You are on page 1of 16

BAB II

PENGERTIAN METODE PEMBELAJARAN


EKSTRAKURIKULER BIOLA

2.1 Pengertian Metode Pembelajaran


Pembelajaran merupakan suatu proses yang sistematis melalui tahap
rancangan, pelaksanaan dan evaluasi. Dalam hal ini pembelajaran tidak terjadi
seketika, melainkan sudah melalui tahapan rancangan. Proses pembelajaran
aktifitasnya dalam bentuk interaksi belajar mengajar dalam suatu interaksi
edukatif, yaitu interaksi yang sadar akan tujuan, artinya interaksi yang telah
dicanangkan untuk suatu tujuan tentunya setidaknya adalah pencapaian tujuan
intruksional atau tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan pada satuan
pelajaran. Kegiatan pembelajaran yang diprogamkan guru merupakan kegiatan
integralistik antara pendidik dengan peserta didik. Kegiatan pembelajaran secara
metodologis berakar dari pihak pendidik yaitu guru, dan kegiatan belajar secara
pedagogis berakar dari pihak peserta didik (Dewi, 2004:1).
Para ahli psikologi umumnya sependapat, bahwa peserta didik mudah
memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai dengan contohcontoh kongkret dan wajar, sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi
dengan mengalami atau mempraktekannya sendiri. Dalam proses pendidikan dan
pembelajaran

pembangunan

konsep

semestinya

tidak

dilepaskan

dari

pengembangan sikap dan pananaman nilai-nilai ke dalam diri peserta didik.


Proses pendidikan melibatkan banyak hal yaitu: (a) subjek yang dibimbing
(peserta didik); (b) orang yang membimbing (pendidik); (c) interaksi antara

Universitas Sumatera Utara

peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif); (d) ke arah mana bimbingan
ditujukan (tujuan pendidikan); (e) pengaruh yang diberikan dalam bimbingan
(alat dan metode); (f) cara yang digunakan dalam bimbingan (alat dan metode);
(g) tempat dimana tempat bimbingan berlangsung yaitu lingkungan pendidikan
(Hartoto, 2009:1).
Cepat lambatnya peserta didik dalam belajar biola sangat erat kaitannya
dengan metode yang dipakai karena berpengaruh dengan cocok apa tidaknya
metode itu diterapkan. Suatu metode mempunyai cara-cara yang berbeda dengan
metode yang lain sehingga harus melihat lingkungan keluarga, lingkungan
sekolah, lingkungan masyarakat. Oleh karena itu salah satu yang bertanggung
jawab dalam pendidikan adalah guru.

2.1.1

Psikologi pendidikan
Psikologi pendidikan sendiri adalah studi yang sistematis terhadap proses

dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan


adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar.
Dari batasan di atas terlihat adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi
pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan apabila
beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa lapangan utama studi
psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan
memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses
dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar (Supriadi, 2006:1).

Universitas Sumatera Utara

Konsentrasi pada persoalan belajar yakni persoalan-persoalan yang


senantiasa melekat pada subjek didik, maka konsumen utama psikologi
pendidikan ini pada umumnya adalah pada pendidik. Mereka memang dituntut
untuk menguasai bidang ilmu ini supaya mereka dalam menjalankan fungsinya,
dapat menciptakan kondisi-kondisi yang memiliki daya dorong yang besar
terhadap berlangsungnya tindakan-tindakan belajar secara efektif (Supriadi,
2006:1).
Samuel Smith telah mengadakan studi mengenai 18 buku tentang
psikologi pendidikan yang dipandang baik. Smith menggolong-golongkan
persoalan yang dikupas oleh para ahli yang diselidikinya itu menjadi 16 macam,
yaitu: 1. The science of educational psychology (ilmu psikologi pendidikan); 2.
Heredity (turun-temurun), 3. Physical structure (struktur fisik), 4. Growth
(perkembangan), 5. Behavior processes (proses perilaku), 6. Nature and scope of
learning (sifat dan ruang lingkup pembelajaran), 7. Factors that condition
learning (faktor kondisi belajar), 8. Law and theories of learning (hukum dan
teori pembelajaran), 9. Measurement: Basic principles and definitions (prinsip
dasar pengukuran dan

