya runtuhan batuan terjadi setelah jatuhan


batuan ataupun longsoran batuan.
Aliran debris dan runtuhan debris yaitu aliran material geologi baik tanah
ataupun

batuan

dan

material

organik

yang

jenuh

dengan

air.

Perbedaannya, aliran debris lebih bergerak lambat dari pada runtuhan


debris dan aliran debris terbatas pada alur liar atau sebuah lembah
sungai sedangkan runtuhan debris tidak dibatasi pada alur liar maupun
lembah sungai.
Aliran tanah dan aliran lumpur yaitu gerakan material sedimen yang
berukuran sangat halus dan jenuh air yang memiliki kecepatan aliaran
yang sangat lambat. Perbedaanya ialah aliran tanah memiliki material
berukuran sangat halus atau lempung yang dominan, sedangkan aliran
lumpur memiliki kandungan material tersebut sebanyak <50%.
Jenis gerakan aliran yang terakhir adalah rayapan yaitu gerakan
permukaan tanah yang mengandung banyak material lempung dan
berlangsung dengan sangat perlahan. Rayapan ditandai dengan batang
pohon yang melengkung, pagar yang bergeser atau pun dinding rumah
yang retak.

F. Pencaran lateral (lateral spreading) adalah material tanah atau batuan


yang bergerak dengan cara perpindahan translasi pada bidang dengan
kemiringan landai sampai datar. Pergerakan terjadi pada daerah dengan
komposisi

tanah/batuan

yang

lunak,

yang

terbebani

oleh

massa

batuan/tanah di atasnya. Pembebanan inilah yang menyebabkan lapisan


tanah lunak tergencet dan mengembang kearah lateral.

G. Rayapan (creep) merupakan salah satu jenis gerakan massa aliran.


Perbedaannya terletak pada kecepatan gerakannya. Jenis gerakan massa
ini umumnya dijumpai di daerah dengan kemiringan landai hingga miring.
Kecepatan jenis gerakan massa ini sangat lambat, umumnya dapat
mencapai 1 meter per 10 tahun. Pemicu jenis gerakan massa ini antara
lain adalah hujan, saluran air yang buruk atau tidak memenuhi standar.

Ciri-ciri di lapangan yang dapat menjadi indikasi jenis gerakan massa ini
antara lain adalah miringnya tumbuhan dan tiang listrik.

Gambar 1.1. Jenis gerakan massa topple (A), fall (B), avalanche (C), slide (D), flow (E),
lateral spreading (F), dan creep (G) (mengacu klasifikasi Varnes (1978) dalam Highland dan
Bobrowsky (2008)

Tanah longsor terjadi karena ada gangguan kestabilan pada tanah/batuan


penyusun lereng. Gangguan kestabilan lereng tersebut dapat dikontrol oleh kondisi
morfologi (terutama kemiringan lereng), kondisi batuan/tanah penyusun lereng,
dan kondisi hidrologi atau tata air pada lereng. Beberapa faktor yang mengontrol
terjadinya gerakan massa menurut Reed (1997) adalah :
a.

Faktor geologi

a.1. Litologi
Karakteristik batuan contohnya seperti struktur, tekstur, dan komposisi
mineral. Tekstur pada batuan sedimen antara lain; ukuran butir, derajat
pembundaran, derajat pemilahan, dan hubungan antar butir. Batuan beku
memiliki tekstur juga, antara lain: derajat kristalisasi, granularitas, dan kemas.

Komposisi mineral menunjukkan jenis mineral dan komposisi pada batuan


beku

tersebut.

tiga

hal

tersebut

menentukan

kekuatan,

permeabilitas,

kerentanan terhadap pelapukan kimia maupun fisika dan faktor lain yang
mengganggu kestabilan lereng.
a.2. Struktur pada batuan dan soil
Struktur yang mempengaruhi kestabilan lereng antara lain: sikuen dan jenis
perlapisan, perubahan litologi, bidang perlapisan, kekar, sesar, dan lipatan.
Kondisi struktur batuann berbanding lurus dengan kerentanan terhadap resiko
bencana. Semakin besar jumlah struktur yang berkembang, semakin besar
pula resiko terjadi bencana.
b.

