You are on page 1of 12

PEMERIKSAAN KEUANGAN NEGARA

Pemeriksaan keuangan negara adalah meliputi pemeriksaan atas pengelolaan keuangan negara dan
pemeriksaan atas tanggung jawab keuangan negara
RUANG LINGKUP PEMERIKSAAN
BPK diberi kewenangan untuk melakukan 3 (tiga) jenis pemeriksaan, yakni:
1. Pemeriksaan keuangan, adalah pemeriksaan atas laporan keuangan (pemerintah pusat dan
pemerintah daerah). Pemeriksaan keuangan ini dilakukan oleh BPK dalam rangka memberikan
pernyataan opini tentang tingkat kewajaran informasi yang disajikan dalam laporan keuangan
pemerintah.
2. Pemeriksaan kinerja, adalah pemeriksaan atas pengelolaan keuangan negara yang terdiri atas
pemeriksaan aspek ekonomi dan efisiensi serta pemeriksaan aspek aktivitas. Pemeriksaan
dengan tujuan tertentu, adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan tujuan khusus, di luar
pemeriksaan keuangan dan pemeriksaan kinerja.
3. Pemeriksaan dengan tujuan tertentu meliputi antara lain pemeriksaan atas hal-hal lain di
bidang keuangan, pemeriksaan investigatif, dan pemeriksaan atas sistem pengendalian intern
pemerintah.
STANDAR PEMERIKSAAN
Pelaksanaan pemeriksaan didasarkan pada suatu standar pemeriksaan. Standar dimaksud
disusun oleh BPK dengan mempertimbangkan standar di lingkungan profesi audit secara
internasional. Sebelum standar dimaksud ditetapkan, BPK perlu mengkonsultasikannya dengan pihak
pemerintah serta dengan organisasi profesi di bidang pemeriksaan.
Organisasi Pemeriksa
- Menurut UU adalah BPK RI
- Badan Pemeriksa Keuangan, yang selanjutnya disingkat BPK, adalah lembaga negara yang
bertugas untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara sebagaimana
dimaksud dalam Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945.
Tugas dan Wewenang BPK
1. BPK bertugas memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan Negara yang dilakukan
oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Lembaga Negara lainnya, Bank Indonesia, Badan
Usaha Milik Negara, Badan Layanan Umum, Badan Usaha Milik Daerah, dan lembaga atau
badan lain yang mengelola keuangan negara.
2. Dalam melaksanakan tugasnya, BPK berwenang:
Menentukan objek pemeriksaan, merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan,
menentukan waktu dan metode pemeriksaan serta menyusun dan menyajikan laporan
pemeriksaan;
Meminta keterangan dan/atau dokumen yang wajib diberikan oleh setiap orang, unit
organisasi Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Lembaga Negara lainnya, Bank Indonesia,
Badan Usaha Milik Negara, Badan Layanan Umum, Badan Usaha Milik Daerah, dan lembaga
atau badan lain yang mengelola keuangan negara.
Melakukan pemeriksaan di tempat penyimpanan uang dan barang milik negara, di tempat
pelaksanaan kegiatan, pembukuan dan tata usaha keuangan negara, serta pemeriksaan
terhadap perhitungan-perhitungan, surat-surat, bukti-bukti, rekening koran,
pertanggungjawaban, dan daftar lainnya yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan
negara.
Pemeriksa (Berdasarkan UU nomor 15 tahun 2006)
Pemeriksa adalah orang yang melaksanakan tugas pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab
keuangan negara untuk dan atas nama BPK (Pasal 1) BPK dalam menjalankan tugas dan
wewenangnya dibantu oleh Pelaksana BPK, yang terdiri atas Sekretariat Jenderal, unit pelaksana
tugas pemeriksaan, unit pelaksana tugas penunjang, perwakilan, Pemeriksa, dan pejabat lain
yang ditetapkan oleh BPK sesuai dengan kebutuhan.
Pemeriksa tersebut merupakan jabatan fungsional (Pasal 34 ayat 2)
Pemeriksa tersebut bisa berstatus sebagai PNS atau yang bukan PNS (Pasal 34 (3))
Kode Etik
Kode etik adalah norma-norma yang harus dipatuhi oleh setiap anggota BPK dan pemeriksa selama
menjalankan tugasnya.
