You are on page 1of 14

BAB.

I PENDAHULUAN

A. SYARAT-SYARAT PHELEBOTOMY ARTERIAL Pengambilan darah arteri umumnya menggunakan arteri radialis di daerah pergelangan tangan. Jika tidak memungkinkan dapat dipilih arteri brachialis di daerah lengan atau arteri femoralis di lipat paha. Jika kita menggunakan arteri radialis maka kita perlu menentukan sirkulasi kolateral (arteri ulnaris) dengan menggunakan tes Allen. Pengambilan darah harus dilakukan dengan hati-hati dan oleh tenaga terlatih, karena tekanan arteri yang lebih besar membawa konsekuensi yang cukup serius apabila terjadi perdarahan yang lebih sulit untuk menghentikan perdarahan. Sampel darah arteri umumnya digunakan untuk pemeriksaan analisa gas darah. Tempat-tempat yang tidak dianjurkan untuk dipilih adalah tempat yang teriritasi, oedematous, terdapat luka dan tempat yang terdapat AV shunt. Selain itu syarat-syarat lain yang perlu diperhatikan dalam melakukan pungsi arteri adalah spuit yang digunakan untuk mengambil darah sebelumnya diberi heparin untuk mencegah pembekuan darah, Kaji ambang nyeri pasien apabila pasien tidak mampu mentoleransi nyeri maka diberikan anastesi lokal, untuk memastikan yang keluar darah vena atau darah arteri maka kita harus melihat darah yang keluar apabila keluar sendiri tanpa kita tarik berarti darah arteri, apabila darah sudah berhasil diambil goyangkan spuit sehingga darah tercampur rata dan tidak membeku, lakukan penekanan yang lama pada bekas area insersi, keluarkan udara dari spuit jika sudah berhasil mengambil darah dan tutup ujung jarum dengan karet atau gabus, ukur tanda vital (terutama suhu) sebelum darah diambil dan segera kirim ke laboratorium (Robinson et al., 2012).

B. CARA PENGAMBILAN DARAH ARTERI Pengambilan darah arteri dilakukan dengan cara manual dimana teknik yang digunakan adalah dengan melakukan pungsi arteri pada arteri radialis, arteri brachialis maupun arteri femoralis dengan menggunakan jarum yang diperlukan untuk pungsi arteri yang ditusukkan langsung ke kulit. Sama seperti halnya dengan pungsi vena pada pungsi arteri dibedakan dengan pemakaian tabung opened system dan tabung closed system. Jarum dan tabung untuk pungsi arteri ini akan dibahas lebih lanjut pada bab selanjutnya yaitu bab III (Dev et al., 2011). C. KONTRA INDIKASI Kontra indikasi dari pemeriksaan gas darah antara lain defisiensi sirkulasi kolateral ekstremitas atas bagian distal, untuk menilai adekuat atau tidaknya sirkulasi dari arteri radialis dan arteri ulnaris maka perlu dilakukan test Allen, serta pungsi arteri radialis sebaiknya tidak dilakukan pada pasien dengan infeksi kulit. Pengambilan darah arteri tidak dilakukan pada pasien yang sedang mendapat terapi antikoagulan dan pasien dengan riwayat gangguan pembekuan darah (Dev et al., 2011).

BAB II. PENGAMBILAN DARAH ARTERI UNTUK ANALISA GAS DARAH

A. Pra Analitik 1. Persiapan pasien Langkah pertama adalah dengan melakukan identifikasi pasien kemudian penjelasan prosedur tindakan pada pasien. Tidak diperlukan perlakuan khusus terhadap pasien yang akan dilakukan pemeriksaan analisa gas darah. Lakukan Allen test terlebih dahulu terhadap pasien untuk menilai sirkulasi kolateral. Cara melakukan tes Allen dengan menekan atau menutup aliran darah arteri ulnaris dan arteri radialis dimana pasien suruh menggenggamkan tangannya selama 30 detik untuk mengosongkan aliran darah ditangan, setelah 30 detik pasien disuruh melepaskan genggamannya dan terlihat telapak tangan akan tampak pucat kemudian lepaskan tangan pada arteri ulnaris, dikatakan tes Allen positif apabila telapak tangan akan tetap pucat. Adapun cara lain untuk menilai sirkulasi kolateral yang biasanya dilakukan untuk menilai arteri radialis pada coronary by pass dengan Color Doppler studies of flow, plethysmografi, MRI (Robinson et al., 2012).

Gambar 1. Allen test pada persiapan pengambilan darah arteri (Anonim, 1999).

