You are on page 1of 18

KELAINAN PADA TULANG BELAKANG

Pembimbing :
dr. Bestari H Sp,B

Disusun Oleh:
CITRA AYU WAHYUNI
CYNTHIA INDA
EVRITA JULYA FITRI
M. RIANDY
M. IQBAL

FAKULTAS KEDOKTERAN UISU


SMF ILMU BEDAH RUMAH SAKIT PUTRI HIJAU
KESDAM TK II /BB MEDAN 2015

KATA PENGANTAR
Assalammualaikum wr..wb
Salam sejahtera bagi kita semua, Syukur alhamdulillah penulis panjatlan kepada
allah SWT karena atas berkat dan rahmatnya penulis dapat menyelesaikan paper
yang berjudul KELAINAN PADA TULANG BELAKANG.
Paper ini adalah salah satu syarat dalam mengikuti kepanitraan Klinik
Senior di bagian ilmu bedah di Rumah Sakit Putri Hijau Kesdam TK II/BB
Medan.
Penulis menyadari bahwa paper ini masih banyak kekurangannya. untuk
itu, saran dan kritik penulis harapkan dari dosen pembimbing dan teman-teman
co-ass lainnya.
Akhirnya penulis mengucapkan terimakasih kepada dr. Bestari H Sp,B
atas bimbingannya sehingga paper ini dapat penulis selesaikan.

Medan, 28 Desember 2015

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
KATAPENGANTA................................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii
BAB 1 PENDAHULUAN ......................................................... ...........................1

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.

Struktur Tulang Belakang


Tulang belakang atau vertebra adalah tulang tak beraturan yang

membentuk punggung yang mudah digerakkan. Seperti yang ditunjukkan


pada Gambar 2.1. manusia memiliki 33 ruas tulang belakang, yang terdiri
dari empat bagian, yaitu tulang leher (cervical), tulang punggung
(thoracic), tulang pinggang (lumbar), dan ekor (sacral). Tiga bagian teratas
tersusun dari dan 7 tulang leher, 12 tulang dada, dan 5 tulang pinggang.
Sedangkan bagian ekor dibentuk dari tulang ekor (coccyx) yang disusun
oleh 4 tulang terbawah dan 5 tulang di atasnyakan bergabung membentuk
bagian sacrum.

Ga
mbar 1.1. Struktur tulang belakang manusia
1.2.

Struktur Umum Tulang Belakang


Sebuah tulang belakang terdiri atas dua bagian yakni bagian anterior yang

terdiri dari badan tulang atau corpus vertebrae, dan bagian posterior yang terdiri
dari arcus vertebrae. Arcus vertebrae dibentuk oleh dua kaki atau pediculus dan
dua lamina, serta didukung oleh penonjolan atau procesus yakni procesus
articularis, procesus transversus, dan procesus spinosus. Procesus tersebut
membentuk lubang yang disebut foramen vertebrale. Ketika tulang belakang
disusun, foramen ini akan membentuk saluran sebagai tempat sumsum tulang
belakang atau medulla spinalis. Di antara dua ruas tulang belakang dapat ditemui
celah yang disebut foramen intervertebrale.
Tulang leher, secara umum memiliki bentuk tulang yang kecil dengan spina
atau procesus spinosus (bagian seperti sayap pada belakang tulang) yang pendek,

kecuali tulang ke-2 dan 7 yang procesus spinosusnya pendek. Gambar 2.2.
menunjukkan bahwa setiap ruas tulang diberi nomor sesuai dengan urutannya dari
C1-C7 (C dari cervical), namun beberapa memiliki sebutan khusus seperti C1 atau
atlas, C2 atau aksis.
Procesus spinosus pada tulang punggung akan berhubungan dengan tulang
rusuk. Tulang punggung dapat membuat sedikit gerakan memutar. Bagian ini
dikenal juga sebagai tulang punggung dorsal dalam konteks manusia. Bagian ini
diberi nomor T1 hingga T12.

