You are on page 1of 30

BAB I

APPARATUS FLUID FLOW


1.1.

Tujuan Percobaan
Mengukur transportasi fluida yang meliputi:
- Kecepatan aliran fluida
- Head loss karena faktor gesekan dalam pipa lurus, fitting, sudden
contraction, sudden enlargement, dan valve.
Tinjauan Pustaka
Fluida ialah zat yang tidak dapat menahan perubahan bentuk (distorsi) secara

1.2.

permanen. Bila kita mencoba mengubah bentuk suatu massa fluida, maka di dalam
fluida itu akan terbentuklah lapisan-lapisan dimana lapisan yang satu meluncur di atas
yang lain, hingga mencapai suatu bentuk baru. Selama perubahan bentuk itu, terdapat
tegangan gesek (shear stress), yang besarnya bergantung pada viskositas fluida dan laju
luncur. Tetapi, bila fluida itu sudah mendapatkan bentuk akhirnya, semua tegangan
geser ituakan hilang. Fluida yang dalam keseimbangan itu beba dari segala tegangan
geser (McCabe, 1986).
Pada dinamika fluida, fluida berada dalam suatu gerakan. Umumnya, fluida
tersebut berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain dengan menggunakan
perangkat mekanis seperti pompa atau blower, dengan pengaruh gravitasi atau tekanan
dan mengalir melewati sistem perpipaan atau peralatan proses. Persamaan umum pada
neraca massa atau material adalah sebagai berikut (hukum kekekalan massa):
Input = output + akumulasi
Pada fluida mengalir dengan keadaan steady state, akumulasinya adalah nol sehingga
diperoleh:
laju input = laju output

Gambar 1.1. Kesetimbangan massa pada sistem aliran

Gambar 1.1. menunjukkan fluida masuk pada suatu area A1, dengan kecepatan v1, dan
densitas

kemudian fluida keluar pada area A2 dengan kecepatan rata-rata v2.

Hukum kekekalan massa menjadi:


m = 1 A1 v 1 = 2 A 2

............................... (1.2.1.)

Angka Reynold (NRe) adalah parameter dari pengukuran tipe aliran yang tidak
berdimensi atau tidak mempunyai satuan. Angka Reynold ini dugunakan untuk
menentukan tipe-tipe aliran yang terjadi pada fluida. Adapun rumus dari perhitungan
tentan bilangan Reynold adalah:
N Re

D.v.

................................................................................

(1.2.2.)

Macam-macam aliran fluida berdasarkan bilangan Reynold:


- Laminar
Merupakan tipe aliran yang mempunyai kecepatan rendah dan tidak terlihat
mengalami aliran. Pada aliran laminar mempunyai bilangan Reynold (NRe) < 2100

Gambar 1.2. Percobaan Reynold untuk jenis aliran laminar

Turbulent
Merupakan tipe aliranyang mempunyai kecepatan tinggi dan terlihat arus alirannya
pada permukaan pipa. Pada aliran ini mempunyai bilangan Reynold (NRe) > 4000.

Gambar 1.3. Percobaan Reynold untuk jenis aliran turbulen

Transisi
- Merupakan aliran yang berada diantara aliran laminar dan aliran turbulent. Pada
aliran ini mempunyai bilangan Reynold (NRe) diantara 2100 4000.
-

Pipe (pipa) adalah komponen yang bebentuk silender berlubang

yang digunakan untuk membawa fluida atau mengalirkan tekanan fluida. Tebal
pipa pada umumnya ditentukan dalam sebutan schedule number. Material yang
umum digunakan pada pipa untuk industri ialah baja karbon (carbon steel),
namum dalam pembuatannya umumnya merupakan campuran dari berbagai
unsur logam, seperti karbon, phosphor, mangan, nikel, chrom, alumunium,
vanadium dan campuran lainnya. Cara termudah dalam mengelompokkan ialah
dengan menetapkan jumlah karbondari setiap kelasnya antara 0,05-1 % dari
beratnya, sehingga pengelompokannya menjadi:
- Low carbon steel, 0.05-0.25 % karbon
- Medium carbon steel, 0.25-0.5 % karbon
- High carbon steel, 0.5 % dan lebih kandungan karbon (Anonim).
ead loss adalah tekanan yang hilang karena adanya friksi dalam pipa. Rumus umum
head loss adalah:
-.................................................................................

h L F f 4f

L v2
2D

.............................................(1.2.3.)
Macam-macam head loss pada sistem perpipaan:
1. Head loss karena adanya pembesaran diameter pipa (sudden enlargement losses)
Head
loss
-

terjadi karena adanya fluida yang dialirkan pada pipa kecil yang tiba-tiba membesar
sehingga terjadi friksi (gesekan).
-....................................................................

