You are on page 1of 3

TUGAS ANALISA KRITIS ARTIKEL MATAKULIAH BIOETIKA

Nama : Exma Mutatal Hikmah NIM : 10620098

Kelas : C

A. Judul Artikel Diskursus Teknologi Embryonic Stem Cells dan Kloning dari Dimensi Bioetika dan Relegiositas (Kajian Filosofis dari Pengalaman Empirik) B. Penulis Artikel Muhammad Sasmito Djati C. Tujuan Penulisan Artikel Untuk mengetahui kajian teknologi Embryonic Stem Cells dan kloning ditinjau dari dimeasi bioetika dan religiusitas D. Fakta fakta Penting dalam Artikel 1. Teknologi perkembangan embrio mulai memunculkan banyak kontroversi setelah lahirnya Luis Brown, seorang anak manusia hasil perkawinan yang dilakukan melalui proses fertilisasi in vitro 2. Aplikasi hasil teknologi transfer inti yang mulai mengherankan setelah seekor domba lahir dari hasil perbanyakan sel hewan dewasa yaitu si domba Dolly oleh Ilmuwan Skotlandia yang bernama Ian Wilmut. 3. Penemuan teknologi ESC dapat dikembangkan melalui ESC dan teknologi transfer inti serta teknologi rekayasa genetika untuk dapat menyelesaikan masalah masalah kedokteran yang selama ini belum ada pengobatannya, misalnya beberapa penyakit digeneratif permanen seperti diabetes mellitus, alzheimer, parkinson, dan penyakitpenyakit kelainan genetis, bahkan penyakit AIDS. 4. Beberapa resiko dari penggunaan metode ini adalah sel-sel ESC tersebut berkembang menjadi sel-sel tumor ataupun kanker. Selain itu beberapa penelitian menunjukkan bahwa problematika pembiakan sel secara in vitro yang dilangsungkan dalam waktu yang cukup lama akan menyebabkan sel-sel tersebut mengalami transformasi kromosomal, sehingga sel-sel tersebut akan menjadi aneuploid. Beberapa kesulitan ditemukan dengan menggunakan metode ESC ini seperti cara bagaimana mengisolasi

sel-sel yang telah terdeferensiasi, sebab sel yang telah terdeferensiasi adalah sel yang sudah mempunyai fungsi sangat spesifik, sehingga bagaimana mengisolasinya secara tepat tanpa mengganggu dan merusak sifat spesifikasinya. Hal ini merupakan problem ilmiah yang tidak mudah dijawab dengan tuntas, belum lagi persoalan transplantasi sel yaitu persoalan immunologis bagi resipien 5. Manusia mempunyai sisi intelectual space, religious space dan instinctive space. Sisi intellectual space dan religious space terlihat dari kenyataan bahwa aplikasi teknologi ESC akan mengusik akan arti sebuah makna, manusia memiliki sebuah kebutuhan akan jawaban atas pertanyaan tentang makna karena jawaban pertanyaan ini bersifat imaterial atau batiniah. Pertanyaan tentang makna hidup, tujuan hidup, apa yang terjadi sesudah kematian, merupakan contoh betapa manusia memerlukan jawaban yang tepat agar kehidupannya tidak kehilangan orientasi. Sedangkan instective space merupakan sifat manusia sebagai mahluk biologis, pada dasarnya merupakan kekuatan untuk mempertahankan hidup dan melangsungkan kehidupan biologis kemakhlukannya. Sisi religiusitas yang menyebabkan manusia mempunyai rasa dipendensi, faktor dipendensi ini merupakan faktor tak terbantahkan yang menyadarkan manusia adalah sebatas mahluk juga, sama dengan mahluk ciptaan yang lain. Dia pasti sangat tergantung dengan hukum-hukum alam, dia akan mengalami proses alamiah seperti mahluk-mahluk lainnya, manusia tidak bisa melawan proses alam terhadap dirinya, meskipun dirinya merasa dapat melampaui batas cakrawala dimensi ruang dan waktu 6. Penerapan teknologi membutuhkan dimensi etis sebagai sebuah pertimbangan. Bioetika tidak untuk mencegah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi menyadarkan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai batas-batas dan tanggung jawab terhadap manusia dan kemanusiaan 7. Pada hakekatnya seorang ilmuwan adalah seorang pemimpin umat manusia yang mempunyai kekuasaan luar biasa; dia bisa menghancurkan umat manusia, dia bisa membahagiakan umat manusia, tergantung kejujuran hatinya. Para ilmuwan memang bukan pemimpin struktural tetapi pemimpin kultural, hasil dan karyanya akan mempengaruhi budaya manusia. Namun faktanya ilmuwan banyak mengabaikan pengaruh hal baik dan buruk dari penelitiannya, sehingga katagorisasi normatif sangat sulit untuk didiskusikan oleh para ilmuwan, seolah-olah baik dan buruk bukan urusan mereka, mereka hanya menganggap itu urusan para kyai dan pendeta

E. Pertanyaan - pertanyaan yang dapat dimunculkan setelah membaca Artikel 1. Apakah pada proses penelitian atau publikasi penelitian yang hasilnya mengherankan publik seperti Luis Brown dan Domba Dolly tidak terdapat pertimbangan bioetika dari peneliti sendiri atau instansi terkait? F. Sikap atau kesan setelah membaca Artikel Sikap pribadi setelah membaca artikel adalah sangat setuju dengan pemikiran penulis. Seharusnya para ilmuwan tanpa harus menunggu rohaniawan untuk menyadari akan perlunya bioetika dari proses memahami fenomena alam yang setiap hari kita alami. Kepentingan bioetika adalah bagaimana dapat bertanggung jawab terhadap penelitian yang dilakukan dari sisi kemanusiaan dan manusiawi. Religious, intelectual dan instective mengajarkan bahwa manusia sejatinya diciptakan mempunyai kedudukan yang mulia, mempunyai akal dan perasaan, motivasi kebutuhan hidup dan melestarikan kehidupannya sebagai makhluk.