You are on page 1of 7

Gerakan Anti Otoritarian Dalam Melawan Neoliberalisme

Setiap alat adalah senjata jika kamu memegangnya secara benar. (Ani DiFranco)
Sampai saat ini, khususnya di Indonesia, oposisi gerakan anti otoritarian terhadap neo
liberalisme[1] (sistem ekonomi pasar bebas) belum banyak diketahui orang. Tapi kita juga harus
melihat dari banyak hal, ide-ide anti otoritarian di Indonesia bisa dibilang relatif baru
berkembang, dan literatur yang membahas tentang ide-ide anti otoritarian juga belumlah
banyak bila dibanding dengan ide-ide yang berbasiskan tradisi marxis ortodok ataupun yang
lain. Di sisi lain, seringkali juga, sebuah sejarah hilang tanpa menyisakan jejak. Seluruh sejarah
adalah semacam batu tulis, bisa dihapus bersih dan ditulis lagi sesering yang dibutuhkan. Setiap
detil dari apa yang telah ia sumbangkan ke dalam kehidupan manusia dihapus begitu saja,
selayaknya secarik kertas syair yang terbakar. Dan selama ini gerakan-gerakan anti otoritarian
dalam melawan globalisasi kapital[2] selalu tertutup oleh kalangan kiri ortodoks, seakan-akan
selama ini, hanya mereka satu-satunya kelompok yang beroposisi terhadap sistem ekonomi
kapitalisme. Dan terus menertawakan dan menganggap bahwa gerakan yang dilandasi ide-ide
anti otoritarian adalah utopis.
Namun ketika kita menelusuri lebih dalam, banyak ide-ide anti otoritarian (anarkis, marxis
otonomis dan beberapa kecenderungan lainnya) menemukan kembali ruh dalam revolusi pasca
modern melawan globalisasi kapital, yang menjadi kelanjutan sejarah dari keberhasilan terbesar
dan terkuat Anarkisme di Spanyol[3] ataupun gerakan seniman radikal yang membentuk
Situasionis Internasional (1957-1972) [4].
MELAWAN NEO LIBERALISME & KEDAULATAN NASIONAL
Relasi-relasi ekonomi neo liberalisme telah menjadi lebih otonom dari kontrol politik, dan
konsekuensinya kedaulatan politik telah menurun. Beberapa kalangan merayakan era baru ini
sebagai pembebasan ekonomi kapitalis dari pembatasan-pembatasan dan distorsi-distorsi yang
dipaksakan oleh kekuatan-kekuatan politik yang ada sebelumnya, dimana dalam tradisi
Keynesian, Negara sebagai kontrol politik harus ikut campur dalam mengatur mekanisme
pasar. Beberapa kalangan lainnya mengeluhkan ini sebagai tertutupnya saluran-saluran
institusional lewat mana para pekerja dan warga negara bisa mempengaruhi atau menandingi
logika dingin laba kapitalis.
Tentu saja benar bahwa, dalam proses-proses globalisasi, kedaulatan negara-negara bangsa,
meski masih berlaku, telah menurun secara progresif. Faktor-faktor primer produksi dan
pertukaranuang, teknologi, orang dan barangbergerak dengan kemudahan yang makin
meningkat melintasi perbatasan-perbatasan nasional, karena itu, negara-bangsa makin lama
makin tak memiliki kekuasaan untuk mengatur aliran-aliran ini dan memaksakan otoritasnya
terhadap perekonomian. Bahkan negara-negara bangsa yang paling dominan sekalipun
hendaknya tidak lagi dianggap sebagai otoritas yang tertinggi dan berdaulat, baik itu di luar
ataupun di dalam batas-batasnya sendiri. Namun demikian, penurunan dalam kedaulatan
negara-negara bangsa tidak berarti bahwa kedaulatan seperti itu memang telah menurun.
Transformasi-transformasi kontemporer, kontrol-kontrol politik, fungsi-fungsi negara dan

mekanisme-mekanisme pengaturan telah terus mengatur bidang produksi dan pertukaran