K ex (1

A1 2
)
A2

..........................................(1.2.4.)
-....................................................................

h ex K ex

v12
2

............................................(1.2.5.)

2. Head loss karena adanya pengecilan diameter pipa (sudden contraction losses)
Head

loss

terjadi karena adanya fluida yang dialirkan pada pipa besar yang tiba-tiba mengecil
sehingga terjadi friksi (gesekan).
-....................................................................

K c 0,55 (1

A2
)
A1
...................................(1.2.6.)

-...............................................................
v 22
hc Kc
2

..........................................(1.2.7.)

3. Head loss karena adanya sambungan pipa (fitting)


-

Head

loss

dapat mengganggu aliran normal fluida karena banyaknya gesekan yang terjadi di
setiap sambungan pipa (fitting) (Geankoplis, Christie J., 1997).
-.......................................................................
v12
hf Kf
2
-

................................................(1.2.8.)
Fitting

merupakan komponen perpipaan yang berfungsi sebagai penyambung pipa


dengan pipa, merubah arah pipa, membuat cabang pipa, memperkecil ukuran
perpipaan, dll. Ada beberapa macam jenis fitting, yaitu:
Elbow
adalah jenis fitting yang digunakan untuk merubah arah

Elbow
perpipaan

secara

menyudut 45 atau 90 derajat.


-

Gambar 1.4. Fitting Elbow 45O dan 90O

Tee
-

Tee

adalah jenis fitting 3 lubang (3-way fitting) yang berbentuk seperti huruf
T digunakan untuk membuat cabang tegak lurus terhadap pipa utama.

Gambar
1.5. Fitting Tee

Reducer
-

Reducer

adalah jenis fitting yang digukanan untuk mereduksi ukuran perpipaan.

- Gambar 1.6. Fitting Reducer

Cap
-

Cap

adalah jenis fitting yang digunakan untuk menutup ujung pipa. Metode
sambungan bisa berupa : butt weld, socket weld, treaded.
-

Gambar
1.7. Fitting Cap

Weldolet
-

Weldole

t adalah jenis fitting yang digunakan untuk membuat cabang dengan ukuran
lebih kecil dari pipa utamanya. Weldolet biasanya dipakai pada perpipaan
dengan tekanan dan temperature tinggi dimana sambungan las dengan tipe
buttweld.

Gambar
1.8. Fitting Weldolet

Mitre
-

Mitre

kadang-kadang digunakan untuk menggantikan elbow. Mitre difabrikasi dari


material pipa. Pemakaian untuk ukuran pipa besar bisa lebih murah dari
pada Miter biasanya dipakai untuk perpipaan dengan ukuran besar dan tekanan
rendah.

Gambar
1.9. Fitting Mitre

Coupling
-

Couplin

g adalah jenis fitting yang digunakan untuk membuat cabang ( half


coupling ) pada pipa dengan ukuran 2 ke atas dan untuk menyambung pipa
lurus ( full coupling ). Metode sambungan bisa berupa : Socket weld, dan treaded.
-

Gambar
1.10. Fitting Coupling

Plug
-

Plug

adalah jenis fitting yang digunakan untuk menutup bagian ujung yang terbuka
dari coupling atau ujung valve dari vent atau drain.
-

Gambar
1.11. Fitting Plug

Union

Union

pada dasarnya digunakan untuk keperluan melepas fitting dan dalam beberapa
kasus digunakan untuk menyambung (assembly) perpipaan.
-

Gambar
1.12. Fitting Union (Anonim).

4. Head loss karena adanya valve


5.

Head loss

dapat mengganggu aliran normal fluida karena banyaknya gesekan yang terjadi di
setiap valve (Geankoplis, Christie J., 1997).
6...................................................................

hv Kv

v12
2

7.

..............................................(1.2.9.)
Val

ve digunakan secara luas dalam sistem perpipaan untuk memotong, mengalihkan,


atau mengatur aliran fluida. Pengoperasian valve bisa secara manual maupun secara
otomatis melalui sinyal dari alat kontrol. Ada beberapa jenis valve antara lain:
- Gate Valve
8.