- Nilai-nilai dasar
o Mematuhi peraturan perundang-undangan
o Mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan
o Menjunjung tinggi independensi, integritas dan profesionalisme
o Menjunjung tinggi martabat, kehormatan, citra dan kredibilitas BPK
- Kode Etik bagi Anggota BPK
Untuk menjamin independensi dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, Anggota BPK
wajib memegang sumpah dan janji jabatan, bersikap netral dan tidak berpihak, menghindari
terjadinya benturan kepentingan, menghindari hal-hal yang dapat mempengaruhi
obyektivitas. Anggota BPK juga dilarang merangkap jabatan dalam lingkungan lembaga
negara yang lain, badan-badan lain yang mengelola keuangan negara, dan perusahaan
swasta nasional atau asing, menjadi anggota partai politik, menunjukkan sikap dan perilaku
yang dapat menyebabkan orang lain meragukan independensinya.
Untuk menjamin integritas dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, Anggota BPK wajib
bersikap tegas dalam menerapkan prinsip, nilai dan keputusan, bersikap tegas dalam
mengemukakan dan/atau melakukan hal-hal yang menurut pertimbangan dan keyakinannya
perlu dilakukan, bersikap jujur dengan tetap memegang rahasia pihak yang diperiksa.
Anggota BPK juga dilarang menerima pemberian dalam bentuk apapun baik langsung
maupun tidak langsung yang diduga atau patut diduga dapat mempengaruhi pelaksanaan
tugas dan wewenangnya.
Kode Etik bagi Pemeriksa
Untuk menjunjung profesionalisme dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, Pemeriksa wajib:
memutakhirkan, mengembangkan, dan meningkatkan kemampuan profesionalnya
menghormati dan mempercayai serta saling membantu diantara Pemeriksa
saling berkomunikasi dan mendiskusikan permasalahan yang timbul dalam
menjalankan tugas pemeriksaan
menggunakan sumber daya publik secara efisien, efektif dan ekonomis
Untuk menjunjung profesionalisme dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, Pemeriksa
dilarang:
menerima tugas yang bukan merupakan kompetensinya
mengungkapkan informasi yang terdapat dalam proses pemeriksaan kepada pihak
lain, baik lisan maupun tertulis, kecuali untuk kepentingan peraturan perundang-
undangan yang berlaku
mengungkapkan laporan hasil pemeriksaan atau substansi hasil pemeriksaan kepada
media massa kecuali atas ijin atau perintah Ketua atau Wakil Ketua atau Anggota
BPK
mendiskusikan pekerjaannya dengan auditee di luar kantor BPK atau kantor auditee
Standard Pemeriksaan Keuangan Negara
Dasar Hukum: Peraturan BPK RI nomor 01 Tahun 2007
Standar Pemeriksaan adalah patokan untuk melakukan pemeriksaan pengelolaan dan tanggung
jawab keuangan negara yang meliputi standar umum, standar pelaksanaan pemeriksaan, dan
standar pelaporan yang wajib dipedomani oleh BPK dan/atau pemeriksa
Tujuh Pernyataan standard
1. Umum
2. Pelaksanaan pemeriksaan keuangan
3. Pelaporan Pemeriksaan Keuangan
4. Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja
5. Pelaporan Pemeriksaan Kinerja
6. Pelaksanaan dengan tujuan tertentu
7. Pelaporan pemeriksaan dengan tujuan tertentu
Audit Keuangan dan Kinerja
SPKN memuat pernyataan professional pemeriksa, mutu pelaksanaan pemeriksaan, dan persyaratan
laporan pemeriksaan yang professional
Tujuan Standar Pemeriksaan adalah untuk menjadi ukuran mutu bagi para pemeriksa dan organisasi
pemeriksa dalam melaksanakan pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan
negara
Penerapan
Berlaku untuk semua pemeriksaan yang dilaksanakan terhadap entitas, program, kegiatan serta
fungsi yang berkaitan dengan pelaksanaan pengelolaan dan tanggung jawab Keuangan Negara
Jenis Pemeriksaa:
1. Pemeriksaan keuangan adalah pemeriksaan atas laporan keuangan
2. Pemeriksaan kinerja adalah pemeriksaan atas pengelolaan keuangan negara yang terdiri atas
pemeriksaan aspek ekonomi dan efisiensi serta aspek efektivitas
3. Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu bertujuan untuk memberikan simpulan atas suatu hal
yang diperiksa
Tanggung Jawab:
1. Manajemen Entitas yang diperiksa
Mengelola keuangan negara secara tertib, ekonomis, efisien, efektif, transparan, dan
bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan, sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku
Menyusun dan menyelenggarakan pengendalian intern yang efektif
Menyusun dan menyampaikan laporan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara
secara tepat waktu
Menindaklanjuti rekomendasi BPK
2. Pemeriksa
Merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan untuk memenuhi tujuan pemeriksaan
Mengambil keputusan yang konsisten dengan kepentingan publik dalam melakukan
pemeriksaan
Melaksanakan seluruh tanggung jawab profesionalnya dengan derajat integritas yang tinggi
Objektive,
Menggunakan pertimbangan professional
Pemeriksa bertanggung jawab untuk membantu manajemen dan para pengguna laporan
hasil pemeriksaan lainnya untuk memahami tanggung jawab pemeriksa berdasarkan Standar
Pemeriksaan dan cakupan pemeriksaan yang ditentukan berdasarkan ketentuan peraturan
perundangundangan
3. Organisasi Pemeriksa
Meyakinkan bahwa:
independensi dan obyektivitas dipertahankan dalam seluruh tahap pemeriksaan
pertimbangan profesional (professional judgment) digunakan dalam perencanaan
dan pelaksanaan pemeriksaan dan pelaporan hasil pemeriksaan
pemeriksaan dilakukan oleh personil yang mempunyai kompetensi profesional dan
secara kolektif mempunyai keahlian dan pengetahuan yang memadai
peer-review yang independen dilaksanakan secara periodic dan menghasilkan suatu
pernyataan, apakah system pengendalian mutu organisasi pemeriksa tersebut
dirancang dan memberikan keyakinan yang memadai sesuai dengan Standar
Pemeriksaan
Standard Umum Pemeriksaan
Persyaratan kemampuan/keahlian
Independensi
Penggunaan kemahiran professional secara cermat dan seksama
Pengendalian mutu
Pengantar Pemeriksaan Keuangan
Jenis Pemeriksaan Pemeriksaan Keuangan ; Pemeriksaan Kinerja ; dan Pemeriksaan
denganTujuanTertentu
Pemeriksaan keuangan adalah pemeriksaan atas laporan keuangan. Pemeriksaan keuangan tersebut
bertujuan untuk memberikan keyakinan yang memadai (reasonable assurance) apakah laporan
keuangan telah disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia atau basis akuntansi komprehensif selain prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia
Tujuan
Pemberian opini
Deteksi atas penyimpangan terhadap ketentuan peraturan perundangan, kecurangan (fraud)
dan ketidakpatutan (abuse)
Deteksi atas penyimpangan terhadap pengendalian intern
Obyek
Laporan Keuangan Pemerintah Pusat;
Laporan Keuangan Kementerian/Lembaga;
Laporan Keuangan Pemerintah Daerah;
Laporan Keuangan BI;
Laporan Keuangan BUMN;
Laporan Keuangan BUMD; dan
Laporan Keuangan badan-badan lain yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
Lingkup
Anggaran dan realisasi pendapatan, belanja dan pembiayaan
Posisi aset, kewajiban dan ekuitas dana
Arus kas dan saldo kas akhir sesuai dengan sisa lebih pembiayaan anggaran (SILPA) dalam
laporan realisasi anggaran dan ekuitas dana dalam neraca; dan
Pengungkapan informasi yang diharuskan seperti disebutkan dalam SPKN.
Selain itu, pemeriksaan juga menguji efektivitas pengendalian intern dan kepatuhan
terhadap peraturan perundangundangan yang terkait dengan pelaporan keuangan dalam LK
Standar Pemeriksaan
Pemeriksaan keuangan dilaksanakan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara
(SPKN) yang ditetapkan dalam Peraturan BPK Nomor 1 Tahun 2007, khususnya Pernyataan
Standar Pemeriksaan (PSP) Nomor 01 tentang Standar Umum Pemeriksaan, PSP 02 tentang
Standar Pelaksanaan Pemeriksaan Keuangan, dan PSP 03 tentang Standar Pelaporan
Pemeriksaan Keuangan.
SPKN memberlakukan tiga pernyataan standar pekerjaan lapangan SPAP yang ditetapkan
oleh IAI
Kriteria
Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)
Proses bisnis sektor pemerintahan?
Pengguna
DPR dan DPD
DPRD Provinsi dan Gubernur
DPRD Kabupaten/Kota dan Bupati/Wali Kota
Perencanaan Pemeriksaan Keuangan
Perlunya Perencanaan Yang Memadai
Ketentuan Standar Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan tenaga asisten
harus disupervisi dengan semestinya.
