You are on page 1of 83

LAPORAN KERJA PRAKTIK

PT. BADAK LNG


Bontang-Kalimantan
Timur
LAPORAN KERJA PRAKTIK

DI PT BADAK LNG
BONTANG KALIMANTAN TIMUR

JUDUL:
MARINE FOULING PADA PILE: ANALISA AKIBAT, EVALUASI
METODE PEMBERSIHAN, & ALTERNATIF PEMBERSIHAN YANG
LAIN

Disusun Oleh:
NITA AYU HANDARENI
2711100009

JURUSAN TEKNIK MATERIAL DAN METALURGI


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
Nita Ayu Handareni, 2711100009 1
2014
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN KERJA PRAKTIK


DI
PT BADAK LNG
Bontang Kalimantan Timur

PERIODE: 30 JUNI 17 AGUSTUS 2014

Disusun oleh:
Nita Ayu Handareni
2711100009
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Mengetahui:
Manajer Reliability

Pembimbing Utama

Ibnu Milan Prajoga

M. Teguh Purnawan

Nita Ayu Handareni, 2711100009 2


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur

KETERANGAN KERTAS KERJA


No: -kkk/BB13/2014-645

Dengan ini menerangkan bahwa:


Nama

: Nita Ayu Handareni

NIM

: 2711100009

Perguruan Tinggi

: Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Fakultas / Jurusan

: Fakultas Teknologi Industri / Teknik Material dan


Metalurgi

Tempat Penelitian

: Maintenance Departement / Reliability Section

Periode

: 30 Juni 17 Agustus 2014

Telah melaksanakan Penelitian Lapangan di PT Badak LNG Bontang dan


membuat tugas khusus dengan judul:
Marine Fouling pada Pile: Analisa Akibat, Evaluasi Metode Pembersihan,
& Alternatif Pembersihan yang Lain
Yang telah dipresentasikan dengan baik pada tanggal 7 Agustus 2014

Pratiwi Rini Susanti


Manager, Training

Nita Ayu Handareni, 2711100009 iii


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat, anugerah, serta karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
laporan kerja praktik di PT. Badak LNG dengan judul Marine Fouling pada
Pile: Analisa Akibat, Evaluasi

Metode Pembersihan, & Alternatif

Pembersihan yang Lain. Laporan kerja praktik ini merupakan hasil kerja praktik
yang penulis laksanakan pada tanggal 30 Juni 17 Agustus 2014 dan dibuat untuk
melengkapi Mata Kuliah Kerja Praktik yang menjadi salah satu syarat kelulusan
mahasiswa di Jurusan Teknik Material dan Metalurgi Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.
Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan dukungan dari berbagai
pihak, laporan kerja praktik ini tidak dapat terselesaikan dengan baik. Oleh karena
itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah memberi
dukungan, bimbingan, dan kesempatan kepada penulis hingga laporan kerja
praktik ini dapat diselesaikan berikut:
1. Allah

SWT

karena

dengan

rahmat

dan

kuasa-Nya

penulis

dapat

menyelesaikan laporan kerja praktik ini dengan baik dan tepat waktu.
2. Orang tua dan adik penulis, Bapak Moh Burhan dan Ibu Eni Suryani, serta
Nanak Cito Tetuko yang selalu memberi dukungan, semangat, doa, perhatian,
serta kasih sayang kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan kegiatan
kerja praktik di PT Badak LNG.
3. Bapak Dr. Sungging Pintowantoro, ST., MT. selaku Ketua Jurusan Teknik
Material dan Metalurgi FTI ITS.
4. Bapak Dr. Lukman Noerochim, ST., M.Sc. selaku Koordinator Kerja Praktik
serta selaku dosen wali penulis di Jurusan Teknik Material dan Metalurgi FTI
ITS.
5. Bapak Prof. Dr. Ir. Sulistijono, DEA. selaku Dosen Pembimbing Kerja Praktik
penulis di PT. Badak LNG Bontang.
6. Bapak Ibnu Milan Prajoga. selaku Reliability Section Manager, tempat
dimana penulis melaksanakan kerja praktik.Terima kasih atas kesempatan
yang Bapak berikan kepada penulis untuk kerja praktik di Reliability Section.
Nita Ayu Handareni, 2711100009 iv
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
7. Bapak M. Teguh Purnawan selaku pembimbing utama penulis dalam
melaksanakan kerja praktik di PT. Badak LNG. Terima kasih atas bimbingan,
bantuan, serta dukungan Bapak selama saya kerja praktik disini.
8. Seluruh engineer di Reliability Section. Terima kasih telah memberikan ilmu
yang belum tentu penulis dapatkan dari bangku kuliah.
9. Bapak Hariyanto dan Bapak Abdul Muis selaku bagian Training Section yang
telah memberikan waktunya untuk mengurus segala keperluan penulis selama
kerja praktik di PT. Badak LNG.
10. Ellysda Aulya Santy yang telah menjadi partner sekaligus sahabat yang telah
bekerja sama dengan penulis sehingga berhasil menyelesaikan kerja praktik.
11. Teman-teman dari Jurusan Teknik Material dan Metalurgi 2011: Regina
Zhazha Anastacia, Zahra Karima, Retno Damastuti, Elok Kristian, Ade
Wahyu Yusariarta, I Dewa Made Bakti Pramana, Yudha Mahendra Agni,
Stefanus Laga Suban. Terima kasih sudah banyak membantu penulis selama
menjalankan kerja praktik di PT. Badak LNG.
12. Teman teman Reliability Section dan Instrument Section dari Institut
Teknologi Bandung: Gita Arsika, Tiffany Meirnadias,

Bagas, Fadya.

Terimakasih menjadi teman berbagi tempat, teman tertawa, teman berbagi


cerita di visitor room Reliabilty Section.
13. Teman-teman seperjuangan warga PC VI yang melaksanakan kerja praktik di
PT. Badak LNG, terimakasih sambutan dan kebersamaannya. Maaf apabila
banyak kesalahan selama kita bersama. Semoga persahabatan kita terus terjaga
sampai kapanpun.
14. Rahman Patria Sanja dan Muhammad Muzakki yang telah mengajak penulis
untuk berkeliling dan bermain-main di daerah Bontang.
15. Bapak Didik yang dengan baik dan sabarnya menyediakan makanan dan
laundry para mahasiswa PKL setiap hari, pihak security PT. Badak LNG, dan
pihak lain yang belum penulis sebutkan satu-persatu yang telah membantu
kelancaran kerja praktik penulis selama di PT. Badak LNG. Terima kasih
banyak atas segala dukungannya. Semoga jasa kalian dibalas Allah SWT.
Penulis berharap laporan kerja praktik ini dapat bermanfaat bagi seluruh pihak
yang membaca. Penulis juga menyadari masih terdapat banyak kekurangan dalam
Nita Ayu Handareni, 2711100009 v
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
penulisan laporan kerja praktik ini, sehingga penulis sangat menerima kritik dan
saran dari para pembaca yang dapat membangun demi kesempurnaan laporan
kerja praktik ini.

Bontang, 13 Agustus 2014


Penulis,

Nita Ayu Handareni


2711100009

Nita Ayu Handareni, 2711100009 vi


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur

TUGAS UMUM

Nita Ayu Handareni, 2711100009 vii


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
DAFTAR ISI
Halaman Judul ...................................................................................................... i
Lembar Pengesahan ............................................................................................. ii
Keterangan Kertas Kerja ..................................................................................... iii
Kata Pengantar.................................................................................................... iv
Daftar Isi........................................................................................................... viii
Daftar Gambar ..................................................................................................... x
Bab 1 Pendahuluan .............................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 1
1.2 Tujuan Kerja Praktik ............................................................................... 2
1.3 Ruang Lingkup Kerja Praktik .................................................................. 2
1.4 Pelaksanaan Kerja Praktik ....................................................................... 3
1.5 Metodologi Penelitian ............................................................................. 3
1.6 Sistematika Penulisan ............................................................................. 3
Bab 2 Tinjauan Umum Perusahaan ...................................................................... 5
2.1 Visi dan Misi Perusahaan............................................................................ 5
2.2 Sejarah Berdirinya PT Badak LNG ............................................................. 5
2.3 Lokasi PT Badak LNG ............................................................................... 8
2.4 Pembagian Wilayah PT Badak LNG ........................................................... 9
2.5 Struktur Kepemilikan PT Badak LNG ...................................................... 10
2.6 Struktur Organisasi PT Badak LNG .......................................................... 10
2.6.1 Maintenance Departement .................................................................. 11
2.6.2 Operation Departement ...................................................................... 14
2.6.3 Technical Departement ...................................................................... 15
2.6.4 Business Support Division ................................................................. 16
2.6.5 Human Resources and Development Departement ............................. 17
2.6.6 Information and Technology Departement ......................................... 17
2.6.7 Procurement and Contract Departement ............................................. 17
2.6.8 Services Departement......................................................................... 17
2.6.9 Accounting Operation and Control Departement ................................ 18
2.6.10 Internal Audit Departement .............................................................. 18
2.6.11 SHE-Q Departement ........................................................................ 18
Nita Ayu Handareni, 2711100009 viii
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
2.6.12 Corporate Strategic Planning and Business Development Dept......... 18
2.6.13 Corporate Secretary Departement ..................................................... 19
Bab 3 Proses Pembuatan LNG ........................................................................... 20
3.1 Konsep Proses .......................................................................................... 20
3.2 Proses Train .............................................................................................. 20
3.2.1 Plant 1 Proses CO2 Removal ........................................................... 21
3.2.2 Plant 2 Gas Dehidration and Mercury Removal Unit ....................... 25
3.2.3 Plant 3 Fractination Unit ................................................................. 26
3.2.4 Plant 4 Refrigeration Unit ............................................................... 29
3.2.5 Plant 5 Liquefaction Unit ................................................................ 32
3.3 Utilities..................................................................................................... 34
3.3.1 On Plot Utilities ................................................................................. 34
3.3.2 Off Plot Utilities................................................................................. 35
3.4 Storage and Loading ................................................................................. 36

Nita Ayu Handareni, 2711100009 ix


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Lokasi Bontang ................................................................................. 9


Gambar 2.2 Struktur Kepemilikan Saham PT Badak LNG ................................. 10
Gambar 2.3 Struktur Organisasi PT Badak LNG ................................................ 10
Gambar 2.4 Struktur Organisasi Departemen Maintenance................................. 11
Gambar 3.1 Skema Proses Pembuatan LNG di PT Badak LNG ......................... 21
Gambar 3.2. Plant 1 Unit Penghilangan CO2 ...................................................... 22
Gambar 3.3. Plant 1 Gas Purification Unit.......................................................... 24
Gambar 3.4. Plant 2 Unit Penghilangan Merkuri dan Air.................................... 25
Gambar 3.5. Plant 3 Unit Pemisahan Hidrokarbon Berat .................................... 27
Gambar 3.6. Plant 4 Unit Pendinginan Propana .................................................. 29
Gambar 3.7. Sistem Pendingin Propane.............................................................. 31
Gambar 3.8. Sistem Pendingin MCR.................................................................. 32

Nita Ayu Handareni, 2711100009 x


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Dalam menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat
ini, perlu disiapkan sumber daya manusia yang berkualitas agar mampu
bersaing dengan negara lain. Sumber daya manusia yang berkualitas adalah
tenaga kerja yang profesional dan siap pakai. Pembentukan sumber daya
manusia yang berkualitas terutama terjadi di jenjang pendidikan perguruan
tinggi. Perguruan tinggi menjadi tempat bagi para calon tenaga kerja untuk
mendapatkan ilmu sebanyak banyaknya sebelum dapat terjun ke dunia
industri. Oleh karena itu, kami sebagai mahasiswa, hendaknya memiliki
kemampuan untuk dapat mengaplikasikan teori teori yang telah kami
dapatkan di bangku kuliah pada dunia industri.
Untuk mencapai tujuan mampu mengaplikasikan teori di dalam dunia
industri yang sebenarnya, maka mahasiswa Jurusan Teknik Material dan
Metalurgi FTI ITS diharuskan untuk mengikuti mata kuliah kerja praktik
sebagai salah satu syarat dalam meraih gelar sarjana. Dengan kerja praktik ini
diharapkan mahasiswa memiliki bekal dan pengalaman sebelum terjun ke
dunia industri setelah masa studinya selesai. Selain itu, dengan melaksanakan
kerja praktik, diharapkan mahasiswa lebih memahami ilmu-ilmu sebagai
kompetensi yang diperlukan dalam dunia kerja.
Pada kesempatan kali ini, penulis melaksanakan kerja praktik di PT.
Badak LNG, khususnya di Reliability Section, Maintenance Department.
Latar belakang penulis memilih PT. Badak LNG sebagai tempat kerja praktik
adalah karena PT. Badak LNG memiliki reputasi yang sangat baik dalam
dunia migas tanah air dan sebagai salah satu perusahaan gas nasional yang
terbesar ditanah air. Selain itu PT Badak juga mendapatkan kepercayaan dari
beberapa negara di asia timur untuk menyuplai gas ke industri negara
tersebut. Fakta tersebut pastinya turut disumbang oleh teknologi canggih yang
dimiliki oleh PT. Badak yang selalu mengikuti perkembangan zaman. Kami

Nita Ayu Handareni, 2711100009 1


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
berharap setelah belajar di PT Badak kami bisa mengetahui dan menguasai
ilmu yang ada di PT Badak LNG.

1.2. Tujuan Kerja Praktik


Secara umum, tujuan kerja praktik kali ini adalah :
1. Dapat menerapkan teori-teori yang didapat selama kuliah pada
keadaan sebenarnya di dunia industri.
2. Memenuhi syarat kelulusan di Jurusan Teknik Material dan Metalurgi
FTI ITS
3. Mempelajari dan memahami proses pembuatan LNG dan LPG di PT.
Badak LNG.
4. Menambah wawasan dan pemahaman tentang dunia industri,
khususnya industri minyak dan gas.
5. Meningkatkan hubungan baik antara Jurusan Teknik Material dan
Metalurgi FTI ITS dengan PT. Badak LNG.
Sedangkan, tujuan kerja praktik secara khusus adalah:
1. Memahami aplikasi ilmu material dan metalurgi di Reliability Section,
Maintenance Department PT. Badak LNG.
2. Memahami masalah yang sesungguhnya terjadi di dunia industri,
khususnya di bidang material dan metalurgi serta mempelajari
metodologi pemecahan masalah.

1.3. Ruang Lingkup Kerja Praktik


Ruang lingkup dalam pelaksanaan kerja praktik kali ini adalah sebagai
berikut:
1.

Pengenalan profil PT. Badak LNG

2.

Pengenalan sejarah pengolahan gas alam cair di PT. Badak LNG

3.

Pemahaman tentang sistem pengolahan gas alam cair di PT. Badak


LNG

4.

Pemahaman tentang reliability dan penyelesaian tugas khusus dengan


batasan masalah mengenai Marine Fouling pada Pile: Analisa Akibat,
Evaluasi Metode Pembersihan, & Alternatif Pembersihan yang Lain.
Nita Ayu Handareni, 2711100009 2
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
1.4. Pelaksanaan Kerja Praktik
Kerja praktik telah dilaksanakan oleh penulis, pada :
Waktu

: 30 Juni 17 Agustus 2014

Tempat

: Reliability Section, Maintenance Department, PT. Badak


LNG, Bontang, Kalimantan Timur.

1.5. Metodologi Penelitian


Metodologi penelitian yang dilaksanakan oleh penulis selama
melaksanakan kerja praktik adalah sebagai berikut:
1.

Orientasi mengenai PT. Badak LNG secara umum

2.

Pengenalan struktur organisasi, tugas, dan fungsi dari masing-masing


section di setiap departemen

3.

Pengenalan mengenai proses produksi LNG dan LPG di PT. Badak


LNG

4.

Studi litaratur dan pengumpulan data

5.

Diskusi dan konsultasi dengan pembimbing dan karyawan

6.

Pembuatan laporan dan presentasi

1.6. Sistematika Penulisan Laporan


Bab I Pendahuluan
Bab ini terdiri dari latar belakang, tujuan kerja praktik, ruang lingkup kerja
praktik, pelaksanaan kerja praktik, metodologi penelitian, dan sistematika
penulisan laporan.
Bab II Tinjauan Umum Perusahaan
Bab ini berisi tentang penjelasan umum perusahaan, yaitu PT. Badak LNG,
seperti sejarah perusahaan, gambaran umum perusahaan, profil perusahaan,
struktur organisasi, lokasi perusahaan, SHE perusahaan, hingga bahan baku
dan produksi dari PT. Badak LNG
Bab III Proses Pencairan Gas
Bab ini berisi mengenai penjelasan proses pencairan gas alam di PT. Badak
LNG yang terdiri dari pembuatan LNG dan LPG di PT. Badak LNG, mulai
dari penjelasan tentang gas alam, proses penyaluran gas alam, proses

Nita Ayu Handareni, 2711100009 3


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
pembuatan LNG dan LPG, hingga storage and loading dari produk LNG dan
LPG.

