You are on page 1of 8

LAPORAN PENDAHULUAN

EKSOTROPIA
DI BANGSAL A4 (MATA) RSUP Dr. KARIADI SEMARANG

Disusun oleh :

PRODI KEPERAWATAN SEMARANG


POLITEKNIK KESEHATAN SEMARANG
2006
LAPORAN PENDAHULUAN
EKSOTROPIA

A. PENGERTIAN
Strabismus adalah efek penglihatan dimana kedua mata tidak tertuju pada satu
obyek yang menjdi pusat perhatian. Satu mata bisa terfokus pada satu obyek
sedangkan mata yang lain dapat bergulir ke dalam, ke luar, ke atas, atau ke bawah.
Sedangkan eksotropia atau juling keluar merupakan bentuk lain dari juling yang
sering ditemukan. Bentuk juling ini paling sering terjadi saat seseorang berfokus pada
obyek yang jauh. Sering ditemukan pada masa bayi dan anak-anak. Insidensinya
meningkat seiring dengan bertambahnya usia.
B. KLASIFIKASI
1. Eksotropia dasar
Deviasi dekat kurang lebih sama dengan deviasi jauh
2. Eksotropia ok ekses deviasi (melebar yang berlebihan)
Deviasi jauh lebih besar daripada deviasi dekat
3. Eksotropia ok insuficiency convergensi (tidak bisa konvergensi)
Deviasi dekat lebih besar daripada deviasi jauh
4. Eksotropia ok ekses pseudodivergensi
Deviasi jauh jelas jelas lebih besar daripada deviasi dekat, namun pemakaian
lensa + 3 dioptri untuk pengukuran dekat akan menyebabkan eviasi dekat
mendekati deviasi jauh
C. ETIOLOGI
Penyebab pasti belum diketahui, tetapi pada beberapa kasus unsur herediter atau
keturunan sangatlah mungkin terjadi. Tetapi mata juling lazim ditemukan pada anakanak dengan kelainan otak, seperti :

Down syndrom

Hidrocephalus

Cerebral palsy

Tumor otak

Anak yang lahir prematur

Kemunduran daya penglihatan atau ambliopia

Kongenital

D. MANIFESTASI KLINIK
1. Bila melirik, perguliran bola mata tidak sampai ke ujung
2. Mata yang tidak lurus
3. Penutupan atau memicingkan satu mata pada cahaya terang
4. Bila melihat obyek jauh, akan ada 2 bayangan
E. PATOFISIOLOGI
Anatomi indera penglihatan dikatakan normal jika bayangan sebuah benda yang
dilihat oleh kedua mata diterima dengan ketajaman yang sama. Bayangan ini secara
serentak akan dikirim ke Susunan Saraf Pusat (SSP) untuk diolah sensasi penglihatan
tunggal, penglihatan tunggal ini bisa terjadi kalau kedua mata dapat mempertahankan
daya koordinasi untuk menjadikan kedua bayangan suatu benda menjadi satu (fusi).
Sebaliknya fusi akan hilang bila daya penglihatan salah satu mata berkurang atau
bahkan tidak ada.
Pada penderita mata juling, mata tidak mempunyai satu kesatuan titik pandang.
Kedudukan sumbu kedua bola mata itu tidak searah, akibatnya mata akan melihat dua
benda atau dua bayangan (diplopia). Untuk menghindari penglihatan rangkap ini,
penderita strabismus lalu berusaha supresi atau tidak menggunakan matanya yang
sakit. Mereka hanya akan melihat dengan matanya yang sehat. Sebab itu, penderita
strabismus sering mengeluh mudah lelah atau merasa penglihatannya berkurang pada
satu matanya.