Langkah-langkah Perencanaan
1. Pemahaman Tujuan Pemeriksaan dan Harapan Penugasan,
2. Pemenuhan Kebutuhan Pemeriksa,
3. Pemahaman Atas Entitas
4. Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Sebelumnya,
5. Pemahaman Atas Sistem Pengendalian Intern,
6. Pemahaman dan Penilaian Risiko,
7. Penetapan Materialitas Awal dan Kesalahan tertolerir,
8. Penentuan Metode Uji Petik,
9. Pelaksanaan Prosedur Analitis Awal dan
10. Penyusunan Program Pemeriksaan dan rogram KegiatanPerseorangan
Tujuan
Untuk mengetahui hasil akhir dan sasaran pemeriksaan yang diharapkan Pemberi Tugas
serta mengetahui kriteria pengukuran kinerja penugasan
Syarat Tim Pemeriksa
Secara kolektif harus memiliki kecakapan profesional yangmemadai
Memenuhi persyaratan pendidikan berkelanjutan
Memenuhi persyaratan kemampuan/keahlian pemeriksa
Harus bebas dalam sikap mental dan penampilan dari gangguan pribadi, ekstern, dan
organisasi
Memenuhi kualifikasi tambahan: memiliki keahlian di bidang akuntansi dan pemeriksaan
(auditing), memahami prinsip akuntansi yang berlaku umum dan sebaiknya memiliki
sertifikasi keahlian.
Kualifikasi Pemeriksa
Tim pemeriksa secara kolektif harus memiliki pemahaman yang cukup atas standar
akuntansi dan pengetahuan yang memadai atas pemeriksaan keuangan
Di dalam tim pemeriksa, paling tidak satu orang memiliki register akuntan.
Ketua tim harus memiliki pengalaman yang memadai paling tidak satu kali melakukan
pemeriksaan keuangan. Apabila entitas yang diperiksa cukup besar lingkup dan sasarannya,
maka ketua tim dapat dibantu dengan beberapa ketua sub tim yang telah memiliki
kualifikasi yang sama dengan ketua tim.
Pengendali teknis harus memiliki pengetahuan dan pengalaman pemeriksaan terkait dengan
pemeriksaan keuangan dan atau pernah menjadi ketua tim pemeriksa paling tidak satu kali
dan atau menduduki jabatan struktural dan atau menduduki jabatan fungsional paling tidak
ketua tim senior. Penanggung jawab pemeriksaan keuangan adalah pemeriksa yang memiliki
register akuntan dan memiliki pengalaman yang memadai melakukan pemeriksaan
keuangan atau memiliki jabatan struktural/fungsional.Apabila entitas yang diperiksa cukup
besar lingkup dan sasarannya, maka penanggung jawab dapat dibantu dengan wakil
penanggung jawab yang telah memiliki kualifikasi yang sama dengan penanggung jawab.
Dalam hal laporan keuangan disusun dengan menggunakan sistem yang terkomputerisasi,
maka paling tidak satu orang dalam tim pemeriksa memiliki pengetahuan dan keahlian di
bidang teknologi informasi dan/atau pemeriksaan teknologi informasi.
PEMAHAMAN ATAS ENTITAS
Tujuan
1. untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam mengenai proses kerja secara umum
dan risiko terkait dari tiap proses kerja spesifik entitas yang diperiksa, dan
2. untuk mengidentifikasikan dan memahami hal-hal penting yang harus dipenuhi oleh entitas
dalam mencapai tujuannya
Informasi Yang Diperlukan
1. Gambaran Jelas Mengenai Bidang Kerja Entitas
2. Kekuatan Lingkungan
3. Tren yang Signifikan
4. Hubungan dengan DPR dan BPK, serta Lembaga Lain
5. Sumber Pendapatan dan Pembiayaan
6. Dasar Hukum dan Peraturan yang Mempengaruhi
7. Faktor Sosial dan Politik yang Mempengaruhi Pemerintah
8. Pengaruh Stakeholder (Pemegang Kepentingan): Lembaga Perwakilan
9. Dampak dari Lingkungan Entitas terhadap Risiko Bidang Kerja dan Laporan Keuangan
10. Pejabat kunci
Langkah-langkah Dalam Pemahaman Entitas
1. Mendapatkan pemahaman yang mutakhir mengenai pengaruh lingkungan terhadap entitas
2. Memperoleh pengetahuan mengenai pengaruh stakeholders utama terhadap entitas.
3. Memahami tujuan dan sasaran entitas dan pengembangan strategi usaha untuk
mencapainya
4. Mengidentifikasi faktor sukses yang penting (critical success factors) bagi pencapaian tujuan
entitas
5. Mengidentifikasi dan mendapatkan gambaran umum proses kerja entitas
6. Memahami bagaimana manajemen mengendalikan proses kerja kritikalnya untuk mencapai
faktor sukses kritikal entitas.