definisi), 10. Transfer of training: subyect matter

(mentransfer materi pelatihan), 11. Practical aspect of measurement (aspek


praktis pengukuran), 12. Element of statistics (unsur statistik), 13. Mental hygiene
(kesehatan mental), 14. Character education (pendidikan karakter), 15.
Psychology of secondary school subject (psikologi sekolah menengah subjek),
dan 16. Psychology of elementary school subject (psikologi subjek SD)
(Suryabrata, 2002: 2-3).

Universitas Sumatera Utara

Dari enam belas poin di atas yang dapat digunakan dalam pembelajaran
biola yaitu: struktur fisik, ruang lingkup pembelajaran, faktor kondisi belajar,
materi pelatihan atau pembelajaran, dan kesehatan mental. Dalam pembelajaran
biola struktur fisik (anatomi) sangat penting kaitannya dengan metode apa yang
cocok digunakan, sedangkan ruang lingkup pembelajaran dan faktor kondisi
belajar sangat penting kaitannya dengan keinginan dan kepuasan saat seseorang
berlatih dan bermain.
Umumnya orang beranggapan bahwa pendidik adalah sosok yang
memiliki

sejumlah

besar

pengetahuan

tertentu

dan

berkewajiban

menyebarluaskannya kepada orang lain. Demikian juga subjek didik sering


dipersepsikan sebagai sosok yang bertugas mengkonsumsi informasi-informasi
dan pengetahuan yang disampaikan pendidik. Semakin banyak informasi
pengetahuan yang mereka serap atau simpan semakin baik nilai yang mereka
peroleh dan akan semakin besar pula pengakuan yang mereka dapatkan sebagai
individu terdidik (Supriadi, 2006:1).
Anggapan-anggapan seperti ini mesti sudah berusia cukup tua, tidak dapat
dipertahankan lagi. Fungsi pendidik memberikan informasi pengetahuan
sebanyak-banyaknya kepada subjek didik dan fungsi subjek didik menyerap dan
mengingat-ingat keseluruhan informasi itu semakin tidak relevan lagi.
Mengingat bahwa pengetahuan itu sendiri adalah sesuatu yang dinamis dan tidak
terbatas. Dengan kata lain pengetahuan-pengetahuan hanya bersifat sementara
dan berubah-ubah, tidak mutlak. Gugus pengetahuan yang dikuasai dan
disebarluaskan saat ini secara relatif. Mungkin hanya berfungsi untuk saat ini dan

Universitas Sumatera Utara

tidak untuk lima hingga sepuluh tahun ke depan. Karena itu, tidak banyak artinya
memberikan informasi pengetahuan kepada subjek didik apalagi bila hal itu
terlepas dari konteks pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Namun demikian
bukan berarti fungsi tradisi pendidik untuk menyebarkan informasi pengetahuan
harus dipupuskan sama sekali. Fungsi ini perlu dipertahankan, tetapi harus
dikombinasikan dengan fungsi-fungsi sosial yang lebih luas, yaitu membantu
subjek didik untuk memadukan informasi-informasi yang terpecah-pecah dan
tersebar ke dalam satu falsafah yang utuh. Dengan kata lain dapat diungkapkan
bahwa menjadi seorang pendidik dewasa ini berarti juga menjadi penengah di
dalam perjumpaan antara subjek didik dengan himpunan informasi faktual yang
setiap hari mengepung kehidupan mereka (Supriadi, 2006: 1).
Seorang pendidik harus mengetahui dimana letak sumber-sumber
informasi pengetahuan tertentu dan mengatur mekanisme perolehannya apabila
sewaktu-waktu diperlukan oleh subjek didik. Dengan perolehan informasi
pengetahuan tersebut, pendidik membantu subjek didik untuk mengembangkan
kemampuannya mereaksi dunia sekitarnya. Pada momentum inilah tindakan
belajar dalam pengertian yang sesungguhya terjadi, yakni ketika subjek didik
belajar mengkaji kemampuannya secara realistis dan menerapkannya untuk
mencapai kebutuhan-kebutuhannya (Supriadi, 2006:1).
Deskripsi di atas terlihat bahwa indikator dari satu tindakan belajar
dikatakan berhasil apabila subjek didik telah mengembangkan kemampuannya
sendiri. Lebih jauh lagi bila subjek didik berhasil menemukan dirinya sendiri

