You are on page 1of 34

ANALISA KREDIT

2012 JUNE 12

Posted by vivi_indahseptiyani

Analisis kredit adalah suatu proses analisis kredit dengan


menggunakan pendekatan-pendekatan dan rasio-rasio keuangan
untuk menentukan kebutuhan kredit yang wajar.
Gambaran Umum Analisis Kredit dan Resiko
Meminjamnya
Dalam penyaluran kredit, FI akan menanggung risiko kredit. FI
menerima risiko kredit atas dana yang dipinjamkan dengan
menukarnya dengan pengembalian wajar yang cukup untuk
menutup biaya pendanaannya kepada penabung RT & termasuk
risiko kredit dalam meminjamkan.
Pengukuran risiko kredit atas pinjaman individu adalah penting jika
manajer FI :
1. Menentukan harga suatu pinjaman secara benar
2. Menentukan batas yang tepat atas sejumlah perluasan kredit
bagi satu peminjam atau penerimaan eksposur kerugian dari mitra
kerja khusus
5 aspek yang harus dianalisis dalam menganalisis kredit,
antara lain :
1. Aspek Manajemen
2. Aspek Pemasaran
3. Aspek Teknis
4. Aspek Keuangan
5. Aspek Legalitas dan Agunan

Kredit berdasarkan tujuan penggunaannya, kita bagi


dalam 2 kategori, yaitu :
1. Kredit Produktif
2. Kredit Konsumtif
Pendekatan-pendekatan atau metode-metode yang biasa kita pakai
dalam menganalisis kredit modal kerja adalah Turn Over Method,
sedangkan untuk menganalisis kredit investasi adalah PP Method,
NPV Method dan IRR Method.
Penggunaan pendekatan-pendekatan tersebut tentunya didasarkan
dari data keuangan perusahaan yaitu laporan necara dan laba rugi
perusahaan yang diberikan kepada bank.
Demikian gambaran singkat mengenai analisis kredit, dan untuk
lebih jauh lagi mengenai analisis kredit ini, teman-teman bisa
mempelajari lewat buku Analisis Kredit dan Analisa Laporan
Keuangan.
Analisis kredit pada umumnya dibedakan menjadi :
1. Pinjaman real-estate
Pinjaman real estate meliputi pinjaman hipotek & pinjaman
kepemilikan rumah.
Hipotek penduduk merupakan pinjaman berjangka sangat panjang
dengan maturitas rata2 mendekati 25 tahun.
2. Pinjaman konsumen & usaha kecil
Pinjaman individu (konsumen) meliputi pinjaman personal &
mobil.
Penyedia pinjaman individu : bank komersial, perusahaan
pembiayaan, pengecer, bank tabungan, perusahaan gas.
3. Pinjaman komersial & industri pasar menengah

Analisis kredit pelanggan perusahaan pasar-menengah berbeda dari


usaha kecil, meskipun masih menilai karakter manajemen
perusahaan, fokus utama analisis ini adalah bisnisnya sendiri bukan
pemilik.
4. Pinjaman komersial & industri besar.
Klien korporasi besar sangat menarik bagi FI karena
meskipun spread & fee kecil dalam ketentuan persentase, tetapi
transaksi cukup besar untuk membuatnya sangat profitabel.
Resiko perkreditan
Pada umumnya profit yang diperoleh akan senantiasa berbanding
lurus dengan tingkat resiko yang dihadapi. Artinya semakin besar
tingkat resiko dari suatu bisnis maka akan semakin besar pula
tingkat profit margin yang diperoleh.
Berikut beberapa contoh resiko perkraditan yang ada :
1. resiko sifat usaha
2. resiko geografis
3. resiko politik
4. Resiko ketidakpastian
5. resiko inflasi
6. resiko persaingan
Pemahaman analisis kredit dengan beberapa pendekatan,
yaitu :
1. Pendekatan jaminan
2. Pendekatan karakter
3. Pendekatan pelunasan
4. Pendekatan kelayakan usaha
5. Pendekatan pemberian kredit sebagai agen pembangunan

Prinsip 7P dan prinsip 3R dalam analisa kredit, yaitu:


1. Personality
Bank mencari data tentang kepribadian calon debitur seperti
riwayat hidupnya (kelahiran, pendidikan, pengalaman,
usaha/pekerjaan, dan sebagainya), hobi, keadaan keluarga (istri,
anak), social standing (pergaulan dalam masyarakat serta
bagaimana pendapat masyarakat tentang diri si peminjam), serta
hal-hal lain yang erat hubungannya dengan kepribadian si
peminjam.
2. Purpose
Mencari data tentang tujuan atau keperluan penggunaan kredit.
Apakah akan digunakannya untuk berdagang, atau untuk membeli
rumah atauuntuk tujuan lainnya. Selain itu apakah tujuan
penggunaan kredit itu sesuai dengan line of business kredit yang
bersangkutan. Misalnya, tujuan atau keperluan kredit untuk
perkapalan sedangkan line of business bank dalam bidang
pertanian.
3. Prospect
Yang dimaksud dengan prospect adalah harapan masa depan dari
bidang usaha atau kegiatan usaha si peminjam. ini dapat diketahui
dari perkembangan usaha peminjam selama beberapa bulan/tahun,
perkembangan keadaan ekonomi perdagangan, keaadaan
ekonomi/perdagangan sektor usaha si peminjam, kekuatan
keuangan perusahaan yang dibuat dari earning power (kekuatan
pendapatan/keuntungan) masa lalu dan perkiraan masa
mendatang.
4. Payment
Mengetahui bagaimana perkiraan pembayaran kembali pinjaman
yang akan diberikan. Hal ini dapat diperoleh dari perhitungan
tentang prospek, kelancaran penjualan dan pendapatan sehingga

dapat diperkirakan kemampuan pengembalian pinjaman ditinjau


dari waktu serta jumlah pengambilannya.
5. Profitability
Menilai berapa tingkat keuntungan yang akan diraih calon debitur,
bagaimana polanya, apakah makin lama makin besar atau
sebaliknya.
6. Protection
Menilai bagaimana calon debitur melindungi usaha dan
mendapatkan perlindungan usaha. Apakah dalam bentuk jaminan
barang, orang atau asuransi.
7. Parti
Bertujuan mengklasifikasi calon debitur berdasarkan modal,
loyalitas, dan karakternya. Pengklasifikasian ini akan menentukan
perlakuan bank dalam hal pemberian fasilitas.
Tiga komponen dalam prinsip 3R adalah:
1. Tingkat pengembalian usaha (return)
2. Kemampuan membayar kembali (repayment)
3. Kemampuan menanggung resiko (risk bearing ability)
Unsur-unsur yang dibahas dalam konsep 3R sebenarnya telah
dibahas dalam analisis aspek-aspek yang harus dipertimbangkan
dalam pemberian kredit. Hanya saja konsep 3R memberi
penekanan kepada aspek finansial dari analisis kredit.
http://vivay.blog.com/2012/06/12/analisa-kredit/

ANALISIS PREDIKSI KEBANGKRUTAN


Pengukuran atas kinerja perusahaan dapat dilakukan melalui berbagai cara. Salah
satunya dengan mengukur kinerja keuangan perusahaan yang dapat dilakukan dengan
menganalisis laporan keuangan yang dilaporkan perusahaan setiap periodenya. Dengan
berbagai metode yang telah ditemukan, analisa terhadap laporan keuangan dapat
memberikan informasi yang bermanfaat untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan
dan kinerja keuangan suatu perusahaan yang sedang berjalan, juga sebagai alat untuk
memprediksi kondisi perusahaan di masa yang akan datang. Hal ini tentu dapat digunakan
untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan.
Informasi kebangkrutan bisa bermanfaat bagi beberapa pihak seperti berikut ini :
Pemberi Pinjaman (seperti pihak Bank), Informasi kebangkrutan bisa bermanfaat untuk
mengambil keputusan siapa yang akan diberi pinjaman, dan kemudian bermanfaat untuk
kebijakan monitor pinjaman yang ada;
Investor, Investor saham atau obligasi yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan tentunya
akan sangat berkepentingan melihat adanya kemungkinan bangkrut atau tidaknya
perusahaan yang menjual surat berharga tersebut;
Pihak Pemerintah. Pada beberapa sector usaha, lembaga pemerintah mempunyai
tanggungjawab untuk mengawasi jalannya usaha tersebut (misalnya pada sektor
perbankan);
Akuntan. Akuntan mempunyai kepentingan terhadap informasi kelangsungan suatu usaha
karena akuntan akan menilai kemapuan going concern suatu perusahaan;
Manajemen. Kebangkrutan berarti munculnya biaya biaya yang berkaitan dengan
kebangkrutan dan biaya ini cukup besar. Suatu penelitian menunjukkan biaya kebangkrutan
bisa mencapai 11-17% dari nilai perusahaan.

