You are on page 1of 72

Beberapa Kejadian Pasca Perang Khandaq Ekspedisi al-Khabt (Sariyah Saif al-Bahr) : Setelah kaum Muslimin berhasil memperoleh

kemenangan pada peperangan Ahzab, dan untuk kesekian kali mereka berhasil mempersempit ruang gerak perekonomian kaum Quraisy, Nabi SAW mengirimkan pasukan sebanyak tigaratus pasukan dibawah pimpinan Abu Ubaidah bin Jarrah, yang terdiri dari orang-orang Anshar dan Muhajirin, untuk mencegah kafilah dagang kaum Quraisy dekat pesisir laut, karena perbekalan yang mereka bawa pada waktu itu minim, hingga jatah makan mereka hanyalah satu buah kurma (al-Khabath) dalam sehari, sehingga mereka dinamai dengan pasukan al-Khabath. Dengan kondisi terpaksa, mereka harus menyembelih sebagian unta yang mereka tunggangi, kemudian Abu Ubaidah melarangnya, dengan pertimbangan bahwa unta-unta tersebut akan dibutuhkan mereka untuk menghadapi pasukan musuh. Selanjutnya, mereka berangkat menuju pesisir laut, dan setibanya di sana mereka mendapatkan ombak laut yang telah menghempaskan ikan yang sangat besar, maka merekapun mengambil ikan tersebut dan menjadikannya sebagai bekal mereka selama setengah bulan, lalu mereka membawakan sisa dari daging ikan tersebut kepada Nabi SAW, dan beliau pun suka memakannya.1 Ekspedisi ini adalah merupakan akhir dari sekian banyak ekspedisi dan pengiriman pasukan yang pernah dilakukan oleh Nabi SAW, guna menekan perniagaan kaum musyrikin yang membuat payah perekonomian Mekkah pada saat itu, hingga Abu Sufyan mengatakan :Sungguh peperangan telah membuat kami menderita. lalu ekspedisi tersebut berhenti sebagai realisasi dari perdamaian Hudaibiyyah.2

. Hadits di atas terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim (lihat Zaadul Maad 2/158), dan Ibnul Qayyim menjelaskan kekekeliruan Ibnu Sayyid an-Naas mengenai peristiwa ekspedisi (sariyyah) tersebut yang menurutnya terjadi pada bulan Rajab tahun ke 8, padahal Rasulullah SAW belum memulai ghazwah dan belum mengirim pasukan ekspedisi ( sariyyah) pada bulan yang diharamkan. Dan peristiwa perdamaain Hudaibiyyah (yang salah satu isinya) dengan tegas melarang kaum Muslimin untuk mencegah kafilah dagang Quraisy, maka dengan demikian ekspedisi al-Khabat tidak terjadi melainkan sebelum peristiwa perdamaian tersebut. 2 . lihat Fathul Bary 1/34, namun pada jilid 8 hal 79 pengarang kitab menjelaskan kemungkinan lain, bahwa mereka tidak berangkat melakukan ekspedisi tersebut untuk menahan kafilah dagang Quraisy, tapi bertujuan untuk melakukan penjagaan terhadap suku Juhainah. Hal tersebut dimungkan, mengingat Juhainah telah lebih dahulu masuk Islam dan komitmen terhadap perjanjian yang mereka sepakati dengan kaum Muslimin. Dan sebelum masuk Islam, mereka belum pernah melakukan gangguan terhadap kafilahkafilah Quraisy, mereka bersikap lemah-lembut terhadap kaum Muslimin khususnya dan kaum Quraisy

Perang (ghazwah) Hudaibiyyah Hudaibiyah adalah nama sebuah sumur yang berjarak 22 km sebelah barat daya Makkah, sisisisinya termasuk perbatasan tanah haram Makkah dan sebagian besar tidak termasuk, sekarang dikenal dengan Asy-Syumaisy, di dalamnya terdapat perkebunan Hudaibiyyah dan mesjid arRidlwan.3 Sebagian wilayahnya masuk ke dalam batas Masjidil Haram, dan sebagian besarnya dibatasi oleh wilayah yang lain.4 Hudaibiyyah dinamakan dengan al-Ghazwah; karena kaum Quraisy ketika itu melarang kaum Muslimin untuk memasuki kota Mekkah, padahal mereka berada di Hudaibiyyah. Rasulullah SAW keluar menuju Hudaibiyyah pada hari senin, bulan Dzul Qadah, tahun ke 6 Hijriyyah,5 dengan tujuan untuk menunaikan umrah6. Hal tersebut untuk menampakkan hakikat syiar kaum muslimin terhadap Baitul Atiq (Kabah) dan pengagungan mereka terhadapnya, serta untuk membantah propaganda kaum Quraisy bahwa kaum muslimin tidak mengakui kemuliaan Kabah. Parade Islam tersebut dimaksudkan untuk menunjukan kekuatan kaum Muslimin ke segenap penjuru Jazirah Arab, terutama setelah kegagalan yang mereka derita pada peperangan Ahzab. Kaum Quraisy pada waktu itu sadar betul mengenai tujuan tersebut, sehingga pantas mereka mencegah kaum Muslimin untuk memasuki kota Mekah untuk menunaikan umrah. Dan Rasulullah SAW telah memprediksikan mengenai tindakan kaum Quraisy semacam itu sebelumnya dan rencana mereka untuk melakukan pembunuhan terhadap diri beliau. Maka dari itu, beliau menyengaja untuk keluar dengan membawa sejumlah pasukan kaum Muslimin yang lebih besar, sehingga membuat musuh ketar-ketir melihatnya, dan menjadi ciut mental mereka untuk menghadapinya. Beliau berangkat bersama dengan kaum Muslimin dari kalangan
secara umum, demi terciptanya perdamaian di antara ke dua belah pihak (lihat Musnad Ahmad 1/178, Sirah Ibnu Hisyam 1/595. Berikutnya, al-Hafizh Ibnu Hajar menyatakan dengan tegas, bahwasannya ekspedisi tersebut terjadi beberapa saat sebelum peristiwa penaklukkan kota Mekkah (Futuh Mekkah) (Fathul Bary 8/97). 3 . Nasb Harbin, hal. 350 4 . Zaadul maad, 4/380 5 . Baihaqi : Dalaail an-Nubuwwah 2/212, dari riwayat Yaqub bin Sufyan, dengan isnad yang baik, namun ia dilangsungkan melalui Nafi, bekas sahaya (maula) Ibnu Umar, hanya saja Para Ulama sepakat mengenai penaggalan tersebut dengan tanpa ada perselisihan (an-Nawawi : al-Majmu,7/78; Ibnu Katsir : al-Bidayah wan Nihayah, 4/164; Ibnu hajar : at-Talhish al-Habir, 4/90). Adapun yang secara tegas menyatakan dengan pasti terjadinya peperangan tersebut pada hari senin adalah al-Waqidy dan muridnya yang bernama Ibnu Saad (Maghazi al -Waqidi, 2/573 dan ath-Thabaqat alKubra,2/95) 6 . Shahih al-Bukhari (Fathul Bary, hal. 1778)

Muhajirin dan Anshar. Sikap mental dan rasa ketakutan terhadap pasukan pada saat itu diabadikan dalam al-Quran al-Karim, sebagaimana dalam firman Allah SWT, Orang-orang Badui yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiah) akan mengatakan: "Harta dan keluarga kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami"; mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah : "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudaratan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Tetapi kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin tidak sekali-kali akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya dan setan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu persangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa.7 Mujahid mengatakan,Yang dimaksud dalam ayat di atas adalah orang-orang Arab Madinah, yaitu : suku Juhainah dan Mazinah.8 Melihat rencana jahat yang hendak dilakukan oleh kaum Quraisy, maka kaum Muslimin berangkat dengan membawa perelengkapan perang yang siap digunakan bila peperangan terjadi.9 Pendapat ini berbeda dengan yang disampaikan oleh al-Waqidy, di mana pasukan kaum Muslimin datang dengan tanpa membawa perlengkapan perang.10 Jumlah pasukan kaum Muslimin yang berangkan ke Hudaibiyyah mencapai 1400 pasukan, berdasarkan kesaksian beberapa orang sahabat antara lain : Jabir bin Abdillah, al-Barra bin Azib, Maqil bin Yasar, Salamah bin al-Akwa11 dan al-Musayyab bin Hazan12. Jabir mengatakan dalam sebuah riwayat, bahwa mereka berjumlah 1500 pasukan13. Dan menurut sahabat Abdullah bin Abi Aufa, mereka berjumlah 1300 pasukan14. Pendapat yang lebih mendekati dan lebih tepat (shahih) dari sekian banyak pendapat yang berkembang dalam hal ini
7 8

. QS. Al-Fath ayat 11-12 . Tafsir at-Thabary, 26/77, dengan isnad yang baik yang sampai kepada Mujahid, derajatnya Mursal. 9 . Shahih al-Bukhary (Fathul Bary, hadits no.4179) 10 . Maghazi al-Waqidy,2/573 11 . Shahih al-Bukhary (Fathul Bary, no. hadits 4154, 4151, dan Shahih Muslim. Kitab al-Imarah,74,76, kitab al-Jihad wa as-Sair,132. 12 .Tarikh Yahya bin Main,1/321, dan al-Baihaqi : Dalaail an-Nubuwwah,2/214, di dalamnya terdapat ananah (yakni menyampaikan hadits kepada rawi lain dengan lafazh an (dari) yang mengisyaratkan bahwa dia tidak mendengar langsung dari syaikhnya) Qatadah, namun tidak mengurangi derajatnya; karena secara asal terdapat dalam hadits yang shahih. 13 .Shahih al-Bukhary (Fathul Bary, no. hadits 3576,1453), dan Shahih Muslim : kitab al-Imarah,73. 14 .Shahih Muslim : kitab al-Imarah,75.

adalah kesepakatan lima sahabat di atas yang secara langsung menjadi saksi mata atas kejadian tersebut, bahwa jumlah mereka ketika itu 1400 pasukan. Namun demikian semua pendapat tidak menutup kemungkinan untuk dikompromikan, mengingat perbedaannya tidak terlalu jauh. Sesampainya di Dzulhulaifah kaum Muslimin melaksanakan shalat dan mereka melakukan ihram (niat) untuk Umrah di sana15, sambil menggiring (membawa) tujuhfuluh ekor unta (budnah)16. Dan Rasulullah SAW telah mengirim tilik sandi ke Mekkah, yaitu Bisrin bin Sufyan al-Khuzai al-Kaby17. Ketika kaum Muslimin sampai di Rauha yang berjarak sekitar 73 kilometer dari kota Madinah, Rasulullah SAW mengirim Abu Qatadah al-Anshary yang pada saat itu ia belum sempat berihram untuk umrah bersama dengan sejumlah sahabat untuk berangkat menyusuri tepi pantai Laut Merah; karena tersiar berita bahwa ada sebagian kaum musyrikin yang tengah bersiap-siap untuk menghadang kedatangan kaum Muslimin secara tiba. Di perjalanan mereka melihat seeokor keledai liar, maka tidak berpikir panjang Abu Qatadah menghampiri keledai itu lalu menyembelihnya dan memakan dagingnya padahal mereka sedang berihram. Ketika mereka berjumpa dengan Rasulullah SAW di suatu lembah yang berjarah sekitar 180 kilo meter dari kota Madinah, mereka mengadukan dan menanyakan hal tersebut kepada beliau. Ketika itu beliau mempersilahkan kepada para sahabatnya untuk memakan daging keledai liar tersebut; karena mereka tidak ada tujuan untuk memburunya.18 Singkat cerita, setelah kaum Muslimin sampai di Asafan yang jaraknya sekitar 80 kilo meter dari kota Mekkah, datang kepada mereka Basar bin Sufyan al-Kaby (tilik sandi yang dikirim oleh Rasulullah SAW ke kota Mekkah) dengan membawa kabar tentang kondisi kaum Quraisy yang

15

.Shahih al-Bukhari (Fathul Bary no. hadits 1694,1695), itulah batasan miqat sebelum terjadi peperangan (al-Ghazwah). 16 .Musnad Ahmad,4/323, dengan isnad yang baik, sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Ishaq lafa sima (mendengar langsung) dalam Sirah Ibnu Hisyam,3/308. 17 .Shahih al-Bukhary (Fathul Bary, no.hadits 4179; Musnad Ahmad,4/323 dengan isnad yang rawi-rawinya tsiqah, namun di dalamnya terdapat lafazh ananah Ibnu Ishaq, sedangkan ia menegaskan dengan lafazh tahdits (menceritakan), sebagaimana tercantum dalam Sirah Ibnu Hisyam,3/308) 18 . Shahih al-Bukhary (Fathul bary, no. hadits 1821, 1822, 1824). Terkait dengan riwayat al-Bazzar, dengan isnad yang baik, yang menyatakan bahwa keledai liar tersebut diburu di Asafan bertentangan dengan riwayat yang shahih, demikian pula dengan pernyataan, bahwa pengiriman Abu Qatadah tersebut dalam rangka mengumpulkan sedekah. Dan usaha al-Kandahlawy untum mengkompromikan riwayat tersebut tidak tepat, mengingat riwayat tersebut menyalahi riwayat yang lebih kuat, yang menuntut adanya tarjih (mengambil yang lebih kuat) (lihat : Aujaz al-Masaalik ila Muwaththa malik, 6/352)

ternyata telah mengetahui akan kedatang kaum Muslimin, sehingga mereka menghimpun pasukan kekuatan pasukan yang besar untuk mencegah mereka memasuki kota Mekkah. Sementara itu Kholid bin Walid dan tentaranya kudanya sudah berangkat ke daerah Kira al Ghamim yang berjarak sekitar 64 kilo meter dari kota Mekkah guna melakukan pengintaian. Nabi SAW langsung mengajak para sahabat bermusyawarah. Beliau mengusulkan untuk menyerang beberapa perkampungan yang bersekutu dengan kaum Quraisy, agar mereka minta bantuan kepada Quraisy untuk mempertahankan wilayah dari serangan kaum muslimin. Beliau bersabda,Sampaikanlah pendapat kalian kepadaku, bagaimana menurut kalian, apakah kita serang terlebih dahulu keluarga antek-antek mereka yang hendak menghalangi kita untuk memasuki Kabah. Bila mereka mendatangi (menyerang) kita berarti Allah telah memberi putusan terhadap orang-orang musyrik, dan jika tidak berarti kita akan membiarkan mereka bebas? Mendengar usulan beliau seperti itu, Abu Bakar mengingatkan Rasulullah kalau mereka pergi dengan tujuan untuk umrah bukan untuk berperang, bila nanti ada yang menghalangi maka terpaksalah ia dibunuh. Mendengar pendapat Abu bakar semacam itu, beliau bersabda,Lanjutkan langkah kalian dengan menyebut nama Allah.19 Itulah di antara riwayat yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW selalu melakukan musyawarah dengan para sahabatnya. Rasulullah SAW bersama para sahabat di Usfan mendirikan shalat Khauf, karena suasana yang genting di sana.20 Itulah shalat khauf yang pertama kali dilakukan oleh beliau,21 hal itu berdasarkan kepada pendapat pihak yang mengakhirkan peristiwa peperangan Dzat ar-Riqa setelah perang Khaibar, dan pendapat inilah yang benar.22 Berbeda dengan pendapat Ibnu Ishaq,
19

. Shahih al-Bukhary (Fathul Bary, no.hadits 4179), pengarang menyebutkan : Ghadiral Asythath, sebagai ganti dari Asafan, yang secara letak dekat dengannya (Fathul Bary, 5/334). Kecuali yang terkait dengan penyebutan tentang (keberangkatan) Khalid bin Walid yang tercantum dalam Musnad Ahmad, 4/323, dengan isnad yang baik, dengan tegas Ibnu Ishaq dalam kitab Sirahnya, 3/308. Demikian pula dengan penyebutan daerah Kira al-Ghamim (al-Balady : Mujam al-Maalim al-Jughrafiya, hal. 264), beliau menyatakan dengan ungkapan as-Sima (mendengar langsung). 20 .Sunan Abi Daud, Maalim as-Sunan, kitab ash-Shalat, hal. 215. Diriwayatkan oleh al-hakim, beliau menshahkannya dan disetujui oleh adz-Dzahaby (al-Mustadrak, 3/338). Disahkan oleh al-Baihaqy dan Ibnu Katsir (as-Sunan al-Kubra, 3/338; dan Tafsir Ibnu Katsir, 1/548). Terkait dengan hal tersebut, Ibnu Hajar mengatakan : sanadnya haditsnya baik (jayyid) (al-Ishabah, 7/294), meskipun demikian, beliau mentarjih (menguatkan), bahwa peperangan tersebut adalah Hudaibiyyah (Fathul Bary, 7/423). Lebih lanjur beliau m,enguatkan, bawha Khlid bin Walid berada persis dekat Asafan, tepatnya pada peperangan Hudaibiyyah. 21 . Hafizh Muhammad al-Hakamy : Marwiyat ghazwah al-Hudaibiyyah, hal. 115-133. 22 . Shahih al-Bukhary (Fathul Bary, no. hadits 4125, 4128), Ibnul Qayyim : Zadul Maad, 3/253, Ibnu Katsir : al-Bidayah wan Nihayah, 4/83; Ibnu Hajar : Fathul Bary, 7/419-420.

al-Waqidy dan mereka yang sependapat dengan keduanya;23 karena Abu Musa al-Asyary dan Abu Hurairah keduanya baru datang kepada Nabi SAW setelah peperang Khaibar, dan bukan sebelum itu, bahkan keduanya secara bersama-sama ikut dalam peperang Dzat ar-Riqa.24 Dengan demikian, peristiwanya terjadi sebelum meletus peperangan Khaibar. Al-Hasil shalat khauf baru dilaksanakan di Asafan Hudaibiyyah, dengan diselingi perjanjian (ash-Shulhu), dan tidak terjadi peperangan di kota Mekkah dan sekitarnya hingga terjadi peristiwa penaklukkan kota Mekkah (Futuh Mekkah). Rasulullah SAW menempuh jalan yang diapit oleh dua bukit yang berada di Hudibiyyah, dan terkait dengan hal beliau bersabda,Barangsiapa yang menempuh (menaiki) bukit Tsaniyyah alMurar, (jalan yang berada di antara dua pegunungan, maka sebanyak dosa yang dia miliki akan dibebaskan, sebagaiman dosa yang dibebaskan dari Bani Israel. Dan sebuah riwayat disebutkan, bahwa yang pertama menaiki bukit itu adalah penunggang kuda dari suku Bani AlKhazraj25. Upaya yang beliau lakukan tersebut dimaksudkan guna menghindari kontak fisik dengan pihak musyrikin, yang dalam hal ini adalah pasukan berkuda yang dipimpin oleh Khalid bin Walid. Namun ternyata, langkah yang beliau rencanakan telah lebih dulu tercium oleh Khalid dan tentaranya, sehingga mereka segera kembali ke Mekkah guna bergabung dengan kaum Quraisy. Mereka mendirikan perkemahan di lembah Baldah,26 dan segera menuruni (mengambil) air di lembah tersebut mendahului ketatangan kaum Muslimin. Ketika rombongan ini hampir memasuki Hudaibiyah, tiba-tiba unta yang dikendarai Nabi yaitu Qashwa menderum tak bergerak. Para sahabat berkata,Al-Qaswa mogok dan tidak mau berjalan. Tapi ucapan itu dibantah oleh Nabi SAW,Qaswa tidak mogok dan itu bukanlah dari kebiasaannya, akan tetapi ia dihentikan oleh yang menghentikan gajah. Kemudian beliau
23 24

. Sirah Ibn Hisyam, 3/304 dan Maghazy al-Waqidy, 1/396. ., Fathul Bary, no. hadits 4128, 4233, Sunan Abu Daud dalam Maalim as -Sunan, kitab ash-Shalat, hal. 1240, 1241, dan Musnad Ahmad, 2/345, dengan isnad yang hasan. 25 . Shahih Muslim : kitab shifaat al-Munafiqin wa ahkamihim, hal.12 26 . Baldah adalah sebuah wady yang berada di kota Mekkah, sebelah atasnya berada di Wadi al-Usy, dan di bagian tengahnya adalah daerah az-Zahir sekarang, sedangkan ujungnya berada diperlintasan azhZhahran, s ebelah Utara Hudaibiyyah (al-Bilady : Mujam al-maalim al-Jughrafiyyah, hal. 49). Keluarnya kaum Quraisy menuju Wadi Baldah tidak dibawakan melalui jalan (riwayat) yang shahih, akan tetapi dibawakan oleh al-baihaqy dalam Dalaail an-Nubuwwah. 2/219-220, dari Urwah secara mursal, dengan isnad yang lemah. Hal itu diijelaskan oleh Al-Waqidy dalam Maghazi. 2/582, dan Ibnu Saad dalam ath Thabaqaat al-Kubra, 2/95.

bersabda, Demi dzat yang jiwaku berada di tanganNya, mereka tidak memintaku suatu rencana di mana mereka masih mengagungkan batasan-batasan Allah niscaya aku akan berikan kepada mereka.27 Lalu beliau mengarahkan rombongan untuk terus berjalan dan baru berhenti di ujung wilayah Hudaibiyah, tepatnya di sebuah sumur (telaga) yang mulai mengering. Di saat yang menegangkan itu, kaum Muslimin pun menderita kehausan. Air sedikit yang berada di sumur tersebut telah habis terkuras. Sejumlah orang melaporkan pada Nabi SAW bahwa mereka kehausan. Nabi SAW mengambil anak-panah dari wadah busur, untuk ditancapkan pada telaga yang telah habis airnya. Sontak airnya memancar dengan deras hingga mereka mengambil untuk diminum dan untuk keperluan yang lain.28 Kejadian tersebut merupakan sebagian mukjizat yang diberikan Allah Taala kepada Nabi SAW. dalam peperangan Hudaibiyyah. Meskipun tindakan kaum Quraisy sedemikian keras terhadap Rasulullah SAW, namun beliau ingin agar mereka tetap hidup seperti biasa, dan berharap dengan sangat agar mereka memeluk Islam, serta mengikuti dakwah yang disampaikannya. Manusia itu bagaikan logam, orang yang terbaik di antara mereka pada masa jahiliyyah adalah mereka yang terbaik dalam Islam apabila mereka paham. Kaum Quraisy adalah di antara sebaik-baik orang Arab yang memiliki kefasihan, kecerdasan, kecakapan dan kedudukan. Keberadaan mereka dalam Islam memiliki kebaikan yang sangat besar bagi kelangsungan negara dan dakwah, sebagaimana hari-hari telah

membuktikannya. Rasulullah SAW sangat menyesalkan keras kepala kaum Quraisy dan kebinasaan (kerugian besar) mereka akibat berperang dengan kaum Muslimin, maka terkait dengan hal itu, Rasulullah SAW bersabda, Benar-benar celaka orang-orang Quraisy itu. Sebenarnya mereka telah habis dimakan peperangan. Apa salahnya kalau mereka membiarkan saja aku berhubungan dengan orang-orang Arab yang lain. Kalaupun mereka sampai membinasakan aku, memang itulah yang mereka harapkan, dan kalau Tuhan memberi kemenangan kepadaku, mereka akan masuk Islam secara beramai-ramai. Tetapi jika itupun belum mereka lakukan, mereka pasti akan berperang, sebab mereka mempunyai kekuatan. Demi Allah, orang-orang Quraisy jangan salah sangka,

27 28

. Shahih Bukhary (Fathul Bary, 5/329, no. hadits 2731). . Ibid, dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa Nabi SAW meminta dibawakan air, dan beliau berkumur-kumur dengannya, lalu memuntahkannya ke dalam sumur (Shahih Bukhary : Fathul Bary, no. hadits 3577), tidak ada salahnya bila kita mengkompromikan di antara kedua riwayat tersebut; karena kedua-duanya pernah beliau lakukan.

sesungguhnya aku tidak pernah berhenti memperjuangkan apa yang aku bawa dari Allah hingga Dia memenangkannya atau aku mati karenanya.29 Rasulullah SAW telah berusaha menjelaskan tujuan beliau sesungguhnya kepada kaum Quraisy melalui orang-orang yang bersikap netral atau para utusan yang sengaja dikirim untuk menyampaikan tujuan beliau tersebut, yang intinya menjelaskan bahwa beliau tidak bermaksud untuk memerangi seorang pun di antara mereka, akan tetapi kedatangan beliau adalah dalam rangka menziarahi Baitul Haram (Kabah) dan mengagungkannya. Ketika Rasulullah tengah beristirahat, beliau didatangi Budail bin Warqa Al -Khuzai, ia menjelaskan kepada beliau, bahwa orang-orang Quraisy tetap bersikap kukuh hendak mencegah kaum Muslimin untuk memasuki kota Mekkah. Mendengar hal itu, beliau menegaskan kembali sikapnya kepadanya, bahwa beliau datang tidak untuk perang, namun untuk mengunjungi Baitullah dan mengagungkannya. Setelah mendapatkan penjelasan dari beliau, Budail pun segera menemui orang-orang Quraisy guna menyampaikan hal itu kepada mereka.30 Ketika itu orang-orang Quraisy berkata, Jika ia datang untuk tujuan tersebut dan tidak untuk perang, maka demi Allah ia tidak boleh masuk ke tempat kita dengan kekerasan untuk selamalamanya dan ia tidak boleh mengungkit-ungkit perang kepada kita.31 Sebenarnya kaum Muslimin telah memperoleh posisi politik, baik mereka bisa memasuki kota Mekkah dan orang-orang Arab membicarakan hal tersebut, atau tidak sampai memasukinya, lalu orang-orang Arab pun membicarakan tentang penolakan kaum Quraisy terhadap mereka yang bermaksud untuk mengagungkan Al-Baitul Al-Atiq (Kabah), setelah klaim yang dilayangkan oleh kaum Quraisy yang menyatakan bahwa kaum Muslimin tidak menghormati kesuciannya. Dalam upaya menjelaskan sikapnya terhadap orang-orang, maka Rasulullah SAW mengirim beberapa utusannya kepada kaum Quraisy yang mengumumkan maksudnya. Beliau mengutus Kharrasy bin Umayyah al-Khuza'iy menemui orang-orang Quraisy, akan tetapi, mereka melukai utusan ini dan hendak membunuhnya, seandainya tidak ada pembelaan dari suku Ahaabiis.32

29

. Musnad Ahmad, 4/323, dengan isnad yang hasan, namun Ibnu Ishaq menjelaskan secara sharih dengan lafazh tahdis (menceritakan) dalam Sirah Ibn Hisyam, 3/308. 30 . Shahih Bukhary (Fathul Bary, no. hadits 2731, 2732). 31 . Musnad Ahmad, 4/324, dan Sirah Ibn Hisyam, 3/308, dengan Isnad yang hasan. 32 . Ibid