7. Mengidentifikasi proses kerja kritikal entitas
8. Memahami bagaimana manajemen mengendalikan proses kerja kritikalnya untuk mencapai
faktor sukses kritikal entitas.
Sumber Informasi
1. Pengalaman sebelumnya dengan entitas dan industri/lingkup kerjanya.
2. Diskusi dengan pegawai dan manajemen/pimpinan entitas.
3. Survei pendahuluan apabila entitas pertama kali diperiksa.
4. Peraturan perundang-undangan yang secara signifikan dapat Peraturan perundang-
undangan yang secara signifikan dapat mempengaruhi entitas.
5. Laporan satuan pengawas intern
6. Database entitas.
7. Publikasi mengenai organisasi yang berhubungan dengan industri/lingkup kerja entitas.
8. Entitas, lokasi dan fasilitas entitas yang diperiksa.
Dokumentasi
Formulir Pemahaman Entitas
PELAKSANAAN PROSEDUR ANALITIS
Prosedur analitis merupakan suatu prosedur yang menggunakan perbandingan-perbandingan dan
hubungan-hubungan menilai apakah suatu saldo akun tertentu layak / sesuai dengan seharusnya.
Tujuan Prosedur Analitis
1. Mendapatkan strategi untuk memahami dan mengevaluasi proses-proses signifikan.
2. Membuat penilaian pendahuluan risiko secara gabungan.
Hasil Analisis Bisa Membantu Pemeriksa:
1. membantu pemeriksa dalam mengidentifikasi area-area yang berisiko tinggi yang
membutuhkan pemeriksaan yang mendalam, ataupun pada area-area yang berisiko rendah
2. meningkatkan pemahaman pemeriksa atas dampak dari kejadian meningkatkan
pemahaman pemeriksa atas dampak dari kejadian penting dan kegiatan operasi/kerja
entitas, kondisi keuangan, dan kemampuan keuangan entitas
3. membantu pemeriksa untuk mengidentifikasi transaksi-transaksi yang tidak biasa, dan untuk
menilai kewajaran dari perhitungan saldo akun-akun atau pos-pos keuangan sebelum
melakukan prosedur analitis yang lebih rinci atau prosedur subtantif.
Prosedur Analitis Meliputi
1. analisa terperinci,
2. perbandingan saldo yang tercatat dengan data-data lainnya (seperti saldo keuangan tahun
yang lalu, saldo akun-akun yang berhubungan, atau pos-pos sejenis di tahun lalu) atau
3. penggunaan rasio-rasio atau hal lainnya yang masih penggunaan rasio-rasio atau hal lainnya
yang masih berhubungan.
Jenis Analisis Laporan Keuangan
Analisis laporan Keuangan dapat dibedakan menjadi dua macam:
1. Analisis Horisontal, biasanya digunakan antarpos dalam satu jenis laporan, misalnya saja
hubungan antarpos dalam periode yang sama dan hubungan antarpos dalam antar periode
yang berbeda.
2. Analisis Vertikal, biasanya menggunakan perbandingan antarpos (perkiraan) antarjenis
laporan keuangan, misalnya hubungan antar pos dalam periode yang sama.
Analisis Dalam Pemeriksaan
Analisis dalam pemeriksaan berdasarkan objeknya dapat dibedakan menjadi:
1. Analisis atas unsur yang ada di neraca
2. Analisis atas unsur yang ada di LRA
3. Analisis atas unsur yang ada di LAK
4. Analisis atas antar unsur laporan keuangan
PEMANTAUAN TINDAK LANJUT HASIL PEMERIKSAAN SEBELUMNYA
Pernyataan Standar:
Pemeriksa harus mempertimbangkan hasil pemeriksaan sebelumnya serta tindak lanjut atas
rekomendasi yang signifikan dan berkaitan dengan tujuan pemeriksaan yang sedang dilaksanakan.
Tujuan
1. Mengidentifikasi tindak lanjut saran/rekomendasi BPK
2. Menilai pelaksanaan tindak lanjut atas rekomendasi BPK, apakah telah sesuai dengan
rekomendasi tersebut atau tidak.
