You are on page 1of 18

A.

ANAMNESIS PSIKIATRI (Allo-Autoanamnesis)


Anamnesis psikiatri dilakukan secara autoanamnesis dan alloanamnesis pada
tanggal 17 Juli 2014.
Alloanamnesis diperoleh dari:
Nama
: Tn. K
Umur
: 40 tahun
Alamat
: Sindang Agung
Hubungan dengan pasien : Saudara kandung laki-laki
I. RIWAYAT PSIKIATRI
a. Keluhan Utama
Pasien marah-marah

sambil

membanting

barang-barang

disekitarnya dan suka berbicara sendiri.


b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke Rumah Sakit Jiwa untuk kedua kalinya dan
diantar oleh saudara kandung laki-laki pasien. Keluarga pasien
mengatakan bahwa pasien sering terlihat sedih, murung, bingung, bicara
sendiri,

serta

marah-marah

sambil

membanting

barang-barang

disekitarnya dan merusak rumah saudara kandung laki-lakinya.


Menurut keluarga, sejak 5 bulan sebelum masuk rumah sakit,
pasien sering merasa sedih, cemas, sering menangis dan lebih suka
mengurung diri di kamar. Kemudian 1 bulan sebelum masuk rumah sakit,
pasien menjadi lebih sering murung, bicara sendiri, marah dan mengamuk
terutama jika kehendak pasien tidak dituruti. Ketika pasien marah, pasien
membanting barang-barang yang ada disekitar rumah dan mencoba
merusak dinding papan rumah saudaranya. Pasien mengatakan bahwa ia
merasa ketakutan karena sering melihat pocong dirumahnya dan merasa
seperti dikejar-kejar oleh seorang laki-laki hingga pasien hampir masuk
sumur untuk bersembunyi dari kejaran tersebut. Pasien juga mengaku
bahwa ia sering marah-marah tanpa sebab yang jelas. Selain itu, pasien
juga sering mendengar bisikan-bisikan seorang laki-laki yang tidak
dikenal dan menyuruh pasien sholat. Semenjak kejadian tersebut, pasien
berhenti bekerja sementara sebagai petani. Menurut keluarga pasien,
pasien baru putus dari pacarnya setelah seminggu pacaran dikarenakan
sang pacar yang hanya memanfaatkan pasien.
1

Pada tahun 2012 pasien pernah masuk Rumah Sakit Jiwa Provinsi
Lampung dengan gejala yang sama, yaitu sering marah-marah, bicara
sendiri, curiga berlebih dengan orang-orang sekitarnya, serta sering
melihat bayangan-bayangan dan mendengar suara-suara yang tidak
dikenal. Di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Lampung, pasien diberikan 3
macam obat, yaitu Chlorpromazin 1x100 mg, Haloperidol 3x5mg, dan
Trihexilphenidil 3x2mg. Setelah menjalani rawat inap selama 1 bulan,
pasien melanjutkan berobat jalan. Setelah beberapa bulan, pasien mulai
jarang meminum obat dan lama kelamaan berhenti mengkonsumsi obat
dikarenakan sudah merasa sehat.
Menurut keluarga pasien, selama ini pasien memang memiliki
kepribadian pendiam dan cenderung tidak terbuka ketika memiliki
masalah.
c. Riwayat Gangguan Sebelumnya
1. Riwayat Gangguan Psikiatri
Pada tahun 2012 pasien pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa
sebelumnya dengan gejala suka marah-marah, gelisah, bingung, dan
curiga berlebih dengan orang-orang sekitarnya.
2.

Gangguan Medik
Riwayat jatuh, kejang disangkal oleh pasien dan keluarganya.

Begitu juga dengan riwayat operasi dan kecelakaan.


3.

Penggunaan Zat Adiktif


Pasien dan keluarga menyangkal penggunaan zat psikoaktif dan

minuman beralkohol. Namun pasien mengaku menghabiskan 4 batang


rokok sehari.
4.

Riwayat Penyakit keluarga


Tidak terdapat penyakit gangguan jiwa serupa di keuarganya.

II. Riwayat Pramorbid


a. Riwayat Kehamilan dan Persalinan
Tidak diketahui.
b. Riwayat Bayi dan Balita
2

Tidak diketahui

c. Masa Anak dan Remaja


Pasien tumbuh dan berkembang seperti anak seusianya. Hubungan sosial
pasien dengan lingkungan cukup baik namun pasien dikenal sebagai anak
yang pendiam.
III.