Nita Ayu Handareni, 2711100009 4


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
BAB II
TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

2.1 Visi dan Misi Perusahaan


2.2.1. Visi
Visi PT. Badak LNG adalah sebagai penghasil LNG terbaik di dunia.
2.2.2. Misi
Misi PT. Badak LNG adalah memproduksi LNG secara aman,
handal, efisien, ramah lingkungan, mengutamakan pemberdayaan
sumber daya manusia secara maksimal, meningkatkan pertumbuhan
ekonomi nasional serta memuaskan pihak-pihak yang berkepentingan
(stakeholders).
Dalam pelaksanaannya dilakukan dengan menggunakan prinsipprinsip sebagai berikut, yaitu:
a. Berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mencapai safety
excellence dengan menerapkan Process Safety Management.
b. Ramah lingkungan dalam setiap kegiatan operasi melalui
penerapan dan sertifikat EMS ISO 14001.
c. Menghasilkan produk yang memenuhi semua persyaratan
pelanggan melalui penerapan Quality Management Sistem
dan mempertahankan sertifikat ISO 9001-2000.
d. Professional Excellence melalui pengembangan SDM yang
berdasarkan kompetensi.
e. Mengelola bisnis dengan menerapkan "Best Industrial
Practices and Good Corporate Governance".

2.2 Sejarah PT Badak LNG


Gas Alam (LNG) merupakan campuran senyawa hidrokarbon yang
terbentuk dari fosil-fosil organik yang tertimbun dalam lapisan kulit bumi secara
alami secara jutaan tahun. Pada awalnya gas alam yang sering ditemukan bersama
minyak bumi, disebut associated gas, dibakar begitu saja karena dianggap tidak
berharga, bahkan dianggap sebagai pengotor (impurities) pada industri
Nita Ayu Handareni, 2711100009 5
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
pengolahan minyak bumi. Setelah disadari bahwa gas alam mengandung
komponen utama metana (CH4) yang merupakan senyawa paling ringan dari
derivat hidrokarbon pembentuk minyak bumi dan itu jelas berharga, barulah pada
tahun 1914 gas alam mulai dimanfaatkan yaitu di West Virginia, Amerika Serikat.
Selain itu, LNG merupakan bahan bakar yang sangat ideal bagi negara-negara
industri, karena tidak menimbulkan polusi. Gas alam juga ditemukan dalam
bentuk ladang gas bumi yang terpisah dari minyak bumi, disebut non-associated
gas.
Prospek industri gas alam di Indonesia menunjukan arah yang positif,
mengingat Indonesia merupakan negara yang memiliki cadangan gas alam yang
cukup besar. Indonesia memiliki cadangan gas alam yang cukup besar seperti di
Kalimantan Timur, Natuna, Arun, dan tempat-tempat lainnya. Potensi ini
ditunjang dengan pengalaman pengoperasian kilang LNG dan LPG selama lebih
dari 20 tahun, memungkinkan Indonesia menjadi salah satu pengekspor LNG
terbesar di dunia. Perkembangan industri gas alam di Indonesia dimulai dengan
ditemukannya cadangan gas bumi yang besar di lapangan Badak di hutan
belantara daerah pantai Kalimantan Timur oleh Huffco, sebuah kontraktor bagi
hasil (PSC) Pertamina pada bulan Febuari 1972 merupakan awal berdirinya PT
Badak LNG.
Production Sharing Contract ini sendiri telah ditandatangani dan dimulai
pada bulan Agustus 1968. Pada tahun 1973, Huffco telah menemukan lebih dari
70 sumur gas alam yang terdiri dari associated gas dan non-associated gas, yang
diperkirakan cukup untuk kebutuhan dua buah kilang LNG selama 20 tahun.
Jepang merupakan pasaran utama dari produk LNG Indonesia, sedangkan Taiwan
dan Korea adalah konsumen LNG lainnya. Hal ini disebabkan kebutuhan Jepang
akan LNG cukup besar dan stabil, selain jaraknya yang tidak begitu jauh dari
Indonesia.

Perusahaan-perusahaan

Jepang

yang

menandatangani

kontrak

penjualan dengan Pertamina pada tanggal 3 Desember 1973 diantaranya adalah:


a.

The Chubu Electric Power Co. Inc

b.

The Kansai Electric Power Co.Inc

c.

Nippon Steel Corporation

d.

Kyushu Electrical Power Co. Inc


Nita Ayu Handareni, 2711100009 6
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
e.

Osaka Gas Co. LTD

Pada bulan Juni 1974, dua kilang LNG yang pertama dibangun di Bontang
Selatan, Kalimantan Timur. Pembangunan dilakukan di bawah pengawasan
Pertamina yang bekerja sama dengan Huffco. Ada tiga kontraktor utama yang
menangani proyek ini, yaitu: a. Air Product Chemical Inc., yang menangani
masalah design process. b. Pacific Bechtel Inc., yang menangani masalah
perencanaan engineering

dan construction. c. William Brothers Engineering

Co., yang menangani perencanaan dan konstruksi perpipaan seluruh gas alam dari
Muara Badak ke pabrik pengilangan.
Pada tanggal 26 November 1974, PT Badak LNG didirikan untuk
mengoperasikan kilang LNG Bontang. Dua unit pengilangan pertama, Train A
dan B selesai dibangun pada bulan Maret 1977, dan mulai memproduksi LNG
(tetes pertama) pada tanggal 5 Juli 1977 dengan kapasitas produksi 630 m/hr.
Pada tanggal 1 Agustus 1977, Presiden Soeharto meresmikan kilang LNG
Bontang.

Seminggu

kemudian

dilakukan

pengapalan

pertama

dengan

menggunakan tanker AQUARIUS dengan kapasitas 125.000 m3.


Pada tahun 1980 didirikan dua Train tambahan (Train C dan D) dengan
pertimbangan pada saat itu kilang LNG Badak telah beroperasi 125% dari
kapasitas rancangannya dengan melakukan modifikasi pada unit pemisah CO2.
Pertimbangan lainnya adalah pada tahun 1978 ditemukan sumber gas alam di
tempat lainnya, yaitu Handil, Nilam, dan Tanjung Santan. Konstruksi dimulai
pada bulan Juli 1980 dan diselesaikan dalam waktu tiga tahun. Kontrak pembelian
LNG tambahan ini ditandatangani pada tanggal 14 April 1981 dengan group
pembeli dari Jepang untuk jangka waktu 20 tahun, dengan sistem Free On Board
(FOB). Tetesan LNG pertama yang dihasilkan oleh Train C pada tanggal 8 Juli
1983, dan Train D pada tanggal 2 September 1983. Kedua Train tersebut
diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 31 Oktober 1983.
Pada bulan Oktober 1984 diadakan penyusunan kembali rencana induk
(master plan) terpadu kilang LNG Badak yang meliputi rencana pembangunan
kilang LPG, karena selain LNG dihasilkan pula produk sampingan yaitu LPG.
Pembahasan tentang perluasan proyek ini selesai tanggal 15 Juli 1986, disusul
Chinese Petroleum Corps pada tahun 1987. Setahun kemudian proyek LPG
Nita Ayu Handareni, 2711100009 7
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
selesai dibangun dan produksi pertama dihasilkan pada tanggal 15 Oktober 1988
dan diresmikan tanggal 28 November 1988 oleh presiden Soeharto.
Meningkatnya kebutuhan dan permintaan LNG mendorong pembangunan
kilang baru yaitu Train E. Chiyoda sebagai kontraktor utama dan PT Inti Karya
Persada Tehnik (PT IKPT) sebagai subkontraktor. Train E selesai dibangun pada
bulan Desember 1989 dan menghasilkan LNG pada tanggal 27 Desember 1989
dengan kapasitas 703 m/jam dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal
21 Maret 1990. Selanjutnya Train F dengan kapasitas 720 m/jam dibangun oleh
PT Inti Karya Persada Tehnik (PT IKPT) sebagai kontraktor utama menghasilkan
produksi LNG pertamanya pada tanggal 11 November 1993 dan diresmikan oleh
Presiden Soeharto pada tanggal 18 Januari 1994. Train G dengan kapasitas 724
m/jam dibangun oleh PT Inti Karya Persada Tehnik (PT IKPT) dan diresmikan
pada tanggal 12 November 1997. Train H dengan kapasitas sama dengan Train G
mulai beroperasi pada November 1999.
Pada kurun waktu 1992-1993 dilaksanakan suatu proyek yang disebut
Train A-D Debottlenecking atau disingkat dengan TADD. Proyek ini bertujuan
untuk meningkatkan kapasitas Train A,B,C, dan D dari 640 m/jam/Train, antara
lain dengan menambah kapasitas kompresor pada sistem refrigerasi. Saat ini
dalam rangka meningkatkan kapasitas dari Train E dan F maka dilakukan proyek
Train E F Debottlenecking (TEFD). Selain itu terdapat proyek Train A F
Upgrade (TAFU), yang memiliki tujuan sama yakni meningkatkan kemampuan
Train dan menjaga kelangsungan dari Train agar dapat beroperasi dalam 20 tahun
lagi. Dengan didirikannya PT Badak LNG ini, maka dapat dihasilkan devisa yang
cukup besar. Selain itu, dengan adanya PT Badak LNG maka kehidupan
masyarakat sekitarnya dapat menjadi lebih baik.

2.3 Lokasi PT Badak LNG


PT Badak LNG berlokasi di Pantai Timur Pulau Kalimantan tepatnya di
Daerah Bontang Selatan sekitar 105 Km sebelah tenggara Kota Samarinda.
Sebelum Kilang LNG dibangun, Bontang merupakan daerah yang terpencil dan
belum maju. Jumlah penduduknya masih sedikit dengan mata pencarian sebagian
besar sebagai nelayan.
Nita Ayu Handareni, 2711100009 8
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur

Gambar 2.1. Lokasi Bontang


2.4. Pembagian Wilayah PT Badak LNG
PT Badak LNG dibagi menjadi 3 daerah / zona yang masing masing
memiliki fungsi sendiri. Zona tersebut adalah:
1. Zona 1
Zona 1 merupakan daerah tempat proses utama berlangsung. Zona ini
terdiri dari process train, utilities, dan storage and loading. Process train
merupakan unit utama pencairan gas alam. Utilities berperan dalam
penyediaan sumber daya seperti air, listrik, dan udara bertekanan untuk
kebutuhan proses. Sedangkan storage and loading berperan dalam
penyimpanan dan penyaluran LNG ke kapal.
2. Zona 2
Zona 2 merupakan daerah perkantoran yang berhubungan langsung
dengan proses dan sarana pendukung proses
3. Zona 3
Zona 3 merupakan daerah tempat kantor yang tidak berhubungan langsung
dengan proses, perumahan karyawan, sarana olah raga, dan fasilitas
fasilitas pendukung perumahan yang lain. Kantor pusat PT Badak LNG
terletak di zona ini.

Nita Ayu Handareni, 2711100009 9


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
2.5. Struktur Kepemilikan PT Badak LNG
PT. Badak LNG merupakan perusahaan joint venture yang didirikan pada
tahun 1974. Berikut keterangan saham atas kepemilikan PT. Badak LNG :
1. PT. PERTAMINA

(55%)

2. HUFFCO

(30%)

3. JILCO

(15%)

Namun, pada tahun 1990, terjadi pemindahan kepemilikan saham dari


HUFFCO (30%) kepada VICO (20%) dan Total E&P (10%) sehingga
kepemilikan saham PT. Badak dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 2.2.Struktur Kepemilikan Saham PT Badak LNG

2.6.

Struktur Organisasi

Gambar 2.3. Struktur Organisasi PT. Badak LNG


Nita Ayu Handareni, 2711100009 10
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
PT. Badak LNG dipimpin oleh seorang President Director yang
berkedudukan di Jakarta, sedangkan untuk pelaksana kegiatan operasi kilang
LNG/LPG dipegang oleh Director/General Manager yang berkedudukan di
Bontang, Kalimantan Timur.

2.6.1 Maintenance Departement


Departemen Maintenance ini merupakan departemen yang memiliki
tanggung jawab terhadap perbaikan, pemeliharaan seluruh instrumen yang
terdapat di dalam kilang PT. Badak LNG sehingga proses produksi LNG dan
LPG dapat terus berjalan dengan lancar.
Tugas-tugas Maintanance Department yang utama adalah menjamin aset
perusahaan dalam kondisi yang baik untuk dioperasikan, handal, dapat beroperasi
sesuai dengan standar.
Sistem pemeliharaan kilang yang dilakukan dibagi menjadi 3 macam, yaitu:
1. Corrective Maintenance
Perbaikan peralatan yang dilakukan langsung setelah terjadi kerusakan
pada peralatan tersebut.
2. Preventive Maintenance (PM)
Pemeliharaan dilaksanakan berdasarkan waktu yang telah ditentukan baik
atas dasar rekomendasi pembuat peralatan, regulasi pemerintah maupun
evaluasi mandiri. Pekerjaan PM yang tidak dapat dikerjakan pada waktu
Plant on-line, dikerjakan pada waktu alat tidak beroperasi (shutdown).
Beberapa pekerjaan seperti overhaul turbin dan kompresor dilakukan
dengan bantuan kontraktor.
3. Predictive Maintenance
Pekerjaan pemeliharaan ini dilaksanakan berdasarkan hasil pengamatan
dan data maintenance yang diambil dari lapangan ketika peralatan sedang
beroperasi. Contoh pengamatan saat pabrik beroperasi adalah: pengamatan
korosi, pengukuran vibrasi mesin berputar, analisa sampel minyak
pelumas, pemeriksaan bahan isolasi, dan pengukuran kabel.
Posisi departemen ini dalam PT Badak LNG dapat digambarkan sebagai
berikut:
Nita Ayu Handareni, 2711100009 11
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur

Gambar 2.4 Struktur Organisasi Departemen Maintenance

Maintenance Department terbagi menjadi 6 seksi yaitu :


1. Reliability Section
Tanggung jawab seksi reliability section adalah sebagai fasilitator dan
motivator bagi departemen maintenance untuk menjaga kilang tetap
handal. Reliability juga bertanggung jawab dalam perhitungan dan laporan
performa keandalan kilang seperti evaluasi, penilaian, dan audit aktifitas
departemen maintenance.
2. Stationary Equipment & Construction Section
Tanggung jawab dari Staionary Equipment & Construction Section adalah:
a) Melakukan pemeliharaan dan perbaikan semua peralatan statis
seperti vessel, pipa, heat exchanger, dan sebagainya.
b) Melaksanakan preventive maintenance untuk alat statis
c) Pekerjaan non-listrik, non-instrumen, non-mobile, dan non-rotating
seperti pagar dan shelter
d) Perbaikan dan perawatan daerah off-plot.
3. Maintenance Planning and Turn Around Section
Tanggung jawab dari MPTA adalah melaksanakan perencanaan dan
pemeliharaan yang mencakup seluruh kilang LNG dan LPG di PT Badak
LNG, pemeliharaan preventive dan predictive, shutdown kilang,
pembiayaan operasional dan pengeluaran kapital yang meliputi proses
kontrak, serta berkoordinasi mengenai pemeliharaan pipe line dengan
Nita Ayu Handareni, 2711100009 12
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
VICO, CHEVRON, TOTAL, dan PERTAMINA. Seksi MPTA ini terbagi
menjadi 3 sub seksi yaitu:
a. Plant Area Sub Section
b. Turnaround, PM/PdM & Projects Sub Section
c. Contract,