Pengukuran

atas

kebangkrutan

perusahaan

juga

dapat

dilakukan

melalui laporankeuangan dengan 2 metode, yaitu metode univariate dan metode


multivariate.
1)

Model Univariate
Menurut Hanafi (2004:655), analisis univariate dilakukan dengan melihat variabel
keuangan yang diperkirakan mempengaruhi atau berkaitan dengan kebangkrutan dengan
menganalisis terpisah. Sedangkan menurut Bappepam (2005), analisis rasio merupakan
salah

satu

bentuk analisis univariate,

cara

ini

yang

pada

umumnya

digunakan investor untuk menghitung dan menganalisis berbagai macam rasio keuangan
seperti modal kerja, rasio-rasio profitabilitas, tingkat hutang atau leverage, dan likuiditas
untuk mendeteksi tanda-tanda kebangkrutan suatu perusahaan, tetapi timbul suatu
permasalahan yaitu masing-masing rasio mempunyai kegunaan dan memberikan indikasi
yang berbeda mengenai kesehatan keuangan perusahaan.
Kadang-kadang rasio-rasio tersebut juga terlihat berlawanan satu sama lain. Oleh
karena itu, jika hanya bergantung pada perhitungan rasio secara individual maka
parainvestor akan mendapat kesulitan dan kebingungan untuk memutuskan apakah
perusahaan dalam kondisi sehat atau sebaliknya.
Pendekatan tunggal (univariate) bisa dipakai untuk memprediksi kesulitan keuangan
dengan asumsi bahwa distribusi variable keuangan untuk perusahaan yang mengalami
kesulitan keuangan berbeda dengan distribusi variable keuangan untuk perusahaan yang
tidak mengalami kebangkrutan.
Penggunaan metode tersebut akan dijelaskan dengan menggunakan contoh berikut
pada tahun 1970, beberapa perusahaan kereta api AS yang cukup besar mengalami
kebangkrutan. Apakah rasio rasio keuangan pada tahun tahun sebelumnya bisa
memperkirakan kebangkrutan tersebut? Berikut ini dua rasio keuangan yang dipilih untuk
melihat apakah kebangkrutan perusahaan kereta api tersebut bisa dilihat melalui rasio

rasio

keuangan

pada

tahun

tahun

sebelumnya.

(1) Rasio biaya transportasi terhadap pendapatan operasional (BT/ PO). Biaya
transportasi merupakan komponen biaya yang terbesar yang terjadi pada perusahaan
kereta api , yang meliputi biaya operasional angkutan kerta, biaya gaji pegawai kereta dan
biaya bahan baker. Pendapatan operasional terutama berasal dari karcis kereta yang terjual
dan juga pendapatan dari beberapa sumber yang lain seperti pendapatan angkutan barang
dan

surat

pos.

(2) Rasio timed interst earned (TIE) yang merupakan rasio EBIT (Earning Before
Taxes)/Interst. Bunga atau interest disini adalah bunga dari kewajiban obligasi. Apabila
diperoleh angka negatif, berarti perusahaan mempunyai earning atau pendapatan yang
negatif.
Teknik penelitian titik cut off mengandung bahaya bahwa karakteristik spesifik
perusahaan perusahaan dalam sample akan sanagat mempengaruhi nilai cut off, dan
dengan demikian titik cut off tersebut tidak representaif untuk perusahaanperusahan
lainnya. Untuk menghindari kemungkinan semacam tersebut, akuirisititik cut off bisa
menggunakan perusahaan perusahaan diluar sampel. Empat variableyang menunjukkan
perbedaaan antara perusahaan yang bangkrut dengan yang tidak bangkrut secara
konsisten adalah:
tingkat retun (rate of return),Perusahaan yang bangkrut mempunyai tingkat return yang lebih
rendah.
Penggunaan hutang. Perusahaan yang bangkrut menggunakan hutang yang lebih tinggi.
Perhintungan terhadap biaya tetap (fixed payment coverage), perusahaan yang bangkrut
mempunyai perlindungan terhadap biaya tetap yang lebih kecil.
Fluktuasi retun saham, perusahaan yang bangkrut mempunyai rata rata return yang lebih
rendah dan mempinyai fluktuasi return saham yang lebih tinggi.

Salah satu kelemahan model univariate adalah kemungkinan terjadinya konflik


antara variable variable yang dijadikan prediksi. Untuk mengatasi masalah tersebut model
multivariate dikembangkan. Variable bebas dalam model ini adalah rasiorasio keuangan
yang diperkirakan memprediksi kebangkrutan, sedangkan variable tidak bebas adalah
prediksi kebangkrutan (bangkrut dengan nilai 0 dan tidak bangkrut dengan nilai 1 ) atau
profitabilitas kebangktutan (0 sampai 1, inklusif).
Dengan menggunakan kasus kebangkrutan perusahaan kereta api, kita akan
menggunakan dua variable untuk persamaan deskriminasi, yaitu variable rasio BT/PO
(variable bebas X1) dan variable TIE (sebagai variable X2). Diasumsikan bahwa rasio
rasio yang dipakai berasal dari populasi dengan distribusi normal dan matriks varians
kovarians kedua kelompok tersebut sama. Persamaan diskriminan linear bisa ditulis
sebagai berikut ini:
Zi = a X1 + b X2
Skor Z yang rendah berarti semakin besar kemungkinan untuk bangkrut. Koefisien
negative variable X1 menandakan hubungan negative antara variable tersebut dengan skor
Zi. Semakin tinggi nilai X1, semakin rendah nilai Zi dan semakin tinnggi kemungkina
kebangkrutan. Nilai koefisien yang positif pada variable X2 menandakan bahwa semakin
tinngi rasio TIE, semakin tinggi nilai skor Zi dan semakin kecil kemungkinan bangkrut.
Banyak bukti yang cukup kuat mengatakan bahwa kebangkrutan tidak hanya
dipengaryhi oleh variable variable intern saja (dari perusahaan), tetapi juga olehvariable
variable eksternal seperti perubahan tingkat bunga, turunnya kondisi perekonomian, atau
perubahan

tingkat

pengganguran.

Dengan

memasukkan variable variable ekonomi

bukti

makro

semacam

untuk

ini

multivariate

memprediksi

kebangkrutan.
2)

Model Multivariate ; Z-Score /ALTMAN/ Multiple Discriminate Analysis

bisa

kemungkinan

Analisis multivariate menggunakan dua variabel atau lebih secara bersama-sama dalam
satu

persamaan

(Hanafi

2004:656).