Gambar 1.2. Struktur ruas-ruas tulang belakang. (dari kiri: tampak samping kiri;
tampak belakang)
Tulang pinggang merupakan bagian paling tegap konstruksinya dan
menanggung beban terberat dari yang lainnya. Bagian ini memungkinkan gerakan

fleksi dan ekstensi tubuh, dan beberapa gerakan rotasi dengan derajat yang kecil.
Bagian ini diberi nomor L1 hingga L5.
Pada tulang ekor bagian sacrum, terdapat 5 tulang (S1-S5). Tulang-tulang
bergabung dan tidak memiliki celah atau diskus intervertebralis satu sama lainnya.
Sedangkan bagian ekor (coccygeal), memiliki 3 hingga 5 tulang (Co1 - Co5) yang
juga saling bergabung dan tanpa celah.
1.3. Kelainan Tulang Menurut Kurva Tulang
1. Skoliosis
Skoliosis adalah suatu kelainan bentuk pada tulang belakang dimana
terjadi pembengkokan tulang belakang ke arah samping kiri atau kanan.
Melengkung membentuk seperti huruf C atau S seperti pada Gambar 2.3.
Fenomena skoliosis ini pun sebenarnya tidak hanya dipandang dari satu sisi saja,
sehingga seolah kelainan ini bersifat 2-dimensi, namun fenomena skoliosis dapat
terjadi dalam ruang lingkup 3-dimensi. Jadi tulang belakang, selain dapat
melengkung dalam sumbu Y, juga dapat melengkung (terputar) dalam sumbu X,
dan Z seperti pada Gambar 2.4.

Gambar 1.3.

(a) Tulang belakang normal (tampak kiri; belakang);


(b) Melengkung membentuk C (tampak belakang);
(c) melengkung membentuk S (tampak belakang)

Gambar 1.4. Tulang belakang yang melengkung sekaligus terputar. (tampak


belakang)
Tingkat kelengkungan tulang belakang atau derajat skoliosis ditentukan oleh sudut
kelengkungan skoliosis. Untuk mengetahui derajat skoliosis dapat dilakukan
dengan menggunakan skoliometer atau yang lebih akurat dapat dilakukan dengan
melakukan

observasi

terhadap

gambar

sinar-x tulang belakang.

Sudut

kelengkungan skoliosis dapat diukur dengan dua metode, yaitu metode risserferguson angle dan cobb angle. Seseorang akan dinyatakan memiliki skoliosis bila
cobb angle-nya lebih dari 10.
Pada dasarnya, skoliosis dapat dikategorikan menjadi skoliosis fungsional
(non-struktural) dan skoliosis struktural. Skoliosis fungsional adalah fenomena
skoliosis yang terjadi karena postur tubuh ketika duduk atau berdiri tidak tegak
lurus, sehingga tulang bahu terlihat tidak sejajar. Namun sesungguhnya cobb
angle pada skoliosis fungsional ini tidak signifikan, bahkan dapat dibilang struktur

tulang belakangnya normal, dan bila memang ada skoliosis, sifatnya cenderung
tidak progresif dan tidak berbahaya. Sedangkan skoliosis struktural adalah
fenomena skoliosis yang memang disebabkan karena perkembangan kedua sisi
tubuh yang tidak seimbang sehingga tulang belakang jadi melengkung secara
permanen dan skoliosis ini bersifat progresif sehingga perlu penanganan. Cara
paling mudah membedakan skoliosis fungsional dan skoliosis struktural adalah
dengan membungkukkan badan ke depan dan melihat apakah skoliosis masih ada.
Bila tidak ada, maka fenomena itu termasuk ke dalam skoliosis fungsional, namun
bila ada, fenomena tersebut disebut dengan skoliosis struktural, atau secara
singkat orang yang bersangkutan memang menderita skoliosis.
Skoliosis adalah kelainan yang meskipun bukanlah sebuah penyakit,
namun bisa saja disebabkan karena penyakit. Penyebab skoliosis bermacammacam, namun yang paling sering terjadi adalah karena faktor kebiasaan sikap
tubuh. Sebanyak 75-85% kasus skoliosis merupakan idiopatik, yaitu kelainan
yang tidak diketahui penyebabnya. Pada umumnya skoliosis mulai terjadi pada
masa kanak-kanak, yang disebabkan sikap tubuhnya ketika duduk atau berdiri
tidak tegak. Sedangkan 15-25% kasus skoliosis lainnya merupakan efek samping
yang diakibatkan karena kecelakaan atau menderita kelainan tertentu, seperti
distrofi otot, sindrom Marfan, atau pun sindrom Down. Berbagai kelainan tersebut
menyebabkan otot atau saraf di sekitar tulang belakang tidak berfungsi sempurna
dan menyebabkan bentuk tulang belakang menjadi melengkung.
Bila ditinjau dari waktu skoliosis mulai muncul, ada tiga tipe skoliosis,
yaitu infantile, juvenile, dan adolescent. Infantile adalah kondisi ketika skoliosis
muncul di antara waktu kelahiran sampai dengan usia 3 tahun. Juvenile adalah
kondisi ketika skoliosis mulai muncul di antara usia 4 hingga 9 tahun. Bila
skoliosis mulai muncul mulai umur 10 tahun hingga masa pertumbuhan selesai
dimasukkan dalam kategori adolescent.