Riwayat Pendidikan
Pasien menempuh pendidikan sampai lulus Sekolah Menengah Pertama
(SMP) dan tidak melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA)
dikarenakan masalah ekonomi keluarga yang kurang. Keluarga dan pasien
mengatakan bahwa pasien pernah tinggal kelas ketika duduk di bangku
kelas Sekolah Dasar (SD) yaitu kelas 3 SD.

IV.

Riwayat Pernikahan
Pasien belum menikah

V.

Riwayat Pekerjaan
Pasien bekerja sebagai petani. Pasien mengaku walaupun capek namun ia
cukup menikmati pekerjaannya tersebut.

VI.

Riwayat Keluarga
Pasien merupakan anak ke-6 dari 6 bersaudara, terdiri dari 6 laki-laki.
Pasien tinggal sendiri namun rumahnya berdekatan dengan saudara
kandung nomor 4. Hubungan pasien dengan keluarganya cukup baik
namun ketika ada masalah pribadi, pasien jarang menceritakan masalahnya
kepada anggota keluarga yang lain. Di keluarga pasien tidak ada yang
memiliki gangguan jiwa.

Pohon Keluarga

Keterangan :
Pria
Wanita

VII.

Meninggal
Penderita

Situasi Sekarang
Sebelum dirawat di rumah Sakit Jiwa Provinsi Lampung, pasien tinggal
sendirian di sebuah gubuk kecil di dekat rumah saudara laki-laki nomor 4.
Sedangkan saudara-saudara kandung pasien tinggal terpisah dan
semuanya telah berkeluarga. Pasien mengurus diri sendiri di kehidupan
sehari-harinya. Pasien lahir dalam keluarga petani dengan kedua orang tua
telah lama meninggal. Keluarga pasien tergolong keluarga dengan taraf
ekonomi rendah. Hubungan pasien dengan saudara-saudaranya cukup
baik, namun pasien lebih dekat dengan saudara kandung nomor 4.

VIII. Riwayat Kemiliteran


Pasien tidak pernah tinggal di daerah konflik dan tidak pernah dididik
secara militer.
IX.

X.

Riwayat pelanggaran hukum


Pasien tidak memiliki riwayat pelanggaran hukum

Riwayat Psikoseksual
Pasien pernah pacaran beberapa kali. Pasien terakhir berpacaran dengan
gadis tetangga di sekitar rumah namun kemudian sang pacar mengakhiri
hubungannya dengan

pasien. Menurut keluarga pasien, sang pacar

mempermainkan dan hanya ingin memanfaatkan pasien. Kemudian pasien


berusaha mencari gadis tersebut kemana-mana namun tidak ketemu juga.
XI.

XII.

Latar belakang agama


Pasien beragama Islam dan menurut keluarga pasien rajin menjalankan
ibadah sholat 5 waktu di rumah.
Aktivitas sosial
Keluarga mengatakan bahwa pasien memiliki hubungan yang baik dengan
tetangga.

XIII. Longitudinal History

2012
- Sering marahmarah
- Bicara sendiri
- Curiga berlebih
- Melihat bayangan
- Mendengar suara
tidak dikenal
Pasien di rawat di
RSJ Provinsi
Lampung aselama 1
buan

2013

5 bulan SMRS
- Pasien
sering merasa
sedih
- Sering
cemas
- Sering
menangis
- Suka
mengurung

2014
1 bulan SMRS
- Murung
- Marah
- Mengamuk
- Bicara sendiri
- Merasa
ketakutan
- Waham kejar
- Halusinasi
visual

B. STATUS MENTAL
I. Deskripsi Umum
a. Kesadaran
Compos mentis
b. Penampilan
Pasien seorang laki-laki dengan penampilan fisik tampak sesuai usia,
memakai seragam RSJ Provinsi Lampung, rambut hitam pendek, tinggi
sedang, kulit sawo matang, berperawakan kurus, berpakaian cukup rapi dan
kebersihan diri cukup. Pasien tampak duduk tenang selama wawancara.
c. Perilaku dan aktivitas motorik
Selama wawancara pasien bersikap normoaktif, dapat duduk tenang, tidak
ada gerakan involunter dan dapat menjawab pertanyaan dengan baik,
kontak mata baik dan pasien cukup tenang.
d. Pembicaraan
Bicara spontan, lancar, intonasi sedang, volume suara kecil, kualitas cukup,
artikulasi jelas, kuantitas cukup, pembicaraan dapat dimengerti, dan dapat
menjawab sesuai pertanyaan.
e. Sikap terhadap pemeriksa
Kooperatif
II. Keadaan afektif
a. Mood
b. Afek
c. Keserasian
d. Empati