Di

bagian

lain

Bappepam

(2005:

19)

mengatakan analisis ini dapat mempermudah analisis atas kondisi keuangan perusahaan
daripada menghitung sekian banyak rasio keuangan secara individuallalu menginterpretasi
masing-masing rasio satu per satu.
Salah satu contoh analisis multivariate yang cukup terkenal adalah model kebangkrutan
yang dikembangkan oleh Edward Altman seorang professor of finance dari New York
University School of Business pada akhir 1960-an yang dikenal dengan Altman Z-score.
Model ini menggunakan analisis keuangan yang dibuat dengan mengkombinasikan lima
rasio keuangan yang berbeda-beda, yaitu (Rasio Modal Kerja/Total Aktiva, Laba
Ditahan/Total Aktiva, Earning Before Income and Tax/Total Aktiva, Nilai Pasar Modal/Nilai
Buku Hutang, Penjualan/Total Aktiva) untuk menentukan potensi atau kemungkinan
bangkrutnya sebuah perusahaan. Dari nilai Z-nya, berdasarkan titik cut-off yang dilaporkan
Altman.
Multiple Discriminant Analysis Altman atau yang biasa disebut Z-score Model Altman
menggunakan rasio keuangan yang mencakup rasio likuiditas perusahaan seperti rasio
lancar, rasio leverage perusahaan seperti rasio hutang terhadap modalnya, rasio
profitabilitas seperti rasio laba bersih terhadap modal atau akumulasi laba ditahan. Dengan
mendasarkan rasio kepada rasio keuangan tersebut, Z-score Model Altman berhasil
dipergunakan untuk mengklasifikasikan perusahaan kedalam kelompok yang mempunyai
kemungkinan yang tinggi untuk bangkrut atau kelompok perusahaan yang kemungkinan
mengalami bangkrut rendah. Z-score Model Altman memungkinkan untuk memperkirakan
kebangkrutan sampai dua tahun sebelum tiba saatnya.
Z-score Model Altman adalah sebagai berikut:

Z = 0,717 * Working capital/total assets + 0,847 * Retained Earnings/total assets + 3,107 *


EBIT/total assets + 0,420 * Market value equity/book value of total debt +0,998* sales/
capital turnover.
Klasifikasi perusahaan yang sehat dan bangkrut didasarkan pada nilai Z yang
diperoleh,yaitu:
Bila Z > 2,90, maka termasuk perusahaan sehat/ kebangkrutan rendah.
Bila Z < 1,20, maka termasuk perusahaan yang kebangkrutannya tinggi.
Bila Z berada diantara 1,20 sampai 2,90 maka termasuk grey area (tidak dapat ditentukan
apakah perusahaan sehat ataupun mengalami kebangkrutan).
3)

Model Multivariate ; Logit


Regresi

logistik (kadang

disebut

model

logistik

atau

model logit),

dalam statistikadigunakan untuk prediksi probabilitas kejadian suatu peristiwa dengan


mencocokkan data pada fungsi logit kurva logistik. Metode ini merupakan model linier
umum yang digunakan untuk regresi binomial. Seperti analisis regresi pada umumnya,
metode ini menggunakan beberapa variabel prediktor, baik numerik maupun kategori.
Misalnya, probabilitas bahwa orang yang menderita serangan jantung pada waktu tertentu
dapat diprediksi dari informasi usia, jenis kelamin, dan indeks massa tubuh. Regresi logistik
juga digunakan secara luas pada bidang kedokteran dan ilmu sosial, maupun pemasaran
seperti prediksi kecenderungan pelanggan untuk membeli suatu produk atau berhenti
berlangganan.
Salah satu model multivariate yang lain adalah Model Analisis Logit yang dikembangkan
oleh James A. Ohlson. Prosedur penelitian yang dilakukan oleh Ohlson adalah :
1.

Menghitung serangkaian resiko keuangan.

2.

Mereduksi sejumlah rasio keuangan kemudian memilih rasio yang paling baik, yang
membedakan perusahaan yang bangkrut dan yang tidak bangkrut.

3.

Menetapkan koefisien untuk setiap variabel predictor yang dilibatkan.


Pada model ini, Ohlson menemukan beberapa rasio keuangan sebagai predictor yang
dianggap paling baik, yaitu :

1.

Total kewajiban terhadap total aktiva (Total Liabilities to Total Assets)

2.

Aktiva lancar kurang kewajiban lancar terhadap total aktiva ( Current Assets Current
Liabilities to Total Assets)

3.

Kewajiban lancar terhadap aktiva lancar ( Current Liabilities to Current Assets)

4.

Laba bersih terhadap total aktiva (Net Income to Total Assets)


Regresi logistik (logistic regression) sebenarnya sama dengan analisis regresi
berganda, hanya variabel terikatnya merupakan variabel dummy (0 dan 1). Sebagai contoh,
pengaruh beberapa rasio keuangan terhadap keterlambatan penyampaian laporan
keuangan. Maka variabel terikatnya adalah 0 jika terlambat dan 1 jika tidak terlambat
(tepat).
Interpretasi regresi logistik menggunakan odd ratio atau kemungkinan. Sebagai contoh,
jika rasio keuangan ROA meningkat sebesar 1% maka kemungkinan ketepatan
menyampaikan laporan keuangan meningkat sebesar 1,05 kali. Berarti semakin tinggi ROA
kemungkinan tepat semakin tinggi. Atau jika rasio keuangan DER meningkat sebesar 2%
maka kemungkinan ketepatan penyampaian laporan keuangan meningkat sebesar 0,98 kali
atau bisa dikatakan menurun karena lebih kecil dari 1 yang berarti kemungkinan terlambat
semakin tinggi.

di 06.40 Diposkan oleh Rizky Amaliah Yahya


http://irmajhe.blogspot.com/2014/03/analisis-prediksi-kebangkrutan.html

Terbukanya dunia global diantara bangsa-bangsa bukan merupakan hal positif saja
yang dapat diperoleh, melainkan dampak negatif pun harus dinikmati. Bermula
dengan meluasnya ekonomi dan bisnis internasional dan terbuka lebar di belahan
dunia, semakin mendorong terjadinya resiko bisnis yang semakin besar. Hal
tersebut tidak dapat dipungkiri karena memang transaksi atas kegiatan ekonomi
dan bisnis global banyak dipengaruhi oleh banyak faktor yang tidak pasti, misalnya
saja kurs mata uang. Kurs mata uang merupakan faktor penting yang menetukan
harga sebuah transaksi antar Negara yang melakukan kegiatan ekonomi dan bisnis.
Ketika nilai kurs (dollar) menguat, maka akan memberikan sinyak bagi negaranegara yang melakukan transaksi dengan mata uang dollar akan mengurangi
impornya atau transaksinya, kondisi ini akan merugikan bagi importir.

Kurs mata uang memang krusial posisinya dalam transaksi internasional sehingga
beberapa pelaku bisnis memberikan solusi dengan melakukan kontrak derevatif,
dimana hal ini akan menjawab ketidakpastiaan bisnis yang selama ini menjadi
polemik diantara mereka. Kontrak derevatif melalui lindung nilai akan mengurangi
resiko bisnis karena kontrak ini akan memberikan jaminan bagi pelaku bisnis atas
pergerakan kurs mata uang yang terjadi.

1. B.

APA DEREVATIF?

Menurut Siahaan (2008) derevatif adalah semacam kendaraan keuangan yang


diturunkan atau diperanakkan dari induknya apakah induknya ini asset keuangan
saham atau obligasi, komoditi, atau berbagai macam indeks seperti IHSG, LQ45,
Hanseng, dan jenis-jenis lainnya. Sedangkan Wikipedia mendefinisikan derevatif
sebagai sebuah kontrak bilateral atau perjanjian penukaran pembayaran yang
nilainya diturunkan atau berasal dari produk yang menjadi acuan pokok.
Definisi diatas memberikan pandangan bahwa derevatif merupakan kontrak
perjanjian dan kesepakatan antara dua belah pihak pembeli dan penjual yang
didalam kontraknya telah disepakati sekarang, namun realisasinya dimasa yang
akan datang. Misalnya importir Indonesia melakukan kontrak derevatif dengan
perusahaan di Amerika atas pembelian kedelai senilai $ 2,00/kg. Kemudian nilai
dollar menguat dan menjadikan harga kedelai $ 3,00/kg jika menggunakan nilai
tukar rupiah, maka importir tidak perlu membayar dengan harga $ 3,00/kg. Karena
sudah melakukan kontrak derevatif dengan penjual yang ada di Amerika.

1. C.

JENIS DEREVATIF?

Berdasarkan sifatnya derevatif dikelompokkan menjadi dua bagian (Madura: 2006)


yaitu;
1)

Derevatif Komoditas

Derevatif komuditas merupakan kontrak derevatif yang terjadi pada barang-barang


komoditi, seperti produk hasil pertanian, perkebunan, perikanan (soft
commodities) dan hasil pertambangan, emas dll. (hard commodities).
2)

Derevatif Keuangan

Derevatif keuangan merupakan kontrak derevatif yang terjadi pada instumen


keuangan, seperti mata uang, saham, indeks gabungan, tingkat bungan jangka
pendek, surat pembendaharaan negara dan obligasi.

