You are on page 1of 4

Faktor Penyebab:

1. Mutasi Gen
Penyebab terjadinya celah bibir ini belum sepenuhnya diketahui, namun salah
satunya adalah mutasi gen, yakni berhubungan dengan beberapa macam
sindrom atau gejala yang dapat diturunkan oleh Mendel dimana celah bibir
dengan atau tanpa langitan sebagai komponen. Pada beberapa kasus dapat
mengikuti pola hukum mendel namun pada kasus lainnya distribusi kelainan
itu tidak beraturan. Biasanya ditemukan sejumlah sindrom yang diturunkan
menurut hukum mendel pada beberapa kasus, baik secara autosomal dominan,
resesif, maupun X-linked.
Pada autosomal dominan, orangtua akan menghasilkan anak dengan kelainan
yang sama, sedangkan pada autosomal resesif orangtua yang normal sebagai
pembawa gen abnormal. Pada kasus terkait X (X-linked), pria dengan gen
abnormal menunjukkan tanda-tanda kelainan sedangkan wanita tidak (Albery,
1986).
Saat ini, etiologi celah bibir dan langit-langit memiliki predisposisi genetik
dan kontribusi lingkungan. Hubungan keluarga derajat pertama berpengaruh
pada peningkatan resiko menjadi 1 dalam 25 kelahiran hidup.
2. Faktor Lingkungan
-

Pengaruh Obat

Penggunaan obat Analgetik-Antipiretik pada saat mengandung harus


diperhatikan. Dengan mengkonsumsi obat yang sembarangan dapat menyebabkan
kecacatan pada janin yang dikandungnya. Obat yang dapat menembus plasenta hingga
masuk ke sirkulasi janin kadang akan membahayakan bayi, yang menyebabkan kadar
dalam sirkulasi bayi akan sama dengan kadar dalam darah ibunya.
Bahan obat yang bersifat teratogenik akan menimbulkan gangguan pada sel-sel tubuh
janin yang sedang dalam proses pembentukan organ. Adapun obat-obat yang harus
dihindari pada saat kehamilan antara lain fenasetin, rifamsipin, aminoglikosid,
ibuprofen dan penisilamin, sulfonamide, indometasin, asam flufetamat, diazepam,
kortikosteroid. Sedangkan, beberapa obat antihistamin yang digunakan sebagai
antiemetic selama kehamilan dapat menyebabkan makrostomia.
a. Jamu
Mengkonsumsi Jamu pada saat kehamilan juga dapat mempengaruhi janin. Namun,
belum ada penelitian lebih jelas jenis jamu apa saja yang dapat menyebabkan
makrostomia.
b. Kontrasepsi Hormonal
Ibu hamil yang mengkonsumsi kontrasepsi hormonal akan menyebabkan si ibu akan
terkena hipertensi, yang akan mengganggu system sirkulasi fotomaternal pada janin.
c. Obat-obat yang dapat menyebabkan kelainan kongentila terutama
mikrostomia antara lain:
- Talidomid, diazepam (obat penenang)
- Aspirin (Obat-obat anlgetika)

Aspirin sangat berbahaya bagi janin yang belum lahir, yang akan
beresiko terkena masalah pada jantung, mengurangin berat badan lahir, dan masalah
serius lainnya. Penggunaan asetosal atau aspirin sebagai obat analgetik pada masa
kehamilan trimeseter pertama dapat menyebabkan celah pada bibir. Oleh karena itu
ibu yang sedang hamil harus berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.
-

Kebiasaan Buruk Ibu

Kegiatan ibu yang sedang hamil sangat berpengaruh terhadap perkembangan


janinnya. Oleh karena itu ibu hamil harus mejaga kebiasaannya. Kebiasaan buruk
seperti mengkonsumsi kafein yang berlebih akan berakibat pada janinnya.
Mengkonsumsi kafein berlebihan pada saat kehamilan akan beresiko 15% melahirkan
anak dengan celah bibir dan palatum. Begitupula, dengan Ibu hamil yang merokok
akan memiliki resiko yang lebih besar melahirkan anak dengan keadaan celah bibir
dan palatum dibandingkan yang tidak. Dikarenakan, kafein yang masuk kedalam
tubuh ibu akan diserap pula oleh janin.
-