ekonomi dan sosial. Michael Hardt dan Antonio Negri kemudian membuat hipotesis dasar
bahwa kedaulatan telah mengambil suatu bentuk baru, yang tersusun atas serangkaian
organisme nasional dan supranasional yang disatukan dalam sebuah logika tunggal. Bentuk
kedaulatan global baru inilah yang Michael Hardt dan Antonio Negri sebut Imperium.
Namun ada perbedaan politik yang mendasar, gerakan-gerakan yang berbasiskan anti
otoritarian dengan tradisi yang dibangun oleh beberapa kalangan, khususnya marxis ortodoks,
yaitu dalam hal menganalisa strategi perlawanan terhadap neo liberalisme, untuk kalangan
pertama, orang bisa berjuang menuju sebuah alternatif non-nasional untuk mengupayakan
terwujudnya hubugan global secara sederajat, kalangan ini bersikap menempatkan diri secara
lebih tegas menentang modal itu sendiri, baik modal yang diatur oleh negara maupun yang
tidak. Dan untuk kalangan kedua, orang bisa bekerja untuk memperkuat kedaultan negaranegara bangsa sebagai suatu perintang defensif terhadap kontrol modal asing dan modal global,
mereka memposisikan neoliberalisme sebagai kategori analitis pokok, dengan memandang
musuh ini sebagai aktivitas kapitalis global yang tak terbatas dengan kontrol negara yang lemah.
Sikap pertama, sebaliknya, menentang solusi nasional apapun, dan sebagai gantinya, berupaya
mewujudkan sebuah globalisasi yang demokratis, semangat internasionalisme. Sikap yang
kedua, barangkali memang tepat disebut sebuah sikap anti-globalisasi, sejauh kedaulatankedaulatan nasional, kendatipun jika dihubungkan oleh solidaritas internasional, berfungsi
untuk membatasi dan mengatur kekuatan-kekuatan globalisasi kapitalis. Dengan demikian,
bagi sikap ini pembebasan nasional tetap merupakan tujuan akhir, seperti halnya bagi
perjuangan-perjuangan anti-kolonial dan anti-imperialis yang lama.
Perbedaan tersebut akan semakin kentara ketika kita melihat bagaimana kedua kalangan itu
menjalankan operasinya. Kalangan pertama, yang terdiri dari berbagai gerakan-gerakan baru
yang telah melakukan aksi-aksi protes dari Seattle, Praha, Genoa, mengorganisir dalam
jaringan-jaringan horisontal, didasarkan pada prisnip-prinsip swa kelola, desentralis,
demokrasi konsesus non-hirarkis. Kalangan kedua, biasanya akan dipenuhi partai-partai
tradisional dan kampanye-kampanye tersentralisir. Dan lebih jauh lagi, di dalam organisasiorganisasi tradisional yang tersentralisir (struktur atas-bawah seperti negara atau perusahaanperusahaan), jajaran puncaknya cenderung ke arah kedaulatan, sedangkan basisnya menjauh
dari kedaulatan.
Berangkat dari analisa tersebut, kalangan marxis ortodoks akan selalu menarik garis batas,
menthok pada kepercayaan bahwa dengan merebut kekuasaan negara (dengan cara apapun,
baik melalui jalur pemilu ataupun perjuangan bersenjata), kekuasaan neo liberalisme akan
mampu dihadang. Ini adalah representasi dari pandangan untuk menguatkan kedaulatan
nasional negara-negara bangsa. Bisa saja kalangan yang mendukung kedaulatan nasional
negara-negara bangsa menuduh sikap yang mendukung alternatif non-nasional sebagai
bermain-main ke dalam tangan neoliberalisme, merongrong kedaulatan negara, membuka jalan
bagi globalisasi lebih jauh, mbalelo tidak mau tunduk pada kedisiplinan organisasi atau partai.
Namun yang perlu diingat dan garis bawahi, bahwa rezim-rezim nasional serta bentuk-bentuk
kedaulatan lainnya, yang seperti biasanya berwatak korup dan menindas, fakta sejarah telah
membuktikan kegagalan-kegagalan dari rejim-rejim itu.