3. Mengidentifikasi dampaknya pada pelaporan keuangan yang diperiksa.
Input Yang Diperlukan
1. Kertas kerja hasil pemeriksaan sebelumnya (untuk pemeriksaan tahun berkala di tahun
kedua atau berikutnya).
2. Surat tugas/keterangan atau rencana tindak lanjut (action plan) dari pejabat entitas atau
database entitas.
3. Laporan perkembangan tindak lanjut hasil pemeriksaan tahun Laporan perkembangan
tindak lanjut hasil pemeriksaan tahun sebelumnya dari entitas.
4. Formulir PemantauanTindak Lanjut
5. Hasil pemahaman umum atas entitas.
Cara Pemantauan Tindak Lanjut Pemeriksaan Sebelumnya
1. Memantau kegiatan pelaksanaan rekomendasi entitas, misal melalui laporan-laporan
pelaksanaan rekomendasi yang diberikan entitas kepada pemeriksa,
2. Melakukan reviu yang lebih terperinci dengan entitas, misalnya dengan melakukan diskusi
atau pertemuan (Rapat misalnya dengan melakukan diskusi atau pertemuan (Rapat Pra
Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan) dengan entitas untuk membahas pelaksanaan
rekomendasi, dan
3. Sebuah pemeriksaan tindak lanjut yang dapat berupa pelaksanaan pemeriksaan lapangan.
Hal-hal yang Harus Diperhatikan
1. Pelaksanaan tindak lanjut mungkin dapat pulamengindikasikan adanya risiko lain yang
masih harusdiperhatikan dalam pemeriksaan tahun berjalan.
2. Kekurangan dan perbaikan yang diidentifikasikan dalamproses tindak lanjut harus
dilaporkan.
3. Kekurangan pelaksanaan rekomendasi signifikan harusmenjadi bahan pertimbangan atas
pemeriksaan tahunberjalan.
Dokumentasi
1. Formulir PemantauanTindak Lanjut.
2. Status temuan.
3. Pengaruh terhadap Laporan Keuangan yang diperiksa.
Pemahaman danPenilaian Risiko
Tujuan
Melakukan pengkajian atas risiko secara gabungan agar dapatdisusun prosedur pemeriksaan
yang dapat digunakan untukmelakukan pemeriksaan yang efektif dan efisien.
Ketentuan Standar
SA Seksi 312 (PSA No. 25).
Risiko audit adalah risiko yang timbul karena auditor tanpadisadari tidak memodifikasi
pendapatnya sebagaimana mestinya,atas suatu laporan keuangan yang mengandung salah saji
material.
Risiko
Pemeriksa menerima suatu tingkat risiko pada saatmelaksanakan pemeriksaan.
Seorang pemeriksa menyadari bahwa risiko itu ada,susah diukur dan memerlukan
pemikiran yang hati-hatiuntuk meresponnya.
Respon yang memadai terhadap risiko merupakan halpenting untuk mencapai
pemeriksaan yang berkualitas.
Risk and Evidence
Auditors gain an understanding of theclients business and industry andassess client
business risk.
Auditors use the audit risk model to furtheridentify the potential for misstatementsand
where they are most likely to occur.
Model Risiko Untuk Perencanaan
PDR = AAR (IR CR)
PDR = Planned detection risk
AAR = Acceptable audit risk
IR = Inherent risk
CR = Control risk
Langkah-langkah Penilaian Risiko
1. Menetapkan tingkat risiko pemeriksaan yang dapatditerima (AAR).
2. Menilai risiko bawaan (IR) dan risiko pengendalian (CR).
3. Menentukan tingkat risiko deteksi (DR).
4. Merancang prosedur pemeriksaan substantif.
Risiko Pemeriksaan Yang Dapat Diterima
Risiko pemeriksaan adalah risiko yang timbul karena pemeriksa,tanpa disadari, tidak
memodifikasi opininya sebagaimana mestinya,atas suatu laporan keuangan yang mengandung
salah saji material.
Risiko Bawaan
Risiko Bawaan adalah kerentanan suatu saldo akun atau golongantransaksi terhadap suatu
salah saji material, dengan asumsi bahwa tidakterdapat pengendalian yang terkait. Setiap saldo
atau golongan transaksimemiliki risiko bawaan yang berbeda-beda sehingga salah saji dapat
terjadi pada saldo atau golongan transaksi tertentu yang berbeda dengansaldo atau golongan
transaksi yang lain.