Gat

e valve didesain untuk mengisolasi sistem perpipaan. Pada umumnya valve ini
dioperasikan pada posisi disk terbuka penuh atau menutup penuh. Gate valve
dianjurkan untuk tidak digunakan sebagai pengatur atau mencekek (throttling)
-

aliran fluida karena fungsi kontrolnya tidak akurat.


Check valve
9.

Che

ck valve didesain untuk mencegah aliran balik (back flow) dalam sistem
-

perpipaan.
BalL valve (Globe)
10.

Ball

valve adalah valve dengan seperempat putaran dan sangat cocok untuk gas, udara
bertekanan, cairan, dan servis campuran antara cair dan padat (slurry). Pemakaian
material soft-seat seperti nylon, delrin, karet sintetik, dan fluorinate polymers
memberikan kemampuan sealing yang bagus (Anonim).
11. Head loss karena friksi di pipa lurus
12.

Head

loss

terjadi karena adanya friksi antara fluida dan permukaan pipa yang lurus.
13..........................................................................
H f 4 f L
14.
15.

v2
2D

..........................................(1.2.10.)

16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.

24.
Jenis-jenis alat ukur laju fluida cair yaitu:
1. Manometer Pipa U

25.
26.

Gambar 1.13. Manometer pipa U

27. Hubungan antara pA (tekanan pada titik 1) dan pB (tekanan pada titik 2) dibuat
dengan jalan:
Menentukan tekanan pada titik 2
28......................................................................................

p2 = pa +(Z + R) B g........................................................(1.2.11.)
Menggunakan prinsip hidrostatik (p2 = p3)
29...............................................................................
p3 =
pb + ZBg + RAg ................................................... (1.2.12.)
30.......................................................................... pa - pb =
R (A - B)g..................................................................(1.2.13.)

2. Pitot Tube
31.

Pito

t Tube sering digunakan untuk mengukur kecepatan lokal fluida (Local Velocity) pada
sebuah titik aliran fluida yang mengalir tetapi bukan kecepatan rata-rata dalam pipa.
32.

33.

Gambar 1.14. Diagram pitot tube: (a) simple tube, (b) tube with static pressure holes.
34.
35.
36.

3. Venturi Meter
4.

Ven

turi meter biasanya langsung dimasukkan ke dalam saluran pipa. Sebuah manometer
atau perangkat lain yang dihubungkan untuk mengukur perbedaan tekanan p1-p2
antara titik yang berbeda, titik 1 dan titik 2.

5.
6.Gambar 1.15. Venturi flow meter

7. Orrifice Meter
8.

Prin

sip kerja Orrifice meter hampir sama dengan Venturi meter, tetapi pada Orrifice
meter akan menghasilkan head loss atau power loss yang lebih besar.

9.
10.

Gambar 1.16. Orifice flow meter

11. Aliran pada saluran terbuka dan berbentuk Bendungan


12.

Alir

an pada saluran terbuka dan berbentuk bendungan yaitu sebuah dam yang
mengalirkan air diatasnya. ada 2 tipe yaitu tipe Rectangular dan Triangular.

13.
14.

Gambar 1.17. Tipe tipe bendungan: (a) rectangular, (b) triangular (Geankoplis,

J., 1997).

Christie

15.

10

1.3.
Variabel Percobaan
A. Variabel Tetap
1.4.
Jenis Fluida
: Air
B. Variabel Berubah
1.5.
Bukaan valve
: 0,5; 1; 1,5; 2; 2,5
1.6.
Alat dan Bahan
A. Alat-alat yang digunakan
- Instrumen AFF
- Stopwatch
- Penggaris
1.7. B.

Bahan yang digunakan:

- Air (H2O)
1.8.
Prosedur Percobaan
A. Tahap Persiapan Percobaan
- Membuka safety valve dari tangki supply untuk mengalirkan air pada
-

instrument
Membuka penuh globe valve I
Membuka penuh gate valve agar air mengalir seluruhnya kerangkaian

instrument utama
Membuka penuh globe valve II secara perlahan-lahan untuk mendorong
udara yang ada atau terjebak pada rangkaian instrumentasi dan manometer
serta untuk membersihkan dari kerak dan kotoran yang ada dalam sistem

perpipaan
Memeriksa bahwa perbedaan tekanan pada tabung manometer menunjukkan
nol dan tidak ada udara yang terjebak pada tabung manometer, dengan jalan

manipulasi bukaan globe valve II sampai globe valve II tertutup penuh


- Menutup gate valve
- Menutup globe valve.
B. Tahap Percobaan
- Membuka globe valve sesuai dengan run yang telah ditentukan
- Membuka gate valve sesuai run yang telah ditentukan juga
- Mengalirkan air ke instrumentasi fluid flow dari tangki supply

11

1.9.

