You are on page 1of 4

Catatan Teori akuntansi Chapter 7 Aset

Definisi Aset IASB Aset merupakan sumber daya yang dikendalikan oleh suatu badan sebagai hasil dari transaksi yang lalu dan diharapkan memberikan manfaat ekonomis dimasa yang akan datang yang mengalir badan usaha. Contoh: Kendaraan, merupakan aset bukan barang fisik, tetapi dapat memberikan konstribusi lain (transportasi). Sedangkan persediaan dapat memberikan jasa lain saat penjualan, penjualan mendapatkan pendapatan karena pendapat unsur laba. Definisi Aset Menurut: Paton : Kekayaan adalah sesuatu dalam bentuk barang atau lainnya yang dimiliki perusahaan tertentu yang mempunyai nilai bagi perusahaan.

Sprague : Aset merupakan sekumpulan jasa yang akan diterima, berkaitan untuk memperoleh laba.

Canning : Aset merupakan sejumlah jasa yang terpisah (dapat berdiri sendiri) yang merupakan milik perusahaan. Paton & Littleton : Aset merupakan sejumlah potensi jasa yang dapat dipertukarkan yang memberikan potensi jasa yang lain bagi perusahaan. Valter : Aset merupakan sejumlah potensi jasa yang dapat diubah, dipertukarkan dan disimpan untuk dimasa yang akan datang. Peirsen : Dapat disimpan sehingga mempunyai manfaat yang akan datang. Manfaat Ekonomik Dimasa Yang Akan Datang. Aktivitas yang menghasilkan laba.

Mempunyai potensi dalam memberikan konstribusi baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam memberikan arus kas atau yang ekuivalen dengan kas pada badan usaha. Melalui peningkatan pendapatan maupun penghematan biaya. Sumber daya ekonomik tersebut harus mempunyai utilitas dan mempunyai keterbatasan (Scarcity). Manfaat ekonomik dimasa yang akan datang, menunjukkan kemampuan memberikan jasa bagi badan usaha.

Contoh: Kendaraan merupakan aset yang bukan hanya barang fisik, tetapi dapat memberikan konstribusi lain seperti (transportasi). Sedangkan persediaan memberikan jasa lainn saat penjualan. dari penjualan mendapatkan pendapatan, pendapatan disini termasuk unsur laba Dikendalikan Badan Usaha (Untuk mengatur, mengarahkan, melakukan sesuai dengan yang diinginkan) Hak untuk memanfaatkan aset tersebut dan tidak harus mempunyau bukti kepemilikan aset.

Kepemilikan biasanya sesuai dengan kepemilikan, tetapi ini bukan merupakan karakteristik aset yang penting. sebagai contoh adanya agen yang mempunyai kewajiban menjual barang milik prinsipal, barang tersebut bukan aset dari agen tetpi aset dari prinsipal. Konsep legal digunakan sebagai pedoman, tujuan akuntansi tidak terfokus pada konsep legal, tetapi lebih menekankan pada subtitusi.

Kejadian Dimasa Lalu. Pengendalian manfaat ekonomi dimasa yang akan datang harus sudah terjadi. contoh 2 bulan beli barang, sudah bisa diakui (meski baru DP) pihak pembeli sudah bisa memanfaatkan aset tersebut.

Rencana kepemilkan aset tidak dapat diakui sebagai aset. Apabila pembelian aset masih dalam rencan.

Pengendalian manfaat ekonomik dimasa yang akan datang harus sudah terjadi, contoh: 2 bulan membeli barang, barang tersebut sudah bisa kita akui (meskipun baru DP) pihak pembeli sudah bisa memanfaatkan aset tersebut. Pengendalian manfaat ekonomik dimasa yang akan datang harus sudah terjadi, contoh: 2 bulan membeli barang, barang tersebut sudah bisa kita akui (meskipun baru DP) pihak pembeli sudah bisa memanfaatkan aset tersebut. Rencana kepemilikan aset tidak dapat diakui sebagai aset, apabila pembeli aset mesin masih dalan rencana.

Dapat Dipertukarakan.

Elemen tersebut dapat dipisahkan dari badan usaha sehingga dapat diperjual belikan. Mac Neal menyatakan bahwa barang yang tidak dapat dipertukarkan berarti tidak mempunyai nilai ekonomik, karena tidak ada pasarnya. Goodwill (Nilai lebih dari perusahaan) Asalnya dari pengakuan perusahaan lain berkaitan dengan proses akuisisi atau merger. Goodwill tidak bisa ditukar sehingga perlu di pertanyakan. Dasar Pengukuran.

Sesuai dengan ketentuan legal mempunyai manfaat dan kendalikan badan tertentu. Dapat ditetapkan substansi ekonomiknya memberikan manfaat ekonomik yang substansial. Menggunakan konsep conservatism menyajikan aset pada nilai kemungkinan kecil, contohnya:
adanya pengakuan cadangan kerugian piutang, sedangkan persediaan adanya penilaian harga terendah (antara H.pokok dan H.pasar). Pengukuran: Kegiatan untuk mengelompokkan setiap transaksi pada elemen akuntansi. Elemen-elemen akuntansi: 1. Aset 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Utang Ekuitas (Modal disetor, Distribusi laba, Laba ditahan) Investasi Pemilik Distribusi Pada Pemilik Laba Laba Komprehensif Pendapatan Biaya Keuntungan (Gain) Kerugian (Loss)

Pengukuran Aset Berwujud.