Risiko Pengendalian
Risiko Pengendalian adalah risiko bahwa suatu salah saji material yangterjadi dalam suatu asersi
tidak dapat dicegah atau dideteksi secara tepatwaktu oleh pengendalian internal entitas. Risiko
ini merupakan fungsiefektivitas desain dan operasi pengendalian intern untuk mencapai
tujuan entitas yang relevan dengan penyusunan laporan keuangan entitas.Risiko pengendalian
akan selalu ada karena keterbatasan bawaan dalamsetiap pengendalian internal.
Pemahaman Atas SistemPengendalian Intern
Tujuan
untuk mengkaji pengendalian intern yang diterapkan olehentitas dalam menjalankan
kegiatannya secara efektif danefisien dan mengkaji kemungkinan terjadinya kecurangan(faktor-
faktor yang memungkinkan terjadinya mistatement dankecurangan).
Input Yang Diperlukan
1. Kertas kerja hasil pemeriksaan tahun sebelumnya.
2. Hasil penelaahan umum atas entitas.
3. Pembagian peran pemeriksa.
4. Diskusi dengan pimpinan/manajemen entitas atau komite audit entitas.
5. Diskusi dengan personil satuan kerja pengawas intern dan membacalaporan pemeriksaan
intern.
6. Peraturan perundang-undangan yang secara signifikan berpengaruhterhadap entitas.
7. Hasil penindaklanjutan pemeriksaan tahun sebelumnya.
Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP)
Landasan
1. Undang-undang nomor 1 tahun 2004 tentang PerbendaharaanNegara.
2. Peraturan Pemerintah nomor 60 tahun 2008 tentang SistemPengendalian Intern
Pemerintah.
Tujuan SPIP
1. Memberikan keyakinan yang memadai bagi tercapainyaefektivitas dan efisiensi pencapaian
tujuan penyelenggaraanpemerintah negara.
2. Keandalan pelaporan keuangan.
3. Pengamanan aset negara.
4. Ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan.
Unsur Sistem Pengendalian Intern
1. Lingkungan pengendalian.
2. Penilaian risiko.
3. Kegiatan pengendalian.
4. Informasi dan komunikasi.
5. Pemantauan pengendalianintern.
Penetapan MaterialitasAwal dan KesalahanTertolerir
Pengertian
Materialitas adalah besarnya informasi akuntansi yang apabilaterjadi penghilangan atau salah
saji, dilihat dari keadaan yangmelingkupinya, mungkin dapat mengubah ataumempengaruhi
pertimbangan orang yang meletakkankepercayaan atas informasi tersebut.
Pengantar Pemeriksaan Keuangan
Materialitas merupakan besaran penghilangan atau kesalahan pencatatan yang sangat
mempengaruhi pengambilan keputusan.
materialitas diklasifikasikan dalam dua kelompok yaitu Perencanaan tingkat materialitas (planning
materiality = PM) yang berhubungan dengan laporan keuangan secara keseluruhan dan Kesalahan
tertolir (tolerable error = TE) yang berhubungan dengan akun-akun atau pos-pos keuangan secara
individual. Penetapan materialitas awal meliputi lima tahapan kegiatan:
1. Penentuan dasar penetapan materialitas (materiality base)
Dasar penetapan materialitas yang dapat digunakan pemeriksa adalah total penerimaan atau
total belanja, untuk entitas nirlaba; laba sebelum pajak atau pendapatan, untuk entitas yang
bertujuan mencari laba; dan nilai aset bersih atau ekuitas, untuk entitas yang berbasis aset.
2. Penentuan tingkat materialitas (rate of materiality) Tingkat/(rate) materialitas dapat ditetapkan
sebagai berikut untuk entitas nirlaba: 0,5% sampai dengan 5% dari total penerimaan atau total
belanja, untuk entitas yang bertujuan mencari laba: 5% sampai dengan 10% dari laba sebelum
pajak atau 0,5% sampai dengan 1% dari total penjualan/pendapatan, dan untuk entitas yang
berbasis aset: 1% dari ekuitas atau 0,5% sampai 1% dari total aktiva.
3. Penetapan nilai materialitas awal (Planning Materiality/PM)
Nilai materialitas awal yang diperoleh merupakan besarnya kesalahan yang mempengaruhi
pertimbangan pengguna Laporan Keuangan.
