You are on page 1of 8

Aeromonas hydrophyla

Dipublikasi pada Desember 4, 2012 oleh heni14UB


1. 1. PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

Keberhasilan budidaya ikan terkait dengan pemeliharaan lingkungan dan daya tahan
organisme budidaya terhadap serangan bakteri patogen. Salah satu bakteri yang umum
dijumpai pada ekosistem perairan dan mempunyai peranan sebagai microbial flora bagi
organisme air pada kondisi lingkungan yang stabil yaitu bakteri Aeromonas hydrophila.
Dimana bakteri tersebut bersifat patogen pada ikan air tawar seperti ikan nila pada kondisi
kualitas air yang buruk. Selain itu bakteri Aeromonas hydrophila memiliki kemampuan
osmoregulasi yang tinggi dimana mampu bertahan hidup pada perairan tawar, perairan payau
dan laut yang memiliki kadar garam tinggi dengan penyebaran melalui air, kotoran burung,
saluran pencernaan hewan darat dan hewan amfibi serta reptil (Mangunwardoyo et al., 2010).
Salah satu kendala yang dihadapi dalam budidaya intensif adalah penyakit ikan.
Dimana menimbulkan kerugian ekonomi bagi para pembudidaya ikan. Salah satu jenis
penyakit yang sering dijumpai pada organisme budidaya adalah penyakit bakterial yang
disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophilla, dimana merupakan bakteri patogen
penyebab penyakit Motil Aeromonas Septicemia (MAS), terutama untuk spesies ikan air
tawar di perairan tropis (Rahmaningsih, 2012).
Bakteri Aeromonas hydrophila merupakan salah satu bakteri penyebab penyakit yang
berbahaya pada budidaya ikan air tawar. Bakteri tersebut banyak menyerang ikan mas yang
merupakan salah satu komoditas unggulan air tawar dan dapat menginfeksi ikan pada semua
ukuran yang dapat menyebabkan kematian hingga mencapai 80%, sehingga mengakibatkan
kerugian yang sangat besar baik dalam usaha budidaya ikan air tawar (Sanoesi, 2008).
1. 2.

Epidemilogi

Penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri pada ikan khususnya yang disebabkan oleh A.
hydrophila mulai dikenal di Indonesia sekitar tahun 1980, dimana bakteri ini menyebabkan
wabah penyakit pada ikan karper di wilayah Jawa Barat dan menyebabkan kematian
sebanyak 125 ton. Di tahun yang sama kejadian serupa juga terjadi dan menyerang spesies
ikan mas, penyakit tersebut dikenal dengan penyakit `Ulcerative disease` atau penyakit
borok/penyakit merah yang mengakibatkan kematian sekitar kurang lebih
173 ton jenis ikan mas termasuk didalamnya 30 % ikan-ikan kecil/benih mati disebabkan
oleh bakteri Aeromonas sp dan Pseudomonas sp, mengakibatkan kerugian sekitar Rp. 126
juta. Penyakit ini dapat menyebabkan sistemik yang menimbulkan kematian ikan yang
tinggi, menyerang ikan-ikan budidaya dan dalam waktu singkat menyebar kedaerah lain
(Lukistyowati dan Kurniasih, 2011).
Bakteri Aeromonas hydrophila termasuk bakteri gram negatif, dimana mempunyai
karakteristik berbentuk batang pendek, bersifat aerob dan fakultatif anaerob, tidak berspora,
motil, mempunyai satu flagel, hidup pada kisaran suhu 25-300C. Jika organisme terkena