Faktor Geomorfologi
Faktor pendukung utama dalam memprediksi terjadinya gerakan massa adalah
sejarah kejadian yang ada. Faktor pendukung lain yaitu: kecuraman lereng
yang berhubungan dengan material pembentuk lereng, dan faktor lereng, atau
arah muka lereng dan lengkungan lereng. Tingkat kemiringan lereng dilihat
dari aspek persentase kemiringan lereng menurut klasifikasi Van Zuidam
(1983). Pola pengaliran juga dapat menjadi faktor pendukung. Pola pengaliran
yang cenderung rapat, menunjukkan tingkat pelapukan batuan yang intensif,
sehingga dapat menambah tingkat kerawanan.

c.

Faktor Hidrologi dan Klimatologi


Hal yang perlu diperhatikan mengenai hidrologi adalah sumber, pergerakan
aliran, jumlah volume air, dan tekanan air. Dalam kondisi normal, lereng
dengan litologi tertentu juga harus ada air, tetapi harus stabil. Iklim berkaitan
dengan proses pelapukan. Kondisi iklim akan mempengaruhi terbentuknya tipe
soil yang akan menyebabkan tipe gerakan massa yang berbeda. Contohnya
pada daerah dengan iklim tropis kecenderungan menyebabkan longsoran tipe
luncuran dengan material soil, batuan, dan material organik.

d.

Vegetasi

Vegetasi lereng dapat berdampak positif dan negatif terhadap kestabilan


lereng. Contohnya pada akar. Akar dapat mengurangi aliran permukaan dan
meningkatkan kohesifitas soil, tetapi akar juga dapat menyebabkan rekahan
pada lereng yang dapat memicu

terjadinya geakan massa. Kesalahan

pemilihan vegetasi lereng juga dapat berakibat fatal. Apabila massa vegetasi
melebihi daya dukung lereng, maka dapat memperbesar potensi terjadinya
gerakan massa.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, maka kriteria kelas kerawanan longsor
menurut Subagio (2008) yaitu :
Tabel 1.2. Kriteria Kelas Kerawanan Longsor
No

Kerawanan

Tidak
Rawan

Rawan

Sangat Rawan

Kriteria

a)

Jarang atau tidak pernah longsor, kecuali di sekitar


tebing sungai

b)

Topografi datar hingga landai bergelombang

c)

Vegetasi agak rapat

d)

Material bukan lempung ataupun rombakan(talus)

a)
b)

Jarang terjadi longsor kecuali bila lerengnya


terganggu
Topografi landai hingga sangat terjal

c)

Vegetasi antara kurang hingga amat rapat

d)

Batuan penyusun lereng umumnya lapuk tebal

a)

Dapat dan sering terjadi longsor

b)

Topografi landai hingga sangat curam

c)

Vegetasi antara kurang hingga sangat kurang

d)

Batuan penyusun lereng lapuk tebal dan rapuh

e)

Curah hujan tinggi

Sumber : Subagio (2008)

1.5.2. Pembobotan Faktor Bahaya dan Kerentanan Gerakan Tanah


Dalam pembuatan peta kerawanan gerakan tanah, metode yang digunakan
adalah menggunakan metode pembobotan dan metode tampalan (overlay) peta-

peta dasar yang sesuai dengan Pedoman Umum Pengkajian Resiko Bencana oleh
Badan Nasional Penanggulanan Bencana (BNPB). Metode pembobotan dan metode
tampalan

ini

merupakan

metode

semi-kuantitatif

yaitu

terdapat

penilaian

berdasarkan pengamatan deskriptif di lapangan (data kualitatif) yang kemudian


digunakan untuk penentuan skor atau pembobotan (data kuantitatif) untuk
membuat tingkatan parameter dalam pembuatan peta.
Bahaya gerakan tanah adalah keadaan fisik, geologi dan hidrologi dari daerah
penelitian yang berpengaruh terhadap peluang terjadinya gerakan tanah. Faktorfaktor bahaya ini dibagi menjadi lima yaitu kelerengan daerah sebagai faktor fisik,
tingkat pelapukan batuan atau tebal soil dan arah kemiringan lapisan sebagai faktor
geologi, serta kerapatan alur liar dan curah hujan sebagai faktor hidrologi.
Faktor fisik yaitu kelerengan daerah dibagi menjadi tiga kategori yaitu
kelerengan landai, sedang dan curam. Kelerengan landai bernilai 0 o-15o, kelerengan
sedang

bernilai

16o-45o

dan

kelerengan

curam

bernilai

>45 o.