2. Kifosis
Penyakit Scheuermann adalah suatu keadaan yang ditandai dengan nyeri
punggung dan adanya bonggol di punggung (kifosis). Kifosis adalah suatu
kelainan bentuk pada tulang belakang yang bisa terjadi akibat trauma, gangguan
perkembangan atau penyakit degeneratif. Kifosis pada masa remaja juga disebut
penyakit Scheuermann.

Penyebab dari penyakit Scheuermann tidak diketahui. Penyakit ini


muncul pada masa remaja dan lebih banyak menyerang anak laki-laki. Gejalanya
berupa:

a.
b.
c.
d.
e.

nyeri punggung yang menetap tetapi sifatnya ringan


kelelahan
nyeri bila ditekan dan kekakuan pada tulang belakang
punggung tampak melengkung
lengkung tulang belakang bagian atas lebih besar dari normal

3. Lordosis

Tulang belakang yang normal jika dilihat dari belakang akan tampak lurus.
Lain halnya pada tulang belakang penderita lordosis, akan tampak bengkok
terutama di punggung bagian bawah . Gejala yang timbul akibat lordosis berbedabeda untuk tiap orang. Gejala lordosis yang paling sering adalah penonjolan
bokong. Gejala lain bervariasi sesuai dengan gangguan lain yang menyertainya
seperti distrofi muskuler, gangguan perkembangan paha, dan gangguan
neuromuskuler.
Nyeri pinggang, nyeri yang menjalar ke tungkai, dan perubahan pola
buang air besar dan buang air kecil dapat terjadi pada lordosis, tetapi jarang. Jika
terjadi gejala ini, dibutuhkan pemeriksaan lanjut oleh dokter. Selain itu, gejala
lordosis juga seringkali menyerupai gejala gangguan atau deformitas tulang
belakang lainnya, atau dapat diakibatkan oleh infeksi atau cedera tulang belakang.
Untuk membedakannya dilakukan beberapa pemeriksaan seperti : Sinar X.
Pemeriksaan ini digunakan untuk mengukur dan menilai kebengkokan, serta
sudutnya. Magnetic resonance imaging (MRI) Computed tomography scan (CT
Scan) Pemeriksaan darah.
2.4. Kelainan Tulang Menurut Jenis Fraktur

1. Fraktur Cervical
Fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang. Cedera tulang belakang
adalah cedera mengenai cervicalis, vertebralis dan lumbalis akibat trauma ; jatuh
dari ketinggian, kecelakakan lalu lintas, kecelakakan olah raga.
Fraktur tulang leher merupakan suatu keadaan darurat medis yang
membutuhkan perawatan segera. Spine trauma mungkin terkait cedera saraf
tulang belakang dan dapat mengakibatkan kelumpuhan, sehingga sangat penting
untuk menjaga leher .Fraktur ini sering terjadi pada anak karena kondisi tulang
masih sangat rawan untuk tumbuh dan berkembang.
Fraktur tulang leher sangat berbahaya karena bisa mengganggu sistem
saraf yang terdapat pada vertebra. Hal ini bias mengakibatkan gangguangangguan neurologis. Bahkan fraktur pada tulang leher bisa menyebabkan seorang
anak mengalami lumpuh.
Fraktur servikal paling sering disebabkan oleh benturan kuat, atau trauma
pukulan di kepala. Pada anak fraktur tulang leher sering terjadi karena anak
terjatuh. Mungin juga cedera tersebut diakibatkan karena kekerasan yang dialami
anak.
Manifestasi klinik Nyeri kepala,

Nyeri yang menjalar ke bahu atau

lengan, Memar dan bengkak di bagian belakang leher, Kelumpuhan organ-organ


terutama. Hal ini terjadi karena adanya gangguan atau bahkan putusnya sitem
saraf pada daerah spinal yang terjepit oleh tulang yang patah pada daerah tersebut.
Terjadinya trauma pada daerah tulang leher mengakibatkan fraktur. Akibat
kondisi seperti ini, pusat-pusat persarapan akan terjadi gangguan. Gangguan ini
diakibatkan karena terjepitnya saraf-saraf yang melalui daerah vertebra.