serangan bakteri maka akan mengakibatkan gejala penyakit hemorhagi septicaemia yang
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: terdapat luka dipermukaan tubuh, insang, ulser, abses,
dan perut gembung. Tidak hanya menyerang organisme budidaya seperti ikan, tetapi penyakit
ini juga menyerang manusia dimana menyebabkan infeksi pada gastroenteristis, diare dan
extra intestinal pada manusia. Bakteri Aeromonas hydrophyla sangat mempengaruhi usaha
budidaya ikan air tawar dan seringkali menimbulkan wabah penyakit dengan tingkat
kematian yang tinggi (80 100 %) dalam kurun waktu yang singkat (1 2 minggu).
Sehingga sangat merugikan petani ikan dalam usaha budidaya ikan. Tingkat virulensi dari
bakteri
A. hydrophila dapat menyebabkan kematian ikan tergantung dari racun yang dihasilkan.
Didalam tubuh bakteri Aeromonas hidrophyla terdapat Gen Aero dan hlyA yang bertanggung
jawab dalam memproduksi racun aerolysin dan hemolysin dimana Aerolisin merupakan
protein extraseluler yang diproduksi oleh beberapa strain A. hydrophila yang bisa larut,
bersifat hydrofilik dan mempunyai sifat hemolitik serta sitolitik. Mekanisme racun Aerolysin
pada bakteri Aeromonas hidrophyla dalam menyerang dan menginfeksi racun pada ikan
yaitu dengan mengikat reseptor glikoprotein spesifik pada permukaan sel eukariot sebelum
masuk ke dalam lapisan lemak dan membentuk lubang. Racun aerolysin yang membentuk
lubang melintas masuk ke dalam membran bakteri sebagai suatu preprotoksin yang
mengandung peptida. Racun tersebut dapat menyerang sel-sel epithelia dan menyebabkan
gastroenteristis (Lukistyowati dan Kurniasih, 2012).
Proses invasi bakteri patogen Aeromonas hydrophila kedalam tubuh host adalah diawali
dengan melekatnya bakteri pada permukaan kulit dengan memanfaatkan pili, flagela dan kait
untuk bergerak dan melekat kuat pada lapisan terluar tubuh ikan yaitu sisik yang dilindungi
oleh zat kitin. Selama proses berlangsung bakteri Aeromonas hydrophila memproduksi
enzim kitinase yang berperan dalam mendegradasi lapisan kitin sehingga bakteri dapat
dengan mudah masuk kedalam host. Selain memanfaatkan kitinase bakteri Aeromonas
hydrophila juga mengeluarkan enzim lainnya seperti lesitinase dalam upaya masuk kedalam
aliran darah (Mangunwardoyo et al., 2010).
Bakteri Aeromonas hidrophyla termasuk patogen oportunistik yang hampir selalu
terdapat di air dan seringkali menimbulkan penyakit apabila ikan dalam kondisi yang kurang
baik. Penyakit yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophilla ditandai dengan adanya bercak
merah pada ikan dan menimbulkan kerusakan pada kulit, insang dan organ dalam.
Penyebaran penyakit bakterial pada ikan umumnya sangat cepat serta dapat menyebabkan
kematian yang sangat tinggi pada ikan-ikan yang diserangnya. Gejala klinis yang timbul pada
ikan yang terserang infeksi bakteri Aeromonas hidrophyla adalah gerakan ikan menjadi
lamban, ikan cenderung diam di dasar akuarium; luka/borok pada daerah yang terinfeksi;
perdarahan pada bagian pangkal sirip ekor dan sirip punggung, dan pada perut bagian bawah
terlihat buncit dan terjadi pembengkakan. Ikan sebelum mati naik ke permukaan air dengan
sikap berenang yang labil (Rahmaningsih, 2012).
Menurut (Tanjung et al., 2011), tanda-tanda sekunder serangan bakteri Aeromonas
hydrophila terlihat dengan tumbuhnya jamur berwarna putih pada bagian ujung sirip ikan dan
pada bagian tubuh yang mengalami luka memar. Sekresi lendir tampak berlebihan
menyeliputi tubuh ikan, dengan warna tubuh yang memucat. Nafsu makan berkurang mulai
pada hari ke dua. Indikasi ikan mendapat serangan bakteri dari mata pucat umumnya tampak
setelah hari ke lima, sedangkan kerusakan sisik dan tumbuhnya jamur sudah muncul mulai
dari hari pertama. Warna tubuh pucat umumnya tampak setelah hari ke tiga. Adapun beberapa

analisis yang digunakan untuk mengetahui serangan dari bakteri Aeromonas hydrophila
antara lain:
-