Kelerengan

mempengaruhi faktor bahaya karena semakin curam kelerengannya, maka akan


semakin tinggi pengaruh grafitasi yang dapat memicu gerakan tanah.
Salah satu faktor geologi yaitu tingkat pelapukan batuan ataupun tebal soil
pada daerah penelitian. Batuan yang lapuk akan menjadi soil di atas batuan
dasarnya dan batuan dengan tingkat pelapukan yang tinggi akan menghasilkan
lapisan soil yang semakin tebal. Ketebalan soil yang tergolong tipis berkisar antara
0-3 meter, ketebalan soil sedang berkisar antara 4-6 meter dan ketebalan soil yang
tinggi mencapai >6 meter. Ketebalan soil mempengaruhi banyaknya material
geologi yang bergerak jika terjadi gerakan tanah. Semakin banyak material gerakan
tanah yang terdapat di suatu tempat, maka akan semakin merusak sifat gerakan
tanah jika terjadi di tempat itu.
Faktor geologi lainnnya yaitu arah kemiringan lapisan batuan terhadap arah
lereng. Arah kemiringan lapisan dibagi menjadi 3 kategori yaitu searah dengan
lereng, serong terhadap lereng dan menyiku atau berlawanan dengan lereng. Arah
kemiringan lapisan yang searah dengan arah lereng akan meningkatkan potensi
gerakan tanah ke arah lereng. Sehingga daerah yang memiliki arah perlapisan
batuan yang searah dengan arah kelerengan daerah akan memiliki tingkat bahaya
yang lebih tinggi.

Faktor hidrologi yang menjadi pertimbangan adalah curah hujan. Curah hujan
yang diamati adalah trend-nya dan intensitas hujan dari tahun ke tahun. Trend atau
perkembangan dari waktu ke waktu curah hujan ini akan digunakan untuk
memprediksi curah hujan yang akan datang. Jika curah hujan meningkat maka
akan meningkatkan potensi gerakan tanah dan sebaliknya bila curah hujan
menurun maka akan menurunakan potensi gerakan tanah. Selain itu, intensitas
curah hujan juga diperhatikan apakan tergolong curah hujan rendah, curah hujan
sedang atau pun curah hujan tinggi.
Faktor hidrologi yang lain ialah adanya alur liar atau channel pada lereng
bukit yang berupa torehan yang meyerupai sungai jika dialiri air. Alur liar ini akan
membelah lereng dan membentuk undakan-undakan dengan kelerengan yang lebih
curam dari kelerengan bukit itu sendiri. Hal ini menyebabkan berubahnya stabilitas
lereng yang dapat meningkatkan potensi gerakan tanah. Semakin tinggi kehadiran
dari alur liar ini maka akan semakin mengganggu kestabilan lereng, sehingga
semakin meningkatkan potensi gerakan tanah.

Tabel 1.3.Tabel pembobotan berdasarkan faktor-faktor bahaya gerakan tanah untuk Tingkat Bahaya
Gerakan Tanah

Tingkat
Bahaya
Gerakan
Tanah

Tingkat
Bahaya
Rendah (Skor
1)

Tingkat
Bahaya
Menengah
(Skor 2)

Tingkat
Bahaya Tinggi
(Skor 3)

Kelerengan

0 - 15

16 - 45

> 45

Tebal Soil

0 - 3 meter

4 - 6 meter

> 6 meter

Arah
Kemiringan
Lapisan

Berlawanan
atau Tegak
Lurus

Menyerong

Searah

Curah Hujan

Rendah

Menengah

Tinggi

Kerapatan
Alur Liar

Jarang

Menengah

Tinggi

Pada masing-masing titik pengamatan dilakukan pembobotan berdasarkan


table diatas. Sehingga setiap titik pengamatan memiliki skor total dari berbagai
faktor yang menjadi parameter bahaya gerakan tanah. Skor total dari pembobotan
faktor bahaya gerakan tanah ini selanjutnya digunakan untuk menentukan tingkat
bahaya gerakan tanah. Peta Bahaya Gerakan Tanah dibuat berdasarkan zonasi dari
tingkat bahaya yang ditunjukkan pada setiap titik pengamatan. Adapun kisaran
skor untuk menentukan tingkat bahaya gerakan tanah adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.