1. D.

PERAN EKONOMI PASAR DEREVATIF

Menurut Madura (2006) peran dari ekonomi dalam pasar derevatif adalah sebagai
berikut, yaitu;
1)

Risk Transfer

Salah satu fungsi ekonomi derevatif adalah sebagai alat pemindahan resiko
pasar(transfer of market risk) yaitu pemindahan resiko akibat perubahan harga
asset secara drastis atau perubahan harga portofolio asset yang tidak rasional oleh
pihak lain yang ingin menghindari (hedgers) kepada pihak lain yang bersedia dan
mampu mengendalikannya dengan lebih baik (speculators). Derevatif memperbaiki
efisiensi perekonomian dengan memungkinkan pemakai mengenal secara pasti,
mengisolir, dan mengelolah resiko harga dasar.
2)

Prince Discovery

Maksud price discovery dalam hal ini adalah proses terjadinya harga suatu asset
dimana seseorang bersedia membelinya dan orang lain bersedia untuk menjual
asset pada harga tersebut. Jika pasar berjangka (futures) digunakan secara
kompetitif, harga-harga yang terjadi pada bursa berjangka dianggap dan
dipertimbangkan masyarakat sebagai refleksi penawaran dan permintaan suatu
komoditi.

3)

Transaction Integrity

Maksud dari transaction integrity dalam perekonomian yang hukumnya dan


prasarana komersialnya belum berkembang, bursa komoditi berjangka dapat
memainkan peranan penting sebagai penengah untuk menjembatani kredit
sehingga merangsang bursa di dalam pembentukan harga berdasarkan pasar.
Negara-negara yang sudah maju dan modern, banyak lembaga keuangan yang
memanfaatkan bursa berjangka yang telah mapan, karena integritas kredit yang
disediakan oleh clearing house yang dimiliki bursa. Sehingga kekuatan keuangan
bursa sendiri menjadi pusat perhatian masyarakat keuangan internasional. Adanya
bursa derevatif membuat keuangan lebih dipercaya.

1. E.

PENGGUNA PASAR DEREVATIF

Munculnya pasar derevatif merupakan dampak dari kebutuhan pelaku bisnis, yang
sering disebut dengan pengguna pasar deravatif, terdiri dari:
1. Commercial users, adalah pengguna komersial futures dan options meliputi
partisipan pasar tunai (komoditi dan keuangan) yang menggunakan
derevatif untuk melindungi dirinya dari resiko pasar, mengalokasikan
assetnya sehingga dapat melaksanakan operasi usahanya yang utama.
2. Speculator, yang termasuk speculator adalah para peserta yang aktif
dalam perdagangan futures dan options untuk mendapatkan keuntungan
karena adanya pergerakan harga. Kelompok ini terdiri dari pengelola dan
berjangka pelanggan besar dan kecil pada perusahaan efek, pedagang
harta benda di bank komersial, dan perusahaan efek. Seorang speculatordi
dalam perdagangan kontrak berjangka mempunyai satu tujuan, yaitu
mendapatkan keuntungan (profit) dari keberhasilannya mengantisipasi
pergerakan harga.
3. Professional user, kelompok yang termasuk dalam pengguna professional
adalah meliputi perusahaan pialang, perusahaan pembuat harga dan
perusahaan yang melakukan operasi arbitrase (Madura: 2006).

1. F.

INSTRUMENT DEREVATIF

1)

Forward Contract

Menurut Siahaan (2008) definisi dari forward contract atau kontrak penyerahan
kemudian adalah perjanjian antara dua pihak, dimana satu pihak diwajibkan
menyerahkan sejumlah asset tertentu pada tanggal tertentu yang akan datang dan
pihak lainnya wajib membayar sesuai dengan jumlah tertentu yang dikenakan atas
asset pada tanggal penyerahan. Sebagai kesepakatan pribadi antara dua
pihak,forward contract diatur secara khusus untuk memenuhi kebutuhan masingmasing pihak, oleh karena itu sifatnya disebut private (bergantung pada pribadi
kedua belah pihak). Tujuan dari kontrak ini adalah untuk melindungi kedua belah
pihak dari fluktuasi nilai asset yang mungkin terjadi selama kurun waktu tertentu,
yaitu sejak kontrak ditandatangani hingga penyerahan atau pembayaran yang
dilakukan.
2) Future Contract
Menurut Hull (2006) kontrak berjangka merupakan perjanjian atau kesepakatan
untuk membeli atau menjual asset tertentu pada saat tententu dengan atau pada
harga tertentu dalam kurun waktu tertentu di masa yang akan datang. Hal ini
senada dengan definisi menurut Eiteman, dkk (2010) Kontrak future adalah sebuah
alternatif dari kontrak forward yang menuntut penyerahan suatu jumlah faluta
asing standar di masa depan dengan waktu, tempat, dan harga yang sudah
ditentukan.
Future contract berbeda dengan forward contract dimana future contractbentuknya
sudah standard (sudah dibuat baku), telah disekuritisasi dan diperdagangkan di
pasar tententu, di tengah-tengah masyarakat. Kontrak tidak dilakukan secara
pribadi oleh dua pihak, tetapi dilakukan melalui bursa yang terorganisir.
3) Kontrak Opsi
Kontrak opsi pada dasarnya dibedakan menjadi dua macam, yaitu calls sebagai hak
beli dan puts sebagai hak jual. Pembeli calls atau pemilik calls memiliki hak
membeli asset tertentu pada harga tertentu dan tanggal tertentu di masa yang
akan datang. Sebaiknya pembeli put atau pemilik put memiliki hak menjual asset
tertentu pada harga tertentu dan pada tanggal tertentu di masa yang akan

datang. Harga dalam kontrak disebut strike price atau exercise price, dan tanggal
pada kontrak disebut maturity date. Gaya opsi ini ada dua, gaya Eropa dan gaya
Amerika. Opsi eropa dapat diexercise hanya persis pada tanggal jatuh tempo saja,
sedangkan opsi Amerika dapat diexercise kapan saja sepanjang hidup opsi atau
selama opsi belum jatuh tempo maupun persis pada tanggal jatuh tempo.
4) Swaps Contract
Merupakan kesepakatan antara dua pihak atau perusahaan untuk saling
mempertahankan arus kas di masa tertentu (selama kurun waktu tertentu) yang
akan datang. Kesepakatan ini ditentukan secara spesifik tanggal pembayaran tunai
dan cara menghitung jumlah tunai yang akan saling dipertukarkan (dibayarkan
masing-masing pihak). Biasanya di dalam perhitungan telah dipertimbangkan nilai
yang akan datang, tingkat bunga, kurs mata uang, dan variabel-variabel lainnya
yang relevan.

1. G.

DEREVATIF MENURUT PSAK 55

Menurut PSAK 55 Derivatif adalah suatu instrumen keuangan atau kontrak lain
dengan tiga karakteristik berikut ini:
1. Memiliki:
1.

a.

Satu atau lebih variabel pokok yang mendasari (under- lying)

dan
2.

b.

Satu atau lebih jumlah nosional (notional amount) atau syarat

pembayaran atau keduanya.


3.

Persyaratan perjanjian tidak memerlukan investasi awal bersih (initial


net investment), atau memerlukan investasi awal bersih dalam jumlah
yang lebih kecil dibandingkan dengan jumlah yang dibutuhkan oleh
jenis perjanjian lainnya yang diperkirakan akan menghasilkan efek yang
sama terhadap perubahan dalam faktor-faktor pasar.

4.

Persyaratan perjanjian mengharuskan atau memungkinkan


penyelesaian sekaligus (net settlement), atau instrumen
derivativedapat segera diselesaikan dengan sarana terpisah di luar
perjanjian tersebut, atau persyaratan perjanjian mengakibatkan

penyerahan aktiva sehingga penyelesaian yang terjadi secara


substansial tidak berbeda dengan net settlement.

INSTRUMEN DERIVATIF MELEKAT


Instrumen derivative melekat harus dipisahkan dari kontrak utama dan diperlukan
sebagai instrument derivative menurut pernyataan ini jika dan hanya jika seluruh
criteria berikut dipenuhi:
1. Karakteristik dan resiko instrument derivatif melekat tidak secara jelas dan
erat berhubungan dengan karakteristik dan resiko ekonomis kontrak
utama;
2. Instrument derivative mencakup instrumen derivatif melekat kontrak
utama tidak dinilai kembali sesuai dengan nilai wajarnya berdasarkan
prinsip akuntasni yang diterima umum; dan
3. Instrument terpisah dengan kondidi yang sama dengan instrument derivatif
melekat adalah instrumen derivative yang tunduk pada persyartan ini.