Universitas Sumatera Utara

menjadi dirinya sendiri. Faure pada tahun 1972 menyebutnya sebagai learning
to be (Supriadi, 2006:1).
Tugas pendidik untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi
berlangsungnya tindakan belajar secara efektif. Kondisi yang kondusif itu tentu
lebih dari sekedar memberikan penjelasan tentang hal-hal yang termuat di dalam
buku teks, melainkan mendorong, memberikan inspirasi, memberikan motifmotif dan membantu subjek didik dalam upaya mereka mencapai tujuan-tujuan
yang diinginkan (Supriadi, 2006:1).
Bagi beberapa pserta didik, belajar memainkan alat musik berarti
mempelajari sebuah repertoar yang telah tertulis untuk sebuah alat musik.
Kebanyakan pendidikan menggunakan orientasi visual untuk memperkenalkan
lagu baru yang dimainkan dengan membaca dan berlatih beberapa sesi yang
biasanya dalam rangka mempersiapkan sebuah konser atau menjelang ujian. Pada
kasus seorang pemain musik yang sudah ahli dan mencapai tingkat tinggi, yang
familiar dengan notasi sebagai hasil dari berbagai jenis latihan, sangat
memungkinkan baginya untuk mendalami musik dan mempertunjukannya
melalui memori tanpa bantuan notasi musik. Esensi dari pendekatan ini adalah
orientasi visual dimana seorang musisi belajar memainkan musik dengan cara
membaca dan belajar notasi musik (Djohan, 2003:177-178).
Fungsi pendidik sebagai motivator, inspirator, dan fasilitator dapat
dilakukan dengan baik, maka pendidik perlu memahami faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi proses dan hasil belajar subjek didik. Faktor-faktor itu lazim
dikelompokkan atas dua bagian, yaitu:

Universitas Sumatera Utara

2.1.1.1 Faktor fisiologis


Faktor-faktor fisiologis ini mencakup faktor metode pembelajaran, faktor
lingkungan, dan faktor kondisi individual peserta didik. metode pembelajaran
menentukan bagaimana proses dan hasil belajar yang akan dicapai peserta didik.
Karena itu, penting bagi pendidik untuk mempertimbangkan kesesuaian metode
pembelajaran dengan tingkat kemampuan subjek didik, juga melakukan gradasi
materi pembelajaran dari tingkat yang paling sederhana ke tingkat lebih
kompleks.
Faktor lingkungan yang meliputi lingkungan alam dan lingkungan sosial
juga perlu mendapat perhatian. Belajar dalam kondisi alam yang segar selalu
lebih efektif dari pada sebaliknya. Demikian pula belajar pada pagi hari selalu
memberikan hasil yang lebih baik dari pada sore hari. Sementara itu, lingkungan
sosial yang hiruk pikuk, terlalu ramai, juga kurang kondusif bagi proses dan
pencapaian hasil belajar yang optimal. Dalam bermain musik seseorang harus
fokus dan konsentrasi dengan apa yang dia pelajarinya, karena tidak mungkin
seseorang bermain musik dengan kondisi lingkungan yang tidak mendukung.
Faktor fisiologis lainnya yang berpengaruh terhadap proses dan hasil
belajar adalah kondisi individual subjek didik sendiri. Subjek didik yang berada
dalam kondisi jasmani yang kurang segar tidak akan memiliki kesiapan yang
memadai untuk memulai tindakan belajar (Supriadi, 2006: 2).
Faktor-faktor psikologis yang berpengaruh terhadap proses dan hasil
belajar jumlahnya banyak dan masing-masingnya tidak dapat dibahas terpisah.
Perilaku individu termasuk

perilaku

belajar

yang merupakan

totalitas

Universitas Sumatera Utara

penghayatan dan aktivitas yang lahir sebagai hasil akhir saling pengaruh antara
berbagai gejala seperti perhatian, pengamatan, ingatan, pikiran dan motif.

