You are on page 1of 20

ANALISI KASUS (TOPIK: GIZI BURUK PADA BALITA)

Salah satu permasalahan kesehatan di Indonesia adalah kematian anak usia


bawah lima tahun (balita). Angka kematian balita di negara-negara berkembang
khususnya Indonesia masih cukup tinggi. Salah satu penyebab yang menonjol
diantaranya karena keadaan gizi yang kurang baik atau bahkan buruk. Kondisi gizi anakanak Indonesia rata-rata lebih buruk dibanding gizi anak-anak dunia dan bahkan juga
dari anak-anak Afrika. Badan kesehatan dunia (WHO) memperkirakan bahwa 54 persen
kematian anak disebabkan oleh keadaan gizi yang buruk. Sementara masalah gizi di
Indonesia mengakibatkan lebih dari 80 persen kematian anak (WHO, 2011).
Prevalensi balita gizi buruk merupakan indikator Millenium Development Goals
(MDGs) yang harus dicapai disuatu daerah (kabupaten/kota) pada tahun 2015, yaitu
terjadinya penurunan prevalensi balita gizi buruk menjadi 3,6 persen atau kekurangan
gizi pada anak balita menjadi 15,5 persen (Bappenas, 2010). Pencapaian target MDGs
belum maksimal dan belum merata di setiap provinsi. Besarnya prevalensi balita gizi
buruk di Indonesia antar provinsi cukup beragam. Berdasarkan data riset kesehatan
dasar (Riskesdas) 2010, secara nasional prevalensi balita gizi buruk sebesar 4,9 persen
dan kekurangan gizi 17,9 persen. Rentang prevalensi BBLR (per 100) di Indonesia
adalah 1,4 sampai 11,2, dimana yang terendah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
dan tertinggi di Provinsi Gorontalo. Provinsi Jawa Timur termasuk daerah dengan balita
gizi buruk masih tergolong tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan prevalensi gizi buruk
sebesar 4,8 persen. Walaupun pada tingkat nasional prevalensi balita kurang gizi telah
hampir mencapai target MDGs, namun masih terjadi disparitas antar provinsi, antara
perdesaan dan perkotaan, dan antar kelompok sosial-ekonomi.
Penyebab Kekurangan Gizi
Ada beberapa faktor penyebab yang diduga menghambat masyarakat untuk
mengkonsumsi gizi. Ketiadaan bahan gizi murah merakyat dan yang paling disayangkan
adalah ketidaktahuan masyarakat akan gizi dan peran pentingnya dalam kehidupan manusia.
Faktor kemiskinan seringkali diduga penyebab masyarakat kurang gizi. Pendapat ini
tidak sepenuhnya benar. Fakta yang lebih kuat menyatakan bahwa ternyata masyarakat kita
belum sepenuhnya memahami gizi dengan benar. Ada kesan bahwa gizi itu barang mewah
yang mahal dan orang miskin tidak akan mampu menyediakannya. Jelas ini adalah opini yang

salah dan berakibat fatal. Salah satu penyebab terjadinya kekurangan gizi ini adalah perilaku
masyarakat yang dapat membuat struktur keluarga terpecah (pekerja migrasi, perceraian dll)
yang pada akhirnya membuat anak terlantar dan menjadi kurang gizi. Faktor lain yang juga
cukup dominan adalah kurangnya pengetahuan tentang gizi dan kesehatan para ibu atau
keluarga yang mengasuh dan memelihara anak/balita tersebut, juga rapatnya jarak kehamilan
dan kelahiran. Selain itu juga anak tidak mendapat cukup perhatian dan ASI, karena ibunya
sangat sibuk mengurusi anak yang banyak serta asupan makanan yang kurang atau anak
sering sakit/terkena infeksi.
Beberapa faktor penyebab:
1. Tidak tersedianya makanan secara adekuat terkait langsung dengan kondisi sosial
ekonomi. Kadang-kadang bencana alam, perang maupun kebijakan politik maupun
ekonomi yang memberatkan rakyat akan menyebabkan hal ini. Kemiskinan sangat
identik dengan tersedianya makan yang adekuat. Data Indonesia dan negara lain
menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara kurang gizi dengan kemiskinan.
Kemiskinan merupakan penyebab pokok atau akar masalah gizi buruk. Proporsi anak
malnutrisi berbanding terbalik dengan pendapatan. Makin kecil pendapatan penduduk,
makin tinggi persentasi anak yang kekurangan gizi. Kemiskinan sering dituding
sebagai biang keladi munculnya penyakit ini di negara-negara berkembang.
Rendahnya pendapatan masyarakat menyebabkan kebutuhan paling mendasar yaitu
pangan pun sering tidak bisa terpenuhi. Laju pertambahan penduduk yang tidak
diimbangi dengan bertambahnya ketersediaan bahan pangan akan menyebabkan krisis
pangan. Inipun menjadi penyebab munculnya penyakit kurang gizi.
2. Anak tidak cukup mendapat makanan bergizi seimbang. Makanan alamiah terbaik
bagi bayi yaitu ASI, dan sesudah usia 6 bulan anak tidak mendapat makanan
pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat, baik jumlah dan kualitasnya akan berakibat
terhadap status gizi bayi. MP-ASI yang baik tidak hanya cukup mengandung energi
dan protein, tetapi juga mengandung zat besi, vitamin A, asam folat, vitamin B serta
vitamin dan mineral lainnya. MP-ASI yang tepat dan baik dapat disiapkan sendiri di
rumah.
Pada keluarga dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang rendah seringkali
anaknya harus puas dengan makanan seadanya yang tidak memenuhi kebutuhan gizi
balita karena ketidaktahuan. Faktor sosial: yang dimaksud disini adalah rendahnya
kesadaran masyarakat akan pentingnya makanan bergizi bagi pertumbuhan anak.