Budget/Cost

Control,

System

Development

&

Administration Sub Section


4. Warehouse & Supply Chain Section
Tanggung jawab dari warehouse & supply chain section adalah
mengontrol sirkulasi investasi, pemrograman dan peramalan, memberikan
persediaan material, melakukan penyimpanan barang dalam gudang, dan
mendistribusikan barang pada pelanggan dengan biaya optimal dan level
pelayanan yang berkualitas. Seksi ini dibagi menjadi 5 sub seksi yaitu:
a. Inventory, Planning Control, Supply Chain and System Sub Section
b. Receiving Sub Section
c. Main Storage and Loading Sub Section
d. Shutdown, Program Material & Outdoor Storage Sub Section
e. Marine Engineer Sub Section
5. Machinery & Heavy Equipment Section
Tanggung jawab dari Machinery & Heavy Equipment Section adalah
merawat dan memperbaiki mesin yang berputar, peralatan berat yang
bergerak, peralatan kelautan, dan melakukan pekerjaan pada Shop. Seksi
MHE ini dibagi menjadi 4 sub seksi yaitu:
a. Marine Boat and Survey Sub Section
b. Welding, Machining, Heavy Equipment Sub Section
c. PM, PdM, Overhaul, Repair, Tools & Administration Sub Section
d. Train, Utilities, S & L, Off Plot Sub Section
6. Electrical Section
Tanggung jawab Electrical Section adalah memperbaiki, memelihara,
serta memasang suku cadang apabila ada kerusakan yang terjadi pada
instalasi komponen elektrik di pabrik.Section ini dibagi dalam 4 sub seksi,
yaitu:
a. Train A H, Utilities, Storage & Loading Sub Section
Nita Ayu Handareni, 2711100009 13
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
b. PM PdM I/II Sub Section
c. Overhaul & Shop Sub Section
d. N2/HVAC, PSF Sub Section
7. Instrument Section
Instrument Section bertanggung jawab untuk melaksanakan perbaikan
serta pemeliharaan alat-alat instrumen yang ada di seluruh plant, rumah
sakit, laboratorium, alat-alat rumah tangga, komputer, dan alat-alat
elektronika arus lemah lainnya sehingga dapat berjalan dengan
baik.Peralatan instrument yang dipelihara dan diperbaiki antara lain adalah
control valve, pressure/flow/temperature indicator, controller, dll.
Instrument Section dibagi dalam empat sub-section yaitu:
a. Module 1 & 2 Sub Section
b. Micro Processor Based Maintenance Sub Section
c. Preventive Maintenance Sub Section
d. Electronic & Analyzer Sub Section

2.6.2 Operations Department


Departemen Operasi bertanggung jawab atas berlangsungnya proses
pencairan gas dan seluruh sarana penunjang lainnya. Departemen ini terbagi lagi
menjadi :
1. Process Train ABCD Section
Bertanggung jawab atas proses yang berlangsung di train A-D.
2. Process Train EFGH Section
Bertanggung jawab atas proses yang berlangsung di train E-H.
3. Fire and Safety
Bertanggung jawab atas keselamatan kerja dan bahaya kebakaran.
4. Utility 1 Section
Bertanggung jawab terhadap seluruh proses sarana penunjang untuk
train ABCD dan community. Sarana penunjang tersebut antara lain:
pembangkit tenaga listrik, compressed air system, cooling water, unit
pengolahan air boiler, nitrogen plant, unit pengolahan air minum, dan
pemadam kebakaran.
Nita Ayu Handareni, 2711100009 14
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
6. Utility 2 Section
Bertanggung jawab terhadap seluruh proses sarana penunjang untuk
train EFGH dan community.
7. Storage and Loading Section
Bertanggung jawab atas fasilitas proses penerimaan feed gas, fasilitas
penyimpanan LNG, condensate stripping unit, nitrogen plant, dan
dermaga pengapalan LNG.
8.

Marine Section
Bertanggung jawab atas fasilitas penyediaan tug boat, mooring boat,
serta fasilitas pendukung lainnya yang tersedia di pelabuhan.

2.6.3 Technical Department


Departemen ini memiliki beberapa tugas utama, yaitu:
-

Troubleshooting

untuk

permasalahan-permasalahan

yang

memerlukan analisa yang detail dan mendalam.


-

Perencanaan produksi berdasarkan permintaan.

Quality Control / Quality Assurance (QC/QA) yang memberikan


jaminan mutu terhadap produksi LNG/ LPG PT. Badak LNG.

Project Engineering

Technical Department ini terdiri atas beberapa section yaitu:


1. Production Planning & Energy Conservation Section
Production Planning & Energy Conservation Section memiliki
tugas sebagai berikut:

Melakukan konfirmasi dengan pihak Pertamina mengenai


kapasitas produksi kilang

Melakukan konfirmasi dengan produsen gas mengenai suplai


feed gas

Menentukan

rencana

produksi

kilang

dengan

mempertimbangkan faktor internal dan eksternal, seperti


pasokan

feed gas, permintaan buyer, kondisi operasional

pabrik, kontrak Pertamina dengan buyer, jadwal kedatangan


kapal, dan lain-lain.
Nita Ayu Handareni, 2711100009 15
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
2. Facilities & Project Engineering Section
Facilities

&

Project

Engineering

Section

bertugas

untuk

memberikan bantuan teknik dalam pembangunan dan proyek


ekspansi plant, mengadakan diskusi teknis, dan mengevaluasi
proyek yang berhubungan dengan mekanik, instrumen, serta listrik
dalam perusahaan
3. Process & SHE Engineering Section
Process & SHE Engineering Section bertanggung jawab untuk
menentukan segala sesuatu yang berhubungan dengan proses
produksi serta menentukan spesifikasi alat dan kemungkinan
penggunaan alat atau sistem baru untuk mengoptimalkan proses
produksi. Selain itu, seksi ini juga bertanggung jawab atas
keselamatan

yang

berhubungan

perencanaan,

pengawasan,

dan

dengan

pemeliharaan

pengoperasian,
kilang

serta

keselamatan karyawan.
4. Inspection Section
Inspection Section bertanggung jawab atas kegiatan inspeksi,
analisis, pembuatan prosedur perbaikan, dan pemeliharaan, serta
evaluasi peralatan di plant.
5. Laboratory & Environment Control Section
Laboratory & Environment Control Section berperan sebagai
kontrol dari kondisi operasi yang dilaksanakan sehari-hari dengan
tugas sebagai berikut:

Quality Control dan Quality Assurance

Process Control

Technical Service

Validation Equipment and Methods

Environment Control

Problem Solving

2.6.4 Business Support Division

Nita Ayu Handareni, 2711100009 16


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
Business Support Division bertanggung jawab atas pengelolaan sumber
daya manusia, manajemen, serta meningkatkan kemampuan dan kesejahteraan
karyawan. Divisi ini terdiri atas 4 departemen yaitu:

Human Resources and Development Department

Information and Technology Department

Procurement and Contract Department

Services Department

2.6.5 Human Resources and Development Department


Departemen ini bertanggung jawab atas masalah kepegawaian dan
pengembangan sumber daya manusia. Dalam menjalankan tugasnya departemen
ini terbagi dalam dua seksi yaitu:
1. Training Section
2. Human Resources Service Section
2.6.6 Information and Technology Department
Tanggung jawab departemen ini antara lain:
Membuat dan menjalankan sistem pengelolaan data informasi
Mengelola sistem telekomunikasi di lingkungan PT. Badak
Mengelola perpustakaan PT. Badak LNG
Sementara itu, departemen ini dibagi kembali menjadi dua seksi berikut:
1. Application Technology Section
2. Network Technology Section

2.6.7 Procurement and Contract Department


Procurement and Contract Department bertanggung jawab untuk
mengurus kontrak seluruh pegawai dan pekerja di PT Badak LNG. Departemen
ini terbagi menjadi 2 seksi, antara lain:
1. Procurement Section
2. Contract Section

2.6.8 Services Department

Nita Ayu Handareni, 2711100009 17


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
Services Department bertanggung jawab atas pengadaan fasilitas yang
layak bagi karyawan dan keluarganya. Departemen ini terbagi atas dua seksi
yaitu:
1. Community Planning & Contract Implementation Section
2. Facility Service Section

2.6.9 Accounting Operation and Control Department


Accounting Operation and Control Department bertanggung jawab
mengelola administrasi keuangan dan transaksi perusahaan serta membuat
pembukuan perusahaan. Departemen ini terbagi atas:
1. Accounting Operation Section
2. Accounting Control Section

2.6.10 Internal Audit Department


Departemen ini berada di bawah pengawasan langsung Director and Chief
Executive Officer. Tugasnya adalah memeriksa keuangan dan administrasi PT.
Badak LNG.

2.6.11 Safety Health Environment and Quality (SHE-Q) Department


SHE-Q Department ini bertanggung jawab atas keselamatan yang
berhubungan dengan pengoperasian, perencanaan, pengawasan, dan pemeliharaan
kilang, serta keselamatan karyawan. Departemen ini dibagi atas beberapa seksi
yaitu:
1. OCC Health & Industrial Hygiene
2. Audit & Compliance
3. SHE-Q MS

2.6.12 Corporate Strategic Planning and Business Development Department


Corporate Strategic Planning and Business Development Department
memiliki tanggung jawab untuk:

Nita Ayu Handareni, 2711100009 18


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur

membantu departemen lain dalam mengadakan perencanaan dan


pelaksanaan suatu proyek yang dilaksanakan oleh kontraktor di PT Badak
LNG

melakukan evaluasi pelaksanaan kepada sistem manajemen PT Badak


LNG terhadap adanya perluasan kilang yang berskala besar

sebagai koordinator PT Badak LNG pada saat pelaksanaan perluasan


kilang serta mengkoordinir pelaksanaan persetujuan kontrak.

Departemen ini tediri dari Gas Processing Group dan Revenue Generating Group.

2.6.13 Corporate Secretary Department


Corporate Secretary Department bertanggung jawab atas semua yang
berhubungan dengan kontrol dokumen dan komunikasi baik di internal atau
eksternal PT Badak LNG Bontang.

Nita Ayu Handareni, 2711100009 19


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
BAB III
PROSES PEMBUATAN LNG

3.1 Konsep Proses


Proses pencairan gas alam bertujuan memperkecil volume gas alam supaya
lebih mudah ditransportasikan ke tujuan yang jauh sekalipun. Secara umum,
proses pembuatan gas alam cair baik LNG maupun LPG dapat dilakukan dengan
menggunakan dua proses yang berbeda. Pada proses yang pertama, gas alam
dicairkan dengan menurunkan temperaturnya hingga mencapai -155 oC dengan
tekanan tekanan normal atmosfir. Dalam kondisi seperti itu, gas alam dapat
disimpan dalam keadaan cair. Pada proses kedua, gas alam dicairkan dengan
mengaplikasikan tekanan yang besar, sementara temperaturnya dijaga pada
temperatur ambient (temperatur kamar normal). Proses kedua ini dapat menjaga
gas alam dalam kondisi cair, seperti yang terjadi pada tabung gas LPG yang
dipakai di perumahan.
Proses pembuatan LNG di PT Badak LNG dilakukan berdasarkan proses
pertama. Temperatur gas alam diturunkan hingga mencapai temperatur dimana
gas alam tersebut berubah menjadi cair. Operasi pendinginan ini dilakukan
melalui dua siklus secara bertahap, yaitu siklus propana dan suklus sistem Multi
Component Referigeration (MCR). Pada siklus propana, temperatur gas alam cair
diturunkan dengan menggunakan media pendingin berupa propana. Tahap
pendinginan dilanjutkan di dalam Main Heat Exchanger (MHE) berdasarkan
sistem MCR. MHE ini berupa heat exchanger tegak yang terdiri atas dua bagian,
yaitu warm bundle pada bagain bawah dan cold bundle pada bagian atas. Feed gas
yang masuk ke MHE didinginkan terlebih dahulu pada bagian warm bundle dari
temperatur -36 oC menjadi -120 oC dan tekanan 38 kg/cm2. Gas alam didinginkan
lebih lanjut pada bagian cold bundle hingga berubah menjadi gas alam cair
dengan temperatur sekitar -155 oC.

3.2 Proses Train


Proses pembuatan LNG di PT Badak LNG dilakukan dalam suatu unit
rangkaian yang disebut train. Saat ini di PT Badak LNG terdapat delapan buah
Nita Ayu Handareni, 2711100009 20
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
train, yang diberi nama train A sampai H. Semua train pada dasarnya memiliki
konstruksi yang identik, hanya berbeda pada kapasitasnya saja: train E, F, G, dan
H memiliki kapasitas yang lebih besar dari pada train A, B, C, dan D. Kedelapan
train ini beroperasi selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu secara terus
menerus. Setiap train terdiri atas lima buah plant, yaitu sebagai berikut.
a. Plant 1 CO2 Removal
b. Plant 2 Dehydration and Mercury Removal
c. Plant 3 Fractionation
d. Plant 4 Refrigeration
e. Plant 5 Liquefaction
Berikut adalah gambar skema proses pembuatan LNG di PT Badak LNG

Gambar 3.1.Skema proses pembuatan LNG di PT Badak LNG

3.2.1 Plant 1 - Proses CO2 Removal


Bertujuan untuk mengurangi kandungan CO2 yang terdapat pada gas alam
sampai konsentrasinya di bawah 50 ppm menggunakan larutan amine. Kandungan
CO2 harus dikurangi karena dapat mengganggu jalannya proses selanjutnya sebab
CO2 memiliki titik beku jauh lebih tinggi daripada LNG yaitu sekitar -60C
sehingga beresiko membeku dan menyumbat pipa Main Heat Exchanger.

Nita Ayu Handareni, 2711100009 21


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
Pemisahan CO2 dari feed gas dilakukan dengan proses absorbsi dengan
menggunakan larutan aMDEA yang gugus utamanya adalah Methyl Dietanol
Amine dengan Activator Piperazine.
Rumus molekul dari aMDEA adalah :
C2H4OH N C2H4OH

CH3
Reaksi yang terjadi pada penyerapan CO2 dengan aMDEA adalah :
CO2 + H2O
C2H4OH N C2H4OH + H2CO3

CH3

H2CO3
C2H4OH N C2H4OH + HCO3CH4+

Reaksi absorbsi ini bersifat reversible sehingga dengan pengaturan suhu


aMDEA yang telah terpakai dapat diregenerasi. Reaksi ke kanan adalah
eksotermal sedangkan reaksi ke kiri adalah reaksi endotermal.

Gambar 3. 2 Plant 1 Unit Penghilangan CO2

Nita Ayu Handareni, 2711100009 22


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
Deskripsi Proses
Gas umpan dari Knock Out Drum (KOD) yang telah dipisahkan dari
cairan hidrokarbon berat dan air, dialirkan ke kolom CO2 Absorber (1C-2) pada
tekanan sekitar 47 Kg/cm2, dan suhu 30C. Kolom CO2 absorber yang
digunakan memiliki 33 tray yaitu 31 tray jenis valve untuk mempertemukan feed
gas dengan larutan amine dan 2 tray jenis bubble cap di bagian pencucian serta
sebuah mist eliminator di bagian atas kolom absorber. Gas masuk dari bagian
bawah CO2 absorber sedangkan larutan amine dengan konsentrasi 40 % berat
masuk melalui bagian atas kolom dengan suhu 44C dan kecepatan alir 900
m3/jam. Ke dalam kolom juga diinjeksikan anti-foam untuk mencegah terjadinya
foaming di dalam kolom absorber.
Gas umpan yang sudah bersih dari CO2 sebelum keluar dari puncak CO2
absorber, pada tray paling atas dicuci dengan air kondensat untuk mengurangi
jumlah amine yang terbawa. Kemudian gas tersebut dialirkan ke CO2 Absorber
Overhead Cooler (1E-2) dengan media pendingin air laut dan selanjutnya
dimasukkan ke dalam CO2 Absorber Overhead Separator (1C-3), guna dipisahkan
dari cairan yang terbentuk dari gas. Gas yang telah terpisah dari cairan, akan
keluar dari puncak separator dan didinginkan lagi di dalam Drier Precooler (4E10) dengan media pendingin propane cair, untuk kemudian diproses lebih lanjut
pada Unit Dehidrasi dan Penghilangan Merkuri (Plant 2).
Larutan amine yang telah menyerap CO2, meninggalkan kolom CO2
absorber dari bagian bawah dan mengalir ke Amine Flash Drum (1C-4) untuk
memisahkan larutan amine yang kaya CO2 dengan gas umpan yang ikut terbawa.
Gas dari puncak flash drum dimanfaatkan sebagai bahan bakar boiler, sedangkan
amine yang kaya CO2 dilewatkan pada Amine Heat Exchanger (1E-4) dengan
media pemanas larutan amine, yang telah dibersihkan dari CO2 pada Amine
Regenerator (1C-5) dan Reboiler (1E-5) yang menggunakan uap bertekanan 50
psig. Larutan amine yang kaya CO2, setelah keluar dari alat penukar panas,
dimasukkan ke dalam sebuah kolom regenerator dan dipanaskan oleh reboiler
yang dihubungkan dengan bagian dasar amine generator.
CO2, uap air, dan sebagian kecil uap amine melalui puncak Amine
Regenerator dilewatkan pada Amine Regenerator Condenser (1E-7) dengan media
Nita Ayu Handareni, 2711100009 23
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
pendingin air laut, kecuali di Train C dan D yang menggunakan fin-fan air cooler.
Cairan yang terbentuk ditampung dalam Amine Regenerator Overhead
Accumulator (1C-6) yang digunakan sebagai refluks untuk amine regenerator,
sedangkan gas CO2 dibuang ke atmosfer melalui puncak kolom accumulator.
Larutan amine yang sudah bersih dari CO2 keluar dari bagian bawah
kolom amine regenerator untuk bergabung dengan amine dari reboiler, lalu
dialirkan ke alat penukar panas untuk didinginkan dengan media pendinginnya
adalah amine kaya CO2 yang akan masuk ke amine regenerator. Larutan amine ini
keluar dari alat penukar panas amine (amine HE) lalu bergabung dengan amine
dari Amine Surge Tank (1D-1), dan selanjutnya dipompakan kembali ke kolom
CO2 absorber, setelah sebelumnya dilewatkan pada alat pendingin Lean Amine
Precooler (1E-9) yang berupa fin-fan cooler dan Trim Cooler (1E-3) dengan
media pendingin air laut.
Untuk menjaga kebersihan larutan amine dari hidrokarbon dan kotoran
lainnya, 10 % dari aliran amine dialirkan ke Mechanical Filter (1Y-1) dan
Carbon Treater (1C-7) dan selanjutnya ditampung dalam Amine Surge Tank
(1D-1). Bila larutan amine berkurang akibat penguapan maupun kebocoran yang
terjadi, maka perlu dilakukan penambahan amine murni, yang dicampur dengan
larutan amine yang ada.