: sedih
: menyempit
: appropriate
: tidak dapat dirasakan

III. Fungsi Intelektual (Kognitif)


a. Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan
Sesuai dengan taraf pendidikan pasien
b. Daya konsentrasi
Baik
c. Orientasi
Waktu
: baik
Tempat : baik
Orang
: baik
d. Daya ingat
Jangka panjang : baik
Jangka menengah : baik
Jangka pendek : baik
e. Pikiran abstrak
Sedikit terganggu
IV.

Gangguan persepsi
6

a. Halusinasi
Terdapat riwayat:
halusinasi visual (+)
halusinasi auditorik (+)
Commanding halusination (+)
halusinasi olafatorik (-)
halusinasi taktil (-)
Saat ini: masih terdapat halusinasi visual
b. Ilusi
: tidak ada
c. Depersonalisas : tidak ada
d. Derealisasi
: tidak ada
V.

Proses berpikir
a. Arus pikiran
Produktivitas
: Baik
Kontinuitas pikiran : Koheren
Hendaya berbahasa : Tidak ada
b. Isi pikiran
Terdapat riwayat waham kejar

VI. Daya Nilai


Norma sosial : baik
Uji daya nilai: baik
VII. Tilikan
Tilikan derajat 1, pasien tidak merasa dirinya sakit, tidak mengerti tentang
penyakitnya
VIII. Taraf dapat dipercaya
Dapat dipercaya
IX.

Persepsi pasien tentang diri dan kehidupannya


Pasien saat ini tidak menyadari bahwa dirinya dalam keadaan sakit

C. PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan Umum
Kesadaran
Tanda vital:
Tekanan darah
Nadi
Suhu
Pernafasan
Kepala
Mata
Mulut dan Gigi
Sistem kardiovaskular

: baik
: compos mentis
: 110/80 mmHg
: 80 x/menit
: tidak febris
: 20 x/menit
: Normocephali
: Konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterik,
: Higiene kurang
: kesan dalam batas normal
7

Sistem muskuloskeletal
Sistem gastrointestinal
Sistem urogenital
Kesan

: kesan dalam batas normal


: kesan dalam batas normal
: kesan dalam batas normal
: Tidak ada kelainan fisik.

D. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Pasien seorang laki-laki, 35 tahun, dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Provinsi

Lampung untuk kedua kalinya pada tanggal 11 Juni 2014


Penampilan fisik sesuai usianya, rambut hitam pendek, tinggi sedang, kulit

sawo matang, berperawakan kurus, dan kebersihan diri cukup.


5 bulan yang lalu, pasien tiba-tiba menjadi sering merasa sedih, cemas, sering

menangis dan lebih suka mengurung diri di kamar.


1 bulan yang lalu, pasien menjadi lebih sering murung, bicara sendiri, marah
dan mengamuk terutama jika kehendak pasien tidak dituruti. Kemudian pasien
merusak rumah saudara kandung laki-laki nomor 4 sehingga pasien dibawa ke

Rumah Sakit Jiwa.


Tidak terdapat gangguan medis dan tidak terdapat riwayat pemakaian zat

psikoaktif dan alkohol.


Pada saat wawancara, pembicaraan spontan, dapat menjawab pertanyaan

dengan sesuai, dan bersikap kooperatif.