Uni Soviet sebagai negara pertama yang mengembangkan sosialisme negara (etatisme), hal
tersebut jauh dari demokrasi politik. Dan dizaman Stalin semakin mengukuhkan pandangan
bahwa sosialisme negara hanyalah bentuk yang lain dari penindasan. Namun biasanya, para
pendukung marxis ortodoks (di Indonesia cukup memiliki pendukung besar yang sampai
sekarang belum pernah menyerah untuk mengembalikan puing-puing kemegahan istana
Kremlin) akan selalu menjawab bahwa itu hanyalah kesalahan praktek pemimpinnya saja. Jadi
untuk kedepannya, pemimpinnya harus benar-benar yang baik dan dikontrol dengan baik pula,
jawaban yang sangat simpel. Sebuah jawaban yang lebih mencerminkan logika formal
dibanding logika filsafat materialisme dialektik.
Ada satu konsep kunci di dalam sejarah negara-negara yang berorientasi kekirian, dan konsep
itu adalah pengkhianatan. Dari waktu ke waktu, para pemimpin selalu mengkhianati
pergerakan, dan penyebabnya bukanlah karena mereka (para pemimpin tersebut) adalah orangorang yang tidak baik, namun karena negara sebagai sebuah bentuk organisasi memisahkan
para pemimpin dari pergerakan dan lebih jauh lagi, membawa mereka menuju sebuah proses
rekonsiliasi dengan kapital. Dan yang tidak pernah disadari oleh kalangan Marxis ortodoks
adalah, bahwa kapitalisme terus berevolusi demi melanggengkan penghisapannya. Borjuis
sudah tidak hanya berbentuk fisik, melainkan berupa mentalitas psikologis yang terus
diupayakan dan dikembangkan (ironisnya, bahkan termasuk ke dalam urat nadi para proletariat
itu sendiri.) untuk menghancurkan mata rantai gerakan perlawanan proletariat. Pengkhianatan
sudah menjadi sebuah prinsip organiasasi dari negara. Bisakah kita menolaknya? Ya, tentu saja
kita bisa, dan ini adalah sesuatu yang selalu saja terjadi. Kita dapat menolak pemimpinpemimpin atau perwakilan yang ditunjuk oleh negara untuk pergerakan, kita dapat menolak
para delegasi untuk melakukan negosiasi secara tertutup dengan para perwakilan dari negara.
Namun ini mengisyaratkan pemahaman bahwa bentuk organisasi kita sangatlah berbeda
dengan yang ada pada negara, dan tidak ada kemiripan diantara keduanya. Negara adalah
bentuk organisasi yang mewakilkan, dan apa yang kita inginkan adalah organisasi mandiri,
sebuah organisasi yang mengizinkan kita untuk dapat mengartikulasikan apa yang kita
inginkan, apa yang kita putuskan, apa yang kita pertimbangkan penting dan dihasratkan. Apa
yang kita inginkan, dengan kata lain, adalah sebuah bentuk organisasi yang tidak memiliki
orientasi untuk mengambil-alih negara.
Untuk selanjutnya, mari kita jawab keragu-raguan orang yang berpendapat bahwa gerakan yang
dilandasi ide-ide anti otoritarian adalah utopis.
Ada banyak jalan menuju sebuah gunung
Tentara Pembebasan Nasional Zapatista (Ejrcito Zapatista de Liberacin Nacional, EZLN)
Momen itu akhirnya datang, pada malam tahun baru 1 Januari 1994, perlawanan terhadap
globalisasi neo liberal sudah dilakukan sejumlah petani di Chiapas, Meksiko, (negara bagian
paling selatan di Meksiko yang paling kentara kesenjangan kelasnya dan menderita akibat
kebijakan neo liberla pemerintah pusat). Mereka menyebut dirinya Ejrcito Zapatista de
Liberacin Nacional, EZLN (Tentara Pembebasan Nasional Zapatista), yang mengangkat senjata
melawan pemerintah Meksiko yang pro neo liberal. Pemberontakan tersebut pertama kalinya
direpresentasikan sebagai bentuk gagasan perlawanan terhadap neo liberal atau ekonomi pasar
bebas. Secara waktu, pemberontakan tersebut bertepatan waktunya dengan dimulainya