Sehingga banyak balita yang diberi makan sekedarnya atau asal kenyang padahal
miskin gizi.
3. Pola pengasuhan anak berpengaruh pada timbulnya gizi buruk. Anak yang diasuh
ibunya sendiri dengan kasih sayang, apalagi ibunya berpendidikan, mengerti soal
pentingnya ASI, manfaat posyandu dan kebersihan, meskipun sama-sama miskin,
ternyata anaknya lebih sehat. Unsur pendidikan perempuan berpengaruh pada kualitas
pengasuhan anak. Sebaliknya sebagian anak yang gizinya buruk ternyata diasuh oleh
nenek atau pengasuh yang juga miskin dan tidak berpendidikan. Banyaknya
perempuan yang meninggalkan desa untuk mencari kerja di kota bahkan menjadi TKI,
kemungkinan juga dapat menyebabkan anak menderita gizi buruk. Kebiasaan, mitos
ataupun kepercayaan/ adat istiadat masyarakat tertentu yang tidak benar dalam
pemberian makan akan sangat merugikan anak. Misalnya kebiasaan memberi minum
bayi hanya dengan air putih, memberikan makanan padat terlalu dini, berpantang pada
makanan tertentu (misalnya tidak memberikan anak-anak daging, telur, santan dll),
hal ini menghilangkan kesempatan anak untuk mendapatkan asupan lemak, protein
maupun kalori yang cukup.

Sering sakit menjadi penyebab terpenting kekurangan gizi, apalagi di negara-negara


terbelakang dan yang sedang berkembang seperti Indonesia, dimana kesadaran akan
kebersihan/personal hygine yang masih kurang, serta ancaman endemisitas penyakit tertentu,
khususnya infeksi kronik seperti TBC masih sangat tinggi. Kaitan infeksi dan kurang gizi
seperti layaknya lingkaran setan yang sukar diputuskan, karena keduanya saling terkait dan
saling memperberat. Kondisi infeksi kronik akan menyebabkan kurang gizi dan kondisi
malnutrisi sendiri akan memberikan dampak buruk pada sistem pertahanan sehingga
memudahkan terjadinya infeksi. Tak dapat dipungkiri memang ada hubungan erat antara
infeksi dengan malnutrisi. Infeksi sekecil apapun berpengaruh pada tubuh. Sedangkan kondisi
malnutrisi akan semakin memperlemah daya tahan tubuh yang pada giliran berikutnya akan
mempermudah masuknya beragam penyakit.

Analisis Kasus DBD Berdasarkan Kebijakan Pemerintah


Demam Berdarah Dengue adalah penyakit menular yang disebabkan olehvirus dengue
dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypty. Penyakit DBDdapat menyerang anak-anak dan
orang dewasa (Dinkes Jateng, 2005).
Menurut Junaedi dalam Riyadi & Suharsono (2010), Demam BerdarahDengue adalah
penyakit yang terdapat pada anak-anak dan orang dewasa.
Jadi Demam Berdarah Dengue adalah penyakit menular yangdisebabkan oleh virus
dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegyptyyang menyerang anak-anak dan orang
dewasa yang ditandai dengan demam.
Menurut Dinkes Jateng (2005), Penyebab penyakit DBD ada 4 tipe (Tipe 1, 2, 3, dan
4), termasuk dalam group B Antropod Borne Virus(Arbovirus). Dengue tipe -3 merupakan
serotip virus yang dominan yang menyebabkan kasus yang berat. Masa inkubasi penyakit
demam berdarah dengue diperkirakan < 7 hari. Penularan penyakit demam berdarah
dengueumumnya ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegepty meskipun dapat juga
ditularkan oleh Aedes Albopictus yang hidup dikebun.
Cara penularan virus dengue yaitu virus masuk ketubuh manusia melalui gigitan
nyamuk selanjutnya beredar dalam sirkulasi darah selama periode sampai timbul gejala
demam. Periode ini dimana virus beredar didalam sirkulasi darah manusia disebut fase
viremia. Apabila nyamuk yang belum terinfeksi menghisap darah manusia dalam fase
viremia maka virus akan masuk kedalam tubuh nyamuk dan berkembang selama periode 8-10
hari sebelum virus siap di transmisikan kepada manusia lain. Rentang waktu yang diperlukan
untuk inkubasi ekstrinsik tergantung pada kondisi lingkungan terutama temperatur sekitar.
Siklus penularan virus dengue dari manusia nyamuk manusia dan seterusnya (ecological
of dengueinfection) (Djunaedi, 2006).
Demam Berdarah Dengue (DBD) ditandai oleh demam mendadaktanpa sebab yang
jelas disertai dengan gejala lain seperti lemah, nafsu makan berkurang, muntah, nyeri pada
anggota badan, punggung, sendi, kepala dan perut. Gejala-gejala tersebut menyerupai
influensa biasa. Pada hari ke-2 dan ke-3 demam muncul bentuk perdarahan yang beraneka
ragam dimulai dari yang paling ringan sampai berupa perdarahan dibawah kulit, perdarahan
gusi, epistaksis, sampai perdarahan yang hebat sampai muntah darah akibat perdarahan
lambung, melena, dan juga hematuria masif.

Selain perdarahan juga terjadi syok yang biasanya dijumpai saat demam telahmenurun
antara hari ke-3 dan ke-7 dengan tanda-tanda makin lemah, ujungujung jari, telinga, dan
hidung teraba dingin dan lembab (Ngastiah, 2005).
Menurut Misnadiarly (2009), tanda atau gejala awal perjalanan penyakit DBD yaitu
panas tinggi tanpa sebab jelas yang timbul mendadak dan terus-menerus, badan lemah atau
lesu, ujung jari kaki dan tangan teraba dingin atau lembab. Selanjutnya demam yang akut,
selama 2-7 hari, dengan 2 atau lebih gejala sebagai berikut : nyeri kepala, nyeri otot, nyeri
persendian, bintik-bintik pada kulit sebagai manifestasi perdarahan dan leukopenia.
Menurut World Health Organization (1997), DBD diklasifikasikan menjadi 4 tingkat
keparahan.
Derajat I

: Demam disertai dengan gejala konstitusional non-spesifik, satusatunya manifestasi perdarahan adalah tes torniket positif dan muntah memar.

Derajat II : Perdarahan spontan selain manifestasi pasien pada Derajat I,


biasanya pada bentuk perdarahan kulit atau perdarahan lain.
Derajat III :

Gagal sirkulasi dimanifestasikan dengan nadi cepat dan lemah serta


penyempitan tekanan nadi atau hipotensi, dengan adanya kulit dingin dan
lembab serta gelisah.

Derajat IV :

Syok hebat dengan tekanan darah atau nadi tidak terdeteksi.