Analisis morfologis

Indikasi-indikasi serangan bakteri terhadap berbagai strain ikan Gurami cukup beragam, baik
ciri maupun waktunya. Serangan bakteri tersebut dicirikan oleh perubahan warna mata
menjadi abu-abu dan terjadi penonjolan bola mata atau exophthalmia, luka memar yang
bisa meliputi sekujur tubuh, warna tubuh menjadi pucat, dan sirip rusak, dengan waktu (hari)
serangan yang bervariasi. Tanda-tanda yang paling peka terhadap serangan bakteri,
ditandai waktu
munculnya serangan umumnya sudah tampak pada hari pertama. Jenis
yang paling tahan adalah strain Padang dengan indikasi serangan umumnya setelah dua hari.
Hal ini sesuai dengan tingkat ketahanan hidupnya yang paling tinggi (8-10 hari). Indikasi
kerusakan pada sirip tidak selalu muncul, dalam hal ini ikan yang tidak menunjukkan sisik
atau sirip rusak (ta), boleh jadi ikan tersebut sudah terserang bakteri.
-

Analisis histologis intestin dan hati

Pada ikan yang sehat irisan hati berwarna cerah serta sel-sel hepatosit mengandung nukleus
dan heterokromatin. Ikan yang terkena serangan A. hydrophila menunjukkan kondisi sel hati
yang rusak karena mengalami infeksi, tetapi tidak mengeluarkan nanah (non purulent
multifocal hepatitis). Kantung empedu dan sel hati mengalami peradangan atau infeksi
(cholangiohepatitis), yang pada kondisi parah infeksi ini dapat mencapai jaringan parenkim
hati. Ditemukan juga vakuola dan sel-sel darah karena terjadi pendarahan dalam (internal
haemoragy). Kematian sel-sel hati (focal nekrosis) merupakan manifestasi yang umum
terjadi pada ikan yang terserang A. hydrophila. Intestin ikan Gurami yang terpapar A.
hydrophila menunjukkan kondisi yang mengalami deplesi pada sel lamina intestin tersebut
sehingga terkikis habis. Mukosa intestin juga mengalami kematian sel (nekrosis) yang
disebabkan oleh degradasi enzimatik yang dikeluarkan oleh A. hydrophila .

1. 3.

Habitat

Bakteri aeromonas hydrophila memiliki kemampuan osmoregulasi yang tinggi dimana


mampu bertahan hidup pada perairan tawar, perairan payau dan laut yang memiliki kadar
garam tingg dengan penyebaran melalui air, kotoran burung, saluran pencernaan hewan darat
dan hewan amfibi serta reptil (Mangunwardoyo et al., 2010).
Lingkungan dengan yang mempunyai konsentrasi kadar garam tertentu memiliki
kerapatan A. hydrophila yang jauh lebih tinggi dibandingkan lingkungan air tawar, meskipun
variasi dalam kepadatan antara habitat dengan kadar garam tertentu jauh lebih besar daripada
habitat air tawar, umumnya, A. hydrophila tidak dianggap sebagai bakteri laut, namun, studi
ini menunjukkan bahwa itu ditemukan secara alami bakteri Aeromonas hydrophila hidup
dilingkungan yang mempunyai kadar garam air laut, air payau sampai dengan air tawar dan

dapat ditemukan di semua salinitas, kecuali (paling ekstrim> 100% o). Baru-baru ini, bakteri
A. hydrophila menyebabkan penyakit borok pada ikan cod (Gadus morhua), dan ikan laut
lainnya. A. hydrophila dapat diisolasi dari perairan yang memiliki kekeruhan 0-395 unit
turbidity Jackson. Suhu yang optimum untuk pertumbuhan bakteri A. hydrophila adalah
35C,

dan

suhu

maksimum

yaitu

mendekati

suhu

45 0C.