2.1.1.2 Perhatian
Peserta didik yang memberikan perhatian intensif dalam belajar akan
memetik hasil yang lebih baik. Perhatian intensif ditandai oleh besarnya
kesadaran yang menyertai aktivitas belajar. Perhatian intensif subjek didik ini
dapat dieksploitasi 2 sedemikian rupa melalui strategi pembelajaran tertentu
(Supriadi, 2006:2). Seperti menyediakan materi pembelajaran yang sesuai dengan
peserta didik (metode), seperti memberikan perhatian lebih ketika seorang peserta
didik bosan atau kesulitan dalam suatu teknik atau lagu.

2.1.1.3 Pengamatan
Pengamatan adalah cara pengenalan dunia oleh subjek didik melalui
penglihatan, pendengaran, perabaan, pembauan, dan pengecapan. Pengamatan
merupakan gerbang baik masuknya pengaruh dari luar ke dalam individu subjek
didik, karena itu pengamatan penting artinya bagi pembelajaran (Supriadi,
2006:2).
Seseorang belajar musik penglihatan dan pendengaran adalah dua hal
yang tidak dapat terpisahkan. Penglihatan digunakan untuk belajar dan membaca
notasi sedangkan pendengaran sangat penting untuk membedakan benar atau
tidaknya nada (intonasi).

Pendayagunaan atau pemanfaatan

Universitas Sumatera Utara

2.1.1.4 Ingatan
Secara teoretis, ada tiga aspek yang berkaitan dengan berfungsinya
ingatan, yaitu: 1. menerima kesan, 2. menyimpan kesan, dan 3. mereproduksi
kesan. Mungkin karena fungsi-fungsi inilah, istilah ingatan selalu didefinisikan
sebagai kecakapan untuk menerima, menyimpan, dan mereproduksi kesan.
Kecakapan menerima kesan sangat sentral peranannya dalam belajar. Melalui
kecakapan inilah subjek didik mampu mengingat hal-hal yang dipelajarinya.
(Supriadi, 2006:2).
Pengembangan teknik pembelajaran juga lebih mengesankan bagi subjek
didik, terutama untuk materi pembelajaran yang berupa rumus-rumus atau urutanurutan lambang tertentu, contoh yang menarik adalah mengingat tanda mula
dalam tangga nada 1# G (gudeg), 2# D (djogja), 3# A (amat), 4# E (enak) dan
sebagainya (Supriadi, 2006: 2).
Hal lain dari ingatan adalah kemampuan menyimpan kesan atau
mengingat. Kemampuan ini tidak sama kualitasnya pada setiap subjek didik.
Namun demikian, ada hal yang umum terjadi pada siapapun juga, bahwa setelah
seseorang selesai melakukan tindakan belajar, proses melupakan akan terjadi.
Hal-hal yang dilupakan pada awalnya berakumulasi dengan cepat, lalu kemudian
berlangsung semakin lamban, dan akhirnya sebagian hal akan tersisa dan
tersimpan dalam ingatan untuk waktu yang relatif lama (Supriadi, 2006:2).
Untuk mencapai proporsi yang memadai untuk diingat, menurut kalangan
psikolog pendidikan, peserta didik harus mengulang-ulang hal yang dipelajari
dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Implikasi pandangan ini dalam

Universitas Sumatera Utara

proses pembelajaran sedemikian rupa sehingga memungkinkan bagi peserta didik


untuk mengulang atau mengingat kembali material pembelajaran yang telah
dipelajarinya. Hal ini, dapat dilakukan melalui pemberian tes setelah satu
submaterial pembelajaran selesai (Supriadi, 2006:2).