Klasifikasi DBD menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2010) yaitu:


a. Dengue tanpa tanda bahaya dan dengue dengan tanda bahaya (denguewithout warning
signs). Kriteria dengue tanpa tanda bahaya dan denguedengan tanda bahaya:
1) Bertempat tinggal di atau bepergian ke daerah endemik dengue.
2) Demam disertai 2 dari hal berikut : Mual, muntah, ruam, sakit dannyeri, uji torniket
positif, lekopenia, adanya tanda bahaya.
3) Tanda bahaya adalah Nyeri perut atau kelembutannya, muntahberkepanjangan,
terdapat akumulasi cairan, perdarahan mukosa,letargis, lemah, pembesaran hati > 2
cm, kenaikan hematokrit seiringdengan penurunan jumlah trombosit yang cepat.
4) Dengue dengan konfirmasi laboratorium (penting bila bukti kebocoranplasma tidak
jelas)
b. Dengue berat (severe dengue). Kriteria dengue berat : Kebocoran plasmaberat, yang dapat
menyebabkan syok (DSS), akumulasi cairan dengandistress pernafasan. Perdarahan hebat,
sesuai pertimbangan klinisigangguan organ berat, hepar (AST atau ALT 1000,
gangguankesadaran,

gangguan

jantung

dan

organ

lain).

adanyakecenderungan perdarahan dapat dilakukan uji tourniquet.

Untuk

mengetahui

Curah hujan merupakan salah satu faktorpenentu kejadian infeksi dengue


[demamdengue (DD) dan demam berdarah dengue(DBD)] selain faktor penentu
lainnya,diantaranya iklim (suhu, kelembaban, dan lain-lain),densitas virus, serta herd
immunity.Di sebagian besarnegara, epidemi dengue dilaporkan terjadi selamamusim hujan,
lembab dan hangat, yang mendukungpertumbuhan nyamuk serta mempersingkat masa
inkubasi ekstrinsik. Diaz-Qujiano dkk, melaporkan terdapat asosiasi yang bermakna antara
rerata curah hujan dalam lima minggu dan jumlah kasus yang melakukan konsultasi
kesehatan untuk DD pada empat minggu sesudahnya pada tahun 2008 di Bogota Columbia.
Hasil penilaian hubungan antara tingkat curah hujan perbulan dengan kasus DBD
melalui uji korelasiSpearman. Terdapat korelasiantara curah hujan dan peningkatan jumlah
kasus DBDyang dirawat. Korelasi mulai terjadi satu bulan sebelumpuncak curah hujan
(r=0,332; p=0,001), meningkat saatpuncak curah hujan (r=0,353; p=0,000), dan melemahsatu
bulan sesudahnya (r=0,262; p=0,008).
Bulan puncak curah hujandan puncak kasus DBD dalam satu tahun kalender daritahun
2004 sampai dengan tahun 2010. Sebagian besarbulan puncak curah hujan terjadi pada bulan
Maret,kecuali pada tahun 2007 dan 2008. Puncak kasusDBD sebagian besar terjadi pada saat
bulan puncakcurah hujan. Rerata selisih waktu antara puncak curahhujan dan puncak kasus
DBD adalah -1,4 (SD 2,1)hari dengan media 0 (range -4 2) hari.
Curah hujan dapat meningkatkan transmisipenyakit yang ditularkan oleh vektor dengan
caramemacu proliferasi tempat berkembang biak, tetapi jugadapat mengeliminasi tempat
berkembang biak dengancara menghanyutkan vektor. Hal ini mungkin dapatmenjelaskan
mengapa korelasi yang didapatkan padapenelitian ini tidak terlalu kuat (moderat).
Hasil

penelitian

yang

dilakukan

oleh

Jughan

Sitorus

(2003),

hasilnya

memperlihatkanbahwa curah hujan, temperatur dan kelembaban udara mempunyai hubungan


yang signifikan dengan peningkatan kasus DBD. Hasil penelitian tersebut diperkuat oleh
hasil penelitan yang dilakukan oleh Ethiene Pedrosa dan kawan-kawan (2010) mengenai
dampak variasi suhu dan kelembaban terhadap kegiatan reproduksi dan kelangsungan hidup
nyamuk Aedes aegypti, hasil yang didapat bahwa pada suhu 350C dan kelembaban relatif
sebesar 60% maka akan menurunkan tingkat oviposisi nyamuk (rata-rata 54,534,81 telur),
sedangkan pada suhu 250C dan kelembaban relatif 80% maka potensial untuk tingkat
oviposisi nyamuk (rata-rata 99,083,56 telur).

Berdasarkan kasus yang terjadi di lapangan, maka kebijakan pemerintah dan strategi
pengendalian dalam upaya memberantas nyamuk Aedes aegypti yang menyebabkan DBD di
berbagai wilayah di Indonesia belum berhasil. Untuk itu perlu dilakukan penyuluhan dan
pemantauan oleh pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat supaya upaya pemerintah dalam
menurunkan kasus kejadian DBD dapat berhasil. Diharapkan juga adanya pemantauan
terhadap faktor iklimsecara berkelanjutan. Pelaksanaan kegiatan ini dapat dilakukan dengan
adanya kerjasama yang baik antara Dinasa Kesehatan dengan BMKG, sehingga
kasus/kejadian penyakit dapat diprediksi,dicegah ditangani secara cepat dan tepat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidak-berhasilan Program Pencegahan dan
Pemberantasan Demam Berdarah Dengue dalam mencegah dan menurunkan tingginya angka
kejadian penyakit DBD di daerah penelitian berhubungan erat dengan belum adanya
peranserta warga masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan aktivitas-aktivitas
program. Warga masyarakat di daerah penelitian tidak memiliki akseslangsung kepada
informasi dan pengetahuan mengenai program, yang merupakan prakondisi bagi berperan
sertanya warga masyarakat dalam suatu program Hal ini disebabkan penyuluhan, yang
merupakan saluran penyampaian informasi dari para pelaksana program di lapangan kepada
warga masyarakat, belum berjalan dengan baik; karena adanya berbagai kendala pada
pelaksana program di lapangan.