2. Bahan dan alat Diperlukan persiapan bahan dan alat sebelum dilakukannya

pengambilan darah arteri untuk analisa gas darah. Bahan dan alat yang diperlukan antara lain: (Robinson et al., 2012) a) Evacuated collection tube, jarum dan holder

b) Syringe nomor 23-25 c) Tutup syringe yang berisi lithium heparin kering

d) Torniquet e) f) Kapas alkohol Plester

g) Sarung tangan h) Wadah pembuangan jarum i) j) Lidocain 1 % digunakan sebagai anestesi lokal bila diperlukan Kantung es digunakan sebagai penyimpanan

k) Luer tip cap

Gambar 2. Alat-alat yang dibutuhkan untuk pengambilan darah arteri (Anonim, 1999).

B. Analitik 1. Lokasi pengambilan darah arteri Sebelum dilakukan pungsi arteri maka kita harus menentukan terlebih dahulu lokasi pengambilan darah arteri. Ada beberapa lokasi tempat pengambilan darah arteri antara lain adalah arteri femoralis, arteri radialis, arteri brachialis dan arteri ulnaris. Arteri yang sering digunakan adalah arteri radialis dan arteri femoralis. Arteri femoralis memiliki komplikasi lebih besar dibandingkan arteri lain yang telah disebutkan diatas. Catatan yang harus diperhatikan adalah bila test Allen positif maka harus dicari tempat lain (Leitner, 1963).

Gambar 3. Lokasi pengambilan darah arteri (Anonim, 1999).

2. Prosedur (Leitner, 1963) Tentukan letak atau lokasi arteri radialis setelah itu dilakukan langkahlangkah sebagai berikut : a) Cuci tangan sesuai prosedur

b) Ekstensikan pergelangan tangan pasien agar arteri radialis dapat terlihat jelas c) Palpasi untuk mencari processus styloideus os radius

d) Palpasi daerah flexor tendon carpi radius, sebelah median proc. styloideus os radius

e) Arteri radialis berada antara proc. styloideus os radius dan tendon flexor carpi radialis f) Pada kasus tertentu dimana arteri radialis sulit dipalpasi misalnya pada oedem dan vasospasme maka penentuan lokasi palpasi arteri radialis yaitu dengan menggunakan Doppler

Gambar 4. Lokasi dari tendon flexor carpi radialis, arteri radialis dan proc. styloideus os radius (Anonim, 1999).

3. Teknik pungsi arteri (Dev et al., 2011) a) Pergelangan tangan pasien diposisikan terlentang agar arteri radialis pada posisi lebih dangkal b) Letakkan gulungan handuk dibawah pergelangan tangan untuk mempertahankan posisi c) Pakai sarung tangan steril dan kain nonsteril

d) Buka kit sampling dan identifikasi semua komponen, sehingga sampel siap digunakan e) f) Bersihkan daerah tusukan dengan kapas alkohol Palpasi denyut nadi dan tentukan titik impuls maksimum atau dengan menggunakan perangkat USG Doppler untuk identifikasi lokasi arteri radialis g) Lakukan anestesi lokal pada daerah sekitar arteri radialis dengan menggunakan lidocain 1 % dan tunggu 30-60 detik, pemakaian anastesi

lokal jika diperlukan tergantung tingkat ambang nyeri masing-masing pasien h) Tentukan titik pulsasi maksimum, lalu lakukan pungsi pada arteri dengan sudut 30-45 (untuk arteri radialis) atau 90 (untuk arteri femoralis) i)
j)

Biarkan spuit terisi darah secara spontan atau pasif (Gambar 5) Isi spuit dengan darah arteri minimal 1-2 cc, Jika darah tidak diperoleh, jangan menarik plunger tapi tarik jarum secara perlahan sampai hanya dibawah kulit dan ulangi prosedur

k) Setelah sampel darah terkumpul, tarik jarum suntik dan tekan daerah bekas tusukan dengan kasa steril selama 5 menit kemudian tutup dengan menggunakan plester l) Buang gelembung udara pada jarum suntik

m) Campur sampel darah dengan antikoagulan litium heparin untuk mencegah darah membeku n) Beri label pada sampel (Nama pasien & nomor rekam medis) o) Jika diperlukan penyimpanan, dapat dimasukkan ke dalam kantung es

Gambar 5. Pungsi arteri radialis (Anonim, 1999).