PENGAKUAN DAN PENGUKURAN


1. Suatu entitas harus mengakui seluruh instrumen derivatifnya di dalam
laporan posisi keuangan sebagi aktiva atau kewajiban berdasarkan hak
atau kewajiban menurut perjanjian. Seluruh instrumen derivatif harus
disajikan dengan nilai wajar.
1. Apabila proyeksi arus kas pada masa yang akan datang digunakan untuk
mengestimasi nilai wajar, proyeksi arus kas tersebut harus diestimasi
berdasarkan asumsi dan proyeksi yang wajar dan mendukung.
2. Perubahan nilai wajar dari keseluruhan aktiva atau kewajiban keuangan
untuk periode tertentu merupakan selisih antara nilai wajar pada awal
periode (atau tanggal perolehan) dan akhir periode yang disesuaikan untuk
mengecualikan :
1.

Perubahan nilai wajar yang diakibatkan berlalunya waktu; dan

2.

perubahan nilai wajar yang berkaitan dengan pembayaran yang


diterima atau dilakukan, seperti pengembalian sebagian nilai aktiva
atau pelunasan sebagian kewajiban.

LINDUNG NILAI ATAS NILAI WAJAR


1. Suatu entitas dapat memperlakukan instrumen derivatif sebagai lindung
nilai atas resiko perubahan nilai wajar aktiva atau kewajiban atau porsi
tertentu yang diidentifikasi (transaksi/saldo yang dilindung nilai)
disebabkan oleh resiko tertentu.
2. Apabila aktiva/kewajiban yang dilindungi diukur pada nilai wajar dengan
perubahan nilai wajar dilaporkan sebagai bagian ekuitas, penyesuaian
untuk nilai tercatat transaksi/saldo yang dilindung nilainnya sebagimana
dijelaskan harus diakui sebagai laba/rugi dan tidak sebagai bagian ekuitas
untuk saling menghapuskan laba atau rugi instrumen lindung nilai.
3. Suatu entitas dapat menghentikan secara prospektif pencatatan akuntansi
seperti yang dijelaskan atas lindung nilai apabila satu dari kondisi berikut
terjadi:
1. Derivatif tidak berlaku lagi atau dijual, dikhiri atau dieksekusi; atau
2. Entitas membatalkan tujuan hubungan lindung nilai atas nilai wajar.

PERSYARATAN LINDUNG NILAI


Berikut ini merupakan beberapa persyaratan terjadinya lindung nilai, yaitu:
1. Pada awal timbulnya lindung nilai, terdapat kebijakan-kebijakan tertulis
mengenai lindung nilai, tujuan manajemen risiko entitas dan strategi untuk
melaksanakan lindung nilai, termasuk identifikasi instrumen lindung nilai,
transaksi/saldo yang dilindungi, sifat dari risiko yang dilindungi, dan
bagaimana menilai efektivitas instrument lindung nilai dalam menutup
risiko perubahan nilai wajar transaksi/ saldo yang dilindungi sebagai akibat
dari risiko yang dilindungi. Entitas juga harus memiliki dasar yang wajar
untuk menilai efektivitas instrumen lindung nilai.
1.

Pada awal timbulnya lindung nilai atas nilai wajar komitmen pasti,
entitas harus menyusun dokumentasi formal yang mencakup
penetapan metode pengakuan laba/rugi yang timbul dari komitmen

yang dilindung nilainya beserta pencatatan aktiva/kewajiban yang


timbul.
2.

Penetapan strategi manajemen risiko untuk lindung nilai tertentu dapat


mengecualikan komponen tertentu dari perubahan nilai wajar lindung
nilai derivatif tertentu, seperti perhitungan nilai tunai, dari penilaian
efektivitas lindung nilai.

3.

Baik pada awal timbulnya lindung nilai maupun selama periode lindung
nilai, hubungan lindung nilai diharapkan efektif untuk saling
menghapuskan perubahan nilai wajar yang disebabkan oleh risiko yang
dilindung nilai selama periode dimana lindung nilai berlaku. Penilaian
terhadap efektivitas diperlukan pada saat laporan keuangan atau
laporan rugi laba disajikan, dan paling tidak dilakukan setiap tiga bulan.
Apabila instrumen lindung nilai (seperti kontrak opsi atthe-money)
memungkinkan saling menghapuskan satu sisi laba/ rugi dari risiko
yang dilindung nilainya, kenaikan (atau penurunan) nilai wajar
instrumen lindung nilai diharapkan efektif dalam mengoffset penurunan
(atau kenaikan) nilai wajar transaksi/saldo yang dilindung nilainya.
Seluruh penilaian efektivitas harus konsisten dengan strategi
pengelolaan risiko yang didokumentasikan untuk hubungan lindung
nilai tertentu.

4.

Apabila opsi yang diterbitkan diperlakukan sebagai lindung nilai atas


aktiva atau kewajiban, kombinasi dari transaksi/saldo yang dilindung
nilai dengan opsi yang diterbitkan setidaknya laba mengandung
kemungkinan atas hasil yang diperoleh dari perubahan menguntungkan
pada nilai wajar dari instrumen gabungan sebesar kemungkinan
kerugian dari perubahan yang tidak menguntungkan pada nilai wajar
gabungan. Pengujian tersebut terpenuhi bila seluruh kemungkinan
persentase perubahan yang menguntungkan pada variabel pokok (dari
0% sampai dengan 100%) akan menghasilkan laba atau rugi yang akan
terjadi akibat perubahan yang tidak menguntungkan atas variabel
pokok.

TRANSAKSI SALDO YANG DILINDUNGI NILAINYA

Suatu aktiva atau kewajiban memenuhi syarat untuk diperlakukan sebagai


transaksi yang dilindung nilainya dalam lindung nilai atas nilai wajar apabila seluruh
kriteria berikut terpenuhi:
1. Aktiva/kewajiban yang dilindungi secara spesifik diidentifikasi sebagai
keseluruhan atau sebagian dari aktiva atau kewajiban yang telah diakui
atau dari komitmen yang belum diakui (unrecognized firm
commitment).Aktiva/kewajiban yang dilindungi merupakan aktiva atau
kewajiban tunggal (atau sebagian tertentu) atau portofolio dari aktiva
sejenis atau portofolio dari kewajiban sejenis (atau sebagian tertentu).
1.

Apabila aktiva sejenis atau kewajiban sejenis dilindung nilai sebagai


suatu kesatuan portofolio, masing-masing aktiva dan kewajiban individu
memiliki risiko yang sama atas mana mereka dilindung nilai. Perubahan
nilai wajar yang diakibatkan oleh risiko yang dilindung nilai untuk
masing-masing aktiva/kewajiban individu dalam portofolio yang
dilindung nilai diharapkan untuk memberikan reaksi proporsional
terhadap perubahan nilai wajar akibat risiko yang dilindung nilai dari
portofolio secara keseluruhan. Artinya, apabila perubahan nilai wajar
dari portofolio yang dilindung nilai akibat risiko yang dilindung nilai
adalah 10% selama periode yang dilaporkan, perubahan nilai wajar
akibat dari risiko yang dilindung nilai untuk masing-masing
aktiva/kewajiban dalam portofolio diharapkan berada dalam interval
yang wajar, antara 9% sampai dengan 11%. Jika perubahan nilai wajar
yang diharapkan sebagai akibat dari risiko yang dilindung nilai untuk
masing-masing akun/kewajiban dalam portofolio berkisar antara 7%
sampai dengan 13% tidak konsisten dengan ketentuan ini. Dalam
menggabungkan pinjaman ke dalam suatu portofolio yang dilindung
nilai, suatu entitas dapat memilih untuk mempertimbangkan beberapa
dari karakteristik berikut: jenis pinjaman, jumlah pinjaman, jenis dan
lokasi jaminan, jenis tingkat bunga (tetap atau variabel) dan coupon
interest rate(untuk tingkat bunga tetap), jadwal pembayaran kembali,
pembayaran pinjaman lebih awal (jika berfluktuasi), dan pembayaran
yang diharapkan pada berbagai skenario tingkat bunga.