Analisis Kasus AKI


Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator derajat kesehatan
masyarakat. Tingginya AKI di suatu negara menunjukkan bahwa negara tersebut
dikategorikan buruk dan belum berhasil dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
yang setinggi-tingginya.
Dari kasus diatas dapat diketahui bahwa penyebab utama kematian ibu dan anak
adalah karena pelayanan kesehatan yang belum maksimal dan kurangnya pengetahuan dan
perilaku mengenai kesehatan ibu dan anak. Namun pemerintah menduga sebagian besar
masalah disebabkan oleh faktor ekonomi dan pendidikan keluarga, namun tidak dipungkiri
bahwa faktor sosial budaya mempengaruhi secara nyata gambaran menyeluruh masalah gizi
di daerah pedesaan. Sikap dan kepercayaan ibu hamil pada budaya leluhur yang mengatakan
bahwa selama hamil dilarang makanan tertentu karena akan mengakibatkan kelainan pada
anak yang dikandungnya masih sangat dipercaya dan ditakuti. Rendahnya pengetahuan ibu
hamil mengenai manfaat zatzat gizi pada makanaan akan sangat berpengaruh dengan cara
pengolahan dan penyusunan menu makanan sehingga gizi yang diharapkan tidak didapatkan.
Padahal gizi buruk karena kesalahan dalam pengaturan makanan membawa dampak yang
tidak menguntungkan bukan hanya bagi ibu tetapi juga bagi bayi yang akan lahir. Dampak
gizi buruk terhadap ibu dapat berupa hipertensi, kesulitan waktu kelahiran, terjadi
pendarahan, bahkan membawa kematian. Bagi bayi yang ada dalam kandungan, gizi ibu yang
buruk dapat menyebabkan terjadinya keguguran, bayi lahir sebelum waktunya, BBLR,
kematian neonates dan kematian dibawah satu tahun.
Bantuan yang belum tepat sasaran diduga menjadi salah satu penyebab tingginya
angka kematian ibu dan anak karena melihat angka kematian ibu yang bukan menurun malah
semakin meningkat. Kemajuan ekonomi yang meningkat diharapkan dapat membantu
pemerintah mengurangi angka kematian ibu tetapi pada kenyataan kemajuan ekonomi tidak
membantu mengurangi angka kematian ibu.
Selain itu pelayanan kesehatan yang belum maksimal menjadi pemicu tingginya
angka kematian ibu dan anak di berbagai daerah. Persalinan ibu yang ditolong oleh tenaga
kesehatan profesional harus memahami cara menolong persalinan secara bersih dan aman.
Partisipasi semua komponen lapisan masyarakat desa (kemitraan antara bidan desa, dukun
bayi, kader, tokoh masyarakat) diperlukan untuk mencapai keberhasilan program Desa Siaga.
Bidan desa

merupakan motor penggerak dari Desa Siaga. Oleh karena itu, agar desa

memiliki kesiapsiagaan untuk menanggulangi kegawatdaruratan ibu hamil dan bersalin, maka
perlu dikembangkan mekanisme kemitraan seperti kemitraan bidan desa dengan dukun bayi.
Sayangnya peran bidan seperti yang tertulis di atas tidak didukung dengan ketersediaan bidan
di setiap desa. Fenomena dukun bayi merupakan salah satu bagian yang cukup besar
pengaruhnya dalam menentukan status kesehatan ibu dan bayi, karena sekitar 40% kelahiran
bayi di Indonesia dibantu oleh dukun bayi. Keadaan ini semakin diperparah karena umumnya
dukun bayi yang menolong persalinan tersebut bukan dukun terlatih.
Pemerintah sebagai regulator seharusnya lebih menekankan warganya untuk ikut
berpartisipasi dalam program-program yang dibuat pemerintah untuk menurunkan angka
kematian ibu dan bayi melalui beberapa program. salah satuya adalah melalui bantuan
pemberian makanan tambahan (PMT) dengan harapan dapat memperbaiki konsumsi gizi
pada ibu hamil. PMT merupakan salah satu komponen penting dalam program Usaha
Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK). Selain itu Bantuan Operasional Kesehatan (BOK)
merupakan bantuan dana dari pemerintah pusat melalui Kementrian Kesehatan. Tujuannya
adalah untuk membantu pemerintah daerah melaksanakan pelayanan kesehatan sesuai
Pelayanan Kesehatan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan untuk mempercepat pencapaian
MDGs dengan meningkatkan kinerja puskesmas dan jaringannya serta Pos Kesehatan Desa
(Poskesdes) dan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dalam menyelenggarakan pelayanan
kesehatan.

Analisis Malaria

A. PENTAHAPAN ELIMINASI MALARIA


Dalam program malaria Global (Global Malaria Programme) terdapat 4 tahapan menuju
eliminasi malaria yaitu: Pemberantasan, Pra Eliminasi, Eliminasi dan Pemeliharaan
(pencegahan penularan kembali).
Situasi yang dicapai pada masing-masing tahap Eliminasi Malaria adalah sebagai berikut :
1. Tahap Pemberantasan
a. Belum semua unit pelayanan kesehatan mampu memeriksa kasus secara
laboratorium (Mikroskopis).
b. Cakupan pelayanan dan sumber daya terbatas.
c. Bila semua penderita demam di unit pelayanan kesehatan sudah dilakukan
pemeriksaan sediaan darah, maka Slide Positif Rate (SPR) masih > 5%.
d. d. Adanya upaya pengendalian malaria secara intensif untuk mencapai SPR < 5
%. SPR < 5%.
e. Adanya keterlibatan pemerintah, pemerintah daerah, swasta, LSM, organisasi
Profesi, Lembaga Internasional dan lembaga donor lainnya (pembentukan Tim
Gebrak Malaria atau forum kerja sama lain yang sudah ada di Provinsi dan
Kabupaten/ kota).
2. Tahap Pra Eliminasi
a. Semua unit pelayanan kesehatan sudah mampu memeriksa kasus secara
laboratorium (mikroskopis).
b. Semua penderita malaria klinis di unit pelayanan kesehatan sudah dilakukan
pemeriksaan sediaan darah dan SPR mencapai < 5%.
c. Adanya peningkatan kualitas dan cakupan upaya pengendalian malaria
(Surveilans, penemuan dan pengobatan, pemberantasan vektor) untuk mencapai
Annual Parasite Incidence (API) < 1/1000 penduduk berisiko.
d. Adanya peningkatan keterlibatan pemerintah, pemerintah daerah, swasta, LSM,
organisasi profesi, lembaga internasional, lembaga donor dan lain-lain (Tim
Gebrak Malaria atau forum kerja sama lain yang sudah ada di Provinsi dan
Kabupaten/Kota). Tersedianya peraturan perundangan di tingkat Provinsi/
Kabupaten / Kota yang mendukung kebijakan dan sumber daya untuk pelaksanaan
eliminasi malaria.
3. Tahap Eliminasi
a. API sudah mencapai < 1/1000 penduduk berisiko dalam satuan wilayah minimal
setara dengan Kabupaten / Kota.
b. Surveilans sudah berjalan dengan baik termasuk Active Case Detection (ACD).
c. Re-orientasi program menuju Tahap Eliminasi kepada semua petugas kesehatan
pemerintah maupun swasta yang terlibat dalam eliminasi sudah dicapai dengan
baik.

