You are on page 1of 4

ANALISIS ASAM AMINO Asam-asam amino beraksi dengan ninhidryn untuk membentuk produk yang disebut ungu ruhenann.

Reaksi ini biasa digunakan sebagai uji bercak untuk mendeteksi hadirnya asam-asam amino pada kertas kromatografi. Karena reaksi itu kuantitatif, reaksi ini digunakan sebagai penganalisis asam amino yang diotomasi, instrumen-instrumen yang menetapkan persentase asam-asam amino yang ada dalam suatu contoh (Fessenden dan Fessenden, 1994). Nitroprussida dalam larutan amoniak akan menghasilkan warna merah dengan protein yang mempunyai gugus SH bebas. Jadi protein yang mengandung sistein dapat memberikan hasil positif. Gugus S-S- pada sistein apabila direduksi terlebih dahulu dapat juga memberikan hasil positif (Poedjiadi, 1994). Natrium nitroprusida merupakan senyawa anorganik dengan rumus

Na2[Fe(CN)5NO]2H2O. Garam ini berwarna merah, yang sering disingkat SNP, merupakan vasodilator kuat. Garam natrium larut dalam air dan pada tingkat lebih rendah dalam etanol untuk memberikan solusi yang berisi dianion [Fe(CN)5NO]2 -Nitroprusside adalah suatu anion kompleks yang dilengkapi dengan pusat besi oktahedral dikelilingi oleh lima ligan sianida terikat erat dan salah satu ligan nitrat oksida linier. Ligan nitat oksida linear bermuatan positif tunggal. Dengan demikian natrium nitroprusida memiliki rendah-spin D6 konfigurasi elektron dan diamagnetik. Reaksi kimia terutama terkait dengan ligan NO (Arta, 2012). Pereaksi Millon adalah larutan merkuro dan merkuri nitrat dalam asam nitrat. Apabila pereaksi ini ditambahkan pada larutan protein, akan menghasilkan endapan putih yang dapat berubah merah oleh pemanasan. Pada dasarnya reaksi ini positif untuk fenolfenol, karena terbentuknya senyawa merkuri dengan gugus hidroksifenil yang berwarna. Protein yang mengandung tirosin akan memberikan hasil positif (Poedjiadi, 1994). Uji Millon Apabila pereaksi ini ditambahkan pada larutan protein maka akan menghasilkan endapan putih yang dapat berubah menjadi merah oleh pemanasan. Pada dasarnya rekasi ini positif untuk fenol karena terbentuknya senyawa merkuri dengan gugus hidroksil yang berwarna. Tetapi khusus untuk proteoso dan pepton secara langsung

akan menghasilkan larutan yang berwarna merah. Endapan yang terbentuk berupa garam kompleks dari tirosin yang ternitrasi. Jika larutan protein yang akan dianalisis ada dalam suasana basa, maka terlebih dahulu harus dinetralisasi dengan asam (bukan HCl). Jika tidak ion merkuri dari pereaksi akan mengendap sebagai Hg(OH)2. Ion Cl- dapat bereaksi dengan asam nitrat menghasilkan radikal klor (Cl2). Radikal klor dapat merusak kompleks berwarna (Tika, I Nyoman. 2010). Reaksi ini khas adalah untuk penentuan gugus indole spesifik untuk asam amino triptofan. Senyawa-senyawa indolik dengan aldehid tertentu (asam gliosilik, methanol, para metal amino-benzaldehide) dalam suasana asam dan dingin memberikan warna violet (Patong, 2007).

Uji Hopkins-Cole merupakan pereaksi yang dapat bereaksi dengan larutan protein yang mengandung triptofan dikarenakan kandungan asam glioksilat (HCOO-CHO). Pereaksi ini dibuat dari asam oksalat dengan serbuk mangnesium dalam air. Setelah dicampur dengan pereaksi Hopkins-Cole, asam sulfat dituangkan perlahan-lahan sehingga membentuk lapisan di bawah larutan protein. Beberapa saat kemudian akan terjadi cincin ungu pada batas antara kedua lapisan tersebut. Karena triptofan merupakan satu-satunya asam amino yang mengandung cincin indol, maka uji ini dipakai untuk identifikasi larutan asam amino triptofan dan protein yang mengandung asam amino triptofan. Cincin ungu yang tampak pada bidang batas antara kedua cairan adalah hasil kondensasi triptofan dengan gugus aldehida dari asam glioksilat dalam suasana asam sulfat (Tika, I Nyoman. 2010).