2. Fraktur Torakal

Fraktur thorakal lumbal adalah fraktur yang mengenai daerah tulang


belakang terutama bagian thorako lumbal
Fraktur sering disebabkan trauma baik trauma langsung maupun tidak
langsung. Fraktur phatologis sering terjadi pada orang tua disebabkan oleh
osteoporosis, penderita tumor, infeksi. Fraktur stress atau fatique fraktur
disebabkan peningkatan drastis latihan pada atlit atau pada permulaan aktivitas
baru.
Fraktur vertebra lumbal dibagi dalam :
a. Fraktur prosesus tranvensus, dapat terjadi karena trauma langsung atau oleh
karena tarikan otot yang melekat pada prosesus tranvesus pada prosesus
tranvensus melekat otot yang kuat sehingga dapat terjadi ovalsi bila terjadi fleksi
lateral yang dipaksakan pada daerah ini. Fraktur yang terjadi bersifat stabil
sehingga pengobatan hanya menghilangkan nyeri dan dilanjutkan dengan
fisiotherapi
b. Fraktur kompresi yang bersifat bagi dari badan vertebra
c. Fraktur rekan badan vertebra
d. Dislokasi dan fraktur dislokasi
e. Trauma jack knife
Jenis fraktur ini terjadi karena trauma fleksi disertai dengan distraksi pada
vertebra lumbal jenis ini sering ditemukan pada trauma sabuk pengaman dimana
badan terdorong ke depan, sedang bagian lain terfiksasi. Ditemukan adanya
robekan pada ligamen longitudinal atau fraktur pada tulang sendiri.
Jenis ini disebut juga fraktur chance (1948) dimana vertebra terbelah
melalui prosesus spinosus dan badan vertebra.
Mekanisme trauma dan pengobatan fraktur vertebra lumbal pada prinsipnya sama
dengan fraktur vertebra torakal.

3.

Fraktur Lumbal
Fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang. Gejala gejala fraktur

tergantung pada sisi, beratnya dan jumlah kerusakan pada struktur lain, biasanya
terjadi pada orang dewasa laki-laki yang disebabkan oleh kecelakaan, jatuh, dan
perilaku kekerasan.
Fraktur lumbal adalah kerusakan pada tulang belakang berakibat trauma,
biasanya terjadi pada orang dewasa laki-laki yang disebabkan oleh kecelakaan,
jatuh, dan perilaku kekerasan.
Etiologinya;
1. Trauma langsung merupakan utama yang sering menyebabkan fraktur.
Fraktur tersebut terjadi pada saat benturan dengan benda keras.
2. Putaran dengan kekuatan yang berlebihan (hiperfleksi) pada tulang akan
dapat mengakibatkan dislokasi atau fraktur.
3. Kompresi atau tekanan pada tulang belakang akibat jatuh dari ketinggian,
kecelakaan lalu lintas dan sebagainya.
4. Gangguan spinal bawaan atau cacat sejak kecil atau kondisi patologis yang
menimbulkan penyakit tulang atau melemahnya tulang.
5. Postur Tubuh (obesitas atau kegemukan) dan Body Mekanik yang salah
seperti mengangkat benda berat.
Manifestasi klinik fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas,
pemendekkan deformitas, krepitus, pembengkakan lokal dan perubahan
warna.

2.5. Kelainan Tulang Belakang yang berhubungan dengan Tulang dan


Sendi
A. Artritis
Artritis yaitu peradangan pada satu atau beberapa sendi dan kadang-kadang
posisi tulang mengalami perubahan. Artritis dibedakan sebagai berikut.
a) Gout artritis yaitu gangguan persendian akibat kegagalan metabolisme
asam urat. Asam urat yang tinggi dalam darah diangkut dan ditimbun dalam
sendi yang kecil, biasanya pada jari-jari tangan. Akibatnya ujung-ujung ruas
jari tangan membesar.
b) Osteoartritis yaitu suatu penyakit kemunduran, sendi tulang rawan menipis
dan mengalami degenerasi. Biasa terjadi karena usia tua.
c) Reumathoid yaitu suatu penyakit kronis yang terjadi pada jaringan
penghubung sendi. Sendi membengkak dan terjadi kekejangan pada otot
penggeraknya.
B. Spondylosis
Spondylosis adalah sejenis penyakit rematik yang menyerang tulang
belakang (spine osteoarthritis) yang disebabkan oleh proses degenerasi sehingga
mengganggu fungsi dan struktur tulang belakang. Spondylosis dapat terjadi pada
level leher (cervical), punggung tengah(thoracal), maupun punggung bawah
(lumbal). Proses degenerasi dapat menyerang sendi antar ruas tulang belakang,
tulang dan juga penyokongnya (ligament).
Manifestasinya macam-macam. Bila degenerasi terjadi pada sendi antar
ruas-ruas tulang belakang, maka dapat terjadi penipisan sendi dan ruas tulang
merapat satu sama lain, sehingga tinggi badan bisa berkurang. Selain itu juga
jaringan yang terdapat di dalam sendi antar ruas tersebut bisa menonjol ke luar
yang disebut hernia discus. Bila terjadi seperti ini maka penderita spondylosis
akan merasa nyeri di punggungnya akibat penekanan struktur tersebut ke jaringan
sekitarnya.