Kemarahan Quraisy semakin membara. Di tengah malam, mereka mengirim beberapa orang pandir untuk melempari khemah-khemah kaum Muslimin dengan batu. Kaum Muslimin marah, bahkan mereka sempat berfikir untuk memerangi kafir Quraisy. Akan tetapi, Rasul berhasil mendinginkan kemarahan mereka dan menenangkan mereka.33 Rasulullah SAW kemudian ingin mengutus Umar bin Khattab namun diganti oleh Utsman bin Affan, karena Umar menunjukkan permusuhannya yang hebat terhadap Quraisy dan Quraisy mengetahui hal itu, di samping itu kaumnya yakni, Bani Adi tak dapat melindunginya. Usman kemudian pergi menemui para tokoh Quraisy setelah terlebih dahulu minta jaminan keamanan kepada Abban bin Saad bin al-Ash. Lalu dengan jaminan perlindungan itu ia menyampaikan maksud dan tujuan Rasulullah SAW kepada tokoh-tokoh Quraisy. Utsman melakukan tugasnya dengan baik, sampai-sampai para tokoh Quraisy mempersilakannya thawaf di Masjidil Haram. Tetapi Utsman menolaknya sebelum Rasulullah SAW mendahului thawaf dulu sebelum dia melakukannya. Keterlambatan Utsman kembali ke barisan kaum muslimin membuat sebagian kaum muslimin menaroh curiga bahwa ia telah dibunuh oleh orang-orang Quraisy34, maka Rasulullah SAW langsung mengumpulkan para sahabatnya untuk berbaiat di bawah sebuah pohon yang bernama Sammuroh. Mereka semua berbaiat untuk membalaskan kematian Utsman sampai titik darah penghabisan35, namun ada satu orang yang membelot dalam baiat ini, yakni J add bin Qais seorang munafik36 dalam beberapa riwayat menyebutkan : bahwa mereka berbaiat kepada Nabi SAW untuk tidak lari meninggalkannya, bukan atas kematian Utsman37. Atau mereka berbaiat untuk bersabar, dan dalam hal tersebut tidak ada pertentangan; karena yang dimaksud dengan baiat rela mati adalah tidak melarikan diri38. Orang yang pertama kali menyambut baik terhadap baiat tersebut adalah Abu Sinan Abdullah bin Wahab al-Asady39. Kemudian diikuti oleh beberapa sahabat yang lain, dan beliau memberikan

33 34

. Ibid . Musnad Ahmad, 4/324, dengan isnad yang hasan, sebagaimana penjelasan di atas. 35 . Shahih Bukhary (Fathul bary, no hadits 4169) dan Shahih Muslim : kitab al-Imarah, no. 81. 36 . Shahih Muslim : kitab al-Imarah, hal. 69, dari hadits Jabir bin Abdillah, sebagai saksi (syahid) langsung. 37 . Shahih Muslim : kitab al-Imarah, no. 76, 67, 68; dan Shahih Bukhary (Fathul Bary, no. hadits 2958). 38 . Fathul Bary, 6/118 39 . Al-Ishabah, 11/171

pujian terhadap sikap para sahabatnya atas respon mereka untuk melakukan baiat, sebagaimana dalam sabdanya,Kalian adalah sebaik-baik penduduk bumi.40 Dan sabdanya,Tidak akan masuk neraka Insya Allah orang-orang yang telah melakukan baiat di bawah pohon.41 Ketika tersiar berita bahwa ternyata Utsman masih ditahan oleh orang-orang Quraisy, Nabi SAW bersabda sambil mengangkat tangan kanannya,Inilah tangan Utsman.42 Lalu beliau memukul tangan kanannya, seraya bersabda,Baiat ini untuk Utsman. Lalu tidak lama kemudian, tibatiba Utsman muncul kembali di tengah-tengah kaum Muslimin setelah, tepat setelah baiat berlangsung. Pasca Baiat ar-Ridhwan dari pihak Quraisy mulai mengutus beberapa orang utusan untuk melakukan tawar menawar dan perundingan dengan kaum muslimin. Salah satu tokoh yang pertama mereka kirim adalah Urwah bin Masud ats-Tsaqafy. Selama perundingan berlangsung ia mengamati betapa hormat, cinta dan patuhnya kaum Muslimin terhadap Rasul SAW Tatkala ia kembali menemui orang-orang Quraisy, ia mengatakan,Entah kaum apa mereka itu, demi Allah! Aku pernah diutus kepada raja-raja, bahkan aku pernah menjadi utusan ke raja Qaisar, Kisra dan Najasyi, demi Allah! Aku tidak pernah melihat raja yang dihormati oleh para pengikutnya (rakyatnya) seperti para sahabat Muhammad.43 Orang-orang Quraisy mengutus Al-Hulais bin Alqamah al-Kinany, pemimpin orang-orang Ahabisy kepada Rasulullah SAW. Ketika Rasulullah SAW melihat kedatangannya, beliau meminta kepada para sahabat agar menempatkan hewan onta sembelihan di depannya agar ia bisa melihatnya; karena ia berasal dari kaum yang beribadah. Ketika al-Hulais bin Alqamah melihat hewan sembelihan tersebut dengan memakai kalung sebagai tanda akan disembelih dan bulubulunya telah rusak karena terlalu lama berada di tempat ia akan disembelih, maka Al-Hulais segera pulang kepada orang-orang Quraisy dan tidak jadi bertemu dengan Rasulullah SAW. Ia menceritakan apa yang dilihatnya kepada orang-orang Quraisy44. Mendengar ceritanya itu, orang-

40 41

. Shahih Bukhary (Fathuil Bary, no. hadits 4154) . Shahih Muslim : kitab Fadlail ash-Shahabat, 4/1942, no hadits 2496. 42 . Shahih Bukhary ( Fathul bary, no hadits 3698) 43 . . Shahih Bukhary ( Fathul bary, no hadits 2731, 2732) dan lihat : Musnad Ahmad, 4/324, dengan isnad yang hasan dari riwayat Ibnu Ishaq. 44 . . Shahih Bukhary ( Fathul bary, no hadits 2731, 2732)

orang Quraisy berkata kepadanya, Duduklah engkau, karena engkau orang Arab dusun yang tidak tau apa-apa (bodoh). 45 Berikutnya, orang-orang Quraisy mengutus Makriz bin Hafsh, disusul dengan berikutnya dengan Suhail bin Amru. Beliau bersabda di hadapan para sahabat dengan optimis,Sepertinya ia (Suhail) akan mempermudah perkara kalian!.46 Dan sabadanya,Sungguh kaum Quraisy menghendaki perdamaian ; jika mereka telah mengutus orang ini (Suhail). Sebelum perundingannya dengan Nabi SAW, orang-orang Quraisy berpesan kepada Suhail agar kaum Muslimin tidak jadi melaksanakan umrah pada tahun tersebut. Terjadilah dialog yang panjang antara Suhail dan Rasulullah SAW, perundingan berjalan alot, tapi di ujung perundingan tercapailah kata sepakat dari kedua belah pihak.47 Ketika itu ada beberapa point kesepakatan yang sebenarnya ingin dicapai oleh Rasulullah SAW, tetapi ditolak oleh Suhail. Di antaranya mengenai pencantuman kata ar-Rahman setelah kalimat Bismillah Dalam perundingan tersebut, Ali bertindak sebagai penulis (sekertaris) Rasulullah SAW.48 Ketika Rasulullah SAW bersabda kepada Ali,Tulislah Bismillahirrahmanirrahim. Suhail berkata,Kata ar-Rahman, demi Allah! Aku tidak mengenal ungkapan itu; karena itu tulislah,Bismikallahumma. seperti yang Anda pernah tulis. Mendengar ucapan Suhail seperti itu, sebagian sahabat merasa keberatan, mereka mengatakan,Demi Allah! Kami tidak akan menuliskannya kecuali Bismillahirrahmanirrahim. Kemudian Nabi SAW bersabda kepada Ali,Tulislah bismikallahumma. Ali pun menulisnya. Kemudian beliau bersabda,Inilah hasil perdamaian antara Muhammad Rasulullah dengan Suhail bin Amer. Suhail berkata,Seandainya kami mengetahui bahwa Anda sebagai Rasul Allah, maka kami tidak akan menghalangimu untuk mendatangi Baitullah (Kabah) dan tidak pula memerangimu; karena itu tulislah namamu (Muhammad) dan nama ayahmu (Abdullah). Nabi SAW bersabda,Demi Allah! Sesungguhnya aku adalah benar-benar utusan Allah, meskipun kalian mendustakan diriku.
45 46

. Musnad Ahmad, 4/324, dengan isnad yang hasan. . Shahih Bukhary ( Fathul bary, no hadits 2731, 2732) 47 . Ibid 48 . Abdurrazzaq : al-Mushannif, 5/343, dengan isnad yang shahih dari hadits Ibnu Abbas, akhir yang diirsalkan oleh az-Zuhry.

Tulislah,Muhammad bin Abdillah. Kata Suhail. Nabi SAW bersabda,Kalau begitu, biarkanlah kami untuk melakukan thawwaf di Baitullah! Suhail berkata,Demi Allah! Agar orang-orang Arab tidak mengatakan, bahwa kami telah melakukan kekerasan49, jadi sebaiknya Anda melakukannya tahun depan saja. Suhail menuturkan,Jika salah seorang dari kami datang kepadamu meskipun ia menganut agamamu maka ia harus dikembalikan kepada kami. Mendengar hal itu, para sahabat mengatakan,Subhanallah! Bagaimana bisa ia dikembalikan kepada orang-orang musyik, padahal ia datang sebagai Muslim Di tengah-tengah proses perjanjian sedang disepakati, tiba-tiba datang Abu Jandal putra dari Suhail bin Amru ke hadapan kaum muslimin dalam keadaan terborgol50, ia menyengaja datang dari pedalaman kota Mekkah ingin bergabung ke dalam barisan muslimin. Ketika itu, Rasulullah SAW meminta pada Suhail agar puteranya bisa masuk ke dalam barisan beliau, namun permintaan itu ditolaknya. Melihat hal ini, Suhail berkata,Hai Muhammad, inilah kesepakatan pertama. Kamu harus kembalikan dia kepadaku. Kata Nabi SAW, Kita belum menyelesaikan kesepakatan ini. Kata Suhail, Demi Allah, kalau begitu aku tidak akan berdamai denganmu lagi dalam urusan apa pun selamanya. Beliau pun berkata: Kalau begitu, bolehkan dia saja untukku.51 Aku tidak akan menyerahkannya kepadamu. jawab Suhail. Kata beliau, Bahkan lakukanlah (berikanlah). Katanya,Aku tidak akan serahkan.

49 50

. Maksudnya pemaksaan . Kedua kakinya diikat dengan rantai. 51 . Beliau bermaksud agar ia tidak dijadikan sebagai bagian dari syarat yang dibuatnya.

Kata Mikraz,Kami yang akan serahkan dia kepadamu.52 Berikut ini adalah beberapa butir perdamaian yang telah disepakati kedua belah pihak : Hendaknya kedua belah pihak melakukan gencatan senjata selama sepuluh tahun, masingmasing pihak harus menahan diri selama waktu terebut, tidak boleh menyerang satu sama lain. Apabila ada orang dipihak Quraisy yang mendatangi Rasulullah SAW (melarikan diri menyeberang kepihak beliau) tanpa seidzin walinya, maka harus dikembalikan kepada kaum Quraisy, sebaliknya apabila ada orang-orang Muhammad yang kembali kepada kaun Quraisy maka boleh-boleh saja, tidak harus dikembalikan. Kedua belah pihak harus menahan diri, tidak saling merugikan53. Tidak dibenarkan memamerkan atau membawa senjata kecuali pedang dalam sarungnya dan baju besi yang tersimpan.54 Termasuk dalam syarat perjanjian itu, siapa saja dari kabilah Arab lain, boleh masuk dalam perjanjian Quraisy atau Rasulullah SAW. Maka Khuzaah masuk dalam perjanjian bersama Rasulullah SAW sedangkan Banu Bakr bergabung dalam perjanjian itu di pihak Quraisy. Bahwa Muhammad dan rombongannya akan kembali ke Madinah tanpa mengunjungi Kabah pada kesempatan ini. Namun tahun depan pada saat yang sama, kaum Muslimin akan kembali ke Mekkah dan menetap di sana selama tiga hari tanpa senjata kecuali dalam al-Qirab.55 Demikianlah perjanjian tersebut berlangsung dalam rentang waktu sepuluh tahun, dengan ketentuan sepihak, bahwa kaum Muslimin tidak diperbolehkan memasuki kota Mekkah kecuali setelah melewati tahun tersebut. Mereka dapat menetap tiga hari lamanya dengan membawa pedang yang tersimpan dalam sarungnya.

52

. Shahih Bukhary ( Fathul bary, no hadits 2731, 2732), nampak dari perkataan Mikraz, bahwa ia tidak menghormati sikap Suhail yang meminta Abu Jundal (anaknya) agar dikembalikan ke Mekkah. 53 . Mereka harus menahan diri untuk tidak melakukan tindakan penyerbuan dan perampasansesuai dengan yang tertuang dalam kesepakatan perdamaian (Ibnul Atsir : an-Nihayah fi gharibil hadits, 3/327). 54 . al-Islaal adalah as-Sariqah (pencurian), ada yang mengatakan : salu as-Suyuf (pedang yang terhunus). Dan al-Ighlal artinya al-Khiyanat, menurut sebagian : al-Ighlal : memakai baju perang atau tameng (adzDzuru) (AN-Nihayah fi gharibil hadits, 2/392, 3/380). 55 . Pedang-pedang yang terbungkus dalam sarungnya (ghamdus suyuf). Musnad Ahmad, 4/325, melalui jalan Ibnu Ishaq, dengan isnad yang hasan, ia menerangkan dengan lafaz as-Sima (mendengar langsung) dalam Sirah Ibnu Hisyam, 3/308

Kedua belah pihak tidak boleh melakukan kegiatan apapun yang mengarah kepada permusuhan. Kedua belah pihak dipersilahkan untuk melakukan persetujuan atau beraliansi dengan kabilahkabilah Arab secara seimbang, namun dengan catatan bahwa kaum Muslimin harus mengembalikan (menyerahkan) orang-orang Islam yang melarikan diri kepada kaum Quraisy, dan sebaliknya, mereka yang melarikan diri kepada kaum Quraisy tidak dikembalikan kepada kaum Muslimin. Kenyataannya, bahwa beberapa sahabat merasa marah dan geram dengan tingkah laku Quraisy yang melakukan perundingan dengan Nabi SAW. dengan merubah butir-butir perundingan secara sewenang-wenang. Terbukti, ketika Ali bin Abi Thalib disuruh Nabi SAW untuk menghaus kata Rasulullah, ia menolaknya. dan akhirnya Nabi SAW menghapus sendiri kalimat tersebut sesu ai dengan yang diinginkan oleh Suhail bin Amer.56 Para sahabat marah, ketika di antara isi perjanjian yang tidak per (berat sebelah), dengan menuntut kaum Muslimin agar orang-orang yang melarikan diri (bergabung) kepada mereka, agar dikembalikan kepada pihak Quraisy, sehingga mereka mengajukan protes kepada Rasulullah SAW,Wahai Rasulullah! Apakah Anda mau saja untuk menuliskan perjanjian seperti itu? Jawab Nabi SAW,Ya. Barangsiapa yang pergi dari kita kepada mereka, maka Allah telah menjauhkannya, dan barangsiapa dari mereka yang datang kepada kita lalu kita mengembalikannya kepada mereka maka Allah akan menjadikan baginya keluasan dan jalan keluar.57

56

. Shahih Bukhary ( Fathul bary, no hadits 2699). Ibnu Ishaq mengatakan ,Karena tidak memandang perlu tulisan tersebut, maka beliau menuliskan apa yang dikehendaki Suhail) (Shahih Bukhary ( Fathul bary, no hadits 4251). Dan dalam riwayat yang lainnya disebutkan,Bahwa Ras ul SAW menghapus tulisan nama beliau dengan tangannya (Fathul bary, no hadits 2698, dari matan Shahih Bukhary). Dalam dua kondisi tersebut, beliau telah membaca kalimat,Rasulullah. namun hal itu tidak berarti menunjukkan bahwa beliau mengetahui bacaan dan tulisan, sebagaimana pendapat Abu Walid al-Bajy dan para pengikutnya; karena pengetahuan beliau terhadap kata-kata atau nama beliau sendiri secara beulangulang, dari segi tulisannya, tidak lantas mengeluarkan beliau dari pribadi beliau yang ummi (seorang yang tidak bisa membaca dan menulis), hal itu sejalan dengan apa yang diberitahukan dalam al-Quran al-Karim yang sekaligus menjadi hujjah yang kuat yang tidak bisa dibantah lagi. Jumhur berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan ungkapan,menuliskan.. d alam riwayat di atas adalah beliau menyuruh kepada seseorang untuk menuliskannya. Inilah pendapat yang paling selamat, demi menghindarkan diri dari syubhat dan keragu-raguan (Lihat Fathul bary, 7/504, Tartib al-Madarik, 4/805 57 . Shahih Muslim : kitab al-Jihad, 93.

Dan kemarahan besar nampak pada diri Umar bin Khaththab, ia segera datang kepada Rasulullah SAW, memprotes keputusan beliau seperti itu,Bukankah Engkau ini Nabi Allah? jawab beliau,Ya, aku ini Nabi Allah. Tanya Umar,Bukanlah kita berada di atas kebenaran dan musuh kita berada di atas kebatilan?. Jawab Nabi SAW,Ya. Lantas, mengapa kita berani merendahkan agama kita ini?. Beliau menjawab,Sesungguhnya, aku ini adalah Rasul Allah, pantang bagiku untuk berbuat maksiat kepada-Nya, dan Dialah satu-satunya penolongku. Bukankah Engkau pernah bilang, bahwa kita akan mendatangi Baitullah (Kabah) dan melakukan thawwaf di dalamnya. Tanya Umar. Jawab Nabi SAW,Ya, tapi apakah aku pernah memberitahukan kepadamu bahwa kamu akan mendatanginya tahun ini?. Kata Umar,Tidak. Beliau bersabda,Sesungguhnya kamu akan mendatanginya dan melakukan thawwaf di dalamnya.58 Alasan demi alasan telah beliau sampaikan kepada Umar, namun nampaknya Umar tidak puas terhadap alasan-alasan yang beliau sampaikan itu, sehingga ia datang kepada Abu Bakar r.a untuk melayangkan pertanyaan serupa dengan yang ditanyakannya kepada Rasulullah SAW. Abu Bakar mengatakan,Wahai Umar! Peganglah dengan kuat pijakannya59 di mana saja! Sesungguhnya aku bersaksi bahwa adalah benar-benar utusan Allah. Kata Umar,Ya, aku juga seperti itu.60

58 59

. Shahih Bukhary ( Fathul bary, no hadits 2731, 2732) . Musnad Ahmad, 4/325 dengan isnad yang hasan, Ibnu Ishaq menyatakan dengan jelas dalam Sirah Ibn Hisyam. 3/308 dengan lafazh tahdits (menceritakan) . di dalamnya disebutkan bahwa ketika itu Umar berbicara terlebih dahulu dengan Abu Bakar r.a, kemudian mengulangi pembicaraan dengan Rasul SAW. dan yang dimaksud dengan ungkapan peganglah pijakannya (ilzam gharzahu) adalah peganglah perintahnya dengan kuat dan janganlah menyalahi perintahnya, seperti orang yang memegang kendali kendaraannya, ia tidak melepaskannya kemanapun ia menuju, ( Fathul bary, no hadits 5/346).

Setelah mendapatkan jawaban dari Abu Bakar, barulah ia diam, lalu selang beberapa saat kemudian ia berkata,Aku senantiasa shaum, bersedekah dan memerdekakan hamba sahaya ; karena perkataanku pada hari itu. Aku merasa khawatir atas ucapan yang telah aku sampaikan kepada beliau, ketika aku mengharapkan keadaan perdamaian itu berjalan dengan baik.61 Sikap yang dilakukan Umar terhadap Rasulullah SAW seiring dengan hikmah yang terkandung dalam perjanjian tersebut. Pada dasarnya, ia berharap agar orang-orang musyrik memperoleh kehinaan dan kekalahan. Apa yang telah dilakukan Umar bisa dimaafkan, bahkan usahanya bisa bernilai pahala, karena ia telah melakukan ijtihad.62 Sebelumnya, kaum Muslimin tidak ragu untuk memasuki kota Mekkah, namun ketika terjadi perundingan tersebut, mereka menderita sakit hati yang dalam, hamper-hampir mereka binasa, khususnya ketika mereka kedatangan Abu Jundal yang menyengaja menyatakan diri untuk beraliansi dengan kaum Muslimin, ia mengatakan,Wahai sekalian kaum Muslimin! Mengapa kalian akan mengembalikanku kepada ahli syirik; padahal mereka akan menimpakan fitnah kepadaku dalam agamaku. Mendengar ucapan Abu Jandal seperti itu, Rasulullah SAW mengingatkan dia dengan sabdanya,Wahai Abu Jundal! Bersabarlan dan berharaplah untuk mendapatkan pahala di sisi Allah, karena Allah Azza Wa Jalla akan memberikan jalan keluar bagimu dan bagi orang-orang lemah sepertimu.63 Dan ketika itu Umar ikut menimpali sambil mendekatkan pegangan pedang pada Abu Jandal, ia berharap Abu Jandal mengambil pedang itu lalu menebaskannya pada leher ayahnya (Suhail) yang masih musyrik, namun usaha Umar tidak direspon oleh Abu Jundal; karena itu Umar pun segera memasukan pedangnya kembali.64 Sementara itu, di antara kaum Muslimin ada sebagian yang mendukung penuh mengenai putusan yang diambil Nabi SAW, dia adalah Sahal bin Hanif yang mengatakan pada hari perang Shiffin:

60 61

. Musnad Ahmad, 4/325 dengan isnad hasan. . Ibid 62 . Shahih Bukhary ( Fathul bary, no hadits 5/346-347) 63 . Musnad Ahmad, 4/325 dengan isnad hasan. 64 . Ibid

Tuduhlah pemikiran kalian! Demi Allah, pada hari Abu Jandal, seandainya aku bisa menolak perintah Rasulullah SAW, maka aku akan menolaknya.65 Tidak diragukan lagi, bahwa rasa kesal Umar dan ketidak-setujuan sebagian sahabat terhadap perdamaian yang diambil, dengan menyalahi pendapat yang diridlai Rasul SAW, padahal apa yang sudah menjadi ketetapannya merupakan nash yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Maka dari itu, ketika mereka mengetahui (menyadari) bahwa sesungguhnya tidak ada sikap yang harus mereka tampilkan terhadap perintah Allah itu melainkan dengan menerima dengan penuh ketundukan dan kepasrahan (at-Taslim). Hal tersebut sejalan dengan firman Allah SWT,Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.66 Sikap provokasi yang dilakukan oleh kaum Quraisy tidak hanya berlangsung di sela-sela perundingan, namun berlangsung hingga perjanjian itu telah terwujud. Dan ironisnya, sikap tersebut tidak hanya dilakukan oleh orang-orang awam dari mereka, seperti para pemudanya yang pandir, namun hal itu dilakukan oleh para pemimpin Quraisy selaku tim pelaksana dalam perundingan dan mereka melakukannya dalam keadaan sadar. Tujuan utama mereka adalah guna memberikan tekanan mental terhadap kaum Muslimin. Namun hikmah dari peristiwa tersebut menjadikan kaum Muslim berada dalam sikap siaga penuh. Puncak kesewenang-wenangan mereka terbukti, ketika 80 orang melakukan penyerangan dan penyerbuan terhadap tenda-tenda kaum Muslimin, semuanya berhasil tertangkap, kemudian mereka dimaafkan dan dibebaskan oleh Rasulullah SAW.67 Penyerangan lainnya dilakukan oleh 30 orang pemuda Quraisy di saat perjanjian tengah ditulis, semuanya juga berhasil ditawan oleh kaum Muslimin, dan akhirnya dibebaskan oleh Nabi SAW. Setelah perjanjian mencapai kata sepakat di antara kedua belah pihak, empat orang dari kaum musyrikin berusaha untuk mencelakai Rasul SAW, semuanya berhasil ditangkap oleh Salamah bin Akwa dan diserahkan kepada Rasul SAW, beliau pun memberi maaf kepada mereka, sepe rti halnya beliau telah melakukannya kepada 70 orang kaum musyrikin yang lainnya, pada saat
65 66

. Shahih Bukhary ( Fathul bary, no hadits 3181, 4189) . QS. Al-Ahzab ayat 36 67 . Shahih Muslim : kitab al-Jihad, 133

perjanjian telah dinyatakan kata sepakat68. Dan terkait dengan peristiwa tersebut turun ayat,Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Mekah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka, dan adalah Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.6970 Menyaksikan peristiwa-peristiwa di atas ditambah pandangan sebagian besar para sahabat terhadap persyaratan perjanjian yang merugikan dan lebih menguntungkan pihak musyrikin Quraisy, hal ini memicu kemarahan dalam diri para sahabat. Sampai-sampai perintah Rasulullah kepada mereka untuk menyembelih hewan qurban dan mencukur rambut kepala mereka, tidak ada seorangpun yang menaatinya, walaupun sampai beliau ulangi perintah ini sebanyak 3 kali. Lalu beliau menemui istrinya, Ummu Salamah (bermusyawarah), dan menceritakan kepadanya tentang sikap kaum Muslim. Setelah beliau bermusyawarah dengan Ummu Salamah, beliau lalu bangkit, kemudian mengerjakan apa yang diusulkan Ummu Salamah. Seketika itu juga, para Sahabat yang melihat Rasulullah SAW. menyembelih hewannya dan menyuruh seseorang untuk mencukur rambutnya serta-merta bangkit untuk memotong hewan sembelihan mereka dan saling mencukur rambut, seakan-akan mereka akan saling membunuh karena riuhnya71, tanpa ada perasaan keluh-kesah dan penyesalan atas tindakan Rasulullah SAW. yang mendahului mereka. Pada saat itu, Rasulullah SAW berdoa sebanyak tiga kali untuk mereka yang mencukur kepalanya (mencukur habis rambutnya), dan satu kali untuk yang memendekkannya 72. Dan pada waktu itu, jumlah unta yang disembelih oleh kaum Muslimin sebanyak 70 ekor 73, dan satu ekor dibagikan kepada tujuh orang74. Nabi SAW menyembelih unta yang sebelumnya milik Abu Jahal yang berhasil dirampas oleh kaum Muslimin pada perang Badar, hal itu memicu kejengkelan (kemarahan) orang-orang

68

.Musnad Ahmad, 4/86, dengan isnad yang rawi-rawinya kuat, sebagaimana dikatakan oleh al-Haitsamy (Majma az-Zawaid, 6/145), Imam al-Hakim mengatakan,haditsnya shahih dengan syarat ash -Shahihain (Bukhari dan Muslim) (al-Mustadrak, 2/460). 69 . QS. Al-Fath ayat 24 70 . Shahih Muslim : kitab al-Jihad 132 71 . Shahih Bukhary ( Fathul bary, no hadits 2731, 2732), dan Musnad Ahmad, 4/326 72 . Musnad Ahmad, 2/34, 151 dengan isnad yang shahih 73 . Musnad Ahmad, 4/324 dengan isnad yang hasan 74 . Shahih Muslim, kitab al-Hajj, 35

musyrik75. Dan beliau menyembelih binatang kurbanyna di hudaibiyyah, diluar wilayah Mesjid al-Haram76, sementara binatang kurban yang lainnya dibawa oleh Najiyah bin Jundah (sebagai penangungjwab urusan binatang kurban pada saat itu) menuju daerah yang termasuk ke dalam wilayah Masjidil Haram77. Demikianlah kaum Muslimin melakukan tahallul di saat mereka melakukan umrah, disyariatkan untuk bertahallaul bagi yang melakukan ihshar (pembatalan janji karena suatu halangan) dan tidak diharuskan baginya untuk mengqadla. Kemudian, Rasulullah SAW menyuruh orang-orang agar melakukan persiapan untuk berangkat ke Madinah, setelah bermukim di Hudaibiyyah selama duapuluh hari lamanya78. Perjalanan mereka pulang-pergi menghabiskan waktu selama satu bulan setengah.79 Dalam perang Hudaibiyyah, Nabi SAW mengidzinkan kepada Kaab bin Ajrah setelah ia melakukan ihram untuk umrah untuk mencukur habis kepalanya, karena penyakit yang menimpanya dengan membayar ganti (fidyah) atas hal itu, yaitu : dengan menyembelih seekor kambing, atau shaum selama tiga hari, atau memberi makan enampuluh orang miskin . Terkait dengan peristiwa tersebut turun ayat,Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban.80 81 Dan pada perang Hudaibiyyah pernah mengidzinkan kepada para sahabatnya untuk melaksanakan shalat di rumah-rumah mereka ketika turun hujan lebat.82 Dalam perang tersebut terdapat pelajaran berharga lainnya, terkait dengan bagaimana Nabi SAW menerapkan system musyawarah dalam Islam, di mana beliau telah meminta pendapat kaum

75

. Sunan Abi Daud, dengan Maalim as-Sunan, kitab al-manasik, 1749. Shahih Ibnu Khuzaimah, 4/286287. Dan al-Mustadrak al-Hakim, 1/467, dan ia mengatakan,shahih berdasarkan syarat Muslim, meskipun keduanya tidak mengeluarkannya. 76 . Shahih Bukhary ( Fathul bary, no hadits 2701) dan Shahih Muslim, kitab al-Jihad wa as-Sair, 97. 77 . Ath-Thahawiyyah : Syarah maani al-Atsar, 2/242 dengan isnad yang shahih 78 . Al-Waqidy : Maghazy, 2/616 dan Ibnu Saad : Ath-Thabaqaat al-Kubra, 2/98. 79 . Ibnu Sayyid an-Nas : Uyun al-Atsar, 2/123 dari riwayat Ibnu Aidz. 80 . QS. AL-Baqarah ayat 196 81 . Shahih Bukhary ( Fathul bary, no hadits 1816, 1817, 1818, 4190), dan Shahih Muslim, kitab al-Hajj, 80, 82, 83, 84, 86). 82 . Ibnu Majah : Sunan, Iqamat ash-Shalat, 936,d engan isnad yang shahih, dan disahkan oleh Ibnu hajar dalam Fathul bary, 2/113.