Kesepakatan Perdagangan Bebas Amerika Utara atau NAFTA. Dalam waktu singkat, pejuang
Zapatista[5] yang berjumlah kurang lebih 2.000 orang menduduki enam kotapraja (pemerintah
kota/daerah setingkat propinsi) di Chiapas,. Sambil mencanangkan perang melawan
pemerintah nasional, EZLN juga menyerukan hak untuk menentukan nasib sendiri bagi
masyarakat adat dan kaum tani di kawawasan Chiapas. Retorika sosialis mereka membuat
pemerintah Meksiko mengolok-olok Zapatista sebagai gerombolan gerilyawan Marxis Amerika
Tengah pada umumnya. Namun tak lama kemudian menjadi jelaslah bahwa pemberontakan
Zapatista ini berbeda sama sekali.
EZLN mengajukan program dalam sebelas tuntutan, yakni : pekerjaan, tanah, perumahan,
makanan, perawatan kesehatan, pendidikan, kemerdekaan, kebebasan, demokrasi, keadilan dan
perdamaian.[6] Terlebih lagi kaum Zapatista juga telah melahirkan pertanyaan-pertanyaan
yang mengenai masa depan masyarakat adat (indigeneous people) dihadapan globalisasi
ekonomi dan budaya.[7]
Zapatista adalah pemberontakan yang sangat baru, pemberontakan pertama pasca perang
dingin, dan pemberontakan yang tak perlu mengaitkan diri dengan Marxisme gaya kuno.
Mereka menyerukan agar seluruh rakyat Meksiko menggalang solidaritas untuk penduduk adat
Chiapas, sambil menegaskan bahwa mereka tak punya agenda untuk menata ulang masyarakat
dalam seturut langgam Marxisme dan tak ingin merebut kekuasaan. Zapatista menuai perhatian
dunia karena daya inspirasinya yang mereka sebar sejak awal. Zapatista mengangkat senjata
bukan untuk merebut kekuasaan, tapi untuk menciptakan sebuah ruang demokratis dimana
pertentangan antar pandangan politik yang berbeda-beda (heterogen) bisa dibicarakan. Mereka
ingin menunjukan kepada dunia bahwa cara lain untuk berpolitik itu sungguh ada, yang salah
satunya bisa dilihat dari praktek kehidupan anti otoritarian (demokrasi partisipatoris). Bahkan
EZLN mengundang pengamat dari seluruh dunia, mengundang berbagai kelompok untuk
memantau pemberontakan mereka.
Kelahiran mereka adalah buah dari sejarah perlawanan yang sudah muncul ratusan tahun
silam. Semenjak perlawanan petani yang dimotori oleh Emiliano Zapata berakhir oleh
penghancuran pemerintah Meksiko di tahun 1919. Di tahun 1969, Zapatista Baru dibentuk,
basis anggota mereka sebagian besar adalah masyarakat adat, tapi mereka juga mempunyai
pendukung dari wilayah perkotaan seperti halnya dukungan jaringan internasional. Cikal bakal
revolusioner ELZN dimulai dengan model hirarkis ala gerilyawan Maois pada umunya. Dari
hasil interaksi mereka dengan suku-suku Maya dan kolompok-kelompok etnis (atau masyarakat
adat) di Chiapas, kelompok gerilyawan EZLN menghasilkan rumusan agenda revolusioner gaya
baru. Agenda ini merombak total ide-ide Maois tentang perang gerilya pedesaan yang awalnya
dianut oleh EZLN, struktur komando sentralis mereka mulai dipertanyakan dan dianggap tidak
memadai. Pada saat pemberontakan 1994, EZLN telah berubah menjadi gerakan Zapatista.
Tanpa pucuk pimpinan, tanpa badan ekskutif, tanpa markas besar. Bentuk seperti itu muncul
dari kehidupan masyarakat adat, dan didasari pada gagasan tentang komunitas dan
pengambilan keputusan secara komunal :
Masyarakat adat tidak menganggap diri mereka sebagai pribadi yang berdiri sendiri-sendiri
dalam masyarakat, namun sebagai anggota organik dari suatu komunitas. Mereka berdebat
berjam-jam, semalam suntuk, bulan demi bulan, sebelum sampai pada apa yang mereka sebut