Terdapat halusinasi visual dan halusinasi auditorik yang bersifat commanding
Gangguan isi pikir terdapat waham kejar

E. FORMULASI DIAGNOSTIK
Pada pasien terdapat pola perilaku atau psikologis yang secara bermakna dan
khas berkaitan dengan suatu gejala yang menimbulkan hendaya (disfungsi) dalam
berbagai fungsi psikososial. Terdapat pula penderitaan (disstres) yang dialami
oleh pasien. Dengan demikian dapat disimpulkan pasien mengalami gangguan
jiwa.
Diagnosis Aksis I :
Berdasarkan anamnesis, pasien tidak memiliki riwayat cedera kepala, riwayat
tindakan operatif, dan riwayat kondisi medik lain yang dapat secara langsung
ataupun tidak langsung mempengaruhi fungsi otak. Berdasarkan pemeriksaan
fisik juga tidak ditemukan kondisi medis umum yang dapat mempengaruhi
fungsi otak. Pasien tidak mengalami gangguan yang bermakna yang
8

menimbulkan gangguan jiwa. Oleh karena itu, gangguan mental organik (F0009) dapat disingkirkan.
Pada pasien tidak didapatkan riwayat penggunaan zat psikoaktif, seperti
merokok, minum alkohol dan pemakaian narkoba sehingga diagnosis
gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif (F10-19)
dapat disingkirkan.
Berdasarkan ikhtisar penemuan bermakna, maka kasus ini dapat digolongkan
kedalam:
Gangguan Skizofrenia (berdasarkan PPDGJ III)
Pedoman diagnostik:
Persyaratan yang normal untuk diagnosis skizofrenia ialah harus ada
sedikitnya satu gejala tersebut di bawah yang amat jelas (dan biasanya
dua gejala atau lebih apabila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang
jelas) dari gejala yang termasuk salah satu dari kelompok gejala (a)
sampai (d) tersebut di bawah, atau paling sedikit dua gejala dari
kelompok (e) sampai (h), yang harus selalu ada secara jelas selama
kurun waktu 1 bulan atau lebih.
(a) thought echo, thought insertion atau withdrawal, dan thought
broadcasting
(b) Waham dikendalikan (delusion of control), waham dipengaruhi
(delusion of influence), atau passivity yang jelas merujuk kepada
pergerakan tubuh atau pergerakan anggota gerak, atau pikiran, perbuatan
atau perasaan (sensations) khusus : persepsi delusional
(c) Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap
perilaku pasien, atau mendiskusikan perihal pasien di antara mereka
sendiri, atau jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu
bagian tubuh
(d) Waham-waham menetap jenis lain yang menurut budayanya dianggap
tidak wajar serta sama sekali mustahil, seperti misalnya mengenai
identitas keagamaan atau politik, atau kekuatan dan kemampuan
manusia super (misalnya

mampu mengendalikan cuaca, atau

berkomunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain)


(e) Halusinasi yang menetap dalam setiap modalitas, apabila disertai baik
oleh waham yang mengambang/melayang maupun yang setengah
berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun oleh ide-ide

berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap


hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus menerus
(f) Arus pikiran yang terputus atau yang mengalami sisipan (interpolasi)
yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau
neologisme
(g) Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), sikap
tubuh tertentu (posturing), atu fleksibilitas serea, negativisme, mutisme
dan stupor
(h) Gejala-gejala negatif seperti sikap sangat masa bodoh (apatis),
pembicaraan yang terhenti, dan respons emosional yang menumpul atau
tidak wajar, biasanya mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial
dan menurunnya kinerja sosial, tetapi harus jelas bahwa semua hal
tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika
(i) Suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan
dari beberapa aspek perilaku perorangan, bermanifestasi sebagai
hilangnya minat, tak bertujuan, sikap malas, sikap berdiam diri (self
absorbed attitude) dan penarikan diri secara sosial.
Berdasarkan PPDGJ III, maka kasus ini dtitikberatkan pada:
Gangguan skizoafektif tipe depresif
Pedoman diagnostik :
Kategori ini harus dipakai baik untuk episode skizoafektif tipe depresif
yang tunggal dan untuk gangguan berulang dimana sebagian besar
episode didominasi oleh skizoafektif tipe depresif.
Afek depresif harus menonjol, disertai oleh sedikitnya dua gejala khas,
baik depresifmaupun kelainan perilaku yang terkaitseperti tercantum
dalam uraian untuk episode depresif
Dalam episode yang sama, setidaknya harus jelas ada satu, dan sebaliknya
ada dua, gejala khas skizofrenia (sebagaimana ditetapkan dalam pedoman
diagnosis skizofrenia (a) sampai (d).
Diagnosis aksis II
Untuk saat ini, diagnosis aksis II pada pasien belum dapat ditentukan.
Diagnosis aksis III
Untuk saat ini, diagnosis aksis II pada pasien belum dapat ditentukan.
Diagnosis aksis IV
Pada anamnesis didapatkan masalah berupa putus obat dan putus cinta.
10