C. Pasca Analitik 1. Ukuran-ukuran dalam analisa gas darah : (Kosasih, 2008) a) PH normal : 7,35-7,45 b) Pa CO2 normal : 35-45 mmHg c) Pa O2 normal : 80-100 mmHg d) Total CO2 dalam plasma normal : 24-31 mEq/l e) HCO3 normal : 21-30 mEq/l f) Base Excess normal : -2,4 s.d +2,3 g) Saturasi O2 lebih dari 90% 2. Komplikasi Komplikasi yang sering terjadi setelah pengambilan analisa gas darah adalah kegagalan untuk mendapatkan sampel darah oleh karena vasospasme dan kesalahan darah yang diambil (darah vena). Sedangkan komplikasi lainnya adalah komplikasi vaskuler dimana terjadi aneurisma arteri radialis, iskemia pada tangan dan hematoma yang menyebabkan syndroma kompartemen (Robinson et al., 2012).

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemeriksaan AGD Faktor-faktor yang mempengaruhi pemeriksaan AGD antara lain adalah gelembung udara, antikoagulan, metabolisme dan suhu. Tekanan oksigen udara adalah 158 mmHg, jika terdapat udara dalam sampel darah maka udara cenderung akan menyamakan tekanan sehingga bila tekanan oksigen sampel darah kurang dari 158 mmHg maka hasilnya akan meningkat. Antikoagulan juga dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan AGD karena dapat mendilusi konsentrasi gas darah dalam tabung. Selain itu sebaiknya sampel darah diperiksa dalam 20 menit setelah pengambilan karena sampel darah dianggap sebagai jaringan yang hidup sehingga membutuhkan oksigen dan menghasilkan karbondioksida. Adapun hubungan langsung antara suhu dan tekanan yang menyebabkan tingginya PO2 dan PCO2, nilai PH akan mengikuti perubahan PCO2 (Anonim, 1999).

BAB. III PENGGUNAAN RUTIN COLLECTION TUBES UNTUK PENENTUAN GAS DARAH ARTERI DAN PH

Metode

yang

telah

diakui

untuk

mendapatkan

kenyamanan

dan

kesederhanaan serta dapat diandalkan dalam menentukan PH dan gas darah saat ini telah dirancang satu set collection tubes yang memfasilitasi pengumpulan sampel dimana vacutainer mengandung heparin dan gas nitrogen dengan keuntungan dapat mengeliminasi kontaminasi dari kuman anaerob (Fleisher et al., 1971). Bahan dan metode terdiri dari Vacutainer gas darah dan koleksi set gas darah dan PH tersedia dari Becton, Dickinson & Co, Rutherford, N.J. 07070. Set terdiri dari tabung vacutainer 5 ml (dengan bintik merah stopper) yang diisi dengan gas nitrogen pada tekanan 152 mmHg dan mengandung air raksa, juga terdapat bentuk kering dari sodium heparin 143 unit. Selain itu set juga mengandung tabung tygon transparan sterile dengan panjang 30 cm dimana dihubungkan ke salah satu ujung jarum untuk arteri dengan ukuran 20 G panjang 37 mm dan ujung lainnya dihubungkan dengan vacutainer 20 G panjang 25 mm jarum (Fleisher et al., 1971). Prosedur kerja pemakaian alat : 1. Bersihkan daerah tusukan arteri dengan mengandung alkohol isopropil 2. Tempatkan penjepit terbuka atau hemostat pada tubing dekat jarum vacutainer menusuk. Kendurkan perisai jarum pada kedua jarum. Pungsi arteri dengan jarum ukuran 20 G panjang 37 mm. 3. Menusuk bagian tengah karet stopper tabung vacutainer dengan jarum ukuran 20 G 25 mm dan memungkinkan tabung untuk mengisi darah dengan kapasitas 4 ml. 4. Penjepit pipa dan singkirkan vacutainer dari jarum. Balikan tabung secara perlahan dan lembut untuk mencampur darah dengan heparin. Cabut jarum swab disposable yang

dari arteri dan menutup bekas tusukan dengan spons kasa kering sebelum dilakukan penekanan pada luka bekas tusukan. 5. Benamkan tabung yang sudah berisi darah di vacutainer es. Jarum suntik yang digunakan pada sampel gas darah adalah jarum suntik yang berukuran dengan kapasitas 10 ml, terbuat dari kaca, Luer-Lok dengan jarum arteri Cournand ukuran 18 G. Jarum suntik juga dilapisi dengan solusi heparin (20 USP unit per ml).

Gambar 6. Diagram jarum aspirasi yang terpasang pada untuk instrumentasi laboratorium 313 gas darah dan PH analyzer (Fleisher et al., 1971).

Gambar diatas menjelaskan instrumentasi laboratorium model 313 untuk analisa pH dan gas darah. Logam braket dimodifikasi dengan meningkatkan sudut 90 sampai 110. Pada gambar diatas juga menunjukkan jarum berhubungan langsung dengan komponen gas darah pada posisi dengan holder siap menerima vacutainer tube untuk aspirasi darah. Sudut ujung braket meningkat selama proses sampling berlangsung, darah akan selalu berhubungan dengan jarum pembuka.