d. Lintas sektor terkait telah berperan secara penuh dan sinergis mulai dari
pemerintah, pemerintah daerah, LSM, organisasi profesi, lembaga internasional,
lembaga donor dan lain-lain dalam eliminasi malaria yang tertuang didalam
Peraturan Perundangan daerah.
e. Upaya penanggulangan malaria dilakukan secara intensif sehingga kasus dengan
penularan setempat (indigenous) tidak ditemukan dalam periode waktu satu tahun
terakhir.
4. Tahap Pemeliharaan (Pencegahan Penularan Kembali)
a. Mempertahankan Kasus indigenous tetap nol.
b. Kegiatan surveilans yang baik masih dipertahankan.
c. Re-orientasi program menuju Tahap Pemeliharaan kepada semua petugas
kesehatan, pemerintah maupun swasta yang terlibat dalam eliminasi sudah dicapai
dengan baik.
d. Adanya konsistensi tanggung jawab pemerintah daerah dalam tahap pemeliharaan
secara berkesinambungan dalam kebijaksanaan, penyediaan sumber daya baik
sarana dan prasarana serta sumber daya lainnya yang tertuang dalam Peraturan
Daerah atau Peraturan Perundangan yang diperlukan di Provinsi/Kabupaten/Kota.
B. KEGIATAN DALAM ELIMINASI MALARIA
1. Tahap Pemberantasan Tujuan utama pada Tahap Pemberantasan adalah
mengurangi tingkat penularan malaria disatu wilayah minimal kabupaten/kota,
sehingga pada akhir tahap tersebut tercapai SPR < 5 %. Sasaran intervensi
kegiatan dalam Tahap Pemberantasan adalah seluruh lokasi endemis malaria
(masih
terjadi
penularan)
di
wilayah
yang
akan
dieliminasi.
Untuk mencapai tujuan Tahap Pemberantasan, perlu dilakukan pokok-pokok
kegiatan sebagai berikut :
a. Penemuan dan Tata Laksana Penderita
- Meningkatkan cakupan penemuan penderita malaria dengan konfirmasi
laboratorium baik secara mikroskopis maupun RDT.
- Mengobati semua penderita malaria (kasus positif) dengan obat malaria
efektif dan aman yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RI (saat ini
menggunakan Artemisinin Combination Therapy).
- Melakukan pemeriksaan ulang sediaan darah, pemantauan kualitas RDT, dan
meningkatkan kemampuan mikroskopis.
- Memantau efikasi obat malaria.
b. Pencegahan dan penanggulangan faktor risiko
- Melakukan survei vektor dan analisis dinamika penularan untuk menentukan
metode pengendalian vektor yang tepat.
- Mendistribusikan kelambu berinsektisida secara massal maupun integrasi
dengan program/sektor lain di lokasi endemis malaria.
- Melakukan penyemprotan rumah (Indoor Residual Spraying) atau
pengendalian vektor lain yang sesuai di lokasi potensial atau sedang terjadi
KLB.

- Memantau efikasi insektisida (termasuk kelambu berinsektisida) dan


resistensi vektor.
c. Surveilans epidemiologi dan penanggulangan wabah
- Meningkatkan kemampuan unit pelayanan kesehatan pemerintah maupun
swasta (Puskesmas, poliklinik, rumah sakit) dalam pelaksanaan SKD-KLB.
- Menanggulangi KLB malaria.
- Meningkatkan cakupan dan kualitas pencatatan-pelaporan tentang angka
kesakitan malaria serta hasil kegiatan.
- Melakukan pemetaan daerah endemis malaria dari data rutin dan hasil survei.
d. Peningkatan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE)
- Meningkatkan peran aktif masyarakat antara lain melalui pembentukan Pos
Malaria Desa (Posmaldes) di daerah terpencil.
- Meningkatan promosi kesehatan. - Menggalang kemitraan dengan berbagai
program, sektor, LSM, organisasi keagamaan, organisasi kemasyarakatan,
organisasi profesi, organisasi internasional, lembaga donor, dunia usaha dan
seluruh masyarakat.
- Integrasi dengan program lain dalam pelayanan masyarakat, seperti
pembagian kelambu berinsektisida, pengobatan penderita.
- Menyusun Perda atau peraturan perundangan lainnya untuk mendukung
eliminasi malaria.
e. Peningkatan sumber daya manusia
- Menyelenggarakan pelatihan tenaga mikroskopis Puskesmas dan rumah sakit
pemerintah maupun unit pelayanan kesehatan swasta serta menjaga kualitas
pemeriksaan sediaan darah.
- Sosialisasi dan pelatihan tata laksana penderita.
- Pelatihan tenaga pengelola malaria dalam bidang teknis dan manajemen.
2. Tahap Pra Eliminasi
Tujuan utama pada tahap Pra Eliminasi adalah mengurangi jumlah fokus aktif dan
mengurangi penularan setempat di satu wilayah minimal kabupaten/kota, sehingga pada akhir
tahap tersebut tercapai API < 1 per 1000 penduduk berisiko. Sasaran intervensi kegiatan
dalam Tahap Pra Eliminasi adalah fokus aktif (lokasi yang masih terjadi penularan setempat)
di wilayah yang akan dieliminasi.
Pokok-pokok kegiatan yang dilakukan adalah :
a. Penemuan dan tata laksana penderita
- Menemukan semua penderita malaria dengan konfirmasi mikroskopis di
Puskesmas dan rumah sakit pemerintah maupun unit pelayanan kesehatan swasta.
- Mengobati semua penderita malaria (kasus positif) dengan obat malaria efektif
dan aman yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RI (saat ini menggunakan
Artemisinin Combination Therapy).
- Melakukan pemeriksaan ulang sediaan darah dan secara berkala menguji
kemampuan pemeriksaan mikroskopis.