mufakat. Begitu mencapai mufakat, mereka yang tak setuju tak punya pilihan lain : patuh
seperti yang lain atau enyah dari komunitas. ((Dias Tello, La Rebellion de las Canadas (Mexico
City, 1995), dikutip dari David Ronfeld, John Arquilla, Graham E. Fuller dan Melissa Fuller, The
Zapatista Social Netwar in Mexico (Sanata Monica, 1998), hal. 33.))
Subcomandante Insurgente Marcos (pada awalnya adalah seorang Marxis, yang bergerak
melampaui intepretasi ortodoksi Marxis), juru bicara dari kelompok pemberontak pada tahun
1995 bercerita bagaimana Zapatista sampai pada kesadaran bahwa langkah untuk mencapai hak
penentuan nasib sendiri sudah tidak bisa lagi ditempuh lewat jalur kuno oposisi terhadap
pemerintah nasional : Pada saat kami bangkit melawan pemerintah nasional, kami temukan
bahwa pemerintah nasional itu tidak lagi eksis. Pada kenyataanya kami bangkit melawan modal
finansial raksasa, melawan spekulasi dan investasi yang menentukan seluruh keputusan di
Meksiko, sebagaimana di Eropa, Asia, Afrika, Oseania, benua Amerika disegala tempat.
[8] Kesadaran ini disertai oleh penyelarasan kembali arah politik mereka, saat Zapatista terus
mendorong reforma agraria radikal sembari meluaskan konstituennya dan mencari
penyelesaian damai, menghaddapi masalah-masalah jender dan seksual, dan mendorong
globalisasi dari bawah dengan bersikeras menerapkan bentuk pemerintahan desentralis.
Perkembangan pemberontak Zapatista banyak dipengaruhi oleh dukungan yang mereka terima
sepanjang dan sesudah 1994. Dukungan tersebut bukan dukungan militer (walaupun mereka
menyerukan kelompok-kelompok adat lainnya unntuk berontak), tapi datang dalam wujud
solidaritas dari beragam latar belakang. Mereka terkoneksi dengan internet, beberapa
diantaranya juga berangkat ke Chiapas dan membentuk kelompok-kelompok dukungan dan
mengadakan kegiatan-kegiatan ad hoc. Pada Agustus 1996 merek menggelar Pertemuan
Internasional Demi Kemanusiaan dan Melawan Neo liberalisme. Acara ini dihadiri oleh 3.000
delegasi dari sedikitnya 50 negara dan melahirkan gerakan anti kapitalis global.
Pemberontak Zapatista memberikan harapan baru bagi banyak gerakan sosial di masa depan
dalam perjuangan anti kapitalisme di Meksiko maupun di tingkat internasional.
Dunia
lebih
Perjuangan
Salam!

baik,

lebih

indah,
terus

lebih

adil

itu

mungkin.
berlanjut!

Catatan :
1. Sejarah yang terlupakan : Oaxaca
Sejalan dengan maraknya pupularitas para politisi kiri di Amerika latin, ada sejarah yang
terlupakan karena dikalahkan oleh popularitas para elit partai kiri. Sebuah pemberontakan
terjadi di Oaxaca, negara bagian Meksiko. Pemberontakan yang berasal dari akar rumput dan
terlepas dari bayang-bayang elit-elit partai. Terlepas dari apakah para pemberontak itu bisa
dikategorikan sebagai para Marxis atau bukan, para penduduk Oaxaca telah mematerialkan
tatanan masyarakat masa depan dengan menduduki kantor-kantor pemerintahan serta
mengubah menjadi pusat-pusat layanan sosial, mengambil alih alat-alat produksi serta
mengoperasikannya dibawah kontrol para pekerjanya sendiri. Ingat kediktatoran proletariat
non leninis? Sejarah umat manusia adalah sejarah orang-orang besar, saat orang-orang besar

melakukan aksinya semua mata memandang, tapi ketika kalangan akar rumput bergerak
walaupun mereka sudah mampu menendang para birokrat, elit politik, reformis, nyaris semua
orang tak perduli.
2. Dengan caranya sendiri, sebuah kelompok anarkis di Kopenhagen Denmark memberi
sumbangsih praktis pada apa yang masih menjadi tujuan jangka panjang Zapatista dan gerakan
anti kapitalis pada umunya. Para anarkis di Kopenhagen mempraktekkan hidup anarkis
komunis di Kota bebas Christiania (tebagi ke dalam 15 distrik dan telah menjadi tempat tinggal
dan tempat kerja sekitar 650 sampai 1000 orang) yang telah berdiri lebih dari 30 tahun sampai
sekarang. Dan karena resmi disebut sebagai eksperimen sosial, Christiania telah menjadi daya
tarik utama pariwisata untuk para tursi yang ingin tahu prospek gaya hidup anarkis di jantung
negara borjuis modern.
Rekomendasi bacaan :
1.
Anarkisme,
perjalanan
sebuah
gerakan
perlawanan,
Sean
M.
Shehaan
2.
Anarkisme,
paham
yang
tak
pernah
padam,
Dr.
Mansour
Fakih
3.
Empire,
A.
Negri
dan
M.
Hardt
4.
Marxis
otonomis
5.
Mengubah
tanpa
mengambil
kekuassaan,
John
Holloway
6. Porto Alegre : Bandung di masa kini?, Michael Hardt