Muslimin (bermusyawarah dengan mereka) dalam melakukan penyerangan balasan terhadap orang-orang musyrik, dan ketika itu pendapat Abu Bakar yang menjadi pilihan beliau.83 Dan beliau jugan pernah bermusyawarah dengan Ummu Salamah terkait dengan sikap para sahabat yang tidak merespon suruhan beliau ketika diperintahkan untu menyembelih dan mencukur rambut, beliau ketika itu berbuat dan bertindah atas saran yang disampaikan oleh Ummu Salamah.84 Dari peristiwa peperangan Hudaibiyyah terebut dapat ditarik kesimpulan bahwa batasan maksimal di mana kita diperbolehkan untuk melakukan gencatan senjata (perdamaian) dengan orang-orang kafir adalah seperti yang terdapat di dalamnya perjanjian tersebut; karena secara hukum asal sikap kita terhadap mereka adalah berperang, bukan untuk berdamai. Intinya, peristiwa tersebut dapat dijadikan sebagai dalil mengenai bolehnya kita untuk melakukan perdamaian dengan orang-orang kafir, demi mengembalikan orang-orang yang datang dari mereka dalam keadaan selamat, atau sebaliknya, mereka mengembalikan kaum Muslimin yang datang kepada mereka dengan selamat pula. Dalam peristiwa tersebut, Rasulullah SAW menjelaskan beberapa masalah akidah, bahwa orang yang mengatakan,Bintang telah menurunkan hujan untuk kami. Termasuk kafir kepada Al lah, dan beriman kepada bintang.85 Dan beliau menjelaskan untuk tetap memiliki sikap optimis, sebagaimana beliau sampaikan ketika melihat kedatangan Suhail bin Amer, beliau bersabda,Semoga ia memudahkan jalan bagi kalian.86 Diperbolehkan untuk melakukan tabarruk dengan atsar nabi SAW, seperti berwudlu dengan bekas air yang telah dipergunakan oleh beliau, hal itu merupakan suatu kekhususan bagi beliau, berbeda dengan atsar orang-orang shalih sepeninggal beliau.87 Cerita mengenai perjalanan pulang kaum Muslimin, di mana di tengah-tengah perjalanan mereka tertidur lelap, hingga waktu shubuh telah meninggalan mereka, tidak ada seorangpun yang bangun kecuali pada saat matahari mulai terasa panas. Bahkan Bilal bin Rabah yang biasa membangunkan orang-orang untuk shala shubuh terlelap tidur. Setelah terbangun, mereka segera

83 84

. lihat ha. 130 . Lihat hal. 140 85 . Shahih Bukhary ( Fathul bary, kitab al-Adzan, 846) 86 . Ibnul Qayyim : Zaadul Maad, 3/305. Dan lihat Fathul Bary, kitab ath -Thibb, 5755, 5756. 87 . Asy-Syathiby : Al-Ithisham, 2/8

melakukan shalat shubuh yang telah keluar dari waktunya. Maka hal itu menjadi sunnah (dasar) mengenai bolehnya melaksanakan shalat diluar waktu yang telah ditentukan, ketika ketiduran atau lupa melaksanakannya.88 Salamah bin Akwa meriwayatkan tentang Mujizat Rasulullah SAW yang terjadi di sela-sela perjalanan pulang, di mana makanan dan minuman yang sedikit bisa menjadi banyak, ia mengatakan,Sewaktu kamu keluar bersama Rasulullah SAW pada suatu peperangan, kami mengalami kepayahan (kekurangan makanan), sehingga mendorong kami untuk menyembeli binatang tunggangan kami.89 Lalu Nabi SAW menyuruh kami agar mengumpulkan semua bekalbekal yang kami bawa90, selanjutnya kami membentangkan nithan91, dan tidak lama kemudian makan terkumpul banyak dalam wadah-wadah kami. Kata Salamah,Aku berusaha untuk mencari tahu berapa makanan yang terkumpul tersebut. Ternyata makanan tersebut terkumpul bagaikan bukit, padahal jumlah kami pada waktu hanya 1400 orang. Kami semua makan hingga kenyang, dan kami penuhi wadah-wadah kami dengannya. Selang beberapa saat, Rasulullah SAW bertanya,Adakah tersedia air untuk berwudlu? Ada seorang laki-laki datang sambil membawa Adawah92 miliknya, dan pada bejana tersebut masih tersisa sedikit air, lalu ia menuangkannya ke dalam sebuah wadah tiba-tiba air tersebut menjadi melimpah, sehingga kami semua berwudlu, dengan air tersebut.93 Dalam perjalanan menuju kota Madinah, turun surat al-Fath, Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.94 Ketika ayat tersebut turun, Rasulullah SAW mengekspresikan rasa kebahagiaanya yang sangat mendalam lewat sabdanya,Telah turun kepadaku tadi malam surah yang benar-benar membuatku merasa senang melebihi rasa senang ketika melihat matahari terbit di sebelah timur.
88

. Sunan Abi Daud, dengan Maalim as -Sunan : kitab ash-Shalat, 447. AN-Nasaai : as-Sunan al-Kubra, 119, dishahihkan oleh AL-Haitsamy, di dalam sanadnya terdapat Abdurrahman bin Abi Alqamah, dari kalangan Tabiin, yang dikuatkan oleh Ibnu Hibban, sementara yang lain tidak ada seorangpun yang mengeluarkannya (Majma az-Zawaid, 1/319, Tsiqaat Ibn Hibban, 5/106, Tahdzib at-Tahdzib, 6/233), dan Fathul Bary, 1/449. 89 . Maksudnya, unta-unta kami. 90 . Yakni, wadah-wadah perbekalan kami. 91 . Sejenis tikar yang terbuat dari kulit itu. 92 . Bejana kecil yang terbuat dari kulit yang biasa dipakai untuk membawa air. 93 . Shahih Muslim, kitab al-Luqathah, 19. Dan lihat Shahih Bukhary ( Fathul bary, no hadits 4152), AlFaryaby : Dalaail an-Nubuwwah, hadits tentang makan yang sedikit menjadi banyak yang diterima dari Umar r.a. Ahmad : al-Musnad, 3/417-418, dari Abi Amrah al-Anshary. Dan al-Baihaqi : Dalaail anNubuwwah, 2/223-223. 94 . Shahih Bukhary ( Fathul bary, no hadits 4177), ayat tersebut adalah ayat pertama dalam surat al-Fath.

Anas bin Malik mengatakan,Firman Allah,Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. Berkenaan dengan perjanjian Hudaibiyyah. Ketika para sahabat lain mengatakan,Duhai alangkah senang dan bahagia perasaan kami, seketika itu turun ayat,Supaya Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.95 96 Keesokan harinya, orang-orang bergegas menemui Rasulullah SAW yang ketika itu tengah berada di antas untanya di Kara al-Ghamim, lalu beliau membacakan kepada mereka,Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. Ketika itu ada seorang sahabat yang bertanya,Wahai Rasulullah! Apakah itu tanda kemenangan bagi kita? jawab beliau,Ya, demi Dzat Yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya ia adalah kemenangan.97 Mendengar pernyataan Nabi SAW semacam itu, sontak penderitaan dan kesedihan yang tengah membayangi jiwa-jiwa kaum Muslimin berubah 180 derajat menjadi kebahagiaan yang membuncah. Mereka sadar betul bahwa, tidak mungkin hanya mengandalkan kepada usaha dan hasil. Hanya dengan menyerahan diri secara penuh (at-Taslim) kepada perintah Allah dan Rasul-Nya, semua kebaikan bagi mereka dan bagi dawah Islam (kebaikan dunia dan akhirat) dapat tercapai. Berikutnya, akan disebutkan beberapa peristiwa lain yang intinya menguatkan hikmah yang mendalam dan hasil yang besar dalam perjanjian Hudaibiyyah yang Allah Taala sendiri menamakannya dengannya,Kemenangan yang nyata. Karena kaum Quraisy sudah sekian lama tidak mau mengakui sedikitpun keberadaan kaum Muslimin, dan bahkan mereka menggambarkan kaum Muslimin dengan gambaran yang paling buruk, mereka menentang keras keberadaan mereka di dalam kota Mekkah dan seluruh penjuru Jazirah Arab. Namun ternyata ada sebagian sikap berlawanan yang ditampakkan oleh sebagian dari mereka yang dengan terus terang menyatakan inisiatifnya ingin berkoalisi dan bergabung dengan kaum

95 96

. QS. Al-Fath ayat 5 . Shahih Bukhary ( Fathul bary, no hadits 4172), Qatadah menjelaskan sebuah riwayat dari Anas, bahwa penafsiran surat al-Fath yang turun di Hudaibiyyah, bersumber dari Anas. Adapun ungkapan,Par a sahabat mengatakan,Duhai alangkah senang dan bahagia perasaan kami. Bersumber dari

Ikrimah.
97

. Sunan Abi Daud, dengan Maalim as -Sunan, kitab al-Jihad, 2736. Sunan Ahmad, 3/420, dan Mustadrak al-Hakim, 2/459, ia mengatakan,Hadits besar (panjang) yan g shahih secara isnad, meskipun Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya tersebut, tapi adz-Dzahaby menyepakatinya.

Muslimin adalah Bani Khuzaah, tanpa ada rasa takut sedikitpun terhadap kaum Quraisy. Dan sikap seperti itu memiliki keterkaitan sejarah sejak lama; di mana Bani Khuzaah sudah sejak dulu bermusuhan dengan Bani Bakar dari Kinanah yang mendapat dukungan penuh dari kaum Quraisy. Sikap dukungan Quraisy tersebut lah yang memotivasi Bani Khuzaah untuk bergabung dan berkoalisi dengan Abdul Muthallib bin Hasyim, kakek Rasul SAW, hal tersebut diisyaratkan oleh Amer bin Salim dalam qasidahnya yang dengannya beliau memperoleh kemenangan sebelum terjadi penaklukkan kota Mekkah, Amer bin mengatakan,Sekutu orang tua kami dan orang tuanya.98 Ada catatan penting di sini, bahwa sikap dukungan Bani Khuzaah terhadap kaum Muslimin nampak jelas sejak berdiri negara mereka di Madinah, dan sikapnya secara terus terang baru diumumkan sewaktu terjadi peristiwa di Hudaibiyyah. Sikap simpati Bani Khuzaah terhadap Nabi SAW, baik mereka Muslim maupun yang kafir, tidak mereka sembunyikan sedikitpun di kota Mekkah.99 Namun mereka menyembunyikan hakekat sikap simpatinya itu terhadap kaum Muslimin dari kaum Quraisy, hal itu dimaksudkan dalam rangka menjaga hubungan baik bersama kaum Quraisy pada waktu itu. Perjanjian damai yang telah terbentuk, memberi peluang dan kesempatan untuk menangani secara focus tentang kaum Yahudi Khaibar yang dengan sengaja membuat kekacauan pada peperangan Khondaq dan setelahnya. Dan perjanjian tersebut juga memberi peluang kepada kaum Muslimin untuk menyebarkan Islam lebih luas lagi. Az-Zuhry mengatakan,Tidak ada kemenangan yang diperoleh dalam Islam yang lebih besar daripadanya. Sesungguhnya peperangan itu terjadi tatkala manusia telah berjumpa, lalu ketika terjadi gencatan senjata yang menandakan bahwa perang telah berakhir, orang-orang telah beriman secara kelompok. Setiap kali berjumpa, mereka selalu melakukan negosiasi, baik dalam pembicaraan maupun perselisihan. Tidak ada seorangpun berbicara tentang Islam, lalu ia

98

. Sirah Ibn Hisyam, 2/394, dari riwayat Ibnu Ishaq, Maghazy al-Waqidy, 2/789, Tarikh ath-Thabary, 4/45 dan Ibnu Zanjawaih, 1/401. 99 . Sirah Ibn Hisyam, 743, terbitan Kairo, dan ath-thabary, 1428, terbitan Eropa.

paham padanya, melainkan ia akan memasukinya, dan sungguh orang yang memasukinya selama dua tahun, sama dengan mereka yang memasuki agama sebelumnya.100 Ibnu Hisyam mengatakan,Dalil yang dijadikan alasan oleh Az-Zuhry, bahwa Rasulullah SAW berangkat menuju Hudaibiyyah bersama dengan 1400 pasukan.101 Lalu pada tahun penaklukkan kota Mekkah Rasullulah SAW , mereka berangkat bersama 10 hingga 12 ribu pasukan. Hikmah lain dari peristiwa perjanjian Hudaibiyyah, bahwa pada saat Rasulullah SAW tiba di kota Madinah, ada seorang yang baru memeluk Islam, namanya Abu Bashir, ia lari dari kejaran orangorang Quraisy dan segera berangkat menemui Nabi SAW. Kaum Kafir mengutus dua orang untuk membawanya kembali ke Makkah. Sesuai dengan perjanjian, Baginda Nabi SAW. mengembalikan Abu Bashir r.a. kepada dua orang utusan Quraisy itu, namun diperjalanan ia berhasil membunuh salah seorang dari keduanya, sementara yang lainnya kabur ke kota Madinah, kemudian dikejar oleh Abu Bashir, dan sesampainya di hadapan nabi SAW, ia mengatakan, Ya Rasulullah, engkau telah memenuhi janjimu dengan mereka, dan aku pun telah dipulangkan. Namun, aku tidak janji apa pun yang menjadi tanggung jawabku terhadap mereka. Kulakukan semua ini karena mereka berusaha mencabut agama dari diriku." Nabi Saw menjawab,Ini penyulut api peperangan! Seandainya ada yang membantu. Tatkala ia mendengar hal itu, ia sadar bahwa beliau akan mengembalikannya kepada orang-orang kafir, maka ia memutuskan untuk pergi ke sebuah pantai (Saif al-Bahr).102 Dari sabda Rasul SAW itu, dipahami oleh kaum Muslimin Mekkah, bahwa Abu Bashir memerlukan beberapa orang untuk berangkat ke ke sana. Berita ini diketahui oleh orang-orang Islam yang ada di Makkah seperti Abu Jandal bin Suhail bin Amer dan yang lainnya, yang telah diceritakan dalam kisah sebelumnya, ia bergabung dengan Abu Bashir, demikian pula orangorang yang telah masuk Islam, banyak yang bergabung dengan Abu Bashir, sehingga dalam beberapa hari saja, mereka manjadi sebuah rombongan besar. Di tempat di mana mereka tinggal, lewat rombongan kafilah dagang Quraisy, maka dengan segera mereka mencegatnya, mereka membunuh orang-orang tersebut dan mengambil perbekannya.
100 101

. Sirah Ibn Hisyam, 3/322 . Ibid 102 . Shahih Bukhary ( Fathul bary, no hadits, 5/332) hadits no. 2731, 2732.

Kaum kafir di Makkah pun merasa prihatin atas kejadian tersebut, sehingga mereka terpaksa mengutus seseorang untuk menjumpai Nabi SAW dan merayunya atas nama Allah dan kekeluargaan, serta menjamin orang yang datang ke Mekkah pasti akan aman. Singkat cerita, Nabi SAW segera mengirim utusan kepada mereka103 yang ketika itu berada di daerah al-Aish, dan jumlah mereka ketika itu mencapai enampuluh hingga tujuhpuluh orang.104 Melalui kisah perjalanan Abu Jundal dan Abu Bashir dan apa yang diperjuangkannya demi mempertahankan akidah, kedaunya termasuk orang-orang yang memiliki keteguhan (ats-Tsabat) ketulusan (al-Ikhlas), tegad yang kuat (al-Azimah) dan kesungguhan (al-Jihad), sehingga membuat kepala orang-orang musyrik berlumuran tanah (pusing dan stress dibuatnya), dan mereka dimohon agar meminta kepada kaum Muslimin agar meninggalkan persyaratan yang telah mereka buat di dalam perjanjian Hidaibiyyah. Kisah tersebut, sebagai contoh konkrit tentang keharusan untuk tetap berlaku teguh (ats-Tsabat) di atas akidah, senantiasa berjuang untuk menolong dan mempertahankannya. Kisah tersebut mengajarkan, konsep dasar dalam sebuah perjuangan, di mana setiap elemen masyarakat punya andil masing-masing, baik secara individu maupun sebagai kelompok (jamaah), terkadang ada hal-hal yang bisa dilakukan oleh individu dan tidak bisa dilakukan oleh jamaah, atau sebaliknya. Apa yang telah dilakukan oleh Abu Bashir dan kelompoknya patut menjadi bahan pelajaran yang sangat berharga, peranan dan jasanya terhadap Islam sangat luarbiasa, di mana ia mampu membuat orang-orang musyrik tak berdaya dibuatnya, di saat negara Islam tidak mampu untuk melakukan perannya dalam menyikapi masalah yang terjadi dalam perjanjian Hudaibiyyah.

103 104

. Ibid . Al-Baihaqy : as-Sunan al-Kubra, 9/227 dengan isnad yang terdapat di dalamnya Yunus bin Bakir, dia seorang yang Shaduq (benar), namun sering salam, hadits tersebutderajatnya hasan; mengingat banyak hadits pendukungnya. Hadits tersebut dibawakan melalui jalan Ibnu Ishaq, dan dibawakan pula oleh alBaihaqy, melalui riwayat az-Zuhry secara mursal. Ia menjelaskan, bahwa ketika berada di al-Aish mereka berjumlah 300 orang. Dan pada saat itu Abu Bashir telah diserahi surat Rasul SAW kepadanya. Sewaktu ia meninggal, surat beliau masih berada di tangannya, lalu jasadnya dikuburkan oleh Abu Jundal di tempat di mana ia meninggal. Dan setelah itu ia berangkat menemui Rasul SAW di Madinah disertai beberapa orang yang masih bersamanya (Dalail an-Nubuwwah, 2/343-344). Riwayat yang sama dibawakan melalui jalan Urwah secara mursal (Dalalil an-Nubuwwah, 2/245). Mursal itu adalah hadits yang lemah, ia menjadi kuat manakala banyak sumber lain yang mendukungnya. Mengingat Urwah itu adalah gurunya Az-Zuhry, sedangkan Az-Zuhry termasuk rawi yang memiliki keluasan dalam riwayat. Dan kemungkinan kuat bisa jadi bahwa sumber riwayatnya hanya satu, jadi riwayat di atas tidak kuat.

Namun demikian, apa yang telah dilakukan Abu Bashir dan sahabatnya yang secara lahiriyyah di luar kekuasaan Islam yang berada di kota Mekkah, bukan semata-mata ijtihad pribadi yang tidak mendapatkan putusan dan dukungan Rasul SAW; tapi apa yang dilakukannya itu berada dalam kendali penuh Rasul SAW, antara menyuruh untuk mencegah para kafilah musyrikin terlebih dulu, atau kembali ke kota Mekkah. Semua itu ternyata tidak sampai terjadi, maka dengan demikian hal itu adalah sebagai bentuk persetujuan beliau terhadap sikap yang telah diambilnya. Sikap yang diambil oleh Abu Bashir dan para sahabat yang lainnya berada dalam puncak hikmah, di mana kaum Muslimini tidak akan pernah berdiam diri atau merasa tenang melihat tindakan sewenang-wenang kaum Quraisy yang ingin menimpakkan fitnah dalam agama (akidah) kaum Muslimin dan mencegah mereka untuk memasuki kota Madinah. Oleh karena itulah, Abu Bashir dan para sahabatnya berani memilih sikap atau tindakan yang bisa membebaskan mereka dari hal itu, dan memberikan beberapa andil penting untuk negara guna melemahkan perekonomian musyrikin Mekkah dan mengguncang rasa aman dari mereka selama masa perjanjian berlangsung. Bahkan, mungkin bisa dikatakan, bahwa sikap yang diambil oleh Abu Bashir dan para sahabatnya itu muncul karena isyarat dan dorongan yang berasal dari Nabi SAW. ketika beliau bersabda ,Ini penyulut api peperangan! Seandainya ada yang membantu. Pada saat itu, ada beberapa orang yang datang menemui Rasulullah SAW, mereka meminta kepada beliau untuk mengembalikan seluruh kaum Muslimin yang melarikan diri dari kaum Quraisy, namun permintaan itu ditolak oleh beliau; mereka yang dikembalikan hanya kaum Muslimin laki-laki saja, sementara para wanitanya tidak dikembalikan, tindakan beliau didasarkan kepada kesepakatan yang termaktub dalam perjanjian. Ketika itu, ada beberapa orang wanita Muslimah yang datang menemui beliau, antara lain Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abi Muaith yang diminta oleh keluarganya untuk dikembalikan kepada mereka, tapi oleh beliau ditolak. Tentang kasus itu Allah menurunkan ayat,Apabila datang berhijrah kepadamu perempuanperempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang

kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.105 Rasulullah SAW menguji para wanita itu berdasarkan perintah dari Allah, siapa yang menerima syarat-syarat tersebut, yaitu : barangsiapa yang keluar atas dasar Islam, maka beliau menahannya (tidak mengembalikannya ke pihak Quraisy), dengan memberikan mahar mereka kepada para suaminya, padahal sebelum perjanjian berlangsung, beliau tidak mengembalikan mahar-mahar mereka kepada para suaminya.106 Tindakan beliau yang menolak untuk mengembalikan para wanita Muminah dan hanya mengembalian kaum laki-lakinya saja; karena kalimat yang tertulis dalam perjanjian sama sekali tidak menunjukkan bahwa mereka juga termasuk dalam perjanjian itu. Sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari, bahwa Suhail berkata,Dengan syarat tidak ada seorangpun yang datang dari kami (dari Mekah) meskipun ia berada di atas agamamu (Islam) kecuali engkau mengembalikannya kepada kami.107 Hal tersebut, dikarenakan al-Quran sendiri menyatakan,Apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka.108 ayat ini menghapus (menasakh) apa saja yang menjadi hak para wanita yang berhijrah. Dan ayat inilah yang mengharamkan wanita Muslimah dinikahkan dengan orang-orang musyrik yang pada permulaan Islam diperbolehkan. Kaum Muslimin diperintahkan agar memfasakh (membatalkan) pernikahan dengan wanita musyrikah, hal tersebut sejalan dengan firman Allah,Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir.109 Yang nampak menarik dalam kejadian ini, adalah masuk Islamnya Khalid bin Walid dan Amer bin Ash, yang keduanya merupakan tokoh sentral kaum Quraisy Mekkah. Keduanya masuk Islam setelah kaum Quraisy menyatakan untuk menarik diri dari persyaratan yang menuntut
105 106

. Shahih Bukhary ( Fathul bary, no hadits 2711, 2712, 5/425) . Sirah Ibn Hisyam, 3/326 melalui jalan Urwah secara mursal. Dan al-Baihaqy, melalui jalan az-Zuhry dan Abdullah bin Abi Bakar bin Hazm secara mursal 107 . Shahih Bukhary ( Fathul bary, no hadits 2711, 2712), tetapi di sebutkan dalam jilid 6 hal. 340, melalui jalan al-Laits, dari Uqail kataahadun sebagai ganti dari kata rajulun seandainya mungkin d ilakukan tarjih, dengan jalan membandingkan masing-masing riwayat dan memberikan catatan terhadap kesatuan (susunan) kata dari berbagai sumber, memungkinkan untuk dikatakan, bahwa mereka (para wanita itu) tanpa diragukan lagi tidak tercakup kedalam orang-orang yang berada dalam perjanjian. 108 . Shahih Bukhary ( Fathul bary, no hadits 2711, 2712) 109 . Ibid, as-Sunan al-Kubra, 9/228 dan Tafsir Ibn Katsir, 4/351.

pengembalian kaum Muslimin yang datang dari kota Mekkah dan bergabung dengan kaum Muslimin di Madinah, di mana tidak ada isyarat dari pihak Quraisy untuk meminta keduanya agar dikembalikan kepada mereka. Perdamaian Hudaibiyyah bertahan sekitar tujuh belas atau delapan belas bulan lamanya, terjadilah pengkhianatan kaum Quraisy atas perjanjian damai yang telah disepakati dengan kaum Muslimin. Antara Bani Bakr dan Bani Khuzaah terjadi peperangan. Kaum Quraisy membantu sekutunya,110 Bani Bakr. Maka Bani Kuzaah yang menjadi sekutu umat Islam. Itulah salah satu penyebab langsung terjadinya penaklukan kota Mekkah.