Skor
Skor
Skor
Skor

total
total
total
total

5
6-8
9-11
12-15

=
=
=
=

Sangat Rendah
Rendah
Menengah
Bahaya

Kelima faktor tersebut adalah faktor yang mempengaruhi peluang terjadinya


gerakan tanah di suatu daerah. Kemudian terdapat pula faktor kerentanan yang
mempengaruhi kerawanan gerakan tanah terhadap kehadiran manusia di sekitar
wilayah ini. Faktor kerawanan untuk daerah ini ialah tata guna lahan. Tata guna
lahan ini akan mempengaruhi paparan manusia terhadap bahaya dari gerakan
tanah. Tata guna lahan yang sekiranya jarang dikunjungi manusia, seperti lahan
terbuka hijau, memiliki tingkat paparan yang lebih kecil terhadap bahaya gerakan
massa

dibanding

dengan

daerah

permukiman.

Dengan

kata

lain,

daerah

permukiman yang terpapar dengan potensi gerakan tanah yang tinggi akan
memiliki tingkat kerawanan yang tinggi.
Tabel 1.4.Tabel pembobotan berdasarkan tata guna lahan untuk Tingkat Kerentanan Gerakan Tanah

Tingkat
Kerentanan
Gerakan
Tanah
Lahan
Terbuka
Hijau
Perkebunan
dan
Persawahan
Perumahan

Paparan
Terhadap
Manusia
Sangat Rendah
Rendah
Menengah

Permukiman

Tinggi
.

Faktor-faktor bahaya gerakan tanah seperti kelerengan dan tebal soil akan
disajikan dalam bentuk peta, seperti Peta Kelerengan, Peta Ketebalan Soil, dan lainlain. Masing-masing peta tersebut memiliki tingkat bahaya yaitu tingkat bahaya
rendah, tingkat bahaya menengah dan tingkat bahaya tinggi, yang ditentukan
berdasarkan pembobotan yang sebelumnya dibahas. Peta-peta tersebut kemudian
akan ditampalkan untuk menentukan zonasi dari bahaya gerakan tanah pada suatu
daerah yang menghasilkan Peta Bahaya Gerakan Tanah.
Tata guna lahan daerah penelitian juga akan dibuat menjadi Peta Kerentanan
Gerakan Tanah yang menunjukkan tingkat paparan manusia terhadap bahaya
gerakan tanah. Peta Bahaya Gerakan Tanah dan Peta Kerentanan Gerakan Tanah
selanjutnya juga akan ditampalkan lagi untuk akhirnya mendapatkan Peta
Kerawanan Gerakan Tanah. Untuk Peta Kerawanan Gerakan Tanah, terdapat 4
tingkatan kerawanan berdasarkan hasil pembobotannya, yaitu Kerawanan Sangat
Rendah, Kerawanan Rendah, Kerawanan Menengah, Kerawanan Tinggi.

Tabel 1.5.Tabel pembobotan Tingkat Kerawanan Gerakan Tanah

Tingkat
Kerawan
an
Gerakan
Tanah

Tingkat
Kerentana
n Sangat
Rendah

Tingkat
Kerentana
n Rendah

Tingkat
Kerentana
n
Menengah

Tingkat
Kerentana
n Tinggi

Tingkat
Bahaya
Sangat
Rendah

Kerawana
n Sangat
Rendah

Kerawana
n Sangat
Rendah

Kerawanan
Rendah

Kerawanan
Menengah

Tingkat
Bahaya
Rendah

Kerawana
n Sangat
Rendah

Kerawanan
Rendah

Kerawanan
Rendah

Kerawanan
Menengah

Tingkat
Bahaya
Menenga
h

Kerawanan
Rendah

Kerawanan
Rendah

Kerawanan
Menengah

Kerawanan
Tinggi

Tingkat
Bahaya
Tinggi

Kerawanan
Menengah

Kerawanan
Menengah

Kerawanan
Tinggi

Kerawanan
Tinggi

Catatan hasil observasi lapangan pada umumnya dibuat dengan menggunakan


terminologi deskripsi batuan yang baku terutama dalam penamaan batuan.
Tatanama batuan dan pengelompokkan satuan batuan harus mengikuti aturan
Sandi