2.1.1.5 Berpikir
Definisi yang paling umum dari berpikir adalah berkembangnya ide dan
konsep di dalam diri seseorang. Perkembangan ide dan konsep ini berlangsung
melalui proses penjalinan hubungan antara bagian-bagian informasi yang
tersimpan di dalam diri seseorang yang berupa pengertian-perngertian.
Kemampuan berpikir pada manusia alamiah sifatnya. Manusia yang lahir
dalam keadaan normal akan dengan sendirinya memiliki kemampuan ini dengan
tingkat yang reletif berbeda. Jika demikian, yang perlu diupayakan dalam proses
pembelajaran

adalah

mengembangkan

kemampuan

ini

dan

bukannya

melemahkannya. Para pendidik yang lebih memusatkan pembelajarannya pada


pemberian pengertian-pengertian atau konsep-konsep kunci yang fungsional,
akan mendorong subjek didiknya mengembangkan kemampuan berpikir mereka,
seperti dalam belajar biola untuk pemula diajarkan tangga nada A Mayor. Dan
banyak dari mereka bertanya dan bahkan mencari sendiri tangga nada yang lain
seperti tangga nada D dan G. Pembelajaran seperti ini akan menghadirkan
tantangan psikologi bagi subjek didik untuk merumuskan kesimpulankesimpulannya secara mandiri.

Universitas Sumatera Utara

2.2.1.6 Motif pembelajaran


Motif adalah keadaan dalam diri subjek didik yang mendorongnya untuk
melakukan aktivitas-aktivitas tertentu. Motif boleh jadi timbul dari rangsangan
luar, seperti pemberian hadiah bila seseorang dapat menyelesaikan satu tugas
dengan baik. Motif semacam ini sering disebut motif ekstrensik, tetapi tidak
jarang pula motif tumbuh di dalam diri subjek didik sendiri yang disebut motif
intrinsik. Misalnya, seorang subjek didik gemar berlatih biola karena dia memang
ingin lebih terampil dalam bermain biola (Supriadi, 2006:3).
Dalam konteks belajar, motif intrinsik tentu selalu lebih baik dan biasanya
berjangka panjang. Tetapi dalam keadaan motif intrinsik tidak cukup potensial
pada peserta didik, pendidik perlu menyiasati hadirnya motif-motif ekstrinsik.
Motif ini bisa dihadirkan melalui penciptaan suasana kompetitif di antara
individu maupun kelompok peserta didik. Suasana ini akan mendorong subjek
didik untuk berjuang atau berlomba melebihi yang lain. Namun demikian,
pendidik harus memonitor suasana ini secara ketat agar tidak mengarah kepada
hal-hal yang negatif. 3
Motif ekstrinsik bisa juga dihadirkan melalui siasat self competition,
yaitu menghadirkan grafik prestasi individual subjek didik. Melalui grafik ini,
setiap subjek didik dapat melihat kemajuan-kemajuannya sendiri dan sekaligus
membandingkannya dengan kemajuan yang dicapai teman-temannya. Dengan
melihat grafik ini, subjek didik akan terdorong untuk meningkatkan prestasinya
supaya tidak berada di bawah prestasi orang lain (Supriadi, 2006:3).

Intrinsik artinya di dalam, ekstrinsik artinya adalah di luar.