110

. Al-Bidayah wa an-Nihayah, 4/278 dengan isnad yang hasan, Mawarid azh-Zhaman ila Zawaaid Ibn Hibba, 414, Majmu az-Zawaaid, 6/162, Kasyful astar an zawaaid al-Bazzar, 2/342.Ibnu hajar mengatakan tentang isnad al-Bazzar : bahwa ia derajatnya hasan maushul (bersambung) (Fathul bary, 7/520)

Korespondensi Nabi SAW Dengan Beberapa Raja Dan Amir Perjanjian Hudaibiyyah merupakan kesempatan bagi kaum Muslimin untu memperluas cakupan dawah Islam, baik ke dalam maupun ke luar Jazirah Arab. Nabi SAW telah mengirim Dihyah bin Khalifah al-Kalby agar menyampaikan surat beliau kepada Hiraklius kaisar Romawi, Abdullah bin Hudazafah as-Sahmy menyampaikan surat kepada penguasa Kisra penguasa Persia, Amer bin Umayah adl-Dlamiry diutus untuk mengirimkan surat kepada Najazyi raja Habasyah (Ethafia), Hatib bin Abi Baltaah al-Lakhmy dikirim untuk membawa surat kepada Muqauqis raja Mesir, dan Salith bin Amer al-Amiry diutus untuk menyampaikan surat kepada Haudzah bin Ali al-Hanafy pemimpin Yamamah.111 Menurut keterangan al-Waqidy dan ath-Thabary, surat-surat tersebut dikirim pada bulan Dzil Qadah tahun ke 6 H.112 Sedangkan menurut Ibnu Saad bulan Muharram tahun ke 7 H113 pendapat serupa dikemukakan oleh Ibnul Qayyim.114 Menurut Ibnu Saad, terkait dengan surat kepada Kisra penguasa Persia, dikirim pada hari malam Selasa tanggal 10 Jumadal Ula tahun ke 7 H. persis tahun di mana Kisra terbunuh.115 Berdasarkan keterangan al-Bukhari, surat untuk Kisra dikirim pasca peperangan Tabuk, tahun ke 9 H.116 namun terkait dengan hal tersebut Bukhari sendiri tidak memperhitungkan unsur waktu

111

112 . Tarikh ath-Thabary, 2/288 (terbitan Mesir). Sirah Ibn Hisyam, 4/279, ia menambahkan, bahwa Amer bin al-Ash dikirim kepada Jepier dan Abbad, kedua orang putera al-Julandy, dan sanad Ibnu Hisam adalah munqathi; karena di antara dia dengan rawinya terdapat seorang yang majhul (tidak dikenal), nama rawinya adalah Abu Bakar al-Hudzaly, terkenal sebagai seorang yang tertuduh dusta (Taqrib, 2/401), Thabaqat Ibn Saad, 1/258, penerbit Beirut, dari riwayat al -Waqidy, dengan isnad yang bresambung kepada empat orang sahabat, namun al-Waqidy adalah seorang yang tertuduh dusta (matruk) di kalangan Ahli hadits. Sebagian besar riwayat yang berkenaan dengan utusan yang membawa surat Rasulullah SAW dibawakan oleh Ibnu Saad berasal dari jalannya, di amana ia menuliskan riwayat -riwayat tersebut dengan menggabungkan perkataan sahabat-sahabat yang empat, memasukkan (mencampurkan) sebagiannya ke dalam sebagian yang lain, kemudian membawakannya dalam satu alur cerita. Ibnu Saad juga membawakan riwayat-riwayat tentang sebagian utusan Rasulullah SAW melalui jalan Hisyam alKalby, padahal ia adalah seorang yang lemah (dlaif), dan Ali bin Muhammad al -Madainy, seorang yang bisa dipercaya (shaduq) (Siyar Alam an-Nubala, 10/400, namun apa yang dibawakannya tidak luput dari cacat, seperti adanya irsal dan selainnya. 112 . Ibid 113 . Ibnu Saad : Tabaqaat.,1/2 : 15 114 . Zaadul Maad, 1/30, Ibnu hajar mengatakan, bahwa ia adalah perkataan al -Waqidy (Fathul bary, 1/38), beliau menisbatkannya (memasukkannya) pada Tarikh Khilafah, ia mencantumkan bahwa para utusan tersebut dikirim pada tahun ke 5 H., namun beliau menganggapnya keliru; karena yang terdapat dalam Tarikh Khilafah, pada halaman 79, bahwa peristiwa tersebut terjadi pada tahun ke 6 H. Barangkali dalam hal ini al-Hafizh mendapatkan tulisan yang berbeda, atau mungkin beliau ragu dalam menukilnya. 115 . Fathul bary, 8/127, penanggalan terserbut menentukan tanggal di mana Kisra, penguasa Persia dibunuh oleh anaknya sendiri (Thabaqat Ibn Saad, 1/260.

dalam daftar isi Shahih-nya. Ini mungkin ingin sekedar pemberitahuan mengenai hal itu, sebagaimana pendapat yang dikemukakan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar, namun hal tersebut sematamata kesimpulan yang tidak bisa dijadikan sebuah kepastian.117 Di antara yang bisa menguatkan apa yang telah penulis sampaikan, bahwa Ibnu Hisam telah membawakan khabar keberangkatan para utusan Rasulullah SAW yang dikirim kepada para raja setelah haji wada, tahun ke 10 H. meskipun nash yang menerangkan hal itu dengan terang menyatakan bahwa hal itu terjadi setelah Umrah Hudaibiyyah.118 Namun, meskipun secara sistematika urutan waktu lebih kuat yang disebutkan oleh Ibnu Hisyam daripada Imam Bukhari, namun al-Hafizh Ibnu Hajar sendiri mengingatkan kemungkinan adanya ringkasan yang dilakukan oleh sebagian perowi dalam kitab Shahih Bukhari, boleh jadi ada yang didahulukan atau diakhirkan sebagian terjemahnya, seperti mendahulukan hajinya Abu Bakar pada tahun ke 9 H. atas keterangan tentang kedatangan para utusan (al-Wufud), mendahulukan keterangan haji wada atas peristiwa perang Tabu.119 Al-Hafizh juga mengingatkan, bahwa Imam Bukhari telah menghimpun beberapa kejadian

berdasarkan syarat shahihnya terkait dengan al-Buuts (pengiriman utusan), as-Saraaya (ekspedisi) dan al-Wufud, meskipun masing-masing penanggalannya berlainan.120 Nampaknya, perbedaan riwayat di antara keduanya tidak terlalu jauh, dan Ibnu Hajar mencoba untuk mengkompromikan keduanya, ia mengatakan,Bahwa Dihyah dikirim kepada Hiraklius pada akhir tahun ke 6 H. setelah kepulangan Nabi SAW dari Hudaibiyyah, dan ia baru bisa sampai ke sana pada bulan Muharram tahun ke 7 H.121 Dalam sebuah hadits shahih disebutkan, bahwa surat yang dikirim kepada Hiraklius baru bisa sampai dalam masa yang sama dengan lamanya perdamaian Hudaibiyyah, dan menurut pandangan Ibnu Hajar, hal tersebut terjadi pada tahun ke 6 H.122 Anas bin Malik mengatakan,Nabi SAW telah menulis (mengirim) beberapa surat kepada setiap penguasa, mengajak mereka kepada agama Allah. Beliau mencatat nama sebagian mereka,

116 117

. Fathul bary, 8/127 . Fathul bary, 1/39, 8/129 118 . Sirah Ibnu Hisyam, 4/278 119 . Ibnu Hajar : Fathul Bary, 8/83 120 . Ibid, 8/97 121 . Fathul Bary, 1/38 122 . Fathul Bary, 1/32, 39

antara lain Kisra (penguasa Persia), Heraklius (kaisar Ramawi) dan Najasy (raja Habasyah). Ia (Anas) menuturkan : Najasy yang disebutkan tersebut bukan yang diketahui keislamannya.123 Tidak diragukan lagi, bahwa surat-surat yang dikirim kepada para raja di luar Jazirah Arab merupakan sebuah ekspresi nyata tentang universalitas (alamiyyah) risalah Islam. Dan mengenai kealamiyahan dakwah tersbut telah dijelaskan dalam beberapa ayat al-Quran pada priode Mekkah, antara lain firman Allah Taala,Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.124 Di antara yang menjelaskan kesalahan pandangan orang yang mengatakan adanya proses gradual (tadarruj) dalam arena dakwah yang dimulai dengan skup regional (iqlimiyyah) hingga mendunia (alamiyyah) seiring dengan perluasan atau perkembangan kekuasaan politik Rasulullah SAW. Padahal sesungguhnya sifat universalitas dawah tersebut telah terbentuk (ada) sejak dulu, di mana kaum Muslimin yang berada di kota Mekkah pada saat itu adalah orang-orang yang lemah yang merasa takut akan ancaman orang-orang Mekkah pada saat itu. Bukhary meriwayatkan dalam kitab Shahihnya sebuah hadits yang di dalamnya terdapat teks surat Rasulullah SAW yang dikirim oleh Dihyah bin Khalifah al-Kalby kepada penguasa Ramawi, Heraklius. Inilah satu-satunya teks surat yang otentik berdasarkan persyaratan para Ahli hadits (muhadditsin), dari sekian banyak teks surat yang dikirimkan kepada para raja dan amir, yang semuanya perlu kritisi kebenarannya, baik dari segi isinya (matan) maupun sanadnya sekaligus, sebelum dijadikan sandaran sejarah, terlebih dijadikan sebagai istidlal (dalil) dalam urusan hukum. Dan inilah isi teks lengkapnya, Bismillahirrahmanirrahim. Dari Muhammad bin Abdullah dan Rasulullah, kepada Heraklius pemimpin Romawi. Salam sejahtera kepada siapa pun yang mengikuti petunjuk. Masuklah ke dalam Islam, niscaya Anda akan selamat. Masuklah ke dalam Islam, niscaya Allah akan memberikan pahala kepada Anda dua kali lipat. Jika Anda berpaling, maka Anda akan menanggung dosa orang-orang Arisiyyin .125 Wahai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian bahwa kita tidak menyembah kecuali Allah dan kita tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatu apa pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain dari Allah. Jika mereka

123 124

. Shahih Muslim, 3/1397 . QS. Al-Anbiya ayat 107 125 . Arisiyyin :al-Fallahun (para petani atau para pekerja di lading)

berpaling, maka katakanlah kepada mereka,"Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri (kepada Allah).126 Para penghafal hadits dari kalangan Mutaakhirin mempermasalahkan penyebutan ayat tersebut yang mana menurut sebagian, ayat tersebut turun berkenaan dengan kedatangan utusan Najran ke kota Madinah pada tahun ke 9 H.127 dalam teks surat yang dikirim pada akhir tahun ke 6 H.!!128 dan mereka menyebutkan sebagian upaya penyelesaian masalah tersebut dengan cara mengkompromikannya, demi keluar dari perselisihan. Sebagian mereka mengatakan, bahwa ayat tersebut boleh jadi turun sebanyak dua kali, kemudian setelah itu mereka memandang tidak mungkin hal itu demikian.129 Sebagian mengatakan, bahwa surat Nabi SAW di ditulis sebelum ayat tersebut diturunkan.130 Sebagian mengatakan, bahwa ayat tersebut turun lebih dulu, pada permulaan hijrah. Dan sebagian pendapat mengatakan, bahwa ayat terebut turun berkenaan dengan orang-orang Yahudi.131 Untuk bisa menyelesaikan permasalah tersebut , perlu kiranya untuk mengetahui sebab turunnya ayat. Tidak ada riwayat yang shahih yang bisa dijadikan sandaran, bahwa ayat terebut berkenaan dengan utusan Nashrani Najran. Ibnu Ishak mengatakan tentang hal itu, yang bersumber dari Muhammad bin Zubair, dengan sanad yang mursal, namun tsiqah (bisa dipercaya), dan dalam isnad (rangkaian sanad) athThabary yang bersambung kepada Ibnu Ishaq Muhammad bin Humadi ar-Razy dengan sanad lemah (dlaif). As-Sudy juga mengatakan hal itu, dalam isnad ath-Thabary yang bersambung kepadanya terdapat Asbath, dia adalah seorang yang shaduq (benar), namun katsirul khata (banyak salah) dan tidak dikenal.Demikian pula dengan Ali bin Zaed bin Jadan, dengan sanad yang mursal, dan isn adnya dlaif.

126 127

. Fathul Bary, 1/32, 8/162, ayat tersebut terdapat dalam surat Ali Imran ayat 64 . Ibnu Ishaq dengan tanpa isnad (Sirah Ibnu Hisyam, 2/207, 215) dan Fathul Bary, 1/39. 128 . Ibnu Hajar : Fathul Bary, 1/39, Al-Qasthalany : AL-Mawahib al-Laduniyyah, 1/223 dan az-Zarqany : Syarah al-Mawahib, 3/338. 129 . Ibnu Hajar : Fathul Bary, 1/39, Al-Qasthalany : AL-Mawahib al-Laduniyyah, 1/223. 130 . Ibid 131 . Ibnu Hajar : Fathul Bary, 1/39, dan Mukhtashar Tafsir Ibn Katsir, 1/287.

Ketiga riwayat tersebut semuanya mursal, dan dalam semua isnadnya (dlaif). Dalam Tafsir Ath-Thabary
132

terdapat kelemahan

disebutkan beberapa riwayat (tiga riwayat) yang menyalahi

ketiga riwayat di atas, pertama : dengan isnad yang hasan, yang sampai kepada Qatadah secara mursal, kedua : dengan isnad yang dlaif yang sampai kepada Ibnu Juraiz secara mursal, dan yang ketiga : isnad yang dlaif yang sampai kepada ar-Rabi bin Khatsim secara mursal. Ketiga riwayat barusan semuanya juga dibawakan secara mursal, yang mengatakan, bahwa ayat,Wahai Ahli kitab! turun berkenaan dengan kaum Yahudi Madinah, ayat tersebut mengajak mereka kepada kalimat (ajaran) yang sama. Hal itu berarti, bahwa ayat tersebut turun sebelum proses pengusiran mereka dari kota Madinah. Dan akhir pengusiran mereka terjadi pada tahun ke lima Hijrah, setelah perang Khandaq. Inilah yang menguatkan pendapat bahwa turunnya ayat sebelum pengiriman surat kepada penguasa Rumawi, Heraklius. Barangkali apa yang dibawakan oleh Bukhary dalam kitab Shahihnya, terkait dengan teks suratnya tersebut, menguatkan beberapa riwayat yang mengatakan bahwa turunnya ayat di atas lebih dulu daripada pengiriman surat. Karena jika tidak demikian, mana bisa teks surat tersebut adalah yang benar dalam kitab Shahihnya. Maka jika benar ayat tersebut turun berkenaan dengan teks surat yang benar (shahih) yang ditulis pada tahun ke enam Hijriyyah, maka itulah dalil yang paling kuat yang menjadi landasan bahwa turunnya ayat lebih dahulu daripada kedatangan utusan dari Nashrany Najran. Seharusnya, teks surat tersebut menguatkan penanggalan (tarikh) turunnya ayat tersebut, dan bukan menjadi penyebab mempermasalahkan teks suratnya. Dalam riwayat Bukhary telah disebutkan bahwa pengiriman surat Nabi SAW kepada Kisra tanpa mencantumkan teks suratnya, akan tetapi ia menjelaskan bahwa Rasulullah SAW telah mengirimnya melalui Abdullah bin Hudzafah as-Sahmy untuk diserahkan kepada penguasa
132

. Lihat jalan riwayat-riwayat tersebut dalam Tafsir ath-Thabary, 3/302-304. Sebagai catatan, bahwa isnadnya ada yang sampai kepada Qatadah, dan derajatnya hasan, ada yang sampai kepada ar-Rabi bin Khatsim, di dalamnya terdapat al-Mutsanna, seorang yang tidak dikenal (majhul), dan Abdullah bin Abi Jafar, seorang yang shaduq, namun sering keliru. Ada sebagiannya yang sampai kepada Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij, di dalamnya terdapat al-Qasim bin Isa al-Wasithy, seorang yang shaduq, namun suka berubah-ubah, dan al-Husain bin Bisyrin al-Hamshy, la ba sa bihi (bisa diterima). Demikianlah kondisi sanad riwayat-riwayat yang menyatakan turunnya ayat tersebut berkenaan dengan kaum Yahudi Madinah. Adapun riwayat-riwayat yang mengatakan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan utusan Najran, di dalam isnadnya yang sampai kepada as-Sudy terdapat Asbath bin Nashr seseorang yang shaduq, tapi sering keliru, meskipun tidak terlalu jauh. Dan ia mendapat kritikan dari Imam Muslim terkait dengan riwayat yang disampaikannya, sebagaimana disebutkan dalam kitab Shahihnya.!! Dan di dalam isnadnya yang sampai kepada Ibnu Ishaq terdapat Muhammad bin Humaid ar-Razy, seorang penghafal yang lemah, dan riwayat (isnad) berikutnya yang sampai kepada Ali bin Zaed bin Jadan, seorang yang lemah (dlaif).

Bahrain, Mundzir bin Sawy al-Abdy, dan oleh Mundzir diserahkan kepada Kisra yang merobekrobek surat tersebut setelah ia membacanya. Ketika berita tersebut sampai kepada Rasulullah SAW, beliau berdoa kepada Allah agar menhancurkan mereka dengan sehancur-hancurnya.133 Berkat doa tersebut, Allah menghancurkan penguasa Kisra dengan cara dibunuh oleh anaknya yang kemudian naik tahta, dan semenjak itulah imperium Persia mengalami kehancuran hingga hilang dari permukaan bumi. Terkait dengan teks surat yang dikirim kepada Kisra tersebut tidak melalui jalan yang shahih, namu dibawakan ole hath-Thabari dan yang lainnya dengan isnadisnad yang lemah (dlaif). Dalam Shahihnya, Imam Muslim meriwayatkan, bahwa Nabi SAW juga mengirim surat kepada Najasy, dalam penjelasannya Imam Muslim mengatakan bahwa yang dimaksud bukan Najasy yang dinyatakan telah masuk Islam.134 Dan terkait dengan teks suratnya tidak ada riwayat yang benar yang membawakannya, namun Ibnu Isha telah membawakannya dengan tanpa isnad.135 Adapun teks surat yang dikirimkan kepada Muqauqis, penguasa Mesir banyaknya dua buah, dan jawaban yang ditulisnya juga dua buah, namun riwayatnya tidak dibawakan dengan jalan yang shahih. Demikian pula teks surat lainnya yang dikirimkan masing-masing kepada al-Harits bin Abi Syamr al-Ghassany, penguasa Damasykus, Haudzah bin Ali al-Hanafy pemimpin Yamamah, Jaifar dan Abbad, dua orang putera Al-Julundy, penguasa Uman, dan Mundzir bin Sawy, penguasa Bahrain, semuanya tidak dibawakan dengan riwayat yang shahih.136 Namun demikian, tidak berari kita hendak menafikan adanya korespondesi yang dilakukan Nabi SAW kepada raja-raja dan para penguasa tersebut, dan tidak bermaksud untuk mencela (meragukan) sejarah teks-teks suratnya, yang mungkin saja semuanya benar (shahih) dari segi bentuk dan kandungannya, namun tidak lantas bisa dijadikannya sebagai hujjah dalam siyasah syariyyah. Maka berdasarkan paparan di atas, bisa disimpulkan, bahwa tesk surat yang dikirim kepada Hiraklius, penguasa Ramawi adalah satu-satunya teks surat yang shahih secara

133

. Fathul Bary, 8/126, riwayat tersebut berasal dari Bukhari, namun tidak ada penyebutan Azhim alBahrain (penguasa Bahrain). 134 . Sirah Ibnu Ishaq, 210. Sumber-sumber yang lain menyebutkan dua teks lain yang berbeda (lihat Majmuah al-Watsaiq as-Siyasah, karya Muhammad Humaidillah, no. 21), namun riwayat-riwayat tersebut menurut para Ahli hadits tidak bisa dijadikan sandaran; karena tidak dibawakan dengan isnad yang shahih. Demikian pula kondisi dua surat yang dikirimkan oleh Najasy kepada Nabi SAW (Humaidillah : Majmuah al-Watsaiq, no. 23 dan 24) 135 . Shahih Muslim, no. hadits 1774. 136 . Abu Ubaid menyebutkan dalam Al-Amwaal, 30, dari riwayat Urwah secara mursal, dan Qudamah bin Jafar menyebutkan bahwa peristiwanya terjadi pada tahun ke 8 Hijriyyah (al -Kharraj, 278)

(periwayatan) hadits, dan dapat dianggap sebagai model untuk membandingkan dengan sebagian teks-teks yang selainnya untuk tujuan kritik sejarah. Sesungguhnya hukum (aturan) tersebut berlaku untuk sebagian besar dokumen penjanjian Nabi yang lainnya; di mana tidak ada ruang untuk melakukan koreksi padanya menurut perspektif redaksianya (pemibcaraannya), dan tidak berarti keenam surat yang lainnya harus ditakhrij, selain surat yang dikirim kepada Heraklius, penguasa Ramawi, yang terdapat dalam Shahih Bukhary, dan surat yang dikirim kepada Umair Dzy Marwan, dalam Sunan Abi Dawud.137 Meskipun mayoritas daripadanya mungkin benar (shahih) dari perspektif sejarah, tetapi tetap tidak dapat dijadikan hujjah dalam materi-materi akidah dan Syariah. Diriwayatkan, bahwa tatkala Nabi SAW hendak menulis surat kepada Rumawi, dikatakan kepada beliau, bahwa mereka tidak akan membaca surat yang dibuat oleh beliau, apabila beliau tidak membubuhkan stempel di dalamnya. Atas usulan tersebut, beliau segera membuat stempel yang terbuat dari perak yang terukir padanya nama beliau, Muhammad Rasulullah.138 hal tersebut menunjukkan fleksibilitas politik Islam (siyasah Islamiyyah) dalam memberikan suatu faedah (manfaat) melalui beberapa media dan sarana modern, selama tidak bertentangan dengan ketentuan dan semangat hukum.139

137 138

. Sunan Abu Daud, 2/38-39 . Shahih Bukhary ( Fathul Bary, 10/324) 139 . Seorang Orientalis Perancis, Barthelemy mengaku memperoleh data tentang surat yang dikirim Nabi SAW yang dikirim kepada Muqauqis, surat tersebut ditulis dalam lembaran yang terbuat dari kulit, dan surat tersebut ditemukan di daerah Ukhmaim , Mesir pada tahun 1850 M. Pada tahun 1854 M. surat tersebut sempat diterbitkan oleh Majalah Asiawiyyah, dan tersimpan di museum Thub Qabu Saraya Istanbul. Surat tersebut nampak sudah lusuh dan di bagian tengahnya telah robek, namun demikian masih bisa terbaca dengan jelas. Data tersebut dibenarkan oleh Belin dan didukung oleh Noldek. Pada tahun 1863 M., seorang berkebangsaan Jerman, Doktor Busch mengumumkan dalam Majalah Orientalis Jerman, ia mengaku menemukan surat Nabi SAW yang dikirim kepada Al-Mundzir bin Sawy, namun datanya belum cukup akurat. Dan seorang Orientalis Britania, Dunlop memberikan pernyataan, dalam Jumat Asiawiyyah Al Malakiyyah, tahun 1940 M., bahwa ia mendapatkan (menemukan) teks surat Rasul SAW yang dikirim kepada raja Najasyi yang ditulis dalam lembaran dari kulit. Namun ia meragukan tentang kebenarannya. Bahkan, Doktor Shalahuddin Munajid memberikan pernyataan dalam surat kabar Al-Hayat al-Beirutiyyah, pada tahun 1963 M. bahwa ia menemukan surat Nabi SAW yang dikirimkan kepada Kisra, padahal yang benar bahwa Kisra telah merobek-robeknya. Bahkan sebuah pernyataan mengaku telah menemukan watsiqah ke lima di antara sekian banyak watsiqah Nabi SAW yang ditemukan pada tahun 1973 M, padahal watsiqah tersebut sudah sangat lama, diperkirakan usianya lebih dari seribu tahun, oleh karena itu kebenarannya belum bisa dipastikan sampai sekarang. Hampir mayoritas kaum orientalis meragukan kebenaran adanya pengiriman orang-orang yang membawa surat Nabi SAW secara keseluruhan, di antara mereka : orientalis berkebangsaan InggrisWilliam Mayor, dalam kitabnya Hayat Muhammad dan Al-Khilafah. Orientalis Italia, Lion Ketany dalam kitabnya Hauliyat al-Islam. Orientalis Yahudi, Marjiliyuts dalam kitabnya Muhammad. Penentangan me reka

Sebagai catatan, bahwa bahwa surat yang dikirim kepada Heraklius, penguasa Rumawi, bercirikan khas, yakni tetap menjaga karakter Islam, di mana dimulai dengan bacaan Basmalah. Ciri khas yang lainnya, adalah berisi ajakan untuk meyakini Islam sebagai satusatunya ajaran yang benar, dan ajakan untuk mmeyakini kenabian Muhammad SAW. Dan tidak ketinggalan pula, di dalamnya berisikan celupan hikmah, pelajaran yang baik (mauizhah hasanah) dan sikap hormat (ihtiram) yang dalam hal ini adalah penguasa Rumawi, mengingat kedudukan penguasa tersebut di tengah-tengah kaumnya, sehingga beliau menyebutnya dengan panggilan,Azhim ar-Rum (pembesar Rumawi). sekaligus mendorongnya agar memeluk ajaran Islam dengan jaminan pahala yang besar, disamping menyebutkan ancaman sangsi kepadanya, jika berani menghalang-halangi mereka untuk memasuki agama Islam.

bila disimpulkan, bahwa Islam itu hanya diperuntukkan untuk bangsa Arab, dan Daulah Islamiyyah itu adalah negara yang lemah yang tidak memiliki kemampuan untuk menolak kekuatan dunia pada waktu itu. Padahal sekelas Ibnu ishaq tidak menyebutkan seper ti itu, dalam pernyataan seperti itu terdapat penjelasan yang mengada-ada (tafashil usthuriyyah), mereka mengatakan bahwa sebagian surat yang dikirim tersebut mencakup satu ayat al-Quran yang menurut sebagian bahwa ia turun dua tahun setelah peristiwa pengiriman tersebut. Catatan-catatan di atas tidak bisa meruntuhkan landasan historis bagi eksistensi surat-surat tersebut. Terkait dengan pengakuan yang mengatakan telah menemukannya perlu untuk Studi eksperimental laboratorik dan dokumentasi untuk memastikan kebenaran (validitas) atau ketidak-benarannya. (lihat Informasi seputar catatan kaki tersebut dalam beberapa study yang berjudulAd-Diraasat al-Mutaalliqah bi rasaail an-Nabi shallallahu alaihi wa sallama karya Doktor Izzuddin Ibrahim, yang merupakan bagian dari pembahasan (buhuts) pada Konferensi Dunia yang ketiga tentang Sirah dan Sunnah, yang diselenggarakan di Qatar, pada tahun 1400 H.