Stratigrafi

Indonesia

1996.

Penentuan

lokasi

singkapan

dengan

menggunakan kompas serta membuat sketsa singkapan dan mendokumentasikan


melalui kamera.

KONDISI EKSISTING WILAYAH

Berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan di lapangan dan analisa dari peta
yang diperoleh dari Peta Garis RBI Bakosurtanal Bandung. Skala peta 1 : 25.000
diperoleh data ketinggian lokasi jalan, data sungai, data jaringan trasportasi dan
data batas administrasi. Lokasi Jalan dapat dilihat pada Lampiran Peta
Administrasi. Wilayah jalan berada di sisi perbukitan gunung api tersier berupa
lava dan breksi dengan kemiringan bukit antara 40% hingga 60%, dengan
elevasi sekitar 2 7 m di atas permukaan laut dan merupakan daerah perbukitan
dan pesisir. Keberadaan jalan yang berada di wilayah sisi bukit seharusnya
relatif aman terhadap pencemaran lingkungan, namun harus tetap diperhatikan
arah aliran air permukaan dan arah aliran air tanah. Arah aliran limpasan
permukaan dan air tanah diperkirakan ke arah barat menuju laut. Penentuan
jenis dan konstruksi bangunan dan sarana pendukung lokasi jalan harus
diusahakan untuk tidak menjadi sumber pencemar baik air permukaan ataupun
air tanah bagi wilayah disekitarnya terutama pada daerah dekat pemukiman.
Sungai yang dijumpai disekitar wilayah jalan merupakan sungai yang sumbernya
berasal dari timur yang mengalirkan air ke arah barat. Pada beberapa tempat
dijumpai sungai buatan yang dibuat oleh warga untuk saluran drainase air
limpasan permukaan di saat hujan. Potensi bencana banjir di wilayah jalan cukup

tinggi karena jaraknya dekat dengan laut yang perbedaan elevasinya sekitar 4-7
m karena minimnya drainase yang ada di sekitar jalan Penggunaan lahan di
sekitar wilayah penelitian adalah kawasan desa nelayan, perdagangan dan
pemukiman.

Gambar 1. Peta Lokasi Pengamatan Titik Rawan Bencana Longsor

Lokasi Pengamatan BM 1
Kondisi eksisting Titik pengamatan Bm 1 Koordinat 11841'19.432"E
831'46.699"S Lokasi ini berada di sebelah seltan titik pengamatan Bm 2.
Terlihat bekas aktivitas penambangan urug yang menghasilkan tebing tambang
yang cukup curam yang letaknya sekitar 10 m dari badan jalan. Batuan ini
termasuk ke dalam formasi Batuan gunungapi (Tmv) dan terdapat rumah warga.
Berdasarkan penuturan warga, lokasi ini tidak pernah terjadi longsor namun
potensi bencana banjir cukup tinggi.

Gambar 2.kondisi eksisting titik pengamatan Bm 1 yang terdapat bekas aktivitas


pengerukan menghasilkan lereng yang curam.

