You are on page 1of 3

Penyakit tidak menular pada beberapa waktu terakhir menjadi penyebab morbiditas dan

mortalitas di beberapa negara termasuk Indonesia. WHO memprediksi pada tahun 2020, proporsi
angka kematian karena penyakit tidak menular akan meningkat menjadi 73% dan proporsi
kesakitan menjadi 60% di dunia, sedangkan untuk negara SEARO (South East Asian Regional
Office) pada tahun 2020 diprediksi angka kematian dan kesakitan karena penyakit tidak menular
akan meningkat menjadi 50% dan 42%.1
Dispepsia merupakan salah satu jenis penyakit tidak menular yang terjadi tidak hanya di
Indonesia, tetapi juga di dunia. Kasus dispepsia di dunia mencapai 13-40% dari total populasi
setiap tahun.1 Hasil studi menunjukkan bahwa di Eropa, Amerika Utara, dan Oseania prevalensi
dispepsia bervariasi antara 3% hingga 40%.2
Menurut data yang dilansir WHO pada tahun 2007, dispepsia menjadi penyakit yang menempati
urutan ketujuh tertinggi di Yogyakarta dengan proporsi sebesar 5,81% dan sekitar 5,78% di
Jakarta.3 Sedangakan berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Riau, dispepsia menjadi
penyakit dengan proporsi terkecil di Riau, yaitu sekitar 6,05%.4
Dispepsia kini menjadi kasus penyakit yang diprediksi akan meningkat dari tahun ke tahun.
Dispepsia merupakan gangguan nyeri dan rasa tidak nyaman pada saluran pencernaan yang
terpusat di abdomen bagian atas.5 Meskipun tidak mengancam nyawa, gejala dispepsia biasanya
bertahan lama pada penderitanya. Gejala tersebut meliputi menurunnya berat badan, hematoma
atau melena, anemia, dan perabaan yang besar.6 Penyebab dispepsia beragam mulai dari
makanan dan lingkungan, sekresi cairan lambung, persepsi viseral lambung, NSAIDs (NonStereoidal Antiinflamatory Drugs), dan infeksi Helicobacter pylori.5 Selain itu, faktor gaya hidup
dan konsumsi alkohol juga ikut mempengaruhi timbulnya gejala dispepsia.2

Faktor kondisi kejiwaan juga berpotensi memicu munculnya gangguan fungsional pada lambung
dan usus (functional gastrointestinal disorders), tetapi kini masih menjadi kontroversi.7
Meskipun telah dilakukan studi dalam 10 tahun terakhir ini, penelitian mengenai hubungan
antara Functional Gastointestinal dan faktor psikis masih menunjukkan hasil yang beragam.7
Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan di Australia menunjukkan bahwa terdapat hubungan
antara kondisi psikologis yang umum terhadap Gastointestinal yang persisten (menetap),
sedangkan di Amerika Serikat ditemukan bahwa hampir semua nilai domain kondisi psikologis
berhubungan dengan Functional Gastointestinal dan sindroma gangguan perut (Irritable Bowel
Syndrome).7
Sementara di Indonesia, berdasarkan penelitian pada 120 mahasiswa Intitut Pertanian Bogor
telah menunjukkan bahwa tingkat stres berhubungan dengan munculnya dispepsia. 8 Namun,
belum ada yang penelitian mengenai hal yang sama di Jakarta. Oleh karena itu, peneliti ingin
mengetahui faktor risiko, yaitu tingkat stres yang mungkin dapat berpengaruh terhadap
munculnya penyakit dispepsia. Dalam hal ini dipilih mahasiswa di FKUI karena aktivitas
mahasiwa FKUI yang tinggi mulai dari aktivitas akademik seperti kuliah dan diskusi, aktivitas
non-akademik intra kampus seperti organisasi, hingga aktivitas lain di luar kampus menjadi
penyebab mahasiswa memiliki kesempatan untuk menderita berbagai macam penyakit, termasuk
dispepsia. Telah diakui bahwa mahasiswa kedokteran, terutama mahasiswa FKUI memiliki
banyak tuntutan yang tinggi baik berasal dari keluarga, universitas, dan masyarakat umum dan
hal tersebut dapt memicu timbulnya stres. Kondisi kejiwaan, terutama tingkat stres yang dimiliki
mahasiswa diperkirakan dapat mempengaruhi kesehatan tubuhnya, terutama pada saluran
pencernaannya. Selain itu, pemilihan sampel mahasiswa FKUI bertujuan untuk menjaga
homogenitas sampel sehingga dapat menyingkirkan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi

terjadinya dispepsia seperti aktivitas, konsumsi alkohol, dan rokok. Hasil penelitian diharapkan
dapat memberikan informasi tentang faktor risiko tingkat stres dengan munculnya angka
kejadian dispepsia pada mahasiswa FKUI.