Pelajaran Untuk Orang-orang Arab Pasca peristiwa perjanjian Hudaibiyyah tidak tidak kosong dari beberapa kerusuhan yang dilakukan oleh orang-orang Arab, tapi mereka tidak serius dan tidak mempengaruhi konsentrasi Dakwah dan penyebaran Islam yang dilancarkan oleh kaum Muslimin. Berikut ini, ada beberapa peristiwa penting yang terjadi, antara lain : Perang Dzatu Qarad : Peperangan tersebut terjadi tiga hari sebelum perang Khaibar meletus. Penyebabnya adalah ketika Abdurrahman bin Uyainah bin Hishn Al-Fazary dengan pasukannya menyerbu dan mengepung onta-onta Rasulullah SAW. ia merampok semuanya serta dapat membunuh penggembalanya. Namun tindakannya berhasil digagalkan oleh Salamah bin Akwa, ia berhasil mengejar Abdurrahman dan tentaranya setelah mendapatkan kabar dari kaum Muslimin tentang kejadian tersebut. Salamah berhasil membebaskan unta-unta Rasulullah SAW dari genggaman mereka, lalu menyerahkannya kepada beliau, dan ia berhasil menghalau para perampok tersebut jauh dari kota Madinah. Rasulullah SAW ketika itu sampai di sebuah perairan Dzi Qarad, kemudian beliau pulang ke Madinah.140 Kisah Ukl Dan Urainah : Setelah peristiwa perang Dzi Qarad, dua rombongan kabilah, yaitu Ukl dan Urainah datang mengunjungi kota Madinah untuk bertemu Nabi SAW untuk menyatakan keIslamannya. Mereka memohon kepada beliau untuk tidak tinggal di Madinah karena suhunya yang tidak bersahabat dengan mereka, dan lebih memilih tinggal di pedusunan (ar-Rif). Menurut riwayat, mereka adalah orang-orang yang pandai memerah susu (beternak), maka dari itu Rasulullah SAW menunjuki mereka untuk menemui seorang pengembala dan beberapa ekor untanya. Sesampainya mereka di distrik Harrat, mereka kembali kepada kekufuran setelah keislamannya (murtad), membunuh pengembala Nabi SAW dan merampas unta-unta beliau.

140

. Shahih Bukhary ( Fathul bary, 7/460), Shahih Muslim, 3/1432. Menurut catatan Ibnu Ishaq dan kitab sirah yang lainnya, bahwa peperangan tersebut tejadi pada tahun ke 6 H.sebelum perjanjian Hudaibiyyah (Fathul Bary, 7/460). Al-Baihaqy mengatakan,Yang menjadikan kami ragu padanya adalah bahwa ghazwah Dzi Qirad terjadi setelah perjanjian Hudaibiyyah dan perang Khaibar, sebagaimana diterangkan dengan jelas dalam hadits Salamah bin Akhwa (Fathul Bary, 7/420 -421), dan pada peperangan terse but terjadi shalat khauf yang disyariatklan setelah perang Khandaq. Khulaifah bin Khayyath menerangkan, bahwa yang melakukan penyebrbuan tersebut adalah Uyainah bin Hshnin, bukan puteranya, Ahdurrahman (Tarikh Khulaifah, 77)

Ketika peristiwa ini sampai kepada Nabi SAW, beliau langsung mengutus seseorang untuk mengejar mereka melalui jejak perjalanan mereka. Setelah berhasil ditangkap, beliau memerintahkan agar mencungkil mata mereka dengan besi panas, memotong tangan-tangan mereka dan membiarkan mereka di bawah sengatan matahari sampai mati dalam kondisi seperti itu. Setelah peristiwa itu, Nabi SAW melarang untuk melakukan tindakan mutilasi seperti yang telah dilakukan sebelumnya.141 Perang Dzatur Riqa : Para penulis sirah berselisih pendapat terkait dengan terjadinya perang Dzatur Riqa ini, sebagian mengatakan, bahwa peperangan tersebut terjadi setelah perang Badar, pendapat ini dipegang oleh Bukhari,. Sementara menurut pendapat Ibnu Ishaq, peperangan tersebut terjadi setelah peristiwa bani Nadlir dan sebelum meletus perang Khandaq, tahun ke 4 H. Ibnu Saad dan Ibnu Hibban berpendapat, bahwa perang tersebut terjadi pada bulan Muharram tahun ke 5 H. Dan menurut Abu Masyar, beliau memastikan, bahwa perang tersebut terjadi setelah kisah Bani Quraidlah dan perang Khandaq. Adapun pendapat yang kuat dari semua itu adalah yang dikemukakan oleh Bukhari dan Abu Masyar; karena Abu Musa al-Asyary adalah orang yang menyaksikan sendiri peristiwa tersebut, yaitu setelah ia pulang dari negeri Habasyah, setelah meletus perang Badar. Kesaksian lain juga dikemukakan oleh Abu Hurairah, di mana ia masuk Islam setelah perang Khaibar. Perang Dzatur Riqa dinamakan dengan pula dengan sebutan perang Najd, perang bani Muharib dan Bani Tsalabah dari Ghathafan. Memang dalam ghazwah ini, yang dikenal juga dengan ghazwah shalat khauf, tidak terjadi pertempuran. Hanya saja, rasa takut dan tegang tak luput menyelimuti kedua belah pihak yang berseteru. Karena kondisi yang demikian mencekam, dalam perang ini. Rasulullah SAW melaksanakan shalat khauf bersama para sahabat di sebuah tempat yang jaraknya kurang lebih dua hari perjalanan dari kota Madinah, nama tempat tersebut dikenal dengan Nakhla. Setelah itu beliau dan kaum Muslimin pulang ke Madinah. Abi Musa al Asyari meriwayatkan bahwa dalam perjalanan mengarungi padang pasir nan panas membara itu banyak sahabat yang telapak kakinya pecah-pecah dan kukunya terlepas. Kemudian mereka membalutnya dengan sobekan kain atau Dzatur Riqa. Itu sebabnya kemudian perang ini

141

. Shahih Bukhary ( Fathul bary, 7/458)

dinamakan Perang Dzatur Riqa walaupun sebenarnya pertempuran tidak pernah terjadi. Dalam peperangan tersebut enam unta dinaiki secara bergantian.142 Peristiwa peperangan ini tidak banyak mendapat perhatian dari kalangan para pemerhati sejarah kelasik (Muarrikhin); pembicaraan mereka didominasi dengan pembicaraan mengenai pengiriman para utusan Rasuluillah SAW ke pada para raja dan amir,143 peristiwa perang Khaibar dan keberangkatan kaum Muslimin memasuki kota Mekkah dalam rangka Umratul Qadla. Bagaimana pun juga, jatuhnya Khaibar ke tangan kaum Muslimin, membuka pelung kepada mereka untuk lebih leluasa menguasa wilayah-wilayaha di bagian timur yang berdekatan dengan negeri Syam. Dan nampaknya, ghazwah Dzatur Riqa yang diarahkan ke wilayah Ghathafan sebagai kekuatan sayap ke dua yang berada di wilayah tersebut setelah Yahudi Khaibar merupakan bagian dari rencana mereka. Dan di sela-sela peristiwa tersebut, terjadi perang Mutah, di mana perhatian kaum Muslimin untuk mengunjungi Kabah dalam rangka menunaikan Umrah al-Qadla meembuat pasukan yang dikirim ke Mutah sedikit terlambat.

142 143

. Fathul Bary, 7/416-421 . Setelah beliau kembali dari Hudaybiyyah. Ibnu Saad telah mencatat bahwa pengiriman para utusan yang jumlahnya 6 orang, tanggal 1 bulan Muharram, tahun ke 7 H. (Thabaqaat, 1/2/15, terbitan Eropa), pendapat tersebut didiikuti (didukung) oleh Ibn al-Qayyim (Zaadul Maad, 1/30), sambil memberikan Tabari dikirim Fjolh sedikit dalam enam AH Dzulhijjah. Sementara , menurut Ath-Thabary, pengiriman utusan tersebut berlangsung pada bulan Dzul Hijjah tahun ke 6 H. (Tarikh ath-Thabary, 2/228).

Umratul Qadla Pada bulan Dzul Qadah tahun ke 7 Hijriyyah, Rasulullah SAW dan para sahabatnya berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan Umrah, sejalan dengan kesepakatan yang ditandatangi bersama kaum Quraisy pada perdamaian Hudaibiyyah.144 Di antara kesepakatan tersebut menyebutkan, bahwa Nabi SAW dan para sahabatnya, diperbolehkan memasuki kota Mekkah dengan pedang yang tetap berada di dalam sarungnya, dan siapa saja yang ingin masuk ke dalam perjanjian beliau, dan membuat perjanjian dengannya, maka ia masuk ke dalamnya. Siapa saja yang ingin masuk ke dalam perjanjian Quraisy, dan membuat perjanjian dengan mereka, maka ia masuk ke dalamnya dan seterusnya 145 Nabi SAW memutuskan untuk bermukim di Mekkah selama tiga hari, setelah itu beliau menyuruh sahabatnya untuk segera meninggalkannya.146 Musa bin Uqbah menerangkan, bahwa pada saat itu kaum Muslimin berangkat sambil membawa persenjataan, karena merasa khawatir akan tindakan pengkhianatan yang dilakukan olek kaum Qurais, mereka membiarkan senjata-senjata tersebut dalam sarungnya.147 Adapun mereka yang berangkat menunaikan Umratul Qadla semuanya berjumlah 2000 orang, selain kaum wanita dan anak-anak. Mereka itu sebagiannya adalah orang-orang yang dulu ikut dalam peristiwa Hudaibiyyah.148 Sementara itu Abdullah bin Rawahah berada di depan beliau sambil melantunkan syair, Biarkan orang-orang kafir di atas jalannya, hari ini kami pukul kalian dengan wahyu-Nya Pukulan yang bisa memenggal kepala, sehingga seorang kekasih meninggalkan dicintainya.149 Rasulullah SAW memerintahkan kepada Muslimin untuk melaksanakan thawwaf di Kabah, dan menyuruh mereka agar sengaja memperlihatkan kekuatan dan persenjataan untuk dilihat oleh orang-orang Quraisy; karena sebelumnya mereka telah menyebar berita, bahwa kaum Muslimin adalah adalah orang-orang yang lemah yang digerogoti oleh penyakit Yatsrib. Beliau menyuruh kaum Muslimin untuk berjalan biasa dan berjalan cepat pada tiga putaran pertama. Di pihak lain orang-orang Quraisy pergi meninggalkan kota Mekkah menuju bukit

144

. Ibnu Hazm : Jawaami as-Sirah, 219, itu adalah perkataan Ibnu Ishaq, Musa bin Uqbah dan Yaqub bin Sufyan ,dengan sanad yang hasan, dari Ibnu Umar (Fathul Bary, 7/500) 145 . Shahih Bukhary ( Fathul bary, 7/449) 146 . Ibid 147 . Fathul Bary, (7/449-500. Musa bin Uqbah tidak mencantumkan redaksi tersebut. 148 . Al-Hakim Mnerangkan dalam al-Aklil dengan tanpa isnad (Fathul Bary, 7/500) 149 . Diriwayatkan oleh Tirmdizi, ia mengatakan,Hadits tersebut hasan gharib (Fathul Bary, 7/502).

Quaiqaan, mereka hanya bisa melihat orang-orang Mumin melaksanakan thawaf,150 merasa kagum dengan kekuatan besar yeng mereka demonstrasikan pada saat itu. Bukit Quaqaian berada di antara dua rukun Kabah.151 Rasulullah SAW menetap di Mekkah bersama para sahabat selama tiga hari, lalu pada hari ke empatnya orang-orang musyrik mendatangi Ali, seraya berkata,Katakan kepada sahabatmu, agar keluar dari tempat kami, karena waktu kalian telah berakhir. Setelah itu Nabi SAW dan para sahabat keluar.152 Dan pada peristiwa Umratul Qadla turun ayat,Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.153 Di antara hukum yang nampak jelas dalam peristiwa tersebut adalah trekait dengan hukum orang yang berumrah, yang tidak bisa melaksanakannya; karena satu dan lain hal. Menurut pendapat Jumhur Ulama, ia wajib melaksanakan hadyu (penyembelihan hewan), dan tidak ada qadla baginya. Dan untuk merealisasikannya, bisa dengan menunaikan umratul qadla sebagai pengganti dari pelaksanaan umrah yang tidak jadi dilaksanakan pada perundingan Hudaibiyyah, atau memulai pelaksanan umrah yang baru. Hukum yang lainnya, adalah berkenaan dengan hukum susuan (radlaah), tentang kisah Umamah binti Hamzah bin Abdul Muththalib, ketika ia ikut bersama Rasulullah SAW keluar dari Mekah. Ketika itu ia dibawa oleh Ali bin Abi Thalib r.a, kemudian diserahkan kepada istrinya, r.a. seraya berkata,Ambillah putri pamanmu ini! Kemudian Fatimah membawanya. Dari peristiwa di atas, terjadilah perselisihan antara Zaid bin Haritsah r.a sebagai saudara Hamzah, dari jalan persaudaraan (muakhkhat), Jafar bin Thalib r.a. yang mengaku bahwa ia putri pamannya dan bibinya berada di bawah tanggungannya Melihat perselisihan tersebut, Nabi SAW memutuskan bahwa Umamah lebih layak tinggal bersama bibinya, seraya bersabda,Posisi seorang bibi itu sama kedudukannya dengan ibu. Peselisihan tersebut dimenangkan oleh Jafar; karena ia

150

. Shahih Bukhary ( Fathul bary, 7/508-509), dan lihat Musnad Ahmad no. hadits 3536, diterbitkan oleh Ahmad Syakir, dengan isnad yang shahih. 151 . Ibid 152 . Shahih Bukhary ( Fathul bary,7/499) 153 . QS. AL-Fath ayat 27

dipandang sebagai mahramnya, di mana seseorang tidak dibenarkan mengumpulkan (menikahi) wanita sekaligus dengan bibinya.154 Perang Muktah (Ghozwatu Muktah) Al-Waqidi secara pribadi menyebutkan sebab utama terjadinya perang muktah, yaitu bahwasannya Sarohbil bin Amru Al-Ghossani telah membunuh Shibron Al-Harist bin Amir AlAzdi yang diutus Rasulullah SAW kepada raja Bushri dengan membawa surat dari beliau, padahal sesungguhnya orang-orang yang menjadi utusan Rasulullah itu tidak boleh dibunuh, maka Rasulullahpun marah dan mengutus pasukan perangnya keMuktah155, penjelasan Al-Waqidi ini lemah(dhoif) dan tidak bisa dijadikan sebagai dasar khususnya apabila ia menyendiri dalam meriwayatkan khobar atau berita ini Sebenarnya pembahasan tentang penyebab utama terjadinya peperangan antar kabilah Arab diujung negeri Syam tidak banyak berpengaruh dalam penafsiran terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi, karena pensyariatan jihad itu menuntut adanya upaya yang berkesinambungan dalam menundukan kabilah-kabilah Arab serta meluaskan daerah kekuasaan Negara Islam tanpa harus melihat penyebab utama terjadinya perluasan(peperangan) tesebut. Maka merupakan keharusan untuk menundukan Negara-negara Arab Nashroni yang berada dibawah kekuasaan Romawi, dan berikutnya Romawi lebih dahulu bergerak kekawasan tersebut sebelum mereka melakukan perlawanan terhadap Negara Islam yang masih muda. Sepulangnya dari umrotul qodho(umroh pengganti) Rasulullah SAW menetap dikota Madinah selama bulan zulhijah, muharrom, shofar, rabiul Awwal dan rabiutsani, kemudian pada bulan jumadil ula156 beliau mengutus pasukan perangnya kenegeri Syam157sebanyak 3000 orang, dan menjadikan Zaid bin Haristah sebagai panglimanya, apabila ia terbunuh maka Jafar bin Abi Tholib yang menggantikannya, dan apabila ia terbunuh maka Abdullah bin Abi Rowahah yang akan menggantikannya158 hal ini menunjukan bolehnya menjadikan syarat tertentu dalam menentukan kepemimpinan, dan menunjukan bolehnya menjadikan beberapa pemimpin secara berurutan159 dan inilah kali pertama diberlakukannya kehati-hatian, sebab sangat boleh jadi ada bahaya yang mengancam pasukan ini dikarenakan jaraknya yang sangat jauh dan dikarenakan tidak adanya usaha penaklukan dikawasan tersebut yang membuatnya tunduk kepada kekuasaan Negara yang kuat, seperti kerajaan Bizantium yang secara politik telah menguasai kabilah-kabilah yang ada diSyam dan pinggirannya.

154 155

. Fathul Bary, 7/505 Ibnu Saad 1/2/17 Ibnu Hajar:al-Ishobah1/589 dan fathul bari7/511

156 157

ibnu Ishak tanpa sanad(siroh Ibnu Hisyam3/427) Muhamad Muhyidin abdul Hamid ari hadist mursal Urwah bin zubair(siroh Ibnu Hisam3/427) dan isnad Ibnu Ishak sampaike Urwah Hasan 158 Shahih Bukhori ( Fathul bari7/510 dan Ibnu Ishak dari hadist mursal Urwah(siroh Ibnu Hisyam3/427)
159

Fathul bari 7/513

Dan pasukan itu telah sampai ke maan ketika berita kedatangan Harqol kenegeri Ma -ab yaitu daerah Balqo diterima Maan, pasukan Harqol tersebut berjumlah 100000 orang dari Romawi dan 100000 orang lainnya dari kaum nasroni Arab Lakhmin, Jadam dan Qodhoah, maka kaum Muslimin bermalam diMaan selama dua malam untuk bermusyawarah dalam urusan mereka, sebahagian dari mereka berpendapat agar memberitahukan kepada Rasulullah SAW prihal kekuatan lawan dengan harapan Rasulullah akan mengirimkan bantuan atau mengeluarkan suatu perintah. Maka ketika itu Abdullah bin Rowahah memberikan semangat kepada para tentara kaum Muslimin, seraya ia berkata:Wahai kaum Muslimin, demi Allah sesungguhynya sesuatu yang menjadi motivasi kalian pergi ketempat ini adalah untuk mendapatkan mati syahid. Dan sungguh bahwasannya kita tidak memerangi musuh kita dengan jumlah tentara yang banyak atau kekuatan yang besar, akan tetapi kita memerangi musuh dengan kekuatan agama yang dimuliakan oleh Allah SWT, oleh karena itu berangkatlah kalian kemedan perang niscaya kalian akan mendapatkan salah satu dari dua kebaikan, yakni kemenangan yang gemilang atau mati syahid dijalan Allah160

Perkataan Abdullah bin Rawahah tersebut memberikan dampak positif sehingga muncul dalam jiwa tentara yang dipimpinya semangat berjihad yang tinggi, dan kekuatan orang-orang yang menunggu menjadi hilang, maka Zaid bin Haritsahpun bersama dengan pasukan kaum Muslimin maju kekawasan Muktah yang berada disebelah selatan Karka, kemudian merekapun bentrok tentara Romawi yang berada disana, maka ditempat inilah ketiga panglima Muslim(Zaid bin Haristah, Jafar bin AbiTholi, Abdullah bin Abi Rowahah) memperlihatkan kepahlawanannya yang agung yang berakhir dengan syahidnya mereka dimedan perang, Zaid bin Haristah terkena tombak tentara Romawi maka iapun gugur, kemudian panji Islam dibawa oleh Jafar bin Abi Tholib dan ia menyembelih kudanya yang berwarna kemerah-merahan kemudian berperang dengan membawa panji Islam, jafar bin Abi Tholib terputus tangan kanannya kemudian panji Islam ia pegang dengan tangan kirinya dan tangan kirinyapun terputus, kemudian panji Islam dipeluknya sehingga ia gugur dengan syahid, akhirnya panji Islam dibawa oleh Abdullah bin Rowahah, ketika membawa panji tersebut ia sempat merasa ragu, akan tetapi pada akhirnya iapun maju kemedan perang dengan membawa panji Islam sehingga iapun gugur dengan syahid. Kemudian panji Islam diambil oleh Abdullah bin Arqom dan ia berseru ditengah-tengah kaum muslimin agar mereka memilih seorang panglima, maka dipilihlah Khalid bin Walid , dan Khalid bin Walid telah menyadari akan kondisi bahaya saat itu, maka iapun kembali menata pasukannya dan menggantikan Maisaroh dengan Maimanah, kemudian ia menjadikan sebahagian pasukannya
160

Ibnu Ishak tanpa sanad( siroh Ibnu Hisyam 3/430

agar bergerak dari belakang seakan merupakan pasukan baru yang siap membantu, sehingga pasukan Romawi menjadi terpedaya. Dengan strategi ini Khalid bin Walid berhasil menarik Mundur pasukannya secara teratur tanpa harus kehilangan banyak dari balatentaranya, bahkan beberapa sumber menyebutkan bahwasannya jumlah tentara Muslim yang syahid hanya 13 orang161. Pengunduran pasukan secara teratur yang sukses ini dianggap sebagai sebuah kemenangan besar, dimana Khalid bin Walid berhasil menyelamatkan tentaranya dengan kerugian yang sedikit betapapun kerasnya peperangan yang terjadi diRomawi bahkan berhasil membunuh dan melukai banyak tentara Romawi, dan tidak diragukan lagi bahwasannya sikap kepahlawanan kaum Muslimin dalam perang melawan Romawi, keberanian mereka serta kesungghannya untuk mendapatkan mati syahid disamping kepintaran Khalid bin Walid dalam kemiliterannya, itulah yang menyebabkan mereka dengan pertolongan Allah SWT mampu menyelamatkan diri dari kesulitan yang sedang dihadapi. Pada tubuh Jafar bin Abi Tholib didapatkan lebih dari 90 luka akibat dari tombak da n panah162 yang mengenai tubuhnya, akan tetapi tidak membuatnya berhenti dari peperangan sampai titik darah penghabisan. Dan 9 pedang telah hancur ditangan Khalid bin Walid163. Dan diantara mujizat Rasulullah SAW adalah memberitahukan kepada para sahabtanya tentang syahidnya tiga panglima diatas, dan kedua matanya berlinag air mata sebelum menyampaikan berita tersebut, kemudian Rasulullah memberitahukan kepada para sahabat bahwasannya panji Islam dibawa oleh Khalid bin Walid, dan beliau memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya tentang kemenangan yang akan diraih oleh Khalid bin walid164. Dan yang dimaksud dengan kemenangan tersebut adalah pengunduran pasukan secara teratur dan sukses, atau kerugian yang diderita oleh Romawi akibat perlawanan pasukan Khalid walaupun jumlah pasukan mereka lebih banyak. Walaupun kesuksesan pemunduran pasukan secara teratur yang dilakukan oleh Khalid, orangorang pada saat itu tetap saja berteriak kepada Khalid dan pasukannya bahkan sambil melempari mereka dengan pasir, mereka berkata:Wahai orang-orang yang kabur dari medan perang! Maka Rasul berkata: mereka itu bukanlah orang-orang yang kabur dari medan perang, akan tetapi

161

Siroh Ibnu Hisyam 3/ 430-447, dan Ibnu Hazm dalm bukunya Jawamiussiroh hal 220 -222. Dan Inu Ishak tidak meriwayatkan kecuali tentang penyembelihan Jafar bin Abu Tholib terhadap kudanya dan berita tentang keragu-raguan Abdullah bin Rowahah yang akhirnya ia maju juga kemedan perang, dimana ia meriwayatkan keduanya dengan sanad yang hasan dan didalamnya ada nama seorang sahabat yang tidak diketahuai tapi tidak menjadikannya cacat

162 163 164

Shohih Bukhori 7/510 Shohih Bukhori 7/515 Shohih Bukhori 7/512

mereka adalah pasukan yang kembali165 dan tidak diragukan lagi bahwa sikap seperti ini secara umum mengungkapakan betapa dalamnya kesadaran Islam pada periode saat itu. Dan Rasulullah SAW telah menjelaskan kedudukan para syuhada Muktah disisi Allah SWT dengan perkataannya:Alangkah membahagiakanku atau belaiau berkata:Alangkah membahagiakan mereka, sesungguhnya mereka disisi kami maksudnya adalah betapa besar kemuliaan yang meraka dapatkan. tatkala didatangkan kepada beliau anak-anak dari Jafar bin Abi Thalib, Rasulullah pun mengajak mereka bercanda dan menghibur mereka, dan memerintahkan agar mereka dicukur rambutnya seraya beliau memanjatkan doa kepada Allah untuk kebaikan mereka, dan beliau berbicara kepada ibu mereka seraya mengingatkan tentang kondisi beliau yang sama dengan anak-anak Jafar, dimana sewaktu kecil beliau telah menjadi seorang anak yatim, engkau khawatir tentang tanggung jawab mengurus mereka, maka a kulah orang yang akan menjadi wali (penanggung jawab) urusan mereka di dunia ini dan di akhirat kelak.166 Tidak diragukan lagi bahwa kaum muslimin dapat mengambil pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga dari pertemuan pertama dengan Romawi untuk pergerakan jihad berikutnya melawan mereka, kaum muslimin sudah mengetahui kekuatan Romawi, jumlah pasukan mereka, gaya dan strategi perangnya serta kondisi medan perang yang mereka gunakan.

Perang Dzatu Salasil Beberapa hari setelah kepulangan prajurit Islam dari Muktah, Rasulullah SAW segera menyiapkan pasukan kembali yang dipimpin oleh Amru bin Ash menuju ke Dzatu salasil, hal itu beliau lakukan untuk memberikan pelajaran kepada orang- orang dari Qudhaah yang telah berkomplot untuk mendekati ujung kota Madinah, maka Amru bin Ash pun berangkat bersama 300 orang Muhajirin dan Anshar.

Setibanya di didaerah Qudhoah, Amru bin Ash mendengar banyaknya jumlah musuh. Ia pun mengirim surat kepada Rasulullah untuk meminta bantuan. Kemudian Rasulullah mengirimkan bantuan 200 orang Muhajirin, termasuk di dalamnya Abu Bakr dan Umar serta mengangkat Abu Ubaidah Ibnul Jarrah sebagai komandan mereka.
165

Ibnu Ishak dengan sanad yang shohih sampai kepada Urwah, akan tetapi mursal dan Dhoif(siroh Ibnu Hisyam 3/438) 166 Musnad Imam Ahmad, hadis nomor 1750 dengan sanad yang sahih.