Mencatat semua pembacaan perbedaan tekanan pada tabung manometer


ketika aliran fluida dalam keadaan steady.
Gambar Alat

Gambar 1.18. Gambar alat percobaan Apparatus Fluids Flow

Keterangan gambar:
A. Flow meter
B. Fitting
C. Globe valve
D. Fitting
E. Pipa elbow 90
F. Wide pattern return bend
G. Pipa kontraksi

H. Pipa ekspansi
I. Pipa enlargement
J. Pipa sudden contraction
K. Long sweep elbow 90
L. Pipa lurus
M. Gate valve
N. Manometer pipa U no.1 12

12

1.10.
1.11.

1.12.

1.14.
1.15.
1.16.
1.17.
1.18.
1.19.
1.20.
1.21.
1.22.
1.23.
1.24.
1.25.
1.26.
1.27.
1.28.
1.29.
1.30.
1.31.
1.32.

Spesifikasi Alat

Gambar 1.19. Gambar alat percobaan Apparatus Fluid Flow yang dipakai saat praktikum

1.13. Spesifikasi Alat


DA = DB = DC = DD = DE = DF = DG = 3,18 cm
DG = DH = 2,7 cm
DH = DI = 3,18 cm
DI = DJ = 4,14 cm
DJ = DK = DL = DM = 3,18 cm
E = K = Elbow = 3
F = Return bend = 1,5
AB = B = BD = D = Coupling = 4
C = MN = Globe valve = 2 buah
M = Gate valve = 1 buah
Manometer pipa U = 12 buah
Pompa: merek = national; 220 V; 50 Hz; output 125 w

13

1.33.
Data Pengamatan
1.34. Tabel 1.8.1. Data pengamatan kalibrasi debit
1.35.

1.36.

ukaan

Ketinggia

1.37.

rata-rata (cm3)

n fluida (cm)

Valve
1.40. 0,

1.41.

4,3

1.46.

5,1

1.51.

5,65

1.56.

5,9

1.61.

6,2

5
1.45.

1.50.

1,

5
1.55.

1.60.

2,

Volume

1.38.

Wa 1.39.

t (cm3/s)

ktu (s)

1.42.

11355,18

1.47.

2
13467,77

1.52.

4
14920,18

1.57.

1
15580,36

1.62.

6
16372,58
8

Debi

1.43.

60

1.44.

189

1.48.

60

1.49.

224

1.53.

60

1.54.

249

1.58.

60

1.59.

260

1.63.

60

1.64.

273

1.65.

1.66.

Tabel 1.8.2. Data pengamatan beda ketinggian pada manometer pipa U


1.67.

1.69.

1.68.

Debit

Bukaan

(c
m3/

val

1.72.

1.73.

R1

R2

Beda ketinggian pipa U (cm)

1.74. 1.75. 1.76.

1.77. 1.78. 1.79. 1.80. 1.81. 1.82. 1.83.

R3

R6

R4

R5

R7

R8

R9

R10

R11

R12

ve

s)

1.86. 1.87. 1.88. 1.89. 1.90. 1.91. 1.92. 1.93. 1.94. 1.95. 1.96. 1.97.
1.84.

1.85.

189

0,5

rata-rata

224

2,8 0 5,4 1,8 1,7 2,7 2


0 1,6 2 1,7 0,9
1.114.1.115.1.116.1.117.1.118.1.119.1.120.1.121.1.122.1.123.1.124.1.125.
3
0 5.4 1,8 1,7 2,6 1,9 0 1,6 2,4 1,8 0,9
R 1.127.1.128.1.129.1.130.1.131.1.132.1.133.1.134.1.135.1.136.1.137.1.138.

1.126.

1.139.