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Menurut dr. Raman R. Saman, M.D. Ophth., AMS, MBA, ahli mata dari RS Prof.
Dr. Isak Salim Aini Jakarta mengungkapkan bahwa untuk mengetahui penyebab
lebih lanjut perlu pemeriksaan menyeluruh mulai dari anatomi mata, fafal atau
fisiologi, sampai apakah sipenderita mengidap penyakit tertentu.
Tes mata : tes pemeriksaan penglihatan
G. PENATALAKSANAAN
Kalau masalahnya berhubungan dengan refraksi atau ketajaman penglihatan bisa
ditanggulangi dengan kacamata. Kacamata bisa spheris, silinder atau prism, bisa
juga dengan lensa kontak (terutama bagi yang minusnya tinggi)
Koreksi bedah refraktif untuk mengurangi kelainan rabun dengan menggunakan
pisau bedah atau laser excimer
Bila persoalannya menyangkut otot, bisa dilakuakn pembedahan sesuai dengan
kebutuhan misalnya otot yang kepanjangan dipendekkan (diresek), sebaliknya
otot yang kepanjangan dipendekkan dengan menggeser lokasi perlekatan pangkal
otot (reses terhadap insersi otot)
Bila juling akibat kecelakaan (trauma), umumnya dikoreksi dengan tindakan
pembedahan

PATHWAYS

Hidrochepalus
Tumor otak
Cerebral palsy
Down syndrom

kongenital

Menekan saraf
di bagian otak

Menekan saraf
mata

Kelumpuhan otot mata

EKSOTROPIA

Tidak dapat mempertahankan


daya koordinasi

Mata melihat dua bayangan


(diplopia)

Supresi mata yang lemah,


melihat dg mata yang sehat

Resiko cedera

Mata sehat berkoordinasi


sendiri

Mata mudah lelah, penglihatan


berkurang

Penggunaan kacamata

Pembedahan

Pre op

Post op

Resiko gangguan
harga diri rendah

Pembedahan
(adanya pembukaan jarinan)

Ansietas

Post de entry kuman

Gangguan sensori
perseptual : penglihatan

Nyeri

H. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Resti infeksi

1. Gangguan sensori perseptual : penglihatan b.d. daya penglihatan menurun


2. Resiko cedera berhubungan penglihatan ganda (diplopia)
3. Resti infeksi b.d. post de entry kuman
4. Resiko gangguan harga diri rendah b.d. perubahan penampilan
5. Nyeri b.d. tindakan invasif
6. Ansietas b.d. kurang informasi tentang prosedur operasi
I. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Gangguan sensori perseptual : penglihatan b.d. daya penglihatan menurun
Tujuan : Daya penglihatan membaik dengan kriteria hasil :
a. Pasien dapat melihat dengan jelas
b. Mata tidak mudah lelah
c. Visus mata tidak menurun
Intervensi :

Tentukan ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau dua mata terlibat
Rasional : kebutuhan individu dan pilihan intervensi bervariasi sebab
kehilangan penglihatan terjadi lambat dan progresif, bila bilateral
tiap mata tetap berlanjut pada laju yang berbeda tetapi biasanya
hanya satu mat yang diperbaiki per prosedur

Orientasikan pasien terhadap lingkungan, perawat, pasien lain di sekitarnya.


Rasional : meningkatkan rasa nyaman dan kekeluargaan

Letakkan barang yang dibutuhkan dalam jangkauan


Rasional : memungkinkan pasien melihat obyek lebih mudah

Observasi tanda-tanda disorientasi ; pertahankan pengaman tempat tidur


Rasional : menurunkan

resiko

jatuh

apabila

keterbatasan penglihatan

2. Resiko cedera berhubungan penglihatan ganda (diplopia)

pasien

bingung

akibat

Tujuan : pencegahan terhadap cedera dengan KH :


a. Tidak terjadi cedera pada mata
b. Mampu melakukan aktifitas dengan aman di lingkungannya
Intervensi :

Orientasikan pasien pada lingkungan


R : meningkatkan keamanan mobilitas dalam lingkungan

Bantu pasien menata lingkungan, jangan mengubah penataan meja kursi tanpa
diorientasikan pada pasien terlebih dahulu
R : memfasilitasi kemandirian dan menurunkan resiko cedera

Anjurkan menggunakan perisai metal atau kacamata bila diperintahkan


R : tameng logam atau kacamata melindungi mata terhaap cedera

DAFTAR PUSTAKA

Vaughan, Daniel G. Ashbury, Taylor. Riordan-Eva, Paul. 2000. Oftalmologi Umum .


Jakarta: Widya Medika
Doengoes, Marylinn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC
Smetlzer, Suzanne C. Bare, Brenda G. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8. Jakarta: EGC