Memantau efikasi obat malaria.


Meningkatkan cakupan penemuan dan pengobatan penderita secara pasif melalui
Puskesmas Pembantu,Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (antara lain
Poskesdes, Posyandu, Posmaldes), praktek swasta, klinik, dan rumah sakit.
- Mengatur dan Mengawasi peredaran penjualan obat malaria selain ACT
(klorokuin, fansidar) di warung-warung obat.
b. Pencegahan dan penanggulangan faktor risiko
- Mendistribusikan kelambu berinsektisida secara massal maupun secara rutin
melalui kegiatan integrasi dengan program lain dapat mencakup > 80% penduduk
di lokasi fokus malaria dengan API 1.
- Melakukan penyemprotan rumah dengan cakupan > 90% rumah penduduk di
lokasi potensial atau sedang terjadi KLB dan di lokasi fokus malaria dengan API
1 yang tidak sesuai dengan penggunaan kelambu berinsektisida.
- Melakukan pengendalian vektor dengan metode lain yang sesuai untuk
menurunkan reseptivitas, seperti manajemen lingkungan, larvasidasi, dan
pengendalian vektor secara hayati.
- Memantau efikasi insektisida (termasuk kelambu berinsektisida) dan resistensi
vektor.
c. Surveilans epidemiologi dan penanggulangan wabah
- Semua unit pelayanan kesehatan pemerintah maupun swasta (Puskesmas,
poliklinik, rumah sakit) melaksanakan SKD-KLB malaria, dianalisis dan
dilaporkan secara berkala ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat.
- Menanggulangi KLB malaria.
- Memperkuat sistem informasi kesehatan sehingga semua penderita dan kematian
malaria serta hasil kegiatan dapat dicatat dan dilaporkan.
- Melaporkan penemuan kasus dengan segera.
- Menginventarisasi dan memetakan fokus malaria.
- Membuat data dasar eliminasi, antara lain secara Geographycal Information
System (GIS) berdasarkan data fokus, kasus, vektor, genotipe isolate parasit dan
intervensi yang dilakukan.
- Membentuk Tim Monitoring Eliminasi Malaria di Pusat, Provinsi dan
Kabupaten/Kota.
Tugas utama Tim tersebut adalah :
A. Membuat data dasar eliminasi.
B. Melakukan penilaian secara objektif dalam menentukan apakah suatu wilayah
kabupaten/kota sudah memenuhi syarat untuk masuk tahap pra eliminasi atau
sudah siap memasuki tahap berikutnya, berdasarkan :
1. Status penularan malaria di wilayah tersebut.
2. Kesiapan dan kemampuan upaya pelayanan kesehatan setempat.
d. Peningkatan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE)
- Meningkatkan promosi kesehatan dan kampanye eliminasi malaria.
- Menggalang kemitraan dengan berbagai program, sektor, LSM, organisasi
keagamaan, organisasi kemasyarakatan, organisasi profesi, organisasi
internasional, lembaga donor, dunia usaha dan seluruh masyarakat.

Melakukan integrasi dengan program lain dalam pelayanan masyarakat, seperti


pembagian kelambu berinsektisida, penemuan dan pengobatan penderita.
- Mentaati dan melaksanakan Peraturan daerah dan atau peraturan perundangan
lainnya untuk mendukung eliminasi malaria.
- Melakukan advokasi dan sosialisasi agar mendapat dukungan politik dan adanya
jaminan dalam penyediaan dana secara berkesinambungan untuk menghilangkan
fokus aktif yang masih ada.
- Mobilisasi dana yang bersumber dari kabupaten/kota, provinsi dan pusat maupun
lembaga donor.
- Menyelenggarakan pertemuan lintas-batas provinsi dan kabupaten/kota untuk
merencanakan dan melakukan kegiatan secara terpadu dalam Eliminasi Malaria.
e. Peningkatan sumber daya manusia
- Re-orientasi program menuju Tahap Eliminasi disampaikan kepada petugas
kesehatan pemerintah maupun swasta yang terlibat dalam Eliminasi Malaria agar
mereka memahami tujuan eliminasi dan tugas yang harus dilaksanakan.
- Pelatihan/refreshing tenaga mikroskopis Puskesmas dan rumah sakit pemerintah
maupun unit pelayanan kesehatan swasta serta menjaga kualitas pemeriksaan
sediaan darah.
- Pelatihan tenaga pengelola malaria dalam bidang teknis dan manajemen.
- Sosialisasi dan pelatihan tata laksana penderita.
3.Tahap Eliminasi
Tujuan utama pada tahap Eliminasi adalah menghilangkan fokus aktif dan menghentikan
penularan setempat di satu wilayah, minimal kabupaten/kota, sehingga pada akhir tahap
tersebut kasus penularan setempat (indigenous) nol (tidak ditemukan lagi). Sasaran intervensi
kegiatan dalam Tahap Eliminasi adalah sisa fokus aktif dan individu kasus positif dengan
penularan setempat (kasus indigenous).
Pokok-pokok kegiatan yang dilakukan adalah :
a. Penemuan dan tata laksana penderita
Menemukan semua penderita malaria dengan konfirmasi mikroskopis baik
secara pasif (PCD) di unit pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta,
maupun penemuan penderita secara aktif (ACD).
Mengobati semua penderita malaria (kasus positif) dengan obat malaria efektif
dan aman yang ditetapkan \oleh Departemen Kesehatan RI (saat ini
menggunakan Artemisinin Combination Therapy).
Melakukan follow up pengobatan penderita malaria falciparum pada hari ke-7
dan ke-28 setelah pengobatan, sedang penderita malaria vivax pada hari ke-7,
28 dan 3 bulan setelah pengobatan.
Melakukan pemeriksaan ulang sediaan darah dan secara berkala menguji
kemampuan mikroskopis dalam memeriksa sediaan darah.
Memantau efikasi obat malaria.