Uji Ninhidrin terjadi apabila ninhidrin dipanaskan bersama asam amino maka akan terbentuk kompleks berwarna. Asam amino dapat ditentukan secara kuantitatif dengan jalan menggunakan intensitas warna yang terbentuk sebanding dengan konsentrasi asam amino tersebut. Pada reaksi ini dilepaskan CO2 dan NH4 sehingga asam amino dapat ditentukan secara kuantitatif dengan mengukur jumlah CO2 dan NH3 yang dilepaskan. Prolin dan hidroksi prolin menghasilkan warna kompleks yang berbeda warnanya dengan asam amino lainnya. Kompleks berwarna yang terbentuk mengandung dua molekul ninhidrin yang bereaksi dengan ammonia yang dilepaskan pada oksidasi asam amino.

Hasil uji positif pada uji ninhidrin diberikan pada asam amino yang mengandung asam amino dan peptida yang memiliki gugus -amino yang bebas (Tika, I Nyoman. 2010). Ninhidrin adalah suatu reagen berguna untuk mendeteksi asam amino dan menetapkan konsentrasinya dalam larutan. Senyawa ini merupakan hidrat dari triketon siklik, dan bila bereaksi dengan asam amino menghasilkan zat berwarna ungu . Ninhidrin merupakan suatu oksidator sangat kuat yang dapat menyebabkan terjadinya dekarboksilasi oksidatif asam -amino untuk menghasilkan CO2.NH3 dan suatu aldehid dengan satu atom karbon kurang daripada asam amino induknya (Tim Dosen Kimia, 2007).

PROSEDUR ANALISIS Tes Millon 3 ml larutan protein (albumin, alanin, threonin, glisin) dimasukkan di dalam tabung reaksi yang berbeda dan masing-masing ditambahkan 5 tetes reagen Millon. Diamati perubahan yang terjadi sebelum pemanasan dan sesudah pemanasan. Kemudian ditambahkan reagen Millon secara berlebih dan diamati kembali perubahan yang terjadi. Tes Ninhidrin 3 mL larutan protein (albumin, alanin, threonin, glisin) dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berbeda, kemudian ditambahkan dengan 0,5 mL larutan ninhydrin 0, 1% dan diamati perubahan yang terjadi. Kemudian dipanaskan hingga mendidih, dan diamati perubahan yang terjadi. Tes Sistein Beberapa kristal sisstein hidroklorida dilarutkan ke dalam 5 mL aquadest, diamati perubahan yang terjadi. Kemudian ditambahkan 0,5 mL natrium nitroprussida 1 %, diamati kembali, selanjutnya ditambahkan 0,5 ml larutan NH3, diamati perubahan yang terjadi. Tes Sistin Sedikit Sistin dilarutkan dalam 5 mL NaOH 1 M, diamati perubahan yang terjadi. Kemudian ditambahkan beberapa kristal Pb-Asetat, diamati kembali. Setelah itu dipanaskan hingga mendidih, kemudian diamati perubahan yang terjadi.

DAFTAR PUSTAKA Arta, 2012. Sifat-sifat Bahan Pembuatan Reagen. Available Online at http://duniaartasasta.blogspot.com/2012/03/bab-i-sifat-sifat-bahan-1.html Fessenden, R. J. dan Fessenden, J. S., 1994, Kimia Organik, Erlangga, Jakarta. Patong, A. R., 2007, Penuntun Praktikum Biokimia, Laboratorium Biokimia Jurusan Kimia FMIPA Universitas Hasanuddin, Makassar. Poedjiadi, A., 1994, Dasar-dasar Biokimia, UI-Press, Jakarta. Tika, I Nyoman. 2010. Buku Penuntun Praktikum Biokimia. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha. Tim Dosen Kimia, 2002, Kimia Dasar 2, Universitas Hasanuddin, Makassar.