Diagnosis aksis V
Skala GAF :
GAF saat masuk : 60-51 (gejala sedang (moderate), disabilitas sedang).
GAF saat ini: 70-61 (berupa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan
dalam fungsi, secara umum masih baik).
EVALUASI MULTIAKSIAL
Aksis I : Skizoafektif tipe depresif
Aksis II : Belum dapat ditentukan
Aksis III : Tidak ada diagnosis
Aksis IV : Putus obat, putus cinta
Aksis V : GAF current skala 70-61
F. DAFTAR PROBLEM
A. Organobiologik
Tidak ditemukan adanya kelainan fisik yang bermakna, tetapi diduga terdapat
ketidakseimbangan neurotransmitter. Oleh karena itu pasien memerlukan
psikofarmakologi.
B. Psikologik
1. Terdapat riwayat gangguan menilai realita yaitu berupa halusinasi
auditorik dan halusinasi visual.
2. Terdapat gangguan isi pikir berupa waham kejar (delusion of reference)
3. Terdapat perubahan emosi yaitu menjadi lebih murung dan sedih saat tidak
mengkonsumsi obat lagi.
C. Psikoedukasi: Pada pasien, dan keluarga diberikan pemahaman agar lebih
membuka komunikasi sehingga masalah apapun tidak menjadi beban bagi
pasien sendiri. Selain itu, edukasi mengenai pengobatan juga harus diberikan.
Keluarga merupakan tenaga suportif utama yang dibutuhkan oleh pasien.
G. PROGNOSIS
Faktor yang memperingan:
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Keterangan
Onset lambat
Faktor pencetus jelas
Onset akut
Riwayat sosial, seksual dan pekerjaan premorbid yang
baik
Gangguan mood
Mempunyai pasangan
Riwayat keluarga dengan gangguan mood
Sistem pendukung yang baik
Gejala positif

Check List

11

Faktor yang memperberat:


No.
1.
2.
3.
4.

Keterangan
Onset muda
Faktor pencetus tidak jelas
Onset kronis
Riwayat sosial, seksual, dan pekerjaan premorbid yang

5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.

jelek
Perilaku menarik diri dan atistik
Tidak menikah, cerai, janda duda
Riwayat keluarga skizofrenia
Sistem pendukung yang buruk
Gejala negatif
Tanda dan gejala neurologis
Tidak ada remisi dalam tiga tahun
Banyak relaps
Riwayat trauma perinatal

Check List

Kesimpulan:
Ad Vitam

: Dubia Ad bonam

Ad Fungtionam

: Dubia Ad bonam

Ad Sanationam

: Dubia Ad bonam

H. Rencana Terapi
1. Pemeriksaan laboratorium SGOT/SGPT untuk mengetahui fungsi hati terkait
efek samping obat
2. Psikofarmaka
Haloperinol 3x5 mg
Trihexilphrenidil 3x2 mg
Amitriptilin 3x25 mg
3. Psikoterapi
Ventilasi :
Memberikan kesempatan kepada pasien untuk menceritakan keluhan dan

isi hati serta pikiran sehingga mengurangi beban pasien.


Konseling :
Menjelaskan dengan pasien secara bertahap mengenai kondisi pasien dan
menumbuhkan semangat pasien untuk menjalani pengobatan.
Psikoedukasi
:

12

Memberikan penjelasan pada keluarga pasien terutama kepada orang tua


dan suami pasien untuk menghentikan konflik dan memberikan dorongan
dan menciptakan lingkungan yang kondusif.