Melibatkan sepenuhnya peran praktek swasta dan klinik serta rumah sakit
swasta dalam penemuan dan pengobatan penderita.
b. Pencegahan dan penanggulangan faktor resiko
Melakukan pengendalian vektor yang sesuai, antara lain dengan pembagian
kelambu berinsektisida (cakupan > 80% penduduk) atau penyemprotan rumah
(cakupan > 90% rumah) untuk menurunkan tingkat penularan di lokasi fokus
baru dan sisa fokus lama yang masih aktif.
Bila perlu melakukan larvasidasi atau manajemen lingkungan dilokasi fokus
yang reseptivitasnya tinggi (kepadatan vektor tinggi dan adanya faktor
lingkungan serta iklim yang menunjang terjadinya penularan).
Memantau efikasi insektisida (termasuk kelambu berinsektisida) dan resistensi
vektor.
Memberikan perlindungan individu dengan kelambu berinsektisida kepada
penduduk di wilayah eliminasi yang akan berkunjung ke daerah lain yang
endemis malaria baik di dalam maupun di luar negeri.
c. Surveilans epidemiologi dan penanggulangan wabah
Semua unit pelayanan kesehatan pemerintah maupun swasta (Puskesmas,
poliklinik, rumah sakit) melaksanakan SKD-KLB malaria, dianalisis dan
dilaporkan secara berkala ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat.
Segera melakukan penanggulangan bila terjadi KLB malaria.
Melaksanakan surveilans penderita dengan ketat, terutama bila sudah mulai
jarang ditemukan penderita dengan penularan setempat.
Melaksanakan surveilans migrasi untuk mencegah masuknya kasus impor.
Melakukan penyelidikan epidemologi terhadap semua kasus positif malaria
untuk menentukan asal penularan penderita.
Melaporkan dengan segera setiap kasus positif malaria yang ditemukan di unit
pelayanan kesehatan pemerintah maupun swasta kepada Dinas Kesehatan
secara berjenjang sampai tingkat pusat.
Melakukan penyelidikan epidemiologi terhadap fokus malaria untuk
menentukan asal, luas dan klasifikasi fokus tersebut.
Memperkuat sistem informasi malaria sehingga semua kasus dan hasil
kegiatan intervensi dapat dicatat dengan baik dan dilaporkan.
Mencatat semua kasus positif dalam buku register secara nasional.
Melaksanakan pemeriksaan genotipe isolate parasit secara rutin.
Membuat peta GIS berdasarkan data fokus, kasus positif, genotipe isolate
parasit, vektor, dan kegiatan intervensi yang dilakukan.
Memfungsikan Tim Monitoring Eliminasi Malaria di Pusat, Provinsi dan
Kabupaten/Kota.
d. Peningkatan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE)
Meningkatkan promosi kesehatan dan kampanye eliminasi malaria.
Menggalang kemitraan dengan berbagai program, sektor, LSM, organisasi
keagamaan, organisasi kemasyarakatan, organisasi profesi, organisasi
internasional, lembaga donor, dunia usaha dan seluruh masyarakat.

Melakukan integrasi dengan program lain dalam pelayanan masyarakat,


seperti pembagian kelambu berinsektisida, pengobatan penderita.
Memfungsikan Perda atau peraturan perundangan lainnya, antara lain untuk
membebaskan biaya diagnosis laboratorium dan pengobatan malaria di unit
pelayanan kesehatan pemerintah, serta melarang penjualan obat malaria di
warung atau kaki lima.
Melakukan advokasi dan sosialisasi untuk mendapatkan dukungan politik dan
jaminan dalam penyediaan dana secara berkesinambungan dalam upaya
eliminasi malaria, khususnya menghilangkan fokus aktif dan menghentikan
penularan setempat.
Mobilisasi dana yang bersumber dari kabupaten/kota, provinsi, dan pusat
maupun lembaga donor.
Melakukan pertemuan lintas batas antar provinsi dan kabupaten/kota untuk
merencanakan dan melaksanakan kegiatan Eliminasi Malaria secara terpadu.
e. Peningkatan sumber daya manusia
Melaksanakan re-orientasi program menuju Tahap Pemeliharaan (pencegahan
penularan kembali) disampaikan kepada petugas kesehatan pemerintah
maupun swasta yang terlibat eliminasi. Re-orientasi ini mulai dilaksanakan
bila:
A. Surveilans penderita yang ketat sudah mampu memutuskan penularan
malaria setempat secara total atau hampir total (penderita indigenous
sudah sangat jarang ditemukan).
B. Penderita dengan penularan setempat hampir tidak ditemukan atau sangat
jarang.
C. Hampir semua penderita positif yang ditemukan adalah penderita impor,
relaps, induced dan introduced.
Melaksanakan pelatihan/refreshing tenaga mikroskopis Puskesmas dan rumah
sakit pemerintah maupun unit pelayanan kesehatan swasta terutama di daerah
reseptive untuk menjaga kualitas pemeriksaan sediaan darah.
Melaksanakan pelatihan tenaga Juru Malaria Desa (JMD) untuk kegiatan ACD
di wilayah yang masih memerlukan.
Tahap Eliminasi sudah tercapai apabila :
- Penderita dengan penularan setempat sudah dapat diturunkan sampai nol dalam
periode satu tahun terakhir.
- Kegiatan surveilans di unit pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta, mampu
mendeteksi dan menghentikan bila terjadi penularan malaria.
4.Tahap Pemeliharaan (Pencegahan Penularan Kembali)
Tujuan utama pada Tahap Pemeliharaan adalah mencegah munculnya kembali kasus dengan
penularan setempat.Sasaran intervensi kegiatan dalam Tahap Pemeliharaan adalah individu
kasus positif, khususnya kasus impor. Pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan adalah :

I.

Penemuan dan tata laksana penderita


Di wilayah dengan tingkat reseptivitas dan vulnerabilitas yang rendah,
penemuan penderita secara dini cukup dengan kegiatan PCD melalui unit
pelayanan kesehatan pemerintah maupun swasta.
Di wilayah dengan tingkat reseptivitas dan vulnerabilitas yang tinggi,
penemuan penderita secara dini disamping PCD juga dilakukan ACD oleh
JMD.
Semua sediaan darah diperiksa ulang di laboratorium rujukan secara
berjenjang di kabupaten/kota, provinsi dan pusat.
Mengobati semua penderita malaria (kasus positif) dengan obat malaria efektif
dan aman yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RI (saat ini
menggunakan Artemisinin Combination Therapy).
Melakukan follow up pengobatan penderita positif falciparum pada hari ke-7
dan ke-28 setelah pengobatan, untuk penderita positif vivax pada hari ke-7, 28
dan 90 (3 bulan) setelah pengobatan.
Pencegahan dan penanggulangan faktor resiko
Di wilayah dengan tingkat reseptivitas dan vulnerabilitas yang tinggi, untuk
menurunkan reseptivitas bila perlu dilakukan pengendalian vektor yang sesuai
di lokasi tersebut, seperti larvasidasi atau manajemen lingkungan.
Di lokasi fokus bila ditemukan penderita dengan penularan setempat dan atau
penderita introduced,dilakukan pengendalian vektor yang sesuai di lokasi
tersebut, seperti penyemprotan rumah atau pembagian kelambu berinsektisida.
Surveilance epidemilogi dan penanggulangan wabah

II.