2,6 0 5,5 1,8 1,7 2,8 2,1 0 1,5 1,6 1,7 0,9
1.100.1.101.1.102.1.103.1.104.1.105.1.106.1.107.1.108.1.109.1.110.1.111.

1.140.
1

2,8 0 5,4 1,8 1,7 2,7 2


0 1,6 3 1,7 0,9
1.141.1.142.1.143.1.144.1.145.1.146.1.147.1.148.1.149.1.150.1.151.1.152.
1,9 0 5,7 2
1 2,9 2,1 0 1,4 1,6 1,8 0,8
1.155.1.156.1.157.1.158.1.159.1.160.1.161.1.162.1.163.1.164.1.165.1.166.
1,9 0 5,7 2,1 1
3 2,2 0 1,5 1,5 1,8 0,9
1.169.1.170.1.171.1.172.1.173.1.174.1.175.1.176.1.177.1.178.1.179.1.180.
2
0 5,8 2,1 1,1 3 2,2 0 1,6 1,5 1,9 0,9
R 1.182.1.183.1.184.1.185.1.186.1.187.1.188.1.189.1.190.1.191.1.192.1.193.

1.181.
rata-rata

1,9

5,7

2,1

2,2

1,5

1,5

1,8

0,9

13

1.196.1.197.1.198.1.199.1.200.1.201.1.202.1.203.1.204.1.205.1.206.1.207.
1.194.
249

1.195.
1,5

2,2 0 5,6 2,1 1,2 3,1 2,3 0 1,6 2,2 1,9 0,9
1.224.1.225.1.226.1.227.1.228.1.229.1.230.1.231.1.232.1.233.1.234.1.235.
2,3 0 5,6 2,2 1,2 3,2 2,4 0 1,7 2,3 1,9 1
R 1.237.1.238.1.239.1.240.1.241.1.242.1.243.1.244.1.245.1.246.1.247.1.248.

1.236.
1.249.

2,2 0 5,6 2,1 1,3 3 2,2 0 1,6 2 1,8 0,9


1.210.1.211.1.212.1.213.1.214.1.215.1.216.1.217.1.218.1.219.1.220.1.221.

rata-rata
1.250.

260

2,2 0 5,6 2,1 1,2 3,1 2,3 0 1,6 2,2 1,9 0,9
1.251.1.252.1.253.1.254.1.255.1.256.1.257.1.258.1.259.1.260.1.261.1.262.
2,3 0 5,7 2,3 1,6 3,2 2,4 0 1,7 2,3 2
1
1.265.1.266.1.267.1.268.1.269.1.270.1.271.1.272.1.273.1.274.1.275.1.276.
2,4 0 5,8 2,4 1,7 3,3 2,5 0 1,7 2,4 2,1 1,1
1.279.1.280.1.281.1.282.1.283.1.284.1.285.1.286.1.287.1.288.1.289.1.290.
2,5 0 5,8 2,5 1,7 3,4 2,6 0 1,8 2,6 2,1 1,2
R 1.292.1.293.1.294.1.295.1.296.1.297.1.298.1.299.1.300.1.301.1.302.1.303.

1.291.
rata-rata

2,4

5,8

2,4

1,7

3,3

2,5

1,7

2,4

2,1

1,1

1.304.
1.305.
1.306.
1.309.1.310.1.311.1.312.1.313.1.314.1.315.1.316.1.317.1.318.1.319.1.320.
1.307.
273

1.308.
2,5

2,5 0 5,8 2,6 1,7 3,4 2,7 0 1,8 2,7 2,2 1,2
1.323.1.324.1.325.1.326.1.327.1.328.1.329.1.330.1.331.1.332.1.333.1.334.
2,6 0 5,8 2,7 1,8 3,5 2,8 0 1,9 2,8 2,3 1,2
1.337.1.338.1.339.1.340.1.341.1.342.1.343.1.344.1.345.1.346.1.347.1.348.
2,6 0 5,9 2,6 1,7 3,4 2,8 0 1,9 2,8 2,4 1,3
R 1.350.1.351.1.352.1.353.1.354.1.355.1.356.1.357.1.358.1.359.1.360.1.361.

1.349.
rata-rata

2,6

5,8

2,6

1,7

3,4

2,8

1,9

2,8

2,3

1.362.