II. PEMBAHASAN

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang telah dilakukan, maka


dapat disimpulkan bahwa pada pasien ini terdapat gangguan persepsi yaitu berupa
halusinasi auditorius yang bersifat commanding, halusinasi visual dan waham kejar.
Halusinasi auditorius pada pasien ini salah satunya dapat disimpulkan dari pernyataan
pasien mengenai suara hati yang meminta dia untuk mengerjakan sholat, sedangkan
halusinasi visual pada pasien disimpulkan dari pernyaaan yang menyebutkan bahwa ia
sering melihat pocong di rumahnya. Selain gangguan persepsi, pada pasien ini juga
terdapat gangguan isi fikir, yaitu waham kejar yang membuat pasien ketakutan dan
ingin bersembunyi di sumur.. Sehingga dapat disimpulkan pada pasien ini terdapat
gangguan persepsi dan isi pikir yang bermakna serta menimbulkan suatu distress
(penderitaan) dan disability (hendaya) dalam pekerjaan dan kehidupan sosial pasien
sehingga dapat disimpulkan bahwa pasien mengidap gangguan jiwa.
Pada pasien ini, tidak ditemukan riwayat trauma kepala,demam tinggi,
ataupun kejang sebelumnya atau pun kelainan organik. Pasien juga tidak pernah
adanya riwayat penggunaan zat psikoaktif. Hal ini menjadi dasar untuk
menyingkirkan diagnosis gangguan mental organik (F0) dan penggunaan zat
psikoaktif (F1).
Pada pemeriksaan status mental Tn.IS didapatkan perubahan yang konsisten
dan bermakna dalam mutu keseluruhan dari beberapa aspek perilaku pribadi,
bermanifestasi terhadap hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu,
dan sikap larut dalam diri sendiri. Dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, pada
pasien ini ditemukan perubahan suasana mood atau afek yang lebih mengarah pada
depresi, dan kedua gejala ini sama-sama menonjol sehingga penulis mendiagnosa
13

pasien ini dengan F25.1 Gangguan Skizoafektif Tipe Depresif dengan diagnosis
banding F.32.3 Episode Depresif Berat dengan Gejala Psikotik sebagai diagnosa aksis
1.
Kondisi pada pasien ini memenuhi pedoman diagnostik F25.1 Gangguan
skizoafektif tipe depresif menurut PPDGJ, sebagai berikut :

Kategori ini harus dipakai baik untuk episode skizoafektif tipe depresif
tunggal, dan untuk gangguan yang berulang dimana sebagian besar episode

didominasi oleh skizoafektif tipe depresif.


Afek depresif harus menonjol, disertai oleh sedikitnya dua gejala khas, baik
depresif maupun kelainan perilaku terkait seperti tercantum dalam uraian

untuk episode depresif (F32)


Dalam episode yang sama, sedikitnya harus jelas ada satu, dan sebaiknya ada
dua, gejala khas skizofrenia (sebagaimana ditetapkan dalam pedoman
diagnostik skizofrenia, F20.-, (a) sampai (d)).
Diagnosis banding aksis 1 pada pasien ini adalah episode depresif berat

dengan gejala psikotik karena pada pasien ini memenuhi 3 gejala utama depresi yaitu
afek depresif, kehilangan minat dan kegembiraan, mudah lelah dan menurunnya
aktivitas. Selain itu, kondisi pasien juga memenuhi 4 gejala lainnya yaitu gagasan
tentang rasa bersalah dan tidak berguna, tidur terganggu dan nafsu makan terganggu.
Episode depresif yang dialami pasien lebih dari 2 minggu dan dengan kondisi pasien
yang sekarang, pasien sulit meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah
tangga. Waham bersalah dan waham nihilistik tertanam kuat pada pasien ini.
Sehingga, episode depresif berat dengan gejala psikotik dapat menjadi diagnosis
banding.
Diagnosis aksis II pada pasien ini adalah F60.3 Gangguan Kepribadian
Emosional Tak Stabil. Hal ini berdasarkan pada pedoman diagnosis di PPDGJ yang
menyebutkan bahwa :

Terdapat kecenderungan yang mencolok untuk bertindak secara impulsif


tanpa mempertimbangkan konsekuensinya bersamaan dengan ketidakstabilan

emosional.
Dua varian yang khas adalah berkaitan dengan impulsivitas dan kekurangan
pengendalian diri.