Dalam

studi

ini,

A. hydrophila diisolasi dari air yang memiliki suhu antara 4 0 dan 45.00C.
A. Hydrophila tidak dapat diisolasi pada suhu lebih besar dari 45 0C, kepadatan tertinggi
terjadi

350C,

pada

sepanjang

gradien

termal

mulai

dari

200 sampai 720C. PH air tampaknya tidak memainkan peran penting dalam distribusi A.
hydrophila, karena bakteri dapat diisolasi selama rentang pH seluruh sampel (5,2-9,8).
Bakteri Aeromonas hydrophila tidak mampu tumbuh pada pH lebih rendah dari 4 atau lebih
tinggi dari 10 (Hazen et al., 2011).
Bakteri Aeromonashydrophila, merupakan bakteri negatif, dianggap sebagai salah satu
bakteri patogen yang paling penting pada hewan air di daerah beriklim sedang, seperti ikan
yang sakit, belut, katak, dan kura-kura. Selain itu bakteri A.hydrophila dilaporkan sebagai
salah satu spesies Aeromonas paling umum yang terkait dengan penyakit usus pada manusia
(Esteve et al., 2004).
1. 4.

Ikan atau udang yang diserang

Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu jenis ikan budidaya air tawar
yang mempunyai nilai ekonomis penting dan telah dibudidayakan secara intensif. Salah satu
kendala yang dihadapi dalam budidaya intensif ikan nila adalah penyakit ikan. Salah satu
jenis penyakit ikan yang sering dijumpai adalah penyakit bakterial yang disebabkan oleh
bakteri Aeromonas hydrophilla, yang menyerang spesies ikan air tawar di perairan tropis
(Rahmaningsih, 2012).
Bakteri Aeromonas hidrophyla merupakan bakteri patogen yang menyerang ikan lele,
dimana menyebabkan penyakit MAS (Motile Aeromonas Septicemia). Bakteri ini dapat
menyebabkan kematian pada ikan lele mencapai 80% bahkan dapat mencapai 100% dalam
kurun waktu 1 minggu (Mulia, 2012).
Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) telah umum dibudidayakan dan menjadi andalan
sebagai salah satu sumber protein hewani. Kawasan pengembangan budidaya ikan Gurami

juga sudah terbentuk di beberapa daerah, seperti di Jawa Barat (Bogor, Tasikmalaya, Ciamis,
Garut), Jawa Tengah (Cilacap, Banyumas, Banjarnegara, Purbalingga), Walaupun ikan
Gurami sudah lama dibudidayakan secara komersial namun masih menghadapi kendala
dalam hal pertumbuhan yang lambat dan ketahanan hidup yang rendah. Salah satu
penyebabnya adalah serangan penyakit oleh bakteri Aeromonas hydrophila. Selain ikan,
berbagai spesies Aeromonas juga dapat menyerang amfibi dan hewan reptil. Pada amfibi,
bakteri ini dapat menyebabkan pendarahan dalam yang bisa berakibat fatal. Pada manusia,
bakteri ini dapat menyebabkan infeksi pada saluran pencernaan, septisemia (keracunan
darah), infeksi pada luka dan pembengkakan pada lambung dan usus yang disertai muntah
dan diare atau gastroenteritis (Tanjung et al., 2011).
Bakteri Aeromonashydrophila diketahui sebagai patogen pada amfibi, reptil, ikan, siput,
sapi dan, baru-baru ini, bakteri Aeromonas hydrophila menyerang manusia. Beberapa kasus
penyakit septicemias yang menyerang manusia yang dapat berakibat fatal yang disebabkan
oleh bakteri A.hydrophila, tetapi penyakit tersebut menyerang pada manusia yang
mempunyai daya tahan tubuh yang lemah dan terpapar oleh penyakit laiinya, misalnya
leukemia. hanya A.hydrophila dilaporkan menyerang dan menjadi patogen pada manusia
ketika terdapat luka dan kontak langsung dengan air dimana air tersebut mengandung strain
bakteri A.hydrophila. Bakteri Aeromonas hydrophila menyebabakan kerugian yang besar
dibidang perikanan, misalnya, pada tahun 1973, 37.500 ekor ikan mati selama dalam kurun
waktu 13 hari dalam satu periode di Danau North Carolina (Hazen et al., 1978).
1. 5.