1.363.
Data Perhitungan
1.364.
Tabel 1.9.1. Data perhitungan kecepatan akhir aliran dan total head
loss pada aliran berdasarkan bukaan valve
1.365. Bukaan
valve

1.366. kecepatan
(cm/s)

1.368. 0,5

1.369. 0.0717

1.371. 1

1.372. 0.0850

1.374. 1,5

1.375. 0.0942

1.367. F
1.370. 0.71
36
1.373. 1.38
37
1.376. 1.69
76

1,2

13

1.377. 2

1.378. 0.0983

1.380. 2,5

1.381. 0.1033

1.379. 1.85
09
1.382. 2.04
37

1.383.

1.384. Tabel 1.9.2. Data perhitungan head loss pada aliran berdasarkan bukaan valve
1.385. B
ukaa
n
valv
e
1.395. 0
.5

1.405. 1

1.415. 1
.5

1.425. 2

1.435. 2
.5
1.445.
1.446.
1.447.
1.448.
1.449.
1.450.
1.451.
1.452.
1.453.

1.386.
vp

1.387.

1.388.

1.389.

1.390.

1.391.

1.392.

1.393.

hc1

hc2

hv

hf

Ff

hex1

hex2

(J/

(J/

(J/

(J/

(J/

(J/

(J/

kg

kg

kg

kg

kg

kg

kg

1.396.

)
1.397.

)
1.398.

)
1.399.

)
1.401.

)
1.402.

)
1.403.

0.238

0.015

0.006

0.345

0.203

0.003

0.028

4
1.406.

0
1.408.

9
1.409.

1.410.

1
1.411.

5
1.412.

4
1.413.

0.008

0.486

0.156

0.666

0.003

0.040

4
1.418.

5
1.419.

3
1.420.

6
1.421.

9
1.422.

0
1.423.

0.010

0.597

0.191

0.818

0.004

0.049

1
1.429.

8
1.430.

1
1.431.

1
1.432.

1
1.433.

(m
/s)

0.282
8
1.416.
0.313

1.407.
0.022
1.417.
0.027

)
1.400.
0.1111

1.394.
F

1.404. 0
.71
36
1.414. 1
.38
367
1.424. 1
.69

3
1.426.

1.427.

3
1.428.

761
1.434. 1

0.327

0.029

0.011

0.651

0.209

0.892

0.004

0.053

1
1.436.

4
1.437.

3
1.438.

1
1.439.

2
1.440.

1
1.441.

3
1.442.

5
1.443.

0.343

0.032

0.012

0.719

0.231

0.985

0.004

0.059

.04

367

.85
093
1.444. 2

15

1.454.

Grafik

1.455.

0.105
2.10
0.100
0.095

1.80

0.090
1.50
Kecepatan aliran (cm/s)

0.085

Head loss (J/Kg)

0.080

1.20

kecepatan
Head Loss

0.075
0.90
0.070
0.065

0.60
00.511.522.53
Bukaan valve

1.456.

Grafik 1.10.1. Grafik hubungan antara bukaan valve dengan kecepatan dan head loss

1.457.

15

1.458.

0.75
0.70
0.65
0.60
0.55
hv 0.50
0.45
0.40
0.35
0.30
0

0.5

1.5

2.5

Bukaan valve

1.459.

Grafik 1.10.2. Grafik hubungan antara bukaan valve dan head loss akibat valve (hv)

1.460.

16

0.24
0.22
0.20
0.18
hf

0.16
0.14
0.12
0.10
0

0.5

1.5

2.5

Bukaan valve

1.461.
1.462.

Grafik 1.10.3. Grafik hubungan antara bukaan valve dan head loss akibat fittings (hf)

1.463.
1.05
0.90
0.75

Hf

0.60
0.45
0.30
0.15
0

0.5

1.5

2.5

Bukaan valve

1.464.
1.465.

Grafik 1.10.4. Grafik hubungan antara bukaan valve dan head loss at straight pipe (Hf)

1.466.

17

1.467.

0.02

hc

0.01

0.01
0

0.5

1.5

2.5

Bukaan valve

1.468.

Grafik 1.10.5. Grafik hubungan antara bukaan valve dan head loss akibat sudden
contraction loss dan contraction loss (hc)

1.469.

17

1.470.

0.07
0.06
0.05
hex
0.04
0.03
0.02
0

0.5

1.5

2.5

Bukaan valve

1.471.

1.472.