Tabel skoring Bm 1
Parameter
Kerapatan Alur liar
Besar Kelerengan
Arah kemiringan lapisan
Tebal soil
Curah Hujan
Total
Potensi bencana

Skor
Rendah (1)
70-80 (3)
Menyudut (2)
< 1 m (1)
Rendah (1)
8 (Rendah)
Banjir, Longsor,

Lokasi Pengamatan BM 2
Kondisi eksisting Titik pengamatan Bm 2 Koordinat 11840'57.949"E
831'30.515"S Lokasi ini berada di sebelah seltan titik pengamatan Bm 3.
Terlihat bekas aktivitas penambangan urug yang menghasilkan tebing tambang
yang cukup curam yang letaknya sekitar 10 m dari badan jalan. Batuan ini
termasuk ke dalam formasi Batuan gunungapi (Tmv) dengan retakan yang cukup
intensif

Gambar 8.kondisi eksisting titik pengamatan Bm 2 yang terdapat bekas aktivitas


pengerukan menghasilkan lereng yang curam dan retakan yang intensif
Tabel skoring Bm 2

Parameter
Kerapatan Alur liar
Besar Kelerengan
Arah kemiringan lapisan
Tebal soil
Curah Hujan
Total
Potensi bencana

Skor
Sedang (2)
70-80 (3)
Menyudut arah lereng (2)
< 1 m (1)
Rendah (1)
9 (Menengah)
Rockfall, Longsor, Topple

Lokasi Pengamatan BM 3
Kondisi eksisting Titik pengamatan Bm 3 Koordinat 11840'39.447"E
831'13.543"S

Lokasi ini berada di sebelah seltan titik pengamatan Bm 4.

Terlihat bekas aktivitas penambangan urug yang menghasilkan tebing tambang


yang cukup curam yang letaknya sekitar 4 m dari badan jalan. Batuan ini
termasuk ke dalam formasi Batuan gunungapi (Tmv) dengan litologi berupa
breksi dan lava serta terdapat satuan batugamping berlapis (Tml)

Gambar 7.kondisi eksisting titik pengamatan Bm 3 yang terdapat bekas aktivitas


pengerukan menghasilkan lereng yang curam dan terdapat
Tabel skoring Bm 3
Parameter
Kerapatan Alur liar
Besar Kelerengan
Arah kemiringan lapisan
Tebal soil
Curah Hujan
Total
Potensi bencana

Lokasi Pengamatan BM 4

Skor
Sedang (2)
70-80 (3)
Berlawanan arah lereng (1)
< 1 m (1)
Rendah (1)
8 (Rendah)
Banjir, Longsor, Topple

Kondisi eksisting Titik pengamatan Bm 4 Koordinat 11840'37.955"E


830'58.565"S Lokasi ini berada di sebelah barat titik pengamatan Bm 5. Terlihat
bekas aktivitas penambangan urug yang menghasilkan tebing tambang yang
cukup curam yang letaknya sekitar 4 m dari badan jalan. Batuan ini termasuk ke
dalam formasi Batuan gunungapi (Tmv) dengan litologi berupa breksi dan lava
serta terdapat satuan batugamping berlapis (Tml)

Gambar 6..kondisi eksisting titik pengamatan Bm 4 yang terdapat bekas aktivitas


pengerukan menghasilkan lereng yang curam dan terdapat satuan batugamping
berlapis.

Tabel skoring Bm 4

Parameter
Kerapatan Alur liar
Besar Kelerengan
Arah kemiringan lapisan
Tebal soil
Curah Hujan
Total
Potensi bencana

Skor
Rendah (1)
70-80 (3)
Berlawanan arah lereng (1)
< 1 m (1)
Rendah (1)
7 (Rendah)
Rockfall, Topple

Lokasi Pengamatan BM 5
Kondisi eksisting Titik pengamatan Bm 5 Koordinat 11841'18.066"E
831'1.62"S. Lokasi ini berada di sebelah selatan titik pengamatan Bm 6 Terlihat
bekas aktivitas penambangan urug yang menghasilkan tebing tambang yang
cukup curam yang letaknya sekitar 4 m dari badan jalan. Batuan ini termasuk ke
dalam formasi Batuan gunungapi (Tmv) dengan litologi berupa breksi dan lava.

Gambar 5..kondisi eksisting titik pengamatan Bm 5 yang terdapat bekas aktivitas


pengerukan menghasilkan lereng yang curam

Parameter
Kerapatan Alur liar
Besar Kelerengan
Arah kemiringan lapisan
Tebal soil
Curah Hujan
Total
Potensi bencana

Skor
Sedang (2)
70-80 (3)
Menyudut arah lereng (2)
< 1 m (1)
Rendah (1)
9 (Sedang)
Rockfall, Topple

Lokasi Pengamatan BM 6
Kondisi eksisting Titik pengamatan Bm 6 Koordinat 11842'24.379"E
830'15.37"S.