Catatan Kaki
Terinspirasi dari ekonom Inggris, Adam Smith, yang menerbitkan bukunya The Wealth of
Nations. Dia dianggap sebagai bapak kapitalisme pasar bebas (liberalisme klasik). Dalam
bukunya, dia menganjurkan, bahwa untuk mencapai efesiensi maksimum, semua bentuk
campur tangan pemerintah dalam masalah ekonomi sebaiknya ditanggalkan, dan seharusnya
tak ada pembatasan atau tarif dalam manufaktur serta perdagangan satu bangsa agar bangsa
tersebut bisa berkembang. Namun logika pasar bebas ini sempat mengalami krisis besar pada
periode 1930-an, dan muncullah John Maynard Keynes yang menganjurkan regulasi dan
campur tangan pemerintah sebenarnya dibutuhkan untuk mengatasi krisis kapitalisme. Namun,
dengan alasan bahwa ide-ide Keynesian dianggap mengurangi keuntungan, ide-ide ekonomi
liberal klasik mulai dibangkitkan lagi, dan muncullah terminologi baru neo liberalisme.
Berawal dari Universitas Chichago, dengan filsuf ekonomnya, Friederich von Hayek dan
muridnya, Milton Friedman, ideologi neo liberalisme disebar ke seluruh dunia. Dan doktrindoktrin neo liberalisme semakin mantap di era Ronal Reagan dan Margareth Thatcher. [^]
Globalisasi, dikarenakan penggunaannya yang didominasi untuk kepentingan-kepentingan
kapitalis, sebagai terminology telah mejadi sedemikian rancu. Jika memaknai sesuai denagn
kosa kata yang merunut pada kata global dan imbuhan isasi yang membuatnya menjadi kosa
kata aktif. Globalisasi dapat dimaknai sebagai suatu fenomena ontologism (keterjadian) yang
merujuk pada menjadinya tatanan masyarakat berdasarkan beragam hubungan timbale balik di
antara subyek-subyek di berbagai penjuru dunia. Maka dari itu, selain dari globalisasi dalam
pemaknaan globalisasi capital, kita juga mendapati beragam penggunaan lain dari terminology

globalisasi, di antaranya adalah globalize justice (globalkan keadilan), globalize resistance


(globalkan resistensi). [^]
Momen-momen selama lima puluh enam tahun agitasi dan organisasi yang teguh memuncak
menjadi gerakan revolusioner yang terbesar dan terluas di era moderndi tahun 1936 Federasi
Anarkis Iberia (FAI) yang semi rahasia memiliki anggota sebanyak 30.000 aktifis dan badan
Anarko-Sindikalis CNT memiliki anggota sebanyak 1.500.000 orang. [^]
Mereka membangun sebuah pemahaman yang cukup rumit dan koheren mengenai masyarakat
modern yang represif dan juga tujuan serta taktik untuk menekannya demi mencapai sebuah
dunia baru dengan kebebasan yang absolut. Ide-ide dan metode mereka berada di jantung
pemberontakan Mei 1968 di Perancis dan menginspirasikan kelompok-kelompok radikal dan
yang serupanya di lusinan negara di seluruh dunia. Ide-ide situasionis internasional bisa
ditemukan dibeberapa pamplet dan buku, yang paling terpenting adalah The Revolution of
Everday Life dan The Book of Pleasures yang ditulis oleh Raoul Vaneigem, dan The Society of
Spectacleoleh Guy Debord. [^]
Zapatista mengambil namanya dari pemberontak anarkis Meksiko Emiliano Zapata, lihat
Marshall, Demanding the Impossibel, hal. 511-513. [^]
Neil Harvey dan Chris Halverson, The Secret and the Promise : Womens Struggles in Chiapas,
dalam David Howarth, Alleta. J. Norval, dan Yannis Stavrakakis, Discourse Theory and Political
Analysis : Identities, Hegemonies and Social Change (Manchester ; Manchester University
Press, 2000), hal. 151. [^]
R. Burbach, Roots of Postmodern Rebellion in Chiapas, dalam New Left Review, No. 205
(1994), hal. 113-124. [^]
Dikutip dalam Amory Starr, Naming the Enemy (London, 2000), hal. 104. [^]

You might also like