Grafik 1.10.6. Grafik hubungan antara bukaan valve dan head loss akibat sudden
enlargement loss dan enlargement loss (hex)

18

0.01
0.01
0.01
0.01
hv (gate)

0.01
0.01
0.01
0
0

0.5

1.5

2.5

Bukaan valve

1.473.
1.474.

Grafik 1.10.7. Grafik hubungan antara bukaan valve dan head loss akibat gate valve
(hv)

1.475.
0.75
0.7
0.65
0.6
0.55
hv (globe)

0.5
0.45
0.4
0.35
0.3
0

0.5

1.5

2.5

Bukaan valve

1.476.
1.477.
1.478.
1.479.

1.480.
1.481.
1.482.
1.483.
1.484.
1.485.

Grafik 1.10.8. Grafik hubungan antara bukaan valve dan head loss akibat valve globe
(hv)

19

1.486.
Pembahasan
- Pada grafik 1.10.1. menunjukkan bahwa hubungan antara debit aliran,
kecepatan aliran dan head loss berbanding lurus, hal ini sesuai teori dimana
semakin besar debit alirannya maka semakin besar pula kecepatan alirannya
-

dan semakin tinggi nilai head loss pada aliran tersebut.


Pada grafik 1.10.2. menunjukkan bahwa hubungan antara bukaan valve dan
head loss pada valve (hv) adalah berbanding lurus, hal ini sesuai dengan
teori dimana head loss pada pipa lurus semakin besar dengan bertambahnya

laju alir.
Pada grafik 1.10.3. menunjukkan bahwa hubungan antara bukaan valve dan
head loss pada fitting (hf) adalah berbanding lurus, dimana semakin tinggi

nilai hf maka semakin tinggi pula nilai Q.


Pada grafik 1.10.4. menunjukkan bahwa hubungan antara bukaan valve dan
head loss pada pipa lurus (Ff) adalah berbanding lurus, dimana semakin

besar laju alir maka head loss pada pipa lurus juga semakin besar.
Pada grafik 1.10.5. menunjukkan bahwa hubungan antara bukaan valve dan
head loss akibat sudden contraction loss dan contraction loss (hc) adalah
berbanding lurus, dimana semakin besar laju alir maka head loss pada pipa

kontraksi juga semakin besar.


Pada grafik 1.10.6. menunjukkan bahwa hubungan antara bukaan valve
dan head loss akibat sudden enlargement loss (hex) adalah berbanding lurus,
dimana semakin besar laju alir maka head loss pada pipa ekspansi juga

semakin besar.
Pada grafik 1.10.7. menunjukkan bahwa hubungan antara bukaan valve dan
head loss pada gate valve (hc) adalah berbanding lurus, dimana semakin

besar laju alir maka head loss pada gate valve semakin kecil.
Pada grafik 1.10.8 menunjukkan bahwa hubungan antara bukaan valve dan
head loss akibat globe valve (hc) adalah berbanding lurus, dimana semakin
besar laju alir maka head loss pada globe valve semakin kecil.
1.487.
1.488.
1.489.

20

1.490.
Kesimpulan
- Pada debit sebesar 189 cm3/s, kecepatan aliran fluida sebesar 0,0717 cm/s.
Debit 224 cm3/s, kecepatan aliran 0,0850 cm/s. Debit 249 cm 3/s, kecepatan
aliran 0,0942 cm/s. Debit 260 cm3/s, kecepatan aliran 0,0983 cm/s.
Sedangkan pada debit 273 cm3/s, kecepatan aliran fluida sebesar 0,1033
-

cm/s.
Untuk memperoleh debit sebesar 189,253 cm3/dt, maka bukaan valve sebesar
0,5 dari 1putaran gate valve dan bukaan globe valvenya ditetapkan sebesar
60o, sehingga diperoleh kecepatan aliran sebesar 11355,182 cm3 dan untuk

mendapatkan variabel debit yang lain maka ditunjukkan pada tabel 1.8.2.
Head loss tertinggi pada pipa lurus yaitu sebesar 0,9851 J/kg, sedangkan
head loss terendah terjadi pada bagian pipa sudden enlargement (hex) sebesar
0,0035. Head loss diukur pada elbow, fitting, valve, dan pada berbagai

macam pipa.
Kehilangan head loss terbesar terjadi pada debit sebesar 273 cm3/s dengan
total friksi sebesar 2,0437, maka disimpulkan semakin besar debit aliran
maka friksinya juga semakin besar.