Amir Asyabi (tahun 103 H) menyebutkan bahwa Rasulullah SAW menggunakan Abu Ubaidah untuk memimpin muhajirin dan Amru bin Ash untuk memimpin orang Arab pinggiran(baduy), dan Rasulullah meminta dari keduanya agar menerima dengan suka rela, dan Amir Asyabi menyebutkan pula bahwasannya pasukan tersebut diutus untuk melawan Bani Bakar, akan tetapi Amru bin Ash menyerang Kudhoah167 Pasukan kaum Muslimin terus memasuki tempat kediaman Qudhoah yang kabur dan tercerai berai, dan penyerangan ini telah mengembalikan kewibawaan kaum Muslimin dikawasan ini, kewibawaan inilah yang pada perang Muktah sempat dogoncangkan168 Di kawasan Dzatu salasil ini Amru bin Ash melaksanakan shalat bersama kaum Muslimin dengan bertayamum terlebih dahulu (ia berijtihad) padahal ia dalam keadaan junub, hal ini ia lakukan karena ia hawatir akan terkena sakit kalau harus mandi dalam kondisi udara yang sangat dingin, dan Nabi SAW menetapkan hasil ijtihadnya(Amru bin Ash) setelah kabar tersebut sampai kepadanya169 Kepemimipinan Amru bin Ash atas Abu Bakar ini menunjukan kepada bolehnya menjadikan pemimpin dari seorang yang memiliki kelebihn atas orang yang Dan apabila penyerangan militer kaum Muslimin telah mengarah ke utara semenjak perjanjian Hudaibiyah yang menghentikannya dari penyerangan kearah barat dan selatan, sehingga Makkah menjadi merasa aman dibawah perjanjian Hudaibiyah, akan tetapi ketentraman ini tidak berlansung lama, dikarenakan kaum Kuraisy telah merusak atau melanggar perjanjian tersebut, dan pelanggaran mereka itu mengakibatkan munculnya kembali gerakan militer umat Islam ke Makkah dan sekitarnya. Fathu Makkah (Penaklukan Makkah) Kaum kafir Kuraisy telah berbuat keslahan yang berat ketika mereka memberikan bantuan berupa kuda, senjata dan personil tentara kepada sekutunya yaitu bani Bakar untuk menyerang bani Khuzaah sebagai sekutu kaum Muslimin, dengan adanya tindakan mereka ini berdampak kepada rusaknya air dikawasan bani Khuzaah yang disebut dengan alwatir, maka bani Khuzaah meminta pertolongan kepada kaum Muslimin dengan mengutus seorang utusan yang bernama Amru bin Salim AlkhozaI keMadinah, kemudian Amru bin Salim membacakan satu bait Syair dihadapan Rasulullah SAW meminta pertolongan kepadanya, maka Rasulullah SAW berkata:aku akan menolongmu wahai Amru bin Salim170

167

Riwayat ini disampaikan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang shahih kepada Amir Asyabi, akan tetapi ia memursalkannya, dan hadist mursal itu termasuk hadist dhoif menurut para ahli hadist (Tahdzibutahdzib 5/67 168 Zadul Maad 3/157, dinukil dari Ibnu Saad tanpa sanad 169 Hadist shahih dikeluarkan oleh Abu Dawud, Daru Quthni, Hakim dan Baihaki, Imam Albani mengatakan: hadist tersebut termasuk kateghori hadist-hadist shahi dalamsunnah Abu dwud no 360, 361, dan dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnaya 4/203 dengan sanad yang shahih 170 Ibnu Kastir: Albidayah Wannihayah 4/278 dari Ibnu Ishak dengan sanad yang hasan, dan Ibnu Ishak telah menjelaskan tentang penyampaian hadist tersebut, dan ia memiliki saksi yang lemah dalam riwayat Athobroni dalam kitan Mujam Ashogir 2/73 dikarenakan lemahnya riwayat dari Yahya bin Sulaiman AlkhuzaI, dan saksi lai dalam musnad Abi Yala Almushili 4/400 dan dalam musnad Hizam bin Hisyam

Dan Ibnu Ishak menyebutkan bahwasannya Bani Bakar terus mengejar Bani Khuzaah sampai Harom dan mereka membunuhnya171, Imam Alwakidi menyebutkan bahwa jumlah korban yang dibunuh dari bani Khuzaah mencapai 20 orang172, dan Musa bin Uqbah menjelaskan bahwa orang-orang yang telah membantu Bani Bakar dari kaum Kuraisy adalah para tokoh mereka, diantaranya: Shofwan bin Umayyah, Syaibah bin Ustman, dan Suhail bin Amru, Musa bin Uqbah menyebutkan pula bahwa bantuan yang di kepada Bani Bakar berupa senjata dan budak(hamba sahaya)173.

Tindakan kaum Kuraisy ini merupakan pelanggaran yang nyata terhadap perjanjian Hudaibiyah, dan permusuhan yang berkesinambungan kepada para sekutu kaum Muslimin, dan kaum Kuraisy telah mengetahui bahaya dari sikap yang dilakukannya itu, dan sebahagian riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah SAW mengirim utusan kepada kaum Kuraisy untuk memberikan pilihan kepada mereka, apakah kaum Kuraisy akan membayar denda atas orang-orang dari Bani Khuzaah yang dibunuh oleh mereka, ataukah akan melepaskan Bani Bakar sebagai sekutu mereka, ataukah akan memilih berperang, maka merekapun memilih berperang, kemudian mereka menyesal atas pilihn tersebut dan mengutus Abu Shofyan kemadinah untuk meminta pembaharuan perjanjian kepada Rasulullah SAW, akan tetapi ia gagal dan tidak mendapatkan persetujuan dari Rasulullah untuk memperbaharui perjanjian tersebut174. Maka Rasulullah pun menyuruh para sahabatnya agar mempersiapkan pasukan untuk berperang, dan Rasulullah tidak memberitahukan kepada mereka tentang kabilah yang akan diperanginya, beliau sangat merahasiahkan hal itu dengan tujuan agar kaum Kuraisy tidak mempersiapkan diri untuk berperang175. Rasulullah SAW menyeru kabilah-kabilah yang ada di sekitar Madinah untuk ikut berperang, diantaranya adlah: Aslam, Gifari, Mazinah, Jahinah, Asja dan Sulaim, maka diantara mereka ada yang bersepakat didalam kota Madinah dan sebahagian yang bertemu dijalan(bersama Rasulullah), dan jumlah pasukan kaum Muslimin ketika itu mencapai 10 ribu orang176, dan telah bergabung bersama pasukan Rasulullah tersebut kelompok Muhajirin dan anshor, tidak satupun diantara mereka yang tidak ikut brgabung dalam pasukan tersebut177, hal ini menunujukan betapa hebatnya kekuatan kaum Muslimin dalam menghimpun pasukan pada

AlkhuzaI sebagai syekh setempat, dan bapaknya seorang tabiin, mereka adalah majhulul hal (tidak jelas), dan telah diperkuat oleh Ibnu Hiban(Alhaistami dalam kitab Majma Azzawaid 6/162 171 Assiroh Annabawiyah 2/389 tanpa sanad 172 Alwakidi dalam bukunya Almaghozi 2/784 dengan sanad yang sangat lemah 173 Ibnu Kastir Albidayah wannihayah 4/281 dari riwayat Musa bin Uqbah tanpa sanad 174 Ibnu Hajar dalam bukunya Almatholib Al-Aliyah 4/243 dari hadist mursal Muhamad bin ubad bin Jafar dengan disandarkan kepadanya dan Shahih, dan dalam Fathul Bari 8/6 dari riwayat Muhamad bin A-idz Addimasyqi dari hadist Ibnu Umar dan dibandingkan dengan Ibnu Kastir: Albidayah wannihayah 4/281 dan Alwafidi dalm kitab Almaghozi 2/786 175 Ibnu Kastir Albidayah Wannihayah 4/283 dari riwayat Ibnu Ishak dengan sanad yang shahih 176 Ibnu Saad dalam kitab Athobaqot 2/397 tanpa sanad 177 Ibnu Ishak dengan sanad yang hasan(siroh Ibnu Hisyam 2/399)

masa itu, dan dalam pasukan tersebuta terdapat 1000 orang dari kabilah Mazinah dan 1000 orang dari kabilah Bani sulaim178. Jumlah pasukan yang besar ini menunjuka betapa pesatnya pertumbuhan kekuatankaum Muslimin selama diberlakukannya perjanjian Hudaibiyah sampai terjadinya futuh Makkah(pembebasan Makkah). Hatib bin Abi Baltaah(seorang sahabat) telah mengirim surat kepada kaum Kuraisy untuk memberitahukan bahwa kaum Muslimin akan melakukan serangan kepada mereka, surat ini dibawa oleh seorang perempuan yang sudah tua, maka Nabi SAW mengutus Ali, Zubair dan Mikdad untuk mengejar perempuan tersebut, merekapun berhasil menangkap perempuan tersebut disebuah tempat bernamaraudhah sekitar 12 mil dari Madinah, kemudian mereka meminta kepada perempuan tua itu agar memberikan surat yang dititipkan oleh Hatib bin Abi Baltaah, pada awalnya perempuan itu tidak mau mengaku dan tidak mau memberikan surat tersebut, akan tetapi setelah diancam bahwa apabila ia tidak memberikan surat tersebut maka ia akan ditelanjangi, barulah surat tersebut diserahkan kepada Ali, Zubair dan Mikdad, setelah surat tersebut diserahkan kepada Rasulullah, maka beliau bertanya kepad Hatib:wahai Hatib apa maksud mu dengan surat ini ? Ia menjawab: Wahai Rasulullah janganlah terburu-buru menghukum diriku, Aku mempunyai hubungan erat dengan Quraisy , aku pernah menjadi sekutunya, tapi aku tidak memiliki hubungan silsilah (kerabat) dengan mereka, Di antara orang-orang Muhajirin yang bersama dengan engkau banyak yang mempunyai sanak famili di mekkah yang bisa menjaga keluarga dan harta benda mereka. Sekalipun orang-orang Quraisy itu tidak mempunyai hubungan silsilah denganku, namun aku menginginkan supaya ada beberapa orang di antara mereka yang mau menjaga kerabatku. Aku berbuat demikian itu sama sekali bukan karena aku telah murtad dan bukan pula karena aku meridhoi kekufuran setelah aku memeluk Islam. Kemudian Rasulullah saw bersabda :Sesungguhnya dia telah mengatakan yang sebenarnya kepada kalian. Akan tetapi Umar ra berkata: wahai Rasulullah biarkan aku membunuhnya, maka Rasulullah berkata: Sesungguhnya dia pernah turut serta perang Badar! Apakah engkau tahu, kalau-kalauAllah meninggikan martabat orang yang turut serta dalam perang Badar, lalu Allah bertitah : berbuatlah sekehendak kalian, kalian kuampuni .Sehubungan dengan peristiwa tersebut turunlah firman Allah :Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan musuh-Ku dan musuhkalian sebagai teman-teman setia yang kalian berikan (keterangan-keterangan mengenaiMuhammad) berdasarkan perasaan kasih sayang. Sesungguhnya mereka itu mengingkari kebenaran yang datang pada kalian, dan mereka telah mengusir Rasul serta kalian karenakalian beriman kepada Allah, Rabb kalian. Jika kalian benar-benar hendak keluarberjuang di jalan-Ku (janganlah kalian berbuat sedemikian itu). (Janganlah) kalianmemberitahukan secara rahasia (keterangan-keterangan tentang Muhammad) kepadamereka karena kasih sayang. Aku Maha Mengetahui apa yang kalian sembunyikan danapa yang kalian nyatakan (secara terang-terangan). Dan barangsiapa di antara kalianmelakukannya, maka ia telah sesat dari jalan yang lurus. (al-Mumtahanah:1)179, oleh karena itu Allah SWT mensyariatkan agar memusuhi orangorang kafir dan agar tidak bercampur dengan mereka, Allah juga melarang untuk berloyalitas kepada mereka dan bersahabat dengannya. Dalam kisah Hatib bin Abi Baltaah ini nampak jelas mujizat Rasulullah SAW, dimana beliau memberitahukan kepada para sahabatnya tentang seorang perempuan yang telah diutus oleh Hatib bin Abi Baltaah untuk membawa suratnya. Dalam kisah Hatib juga terdapat hukum tentang mata-mata dan hukum bolehnya membuka kedok atau penghalang dari mata-mata tersebut, dan bahwasannya mata-mata itu walaupun telah melakukan dosa besar akan tetapi ia tidak menjadi kafir. Rasulullah SAW keluar dari Madinah pada bulan Ramadhan tahun ke 8 H, ketika itu kaum Muslimin dalam keadaan berpuasa,sehingga ketika mereka sampai disebuah tempat yang
178 179

Rujukan sebelumnya Shahih Bukhori 4/72, 579/99, 9/33, shahih Muslim 2/170

bernama Kudaid sekitar 86km dari Makkah dan 301km dari Madinah, mereka berbuka puasa180. Dan untuk sementara waktu kepemimpinan dikota Madinah Rasulullah SAW mempercayakannya kepada Abu Ruham Kalstum bin Hashin Alghifari181 Pasukan kaum Muslimin sudah samapai disatu tempat yang bernama Marrodzohron dan pergerakan mereka ini tidak diketahui oleh kaum Kuraisy, kaum Muslimin keluar dari Madinah pada tanggal 10 ramadhan dan memasuki kota Mekah pada tanggal 19 ramadhan, itulah pendapat yang masyhur yang ada dalam buku Almaghozi(peperangan)182. Dan telah terjadi perbedaan pendapat(dikalangan ahli siroh) dalam penentuan tanggal terjadinya futuh Makkah antara 13, 16, 17 dan 18 ramadhan, akan tetpi mereka bersepakat bahwa futuh Makkah itu nterjadi pada bulan ramadhan tahun ke 8 H.183 Dalam perjalanan kaum muslimin menuju Mekkah, maka datanglah serombongan para pemuka kaum musyrikin, dan mereka pun mengumumkan keislaman mereka. Adapun di daerah Abwa, Abu Sufyan bin Harist yang merupakan saudara sesusuan Rasulullah dan juga Abdullah bin Abi Umayyah bin Mughirah, mereka berdua pun mengumumkan keislamannya. Dahulu mereka berdua adalah orang yang paling keras dalam memusuhi agama Islam. Adapun Abu Sufyan, maka dia pernah menyerang kaum Muslimin dan memerangi mereka dalam setiap pertempuran selama dua puluh tahun hingga akhirnya Allah memberikan hidayah kepadanya dan masuklah ia ke dalam agama Islam dengan keislaman yang baik. Dialah orang termasuk diantara para sahabat Nabi yang berdiri tegar bersama dengan Rasulullah dikala perang Hunain, yang mana saat itu banyak orang berlarian menyelamatkan diri.184 Dan adapun Abdulah bin Abi Umayyah, maka dia pun merupakan orang yang sangat keras menentang dan memusuhi kaum muslimin, dia adalah saudara laki-laki seayah Ummu Salamah ummul mukninin (isteri Nabi). Dia pun mendatangi Rasulullah diantara Suqya dan Araj, yakni jalan antara Mekkah dan Madinah. Setelah ia masuk Islam dan keislamannya pun baik, dia ikut serta dalam penaklukan kota Mekkah (fathu Makkah), dan meninggal sebagai syahid pada saat pengepungan kota Thaif.185

180

Shahih Bukhori 5/185, dan Fathul Bari 4/180,181, dan Imam Annawawi dalam kitab Alminhaj syarah Shahih Muslim 3/173 dan ia telah membatasi jarak dengan menggunakan setandar pemondokan dan mil 181 Siroh Ibnu Hisyam 2/399 dari riwayat Ibnu Ishak dengan sanad hasan dan telah dishahihkan oleh Alhafidz Ibnu Hajar(dalam kitab Almatholib Alaliyah Bizawa-idilmasanid Assamaniyah 4/248) dan dishahihkan oleh Hakim, ia berkata bahwa riwayat tersebut berdasarkan syarat Muslim padahal keduanya tdk pernah mengeluarkannya, kemudian disepakati oleh Adzahabi dalam Almustadrok 3/44, akan tetapi Ibnu Ishak tidak berdasarkan pada syarat keduanya, dan Muslim hanya mengeluarkan untuknya dalam almutabaat saja. 182 Annawawi dalam Syarah Muslim 3/176 183 Shahih Muslim 1/452,453 dan dalam thobaqot karya Ibnu Saad 2/ 138 184 Mustadrak al hakim 3/43-45, beliau mengatakan bahwa hadis tersebut hasan sahih sesuai dengan syarat sahih muslim meski kedua imam bukhari dan muslim tidak mengemukakannya dalam kitab sahih mereka. Imam dzahabi menyepakatinya. Lihat sirah Ibnu Hisyam 2/400, Tarikh Thabari 3/50, juga lihat qasidahnya tentang Islam dalam sahih muslim 2/263. 185 Ibnu Abdil Barr, al istiab (dengan keterangan al isobah) 2/263

Dan di Juhfah, yaitu daerah yang berada dekat dengan Rabigh saat ini, datanglah Abbas bin Abdul Mutalib kepada Rasulullah sebagai seorang yang berhijrah (Muhajir),186 dan ia telah masuk Islam sebelum penaklukan Khaibar.187 Meskipun ada beberapa riwayat yang lemah (dhaif) yang menyatakan bahwa dia telah masuk Islam sebelum terjadinya perang Badar,188 bahkan sebelum terjadinya hijrah ke Madinah.189 Namun keterang itu terbantahkan oleh berita yang menyebutkan bahwa Nabi saw pernah mengajukan tebusan untuknya tatkala ia menjadi tawanan pasukan muslim pada perang Badar, dan memang tidak diragukan lagi bahwa ia memeliki jasa besar dalam kemajuan Islam sebelum ia menyatakan masuk Islam, ia lah yang dahulu senantiasa memberi kabar perihal kondisi orang-orang Quraisy Mekkah, dan ia pula yang senantiasa menolong kaum lemah dari kalangan orang-orang Islam di Mekkah kala itu. Dan di kawasan Marri Dzahran, pasukan kaum muslimin berkemah dan bersiap untuk penaklukan kota Mekkah, berita itu tidak diketahui oleh orang-orang Quraisy, maka keluarlah Abu Sufyan bin Harb dan Hakim bin Hazam serta Badil bin Warqa al khuzai untuk mencari berita tentang itu. dan mereka pun bertemu Abbas bin Abdul Muttalib yang mana ia sebenarnya ingin mengirimkan seorang utusan untuk menyampaikan pesan kepada penduduk Mekkah agar segera keluar dan berdamai dengan Rasulullah sebelum pasukan Islam datang dan memasuki kota Mekkah. Abu Sufyan pun berdiskusi denga kedua rekannya tersebut perihal keberadaan pasukan yang sedang bermarkas di kawasan Marri Dzahran, dimana diantara mereka ada yang menyangkan bahwa kumpulan pasukan tersebut adalah suku Khuzaah. Ini semua menunjukkan terhadap kesuksesan kaum muslimin dalam hal menjaga kerahasiaan misi penaklukan mereka terhadap kota Mekkah. Dan tatkan Abbas memberitahu mereka bahwa pasukan yang sedang berkumpul di kawasan Marri Dzahran itu adalah pasukan kaum muslimin, maka mereka pun menanyakan pendapatnya mengenai hal tersebut dan meminta Abu Sufyan agar berangkat bersamanya menuju perkemahan pasukan kaum muslimin, dan ia pun menyetujuinya. Kemudian berangkatlah kedua orangt tersebut untuk menghadap Rasulullah. Dan Rasulullah pun mengajak Abu Sufyan agar masuk Islam, maka pada awalnya ia pun melembut-lembutkan ucapannya dan

186 187

Ibnu Hisyam, sirah nabawiyah 2/400, dengan menukil dari az zuhri tanpa sanad periwayatan Abdurrazaq, al mushannaf 5/466, Ahmad, al musnad 21/122, Al fasawi, al marifah wat tarikh 1/507,508,509, Ibnu Katsir mengatakan bahwa sanad riwayat ini sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim, dan tidak ada seorang pun dari pemilik kitab hadis yang enam yang mengemukakannya kecuali Imam Nasai, al bidayah wan nihayah 4/217. 188 Thabaqat Ibnu Saad 4/10, dalam sanadnya ada Husain bin Abdullah al Hasyimi d an itu dhaif (lemah), dan pada 4/11 dalam sanadnya ada al waqidi yang statusnya matruk dan Ibnu Abi Sabrah yang tidak bisa dijadikan hujjah. 189 Thabaqat Ibnu Saad 4/31, dalam sanadnya ada al waqidi yang statusnua matruk dan Ibnu Abi Habibah yang dhaif, serta sanadnya yang munqathi (terputus).

merasa bimbang perihal masuk atau tidaknya ke dalam agama Islam. Maka Rasul pun menyuruh Abbas agar datang bersama Abu Sufyan ke perkemahan beliau esok harinya dengan membawa serta Abu Sufyan. Dan akhirnya ia pun menyatakan masuk Islam pada keesokan harinya tersebut. Abbas pun memberitahkan kepadanya bahwa pasukan kaum muslimin telah tiba di hadapannya, Abu Sufyan pun mendapati bahwa pasukan tersebut sangatlah kuat dan besar yang tidak mungkin dapat ditandingi oleh pasukan Qurais Mekkah, hingga tatkala pasukan kaum Anshar dan Muhajirin beserta Rasulullah melintas di hadapannya, ia pun berkata, demi Allah, sungguh kerajaan saudaramu ternyata sekarang telah menjadi sangat besar. Maka Abbas pun menjawabnya, celakalah engkau wahai Abu Sufyan, sesungguhnya itu adalah kenabian (bukan kerajaan), maka Abu Sufyan pun mengatakan, ya, memang benar begitu adanya (kenabian). Dan berangkatlah Abu Sufyan menuju Mekkah dan memberitahu kaum Quraisy perihal kedatangan pasukan kaum muslimin dan melarang mereka untuk agar tidak melakukan perlawanan terhadap pasukan kaum muslimin tersebut.190 Saad bin Ubadah kala itu sedang membawa panji kaum Anshar diantara pasukan muslimin tersebut, dan berkata ketika ia melihat Abu Sufyan melintas dihadapannya, hari ini adalah hari pertempuran hebat, dan hari ini Kabah telah dihalalkan, maka Abu Sufyan pun mengadukan perihal ucapan tersebut kepada Rasulullah, dan bersabdalah Rasulullah, Saad telah keliru, sesungguhnya hari ini adalah hari dimana Allah mengagungkan Kabah dan hari dimana Kaba h diberi kain penutup.191 Maka beliau saw pun mengambil panji tersebut dari tangan Saad dan menyerahkanya kepada putra Saad yang bernama Qais, dan beliau pun berkata kepada Saad agar ia mengambil kembali panji tersebut karena khawatir jika anaknya tersebut melakukan hal yang keliru, maka Saad pun mengambil kembali panji tersebut darinya.192 Dan di daerah Marri Dzahran, Rasulullah memutuskan perihal strategi memasuki kota Mekkah, beliau mengangkat pada komandan pasukan dan membagi pasukan yang akan bergerak dari arak kanan dan kiri, serta arah tengah kota Mekkah. Khalid bin Walid ditugaskan memimpin pasukan dari arah kanan, dan Zubair bin Awam ditugaskan dari arah kiri, sementara Abu Ubaidah

190

Ibnu Hajar, al mathalib al aliyah 4/244 dari riwayat Ishak bin Rahawaih, Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadis ini adalah sahih, dan at Thahawi dalam syarah maanil atsar 3/322 yang mengatakan bahwa hadis ini sanadnya muttasil (nyambung) dan sahih. Ibnu Ishak telah menjelaskannya dengan gamblang tentangitu. Dan juga hal itu sesuai dengan yang ada pada sahih Bukhari 5/186, meski terdapat penjelasan yang banyak. 191 Sahih Bukhari5/186, lafadz kadzaba digunakan untuk makna keliru. 192 Ibnu Hajar, mukhtasar zawaid al bazzar 248, dan ia mengatakan bahwa itu sahih.

diperintahkan untuk memimpin pasuan infanteri. Panji Rasulullah kala itu berwarna hitam dengan bendera berwarna putih.193 Al Waqidi telah menjelaskan perihal pembagian tugas pasukan tersebut secara rinci dalam bukunya. Dan ia menyebutkan bahwa jumlah pasukan muslimin dari kalangan muhajirin adalah 700 orang, dan dari kalangan anshar berjumlah 4000 orang, dan dari kalangan Salim berjumlah 400 orang, dan dari kalangan Juhainah berjumlah 800 orang, dari Bani Kaab bin Amer berjumlah 500 orang, sehingga total pasukan kam muslimin berjumlah 7400 pasukan, dengan jumlah kuda sebanyak 980 ekor kuda.194 Namun demikian, apa yang disebutkannya perihal jumlah pasukan tersebut adalah bertentangan dengan beberapa riwayat sahih seputar hal tersebut. dan keterangan Al Waqidi tersebut tidak dapat diterima, terlebih jika menyalahi pendapat pihak lainnya. Kaum Quraisy pun bersiap menghadapi pasukan muslimin dengan mengumpulkan pasukan mereka yang tergabung dari koalisi berbagai suku yang setia kepada mereka, dengan maksud untuk mempertahankan keberadaan mereka, jika mereka menang maka mereka akan menolong yang lainnya, dan jika mereka kalah maka mereka akan mengadakan perjanjian damai dengan pihak pasukan kaum Muslimin. Maka Rasulullah memerintahkan pasukan untuk berperang melawan pasukan Quraisy, hingga pasukan kaum muslimin berhasil masuk sampai ke daerah bukit shafa, dan berhasil menumpas seluruh pasukan kaum quraisy. Kemudian Rasulullah memasuki kota Mekkah dari arah atasnya, sementara Khalid bin Walid dari arah bawah kota. 195 Perlawanan pasukan quraisy kala itu tidaklah terlalu kuat. Sejarawan Ibnu Ishak menyebutkan bahwa jumlah pasukan tewas dari kalangan kaum muslimin di kawasan Khandamah dimana Khalid bin Walid bertempur melawan pasukan musuh adalah berjumlah tiga orang, sementara jumlah pasukan musuh yang tewas adalah sebanyak dua belas orang.196 Musa bin Uqbah menyebutkan bahwa jumlah pasukan yang tewas dari kalangan kaum musyrikin sebanyak dua puluh empat orang.197 Sementara al Waqidi menyebutkan bahwa jumlah pasukan musuh yang

193 194

Sunan Ibnu Majah 2/941, dengan sanad yang hasan lidzatihi. Maghazi karya al waqidi 2/799,801 195 Fathul bari 8/10 196 Sirah nabawiyah 2/407 dari riwayat Ibnu Ishak dari dua orang tsiqah (terpercaya) dikalangan guru mereka secacara mursal, al hakim dalam al mustadrak 3/241, Imam Bukhari menyebutkan hanya dua orang saja dari kalangan kaum muslimin yang gugur. 197 Al Baihaqi, as sunan al kubra 9/120 dengan sanad seseorang yang belum kami pelajari sejarah hidupnya, dan ini Termasuk kumpulan mursal Musa bin Uqbah.

tewas kala itu sebanyak dua puluh delapan orang.198 Dalam suattu riwayat yang lemah disebutkan bahwa menurut Thabrani jumlah pasukan yang tewas dari pihak musuh adalah sebanyak tujuh puluh orang.199 Dan pendapat yang paling kuat dalam riwayat tersebut adalah apa yang disebutkan oleh Ibnu Ishak dan Musa bin Uqbah, dimana kedua sumber tersebut merupakan kitab paling dipercaya dalam kaitannya dengan pembahasan tentang peperangan-peperangan di zaman itu (al maghazi). Dan kitab tentang peperangan (maghazi) karya Ibnu Uqbah secara umum lebih kuat dari buku sejarah karya Ibnu Ishak, sebagaimana disebutkan bahwa Abu Sufyan menunjukkan perihal banyaknya jumlah pasukan yang tewas dari pihak Quraisy, dan ini merupakan indikasi akan keakuratan riwayat Musa bin Uqbah dalam hal ini. Abu Sufyan pernah berkata kepada Rasulullah, wahai Rasulullah, sesungguhnya kejayaan Quraisy telah musnah, dan sekarang tidak akan ada lagi Quraisy. Pernyataan ini mengindasikan bahwa jumlah pasukan yang tewas dari pihak pasukan quraisy adalah cukup banyak. Maka Rasulullah pun bersabda, barang siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan maka ia aman. Maka orang-orang pun berbondong-bondong memasuki rumah Abu Sufyan dan sebagian yang dari mereka memilih untuk menetap di rumah masing-masing dengan menutup pintu rumah mereka. Dengan kondisi itu, maka muncullah kekhawatiran dalam hati kaum anshar (Madinah), dimana disaat Nabi saw memberikan kebijakan seperti itu dengan memberikan jaminan keamanan pada pihak kaum quraisy yang menunjukkan belas kasihan Nabi dan kecintaan beliau terhadap suku (kaum) dimana beliau berasal dan minat beliau untuk tinggal menetap di Mekkah. Maka Nabi saw pun menenangkan hati mereka dan bersabda, hidupku itu adalah hidup bersama kalian, dan matiku adalah mati bersama kalian.200

198

Maghazi al waqidi 2/827-829 tanpa sanad Ibnu Katsir, al bidayah wan nihayah 4/297, dan dalam sanadnya ada Syuaib bin Shafwan as Tsaqafi yang bisa maqbul diterima, sehingga status riwayatnya dhaif (lemah) 199 Ibnu Katsir, al bidayah wan nihayah 4/297, dan dalam sanadnya ada Syuaib bin Shafwan as Tsaqafi yang bisa maqbul diterima, sehingga status riwayatnya dhaif (lemah)
200

sahih Muslim 2/95,96, 2/296-297 Khatal sebelumnya pernah masuk Islam kemudian dia membunuh seorang muslim dan ia pun murtad keluar dari agama Islam, saat ia terbunuh ia sedang bergelayutan di dinding Kabah, hal ini menunjukkan bahwa Kabah tidak melindungi pelaku maksiat (kriminal) yang berhak mendapatkan hukuman. (sirah Ibnu Hisyam 2/410 dari jalur Ibnu Ishak tanpa sanad.