Lokasi ini berada di sebelah selatan titik pengamatan Bm 7

Terlihat bekas aktivitas penambangan urug yang menghasilkan tebing tambang


yang cukup curam yang letaknya sekitar 4 m dari badan jalan. Batuan ini
termasuk ke dalam formasi Batuan gunungapi (Tmv) dengan litologi berupa
breksi dan lava.

Gambar 4..kondisi eksisting titik pengamatan Bm 6 yang terdapat bekas aktivitas


pengerukan menghasilkan lereng yang curam
Parameter
Kerapatan Alur liar
Besar Kelerengan
Arah kemiringan lapisan
Tebal soil
Curah Hujan
Total
Potensi bencana

Skor
Sedang (2)
70-80 (3)
Menyudut arah lereng (2)
< 1 m (1)
Rendah (1)
9 (Sedang)
Rockfall, Topple

Lokasi Pengamatan BM 7
Kondisi eksisting Titik pengamatan Bm 7 Koordinat

11842'38.8"E

830'1.821"S. Lokasi ini berada di sebelah selatan dari titik nol yang berada di
dekat dekat batas kota. Terlihat bekas aktivitas penambangan urug yang
menghasilkan tebing tambang yang cukup curam yang letaknya sekitar 4 m dari
badan jalan.

Gambar 3.kondisi eksisting titik pengamatan Bm 7yang terdapat bekas aktivitas


tambang urug.

Parameter
Kerapatan Alur liar
Besar Kelerengan
Arah kemiringan lapisan
Tebal soil
Curah Hujan

Skor
Tinggi (3)
70-80 (3)
Menyudut arah lereng (2)
1 m (1)
Rendah (1)

Total
Potensi bencana

10 (Sedang)
Banjir,Flow, Longsor

Lokasi Pengamatan Urug Jmbtn


Kondisi eksisting Titik pengamatan urugjmbtn Koordinat 11838'28.502"E
832'21.845"S Lokasi ini berada di sebelah barat teluk Sumbawa Lokasi berupa
bekas wilayah tambang yang merupakan sumber bahan pembuatan jembatan
dan jalan ini.

Gambar 11.kondisi eksisting titik pengamatan urug jembatan yang merupakan


kawasan bekas tambang urug
Parameter
Kerapatan Alur liar
Besar Kelerengan
Arah kemiringan lapisan
Tebal soil
Curah Hujan
Total
Potensi bencana

Skor
rendah (3)
50-60 (2)
Menyudut arah lereng (2)
1 m (1)
Rendah (1)
9 (Sedang)
Flow, Longsor

Gambar 1. Peta Lokasi Pengamatan dan kondisi eksistingnya

Gambar 1. Peta Rawan longsor berdasarkan hasil skoring

Rekomendasi
1. Mengurangi tingkat keterjalan lereng yang dekat

pemukiman dengan

melakukan pemotongan (cut and fill) pada lereng yang terjal dan dibuat
terasering.
2. Pembuatan bangunan penahan, jangkar (anchor) dan pilling pada daerah
yang mempunyai tingkat kerawanan sedang.
3. Melakukan reklamasi terhadap area bekas tambang dengan kelerengan yang
terjal dengan cara melakukan pemotongan (cut and fill) dan pembuatan
drainase yang tepat
4. Memberikan tanda daerah rawan longsor di beberapa titik rawan
5. Penghijauan dengan tanaman yang sistem perakarannya dalam dan jarak
tanam yang tepat (khusus untuk lereng curam, dengan kemiringan lebih
dari 40 derajat atau sekitar 80% sebaiknya tanaman tidak terlalu rapat
serta diseling-selingi dengan tanaman yang lebih pendek dan ringan , di
bagian dasar ditanam rumput).
6.

Melakukan pemadatan tanah disekitar perumahan yang dekat dengan


daerah rawan bencana.

7. Pengenalan daerah rawan longsor kepada masyarakat sekitar lokasi wilayah


rawan bencana sedang.