Gambar 3.3. Plant 1 Gas Purification Unit


Nita Ayu Handareni, 2711100009 24
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
3.2.2 Plant 2 - Gas Dehidration and Mercury Removal Unit
Plant 2 berfungsi untuk menghilangkan uap air sampai di bawah uap air 0,5
ppm dengan proses absorbsi dan menurunkan kadar Merkuri (Hg) sampai 0,01
ppb. Uap air perlu dihilangkan, karena akan membeku pada proses pendinginan
gas alam sehingga dapat menyumbat tube pada heat exchanger. Merkuri harus
dihilangkan karena dapat bereaksi dengan Aluminium membentuk senyawa
amalgam yang bersifat korosif dan merusak tube-tube yang terbuat dari
Aluminium.
Untuk menghilangkan uap air, digunakan tiga buah bed drier yang bekerja secara
bergantian. Dua bed drier berada dalam keadaan beroperasi (service) dan satu ada
dalam keadaan stand by sesuai program. Absorbent yang digunakan untuk
memisahkan H2O adalah molecular sieve type 4A dan Allundum. Sementara itu
untuk menghilangkan Merkuri digunakan Bed Mercury Removal yang berisi
Sulfur Impregnated Activated Charcoal dimana Merkuri akan bereaksi dengan
absorbent membentuk senyawa HgS.

Gambar 3.4. Plant 2 Unit Penghilangan Merkuri dan Air


Deskripsi Proses
Gas yang telah bebas dari CO2 dari Plant 1 didinginkan dalam suatu
Evaporator (4E-10) menggunakan media pendingin refrigerant propane sampai
suhu sekitar 18C. Kemudian dialirkan ke dalam Drier Separator Decanter (2C-1)
Nita Ayu Handareni, 2711100009 25
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
untuk dipisahkan dari air dan hidrokarbon berat. Air dan hidrokarbon berat
dikirim ke Condensate Stabilizer Unit untuk diproses lebih lanjut, sedangkan gas
dari bagian atas separator akan dialirkan ke dalam Fixed Bed Drier Unit (2C2A/B/C) yang berisi molecular sieve type 4A dan Allundum ball. Gas umpan
tersebut dikeringkan hingga dicapai kadar air maximum 0,5 ppm. Keluar dari
drier, gas kemudian disaring pada Drier After Filter (2Y-1A) untuk
menghilangkan partikel molecular sieve yang mungkin terbawa oleh gas, dimana
rumus molecular sieve adalah :
(Na2O2)x(SiO2)y(Al2O2)x(H2O)z
Gas yang telah disaring kemudian dilewatkan pada Mercury Removal
Vessel (2C-4) untuk menyerap Merkuri yang terkandung dalam gas umpan.
Sebagai penyerap digunakan karbon aktif yang telah diimpregnasi dengan
belerang. Zat ini mampu menyerap Merkuri sampai kadar maksimum 0,01 gr/m3
(0,01 ppbw). Merkuri terabsorbsi secara kimiawi karena bereaksi dengan Sulfur
membentuk HgS di permukaan karbon aktif sementara senyawa Merkuri Organic
terabsorbsi secara fisik di permukaan karbon aktif. Gas yang keluar kemudian
disaring lagi dengan Mercury Removal After Filter (2Y-1B) untuk dipisahkan dari
absorber yang mungkin terbawa. Gas yang sudah kering ini dialirkan ke Medium
Level Propane Evaporator (4E-13). Dari sini gas akan diproses lebih lanjut oleh
Scrub Column (3C-1).

3.2.3 Plant 3 - Fractination Unit


Proses ini bertujuan untuk memisahkan fraksi-fraksi methane, ethane,
propane, butane, dan hidrokarbon berat. Fraksi ringan yang sebagian besar terdiri
dari methane akan menjadi umpan bagi Main Heat Exchanger (5E-1). Propane
dan butane akan diolah menjadi LPG dan media pendingin serta sebagai make-up
MCR. Ethane akan diinjeksikan ke feed gas untuk menaikkan HHV (nilai bakar)
dari LNG dan sebagian disimpan sebagai cadangan make-up MCR. Hidrokarbon
berat akan dikirim ke Plant-16 sebagai kondensat.

Nita Ayu Handareni, 2711100009 26


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur

Gambar 3. 5 Plant 3 Unit Pemisahan Hidrokarbon Berat


Deskripsi Proses
Gas dengan suhu sekitar -28,5C dimasukkan ke da1am Scrub Column
(3C-1). Pada temperatur tersebut hidrokarbon berat yang terkandung dalam gas
umpan akan mengembun dan berada di bagian bawah kolom. Sebuah reboiler
dengan pemanas uap air bertekanan 50 psig dan temperatur 150C memberikan
panas untuk memisahkan hidrokarbon berat dengan hidrokarbon ringan. Hasil
puncak Scrub Column didinginkan di Scrub Column Overhead Condenser (4E12) dengan pendingin propana sampai suhu -35C dan selanjutnya masuk ke
Scrub Column Condenser Drum (3C-2) untuk memisahkan kondensat. Gas yang
keluar dari bagian atas drum tersebut adalah sebagai gas umpan ke unit utama
pembuatan LNG.
Cairan hidrokarbon dari dasar Scrub Column dialirkan ke sebuah cooler
dengan media pendingin air laut selanjutnya masuk ke Kolom Deethanizer (3C-4)
yang memiliki 50 tray, untuk memisahkan ethane dengan komponen yang lebih
berat lainnya. Pemanasan dilakukan dalam suatu reboiler dengan media pemanas
uap bertekanan 150 psig dengan suhu sekitar 200C. Uap dari puncak Kolom
Deethanizer (3C-4) diembunkan dalam sebuah kondensor dengan media
pendingin refrigerant propane, kemudian ditampung dalam sebuah Condensate
Drum. Gas yang tidak ikut mengembun dialirkan sebagai bahan bakar boiler yang
Nita Ayu Handareni, 2711100009 27
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
sebelumnya dipanaskan ter1ebih dahulu di dalam sebuah heater dengan media
pemanas uap bertekanan 50 psig. Sedangkan cairan ethane digunakan sebagai
refluks. Produksi ethane dikirim ke tangki penampungan yang siap untuk
digunakan sebagai make-up pada MCR system, kelebihan produksi ethane
dimasukkan ke dalam gas umpan (reinjeksi) ke dalam Main Heat Exchanger (5E1) untuk menaikkan nilai kalor produk LNG.
Cairan dari dasar kolom Deethanizer (3C-4) dialirkan ke Column
Depropanizer (3C-6) untuk memisahkan komponen propane dengan komponen
yang lebih berat dan dipanaskan dalam suatu reboiler dengan media pemanas uap
bertekanan 50 psig. Kolom Depropanizer (3C-6) ini memiliki 47 tray. Uap dari
puncak Column Depropanizer (3C-6) diembunkan dalam sebuah kondenser
dengan media pendingin air laut kemudian ditampung dalam sebuah Overhead
Drum Propane. Propane yang digunakan sebagai produk LPG yang sebelumnya
didinginkan pada sebuah Propane Return Subcooler (3E-12) dengan propane
refrigerant. Pada Train E-H, propane didinginkan lebih lanjut pada LNG Flash
Exchanger (5E-2) dengan media pendingin uap produksi LNG.
Cairan hidrokarbon dari dasar Column Depropanizer (3C-6) dialirkan ke
Column Debuthanizer (3C-8) yang memiliki 29 tray. Sebuah reboiler dengan
media pemanas uap air bertekanan 50 psig digunakan untuk memisahkan
komponen butane dengan komponen yang lebih berat. Cairan butane yang
terbentuk digunakan sebagai refluks dan sebagai recycle ke dalam Column
Overhead Drum Scrubber untuk menambah refluks di Column Scrubber agar
diperoleh gas umpan yang memenuhi spesifikasi. Butane dikirim sebagai LPG
butane yang sebelumnya didinginkan dulu pada sebuah Return Sub Cooler dengan
media pendingin refrigerant propane. Gas yang tidak ikut mengembun di dalam
drum dialirkan ke sistem fuel gas sebagai bahan bakar boiler.
Pada Train A-D, ada suatu unit tambahan Propane and Butane Splitter.
Butane yang dihasilkan Debutanizer (3C-8) masih memiliki kandungan propane
yang cukup tinggi (berdasarkan hasil analisa laboratorium), sehingga dipisahkan
lebih lanjut pada unit splitter ini. Propane dan Butane yang telah dipisahkan akan
dikirim ke LPG Storage. Cairan dari dasar Kolom Debutanizer (3C-8)
dipompakan ke Condensate Stabilizer (Plant-16) untuk diproses lebih lanjut, atau
Nita Ayu Handareni, 2711100009 28
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
dapat juga dikirim langsung ke tangki penampungan di Plant-20 dengan terlebih
dahulu melalui sebuah alat pendingin dengan media pendinginnya air laut.

3.2.4 Plant 4 - Refrigeration Unit


Ada dua macam sistem refrigerasi yang digunakan dalam proses
pembuatan LNG, yaitu :
1. Sistem pendinginan propane : digunakan untuk mendinginkan feed gas
selama dalam proses pemurnian, fraksinasi hingga mencapai titik
embunnya dan pendinginan Multi Component Refrigerant.
2. Sistem pendinginan Multi Component Refrigerant (MCR) : digunakan
untuk mendinginkan MCR dan mendinginkan serta mencairkan gas alam
hingga menjadi LNG di MHE.

Gambar 3. 6 Plant 4 Unit Pendinginan Propana


Deskripsi Proses Sistem Pendinginan Propane
Sistem pendinginan propane ini memberikan pendinginan yang diperlukan
oleh gas umpan untuk mengembunkan air atau zat-zat hidrokarbon selama gas
alam mengalami proses. Propane ini juga memberikan pendinginan untuk MCR
dan pendinginan di bagian fraksinasi. Pendinginan untuk gas alam, MCR,
fraksinasi terjadi pada tahap evaporasi dari propane dimana penguapan propane
cair mengambil panas laten dari gas yang difraksinasi. Di dalam sistem pendingin
propane digunakan tiga tingkat pendinginan, yaitu :

Nita Ayu Handareni, 2711100009 29


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
1. Propane cair dengan tekanan 7 Kg/cm2 dapat mendinginkan sampai 18C,
(high level propane).
2. Propane cair dengan tekanan 3,1 Kg/cm2 dapat mendinginkan sampai -4C
(medium level propane).
3. Propane cair dengan 0,1 Kg/cm2 dapat mendinginkan sampai temperatur 34C (low level propane).
Propane cair tersebut semuanya dalam keadaan cair jenuh (saturated
liquid). Uap propane mengalir menjadi umpan di suction Kompresor 3 Stage
(4K-1). Kompresi dilakukan secara polytropic. Uap propane pada tekanan tinggi
dapat dicairkan kembali dengan pendinginan menggunakan air laut. Propane cair
mempunyai temperatur dan tekanan yang relatif tinggi pada kondisi cair jenuh
(60C dan tekanan 14 Kg/cm2). Gas propane yang ditekan pada kompresor (4K-l)
akan keluar dari discharge dengan tekanan 13,9 Kg/cm2 pada temperatur 65C.
Gas kemudian mengalir ke Propane Desuperheater (4E-1A/B), dimana propane ini
didinginkan sampai temperatur 40C. Kemudian propane didinginkan dan
diembunkan pada Kondensor (4E-2A/B) pada tekanan 12,5 Kg/cm2, dengan
pendingin air laut sampai mencapai temperatur 37C. Propane cair dari (4E-2)
mengalir ke Propane Acummulator (4C-1). Vent Condensor (4E-3) akan
melepaskan gas-gas yang tidak mengembun, keluar dari sistem propane ke Blow
Down.
Uap propane masuk ke sistem pendinginan dari Bottom High Level
Propane Evaporator (4E-10 dan 4E-7). Jumlah yang diperlukan diatur dengan
memperhatikan level pada Propane Acummulator (4C-1) secara auto. Sebagian
besar propane dari (4C-1) diekspansikan ke dalam Propane Flash Drum (4C-2)
tekanan tinggi (7,1 Kg/cm2). Propane cair dari (4C-1) juga disemprotkan ke High
Level Propane Evaporator (4E-10) pada tekanan 7,2 Kg/cm2 dan juga ke MCR
High Level Propane Evaporator (4E-7). Uap propane dari (4C-1) ini masuk ke
(4C-12) untuk memisahkan cairannya sebelum dihisap oleh Compressor Propane
(4K-1). Propane cair dari Propane Flash Drum disemprotkan ke dalam Medium
Propane Evaporator (4E-8) untuk mendinginkan MCR dan Feed Medium Level
Propane Evaporator (4E-13). Uap dari kedua evaporator ini kembali ke (4C-3) dan
dipisahkan cairannya sebelum dihisap kompresor pada Stage 2.
Nita Ayu Handareni, 2711100009 30
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
Propane cair dari Propane Evaporator diekspansikan pada tekanan 0,2
Kg/cm2 di dalam (4E-13) dan Overhead Condenser (4E-14). Dari (4E-12) ini
propane juga mengalir ke Propane Refrigerant Drum (3C-10) di bagian fraksinasi
pada tekanan 0,2 Kg/cm2. Uap-uap propane dari exchanger dan refrigerant drum
di bagian fraksinasi (3C-10) kembali ke Propane Flash Drum (4C-4) kemudian
dihisap kompresor (4K-l). Pendingin propane untuk bagian fraksinasi didapat dari
Propane Evaporator tekanan sedang (4E-12) menga1ir ke Propane Drum untuk
fraksinasi di (3C-10). Propane memberikan pendingin untuk De-ethanizer
Condenser (3E-5), Propane Return Subcooler (3E-12), dan Butane Return
Subcooler (3E-13). Propane dari pendingin-pendingin ini menguap mengalir
kembali ke (3C-10) kemudian propane mengalir ke (4C-4) melalui (4C-5).

Gambar 3.7. Sistem Pendingin Propane

Deskripsi Proses Sistem Pendingin MCR (Multi Component Refrigerant)


MCR yang digunakan memiliki komposisi dalam persen basis kering : N2
(02,0 02,2 %), Cl (40,0 46,0 % ), C2 (45,0 50,0 %), C3 ( 02,0 06,0 %),
C4+ (00,0 01,0 %). Tujuan dari pendinginan dengan Multi Component
Refrigerant (MCR) ini adalah untuk mendinginkan gas umpan dan mencairkannya
dalam Main Heat Exchanger (5E-1) dan mendinginkan gas MCR sendiri. Multi
komponen ini terdiri dari N2, Cl, C2, dan C3. Kompresi MCR dilakukan dengan
dua tahap, yaitu dengan kompresor (4K-2) dan (4K-3). MCR masuk ke kolom
(4C-7) untuk memisahkan MCR cair dan uap, dimana sebagai feed (4C-7) adalah
Nita Ayu Handareni, 2711100009 31
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
uap dari hasil pendinginan di (5E-1). Uap MCR dari (4C-7) keluar dengan
temperatur -40C kemudian masuk ke tahap pertama (4K-2) dengan tekanan 3
Kg/cm2. Kemudian keluar dari (4K-2) dengan temperatur 71C dan tekanan 14
Kg/cm2. Aliran MCR ini kemudian didinginkan dengan air laut di Exchanger (4E5) hingga temperaturnya 32C. Selanjutnya masuk ke kompresor tahap kedua
(4K-3) dengan tekanan 14 Kg/cm2. Dari (4K-3) MCR keluar pada temperatur
130C dan tekanan 47 Kg/cm2, kemudian didinginkan oleh Exchanger (4E-6)
menggunakan air laut hingga mencapai temperatur 30C. MCR kemudian
mengalir ke Propane Evaporator dilanjutkan ke Medium Level Propane
Evaporator (4E-8), hingga keluar pada temperatur -5C. Keluar dari Medium
Level Propane Evaporator (4E-8), MCR masuk (4E-9) pada temperatur -32C.
Aliran ini ke Separator (5C-l), dimana komponen cair dan uap akan terpisah. Fase
cair lebih banyak mengandung ethane dan propane, sedangkan fase gas banyak
mengandung nitrogen dan metane.