Rasulullah dengan telah memerintahkan para komandasn pasukan untuk tidak memerangi siapapun kecuali yang mereka yang melakukan penyerangan. Dan beliau memaklumatkan jaminan keamanan bagi seluruh penduduk Mekkah kala itu kecuali terhadap empat orang laki-laki dan dua orang perempuan, dimana mereka harus ditangkap dan dihukum mati, meski seandainya mereka berlindung di dinding Kabah sekalipun. Dan keempat orang laki-laki tersebut adalah Ikrimah bin Abu Jahal, Abdullah bin Khatal, Maqis bin Shababah, dan Abdullah bin Saad bin Abi Rabah. Adapun Abdullah bin Khatal201 maka ia terbunuh ketika sedang bergelayutan di dinding Kabah, sementara Maqis bin Shababah ia terbunuh di pasar Mekkah, mengenai Ikrimah bin Abu Jahal dan Abdullah bin Saad bin Abi Sarah mereka menemui Nabi saw dan mereka pun mengumumkan keislaman mereka sehingga mereka pun selamat.202 Al Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan dalam berbagai keterangan bahwa Rasulullah mengecualikan jaminan keamanan tersebut terhadap beberapa orang dari pihak quraisy, yaitu sembilan orang laki-laki dan delapan orang perempuan.203 Mereka adalah orang-orang yang sebelumnya merupakan tokoh dan pelaku yang sangat berperan dalam pembantaian dan penyiksaan kejam terhadap kaum muslimin ketika mereka masih sedikit dan lemah. Sehingga dengan kebijakan pengecualian tersebut bisa dijadikan pelajaran bagi siapapun untuk tidak berlaku zalim dan aniaya, sehingga mereka bisa selamat dari hukuman tersebut dengan mengharap kasih sayang Islam dan kemurahan hati kaum muslimin. Nabi saw pun mengizinkan kepada suku Khuzaah untuk menuntut balas terhadap suku Bani Bakr pada hari pertama penaklukan kota Mekkah hingga tiba waktu shalat ashar, itu sebagai balasan terhadap pengkhianatan suka Bani Bakr terhadap fakta perdamaian diantara kedua suku tersebut sebelum peristiwa penaklukan (futuh) Mekkah yang termasuk dalam klausul perjanjian damai Hudaibiyah.
201

Khatal sebelumnya pernah masuk Islam kemudian dia membunuh seorang muslim dan ia pun murtad keluar dari agama Islam, saat ia terbunuh ia sedang bergelay utan di dinding Kabah, hal ini menunjukkan bahwa Kabah tidak melindungi pelaku maksiat (kriminal) yang berhak mendapatkan hukuman. (sirah Ibnu Hisyam 2/410 dari jalur Ibnu Ishak tanpa sanad. 202 An-Nasai, As Suyuti (zahru riba 7/105) dalam sanadnya ada kelemahan. Dalam hadis itu terdapat dua orang saksi yang diriwayatkan oleh al baihaqi, salah satunya dalam kitab al bidayah wan nihayah karya Ibnu Katsir 4/299 dalam suatu sanad yang didalamnya terdapat Hakam bin Abdul Malik al Basri yang lemah, dan menyebutnya Abdul Uzza bin Khatal pengganti nama Abdullah bin Khatal. Dalam penyebutan namanya terdapat perbedaan, dan Ummu Sarah pada nama Ikrimah, dan satunya yang lain dalam kitab sunan kubra 9/120 di dalamnya ada Amer bin Utsman al makhzumi yang maqbul. Dan menyebut nama huwairits bin Naqid pada kata Ikrimah, meski riwayat-riwayat tersebut lemah, akan tetapi mencakup sanad khabar. Perihal berita terbunuhnya Ibnu Khatal dalam keadaan sedang bergelayut di dinding Kabah terdapat dalam kitab sahihain, yaitu sahih Bukhari 5/188, sahih Muslim 203 Fathul bari 8/11,12

Maka manakala tiba waktu shalat ashar, Rasulullah pun memaklumatkan penghentian semua aktifitas pertempuran di Mekkah seraya menjelaskan kesucian kota Mekkah dan keharaman berperang di dalamnya. Sehingga tatkala ada orang dari kalangan suku Khuzaah membunuh salah seorang dalam rangka menuntut balas atas pengkhianatan tersebut, maka Rasul pun menebus (diyat) nya dan menjelaskan bahwa barang siapa yang membunuh seseorang setelah maklumat tersebut diumumkan, maka pihak keluarga si korban diberikan pilihan untuk menuntut kepada si pembunuh antara hukuman qisas (semisal) ataupun diyat (tebusan).204 Adapun penduduk Mekkah secara umum mereka mendapatkan pengampunan (grasi) umum secara keseluruhan, meskipun mereka sebelumnya telah banyak melakukan kejahatan terhadap Rasulullah dan dakwah beliau. Meskipun pada saat itu pasukan kaum muslimin sanggup dengan mudah untuk menumpas mereka seluruhnya, akan tetapi mereka semua diberikan ampunan dan pemaafan dari Rasulullah dan kaum muslimin. Maka turunlah pengumuman pemberian ampunan dan maaf tersebut terhadap para penduduk Mekkah, dan akhirnya mereka pun semua berkumpul di sekitar dekat Kabah seraya menanti keputusan dari Rasulullah, maka beliau saw pun bertanya kepada mereka, apakah kiranya yang akan aku lakukan terhadap kalian?, mereka pun menjawab, engkau akan berlaku baik kepada kami, wahai saudara kami dan keponakan kami yang mulia, beliaupun menjawab dan bersabda, pada hari ini kalian bebas, Allah telah mengampuni kalian. Dan pada saat itu maka turunlah ayat berikut : Suratan nahl:126 Rasulullah pun memilih untuk memaafkan mereka dan bersabar atas apa yang telah mereka lakukan terhadapnya, dan membebaskan hukuman terhadap mereka atas dasar kemurahan hati beliau dan harapan beliau akan rahmat Allah taala. Maka beliau pun bersabda, kita bersabar dan tidak akan menghukum mereka.205 Dampak dan konsekuensi dari pengampunan (grasi) umum tersebut adalah terpeliharanya jiwa mereka dari hukuman mati ataupun dari tawanan, serta tetapnya status kepemilikan harta dan

204

Ahmad dalam al musnad (al fathurrabani 21/159) dengan sanad hasan lidzatihi, lihat riwayat lengkapnya dalam al musnad 4/32 dengan sanad hasan, Ibnu Ishak telah menyebutkannya secara jelas. Lihat riwayat lain dalam al musnad 4/31 di dalamnya terdapat Muslim bin Yazid As Sadi yang maqbul, riwayatnya semakin kuat hingga mencapai deraja hasan lidzatihi. 205 Ahmad dalam al musnad 5/135, Sunan Turmudzi 4/361.363, kedua jalur tersebut saling menguatkan hingga mencapai derajat hasan. Dalam sanad Ahmad ada Hadyah Al mAruzi yang jujur akan tetapi mungkin wahm, dalam sanad Turmudzi ada Rabi bin Anas yang jujur akan tetapi mungkin wahm, Isa bin Kindi jujur, Imam Hakim menyebutkan hadis tersebut sahih sanadnya meski Bukhari dan Muslim tidak menuliskannya, Imam Ad-Zahabi menyetujuinya (al mustadrak 2/359)

properti (tanah) mereka masing-masing dan mereka terbebas dari beban pajak kharaj mereka. Kota Mekkah diperlakukan khusus dan berbeda dengan daerah-daerah lainnya yang telah ditaklukan dengan pengerahan pasukan. Hal itu atas pertimbangan status kesucian kota Mekkah dan keharamannya, karena Mekkah adalah kota tempat ibadah haji, dan tempat ibadah-ibadah lainnya bagi manusia, serta merupakan kota suci yang telah diharamkan oleh Allah. Atas dasar itu maka jumhur (mayoritas) ulama dari kalangan salaf (dahulu) dan khalaf (terakhir) berpendapat bahwa tanah di kota Mekkah tidak boleh diperjual belikan dan rumah-rumahnya tidak boleh disewakan (komersial).206 Dan begitulah kondisinya dari dahulu kala, dimana para penduduk Mekkah tinggal disana sebatas untuk mencukupi keperluan mereka untuk bertempat tinggal di rumah-rumah mereka, dan adapun kelebihan rumah dan bangunan (properti) yang mereka miliki dipergunakan untuk menjamu para jemaah haji dan umrah, orang-orang yang hendak beribadah, dan para pencari akhirat. Namun menurut pendapat para ulama yang lain menyebutkan bahwa tanah dan bangunan di kota Mekkah boleh diperjual belikan atau disewakan, mereka melandaskan pendapat tersebut pada dalil-dalil yang kuat, sementara para ulama yang berpendapat dengan larangan sebagaimana disebutkan diatas hanya melandaskan pendapat mereka pada ketarangan-keterangan yang mursal dan mauquf.207 Rasulullah selama berada di Mekkah tidak tinggal di rumah beliau, akan tetapi beliau singgah di suatu tempat yang bernama Hujun. Tempat tersebut merupakan lokasi dimana pihak Quraisy bersepakat mengeluarkan keputusan untuk memboikot suku Bani Hasyim dan kaum muslimin. Dan tatkala Usamah bin Zaid bertanya kepada beliau jika beliau berkenan singgah di rumahnya, tidakkah Uqail meninggalkan untuk kami seutas tali dari pintalan atau suatu tempat tinggal?, seraya menjelaskan bahwa seorang muslim tidak bisa mewarisi harta orang kafir.208 Uqail dan Thalib telah mewarisi harta dari ayah mereka, yaitu Abu Thalib, dan ia telah menjual seluruh rumahnya. Adapun Ali dan Jafar, yang keduanya adalah anak dari Abu Thalib tidak mewarisi apapun karena keduanya telah masuk Islam kafir.209 Rasulullah memasuki kota Mekkah tidak seperti masuknya para penakluk kota-kota, beliau tiba dengan rasa tunduk kepada Allah dan bersyukur atas karunia kemenagan tersebut seraya sementara ayahnya meninggal dalam keadaan

206

Zadul maad 2/194, disebutkan bahwa itu adalah madzhab ulama diantaranya Mujahid, Atha, darikalangan ulama Mekkah, dan Imam Malik dari Madinah, dan Abu Hanifah dari Irak, Sufyan As Tsauri, Imam Ahmad Ishak bin Rahawaih. 207 Zadul maad 2/294 208 Sahih Bukhari 5/187, sahih Muslim 1/567 209 Fathul Bari 8/15

membaca surat al fath dengan bacaan yang sempurna tatkala beliau sedang di atas hewan kendaraannya.210 Dan pada saat beliau bertawaf mengelilingi Kabah, beliau pun menyentuh rukun (sudut) Kabah dengan tongkat beliau karena beliau tidak suka menyusahkan orang -orang yang sedang melakukan thawaf dan sebagai bentuk pembelajaran bagi umatnya.211 Rasulullah telah menjelaskan tentang keharaman kota Mekkah dan larangan mengadakan peperangan di dalamnya setelah terjadinya penaklulkan (futuh) kota Mekkah. 212 Beliau juga telah memposisikan orang-orang quraisy pada posisi yang layak (tinggi), dan tidak akan menjatuhkan hukuman kepada mereka seelah hari fatuh Mekkah tersebut, atas apa yang dilakukannya kepada beliau sebelumnya, hingga hari kiamat.213 Rasulullah tela memerintahkan penghancuran berhala-berhala dan mensucikan Baitullah (Kabah) dari patung-patung tersebut, bahkan beliau pun terjun langsung dan ikut serta dalam kegiatan tersebut dengan menggunakan busur panahnya beliau menarik berhala-berhala dan merobohkannya, seraya membaca firman Allah:214 katakanlah, telah datang kebenaran (al hak) dan telah musnah kebatilan, sesungguhnya kebatilan itu akan musnah. Dan jumlah berhala yang dihancurkan pada saat itu sebanyak 630 berhala.215 Disebutkan bahwa orang-orang musyrikin Mekkah dahulu senantiasa melumuri patung Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang ada di dalam Kabah dengan minyak wangi zafaran, dan mereka pun senantia sa mengundi nasib dengan menggunakan anak panah (azlam) di sekitarnya. Maka Nabi pun bersabda semoga Allah membinasakan mereka, sungguh Nabi Ibrahim tidak pernah melakukan perbuatan mengundi nasib (azlam).216 Dalam suatu riwayat lain disebutka bahwa patung maryam pun didapati ada di dalam Kabah.217 Rasulullah enggan masuk ke dalam Kabah hingga dihilangkan patung-patung tersebut dari dalam Kabah.218 Kemudian beliau saw masuk ke dalam

210 211

Sahih Bukhari 5/187 Sunan Abu Dawud 1/434 dengan sanad hasan lidzatihi, al Haitsami dalam majma azzawaid 3/244 dari jalur Thabrani dengan sanad para perawi sahih. 212 Sunan Turmudzi 3/83, menurutnya hadis terebu hasan sahih, musnad Ahmad 412 dengan sanad hasan lidzatihi. 213 Sahih Muslim 2/97, musnad Ahmad 3/412 dengan sanad yang sahih. 214 Sahih Muslim 2/95,96,296,297 215 Sahih Bukhari 5/188, sahih Muslim 2/97 216 Sahih Bukhari 5/88, musnad Ahmad 1/360 dengan sanad yang sahih, musnad Abi bakr bin abi Syaibah dengan sanad hasan, hal 109 217 Sahih Bukhari 4/169 218 Sahih Bukhari 5/188

Kabah dan melakukan shalat dua rakaat pada bagian dua tiang depan Kabah yang pada saat itu memiliki enam tiang yang saling menyangga, dan beliau menjadikan arah pintu Kabah di belakangnya, serta membiarkan dua tiang lainnya berada di sebelah kiri beliau, satu tiang di sebelah kanannya, dan tiga tiang lagi di belakang beliau.219 Kemudian beliau keluar dan memanggil Utsman bin Thalhah untuk memberikan kepadanya kunci Kabah, dimana pada masa jahiliyah tanggung jawab pengurusan hijabah adalah tugas Bani Syaibah, maka setelah futuh Mekkah pun tugas tersebut tetap dipercayakan kepada mereka.220 Kemudian setelah itu Rasulullah mengusap hajar aswad dan melakukan thawaf sekitar Baitullah seraya mengucapkan tahlil dan takbir, dengan penuh dzikir dan rasa syukur, dan beliau pada saat itu beliau saw tidak sedang dalam kondidi ihram dan beliau memakai tutup kepala, kemudian beliau memakai sorban yang berwarna hitam. Hal itu menunjukkan akan kebolehan memasuki kota Mekkah tanpa kondisi ihram bagi orang yang tidak berniat menunaikan haji maupun umrah.221 Demikianlah prosesi pensucian Kabah yang mulia dari berbagai macam penomena keberhalaan dan debu-debu jahiliyah, agar kembali pada kondisi sebagaimana yang diinginkan oleh Allah, dan sebagaimana yang dimaksud oleh Nabi Ibrahim tatkala beliau membangun sebuah tempat untuk beribadah kepada Allah dan bertauhi mengesakan-Nya, dimana kala itu beliau melakukannya beserta Nabi Ismail. Tidak diragukan lagi bahwa peristiwa pensucian Kabah dari berhala-berhala yang berada di sekitarnya adalah suatu pukulan terberat bagi para pengikut agama berhala (paganisme) diseluruh pelosok jazirah Arab, itu dikarenakan Kabah adalah pusat terbesar bagi mereka. Peristiwa pembersihan Kabah dari berhala-berhala pada saat penaklukan kota Mekkah akhirnya disempurnakan diutusnya Khalid bin Walid oleh Rasulullah ke kawasan Nakhlah untuk mengancurkan berhala Uzza yang kala itu merupakan berhala yang paling diagungkan oleh penduduk daerah tersebut, maka Khalid pun menghancurkannya.222 Rasulullah pun mengutus Amru bin Ash ke tempat yang terdapat di dalamnya berhala Hudzail dan mengh ancurkannya.223 Beliau saw mengutus Saad bin Zaid al Asyhali ke tempat keberadaan berhala Manat di sekitar wilayah Musyalal dekat Qadid di jalan antara Mekkah menuju Madinah, dan

219 220

Sahih Bukhari 5/222, 1/109,110, sahih Muslim 1/556 Terdapat banyak hadis yang berkaitan dengan itu dengan status mursal dan munqathi semuanya. Lihat mushannaf Abdurrazaq 2/83,85, Ibnu Hajar dalam fathul Bari 8/19 221 Sahih Buhkhari, 3/21, sahih Muslim 1/570, syarah nawawi terhadap sahih Muslim 3/508 222 Sirah Ibnu Hisyam 2/436, Thabaqat Ibnu Saad 2/145, dalam cerita tentang penghancuran berhala berhala tersebut tidak terdapat riwayat yang sahih. 223 Thabaqat Ibnu Saad 2/146

menghancurkannya.224 Maka dengan perisiwa penghancuran berhala-berhala terbesar itu, lenyaplah pengaruh agama berhala di kawasan tersebut, sebagaimana disebutkan dalam Al Quran: Surat an najm: 18 Pada peristiwa futuh Mekkah turunlah surat an nashr.225 Surat an nasr:1-3 Bangsa Arab pada saat itu sedang menanti hasil akhir dari perseteruan antara kaum muslimin dan kaum quraisy, maka tatkala terjadi peristiwa futuh Mekkah mereka pun secara berbondongbondong dan bersegera mengumumkan keislaman mereka.226 Amer bin Salamah al Jurmi, orangorang Arab menggantungkan perihal waktu masuk Islam mereka pada peristiwa futuh Mekkah, mereka pun berkata, perhatikanlah oleh kalian, jika dia (Muhammad) menang atas orang -orang quraisy, maka benarlah bahwa ia adalah seorang yang benar dan dia adalah seorang Nabi, dan tatkala penaklukan (futuh) Mekkah itu terjadi dengan kemenangan Rasul, maka setia orang dari mereka bersegara menyatakan keislaman mereka.227 Ibnu Ishak mengomentari tentang peristiwa futuh Mekkah tersebut dengan mengatakan bahwa bangsa Arab menanti-nanti berita tentang Islam, dan apakah kemenangan itu akan berpihak pada quraisy ataukah pada Rasulullah, itu dikerenakan kaum quraisy adalah para pemimpin manusia kala itu, penunjuk jalan hidup mereka, penanggung jawab urusan Baitullah (Kabah), dan mereka juga merupakan keturunan dari Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim, dan para panglima bangsa Arab pun mengakui hal demikian. Quraisy adalah klan yang dengan jelas memulai dan melancarkan permusuhan kepada Rasulullah. Dan manakala kota Mekkah dapat ditaklukan oleh beliau saw, dan kaum quraisy pun berbondong-bondong masuk Islam, maka bangsa Arab pun merasa tidak memiliki kemampuan dan daya apapun untuk menandingi kekuatan Rasulullah, apalagi memusuhinya. Maka mereka pun seluruhnya secara berbondong-bondong dari berbagai wilayah mereka masuk agama Islam, hal itu sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam surat An-Nasr.228 Rasulullah berkhutbah di Mekkah dalam beberapa khutbahnya belia menjelaskan pada khutbah pertama, dimana saat itu beliau sedang berada di depan Kabah, perihal diyat (tebusan) dalam kasus pembunuhan yang dilakukan atas dasar kekeliruan (syibhul amd), dan membatalkan
224 225

Thabaqat Ibnu Saad 2/146 Sahih Bukhari 5/189 226 Sahih Bukhari 5/191 227 Ibnu Saad 1/2, hal 70 228 Sirah Ibnu Hisyam 2/560

aturan-aturan peninggalan orang-orang masa jahiliyah dan tradisi balas dendam mereka, serta tetap melestarikan urusan siqayah (memberi minum) para jemaah haji dan pengurusan Kabah sebagai pengecualian dari hal diatas.229 Dan beliau menjelaskan dalam khutbah keduanya tentang pembatalan sumpah-sumpah dan transaksi-transaksi yang dilakukan pada masa jahiliya, kecuali jika hal tersebut didasari oleh kebaikan, mendukung kebenaran, dan sebagai sarana untuk mengikat silaturahmi.230 Dalam khutbah ketiga beliau menjelaskan perihal kesucian kota Mekkah dan keharaman membunuh binatang buruannya, memotong pepohonannya, dan mengambil barang temuannya (luqatah), dan juga keharaman berperang di dalamnya, seraya menjelaskan bahwa Allah telah mencabut keharamannya selama sesaat pada saat terjadinya peristiwa futuh (penaklukan) Mekkah.231 Dan beliau juga menjelaskan bahwa tidak ada lagi hijrah setelah peristiwa futuh Mekkah, akan tetapi yang ada adalah Jihad dan niat.232 Oleh karena itu maka hijrah dari Mekkah menuju Madinah hukumnya tidak wajib lagi, akan tetapi hukumnya berlaku pada hijrah dari negeri non Islam menuju negeri Islam hingga hari kiamat. Diperintahkannya hijrah dari Mekkah menuju Madinah supaya kaum muslimin dapat beribadah dengan aman dan tenang, dan untuk meneguhkan eksistensi Islam di Madinah di hadapan para musuhnya, dan agar mereka kaum muslimin Madinah dapat melindungi kedaulatan negara mereka serta memperluas wilayah kekuasaan mereka. Hukum berhijrah setelah futuh Mekkah menjadi tidak terlalu diperlukan lagi, karena eksistensi Islam baik di Mekkah maupun di Madinah sudah sangat kuat, sehingga mereka lebih bisa menunaikan kewajiban agama mereka dan kewajiban dakwah mereka di manapun mereka berada di seluruh pelosok negeri. Adapun hukum jihad adalah tetap ada hingga hari kiamat. Untuk itu Nabi saw mengambil sumpah setia dari umat Islam setelah peristiwa futuh Mekkah agar tetap teguh memegang Islam, iman, dan jihad, namun beliau tidak menyebutkan dan tidak mengambil sumpah dari mereka untuk berhijrah.233 Ibnu Umar menjelaskan bahwa, hukum berhijrah tidak berlaku lagi setelah futuh Mekkah hingga sampai kepada Rasulullah, dan hijrah

229

Musnad Imam Ahmad 3/410 dengan sanad hasan lidzatihi, sunan Abu Dawud 2/492 dengan sanad sahih. 230 Sahih muslim 2/409, musnad Imam Ahmad 2/215, dalam sanadnya ada Abdurrahman bin Abdullah bin Ayyasy yang jujuh akan tetapi memeiliki wahm. 231 Sahih bukhari 3/17, sahih 2/568 232 Sahih Bukhari 3/18, 4/28 233 Sahih Bukhari 5/72,193, sahih Muslim 2/140

masih tetap berlaku selama di dunia ini masih ada negeri non islam. Dan hijrah masih tetap wajib bagi orang islam selagi ia merasa khawatir atau takut atas keselamatan agamanya.234 Dalam khutbah keempat beliau menjelaskan bahwa barang siapa yang membunuh seseorang, maka pihak si korban diberikan pilihan antara menuntut diyat (tebusan) ataupun qisas (hukum semisal).235 Selama peristiwa futuh Mekkah, banyak sekali dijelaskan hukum-hukum syariah. Diantaranya ialah tentang kebolehan tidak berpuasa di bulan ramadhan bagi orang yang sedang dalam perjalanan (musafir) dengan tujuan bukan untuk maksiat, dimana Rasulullah pada mulanya melakukan puasa ketika beliau sedang bersama rombongan pasukan dari Madinah hingga sampai di wilayah Kadid, maka beliau pun berbuka.236 Diantaranya pula perihal Rasulullah melakukan shalat sunah duha sebanyak delapan rakaat yang ringan.237 Dan itu merupakan sunnah muakkadah. Juga ditetapkan bahwa orang yang paling berhak menjadi imam shalat adalah orang yang paling banyak hapalan al qurannya.238 Juga tentang batasan waktu dibolehkannya melakukan shalat dengan qashar bagi para musafir dalam perjalanan mereka, dimana Rasulullah tinggal di Mekkah saat penaklukan kota Mekkah selama sembilan belas hari lamanya, dan beliau melakukan shalat selama itu dengan cara diqashar.239 Dan penetapan sahnya jaminan keamanan yang diberikan oleh wanita, dimana Ummu Hani telah memberikan jaminan kemanan terhadap dua orang laki-laki dari kalangan paman-pamannya, maka Rasul saw menyetujui penatapan jaminan keamanan dari wanita tersebut.240 dan para ulama pun telah sepakat secara ijma (konsesus) bahwa jaminan kemanan (jiwar) yang dilakukan oleh seorang wanita dalam boleh hukumnya.241

234 235

Fathul bari 7/270 Sahih bukhari 1/38, sahih muslim 1/569 236 Sahih muslim 1/451 237 Sahih bukhari 5/189. Sahih muslim 1/289 238 Sahih bukhari 5/191 239 Sahih bukhari 5/190 240 Sahih bukhari 4/122 241 Imam Khatabi mengatakan demikian, aunul mabud 7/44