Kekurangan Nutrisi

Zat-zat gizi perlu diperhatikan oleh ibu hamil, seperti karbohidrat dan lemak
sebagai sumber tenaga, protein sebagi pembentuk jaringan baru, vitamin untuk
memperlancar proses biologis, dan mineral yang meliputi kalsium dan zat besi.
Nutrisi bagi ibu yang sedang hamil saat konsepsi dan trimester I kehamilam sangat
penting bagi pertumbuhan kembang bibir, palatum dan struktur kraniofasial yang
normal babgi fetus. Adapun jenis nutrisi yang sangat berpengaruh bagi tumbuh
kembang fetus antara lain:
a. Asam Folat
Pemberian asam folat pada ibu hamil sangat penting pada setiap tahap
kehamilan sejak konsepsi sampai dengan persalinan. Asam folat memiliki
peran dalam hasil dari kehamilan. Pertama, pada prose maturasi janin jangka
panjang untuk mencegah anemia pada kehamilan lanjut. Kedua, mencefah
defek kongenital selama tumbuh dan kembang embrio. Pemberian asam folat
dapat berperan mencegah celah orofasial yang non sindromik seperti
mikrostomia.
b. Vitamin B-6
Vitamin B-6 berfungsi untuk melindungan terhadap induksi terjadinya
celah orofasial secara laboratorium oleh sifat teratogennya demikian juga
kortikosteroid, kelebihan vitamin A, dan siklofosfamid. Deosksiridin atau
antagonis vitamin B-6, diketahui menginduksi celah orofasial dan defisiensi
vitamin B-6 itu sendiri, dapat menyebabkan terjadinya celah bibir dibagian
mulut, seperti makrostomia.
c. Vitamin A
Resiko terjadinya celah orofasial dan kelainan kraniofacial lainnya
dapat ditingkatkan dengan kurang atau lebihnya asupan vitamin A. Defisiensi

vitamin A pada ibu dapat menyebabkan defek pada mata, celah orofasial, dan
defek kelahiran lainnya. Paparan fetus terhadap retinoid dan diet tinggi
vitamin A dapat menghasilkan kelainan kraniofasial yang gawat. Pada
penelitian, lebih dari 22.000 kelahiran pada wanita di Amerika Serikat,
kelainan kraniofasial dan malformasi umum lainnya terjadi pada wanita yang
mengonsumsi lebih dari 10.000 IU vitamin A pada masa perikonsepsional.
Faktor nutrisi sangatlah penting pada ibu yang sedang hamil. Defisiensi nutrisi dapat
mengakibatkan kecacatan pada fetus yang sedang dikandungnya. Ada beberapa usaha
pencegahan. Usaha pertama dilakukan tahun 1958 di Amerika Serikat namun
penelitiannya kecil, metode sedikit dan tidak ada analisis statistik yang dilaporkan.
Penelitian lainnya dilakukan di Eropa yang mengklaim bahwa hasil pemberian
suplemen nutrisi adalah efektif, namun penelitian tersebut memiliki data yang tidak
cukup untuk mengevaluasi hasilnya.
-

Trauma (stres)
Susunan keadaan emosi ibu seperti marah, takut, dan cemas dapat
memengaruhi reaksi dan perkembangan janin dengan menimbulkan reaksi pada
susunan saraf otonom, yaitu melepaskan beberapa zat kimiawi ke dalam aliran darah.
Kelenjar endokrin terutama adrenalin dan jumlah hormon dalam tubuh akan
terangsang. Komposisi perubahan darah dan zat kimiawi akan dibawa ke janin
melalui plasenta dan menyebabkan perubahan sistem sirkulasi pada janin. Perubahan
ini akan mengganggu perkembangan janin. Hal tersebut dikarenakan ketika seorang
ibu hamil dengan mengalami emosi seperti itu, maka akan terjadi perubahan
psikologis, antara lain meningkatnya pernapasan dan sekresu oleh kelenjar. Adanya
produksi hormon adrenalin sebagai tanggapan terhadap kekuatan akan menghambat
aliran darah ke daerah kandungan dan membuat janin kekurangan udara. Ibu yang
mengalami kecemasan berat dan berkepanjangan sebelum atau selama kehamilan
kemungkinan besar mengalami kesulitan medis dan melahirkan bayi yang abnormal
dibandingkan dengan ibu yang relative tenang dan aman, goncangan emosi di
asosiasikan dengan kejadian aborsi spontan, kesulitan proses lahir, kelahiran
premature dan penurunan berat, kesulitan pernapasan dari bayi yang baru lahir dan
cacat fisik. Disamping itu, stress dan kecemasan yang dialami ibu setelah kehamilan,
diasosiasikan dengan bayi yang sangan aktif, lekas marah, dan tidak teratur dalam
makan, tidur, dan buang air. Kecemasan pada ibu dan kemungkinan terus berlanjut
sampai setelah anak lahir ( Sameroff dan Chandler, 1975) .
-

Radiasi
Sinar X adalah suatu radiasi yang berenergi kuat tergantung dengan dosisnya
dapat mengurangi pembelahan sel, merusak materi genetik, dan menimbulkan defek
pada yang belum dilahirkan. Bayi dalam perut ibu sensitif terhadap sinar X karena
sel-selnya masih membelah dengan cepat dan berkembang menjadi jaringan dan
organ yang berbeda-beda.
Pada saat minggu ke-3 hingga ke-8 kehamilan, merupakan fase pembentukan
organ pada janin sehingga paparan radiasi bahkan pada dosis yang rendah sekalipun
dapat menyebabkan gangguan pada sel-sel tubuh janin yang sedang melakukan proses
pembentukan organ tersebut karena adanya bahan yang bersifat teratogenik.

SUMBER:
Nurkatika, dkk. 2001. Intisari Biologi SMU. Jakarta: Aksarindo Primacipta
Sperber, Geoffrey H. 2001. Craniofacial Development. London: BC Decker Inc.