US GAAP Historical Cost, merefleksikan conservatism, objective dan bukti yang dapat diverifikasi.

Standar IASB , memungkinkan dilakukan penilaian kembali aset berwujud. Standar ini memungkinkan tetapi tidak mengharuskan menggunakan pengukuran current value.

Revaluation yang didasarkan pada nilai pasar yang diberikan. iestimasi berdasarkan income atau depreciated replacement cost. Manajer dapat menentukan untuk menggunakan cost atau nilai wajara (nilai saat ini dinilai kembali). Dasar pengukuran Historical cost sesuai harga sebenarnya (harga perolehan), bukti fisik, sesuai transaksi. Pengukuran Aset Tak Berwujud. IAS 38 para 24: Cost pada saat terjadi kepemilikan. IAS 38 para 75: memunkinkan adanya penilaian kembali aset tak berwujud. AS 16: fair value ditentukan oleh pasar yang aktiva.
Harga perolehan, aktiva tidak berwujud tidak mempunyai harga pasar.

Aktiva tetap tidak berwujud yang dibentuk sendiri tidak diakui, meskipun mempunyai manfaat dimasa yang akan datang. Contohnya: Hak paten, Goodwill. Pengukuran Aset Financial. Derivative harus diukur berdasarkan fair value. Fair value adalah nilai pertukaran aset yang diperpleh dari kedua pihak yang melakukan transaksi tanpa adanya batasan apapun (arms length transaction). Jenis Aset Financial. 1. Utang dan Piutang 2. Investasi yang dimiliki sampai jatuh tempo 3. Sekuritas yang tersedia untuk dijual 4. Sekuritas yang diperdagangkan Metoda Pengukuran. 1. Kos yang diamortisasi 2. Kos yang diamortisasi

Fair Value, gain & loss diakui pada elemen ekuitas 4. Fair Value, gain & loss diakui pada lap. laba komprehensif Aset Financial: aset yang mempunyai claim dalam bentuk uang ( utang, piutang, investasi pada saham, obligasi, derivate, dll). Rill aset: persediaan, aktiva tetap. Sesuai dengan IAS 39. Penyajian aset dan liabilitas financial dilakukan secara terpisah Niali wajar adalah jumlah aset yang dapat dipertukarkan atau pelunasan kewajiban, diantara dua pihak tanpa adanya batasan apapun. Tantangan Bagi Penyusun Standar. Disarankan penyusun standar untuk mempertimbangkan beberapa model pengukuran. IASB memperkenalkan penggunaan pengukuran fair value, meskipun Cairns tidak mengakuinya. IFRS memperkenalkan pengukuran fair value untuk derivative dan beberapa aset dan liabilitas keuangan. Pengukuran Fair Value. Market Approach Menggunakan harga dan informasi dari transaksi yang sesungguhnya untuk aset dan liabilitas yang sejenis dan diperbandingkan. Income Approach Konversi dari diskonto uang yang diterima dimasa yang akan datang. Cost Approach Sejumlah uang yang digunakan untuk memperoleh kapasitas yang sama (current replacement cost). Level 1 Menggunakan harga pasar, jika harga pasar yang bisa dipastikan, tidak ada penyesuain sehingga bisa langsung menggunakan harga pasar. Missal mobil baru, saham, obligasi, persediaan. Level 2 Apabila harga pasar tidak tersedia, maka diestimasi dengan harga aset dan liabilitas yang sejenis. Kalau tidak ada harga pasar, kita perlu melakukan taksiran, berapa kalau beli atau berapa kalau jual, missal mobil lama (sudah banyak lecet + biaya service). Level 3 Apabila harga tidak dapat diperoleh dari level 1 dan level 2, maka nilai wajar diestimasi dengan beberapa penilaian, untuk penilaiannya menggunakan kombinasi dari penghematan dan uang yang dikeluarkan seandainya belum memiliki aset saat ini, contoh: penilaian gedung. Atau kombinasi dari berapa uang yang dikeluarkan untuk membeli gedung yang sama dengan yang kita gunakan. Dengan uang untuk menyewa gedung saat kita belum punya sendiri.
3.

Issue Bagi Auditor. Auditor perlu memahami berbagai model penilaian dan proses manajemen untuk menentukan input yang digunakan untuk pengukuran yang digunakan. Untuk mengembangkan pendekatan audit yang efektif, auditor perlu memahami proses dan pengendalian penentuan fair value, dan

melakukan judgment apakah metode pengukuran yang digunakan klien sudah memadai untuk menghasilakan pengukuran fair value yangreasonable. Kalau menggunakan Historical cost : ditelusur apakah sesuai bukti pendukung Kalau menggunakan nilai wajar : pahami proses dan pengendalian penentuan yang dinilai, bagaimana system penilaian nilai wajarnya? Pengendaliannya? Apakah kliem mematuhi ketentuan? Yang sudahditentukan perusahaan