Gambar 3. 8 Sistem Pendingin MCR


3.2.5 PLANT 5 - Liquefaction Unit
Plant ini berfungsi untuk mencairkan feed gas menjadi LNG dengan media
pendingin MCR di dalam Main Heat Exchanger yang merupakan tahap akhir dari
proses pembuatan LNG. Pada bagian ini gas alam dari Scrub Column Condensate
drum (3C-2) dicairkan dengan menggunakan medium pendingin MCR dalam
Nita Ayu Handareni, 2711100009 32
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
Main Heat Exchanger (5E-1). Refrigerant campuran ini terdiri dari Nitrogen (N2),
Methane (C1), Ethane (C2), dan Propane (C3).

Uraian Proses
MCR dialirkan dari Evaporator (4E-9) menuju kolom MR High Pressure
Separator (5C-1). Kolom ini bertekanan 46 Kg/cm2g berfungsi untuk memisahkan
MCR menjadi dua fasa, yaitu fasa gas yang sebagian besar terdiri dari N2 dan C1,
dan fasa cair yang sebagian besar terdiri dari C2 dan C3 . Fasa gas dan cair MCR
masuk pada bagian bawah (5E-1) dalam tube yang berbeda sebagai pendingin.
Feed gas dari (3C-2) masuk ke (5E-1) pada bagian bawah pada sisi tube pada
temperatur sekitar -36,5oC dengan tekanan 38 Kg/cm2g. Kolom pendingin (5E-1)
merupakan suatu heat exchanger vertikal yang terdiri dari dua bagian, yaitu Warm
Bundle dan Cold Bundle.
Pada Warm Bundle, ketiga aliran masuk (MCR uap, MCR cair, feed gas)
dialirkan ke atas. Pada akhir Warm Bundle, MCR cair dialirkan melalui kerangan
Joule-Thomson 5FV-2 sehingga tekanannya turun menjadi 2,5 Kg/cm2g dengan
temperatur -129oC. Kemudian MCR cair ini ditampung pada Warm End Pressure
Phase Separator yang berada di dalam shell (5E-1) dan disaring di (5Y-4).
Selanjutnya MCR ini didistribusikan pada bagian atas Warm Bundle, bergabung
dengan MCR uap yang datang dari Shell Cold Bundle.
MCR cair dalam Shell Warm Bundle ini berkontak dengan tiga aliran yang
masuk sehingga temperatur MCR uap, MCR cair, dan feed gas diturunkan sampai
mendekati titik embunnya. Uap MCR yang ada dalam shell Main Heat Exchanger
keluar pada bagian bawah dan masuk ke kolom MR First Stage Suction Drum
(4C-7), lalu uapnya masuk ke kompresor MR First stage Compressor (4K-2)
dengan tekanan hisap 2,1 Kg/cm2g dan keluar dengan tekanan 14 Kg/cm2g.
Keluaran MCR didinginkan pada pendingin Compressor Intercooler (4E-5A/B)
dengan pendingin air laut, selanjutnya masuk ke kolom MR Second Stage Suction
Drum (4C-8). Uap MCR dihisap oleh kompresor MR Second Stage Compresor
(4K-3) dan keluar dengan tekanan 50 Kg/cm2g. Keluaran ini didinginkan lagi
pada MR Compressor Aftercooler (4E-6) dan didinginkan lebih lanjut dalam
Evaporator Propane secara berturut-turut pada MCR High Level Propane
Nita Ayu Handareni, 2711100009 33
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
Evaporator (4E-7), dan MCR Medium Level Propane Evaporator (4E-8), dan
MCR Low Level Propane Evaporator (4E-9) kemudian masuk ke kolom (5C-1)
untuk kembali mendinginkan feed gas di Main Heat Exchanger.
Pada bagian Cold Bundle, MCR uap dan feed gas dari Warm Bundle yang
mulai terkondensasi didinginkan lebih lanjut. Di puncak Cold Bundle, MCR
dilewatkan pada kerangan Joule-Thomson 5PV-15 sehingga tekanan turun
menjadi 2,6 Kg/cm2g dengan temperatur -151oC. MCR ditampung pada Low
Pressure Separator dan di distribusikan di bagian shell Cold Bundle untuk
mendinginkan MCR uap dan feed gas dalam tube.
Feed gas meninggalkan puncak Main Heat Exchanger dalam keadaan cair pada
temperatur sekitar -149oC dengan tekanan 24 Kg/cm2g. Kemudian LNG
dimasukkan ke dalam kolom LNG Flash Drum (5C-2), diturunkan tekanan
menjadi 0,25 Kg/cm2g dengan temperatur -160oC. LNG kemudian dipompa ke
LNG storage.

3.3 UTILITIES
Utilities merupakan sarana penunjang untuk memenuhi kebutuhan yang
diperlukan dalam proses pengolahan gas alam serta penyediaan air dan listrik
untuk community. Utilities terbagi atas On-Plot Utilities dan Off-Plot Utilities.
3.3.1 On-Plot Utilities
On-Plot Utilities meliputi beberapa plant untuk penyediaan kebutuhan
yang diperlukan proses di dalam pabrik, yaitu :
a.

Plant 29 (Nitrogen Plant)


Pada plant ini, udara dari plant 35 yang telah dibersihkan dari H2O dan CO2

dimasukkan ke dalam coldbox dan dengan cara destilasi pada temperatur rendah (160oC) udara dipisahkan menjadi N2 dan O2. Gas Nitrogen dikirim ke sistem
distribusi sedangkan O2-nya dibuang ke atmosfer. Nitrogen (N2) digunakan
sebagai bahan campuran MCR, untuk purging (pembebasan gas yang mudah
terbakar atau menghambat proses), serta dipakai sebagai blanketing pada operasi.
b. Plant 31 (Steam and Power Generation)
Plant ini berfungsi sebagai sarana penyedia steam dan listrik. Di kilang LNG
Bontang terdapat 21 Boiler yang digunakan untuk menghasilkan steam.
Nita Ayu Handareni, 2711100009 34
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan listrik terdapat 13 unit turbin
uap/generator dengan kapasitas 12,5 MW, 1 turbin gas/generator dengan kapasitas
12,5 MW serta 1 Diesel/Generator dengan kapasitas 5 MW.
c.

Plant 35 (Compressed Air System)


Plant ini menyediakan udara bertekanan yang dipakai untuk keperluan

instrumentasi di pabrik, dan sebagai keperluan lainnya. Terdiri dari :


Empat unit kompressor centrifugal dengan tenaga listrik 900 HP,

1.

masing-masing mempunyai kapasitas 500 SCFD.


Satu unit kompressor torak dengan tenaga diesel sebagai penggerak

2.

150

HP, mempunyai kapasitas 500 SCFD


Pada pengoperasian normal diperlukan 2 unit kompressor dengan tekanan udara +
9.1 Kg/cm2, udara bertekanan ini digunakan sebagai :

Udara/angin untuk pembersihan di bengkel dan lain-lain.

Udara/angin untuk instrumentasi.

Sebagai bahan baku untuk pembuatan nitrogen.

3.3.2 Off-Plot Utilities


Pada daerah Off-Plot Utilities terdapat beberapa plant yang terdiri sebagai berikut:
a.

Plant 32 (Cooling Water Plant)


Plant ini menyediakan air laut untuk pendinginan pada proses pembuatan

LNG. Peralatan utama di Plant 32 adalah 22 buah pompa air laut. Air laut tersebut
sebelum didistribusikan ke proses train terlebih dahulu dibersihkan oleh sodium
hypochlorite (NaOCl) untuk mengurangi kandungan chlorin hingga maksimum 1
ppm.
b. Plant 33 (Fire Water System)
Plant ini menyediakan air yang diperlukan untuk pemadam kebakaran (air
tawar dan air laut). Terdapat beberapa pompa untuk keperluan tersebut, sedangkan
tekanan sistem perpipaannya dijaga secara kontinu yaitu sekitar

12 Kg/cm2

dengan menggunakan Jocky Pump, sehingga siap dipakai jika diperlukan.


c.

Plant 36 (Water Treating Plant for Boiler)


Plant ini berfungsi untuk menyediakan air yang sudah diolah untuk keperluan

pembuatan steam (uap air) serta make-up air untuk penambahan kebutuhan
Nita Ayu Handareni, 2711100009 35
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
pembuatan steam. Sebagian besar air yang dibuat menjadi steam berasal dari
steam condensate dari proses ataupun turbin-turbin.
d. Plant 34 (Sewer and Sewage Plan)
Plant ini berfungsi sebagai pengolah air limbah untuk dinetralkan sebelum air
tersebut dibuang ke laut.
e.

Plant 48-49 (Water Treating Plant)


Plant ini berfungsi untuk mengolah air dari sumur yang akan dipakai untuk

keperluan di pabrik ataupun community.

3.4 STORAGE DAN LOADING


Penyimpanan bertujuan untuk menampung LNG yang dihasilkan sebelum
dimuat ke kapal, sedangkan pengapalan bertujuan untuk membawa LNG ke
negara pembeli. Tugas utama yang ditangani oleh Storage & Loading Section
adalah sebagai berikut :
1.

Menampung dan menyimpan hasil produksi LNG dan LPG hingga


pengapalannya.

2.

Menanggulangi sistem blowdown, flare dan burn pit.

3.

Memproduksi gas nitrogen dan gas cair untuk keperluan LNG tanker.
Beberapa plant berhubungan dengan tugas tersebut yaitu :

a.

Plant 15 (Pendinginan LPG Prophane dan Buthane)


Pada plant ini hasil prophane (-40C) dan buthane (-4C) didinginkan hingga

temperatur penyimpanannya pada tekanan sedikit di atas atmosfer. Beberapa


peralatan utama unit pendinginan LPG antara lain; Warm Heat Exchanger (15E3) dan Cold Heat Exchanger (15E-4), serta refrigerant unit berupa Kompresor
(15K-1), Desuperheater (15E-1), Refrigerant Condenser (15E-2) dan Accumulator
(15C-1).
b. Plant 16 (Condensate Stabilizer)
Plant ini digunakan untuk mengolah cairan-cairan hidrokarbon berat dari
Knock Out Drum (KOD) dan proses train menjadi bahan bakar (condensate)
untuk kendaraan. Sedangkan gas-gas yang dihasilkan oleh unit ini, digunakan
sebagai bahan bakar boiler dan sebagian lagi dikembalikan ke Plant 21 dengan
kompressor. Sebagian besar condensate tersebut dikirim kembali ke lapangan
Nita Ayu Handareni, 2711100009 36
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
Muara Badak sedangkan sebagian kecil dipakai sebagai bahan bakar kendaraan di
PT Badak LNG. Kapasitas produksi unit Plant 16 sekitar 210 m3/jam.
c.

Plant 17 (LPG Storage Tanks)


Pada plant ini terdapat 3 buah tanki penampungan produk propane dan 2 buah

tanki penampungan untuk butane dengan kapasitas masing-masin 40.000 m3.


Setiap tanki dilengkapi dengan 2 buah pompa loading dengan kapasitas masingmasing 2.500 m3/jam dan 1 buah pompa sirkulasi dengan kapasitas 50 m3/jam.
Pompa-pompa tersebut digunakan untuk memompakan LPG ke kapal melalui
2 transfer line, sedangkan pompa sirkulasi berfungsi untuk mensirkulasikan LPG
dari satu tangki ke tangki yang lain melalui loading dock II dan loading dock III
selama tidak ada LPG loading. Hal ini dimaksudkan agar jaringan LPG loading
line tetap dingin. Uap propane yang timbul dari tangki dicairkan kembali oleh
Kompressor (17K-1) untuk dikembalikan ke tangki propane setelah didinginkan.
Sistem pengukuran pemuatan LPG ke kapal yang dipakai adalah switch meter
prover propane dan butane.
d. Plant 19 (Relief and Blowdown System)
Pada plant ini, cairan gas bocoran dikumpulkan dari proses train kemudian
dikirim ke tempat yang aman untuk dibakar. Ada tiga jenis alat pembakaran yang
dipakai yaitu :
1.

Dry Flare System, untuk menyalurkan dan membakar gas hydrocarbon


kering (tanpa H2O).

2.

Wet Flare System, untuk menyalurkan dan membakar gas hydrocarbon


yang masih mangandung H2O.

3.

Burn Pit dan Liquid Disposal System, untuk menyalurkan dan membakar
buangan hydrocarbon cair dari process train.

e.

Plant 20 (Tangki Penampung Produk Refrigerant)


Cairan hasil refrigerant dari proses train ditampung pada tangki-tangki (20C-

1A/B) dan (20C-3A/B). Refrigerant tersebut disimpan dan siap dipakai sebagai
make-up kebutuhan refrigerant pada proses train. Sedangkan condensate dari
Plant 16 ditampung di tangki (20D-4).

Nita Ayu Handareni, 2711100009 37


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
f.

Plant 21 Knock Out Drum (KOD)


Plant 21 meliputi sistem perpipaan yang menghubungkan Muara Badak

hingga kilang LNG Bontang. Terdapat 8 buah tangki KOD yang berfungsi untuk
memisahkan antara gas dan cairan hidrokarbon sebelum dialirkan ke proses train
untuk diolah menjadi LNG. Jaringan pipa bahan baku gas alam dari Muara Badak,
terdiri dari dua buah jaringan pipa berukuran 36 dan dua buah jaringan pipa
berukuran 42.
Pada pipa gas dari Muara Badak diluncurkan bola pembersih (scrapper/brush
pig) dengan tekanan operasi 720 psig, untuk membawa cairan yang tertinggal
pada pipa, yang kemudian diterima oleh 4 unit Pig receiver 36 dan 42.
g.

Plant 24 (LNG Tank and Loading Dock)


Plant ini terdiri dari tangki-tangki LNG dan Loading Dock. Produk LNG dari

proses train ditampung pada 6 tangki LNG (24D-1/2/3/4/5/6) dimana empat


tangki berkapasitas 95.000 m3 dan dua tangki berkapasitas 126.500 m3. Untuk
pemuatan LNG ke kapal terdapat 3 unit Loading Dock yaitu :

Loading Dock 1 terdapat 4 buah LNG Loading Arm dan 1 LNG Boil-Off
Loading Arm.

Loading Dock 2 dan 3 yang masing-masing terdapat 4 buah LNG Loading


Arm dan 1 LNG Boil-Off Loading Arm, serta 3 buah LPG Loading Arm
dan 1 LPG Boil-Off Loading Arm.

h. Plant 38 (Sistem Gas Bahan Bakar)


Plant ini digunakan untuk menampung dan menyediakan kebutuhan bahan
bakar boiler. Bahan bakar boiler (fuel system) tersebut didapatkan dari sisa uap
LNG dari Kompresor (2K-1) pada masing-masing proses train serta dari Boil-Off
Kompresor (24K).
i.

Plant 39 (Nitrogen generator)


Pada plant ini, 2 unit generator digunakan untuk mengolah udara sebagai

bahan baku dengan produk nitrogen cair dan gas. Setelah melewati proses,
nitrogen cair ditampung di tangki-tangki penampungan sebagai cadangan atau
untuk memenuhi permintaan kapal-kapal LNG, sedangkan produk Nitrogen gas
untuk kebutuhan operasional kilang LNG.