Universitas Sumatera Utara

2.2 Ekstrakurikuler
Hampir semua Sekolah dasar, Menengah Pertama dan Sekolah Menengah
Atas di tanah air memiliki ekstrakurikuler. Kegiatan diluar jam pelajaran itu
menawarkan sejumlah pelatihan sesuai bakat dan minat siswa. Ekstrakurikuler
biasanya dilaksanakan satu kali dalam satu minggu selama satu setengah sampai
dua tahun. Pelatih atau guru pengajar ekstrakurikuler kebanyakan guru sekolah
yang bersangkutan. Sekolah yang mampu biasanya mendatangkan pelatih
profesional dari luar.
Ekstrakurikuler sendiri adalah kegiatan yang dilakukan siswa sekolah atau
universitas, di luar jam belajar kurikulum standar. Kegiatan-kegiatan ini ada pada
setiap jenjang pendidikan dari sekolah dasar sampai universitas. Kegiatan
ekstrakurikuler ditujukan agar siswa dapat mengembangkan kepribadian, bakat,
dan kemampuannya di berbagai bidang di luar bidang akademik. Kegiatan ini
diadakan secara swadaya dari pihak sekolah maupun siswa-siswi itu sendiri untuk
merintis kegiatan di luar jam pelajaran sekolah. Kegiatan dari ekstrakurikuler ini
sendiri dapat berbentuk kegiatan pada seni, olahraga, pengembangan kepribadian,
dan kegiatan lain yang bertujuan positif untuk kemajuan dari siswa-siswi itu
sendiri (Wikipedia.org/wiki/pembelajaran: 14 Februari 2013).
Terdapat beberapa syarat yang mendasari pembentukan ekstrakurikuler,
yaitu:
a. Adanya pembina atau pembimbing dalam ekstrakurikuler tersebut, b. Adanya
seksi OSIS yang mengurusi ekstrakurikuler tersebut, c. Memiliki sejumlah

Universitas Sumatera Utara

anggota, d. Disetujui oleh sekolah (Wikipedia.org/wiki/pembelajaran: 14 Februari


2013).
Ekstrakurikuler dibagi menjadi beberapa jenis yaitu Ekstrakurikuler olah
raga, seni, hobi, penalaran, dan cinta bangsa dan tanah air (CBTA).
Ekstrakurikuler yang meliputi kesenian adalah biola, tari, batik, dan paduan
suara. Sekolah Chandra Kusuma School terdapat ekstrakurikuler biola yang
sering juga disebut (Musik Program) yang termasuk dalam ekstrakurikuler seni.
Musik program biola menjadi salah satu kegiatan ekstra yang banyak
diminati dalam bidang seni musik yang mempelajari sebuah instrumen. Musik
program instrumen biola ini sendiri terbentuk dari keinginan siswa dengan seni
musik khususnya instrumen biola biola. Di dalam pelaksanaan musik program
biola diterapkan sistem ansembel yaitu bermain secara bersama-sama dalam satu
kelas. Ansambel biola selalu aktif dalam acara-acara sekolah, seperti masa
orientasi siswa (MOS), penyambutan pelajar dari luar negeri, dan acara lainnya.
Musik program biola memiliki lebih dari 50 peserta didik yang dibagi
setiap kelas 8 siswa dan satu pengajar biola yaitu pemula dan lanjut. Setiap kelas
memiliki keterampilan yang berbeda, untuk pemula biasanya peserta didik yang
belum bisa memainkan tetapi mempunyai keinginan untuk belajar biola. Untuk
kelas lanjut biasanya peserta didik yang sudah mampu memainkan lagu-lagu
kecil, tangga nada, serta teknik-teknik dasar bermain biola.
Dari ulasan di atas dapat disimpulkan bahwa ekstrakurikuler sangat baik
untuk mengembangkan kepribadian, bakat, dan kemampuan peserta didik di

Universitas Sumatera Utara

berbagai bidang di luar bidang akademik sehingga peserta didik dapat


menyalurkan bakat dan minat pada tempatnya.
Adapun silabus progam pembelajaran musik klasik dengan instrumen
biola Chandra Kusuma School sebagai berikut: 1. Program pembelajaran
diproyeksikan untuk satu semester (6 Bulan) yang terbagi pada semua tingkatan
kelas baik pada TK dan SD sampai pada SMP dan SMA. 2. Materi pembelajaran
diambil dari buku A tune a day, Suzuki dan kurikulum ABRSM dan diperkaya
dengan repertoar yang relevan seperti partitur orkestra maupun lagu-lagu lainnya
yang diaransemen dan ditulis dalam bentuk notasi balok. 3. Pengajar
dipersilahkan

melakukan

pengembangan

materi

pembelajaran.

Rincian

pembagian pembelajaran: a. Organologi/pengenalan instrument menggesek, b.