4. Penetapan kesalahan yang dapat ditoleransi (Tolerable Error/TE)
TE dapat dialokasikan sesuai dengan proporsi besaran nilai setiap akun, atau pemeriksa dapat
menggunakan pertimbangan profesionalnya untuk menilai apakah perlu mengalokasikan TE
yang lebih ketat atau cukup longgar untuk akun tertentu berdasarkan pengalamannya terutama
mengenai kecenderungan terjadinya salah saji pada akun-akun tertentu tersebut.
5. Pertimbangan atas penetapan materialitas awal, TE dan opini
Jika total salah saji yang ditemukan pada tingkat laporan keuangan secara keseluruhan lebih
kecil dari PM, dan salah saji pada tingkat akun masing-masing tidak lebih besar dari TE akun
tersebut, maka pemeriksa dapat memberikan opini wajar tanpa pengecualian, kecuali ada
pertimbangan kualitatif yang mengharuskan pemeriksa memberi opini lain. Jika total salah saji
yang ditemukan pada tingkat laporan keuangan lebih besar daripada PM, maka pemeriksa
memberikan pendapat tidak wajar. Jika total salah saji yang ditemukan pada tingkat akun lebih
besar daripada TE akun tersebut, pemeriksa perlu mempertimbangkan untuk memberi opini
wajar dengan pengecualian atas akun tersebut meskipun salah saji pada tingkat laporan
keuangan secara keseluruhan masih dibawah PM, atau jika salah saji pada akun tersebut
menurut pertimbangan pemeriksa mempengaruhi laporan keuangan, pemeriksa dapat
memberikan opini tidak wajar
Faktor kualitatif yang dapat dijadikan pertimbangan dalam menentukan tingkat materialitas pada
tingkat laporan keuangan adalah pengendalian intern dan ketidakwajaran laporan keuangan. Faktor
kualitatif yang harus dipertimbangkan pemeriksa dalam menentukan tingkat materialitas pada
tingkat akun adalah signifikansi kesalahan tersebut terhadap entitas yang diperiksa, hubungannya
terhadap laporan keuangan, serta dampak dari kesalahan tersebut terhadap laporan keuangan.
Ada berapa faktor yang dapat mempengaruhi pertimbangan pemeriksa untuk menilai cukup
tidaknya suatu bukti yang diperlukan, antara lain Tingkat materialitas dan risiko deteksi; Faktor
faktor ekonomi; biaya dan manfaat, dan Ukuran dan karakteristik populasi.
Langkah-langkah Uji Petik Pemeriksaan antara lain:
1. Perencanaan: menentukan tujuan pengujian, menentukan prosedur pemeriksaan yang tepat,
memutuskan teknik uji petik pemeriksaan, mendefinisikan populasi dan unit sampel, dan
menentukan ukuran sampel.
2. Pelaksanaan: memilih sampel dan melaksanaan pengujian.
3. Evaluasi dan Dokumentasi: mengevaluasi hasil sampel dan mendokumentasikan kesimpulan.
Pada dasarnya terdapat dua jenis teknik pemilihan sampel, yaitu:
1. teknik pemilihan sampel secara probabilistik.
2. teknik pemilihan sampel secara non-probabilistik.
Program pemeriksaan disiapkan pemeriksa tiap penugasan untuk prosedur pengujian pengendalian
intern dan pemeriksaan substantif atas akun atau pos-pos keuangan signifikan yang terkait.
Program pemeriksaan mengungkapkan antara lain:
1. Dasar pemeriksaan,
2. Standar dan pedoman pemeriksaan,
3. Entitas yang diperiksa,
4. Tahun anggaran/tahun buku yang diperiksa,
5. Identitas dan data umum entitas yang diperiksa,
6. Tujuan pemeriksaan,
7. Metodologi pemeriksaan,
8. Sasaran yang diperiksa,
9. Pengarahan pemeriksaan,
10. Jangka waku pemeriksaan,
11. Susunan tim pemeriksaan,
12. Instansi penerima hasil pemeriksaan,
13. Kerangka isi laporan.
Pemeriksa harus mengkomunikasikan informasi yang berkaitan dengan sifat, saat, lingkup pengujian,
pelaporan yang direncanakan, dan tingkat keyakinan kepada manajemen entitas yang diperiksa dan
atau pihak yang meminta pemeriksaan.
Pihak yang dikomunikasi adalah Manajemen entitas yang diperiksa, Lembaga/badan yang memiliki
fungsi pengawasan terhadap manajemen/pemerintah seperti DPR/DPRD, dewan komisaris, komite
audit, dan dewan pengawas, dan Pihak yang memiliki kewenangan dan tanggung jawab dalam
proses pelaporan keuangan.