Nita Ayu Handareni, 2711100009 38


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur

TUGAS KHUSUS

Nita Ayu Handareni, 2711100009 i


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
DAFTAR ISI
Halaman Judul ...................................................................................................... i
Daftar Isi.............................................................................................................. ii
Daftar Gambar .................................................................................................... iv
Daftar Tabel......................................................................................................... v
Bab 1 Pendahuluan .............................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 1
1.2 Tujuan .................................................................................................... 1
1.3 Ruang Lingkup dan Batasan Masalah...................................................... 1
1.4 Metodologi Penulisan ............................................................................. 2
1.5 Sistematika Penulisan ............................................................................. 2
Bab 2 Tinjauan Pustaka........................................................................................ 3
2.1 Pile (Tiang Pancang) .................................................................................. 3
2.1.1 Definisi Pile (Tiang Pancang) .............................................................. 3
2.1.2 Fungsi Pile (Tiang Pancang) ................................................................ 3
2.1.3 Jenis Pile (Tiang Pancang) ................................................................... 4
2.2 Marine Fouling........................................................................................... 6
2.2.1 Definisi Marine Fouling ....................................................................... 6
2.2.2 Faktor Pertumbuhan Marine Fouling ................................................... 7
2.2.3 Kerugian Akibat Fouling...................................................................... 9
2.2.4 Pencegahan Marine Fouling ............................................................... 10
2.3 Proteksi Katodik ....................................................................................... 11
2.4 Marine Growth Preventer (MGP) ............................................................. 12
2.5 Mekanisme Kegagalan .............................................................................. 14
Bab 3 Analisa Data dan Pembahasan.................................................................. 17
3.1 Data .......................................................................................................... 17
3.1.1 Spesifikasi Pile .................................................................................. 17
3.1.2 Spesifikasi Pile Protection ................................................................. 17
3.1.3 Spesifikasi Marine Growth Preventer (MGP)..................................... 17
3.1.4 Kondisi Pile ....................................................................................... 18
3.1.5 Permasalahan ..................................................................................... 19
3.2 Pembahasan .............................................................................................. 19
Nita Ayu Handareni, 2711100009 ii
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
3.2.1 Analisa Pengaruh Marine Fouling pada Pile ...................................... 19
3.2.1.1 Pengaruh Terhadap Korosi ..................................................... 19
3.2.1.2 Pengaruh Terhadap Proteksi Katodik ...................................... 21
3.2.1.3 Pengaruh Terhadap Struktur ................................................... 23
3.2.2 Analisa Marine Growth Preventer (MGP) pada Pile .......................... 24
3.2.3 Analisa Metode Alternatif .................................................................. 25
Bab 4 Kesimpulan.............................................................................................. 28
Daftar Pustaka .................................................................................................... vi

Nita Ayu Handareni, 2711100009 iii


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Marine fouling menempel pada Pile .................................................. 6


Gambar 2.2 Contoh Impressed Current Cathodic Protection ............................... 12
Gambar 2.3 Sistem MGP dengan tenaga laut...................................................... 13
Gambar 2.4 Anode MGP.................................................................................... 13
Gambar 2.5 NaOCl Generator ........................................................................... 14
Gambar 3.1 Marine Growth Preventer................................................................ 18
Gambar 3.2 Proses korosi yang disebabkan oleh SRB ........................................ 20
Gambar 3.3 Mekanisme korosi pitting yang disebabkan oleh fouling ................. 21
Gambar 3.4 Pengaruh fouling pada potensial katodik yang dibutuhkan untuk
melindungi baja ................................................................................................. 22
Gambar 3.5 Diagram pourbaix untuk Fe............................................................. 23
Gambar 3.6 Data BMKG mengenai kecepatan arus permukaan air laut pada
tanggal 1 Agustus 2014 ...................................................................................... 25

Nita Ayu Handareni, 2711100009 iv


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Mekanisme kegagalan menurut standar ANSI/API 689 Collection and
Exchange of Reliability and Maintenance Data for Equipment, First Edition ..... 15
Tabel 3.1 Komposisi kimia material casing pile (ASTM A53 Grade B).............. 17
Tabel 3.2 Komposisi kimia material pelapis pile ................................................ 17
Tabel 3.3 Jumlah MGP yang digunakan di PT Badak LNG ................................ 17
Tabel 3.4 Spesifikasi Wave MGP ....................................................................... 18
Tabel 3.5 Kegagalan pada pile ........................................................................... 19
Tabel 3.6 Perbandingan Laju Korosi .................................................................. 20
Tabel 3.7 Kriteria perlindungan ICCP pada beberapa logam dan kondisinya ...... 21
Tabel 3.8 Daftar beberapa foul release coating ................................................... 26

Nita Ayu Handareni, 2711100009 v


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


PT. Badak LNG merupakan salah satu perusahaan terbesar yang
memproduksi LNG dan LPG. Proses produksi LNG maupun LPG dilakukan
secara berkesinambungan pada beberapa plant mulai dari masuknya feed gas
hingga LNG siap dikirim pada plant storage and Loading. Loading merupakan
tempat berlangsungnya proses pengaliran LNG dan LPG ke kapal tanker. PT
Badak LNG memiliki 3 Loading Dock, untuk Loading Dock 1 untuk pengisian
LNG, sedangkan Loading Dock 2 dan 3 untuk LNG dan LPG.
Sistem pengapalan dan pengiriman LNG dan LPG harus dipantau dengan
baik agar tidak terjadi gangguan serta dapat meningkatkan keandalan. Salah satu
bentuk pantauan terhadap Loading Dock telah dilakukan yaitu memasang Marine
Growth Preventer (MGP) di Loading Dock 1 dan 2 pada tahun 2003 untuk
mencegah adanya marine fouling menempel pada pile (tiang pancang). Namun
pada tahun 2007 ditemukan beberapa masalah seperti adanya korosi pada pile
(tiang pancang), MGP tidak bekerja secara maksimal.
Sehingga diperlukan studi literatur untuk mengetahui pengaruh marine
fouling yang menempel pada beberapa pile di loading dock serta evaluasi kinerja
MGP yang dapat berpotensi menjadi penyebab terjadinya beberapa kegagalan
tersebut.

1.2. Tujuan
Penyusunan laporan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh marine fouling
pada pile, mengevaluasi kinerja MGP, serta mendapatkan metode alternatif
pembersihan marine fouling.

1.3. Ruang Lingkup dan Batasan Masalah


Ruang lingkup dan batasan maslaah yang akan dibahas pada laporan ini
adalah pengaruh marine fouling serta kinerja MGP pada pile yang diproteksi oleh
Coal Tar Epoxy berdasarkan pengamatan dan inspeksi lapangan.
Nita Ayu Handareni, 2711100009 1
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur

1.4. Metodologi Penulisan


Metodologi yang dilakukan pada penyusunan laporan ini adalah sebagai
berikut:
1. Mengamati secara langsung marine fouling yang menempel pada pile
(tiang pancang) loading dock
2. Melakukan studi literatur
3. Melakukan diskusi dengan pembimbing

1.5. Sistematika Penulisan


Bab I Pendahuluan
Bab ini terdiri dari latar belakang masalah, tujuan pengamatan, ruang lingkup
dan batasan masalah, dan metodologi penulisan laporan.
Bab II Tinjauan Pustaka
Bab ini berisi tentang dasar teori mengenai pile (tiang pancang) yang meliputi
spesifikasi material yang digunakan, marine fouling yang meliputi
pengaruhnya pada pile (tiang pancang) dan spesifikasinya, Marine Growth
Preventer, serta beberapa metode pembersihan fouling.
Bab III Analisa Data dan Pembahasan
Bab ini berisi tentang analisa data marine fouling pada pile (tiang pancang)
dan kinerja MGP serta pembahasannya.
Bab IV Pembahasan
Bab ini berisi kesimpulan dan saran tentang permasalahan ini.

Nita Ayu Handareni, 2711100009 2


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pile (Tiang Pancang)


2.1.1. Definisi Pile (Tiang Pancang)
Tiang pancang adalah bagian-bagian konstruksi yang dibuat dari
kayu,

beton, dan atau baja,

yang digunakan untuk meneruskan

(mentransmisikan) beban-beban permukaan ke tingkat-tingkat permukaan


yang lebih rendah di dalam massa tanah. Penggunaan pondasi tiang pancang
sebagai pondasi bangunan apabila tanah yang mempunyai daya dukung yang
cukup untuk memikul berat bangunan dan seluruh beban yang bekerja
berada pada lapisan yang sangat dalam dari permukaan tanah kedalaman > 8
m (Bowles, J. E., 1991).
2.1.2. Fungsi Pile (Tiang Pancang)
Tiang Pancang umumnya digunakan :
1. Untuk mengangkat beban-beban konstruksi diatas tanah kedalam atau
melalui sebuah stratum/lapisan tanah. Didalam hal ini beban vertikal
dan beban lateral boleh jadi terlibat.
2. Untuk menentang gaya desakan keatas, gaya guling, seperti untuk
telapak ruangan bawah tanah dibawah bidang batas air jenuh atau untuk
menopang kaki-kaki menara terhadap guling.
3. Memampatkan endapan-endapan tak berkohesi yang bebas lepas
melalui kombinasi perpindahan isi tiang pancang dan getaran dorongan.
Tiang pancang ini dapat ditarik keluar kemudian.
4. Mengontrol lendutan/penurunan bila kaki-kaki yang tersebar atau
telapak berada pada tanah tepi atau didasari oleh sebuah lapisan yang
kemampatannya tinggi.
5. Membuat tanah dibawah pondasi mesin menjadi kaku untuk mengontrol
amplitudo getaran dan frekuensi alamiah dari sistem tersebut.
6. Sebagai faktor keamanan tambahan dibawah tumpuan jembatan dan
atau pir, khususnya jika erosi merupakan persoalan yang potensial.

Nita Ayu Handareni, 2711100009 3


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
7. Dalam konstruksi lepas pantai untuk meneruskan beban-beban diatas
permukaan air melalui air dan kedalam tanah yang mendasari air
tersebut. Hal seperti ini adalah mengenai tiang pancang yang
ditanamkan sebagian dan yang terpengaruh oleh baik beban vertikal
(dan tekuk) maupun beban lateral (Bowles, J. E., 1991).
2.1.3. Jenis Pile (Tiang Pancang)
Tiang pancang dapat dibagi kedalam beberapa kategori (Bowles, J.
E., 1991), antara lain :
A. Tiang Pancang Kayu
Tiang pancang kayu dibuat dari kayu yang biasanya diberi
pengawet dan dipancangkan dengan ujungnya yang kecil sebagai
bagian yang runcing.
Tiang pancang kayu akan tahan lama dan tidak mudah busuk
apabila tiang pancang kayu tersebut dalam keadaan selalu terendam
penuh dibawah muka air tanah dan tiang pancang kayu akan lebih cepat
rusak apabila dalam keadaan kering dan basah selalu berganti-ganti,
sedangkan pengawetan dengan pemakaian obat pengawet pada kayu
hanya akan menunda dan memperlambat kerusakan dari kayu, dan tidak
dapat melindungi kayu dalam jangka waktu yang lama. Pada pemakaian
tiang pancang kayu biasanya tidak diizinkan untuk menahan muatan
lebih tinggi 25 sampai 30 ton untuk satu tiang.
B. Tiang Pancang Beton
Tiang pancang jenis ini terbuat dari beton seperti biasanya.
Tiang pancang ini dapat dibagi dalam 3 macam berdasarkan cara
pembuatannya (Bowles, J. E., 1991), yaitu:
a. Precast Reinforced Concrete Pile
Precast Reinforced Concrete Pile adalah tiang pancang beton
bertulang yang dicetak dan dicor dalam acuan beton (bekisting) yang
setelah cukup keras kemudian diangkat dan dipancangkan. Tiang
pancang ini dapat memikul beban yang lebih besar dari 50 ton untuk
setiap tiang, hal ini tergantung pada jenis beton dan dimensinya.
b. Precast Prestressed Concrete Pile
Nita Ayu Handareni, 2711100009 4
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
Tiang pancang Precast Prestressed Concrete Pile adalah tiang
pancang beton yang dalam pelaksanaan pencetakannya sama seperti
pembuatan beton prestess, yaitu dengan menarik besi tulangannya
ketika dicor dan dilepaskan setelah beton mengeras.
c. Cast in Place
Cast in Place merupakan tiang pancang yang dicor ditempat
dengan cara membuat lubang ditanah terlebih dahulu dengan cara
melakukan pengeboran. Pada Cast in Place ini dapat dilakukan dengan
2 cara yaitu:
1. Dengan pipa baja yang dipancangkan ke dalam tanah, kemudian
diisi dengan beton dan ditumbuk sambil pipa baja tersebut ditarik
keatas.
2. Dengan pipa baja yang dipancang ke dalam tanah, kemudian diisi
dengan beton sedangkan pipa baja tersebut tetap tinggal di dalam
tanah.
C. Tiang Pancang Baja
Kebanyakan tiang pancang baja ini berbentuk profil H. karena
terbuat dari baja maka kekuatan dari tiang ini sendiri sangat besar
sehingga dalam pengangkutan dan pemancangan tidak menimbulkan
bahaya patah seperti halnya pada tiang beton precast.
Pada umumnya tiang pancang baja akan berkarat di bagian atas
yang dekat dengan permukaan tanah. Hal ini disebabkan karena
Aerated-Condition ( keadaan udara pada pori-pori tanah ) pada lapisan
tanah tersebut dan adanya bahan-bahan organis dari air tanah. Hal ini
dapat ditanggulangi dengan memoles tiang baja tersebut dengan (
coaltar ) atau dengan sarung beton sekurang-kurangnya 20 ( 60 cm )
dari muka air tanah terendah.
Karat /korosi yang terjadi karena udara ( atmosphere corrosion )
pada bagian tiang yang terletak di atas tanah dapat dicegah dengan
pengecatan seperti pada konstruksi baja biasa.
Keuntungan pemakaian Tiang Pancang Baja.

Tiang pancang ini mudah dalam dalam hal penyambungannya.


Nita Ayu Handareni, 2711100009 5
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur

Tiang pancang ini memiliki kapasitas daya dukung yang tinggi.

Dalam hal pengangkatan dan pemancangan tidak menimbulkan


bahaya patah.

Kerugian pemakaian Tiang Pancang Baja.

Tiang pancang ini mudah mengalami korosi.

Bagian H pile dapat rusak atau di bengkokan oleh rintangan besar.

D. Tiang Pancang Komposit


Tiang pancang komposit adalah tiang pancang yang terdiri dari dua
bahan yang berbeda yang bekerja bersama-sama sehingga merupakan satu
tiang. Biaya dan kesulitan yang timbul dalam pembuatan sambungan
menyebabkan cara ini diabaikan.

2.2. Marine fouling


2.2.1 Definisi Marine fouling
Marine fouling adalah timbulnya kerak yang disebabkan oleh hewan
dan tumbuhan laut (marine growth) yang menempel pada dinding pile,
kapal, atau peralatan kelautan yang tercelup ataupun dialiri oleh air laut.
Berikut merupakan contoh marine fouling yang menempel pada pile:

Gambar 2.1 Marine fouling menempel pada Pile

Nita Ayu Handareni, 2711100009 6


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
Ekosistem fouling dapat dibagi menjadi beberapa komponen,
presentase dari masing masing komponen tergantung dari kondisi fisik
atau kimia dari lingkungan. Komponen komponen tersebut yaitu:
1. Molekul organik, kebanyakan terdiri dari produk ekstraselular polimer
dari organisme hidup
2. Bakteri. Bakteri dapat bertahan hidup meskipun berada dalam
lingkungan yang tidak memungkinkan
3. Mikrofungi, merupakan komponen yang sering diabaikan dalam
komunitas fouling
4. Protozoa, biasanya protozoa bergabung dengan bakteri dan jamur.
Protozoa bergabung dengan keadaan dimana sistem airnya lebih terbuka
5. Mikroalgae, biasanya memerlukan cahaya yang lebih, namun terdapat
beberapa jenis seperti blue green algae dapat beradaptasi dan tumbuh
di level pencahayaan yang sangat rendah bahkan tidak ada sama sekali
6. Macroalgae, merupakan organisme fouling yang terdapat di area laut dan
perairan yang terbuka
7. Invertebrates, juga merupakan organisme yang pada dasarnya terdapat di
laut, namun tidak memerlukan pencahayaan. Invertebrata ini terdapat
menyebar, dan bahkan dapat masuk ke dalam sistem air pendingin dan
struktur lepas pantai serta perkapalan.
Empat langkah terjadinya fouling pada permukaan yaitu:
1. Molekul organik terangkut dari fluida besar dan diadsorbsi oleh
permukaan
2. Bakteri berkoloni di permukaan dan membentuk lapisan biofilm
3. Biofilm yang terbentuk berkembang dan protozoa, jamur, dan mikroalga
masuk ke dalamnya
4. Organisme makroskopis mengendap dan berkembang pada permukaan
tersebut
(R.G.J. Edyvean, 1995)

2.2.2 Faktor Pertumbuhan Marine fouling

Nita Ayu Handareni, 2711100009 7


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
Faktor factor yang mempengaruhi pertumbuhan biofouling
diantaranya:
a. Intensitas Cahaya
Cahaya matahari yang jatuh di permukaan laut akan diserap
dan diseleksi oleh air laut, sehingga cahaya dengan panjang
gelombang yang panjang seperti cahaya merah, ungu dan kuning
akan hilang lebih dahulu. Banyaknya sinar matahari yang masuk ke
dalam laut berubah ubah tergantung pada intensitas cahaya,
banyaknya pemantulan di permukaan, sudut datang dan transparasi
air laut
b. Temperatur
Organisme laut umumnya bersifat polikilotermik sehingga
penyebarannya mengikuti perbedaan suhu lautan secara geografis.
Organisme biofouling dapat hidup dari perairan dengan perubahan
suhu berkisar antara 15 30 oC atau dari perairan eustarina sampai
laut terbuka, iklim tropik sampai dengan iklim sedang.
Air mempunyai daya muat panas yang lebih tinggi daripada
daratan. Akibatnya untuk menaikkan suhu sebesar 1 oC, air akan
membutuhkan energi yang lebih besar daripada yang dibutuhkan
oleh daratan dalam jumlah masa yang sama
c. Sedimentasi
Merupakan salah satu faktor penting pertumbuhan organism
biofouling
d. Kedalaman Laut
Di perairan Eropa ditemukan biofouling jenis bivalvia, pada
kedalaman lebih dari 15 m, koloni biofouling yang ditemukan
antara lain byrozoa, serpulids, hydroid, dan oysters.
e. Arus dan Gelombang Perairan
Arus dan gelombang mengakibatkan kegagalan penempelan
organism biofouling pada substrat
f. Salinitas