Fingering/penjarian, c. Nilai nada, d. Scale/tangga, e. nada etude/teknik, f. Lagu,
g. Bermain duet, kwartet, ansambel, h. Ujian dan konser.

2.3 Tujuan pendidikan ekstrakurikuler biola sekolah Chandra Kusuma


School
Sekolah Chandra Kusuma School merupakan lembaga pendidikan, yang
menampung peserta didik dan dibina agar mereka memiliki kemampuan,
kecerdasan dan keterampilan. Dalam proses pendidikan diperlukan pembinaan
secara berkoordinasi dan terarah. Dengan demikian peserta didik diharapkan
dapat mencapai prestasi belajar yang maksimal sehingga tercapainya tujuan
pendidikan. Dalam pembinaan peserta didik di sekolah Sekolah Chandra Kusuma
School, banyak wadah atau program yang dijalankan demi menunjang proses

Universitas Sumatera Utara

pendidikan

yang

kemudian

atas

prakarsa

sendiri

dapat

meningkatkan

kemampuan, keterampilan kearah pengetahuan yang lebih maju. Salah satu


wadah pembinaan peserta didik di sekolah Chandra Kusuma School adalah
kegiatan ekstrakurikuler.
Kegiatan-kegiatan yang diadakan dalam program ekstrakurikuler didasari
atas tujuan dari pada kurikulum sekolah. Melalui kegiatan ekstrakurikuler yang
beragam peserta didik dapat mengembangkan bakat, minat dan kemampuannya.
Kegiatan-kegiatan peserta didik di sekolah khususnya kegiatan ekstrakurikuler
merupakan kegiatan yang terkoordinasi terarah dan terpadu dengan kegiatan lain
di sekolah, guna menunjang pencapaian tujuan kurikulum (muttaqinhasyim.
wordpress.com: 14 Februari 2013).
Kegiatan terkoordinasi di sini adalah kegiatan yang dilaksanakan sesuai
dengan program yang telah ditentukan. Dalam pelaksanaannya kegiatan
ekstrakurikuler dibimbing oleh guru, sehingga proses pembelajaran biola berjalan
dengan baik. Dengan demikian, kegiatan ekstrakurikuler di sekolah Sekolah
Chandra Kusuma School dapat memberikan kontribusi dalam menciptakan
tingkat kecerdasan peserta didik. Kegiatan ini bukan termasuk materi pelajaran
yang terpisah dari materi pelajaran lainnya, bahkan dapat dilaksanakan di antara
penyampaian materi pelajaran, mengingat kegiatan tersebut merupakan bagian
penting dari kurikulum sekolah (Amal, 2005: 378). Secara garis besar kegiatan
ekstrakurikuler mempunyai tiga tujuan dasar, yaitu: a. Pembinaan minat dan
bakat siswa, yang merupakan kegiatan ekstrakurikuler diharapkan dapat membina
dan mengembangkan minat yang ada pada peserta didik serta memupuk bakat

Universitas Sumatera Utara

yang dimiliki peserta didik. b. Sebagai wadah di sekolah, dengan aktifnya siswa
dalam kegiatan ekstrakurikuler, secara otomatis peserta didik telah membentuk
wadah-wadah kecil yang di dalamnya akan terjalin komunikasi antar peserta
didik dan sekaligus dapat belajar dalam mengorganisir setiap aktivitas kegiatan
ekstrakurikuler. c. Pencapaian prestasi yang optimal, beberapa cabang
ekstrakurikuler baik secara perorangan maupun kelompok diharapkan dapat
meraih prestasi yang optimal, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah
(ekskulabsky. multiply.com: 14 Februari 2013).
Akhirnya

dapat

diambil

kesimpulan

bahwa

tujuan

pendidikan

ekstrakurikuler secara garis besar adalah sebagai wadah pembinaan minat dan
bakat peserta didik di sekolah, dan pencapaian prestasi yang optimal dan didasari
atas tujuan dari pada kurikulum sekolah.

Universitas Sumatera Utara