14

Pada pasien ini terlihat tindakan percobaan menggergaji kepala atau


membolongi kepala tanpa mempertimbangkan konsekuensi disertai ketidakstabilan
emosi.
Saat masa anak-anak dan remaja, pasien tumbuh sesuai dengan usianya.
Pasien juga dapat menyelesaikan pendidikan hingga jenjang SMP namun tidak
melanjutkan ke jenjang SMA dikarenakan masalah ekonomi keluarga yang kurang.
Hal ini menyingkirkan diagnosis retardasi mental (F.70).
Diagnosis aksis III tidak didapatkan adanya kelainan medis yang berarti.
Untuk diagnosis IV, penulis menemukan adanya permasalahan mengenai
putus obat dan putus cinta.
Penilaian terhadap kemampuan pasien untuk berfungsi dalam kehidupannya
menggunakan skala GAF (Global Assesment of Function). Pada saat dilakukan
wawancara, skor GAF 70-61 yaitu berupa gejala ringan dan menetap, disabilitas
ringan dalam fungsi, secara umum masih baik.
Modalitas terapi yang utama untuk gangguan skizoafektif adalah perawatan
di Rumah Sakit, medikasi dan intervensi psikososial. Untuk psikofarmaka, dipilih
golongan antipsikotik dan antidepresan. Antipsikotik lini pertama yang digunakan
adalah golongan tipikal yaitu Haloperidol 3x5 mg.
Mekanisme kerja obat anti-psikosis tipikal adalah memblokade Dopamine
pada reseptor pasca-sinaptik neuron di otak, khususnya di sistem limbik dan sistem
ekstrapiramidal (dopamine D2 receptor antagonist). Sedangkan obat anti-psikosis
yang baru (atipikal) disamping berafinitas terhadap Dopamine D2 Receptors, juga
terhadap Serotonine 5 HT Receptors (Serotoninedopamine antagonist). Selain itu,
digunakan golongan antidepresan SSRI yaitu amitriptilin 3x25 mg. Sindrom depresi
disebabkan

oleh

defisiensi

relatif

salah

satu

atau

beberapa

aminergic

neurotransmitter (noradrenalin, serotonin, dopamin) pada celah sinaps neuron di SSP


(khususnya pada sistem limbik) sehingga aktivitas reseptor serotonin menurun.
Mekanisme kerja antidepresan adalah dengan menghambat re-uptake aminergic
neurotransmitter dan menghambat penghancuran enzim monoamine oksidase.
Sehingga terjadi peningkatan jumlah aminergic neurotransmitter pada celah sinaps
neuron tersebut yang dapat meningkatkan aktivitas reseptor serotonin.
Sebagai suatu kelompok, pasien dengan gangguan skizoafektif mempunyai
prognosis di pertengahan antara prognosis pasien dengan skizofrenia dan prognosis
15

pasien dengan gangguan mood. Sebagai suatu kelompok, pasien dengan gangguan
skizoafektif memiliki prognosis yang jauh lebih buruk Dripada pasien dengan
gangguan depresif, memiliki prognosis yang lebih buruk daripada pasien dengan
gangguan bipolar dan memiliki prognosis yang lebih baik daripada pasien dengan
skizofrenia. Generalitas tersebut telah didukung oleh beberapa penelitian yang
mengikuti pasien selama 2-5 tahun setelah episode yang ditunjuk dan juga perjalanan
gangguan itu sendiri. Walaupun tampaknya tidak terdapat perbedaan yang
berhubungan dengan jenis kelamin pada hasil akhir gangguan skizoafektif, beberapa
data menyatakan bahwa perilaku bunuh diri mungkin lebih sering pada wanita dengan
gangguan skizoafektif daripada laki-laki dengan gangguan tersebut. Insidensi bunuh
diri di antara pasien dengan gangguan skizoafektif diperkirakan sekurangnya 10
persen.

16

Riwayat perjalanan Penyakit

Tahun 2012

Sering marahmarah
Bicara sendiri
Curiga berlebih
Melihat bayangan
Mendengar suara
tidak dikenal

Dirawat di RSJ Prov.


Lampung sekitar 1
bulan

Tahun 2014
(5 bulan SMRS)

- Pasien sering
merasa sedih
- Sering cemas
- Sering menangis
- Suka mengurung
diri di kamar

Tahun 2014
(1 bulan SMRS)

- Murung
- Marah
- Mengamuk
- Bicara sendiri
- Merasa
ketakutan
- Waham kejar
- Halusinasi
auditorik
- Halusinasi
Dirawat di RSJ Prov.
Lampung sampai
sekarang

17

DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI. Pedoman
Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III. Cetakan
Pertama. 1993.
Kaplan, HI dkk. 1997. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis
Ed : 7, Jilid : 1. Binarupa Aksara : Jakarta.
Maslim, Rusdi. 2007. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik Ed : 3.
PT Nuh Jaya : Jakarta.

18