Cara pencegahan dan pengobatan

Usaha yang telah dilakukan untuk mengatasi baik pencegahan maupun pengobatan penyakit
yang disebabkan bakteri A. hydrophila adalah dengan pemberian bahan-bahan kimia
maupun pemberian antibiotik sintetis seperti tetracycline.

Pemberian bahan kimia ini

memang dapat mencegah maupun mengobati penyakit pada ikan bila digunakan dengan dosis
yang tepat, akan tetapi bila digunakan tidak terkontrol maka dapat menimbulkan beberapa
efek negatif. Residu antibiotik dapat mencemari lingkungan dan juga dapat dijumpai di tubuh
ikan, sehingga ikan tidak aman untuk dikonsumsi oleh manusia (Lukistyowati dan Kurniasih,
2011).
Salah satu alternatif dalam mengobati

penyakit bakterial pada ikan adalah

menggunakan bahan-bahan alami yang mempunyai kemampuan anti bakteri antara lain

ekstrak bawang putih untuk mengobati benih ikan lele yang terinfeksi A.hydrophilla; ekstrak
air kunyit untuk mengobati Pseudomonas aeruginosa pada ikan gurame (Rahmaningsih,
2012).
Vaksinasi merupakan suatu metode alternatif yang efektid dan efisien untuk mencegah
penyakit yangn disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila. Vaksinasi dilakukan dengan
merangsang kekebalan spesifik ikan terhadap penyakit tersebut. Metode vaksinasi tidak
menimbulkan dampak negatif, baik pada ikan, lingkungan maupun konsumen. Tingkat
perlindungan dari metode vaksinasi terhadap serangan bakteri bakteri Aeromonas hydrophila
tergantung pada jenis dan kualitas vaksin, cara vaksinasi, kondisi ikan dan lingkungan
hiidupnya. Dari hasil penelitian pemberian vaksin dari debris sel Aeromonas hydrophila pada
ikan lele menunjukkan peningkatan produksi titer antibodi dimana dapat meningkatkan
produksi antibodi ikan lele dumbo. Perlakuan vaksinasi, baik yang dibooster maupun yang
tidak meningkatkan titer antibodi ikan lele setelah ikan divaksinasi (Mulia, 2012).
Upaya

penanganan

pencegahan

penyakit

yang

disebabkan

oleh

A. hydrophila adalah dengan menggunakan ektraks tumbuhan alami seperti ekstrak daun
pepaya. Sebagai tanaman obat, pepaya (C. Papaya L) juga mengandung zat atau senyawa
bioaktif yang yang dapat meningkatkan ketahanan dan tanggap kebal ikan. Zat aktif yang
terdapat pada daun pepaya antara lain alkaloid, flavonoid, dan saponin, selain zat bioaktif
daun pepaya juga memiliki kemampuan antagonis dalam melawan bakteri patogen sehingga
mempunyai sifat imunostimulan. Semakin banyak kosentrasi ekstrak daun pepaya yang
diberikan pada ikan seraca oral jumlah sel macrofagh pada ikan mas meningkat, dimana dosis
pemberian ekstrak daun pepaya pada konsentrasi 65% (Sanoesi, 2008).
1. 6.

Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini yaitu


Bakteri Aeromonas hydrophila termasuk bakteri gram negatif, berbentuk batang
pendek, bersifat aerob dan fakultatif anaerob, tidak berspora, motil, mempunyai satu flagel,
hidup pada kisaran suhu 25-300C.
mengakibatkan penyakit hemorhagi septicaemia pada ikan dan menyebabkan infeksi
pada gastroenteristis, diare dan extra intestinal pada manusia.
Bakteri Aeromonas hydrophyla sangat mempengaruhi usaha budidaya ikan air tawar
dengan tingkat kematian yang tinggi (80 100 %) dalam waktu yang singkat (1 2 minggu).

penyebaran bakteri Aeromonas hydrophila melalui air, kotoran burung, saluran


pencernaan hewan darat dan hewan amfibi serta reptil
bakteri Aeromonas hydrophila banyak menyerang spesies ikan air tawar seperti, ikan
mas, ikan gurami, ikan lele dan juga menyerang ikan air laut seperti ikan cod serta amfibi dan
reptil. Selain ikan bakteri ini juga menyerang manusia
Usaha yang telah dilakukan untuk mengatasi baik pencegahan maupun pengobatan
penyakit yang disebabkan bakteri A. hydrophila adalah dengan pemberian bahan-bahan
kimia maupun pemberian antibiotik sintetis seperti tetracycline), menggunakan bahan-bahan
alami yang mempunyai kemampuan anti bakteri antara lain ekstrak bawang putih; ekstrak air
kunyit, ekstrak daun pepaya dan juga dapat dilakukan dengan vaksinasi

Daftar pustaka
Esteve, C., E. Alcaide., R, Canals., S. Merino., D, Blasco., M.J Figueras., J.M Tomas. 2004.
Pathogenic Aeromonas hydrophila iSerogroup ):14 and O:81 Strains with an S Layer. Appl.
Environ. Microbiol. 2004, 70(10): 5898.
Hazen, T.C., C.B.Fliermans., R.P. Hirsch., G.W. Esch. 1978. Prevalence and Distribution of
Aeromonas hydrophila in the United Stated. Apliied aand Environmental Microbiology, Nov.
1978, p. 731-738.
Mulia, D.S. 2012. Penggunaan Vaksin Debris Sel Aeromonas hydrophila dengan Interval
Waktu Booster Berbeda terhadap Respons Imun Lele Dumbo (Clarias gariepinus Burchell).
Sains Aquatic 10 (2): 86-95.
Lukistyowati, I dan Kurniasih. 2011. Kelangsungan Hidup Ikan Mas (Cyprinus carpio L)
yang diberi Pakan Ekstrak Bawang Putih (Allium sativum) dan di Infeksi Aeromonas
hydrophila. Jurnal Perikanan dan Kelautan, 16,1 (2011) : 144-160.
Lukistyowati, I dan Kurniasih. 2012. Pelacakan Gen Aerolysisn dari Aeromonas hidrophyla
pada Ikan Mas yang diberi Pakan Ekstrak Bawang Putih. Jurnal Veteriner, Vol. 13 No. 1 : 4350.
Mangunwardoyo, W., R. Ismayasari., E. Riani. 2010. Uji Patogenisitas dan Virulensi
Aeromonas hydrophila Stanier pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus Lin.) melalui Postulat
Koch. J. Ris. Akuakultur Vol. 5 Tahun 2010: 245-255.
Rahmaningsih, S. 2012. Penagruh Ekstrak Sidawayah dengan Konsentrasi yang Berbeda
untuk Mengatasi Infeksi Bakteri Aeromonas hydrophyla pada Ikan Nila (Oreochromis
niloticus). Jurnal Ilmu Perikanan dan Sumberdaya Perairan.
Sanoesi, E. 2008. Penggunaan Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya Linn) terhadap Jumlah
Sel Makrofag pada Ikan Mas (Cyprinus carpio L) yang Terinfeksi Bakteri Aeromonas
hydrophila. Jurnal Penelitian Perikanan, Vol 11, No. 2, Desember 2008.

Tanjung, L. R., Triyanto., N. H. Sadi., G. D. Haryani., D. S. Said. 2011. Uji Ketahanan


Beberapa Strain Ikan terhadap Penyakit Aeromonas. Lomnotek (2011) 18(1) : 58-71
About these ads