2.

Apabila aktiva/kewajiban yang dilindungi adalah bagian tertentu dari


suatu aktiva atau kewajiban (atau dari portofolio aktiva sejenis atau
portofolio kewajiban sejenis), transaksi yang dilindung nilai merupakan
salah satu dari:

1)

Persentase tertentu dari seluruh aktiva atau kewajiban (atau dari seluruh

portofolio)
2)

Satu atau lebih arus kas kontraktual tertentu (seperti bagian dari aktiva atau

kewajiban yang merupakan nilai sekarang dari pembayaran bunga selama dua
tahun pertama dari instrumen pinjaman untuk periode empat tahun)
3)

Opsi jual (put option), opsi beli (call option), tingkat bunga

maskimum(interest rate cap), atau tingkat bunga minimum (interest rate


floor) yang melekat pada aktiva atau kewajiban yang bukan merupakan derivatif
melekat yang diperlakukan secara terpisah sesuai dengan paragraf 13 pernyataan
ini.
4)

Nilai sisa investasi lessorpada perjanjian sewa guna usaha direct

financingatau sales type lease.


5)

Apabila seluruh aktiva atau kewajiban merupakan instrumen dengan arus kas

variabel, transaksi/saldo yang dilindung nilai tidak dapat dianggap sebagai arus kas
tetap yang dituliskan dengan arus kas variabel secara implisit (implicit fixed-tovariable swap).
1. Aktiva/kewajiban yang dilindungi mengandung risiko perubahan nilai wajar
yang dapat mempengaruhi pendapatan yang dilaporkan.
2. Aktiva/kewajiban yang dilindungi bukan (1) aktiva atau kewajiban yang
dinilai kembali berdasarkan perubahan nilai wajar yang diakibatkan risiko
yang dilindungi yang dilaporkan pada pendapatan periode berjalan
(contoh, apabila risiko valuta asing dilindung nilainya, aktiva dalam valuta
asing dimana laba atau rugi transaksi valuta asing diakui sebagai
pendapatan), (2) suatu investasi dicatat dengan metode ekuitas sesuai
dengan persyaratan dalam PSAK 14, (3) ke-laba atau rugi atas nilai wajar
yang memenuhi persyaratan lindung nilai harus diperhitungkan sebagai
berikut:
1)

Laba atau rugi instrumen lindung nilai harus diakui dalam pendapatan periode

berjalan.

2)

Laba atau rugi (perubahan nilai wajar) dari aktiva/kewajiban yang dilindungi

yang diakibatkan risiko yang dilindungi mengakibatkan penyesuaian terhadap nilai


tercatat dari aktiva/kewajiban yang dilindungi dan diakui sebagai laba/rugi periode
berjalan.
2. Apabila aktiva/kewajiban yang dilindungi diukur pada nilai wajar dengan
perubahan nilai wajar dilaporkan sebagai bagian ekuitas (seperti surat
berharga yang tersedia untuk dijual), penyesuaian untuk nilai tercatat
transaksi/saldo yang dilindung nilainya sebagaimana dijelaskan pada
paragraf 33 harus diakui sebagai laba/rugi dan tidak sebagai bagian ekuitas
untuk saling menghapuskan laba atau rugi instrumen lindung nilai.

PENURUNAN NILAI
Persyaratan untuk penurunan nilai diterapkan setelah akuntansi lindung nilai
diterapkan selama periode tertentu dan nilai tercatat dari aktiva atau kewajiban
yang dilindung nilainya telah disesuaikan menurut paragraph 33 pernyataan ini.
Karena instrumen lindung nilai diakui secara terpisah dari aktiva atau kewajiban,
nilai wajar atau arus kas yang diharapkan tidak dipertimbangkan dalam penerapan
persyaratan penurunan nilai terhadap aktiva atau kewajiban yang dilindungi
nilainya.
1. a.

Lindung Nilai Arus Kas

Suatu entitas dapat memperlakukan instrumen derivatif sebagai lindung nilai atas
risiko fluktuasi jumlah arus kas pada masa yang akan datang yang diakibatkan
risko tertentu, dan dapat dikaitkan dengan aktiva dan kewajiban yang diakui.
Secara spesifik, lindung nilai arus kas yang memenuhi syarat dapat di
pertanggungjawabkan sebagai berikut:
1. Jika strategi manajemen yang ditentukan oleh entitas untuk suatu
hubungan maka komponen laba atau rugi yang dikecualikan akan diakui
dalam laporan laba atua rugi periode berjalan
2. Laba atau rugi harus diakui dalam laporan laba rugi atas sisa laba atau
rugi

dari lindung nilai transaksi derivatif

Akumulasi pendapatan komprehensif lain yang diakui sebagai bagian ekuitas secara
terpisah yang berhubungan dengan transaksi yang dilindungi harus disesuaikan ke
saldo yang paling rendah dari hal berikut ini:
1. Laba atau rugi kumulatif dari transaksi derivatif
2. Bagian dari laba atau rugi kumulatif diakui sebagai bagian ekuitas terpisah
ke laporan laba rugi
3. b.

Lindung Nilai Valuta Asing

Suatu entitas dapat melakukan lindung nilai atas risiko valuta asing, seperti:
1. Lindung nilai atas nilai wajar dari suatu komitmen yang belum diakui atau
dari surat berharga yang tersedia untuk dijual
2. Lindung nilai arus kas dari transaksi dalam valuta asing yang diperkirakan
akan terjadi
3. Lindung nilai atas nilai investasi bersih dalam kegiatan usaha di luar negeri.
PENGUNGKAPAN
Suatu entitas yang memiliki atau menerbitkan instrument derivatif (atau nonderivatif yang ditujukan untuk dan memenuhi syarat sebagai instrumen lindung
nilai harus mengungkapkan tujuan pemilikan atau penerbitan instrumen tersebut,
latar belakang yang diperlukan untuk memahami tujuan tersebut, dan strategi
untuk mencapai tujuan tersebut. Penjelasan yang dibuat harus dapat membedakan
antara instrumen derivatif (dan instrumen nonderivatif) yang ditujukan sebagai
instrumen lindung nilai wajar, instrument derivatif yang ditujukan sebagai
instrumen lindung nilai arus kas, instrumen derivatif (dan instrumen non-derivatif)
yang ditujukan sebagai instrumen lindung nilai atas risiko valuta asing dari investasi
bersih pada kegiatan usaha di luar negeri, dan derivatif yang lain.
Penjelasan tersebut juga harus mengindikasikan kebijakan manajemen risiko
entitas yang bersangkutan untuk setiap jenis lindung nilai, termasuk penjelasan
mengenai aktiva/kewajiban dan jenis transaksi yang dilindungi. Untuk instrumen
derivatif yang tidak ditujukan sebagai instrumen lindung nilai, penjelasan yang
dibuat harus menyatakan tujuan dari aktivitas derivatif yang dilakukan.
Pengungkapan kualitatif mengenai tujuan dan strategi entitas tersebut untuk
penggunaan instrumen derivatif akan lebih bermanfaat jika tujuan dan strategi
dijelaskan sehubungan dengan profil manajemen risiko keseluruhan dari entitas

yang bersangkutan. Jika memungkinkankan, suatu entitas disarankan, tetapi tidak


diharuskan untuk memberikan pengungkapan kualitatif tambahan seperti yang
dijelaskan di atas.
Sehingga pengungkapan dalam laporan keuangan lengkap untuk setiap periode
pelaporan harus meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. a.
1)

Lindung nilai atas nilai wajar

Untuk instrumen derivatif, dan instrumen non-derivatif yang dapat

menimbulkan laba atau rugi transaksi valuta asing sesuai dengan PSAK 10, yang
ditujukan untuk dan telah memenuhi syarat sebagai instrumen lindung nilai wajar
untuk masing-masing aktiva/kewajiban yang dilindungi Laba/rugi bersih yang diakui
dalam periode pelaporan yang mencerminkan :

1. Ketidakefektifan suatu lindung nilai dan


2. Komponen dari laba/rugi instrumen derivatif, jika ada, yang dikecualikan
dari penilaian efektivitas suatu lindung nilai dan penjelasan mengenai
dimana laba atau rugi bersih dilaporkan, dalam laporan laba rugi atau
dalam laporan kinerja keuangan yang lain.
2)

Jumlah laba/rugi bersih yang diakui pada saat komitmen yang dilindungi tidak

lagi memenuhi syarat sebagai lindung nilai atas nilai wajar.