Nita Ayu Handareni, 2711100009 8


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
Salinitas (kadar garam) adalah berat semua garam yang
terlarut dalam 1000 gram air laut. Organisme biofouling dapat hidup
pada perairan estuaria antara 5 30 o/00 sedangkan salinitas pada
laut terbuka dapat mencapai 41 o/00
g. Pasang Surut
Salah satu fenomena fisik dan dinamis yang selalu dijumpai
di lautan adalah naik turunnya permukaan air yang bersifat periodik
selama satu interval waktu tertentu yang disebut pasang surut
2.2.3 Kerugian akibat Fouling
Timbulnya fouling pada suatu peralatan tentu membawa dampak
kerugian pada peralatan tersebut, seperti:
a. Heat Exchanger
Mengurangi efisiensi termal, suhu meningkat di sisi panas,
menurunkan suhu di sisi dingin, deposit korosi, meningkatkan
penggunaan air pendingin
b. Jaringan Pipa
Mengurangi drop aliran, meningkatkan tekanan, meningkatkan
tekanan

hulu,

meningkatkan

pengeluaran

energi,

dapat

menyebabkan osilasi aliran, kavitasi, dapat menyebabkan getaran,


dapat menyebabkan penyumbatan aliran.
c. Kapal
Menambah tahanan kapal, meningkatkan penggunaan bahan bakar,
mengurangi kecepatan maksimum kapal
d. Turbin
Mengurangi efisiensi, meningkatkan peluang kegagalan
Sedangkan menurut R.G.J. Edyvean, efek dari fouling dapat
meliputi:
a. Membentuk perbedaan sel aerasi pada skala makroskopis dan
mikroskopis
b. Menghasilkan korosi yang merupakan pendorong terbentuknya
metabolit seperti asam dan komponen sulfur (H2S)
c. Menstimulasi reaksi katodik (aktifitas Sulfur Reducing Bacteria)
Nita Ayu Handareni, 2711100009 9
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
d. Menstimulasi reaksi anodik
e. Merusak lapisan pelindung (coating) dan logam yang berada di
bawahnya
2.2.4 Pencegahan Marine fouling
Karena dampak yang ditimbulkan fouling ini sangat besar, maka
diperlukan cara untuk mengendalikan pertumbuhannya. Ada beberapa cara,
namun yang paling sering digunakan adalah dengan menggunakan cat
khusus anti fouling dan yang paling baru menggunakan impressed current.
a. Tin anti fouling
Merupakan cat khusus yang digunakan pada lambung untuk
mencegah dan mengendalikan tumbuhnya fouling pada lambung
kapal.
Kebanyakan cat anti fouling merupakan tipe self polishing.
Self polishing merupakan sebuah polymer, dimana cat itu dibuat
berlapis lapis, sehingga fouling mengikis setiap lapisan cat
tersebut sebelum mencapai kulit kapal.
Namun cat antifouling ini mengandung TBT (tributyltin)
yang berbahaya bagi kelangsungan hidup biota laut. Hal ini
dikarenakan TBT merupakan racun yang dapat membunuh macro
dan microfouling, sehingga dikawatirkan akan membunuh larva
larva dari biota laut.
b. Impressed Current Anti Fouling
Merupakan metode terbaru pengendalian fouling pada
lambung kapal maupun jaringan jaringan pipa. ICAF, sistem ini
biasa disebut, bekerja dengan menggunakan arus listrik yang
dialirkan pada anoda maupun katoda yang bias mengendalikan
timbulnya fouling.
ICAF mengalirkan arus DC pada masing masing anoda
dan katoda. Dimana pada anoda dan katoda akan terjadi elektrolisis
sehingga bias menghambat pertumbuhan fouling pada lambung
kapal maupun pada jaringan pipa.

Nita Ayu Handareni, 2711100009 10


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
Untuk menanggulangi fouling pada jaringan pipa, biasanya
pada pipa yang dilewati oleh air laut, anoda maupun katoda
biasanya dipasang pada sea chest. Sehingga air laut yang masuk
melewati sea chest diusahakan sudah bebas dari tumbuhan maupun
hewan laut (marine growth) yang bias menyebabkan terjadinya
fouling.
Anoda dan katoda tersebut bisa bermacam macam
jenisnya, tergantung pada berapa lama bias digunakan maupun
material yang dilindunginya.
(Panjaitan, 2011)
2.3. Proteksi Katodik
Proteksi katodik adalah suatu metode yang bersifat elektrik yang
digunakan untuk pencegahan korosi pada struktur logam yang berada pada suatu
lingkungan korosif berupa elektrolit seperti tanah atau air. Terdapat dua metode
dasar untuk pengendalian korosi dengan proteksi katodik. Salah satunya yaitu
menggunakan arus yang dihasilkan dari penggabungan dua logam yang berbeda
secara elektrokimia, metode ini dikenal sebagai metode anoda tumbal (Sacrificial
atau Galvanic Protection System). Metode lainnya dari proteksi katodik adalah
yang melibatkan penggunaan sumber arus searah DC dari luar sistem yang
dikenal sebagai Impressed Current Cathodic Protection (ICCP).
Pada prinsipnya sistem proteksi katodik arus paksa sama dengan anoda
tumbal, hanya saja kebutuhan arus elektronnya disuplai dari luar sistem yaitu dari
anoda yang dihubungkan ke sumber arus DC. Idenya adalah dengan membanjiri
struktur logam yang akan dilindungi dengan sumber elektron dari luar sistem
sehingga membuat struktur logam tersebut menjadi bersifat katodik dan membuat
struktur logam imun terhadap korosi.
Komponen dasar yang membentuk sistem proteksi katodik arus paksa
terdiri dari katoda yaitu logam yang akan dilindungi, sumber arus DC, anoda
inert, dan kawat penghubung antara anoda dan katoda (Departement of the Army,
1995) seperti terlihat pada gambar berikut:

Nita Ayu Handareni, 2711100009 11


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur

Gambar 2.2 Contoh Impressed Current Cathodic Protection


(P.R. Roberge, 1999)

2.4. Marine Growth Preventer (MGP)


Marine Growth Preventer adalah peralatan yang digunakan untuk
mencegah pertumbuhan marine growth. Ada beberapa macam MGP (IEV Group),
diantaranya:
1. Ocean Powered MGP
Alat ini berupa rangkaian cincin yang dipasang di sekeliling kaki
jacket, riser, conductor, dan vertical bracing. Alat ini digerakkan naik
turun oleh tenaga arus dan gelombang laut.

Nita Ayu Handareni, 2711100009 12


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur

Gambar 2.3 Sistem MGP dengan tenaga laut


2. Electrolytic (anode) MGP
Sistem ini terdiri atas anoda tembaga dan aluminum (atau besi lunak)
yang diletakkan pada lokasi yang strategis, sedekat mungkin dengan
area yang hendak diproteksi. Anode tersebut terhubungkan dengan
panel kontrol yang mengatur arus yang dialirkan ke anode tersebut. Ion
yang dihasilkan oleh anode akan disebarkan oleh air laut dan membuat
lingkungan yang tidak kondusif untuk pertumbuhan marine growth di
area tersebut. Keuntungan lainnya adalah aluminum hydroksida yang
terbentuk akan menciptakan lapisan pelindung pada permukaan
saluran tersebut sehingga sekaligus dapat mencegah korosi.

Gambar 2.4 Anode MGP


3. Electrochlorination MGP
Sistem ini menggunakan sodium hypochlorite (NaOCl) sebagai larutan
pembersih yang diinjeksikan ke dalam sistem saluran yang hendak
Nita Ayu Handareni, 2711100009 13
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
diproteksi. Larutan NaOCl dibuat langsung dari air laut dengan
memberikan arus listrik di dalam alat NaOCl generator.

Gambar 2.5 NaOCl Generator


(PT IEV Indonesia)

2.5. Mekanisme Kegagalan


Dalam menganalisa kegagalan suatu komponen, diberikan kodefikasi
tersendiri berdasarkan jenis kegagalan yang dialami oleh komponen tersebut. Hal
ini merupakan cara untuk mengetahui penyebab kegagalan suatu komponen
dengan melihat standar ANSI/API 689 Collection and Exchange of Reliability and
Maintenance Data for Equipment, First Edition yang menjelaskan tentang
pengelompokan kegagalan yang terjadi sesuai dengan aspek aspek
penyebabnya.
Menurut standar ANSI/API 689 mekanisme kegagalan suatu komponen
dapat dikategorikan berdasarkan beberapa penyebab, yaitu:
1. Mekanik
2. Material
3. Peralatan
4. Listrik
5. Pengaruh dari luar
6. Lainnya

Nita Ayu Handareni, 2711100009 14


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
Tabel 2.1 Mekanisme kegagalan menurut standar ANSI/API 689
Collection and Exchange of Reliability and Maintenance
Data for Equipment, First Edition
Kode
1.0
1.1

1.2

1.3
1.4
1.5
1.6

2.0
2.1
2.2
2.3
2.4
2.5
2.6
2.7
2.8

3.0
3.1
3.2

Notasi

Uraian

Mekanik
Kegagalan berhubungan dengan cacat mesin
tetapi tidak diketahui secara jelas
Kebocoran (pecah pada Kebocoran bagian dalam dan luar baik cair
pipa)
ataupun gas; jika kegagalan dalam tingkat ini
disebut bocor, lebih cocok digolongkan
dalam kegagalan teknik
Getaran
Getaran tidak normal: jika kegagalan dalam
tingkat
getaran,
dimana
lebih cocok
digolongkan
pada
kegagalan,
mekanis,
penyebab kegagalan (root cause) harus dicatat.
Kegagalan
Kegagalan
disebabkan
oleh
kesalahan
perakitan/pemasangan
perakitan/pemasangan.
Deformasi
Distortion, bending, buckling, denting, yielding,
shrinking, blistering, creeping, etc.
Hilang
Tidak sesuai, kehilangan item
Pelapisan
Pelapisan, seizure, gangguan yang disebabkan
oleh
deformasi
atau
kegagalan
perakitan/pemasangan
Material
Umum
Kegagalan berhubungan dengan cacat material
tetapi tidak diketahui secara jelas.
Kavitasi (Celah)
Cocok untuk peralatan seperti pompa dan katup
(valves)
Korosi
Semua jenis korosi, baik basah (elektrokimia)
dan kering (kimia)
Erosi
Aus erosi
Aus
Keausan abrasi dan adhesi, seperti scoring,
galling, scuffing, fretting
Patah
Patah, putus, retak
Fatik (lelah)
Gunakan kode ini Jika penyebab patah
disebabkan oleh fatik
Kelebihan panas
kerusakan
material
disebabkan
karena
(Overheating)
kelebihan panas/terbakar
Meledak (pecah)
Komponen yang meledak, ledakan, ledakan
besar, imploded, etc.
Peralatan
Umum
Kegagalan berhubungan dengan peralatan tetapi
tidak diketahui secara jelas
Kegagalan Kontrol
Tidak ada, atau kesalahan alam peraturan
Tidak ada
Tidak ada tanda/indikasi/alarm ketika terjadi
Tanda/indikasi/alarm
Umum

Nita Ayu Handareni, 2711100009 15


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
3.3

Kesalahan
Tanda/indikasi/alarm

3.4
3.5

Kesalahan perbaikan
Kegagalan perangkat
Lunak

3.6

Penyebab umum/jenis
Kegagalan

4.0

Umum

4.1
4.2

Arus pendek
Arus terbuka

4.3

Tidak ada
arus/tegangan
Kesalahan
arus/tegangan
Kesalahan isolator

4.4
4.5
5.0
5.1
5.2

5.3

6.0
6.1
6.2
6.3
6.4

Kesalahan
Tanda/indikasi/alarm
dalam
kenyataan. Dapat berupa tanda palsu,
sebentarsebentar, konslet, berubah-ubah.
Kesalahan kalibrasi, salah parameter
Kesalahan,
atau
tidak
adanya
Kontrol/monitor/operasi yang menyebabkan
kegagalan perangkat lunak
Beberapa penyebab kegagalan simultan seperti:
deteksi api, dan gas, juga penyebab kegagalan
berhubungan pada penyebab umum
Listrik
Kegagalan berhubungan dengan supply dan
transmisi pada tegangan listrik, tetapi tidak
secara jelas
Arus pendek
Tidak nyambung, gangguan, kerusakan
kawat/kabel
Kehilangan atau tidak ada arus

Kesalahan arus listrik seperti: kelebihan


tegangan
Kesalahan isolator, rendahnya tahanan listrik
Pengaruh luar
Umum
Kegagalan disebabkan oleh beberapa faktor luar
tetapi tidak secara jelas
Rintangan/hambatan
Kesalahan yang menghambat aliran/terhalang,
terkontaninasi, terlapisi, aliran asuransi.
Kontaminasi
Fluida yang terkontaminasi/gas/permukaan
seperti: pelumas oli yang terkontaminasi, gas
yang terkontaminasi
Macam

macam Pengaruh system tetangga dalam bentuk seperti:


pengaruh dari luar
benda asing, tiba-tiba
Lainnya
Umum
Mekanisme kegagalan tidak ditentukan dalam
satu kategori
Tidak ada penyebab
Pencarian kegagalan tetapi penyebab tidak
yang ditemukan
diketahui
Bermacam penyebab
Beberapa penyebab: jika terdapat satu penyebab
kegagalan yang dominant harus diberi tanda
Lain-lain
Tidak ada tanda aplikasi: gunakan tanda bebas
Tidak diketahui
Tidak ada informasi yang diketahui

Nita Ayu Handareni, 2711100009 16


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
BAB III
ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

3.1. DATA
3.1.1 Spesifikasi Pile
Pile terdiri dari casing dan didalamnya di cor concrete. Spesifikasi
dari casing pile dapat dilihat pada Tabel 3.1 dibawah ini.

Tabel 3.1. Komposisi kimia material casing pile (ASTM A53 Grade B)
Unsur

Komposisi (%)

Karbon (C)

0,30

Mangan (Mn)

1,20

Fosfor (P)

0,05

Sulfur (S)

0,06

3.1.2 Spesifikasi Pile Protection


Tabel 3.2. Komposisi kimia material pelapis pile
Protection

Komposisi (%)

Coating

Coal Tar Epoxy dengan ketebalan


400 mikron

3.1.3 Spesifikasi Marine Growth Preventer (MGP)


MGP yang digunakan di PT Badak LNG ada dua tipe yaitu wave
MGP dan current MGP. Jumlah MGP yang digunakan dapat dilihat pada
Tabel 3.3 sedangkan spesifikasi wave MGP dapat dilihat pada Tabel 3.4
dibawah ini.
Tabel 3.3 Jumlah MGP yang digunakan di PT Badak LNG
No

Jenis MGP

Jumlah

Persentase

Wave MGP

1,86 %

Current MGP

317

98,14 %

323

100 %

Jumlah

Nita Ayu Handareni, 2711100009 17


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
Tabel 3.4 Spesifikasi Wave MGP
No

Part

Linkage pipe 34 mm

Lock Sleeve 50 mm

MGP Connector T2

Pin P1

Pin P2

Pin P3

Brush Cent Sleeve (L 30 mm)

HDPE Disk 34 mm

Bolt and Nut T1

10

Rubber Roller 110 mm

11

Rubber Roller 140 mm

12

HDPE Roller 140 mm

13

MGP Connector and Bolt & Nut

14

Linkage pipe / MGP Connector T2 / Lock Sleeve 50 mm

15

Brust Shaft 34 mm

Gambar 3.1 Marine Growth Preventer

3.1.4 Kondisi Pile


Pile berada di daerah Loading Dock, dimana loading dock merupakan
tempat yang berfungsi dalam pengiriman LNG dan LPG. Pile tersebut
Nita Ayu Handareni, 2711100009 18
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
terletak pada lingkungan air laut. Berikut merupakan data pile berdasarkan
data inspeksi no 220/BM33/2007-334
Tabel 3.5 Kegagalan pada pile
Kondisi Pile

No

Protection

MGP

Kegagalan

Jumlah

Fouling

Coaltar Epoxy

Yes

1 in

MGP tidak bekerja

Coaltar Epoxy

Yes

0.5 1 MGP-current
in

tdk bekerja

24

driven 5

Coaltar Epoxy

Yes

0.75 in

MGP stuck

Coaltar Epoxy

Yes

0.75 in

MGP kendur

14

Coaltar Epoxy

Yes

0.75 in

MGP terlalu kencang

26

3.1.5 Permasalahan
Penelitian ini difokuskan untuk menganalisa pengaruh marine fouling
serta evaluasi kinerja MGP pada pile (tiang pancang) sehingga mendapatkan
solusi alternatif mengenai metode pembersihan fouling.