10

Gambar 7 menggambarkan jarum aspirasi. Hati hati dalam memposisikan lubang kecil pada jarum sehingga sebagai jarum penembus stopper karet lubang berada di luar vacutainer dan memungkinkan tekanan di dalam tabung untuk menyeimbangkan dengan tekanan atsmosfer.

Gambar 7. Jarum aspirasi (4,8 cm), terbuat dari komponen: 1. Luer-Lok tip dari jarum arteri ukuran 19 G 2. Sekrup logam pada vacutainer Luer adaptor 3. Jarum 19 G yang terbuat dari baja dengan panjang 2,5 cm, lubang bor 1,1 cm dan 1,3 cm dari ujung (Fleisher et al., 1971).

Jarum barrel mempunyai dua sisi lubang, pastikan satu sisi terdapat lubang terbuka untuk kondisi ketika jarum didorong melalui karet stopper. Vacutainer kosong yang berukuran 5 ml mengandung gas nitrogen di bawah tekanan 152 mm air raksa. Selama pengambilan 4 ml darah arteri, gas nitrogen di kompresi menjadi menjadi sekitar tekanan atmosfer (760 mm air raksa). Pada akhir siklus vacutainer ditarik perlahan-lahan dari jarum. Jarum aspirator harus ditarik dari braket setelah penggunaan setiap hari dan dicuci secara menyeluruh supaya tidak terjadi sumbatan pada kedua sisi lubang jarum (Fleisher et al., 1971). Keuntungan dari penggunaan tabung vacutainer khusus closed system : (Anonim, 1999) 1. Terhindari dari kontaminasi tekanan atmosfer yang biasanya disebabkan karena ada udara yang terjebak atau gelembung udara yang dikeluarkan dari jarum suntik. 2. Penggunaan tabung dilihat dari sudut pandang tenaga kesehatan lebih aman seperti terhindar dari tumpahan darah 3. Closed system juga mengurangi resiko terjadinya infeksi nosokomial atau sepsis

11

4. Closed system juga mengurangi resiko tersemprot atau tersembur darah selama proses sampling 5. Dapat mengurangi paparan potensial dari jarum suntik 6. Satu kali pengoperasian dengan syringe reservoir membuat sistem mudah digunakan 7. Penggunaan closed system lebih bersih dibandingkan opened system, didapatkan sampel darah yang lebih murni untuk analisis laboratorium yang akurat 8. Pengukuran tekanan darah secara akurat dengan komponen alat yang sederhana. 9. Dapat mengurangi kontaminasi dari kuman anaerob Sedangkan kerugian dari closed system ini adalah : (Anonim, 1999) 1. Masih relatif mahal secara biaya dibandingkan dengan memakai teknik opened system dengan spuit biasa 2. Diperlukan tenaga yang sudah terlatih, megingat darah yang diambil adalah darah arteri dengan resiko dan komplikasi yang lebih besar dibandingkan darah vena.

12

BAB IV. SIMPULAN

1. Analisa gas darah arteri dapat memberi informasi tentang patologi pernapasan dan metabolisme 2. Pemeriksaan Analisa gas darah dapat dipakai untuk menegakkan diagnosis gangguan asam basa dan kegagalan hipoksemia pernafasan 3. Pengambilan darah arteri dengan menggunakan tabung vacutainer closed system memberikan banyak manfaat dan keuntungan dibandingkan tabung vacutainer opened system 4. Pengambilan darah arteri dengan menggunakan collection tubes dan jarum khusus analisa gas darah memberikan pengetahuan baru dalam melakukan pungsi arteri

13

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 1999. www.utahmed.com/deltranplus.htm (diunduh 27 januari 2012) Becan K., Garza D. 2002. Phlebotomy Handbook Blood Collection Essentials. 6 th ed. New Jersey: Prentice Hall, pp:335-343 Dev S.P., Hilmer M.D., Ferri M. 2011. Arterial puncture for blood gas analysis. New England J Med. 364:5 Fleisher M., Schwartz M.K. 1971. Use of evacuated collection tubes for routine determination of arterial blood gases and ph. In : Clinical Chemistry. New York: Department of Biochemistry, pp: 610-613 Kosasih. 2008. Tafsiran Hasil Pemeriksaan Laboratorium Klinik, pp:382-394 Leitner M.J. 1963. Simple method of sampling of arterial blood. Am J Clin. 40:299 Robinson R., Warekois R.T. 2012. Phlebotomy Worktext and Procedures Manual. 3 rd ed. USA: Elsevier Saunders, pp:193-201

14