C. Ankylosing spondylitis
Ankylosing spondylitis adalah juga suatu penyakit rematik sistemik, yang
berarti ia dapat mempengaruhi jaringan-jaringan lain diseluruh tubuh. Karena itu,
ia dapat menyebabkan peradangan atau luka pada sendi-sendi tulang lain yang
jauh dari spine, begitu juga pada organ-organ lain, seperti mata-mata, jantung,
paru-paru, dan ginjal-ginjal. Ankylosing spondylitis berbagi banyak ciri-ciri
dengan beberapa kondisi-kondisi arthritis lain, seperti psoriatic arthritis, reactive
arthritis, dan arthritis yang berhubungan dengan penyakit Crohn dan radang borok
usus besar (ulcerative colitis). Setiap dari kondisi-kondisi arthritis ini dapat
menyebabkan penyakit dan peradangan pada spine, sendi-sendi tulang lain, matamata, kulit, mulut, dan beragam organ-organ. Mengingat bahwa persamaan dan
kecenderungan mereka menyebabka peradangan dari spine, kondisi-kondisi ini
secara kolektif dirujuk sebagai spondyloarthropathies.
D. Spondilitis TB
Spondilitis adalah gejala penyakit berupa peradangan pada ruas tulang
belakang, umumnya disebabkan oleh kuman tuberkulosis. Penyebab lainnya,
karena infeksi kuman lain. Proses radang tersebut merusak badan ruas tulang
belakang sampai membentuk tulang agak runcing ke depan. Tekanan gaya berat
mengakibatkan tulang belakang membengkok ke belakang pada tempat rusaknya
badan ruas tulang belakang. Biasanya radang tersebut menyerang daerah
punggung yang kemudian mengakibatkan daerah tersebut menonjol atau
melengkung ke belakang. Peristiwa tersebut disebut gibbus atau kifosis. Akibat
lain, tulang sumsum belakang biasanya ikut tergencet, sehingga penderita
spondilitis dapat mengalami kelumpuhanpada kedua kaki yang bersifat kaku
(spastik), dan kehilangan perasaan pada bagian bawah kedua kaki sampai setinggi
daerah di mana saraf tersebut tergencet. Spondilitis juga diakibatkan oleh
gangguan defekasi dan miksi.

Istilah Spondilitis biasa juga disebut Spondilitis ankilosa, penyakit


inflamasi progreif yang biasanya mengenai pria dewasa muda, sering disertai
riwayat penyakit dalam keluarga, 95% pasien membawa antigen leukosit manusia
(antigen HLA-B27). Gejalanya adalah serangan nyeri dan kaku punggung, serta
anoreksia dan penurunan berat badan. Dalam gambaran radiologi (rontgen),
perubahan terjadi pada sendi sakrailiaka, perubahan spinal, dan keterlibatan sendi
perifer.
E. Spondilolistesis
Spondilolistesis adalah subluksasi ke depan dari satu korpus vertebrata
terhadap korpus vertebrata lain dibawahnya. Hal ini terjadi karena adanya defek
antara sendi pacet superior dan inferior (pars interartikularis). Spondilolis adalah
adanya defek pada pars interartikularis tanpa subluksasi korpus vertebrata.
Spondilolis dan spondilolistesis terjadi pad 5% dari populasi. Kebanyakan
penderita tidak menunjukkan gejala atau gejalanya hanya minimal, dan sebagian
besar kasus dengan tindakan konservatif memberikan hasil yang baik.
Spondilolistesis dapat terjadi pada semua lever vertebrata, tapi yang paling sering
terjadi pada vertebrata lumbal bagian bawah.
Etiologi spondilolistesis sampai saat ini belum diketahui dengan pasti.
Konsep umum masih terfokus pada faktor predisposisi yakni konginetal dan
trauma Gejala klinis Low back pain adalah gejala yang umum ditemukan pada
spondilolistesis. Dapat juga ditemukan sciatic pain dari bokong ke bagian
posterior kaki. Hal ini diikuti dengan terbatasnya gerakan kaki.