3.2. PEMBAHASAN
3.2.1. Analisa Pengaruh Marine fouling pada Pile
3.2.1.1.

Pengaruh Terhadap Korosi

Marine fouling merupakan organisme laut seperti barnacle dan


mussel yang menempelkan diri pada suatu permukaan, tumbuh dan menutupi
bagian kecil permukaan tersebut dari lingkungan. Sel konsentrasi yang
terbentuk di bawah organisme laut barnacle dapat menghasilkan lubang yang
dalam pada permukaan yang ditempeli. Selain itu organisme laut tersebut
dapat mengakibatkan adanya proses korosi pada logam dengan reaksi katodik
maupun anodik dengan mengaktifkan selaput pada permukaan logam. (ASM
Metal Handbook vol 10)
Marine fouling juga berpotensi merusak coating dengan cara:
1. Permukaan coating terkontaminasi dengan bakteri atau jamur yang
menempel pada permukaan
2. Coating dapat digunakan sebagai makanan bagi mikroorganisme
Nita Ayu Handareni, 2711100009 19
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
Apabila terjadi pengelupasan coating, maka baja pada pile akan
mengalami kontak dengan air laut dan mikroorganisme laut sehingga akan
terjadi korosi. Laju korosi dalam air laut dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3.6 Perbandingan Laju Korosi

Material yang digunakan sebagai pile pada Loading Dock yaitu baja,
pada tabel di atas dapat diketahui bahwa pada lingkungan air laut, baja
mengalami laju korosi yang paling tinggi yaitu 2,5 gmd (grams of metal lost
per square meter per day)
Sedangkan apabila baja mengalami kontak dengan biota laut yang
menempel (marine fouling) secara langsung tanpa coating maka akan terjadi
bacteria corrosion dan biological corrosion. Salah satu penyebab adanya
korosi jenis bacterial corrosion adalah bakteri anaerob SRB (sulfate reducing
bacteria). Pada keadaan dalam air, Fe akan terurai menjadi kation Fe2+ dan
elektron (reaksi 1), selanjutnya air terurai menjadi kation H+ dan anion OH (reaksi 2), dengan adanya bakteri SRB ini akan mengkonsumsi hydrogen
(reaksi 3) sehingga menghasilkan H2S. H2S inilah yang akan bereaksi dengan
kation Fe2+ sehingga terjadi presipitasi (reaksi 5 dan 6). Reaksi korosi oleh
SRB yaitu:

Gambar 3.2 Proses korosi yang disebabkan oleh SRB


Nita Ayu Handareni, 2711100009 20
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur

Selain melalui SRB, korosi juga dapat terjadi melalui deposit yang
terjadi pada permukaan pile. Deposit ini akan menyebabkan timbulnya
perbedaan konsentrasi oksigen pada permukaan yang terdapat fouling dan
permukaan yang tidak terdapat fouling. Permukaan yang terdapat fouling
akan memiliki oksigen yang lebih rendah dari permukaan yang bebas dari
fouling, sehingga permukaan yang terdapat fouling akan bersifat anodic dan
terjadi korosi pitting. Hal ini dapat diilustrasikan sebagai berikut:

Gambar 3.3 Mekanisme korosi pitting yang disebabkan oleh fouling


3.2.1.2.

Pengaruh Terhadap Proteksi Katodik

Pada dasarnya proteksi katodik ICCP adalah melindungi katoda


dengan mensuplai potensial dari luar. Potensial yang diberikan memiliki
krieteria sesuai dengan logam yang dilindungi dan kondisi lingkungannya.
Berikut merupakan kriteria ICCP:
Tabel 3.7 Kriteria perlindungan ICCP pada beberapa logam dan kondisinya
No Elektroda

Kebutuhan potensial

Ag/AgCl

- 800 mV

Cu/CuSO4

- 850 mV
Nita Ayu Handareni, 2711100009 21
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
3

Zn

+ 250 mV

SCE

- 780 mV

Berdasarkan standar NACE RP17603 tentang Corrosion Control of


Steel Fixed Offshore Structures Associated with Petroleum Production untuk
logam baja dengan kondisi lingkungan perairan terbuka maka diperlukan
potensial sebesar 780 mV dengan elektroda SCE.
Marine fouling juga berpengaruh terhadap sistem perlindungan
katodik. Pada sebuah penelitian (Guezennec et al, 1994) telah diketahui
bahwa dalam proteksi katodik untuk melindungi baja yang terdapat fouling di
bagian permukaannya dibutuhkan potensial katodik yang lebih besar
dikarenakan dua hal, yaitu adanya penurunan pH akibat fermentasi bakteri
dan adanya oksidasi akibat SRB. Seperti terlihat pada grafik berikut ini:

Gambar 3.4 Pengaruh fouling pada potensial katodik yang dibutuhkan untuk
melindungi baja
Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa saat steril atau tidak terdapat
fouling pada permukaan baja, potensial katodik yang dibutuhkan untuk
melindungi baja yaitu 1150 mV sedangkan saat adanya fouling berupa
bakteri V. natrigens pada permukaan maka potensial katodik yang
dibutuhkan meningkat hingga mencapai 1225 mV, ketika terdapat fouling
bakteri D.vulgaris yang merupakan bakteri SRB kebutuhan potensial katodik
menjadi 1275 mV (Guezennec et al, 1994).
Meningkatnya permintaan potensial katodik pada ICCP tersebut
menunjukkan adanya aktifitas dari bakteri yang menghasilkan asam H2S
Nita Ayu Handareni, 2711100009 22
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
sehingga dapat menyebabkan terjadinya korosi. Hal ini sesuai dengan prinsip
kerja ICCP yaitu menaikkan potensial logam yang dilindungi agar tetap
berada di kondisi yang tidak terkorosi berdasarkan diagram pourbaix seperti
terlihat pada Gambar 3.5 dibawah ini.

Gambar 3.5 Diagram pourbaix untuk Fe


Dari diagram pourbaix tersebut dapat diketahui jika pH pada logam
turun maka potensial yang dibutuhkan agar logam tetap berada pada kondisi
imun semakin negatif.
3.2.1.3.

Pengaruh Terhadap Struktur

Marine fouling juga berpengaruh pada struktur seperti:


1. Menaikkan Berat Struktur
Marine fouling memiliki grativitas spesifik lebih tinggi daripada air laut,
sehingga berpotensi menaikkan beban mati pada struktur pile. Namun hal
ini dapat diabaikan karena perbandingan antara berat marine fouling
dengan struktur pile tidak signifikan.
2. Menaikkan Beban Gelombang
a. Menambah Diameter
Persamaan Morison yaitu:

Nita Ayu Handareni, 2711100009 23


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
dF = total gaya

= massa jenis fluida

= gravitasi bumi

Cd = koefisien tarik (drag)


Cm = koefisien inersia
D = diameter
u

= kecepatan aliran

= percepatan aliran ( du/dt)

Marine fouling akan menambah diameter pile D dan drag load serta
inertia load pada silinder akan meningkat. Dari persamaan diatas
dapat dikatakan gaya pada silinder pile akan bertambah seiring
bertambahnya diameter pile.
b. Menambah Kekasaran Permukaan
Marine fouling juga meningkatkan kekasaran permukaan. Koefisien
hydrodynamic untuk kekasaran silinder tergantung pada bilangan
Reynold yang digunakan untuk perhitungan desain dan fatigue.
Koefisien hydrodynamic untuk silinder yaitu Cd = 1,05 dan Cm =
1,2. Untuk silinder yang halus, nilai Cd = 0,65 dan Cm = 1,6.
Sehingga kenaikan kekasaran permukaan yang sedikit saja akan
berpengaruh pada nilai Cd dan Cm secara signifikan. Apabila dilihat
pada persamaan Morison maka dengan kenaikan nilai Cd dan Cm
akan berakibat pada naiknya gaya pada silinder pile.

3.2.2. Analisa Marine Growth Preventer (MGP) pada Pile


Marine Growth Preventer (MGP) adalah peralatan yang digunakan
untuk membersihkan marine fouling pada pile. Pada data inspeksi diketahui
terdapat 20% MGP pada loading dock 1 dan 35% MGP pada loading dock 2
tidak berfungsi dengan baik.
MGP bekerja berdasarkan gelombang dan arus air laut. Gelombang
air laut di area PT Badak LNG yaitu 20 cm sedangkan ketinggian fouling
pada pile sekitar 30 cm sehingga MGP kurang bekerja secara maksimal.
Untuk MGP jenis current, dibutuhkan kecepatan arus minimal 0,5 knot dan 1
Nita Ayu Handareni, 2711100009 24
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
knot sedangkan kecepatan arus di area PT Badak LNG yaitu 0 0,29 knot
menurut BMKG pada tanggal 1 Agustus 2014 (Gambar 3.6) dan 0,38 knot
menurut data penelitian.

Gambar 3.6 Data BMKG mengenai kecepatan arus permukaan air laut pada
tanggal 1 Agustus 2014
Dikarenakan kecepatan arus yang ada pada perairan sekitar PT Badak
LNG tidak memenuhi kebutuhan MGP untuk bergerak dan membersihkan
marine fouling, maka MGP jenis current kurang cocok digunakan.

3.2.3. Metode Pembersihan Marine fouling


Melihat begitu banyak kegagalan yang muncul akibat marine fouling
dan ketidakefektifan MGP maka diperlukan metode alternatif dalam
melakukan pembersihan marine fouling. Metode metode tersebut
diantaranya yaitu:
1. Foul Release Coating
Coating antifouling yang digunakan sebagai pengendali makrofouling
telah digunakan selama 2000 tahun (Yebra et al, 2004). Coating
antifouling dengan kemampuan self polishing yang mengandung
tributyl-tin dipatenkan pada tahun 1970 (Brady, 2005). Coating jenis ini
banyak digunakan hingga awal tahun 2008 IMO (International Maritime
Organization) melarang penggunaannya dikarenakan dapat membunuh
biota laut mikro dan beberapa dampak lingkungan yang berbahaya.
Namun saat ini banyak perkembangan couting antifouling dengan

Nita Ayu Handareni, 2711100009 25


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
pengurangan racun yang berbahaya namun tetap dapat mengendalikan
marine fouling.
Foul release coating merupakan coating yang lebih ramah
lingkungan dan dapat melindungi permukaan dari fouling dengan
mekanisme hidrolisis polimer yang dapat membuang fouling dengan cara
mengikis lapisan coating serta meminimalisasi penempelan permulaan dan
kekuatan penempelan melalaui sifat permukaan coating.
Foul release coating komersial yang tersedia umumnya memiliki
lapisan yang banyak dan campuran dari beberapa komponen yang dapat
meningkatkan adhesi dan perlindungan korosi. Topcoat biasanya licin dan
kenyal sehingga dapat mengurangi adhesi dengan makrofouling dan
substrat atau lapisan coating yang berada di bawahnya. Berikut merupakan
beberapa daftar foul release coating:

Tabel 3.8 Daftar beberapa foul release coating

Salah satu contoh perhitungan ekonomi teknik yaitu menggunakan


Intersleek 970, langkah yang pertama yaitu menentukan practical
coverage:

Nita Ayu Handareni, 2711100009 26


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
Sehingga dapat dinyatakan bahwa untuk 1 liter coating Intersleek 970
dapat digunakan untuk luasan 3,2 m2. Setelah itu menghitung biaya yang
dibutuhkan untuk memproteksi 1 pile dengan diameter 0,5 m dan tinggi 2
m:

Luasan proteksi/pile = 3,14 x 0,5 x 2 = 3,14 m2

Kebutuhan cat = 3,14 m2 / (3,20 m2/liter) = 0,981 liter = 0,259 gallon

Estimasi biaya = 0,259 x $785,1 = $203,53

Man Power= $8

Total Biaya Metode Alternatif = $211,53

Berikutnya yaitu membandingkan biaya tersebut dengan biaya MGP:

Harga MGP untuk pile yang berdiameter 0,5 m pada tahun 2008 yaitu
$787,80

Dengan inflasi rata rata tahun 2008 2013 yaitu 6,21% (Badan
Pusat Statistik) maka didapatkan harga MGP pada tahun ini adalah:

Total Biaya MGP = $1064,74


Sehingga dapat dikatakan jika umur operasi pile ke depan kurang dari 25
tahun maka sebaiknya menggunakan metode alternatif foul release
coating, dan apabila umur pile ke depan lebih dari 25 tahun maka
sebaiknya menggunakan metode pembersihan dengan MGP yang dirawat
dan diperiksa secara berkala.

Nita Ayu Handareni, 2711100009 27


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
1. Pengaruh marine fouling pada piles yaitu dapat merusak coating yang
berkibat pada korosi, dapat menambah berat struktur, dan menambah gaya
yang diterima oleh pile, dan dapat menaikkan potensial katodik pada
proteksi katodik ICCP, sehingga marine fouling perlu dibersihkan.
2. Kinerja MGP di PT Badak LNG saat ini kurang maksimal dikarenakan
terdapat 20 % MGP pada loading dock 1 dan 35 % MGP pada loading
dock 2 yang tidak bekerja dengan maksimal, dikarenakan gelombang dan
arus pada perairan lingkungan PT Badak LNG kurang sesuai dengan
standar kinerja MGP
3. Metode alternatif pembersihan marine fouling foul release coating dapat
digunakan apabila umur operasi pile ke depan kurang dari 25 tahun

5.2. Saran
1. Menggunakan metode alternatif pembersihan marine fouling foul release
coating apabila umur operasi pile ke depan kurang dari 25 tahun
2. Melakukan penelitian lebih lanjut mengenai jenis marine fouling yang ada
di piles PT Badak LNG sehingga dapat diketahui pencegahan marine
fouling yang ditinjau dari segi biologi
3. Mengevaluasi pengaruh marine fouling pada struktur lebih mendalam
sehingga diketahui batasan tebal marine fouling pada pile

Nita Ayu Handareni, 2711100009 28


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
DAFTAR PUSTAKA

Badan Meteorologi dan Geofisika Maritim. 2014. Prakiraan Arus Permukaan.


BMKG

Indonesia.

http://maritim.bmkg.go.id/index.php

/main/peta_prakiraan/peta_arus. Diakses pada: 1 Agustus 2014


Bowles, J. E.. 1991. Analisa dan Desain Pondasi, Edisi keempat Jilid 1. Jakarta:
Erlangga.
Departement of the Army. 1995. Engineering and Design Painting: New
Construction and Maintenance, Chapter 2, Corrosion Theory and
Corrosion Protection. Washington: CECW EE
Engineering Standards PT Badak LNG. 2001. General Specification Docks. Spec
No B.8.2 Page 12 16.
General Specification. 2001. Spec No A6. PT Badak LNG
Guezennec et al. 1994.
Cathodic Current

Relationship Between

Bacterial Colonization

Density Associated with Mild Steel

Biofouling Journal vol 8 pp 133-146 Singapore:

and

Surfaces.

Harwood Academic

Publishers
Kakooei, et al. 2012. Mechanisms of Macrobiologically Influenced Corrosion: A
Review. World Applied Sciences Journal 17 (4): 524 531 Malaysia: Idosi
Publications
Mandang & Yanagi. 2008. Tide and Tidal Current in the Mahakam Estuary, East
Kalimantan, Indonesia. Coastal Marine Science 32(1): 1 -8
Panjaitan, Marison Feriandi. 2011. Analisa Penggunaan Arus Searah (DC) Pada
Impressed Current Anti Fouling (ICAF) Sebagai Pencegahan Terjadinya
Fouling Pada Cooling System. Jurnal Tugas Akhir ITS.
P.R. Roberge. 1999. Handbook of Corrosion Engineering. New York: Mc Graw
Hill
PT. IEV Indonesia. 2008. Final Report Project. www.iev-group.com/. Diakses
pada: 30 Juli 2014
Purchase Order Data. 2008. PO: P11230. PT Badak LNG
R.G.J. Edyvean. 1995. Bioextraction and Biodeterioration of Metals. Australia:
Cambridge University Press
Nita Ayu Handareni, 2711100009 vi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

LAPORAN KERJA PRAKTIK


PT. BADAK LNG
Bontang-Kalimantan Timur
Smith et al. 2002. In Situ Protection of Splash Zones 30 years on. NACE
International Paper Number 02214
Standard ANSI/API 689. Collection and Exchange of Reliability and Maintenance
Data for Equipment, First Edition.
Standard NACE RP17603. Corrosion Control of Steel Fixed Offshore Structures
Associated with Petroleum Production
Wells & Sytsma. 2009. A Review of the Use of Coatings to Mitigate Biofouling in
Freshwater. Portland State University

Nita Ayu Handareni, 2711100009 vii


Institut Teknologi Sepuluh Nopember