III.

Untuk mencegah munculnya kembali kasus dengan penularan setempat, dilakukan kegiatan
kewaspadaan sebagai berikut:
-

Pada tingkat reseptivitas dan vulnerabilitas rendah dilakukan:


a) Penemuan penderita pasif (PCD) melalui unit pelayanan kesehatan baik
pemerintah maupun swasta.
b) Penyelidikan epidemologi terhadap semua kasus positif untuk menentukan asal
penularan.
c) Follow up pengobatan penderita.
d) Surveilans migrasi untuk mencegah masuknya kasus impor.
- Pada tingkat reseptivitas dan vulnerabilitas tinggi dilakukan kegiatan-kegiatan
seperti di atas, ditambah kegiatan ACD oleh JMD, pengendalian vektor yang
sesuai untuk menurunkan reseptivitas.

Di samping kegiatan kewaspadaan seperti di atas, masih dilakukan kegiatan surveilans yang
lain seperti :

Melaporkan dengan segera semua kasus positif yang ditemukan.


Mempertahankan sistem informasi malaria yang baik sehingga semua kasus dan hasil
kegiatan intervensi dapat dicatat dan dilaporkan.

IV.

V.

Mencatat semua kasus positif dalam buku register di kabupaten/kota, provinsi dan
pusat.
Melakukan pemeriksaan genotip isolate parasit.
Melakukan penyelidikan epidemologi terhadap fokus malaria untuk menentukan asal
dan luasnya penularan serta klasifikasinya.
Membuat peta GIS berdasarkan data fokus, kasus, genotip isolate parasit, vektor dan
kegiatan intervensi.
Peningkatan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)
Meningkatkan promosi kesehatan untuk mencegah kembalinya penularan dari kasus
impor yang terlambat ditemukan.
Menggalang kemitraan dengan berbagai program, sektor, LSM organisasi keagamaan,
organisasi kemasyarakatan, organisasi profesi, organisasi internasional, lembaga
donor, dunia usaha, dan seluruh masyarakat.
Melakukan integrasi dengan program lain dalam kegiatan penurunan reseptivitas.
Melakukan advokasi dan sosialisasi agar mendapat dukungan politik dan jaminan
dalam penyediaan dana minimal untuk pemeliharaan eliminasi (mencegah penularan
kembali).
Peningkatan Sumber Daya Manusia
Melakukan refreshing dan motivasi kepada petugas mikroskopis agar tetap
menjaga kualitas dalam pemeriksaan sediaan darah

Sesuai dengan KEPMENKES No. 293 Tahun 2009 Tentang Malaria. Pemerintah
Indonesia fokus aktif dalam pemberantasan malaria melalui suatu kegiatan preventif
(pencegahan) dengan membagi-bagikan kelambu dengan insektisida secara gratis. Hal ini
dilakukan untuk mencegah terjadinya kontak langsung dengan media penularan malaria yaitu
nyamuk. Diharapkan dengan pembagian kelambu gratis ini dapat mengurangi peningkatan
dan endemik kasus malaria yang terjadi di Papua, kabupaten kulon progo, dan daerah-daerah
endemik malaria lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Perencana Pembangunan Nasional. 2010. Rencana Aksi Nasional Pangan Dan Gizi
2011-2015. Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia.
Hidajat, Diana D. Inderajao. _____. Peranserta Masyarakat dalam Upaya Pencegahan dan
Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue: Kasus di Jakarta. Depok: Tesis
Fakultas Kdokteran Universitas Indonesia
HUSNI, FAISAL. 2012. Tesis dengan judul : Efektivitas Bantuan Operasional Kesehatan Di
Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Rian Tahun 2011 dan 2012. Universitas Indonesia
: Depok.
Iriani, Yulia. 2012. Hubungan antara Curah Hujan dan Peningkatan Kasus Demam Berdarah
Dengue Anak di Kota Palembang. Vol. 3, No. 6. Palembang: Sari Pediatri
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 293/Menkes/Sk/Iv/2009. Tentang
Eliminasi Malaria Di Indonesia. Menteri Kesehatan Republik Indonesia.
Nirwana, Topan. 2013. Pengaruh Curah Hujan, Temperatur dan Kelembaban Terhadap
Kejadian Penyakit DBD,Ispa dan Diare: Suatu Kajian Literatur. Bandung: Program
Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran
Rahma Edy Pakaya, dkk. Upaya Penanggulangan Gizi Buruk pada Balita. Ilmu Kesehatan
Masyarakat, FK UGM, Yogyakarta. Berita Kedokteran Masyarakat Vol. 24, No. 2, Juni
2008. Hal 69-75 . 2008.

Riset Kesehatan Dasar. 2010. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian
Kesehatan RI.

Suryadi Hs. Rahim1, Hasanuddin Ishak2, Isra Wahid3. HUBUNGAN FAKTOR


LINGKUNGAN DENGAN TINGKAT ENDEMISITAS DBD DI KOTA MAKASSAR
/THE RELATIONSHIP OF THE ENVIRONMENTAL FACTORS TO THELEVEL OF
DENGUE ENDEMICITY IN THE CITY OF MAKASSAR. Dinas Kesehatan Kota
Makassar. 2013

World Health Organization. 2011. Nutrition for Health and Development. Jenewa. WHO.

http://aguskrisnoblog.wordpress.com/2011/06/08/upaya-perbaikan-gizi-dimulai-dari-ibuhamil-guna-melahirkan-bayi-yang-sehat/
http://www.bakrieglobal.com/corporate-social-responsibility/read/2306/Program-Gizi-Balitadan-Ibu-Hamil-Kepedulian-EMP-Malacca-Strait-S.A-pada-Masa-Depan
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/41225/3/Chapter%20II.pdf