1. b.
1.

Lindung nilai arus kas


Untuk instrumen derivatif yang ditujukan untuk dan memenuhi
persyaratan sebagai instrumen lindung nilai arus kas dan untuk
masing-masing transaksi yang dilindungi nilainya:

a)

Laba/rugi bersih yang diakui pada periode pelaporan yang mencerminkan

(a) ketidakefektifan suatu lindung nilai dan (b) komponen laba atau rugi instrumen
derivatif, jika ada, yang dikecualikan dari penilaian efektivitas suatu lindung nilai
dan penjelasan mengenai dimana laba atau rugi bersih dilaporkan, dalam laporan
laba/rugi atau dalam laporan kinerja keuangan yang lain.

b)

Penjelasan mengenai transaksi atau kejadian lain yang mengakibatkan

reklasifikasi laba atau rugi yang dilaporkan dalam akumulasi pendapatan


komprehensif lain yang semula dilaporkan terpisah dalam bagian ekuitas menjadi
laba/rugi, dan perkiraan jumlah bersih atas laba atau rugi yang tersisa pada
tanggal pelaporan yang diperkirakan akan direklasifikasi menjadi laba/rugi dalam
periode 12 bulan mendatang.
c)

Jangka waktu maksimum lindung nilai atas risiko fluktuasi arus kas pada

masa yang akan datang untuk transaksi yang diperkirakan akan terjadi kecuali
perkiraan transaksi yang berhubungan dengan pembayaran beban bunga
mengambang atas instrumen keuangan yang ada.
d)

Jumlah laba atau rugi yang direklasifikasi sebagai laba/ rugi akibat dari

dihentikannya lindung nilai arus kas, karena terdapat kemungkinan bahwa transaksi
yang diperkirakan, tidak akan terjadi. Lindung nilai atas investasi bersih pada
kegiatan usaha di luar negeri
1. Untuk instrumen derivatif, dan instrumen non-derivatif yang dapat
menimbulkan laba atau rugi transaksi valuta asing, yang ditujukan untuk
dan memenuhi persyaratan sebagai instrument lindung nilai risiko valuta
asing atas investasi bersih pada kegiatan usaha luar negeri, jumlah bersih
laba/rugi yang dimasukkan dalam penyesuaian penjabaran kumulatif
(cumulative translation adjustments) selama periode pelaporan
diungkapkan.
Pengungkapan kuantitatif atas transaksi derivatif akan lebih bermanfaat, dan
kemungkinan terjadinya salah pengertian dapat dikurangi, jika informasi serupa
mengenai instrumen keuangan lainnya atau aktiva dan kewajiban non-keuangan
yang berkaitan dengan instrumen derivatif karena suatu aktivitas, juga
diungkapkan.
Sehubungan dengan hal tersebut, dalam situasi demikian, suatu entitas disarankan,
namun tidak diharuskan untuk memberikan suatu gambaran yang lebih lengkap
mengenai aktivitasnya dengan mengungkapkan informasi yang dibutuhkan.

STUDI KASUS PT. INDOSAT TBK.


Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan atau Bapepam-LK menilai
transaksi derivatif berupa lindung nilai (hedging) PT. Indosat Tbk merupakan hal
yang wajar dan tidak ditemukan adanya pelanggaran. Tetapi, otoritas pasar modal
tetap akan meneliti kasus Indosat ini.
Berdasarkan keterangan dari direksi Indosat dan akuntan publik yang memeriksa
laporan keuangannya, langkah lindung nilai terhadap utang dollar AS perseroan
adalah hal yang wajar dan tak melanggar aturan. Itu dilakukan sebagai prinsip
kehati-hatian terhadap fluktuasi kurs rupiah, kata Fuad Rahmany, Ketua Bapepam.
Kasus Indosat mencuat pada tahun 2007 ketika anggota Komisi XI DPR, yang juga
Wakil Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional Dradjad H Wibowo dalam rapat kerja
dengan Menteri Keuangan mengatakan, Indosat diduga berpotensi merugikan
negara sebesar Rp 323 miliar akibat salah kelola dalam transaksi derivatif pada
tahun 2004-2006. Bapepam telah menelaah kasus ini. Namun, dari akuntan publik,
Ernst & Young telah menyatakan transaksi derivatif itu wajar.
Secara terpisah, Direktur Keuangan Indosat Wong Heang Tuck mengatakan,
kebijakan lindung nilai itu untuk mengelola potensi risiko dari fluktuasi kurs. Itu
praktik umum yang dilakukan perusahaan di seluruh dunia yang memiliki utang
valas, sementara pendapatan usahanya dalam mata uang lokal. Perseroan memiliki
kebijakan lindung nilai paling sedikit 50 persen dari total utang dalam denominasi
dollar AS. Pada akhir triwulan I-2007, kewajiban jangka panjang Indosat dalam
dollar AS berjumlah 584 juta dollar AS. Sebanyak 400 juta dollar AS atau 69 persen
di antaranya telah dilakukan program lindung nilai.
Kerugian derivatif, sebagaimana disebutkan dalam laporan keuangan tahun 2004
sampai 2006, sebesar Rp 653 miliar. Porsi yang belum terealisasi merupakan
transaksi atas nilai pasar wajar (marked to market) yang berjumlah lebih dari 50
persen. Dalam hal lindung nilai ini, untuk sisi utang kami mungkin merugi, namun
dari sisi pendapatan kami meraih keuntungan. Jadi, sebaiknya dilihat dari sisi
kerugiannya saja.

Marwan Batubara Anggota DPD RI Sewaktu posisi Dirut Indosat kosong karena
diangkatnya Widya Purnama menjadi Dirut Pertamina (2004), pemerintah berupaya
menempatkan pengganti. Namun Temasek menolak. Komisaris Utama Indosat,
Peter Seah, mengatakan, Posisi Dirut Indosat dikosongkan karena calon-calon
yang ada tidak memenuhi kualifikasi. Kita paham itu memang hak Temasek
sebagai pemegang saham mayoritas. Tapi hal ini dapat juga dianggap menistakan
kemampuan SDM Indonesia.
Sadarkah kita bahwa asing telah sedemikian menentukan pada sektor strategis
negara? Meskipun divestasi Indosat pada bulan Desember 2002 telah dilakukan
dengan melanggar aturan, kita belum melihat upaya menyeluruh untuk
menuntaskannya. Justru kita tersentak dengan temuan Anggota DPR Dradjad H
Wibowo yang menyatakan bahwa transaksi derivatif Indosat berpotensi merugikan
negara hingga Rp 323 miliar. Kita khawatir temuan terbaru tentang Indosat inipun
akhirnya akan hilang tanpa penyelidikan yang tuntas. Me! Mengapa semua ini bisa
terjadi? Kita khawatir memang ada oknum yang terus melindungi dan bekerja
untuk kepentingan Temasek. Selalu mentok Saat Iluni UI Jakarta melaporkan kasus
divestasi Indosat ke Kejaksaan Agung pada awal 2003, kita menaruh harapan besar
mengingat antusiasnya Tim Kejasaan Agung meminta keterangan dan informasi.
Namun setelah dua kali diundang ke Kejaksaan Agung, Iluni justru diminta
mendengarkan presentasi hasil penyidikan yang menyimpulkan tidak adanya
pelanggaran dan kerugian negara. Yang mengagetkan, Tim Kejagung menolak
untuk menyerahkan hasil penyelidikan tersebut kepada Iluni. Kejagung pun tidak
pernah menyampaikan kesimpulan penyelidikannya kepada publik. Selain kepada
Kejagung, Iluni UI juga mengajukan gugatan actio popularis 133 tokoh nasional ke
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 2004. Gugatan ini ditolak dengan alasan
konsep gugatan actio popularis tidak diatur dalam perundang-undangan Indonesia.
Gugatan kembali ditolak dengan alasan yang sama saat banding diajukan ke
Pengadilan Tinggi Jakarta (2005) dan kasasi ke Mahkamah Agung (2006).
Ketiga lembaga peradilan tersebut tidak pernah memeriksa esensi materi gugatan
berupa pelanggaran hukum dan kerugian negara, kecuali menolak karena tidak
adanya aturan perundangan. Padahal bentuk gugatan actio popularis sudah pernah
(2002) diajukan oleh suatu kelompok masyarakat dalam kasus TKI Nunukan, dan
pengadilan memenangkan gugatan tersebut. Sekarang KPPU sedang giat-giatnya
menyelidiki dugaan pelanggaran terhadap UU No 5 Tahun 1999 tentang Larangan

Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat oleh Temasek di Indosat dan
Telkomsel. Kita mencatat banyaknya penolakan pakar dan pengamat atas langkah
itu. Ada pula yang menuduh KPPU ditunggangi oleh pihak tertentu. Bahkan ada
pula sejumlah berita yang menunjukkan pembelaan kepada Temasek. Mudahmudahan KPPU tetap tegar untuk menuntaskan tugasnya dan menghasilkan
keputusan yang mengutamakan kepentingan nasional. Kita tidak anti-investor asing
dan tidak pula mengabaikan proses tender yang telah dilakukan. Kita justru
mendukung langkah-langkah tersebut demi perbaikan ekonomi, sepanjang itu
dilakukan sejalan dengan amanat konstitusi. Kita menolak keras oknum-oknum
yang melindungi investror asing yang telah melanggar hukum, termasuk yang
bekerja menjadi antek asing. Kita tidak sependapat dengan pernyataan tokoh dan
beberapa tulisan yang mengatakan pembelian saham Telkomsel dan Indosat telah
melalui proses tender, dan harus dihormati. Apakah disadari bahwa justru Temasek
telah melakukan konspirasi jahat dan berbagai pelanggaran hukum dalam divestasi
Indosat? Saat ini tindakan manipulatif juga masih berlangsung di perusahaan
tersebut. Penggunaan ICL sebagai SPV dalam pembelian saham Indosat jelas
melanggar Pasal 90 UU No 8/1995. Mengapa para tokoh ini diam? Jangan-jangan
memang banyak orang-orang Indonesia yang bekerja untuk asing dengan
berlindung di balik berbagai alasan yang sengaja ditiupkan oleh investor asing
bersama kompradornya untuk mengamankan kepentingan. Dalam kasus transaksi
derivatif Indosat, management letter dari auditor eksternal Indosat (Earnst &amp;
Young) kepada manajemen Indosat, pada 2004 dan 2005, telah menyatakan bahwa
Indosat tidak memiliki kebijakan formal manajemen risiko atas transaksi derivatif
yang dilakukan perusahaan. Akibatnya auditor tidak dapat menemukan adanya
dokumentasi formal atas analisis keefektifan aktivitas lindung nilai yang diklaim
telah dilakukan. Atas temuan tersebut, Earnst &amp; Young sudah dua kali
mengingatkan manajemen Indosat untuk membenahi kebijakan formal manajemen
risiko atas instrumen derivatif. Aktivitas hedging Indosat yang tidak memenuhi
persyaratan PSAK, tidak dapat dikategorikan sebagai hedging. Oleh sebab itu, kita
mempertanyakan pernyataan Ketua Bapepam, Fuad Rahmany, yang mengatakan
bahwa berdasarkan keterangan manajemen Indosat dan akuntan publik,
disimpulkan tidak ada pelanggaran (Investor Daily, 8 Juni 2007). Fuad mengatakan
Bapepam akan menelaah kasus tersebut. Kalau memang masih menelaah,
mengapa dikatakan kesimpulan yang berisi tidak ada pelanggaran? Apakah ini
dilakukan dalam rangka menggiring opini untuk kepentingan Temasek? Apakah
Bapepam menilai wajar jika auditor sekelas Earnst &amp; Young sampai setiap
tahun harus mengingatkan manajemen Indosat mengenai kelemahan material yang

terjadi dalam transaksi derivatif ini? Apakah Bapepam sudah memeriksa Earnst
&amp; Young dalam kasus ini? Kita meminta Bapepam bekerja objektif dan
independen dari pengamanan kepentingan Temasek atas nama keamanan investasi
asing. Meskipun Earnst &amp; Young sudah menyimpulkan bahwa transaksi
derivatif Indosat bukan hedging, Direktur Keuangan Indosat, Wong Heang Tuck,
berkali-kali mencoba meyakinkan publik dan Bapepam bahwa itu adalah hedging.
Padahal kasus-kasus seperti ini telah membangkrutkan Bank Exim akibat kerugian
2,23 miliar dolar AS (sekitar Rp 20 triliun), juga membangkrutkan Bank Duta pada
tahun 1991. Oleh sebab itu tidak salah jika banyak pakar menyatakan bahwa
transaksi derivatif seperti ini merupakan pelanggaran hukum berat yang pelakunya
harus dipidanakan. Prospek buram Kita perhatikan cukup banyak oknum yang
secara sadar atau tidak, telah bekerja untuk kepentingan asing dengan melanggar
berbagai aturan dan mengabaikan kepentingan negara. Hasilnya, berbagai sektor
strategis kita sudah dukuasai asing, sehingga tidak dapat mendatangkan
keuntungan yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat. Di sisi lain, tidak
sedikit elemen masyarakat yang melakukan advokasi agar lembaga-lembaga terkait
melakukan perbaikan dan para oknum penyeleweng diusut tuntas dan dituntut
secara hukum. Namun, oknum-oknum yang memiliki jaringan luas, serta didukung
oleh si penjajah itu demikian kuat untuk dihadapi. Akibatnya, penjajahan tersebut
akan terus berlangsung dan kita hanya akan menjadi pekerja dan kuli di negeri
sendiri. Bagaimanakah prospek penyelesaian kasus derivatif dan penggelapan pajak
Indosat? Tampaknya, kalau kita tidak punya harga diri kasus tersebut akan lenyap
seiring dengan berjalannya waktu. Ikhtisar Penyelesaian dugaan pelanggaran
hukum yang terj!
adi dalam penjualan Indosat belum terlihat bakal diselesaikan dengan serius.
Beberapa upaya hukum yang ditempuh banyak pihak selalu menemukan jalan
buntu. Masuknya investor asing sebenarnya tidak jadi soal jika berlangsung sesuai
hukum. Kita melihat banyak oknum yang secara sadar atau tidak telah bekerja
untuk kepentingan asing.

CONTOH KASUS KECURANGAN DERIVATIF PADA PT. INDOSAT TBK.


Pada laporan keuangan periode 2006, PT. Indosat melaporkan adanya kerugian
sebesar Rp 438 miliar yang di klaim sebagai Rugi dari perubahan nilai wajar atas

transaksi derivatif-bersih (Loss on Change in Fair Value of Derivatifes-Net).


Pengakuan atas kerugian ini muncul karena perusahaan tidak menerapkan PSAK
sebagaimana mestinya.
Dalam PSAK no 55 Akuntansi Instrumen Derivatif dan Aktifitas Lindung Nilai
disebutkan bahwa transaksi derivatif mensyaratkan adanya dokumentasi formal
atas analisa manajemen resiko dan analisa efektifitas transaksi jika ingin
melindungi resiko dari transaksi derivatif ini. Selain itu suatu entitas diwajibkan
pula untuk melaporkan setiap transaksi derivatif paling tidak setiap tiga bulan
dalam laporan keuangan perusahaan.
Dalam surat yang ditujukan kepada manajemen Indosat (management letter) pada
tahun 2004, 2005 dan 2006, auditor eksternal Indosat menyarankan pihak
manajemen Indosat untuk segera membenahi kebijakan formal manajemen resiko
yang berkaitan dengan transaksi derivatif yang dilakukan oleh Indosat sebesar US$
275 juta atau sekitar Rp 2,5 trilliun. Transaksi derivatif ini meliputi 17 kontrak
perjanjian dengan berbagai institusi keuangan.
Kasus ini memberikan contoh dari besarnya kerugian yang harus ditanggung oleh
perusahaan di Indonesia diakibatkan tidak adanya analisa yang memadai terhadap
transaksi derivatif yang akan dilakukan. Akibat kerugian ini pula negara kehilangan
potensi pajak baik atas laba bersih perusahaan maupun atas deviden yang
dibagikan.

https://mikoedoankz.wordpress.com/2013/11/14/derivatif-lindung-nilai/