Dan juga hukum keharaman nikah mutah yang sebelumnya pernah dibolehkan selama tiga hari saja yang kemudian diharamkan untuk selama-lamanya. Pengharaman dan pembolehan nikah mutah tersebut telah terjadi selama dua kali, sempat dibolehkan sebelum peristiwa Khaibar kemdian diharamkan pada peristiwa hari Khaibar, kemudian dibolehkan lagi hari futuh Mekkah dan langsung diharamkan hari itu juga setelah tiga hari dengan pengharaman abadi hingga hari kiamat, dan akan terus selamanya diharamkan.242 Juga penjelasan hukum bahwasanya status nasab anak itu dinisbatkan kepada suami sah ibunya (firasy), dan bagi pezina adalah hukumannya (dera/rajam). Dan itu tampak pada kisah anak Zamah, dimana kala itu Saad bin Abi Waqas yang menyatakan bahwa anak itu merupakah anak saudaranya (Utbah bin Abi Waqqas) terlibat persengketaan dengan Abdu bin Zamah yang menyatakan bahwa anak itu merupakan saudaranya dari ayahnya. Maka Rasulullah menetapkan hukum bahwa anak untuk Abdu bin Zamah, karena ia dilahirkan diatas firasy ayahnya. Dan hukum tentang status seorang laki-laki musyrik yang isterinya telah masuk Islam, sebagaimana yang terjadi pada Shafwan bin Umayah dan Ikrimah bin Abu Jahal, maka hukum akad antara keduanya dengan isteri mereka masing-masinga adalah tetap sah karena kedua orang laki-laki tersebut masuk Islam sebelum habis masa iddah kedua pasang suami isteri tersebut. Dan hukum tentang wasiat, bahwa tidak diperbolehkan berwasiat dengan lebih dari seperti hartanya, sebagaimana yang ditunjukkan oleh kisah Saad bin Abi Waqqash tatkala ia sakit, dimana Rasulullah melarangnya memberikan wasiat lebih dari sepertiga hartanya. Dan hukum tentang dibolehkannya seorang isteri untuk mengambil dari harta suaminya sebatas untuk mencukupi hidupnya dan anaknya dengan cara wajar (baik) meski tanpa sepengetahuan suaminya itu, jika memang suaminya tersebut adalah orang yang pelit atau tidak mau memberi nafkah bagi mereka. Hal itu sebagaiman dalam kisah Hindun binti Utbah isterinya Abu Sufyan yang saat itu meminta fatwa kepada Rasulullah dalam hal tersebut. Dan hukum keharaman menjual khomer, bangkai, dan berhala. Dan hukum tentang mewarnai uban dengan hinna atau warna kuning, sebagaimana dalam kisah Abi Quhafah, dimana Nabi saw menyuruhnya untuk mengganti warna ubannya. Dan hukum tentang tidak berlakunya syafaat (minta keringan hukuman bagi yang bersalah) dalam penegakan hudud Allah setelah perkara tersebut sampai kepada pemerintah. Sebagaimana yang
242

Muslim, syarah Nawawi 3/553

terjadi pada kisah seorang perempuan dari suku Makhzum yang terbukti mencuri dan dijatuhi hukum potong tangan, kala itu Rasulullah marah kepada Usamah bin Zaid tatkala ia meminta syafaat kepada beliau saw untuk perempuan tersebut, dan beliau pun bersabda, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa adalah disebebkan karena jika ada orang terhormat diantara mereka mencuri, mereka tidak menegakkan hukum atasnya. Dan manakala orang lemah mencuri, maka mereka menegakkan hukumannya tersebut. Dan demi Allah yang mengenggam jiwaku, jika seandainya Fathimah putri Muhammad saw mencuri, maka aku akan memotongnya.243 Dalam hadis tersebut terkandung prinsip kesetaraan manusia di depan hukum-hukum syariat, dan peringatan bagi para penguasa yang selalu menegakkan hukum atas orang-orang lemah saja dan tidak atas orang-orang terhormat yang biasanya berupaya mencari cara atau tekanan untuk tidak diberlakuka hukum atas mereka. Dan tidak diragukan lagi bahwa eksistensi suatu negara dan kestabilan masyarakatnya sangat bergantung pada tegaknya keadilan. Dan dengan adanya ketidak adilan di suatu negara maka hal itu akan mendorong orang-orang yang merasa terzalimi untuk bersatu dan mencari alasan atau dalih agar mereka bisa menggulingkan pemerintahan zalim tersebut. Dan dampak dari peristiwa futuh Mekkah adalah bahwa kutub kekuatan orang-orang musyrik Arab berpindah dari quraisy kepada dua kabilah Hauzan dan Tsaqif yang mana kedua suku tersebut secara cepat mengambil tampuk kepemimpina kaum musyrikin bangsa Arab dalam memerangi dan melancarkan permusuhan terhadap Islam, sampai akhirnya kedua suku tersebut dapat ditaklukan dalam perang Hunain dan pengepungan Thaif. Ibnu Ishak menuliskan dalam kitab sejarahnya perihal ekspedisi militer Thufail bin Amer AdDusi pada saat akhir-akhir dari futuh Mekkah, dimana ia membakar dan menghancurkan berhala Amer bin Humamah.244

PERANG HUNAIN (GHOZWATU HUNAIN) Hawazin adalah kabilah Arab yang sangat terkenal dari kawasan Arab sebelah utara, dia adalah keluarga Mudhor dan Adnan, dari kabilah besar ini munculah cababng-cabang yang banyak diantaranya kabilah Bani Staqif, kelompok ini telah menetap di kota Thoif dan sekitarnya, dalam kondisi dimana keturunan-keturunan Hawazin yang lainnya tersebar dituhamah dipesisir pantai

243 244

Sahih Bukhari 5/192, sahih Muslim 2/47 Sirah Ibnu Hisyam 1/385, tanpa sanad.

laut merah dari perbatasan negeri Syam sebelah selatan sampai perbatasan Yaman sebelah utara245. Dan ditempat kediaman kaum Tsaqi didirikanlah pasar-pasar arab pada masa jahiliyah, diantaranya pasar Ukadz yang terkenl diantara Nakhlah dan Thoif, disitulah dilakukan transaksi jual beli dan aktivitas perniagaan lainnya, disamping kegiatan perniagaan, ditempat tersebut diadakan juga seminar tentang sastra dan syair, diantaranya yaitu pasar Dzil majaz didekat Arafah dengan jarak sekitar tiga mil dari arah Thoif, dan pasar Majannah dikawasan Dzohron yang posisinya jauh dari Thoif dan dekat dari Makkah 246 Tidak diragukan lagi bahwasannya kaum Tsaqif Mereka mengambil faidah yang cukup besar dari keberadaan pasar-pasar Arab tersebut baik dalam perniagaan ataupun dalam pemasaran hasil pertanian mereka, dimana mereka memiliki kebun-kebun anggur, delima dan sayuran, begitu juga halnya dalam peningkatan dibidang sastra mereka dan terbukanya pengetahuan mereka melalui perpaduan wawasan yang diadakan pada pertemuan musiman yang terorganisir ini(pasar-pasar), untuk perniagaan dari luar kota mereka berada ditengah-tengah diantara Syam dan Yaman dari satu sisi dan diantara penduduk arab Baduy dari sisi yang lain Dan sungguh telah terjadi percampuran antara kemashlahatan kaum Tsaqif dan Hawazin dengan kemashlahatan kaum Kuraisy dengan keterikatan yang kuat sebagai hikmah dari bertetangga, Makah dan Thoif keduanya berdekatan dengan jarak sekitar 1km, sementara kaum kuraisy lebih memilih Thoif, diThoif mereka memiliki kebun-kebun dan rumah sehingga Thoif sering disebut sebagai kebunnya bangsa kuraisy247, hubungan antara Kuraisy dan Hawazin sungguh telah diikat dengan adanya pertalian keturunan diantara mereka semenjak zaman dahulu yang diperkuat lagi dengan adanya hubungan pertikahan yang berkesinambungan, maka keduanya dari keturunan Mudhor yang merupakan kake keenam bagi kaum Hawazin dan kake ketujuh bagi kaum Kuraisy sesuai dengan perbedaan garis keturunan keduanya248. Apabila kita melihat bukuMarifatus sahabah, maka buku tersebut akan menjelaskan bahwasannya terjadinya percampuran antara kemashlahatan Kuraisy dan Hawazin merupaka

245

Mujam al-Buldan 2/ 173, 3/ 204, 4/ 216-217, 5/ 55, 216-262, Kitab manasik halaman 532-538, Kitab nasabu harbin 349-350

246 247

Rujukan yang sebelumnya(rujukan yang sama) Terkenal dalam sejarah dengan sebutan kebun atabah dan Syaibah bin Rabiah Alquraisyiyin, dan Alwahthu kebunnya Amru bin Ash, dan Dzul harom hartanya Abu Sufyan(dalam mujam albuldan 5/386 dan maghozi alwaqidi3/971, dan siroh Ibnu Hisyam 1/709), dan akhbaru Makkah karya Imam alAzroqi hal 70, dan Albaladi hal 56 248 Ibnu Hisyam dalam kiatb siroh 1/1,93, dan Ibnu Saad dalam kitab Athobaqot 1/55, Ibnu Fatiyah dalam kitab Almaarif hal 31,51, Athobari dalam kitab Tarikh 2/262 dan Annawawi dalam kitab Nihayatul Urbi Fi marifati Ansabil Arobi hal 397

dampak dari adanya proses pertikahan yang banyak diantara kedua kabilah tersebut249 dan untuk menguatkan hubungan ini kita mendapatkan bahwa Urwah bin Masud Astaqofi merupakan utusan bagi kaum kuraisy kepada kaum Muslimin dalam perjanjian Hudaibiyah250 Maka tidak asing lagi apabila sudah terjadi percampuran antara Kuraisy dan Hawazin dengan percampuran yang kuat, dimana Hawazin dan Kuraisy sama-sama berada dipihak yang memusuhi kaum Muslimin sejak periode Makkah, dan Hawazin berusaha untuk membawa panji keberpihakannya kepada Kuraisy setelah terjadinya futuh Makkah untuk mengisi kekosongan setelah jatuhnya kekuasaan Kuraisy terhadap kelompok kemusyrikan diJazirah Arab Maka semenjak Rasulullah SAW meminta suaka kepada Bani Tsaqif di Thoif, beliau mengajak mereka kepada Islam, kemudian setelah mereka menolak ajakan Rasul(untuk masuk Islam), Rasul meminta mereka agar merahasiahkan ajakan tersebut, tetapi mereka menolak permintaan itu dan menampakkan permushan bahkan menyuruh para pemudanya untuk menyakiti Rasulullah, maka merekapun melempari Rasul dengan batu, sesungguhnya Kuraisy dan Hawazin itu perintahnya satu. Maka barangsiapa yang menentang Kuraisy dan agamanya serta kemashlahatannya berarti ia telah menentang agamanya Hawazin dan mengancam kemashlahatannya Rasulullah SAW memahami akan pentingnya keislaman Bani Tsaqif dikarenakan eksistensi militer dan perekonomiannya, juga dikarenakan hubungannya yang kuat dengan Kuraisy, dan Rasulullahpun telah berusaha untuk terus mengajak para pemimpinnya untuk memeluk Islam walaupun telah mendapatkan kegagalan dalam perjalannya menuju Bani Tsaqif, maka beliau bertemu di Aqobah dan langsung mengajak para pemimpin qabilah untuk masuk Islam, akan tetapi mereka menolak ajakan tersebut, dan itulah yang menyebabkan beliau resah sehingga beliau pergi menjauh dari Makkah dan tidak pulang kerumahnya dikarenakan perasaan bingug yang sangat mendalam251

Kelompok Hawazin telah menjauhkan diri dari pergolakan yang terus menajam antara kaum kuraisy dan kaum Muslimin setelah peristiwa hijrah, hal ini sangat boleh jadi dikarenakan Hawazinmengira bahwa Kuraisy saja sudah cukup, dan ia tetap memantau peperangan yang terjadi, seperti perang Badar, Uhud dan Handak tanpa melakukan gerakan apapun, bahkan sesungguhnya Akhnas bin Syarik Asstaqofi sebagai sekutunya Bani Zahrah menguatkan dengan mengundurkan diri dari keterlibatannya diperang Badar selama perniagaannya dalam keadaan aman252, dan Urwah bin Masud meminta kepada kaum Kuraisy agar menerima rencana atau langkah yang ditawarkan oleh Rasulullah SAW dalam perjanjian Hudaibiyah253 akan tetapi sikap seprti ini hanya menggambarkan kearifan dari sebagian Bani Staqif saja dan tidak menggambarkan sikap arif dari keduanya, yaitu Bani Staqif dan Hawazin.

249

Lihat bukuMarifatus Shahabah wal Ansab terjemahan Maimun binti Alharist, dan Lubabah Alkubro binti Alharist, Lubabah Ashugro binti Alharist, Shofiyah binti Hazan, Ummu Jamil binti Mujalid Alhilaliyah, Zainab binti Abi Sufyan dan Ummul Hakam binti Abi Sufyan
250 251 252 253

Shahih Bukhori 3/170 Shahih Bukhori 4/91, 9/95, dan Shahih Muslim 3/1420 Ibnu Hajar dalam kitab Al-Ishobah 1/25 Shahih Bukhori 3/170

Dan Nampak jelas bahwa ketidak ikut sertaan Bani Staqif dalam peristiwa yang terjadi hingga futuh Makkah disebabkan oleh sikap bersandarnya Bani Staqif kepada kaum Kuraisy, dan disebabkan pula oleh lemahnya pemahaman mereka terhadap hakikat kekuatan Islam. Dan ini tidak berarti bahwa Hawazin tidak menyadari akan bahaya kaum muslimin menjelang terjadinya futuh Makkah, sikap kaum Kuraisy seperti itu menunjukan kelemahan mereka dihadapan kekuatan kaum Muslimin semenjak pengakuan mereka terhadap terhadap kaum Muslimin dan perjanjian mereka dengan kaum Muslimin diHudaibiyah Dan sikap kaum Kuraisy terus melemah berbarengan dengan hari-hari yang dilaluinya, sehingga ketika terjadi futuh Makkah semangat mereka betul-betul melemah, tidak diragukan lagi bahwa tetangganya kaum Bani Staqif menyadari kondisi tersebut, dan bahkan sebahagian dari pengikutnya sangat dekat dengan peristiwa itu, sangat dimungkinkan bahwa sikap diamnya Bani Staqif dan mereka tidak meminta bantuan kepada kaum Kuraisy disebabkan oleh seuksesnya kaum muslimin dalam menyembunyikan tujuan utama dari pergerakan mereka. Sebagaimana halnya kaum Hawazin, mereka sangat menghawatirkan rumah-rumah mereka dari kaum Muslimin, oleh karena itu kaum Hawazin tidak bersegera untuk mempertahankan Makkah, dan Alwaqidi menegaskan bahwa kaum Hawazin telah mengutus mata-mata mereka untuk mengetahui apakah kaum muslimin akan menuju kepada Kuraisy atau Hawazin, bahkan sesungguhnya Hawazin telah mempersiapkan segala kekuatan untuk menghadapi kaum muslimin semenjak keberangkatan mereka dari Madinah, dan Hawazin telah mengira bahwasannya yang menjadi tujuan kaum Muslimin adalah Hawazin254

254

Athobari 3/70

, dan perkiraan Hawazin ini diperkuat oleh ketidak jelasan sikap kaum muslimin dari perjalanan perjanjian Hudaibiyah. Maka ketika penaklukan Makkah(futuh Makkah) terjadi dan kekuasaan kaum Kuraisy dijatuhkan, kaum Hawazin membawa panji kemusyrikan, dan mereka bersegera melakukan gerakan untuk menghadapi kondisi yang ada, khususnya ketika mereka mengetahui bahwa Rasulullah tidak menghentikan pergerakan militer kaum muslimin setelah menaklukan Makkah, bahkan beliau mengutus pasukan gerilyawan, diantaranya pasukan gerilyawan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid dengan jumlah 30 orang pasukan berkuda menuju ke kota Nakhlah untuk menghancurkan berhala uzza, maka merekapun berhasil menghancurkannya255, dan rumah yang diagungkan oleh bangsa arab ketika itu adalah rumah-rumah Bani Staqif 256. Dan hal itu terjadi selama 5 malam dari malam-malam ramadhan, sebagaimana Saad bin Zaid Alasyhali juga diutus bersama 20 pasukan berkuda ke Manat Bilmusyallal yang merupakan berhala yang diagungkan oleh orang arab, khususnya oleh kaum anshor sebelum mereka masuk Islam, maka Saadpun menghancurkannya dan setelah itu ia kembali ke Makkah257, dan dikatakan bahwa Ali ra dialah yang telah menghancurkan manat, ia diutus oleh Rasulullah ketika dalam perjalannya menuju Makkah sebelum terjadinya futuh Makkah258. Dan dua riwayat ini tidak dari sisi hadistnya, Ibnu Saad menyampaikan hadist tersebut tanpa sanad, dan sumber asalnya dilihat dari syaikhnya Alwaqidi tidak kuat, dan Ibnu Alkalabi juga tidak kuat, ada riwayat lain yang mengatakan bahwasannya Abu Sufyan bin Harbin, dialah yang telah menghancurkan berhala tersebut, akan tetapi riwayat ini juga tidak lebih kuat dari dua riwayat yang sebelumnya 259. Akan tetapi tidak diragukan lagi bahwasannya manat(nama berhala) itu telah dihancurkan, maka inilah yang telah ditetapkan secara tinjauan sejarah, dan hadist itu tidak seperti sejarah bila dilihat dari sisi kebutuhannya terhadap kekuatan dalil atau hujjah. Dan Rasulullah SAW mengirimkan juga pasukan gerilyawan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid pada bulan syawwal dari tahun ke 8 hijriyah, pasukan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid ini berjumlah 350 orang dari kaum muhajirin dan anshor, pasukan gerilyawan ini dikirim untuk menuju Bani Jadzimah yang ada diYalamlam sebelah selatan Makkah sekitar 80 km dari Makkah, pasukan ini mengajak penduduk Bani Jadzimah untuk masuk Islam, maka ketika sampai disana, mereka langsung menyeru Bani Jadzimah kepada Islam akan tetapi mereka tidak mau mengatakan Aslamna(kami masuk Islam atau kami tunduk pada Islam), akan tetapi mereka mengatakan Shobakna-Shobakna(kami keluar dari agama kami), maka Khalid membunuh sebahagian dari mereka dan menawan sebahagiannya, kemudian setelah beberapa waktu Khalid menyuruh sahabat yang lain untuk membunuh para tawanan, dan Abdullah bin Umar,

255

Ibnu Hisyam: siroh 2/436, hadist no 5054 dinukil dari Assunan Alkubro Imam Annasai, akan tetapi didalamnya terdapat Alwaid bi Jami dapat dipercaya. Dan tidak ada riwayat yang shahih seputar kisah penghancurannya(berhala) 256 Albiladi dalam kitab Nasabu harbin hal 388 257 Ibnu Saad dalam kitab Athobaqot 2/ 146-147, dan Alwaqidi dalam kitab Almaghozi 2/ 869-870 258 Ibnu Alkalabi dalam kitab Alashnam hal 15 259 Ibnu Hisyam dalam kitab siroh 1/186 dan Ibnu Hajar dalam kitab Al-Ishobah 2/179 disandarkan pada Ibnu Ishak

Abdurrahman bin Auf dan para sahabat yang lainnya tidak melaksanakan perintah tersebut sehingga mereka datang kepada Rasulullah SAW yang berlepas diri dari perbuatan Khalid260. Khalid memahami perkataan Bani JadzimahShobakna dengan pemahaman bahwasannya mereka tidak mau berterus terang untuk masuk Islam, atau bahwasannya mereka meremehkan Islam, maka oleh karenanya Khalid tidak melindungi atau tidak mengharamkan darah mereka 261 , sememntara Abdurrahman bin Auf dan Abdullah bin Umar memahami dengan pemahaman bahwa mereka telah mengungkapkan keislamannya dengan bahasa atau ungkapan yang mereka ketahui, karena istilah-istilah syarI ketika itu belum banyak diketahui dan difahami oleh bangsa Arab, oleh karena itu Rasulullah SAW walaupun beliau berlepas diri dari apa yang dilakukan oleh Khalid, tapi Rasulullah tidak menghukumnya dan tidak menghentikan dari kepanglimaannya atas pasukan tentara Islam, dikarenakan Khalid bin walid telah berijtihad walaupun ijtihadnya salah. Dan ada riwayat yang mengatakan, akan tetapi tidak layak untuk dijadikan hujjah karena riwayat tersebut munqoti atau terputus, bahwasannya nabi SAW telah membayar diat atau denda untuk semua orang Bani Jadzimah yang dibunuh oleh Khalid bin walid, bahkan beliau melebihkan diat tersebut demi menghargai jiwa mereka dan membebaskan darahnya262 . Hadist ini sesuai dengan hukum Islam tentang pembunuhan tidak sengaja, dan apabila kita bersandar pada riwayat yang terputus atau munqoti, maka kita semua harus menerimanya. Dan dalam peristiwa tersebut bahwasannya Khalid bin Walid ketia ia sampai dikaum Bani Jadzimah mereka sudah membawa senjata, kemudian Khalid menyuruh mereka agar meletakan senjatanya dan mengingatkan kepada mereka bahwa orang-orang telah masuk Islam, maka merekapun meletakan senjatanya, kemudian Khalid mengikat mereka dan membunuh beberapa orang dari mereka. Riwayat ini telah disampaikan oleh Ibnu Ishak dan ia juga telah menyampaikan riwayat lain yang menjelaskan bahwa perbuatan Khalid itu merupakan qishos untuk pamannya Alfakihah bin Almughiroh yang dibunuh oleh Bani Jadzimah pada masa jahiliyah, dan Ibnu Kastir telah mengomentari riwayat Ibnu Ishak ini dengan perkataannya:Dan ini adalah riwayat -riwayat yang mursal dan munqoti, maksudnya tidak layak untuk dijadikan hujjah atau alasan263. Sesungguhnya bukti kuat yang membebaskan keterlibatan Khalid dalam peristiwa tersebut (pembunuhan orang-orang Bani Jadzimah) adalah sikap Rasulullah SAW, dimana beliau tidak menghukum Khalid akan tetapi hanya berlepas diri dari apa yang diperbuat oleh Khalid.

260 261

Shahih Bukhori 5/131, dan Ibnu Kastir dalam tafsirnya 4/306, lihat shahih Muslim 4/1967 Ibnu Hajar dalam kitab fathul bari 8/57, dan kaum Kuraisy mengatakan kepada setiap orang yang masuk Islam bahwasannya ia Shoba-a artinya ia telah keluar dari agamanya, maka Bani Jadzimah ini termasuk orang yang halal darahnya, dan ini merupakan pemakluman bagi Khalid yang memahami makna kalimat(shobakna) dan kondisi penggunaannya, sementara Bani Jadzimah mereka menggunakan kalimat tersebut tanpa memahami makna perlindungan yang ditimbulkan oleh kalimat tersebut, dan tanpa memahami dampak atau pengaruh kalimat tersebut bagi perasaan kaum Muslimin 262 Siroh Ibnu Hisyam 2/430, ia adalah hadist-hadist mursal Abi Jafar Muhammad Ali Albakir, ia termasuk hadist munqoti dikarenakan Bakir dilahirkan antara tahun( 40 sampai 56 Hijriyah), sebagaimana disebutkan dalam kitab Tahdzibuttahdzib karya Ibnu Hajar 9/351 263 Siroh Ibnu Hisyam 1/431, dan Athobari dalam kitabnya Tarikh 3/66, dan Ibnu Kastir dalam kitabnyaAlbidayah wannihayah 4/313-314

Yang jelas bahwasannya kedua pasukan gerilyawan kaum Muslimin berada di tempat kaum Hawazin dan Staqif. Dan kedua pasukan ini tidak bermaksud bersembunyi dari Hawazin yang telah mulai menghimpun kekuatannya di Hunain setengah bulan setelah terjadinya peristiwa futuh Makkah untuk menghadapi kaum Muslimin264. Kaum Hawazin berkeinginan untuk menyerang kaum Muslimin sebelum mereka menyerang kaum Hawazin, dan diantara bukti bahwa mereka menghendaki peperangan tersebut menjadi peperangan yang terpisah adalah upaya mereka untuk mengumpulkan harta, wanita dan anak-anak, sehingga tidak ada satupun yang berlari tanpa membawa harta dan keluarganya. Kelompok ini dipimpin oleh Malik bin Auf Annashori, dan telah bergabung dengan Hawazin ini sebagian kabilah yang lain dari Ghotfan dan yang lainnya265, dan yang tidak ikut bergabung dari kaum Hawazin adalah Kaab dan Kilab266. Malik bin Auf telah menyusun kaumnya dengan bentuk barisan yang bagus, dia mendahulukan barisan kuda, kemudian kaum laki-laki, perempuan, domba dan terakhir adalah unta267, Malik Annashori berusia 30 tahun, dia terkenal sebagai seorang yang pemberani dan pembuat strategi yang baik dalam peperangan268, dan ada riwayat yang menjelaskan bahwa Dured bin shimah menolak pemikiran Malik Annashori untuk keluar(pergi) dengan membawa kaum perempuan, anak-anak dan harta benda akan tetapi Malik Annashori tidak melaksanakan pendapatnya(Dured bin Ashimah)269 Dan Alwaqidi telah meriwayatkan secara terpisah bahwasannya tentara Hawazin diperkirakan berjumlah 20 ribu orang270, dan Ibnu Hajar lebih cenderung untuk menerima perkiraan Alwaqidi ini, maka ia mengatakan bahwasannya mereka dua kali lipat dari pasukan kaum Muslimin bahkan lebih banyak271 Rasulullah SAW telah mengutus seorang utusan kepada Hawazin, yaitu Abdullah bin Abi Hadrad Al-Aslami untuk mengetahui keadaan mereka, maka ia menetap ditempat kaum Hawazin selama satu atau dua hari kemudian kembali kepada kaum Muslimin dengan membawa berita tentang keadaan kaum Hawazin272. Maka kaum Muslimin mengambil persediaannya dan bersiap-siap untuk menghadapi mereka. Rasulullah SAW meminjam 100 prisai dari Shofwan bin Umayyah273, dan ia masih berada dalam kemusyrikan, ia bertanya kepada Rasulullah apakah prisai tersebut dianggap sebagai barang yang dighosob atau dianggap sebagai barang pinjaman? Maka Rasulullah memberitahukan kepada Shofwan bin Umayyah bahwa barang tersebut sebagai pinjaman yang akan dikembalikan, dan
264 265

Athobari dalam bukunya Tarikhurrusul walmuluk 3/70 Albukhori: shahih 5/130-131, dan Muslim: shahih 2/735 266 Syarah Ibnu Hisyam 2/437 267 Shahih Muslim 2/ 736, dan Ahmad dalam musnadnya 3/157 268 Ibnu Hajar dalam kitab Al-Ishobah 3/182,352 269 Siroh Ibnu Hisyam 2/437 270 Maghozi Alwaqidi3/893 271 Fathul bari 8/29 272 Al-Hakim dal mustadroknya 3/48-49, dan ia berkata bahwa hadist tersebut sanadnya shahih, dan disepakati oleh Adzahabi, hadist tersebut memiliki saksi-saksi yang membuat Imam Albani menshahihkan hadist tersebut dengan semua yang meriwayatkannya(kitab Irwa-ul gholil 5/344-346) 273 Rujukan sebelumnya

prisai tersebut dikembalikan kepada Shofwan setelah perang Hnain sambil berterimakasih atas apa yang telah dilakukannya kepada Rasulullah(meminjamkan prisai)274. Dan Ibnu Abdil Bar telah menyampaikan sebuah riwayat tanpa sanad yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW meminjam uang dari Huwaithib bin Abdul Uzza sebanyak 40 ribu dirham, dan menerima bantuan juga dari Naufal bin Alharist bin Abdul Muthollib berupa tombak sebanyak 3000 tombak275, dan tidak ada larangan untuk meminta bantuan kepada keduanya, dimana beliau juga pernah meminta bantuan kepada Shofwan padahal ia masih sebagai seorang musyrik. Khususnya dalam keadaan bahwa umat Islam memiliki sikap yang kuat dan bahwasannya semangat perang yang dimiliki oleh umat Islam tidak terpengaruh dengan bantuan yang diberikan oleh selain Muslim selama banyan tersebut tidak dibarengi dengan syarat yang akan merusak komitmen mereka terhadap akidah. Persiap umat Islam tidak berlangsung lama karena sesungguhnya pasukan yang menaklukan Makkah, mereka belum mendapat kelelahan kecuali hanya sedikit saja, sehingga mereka masih keadaan siap untuk menghadapi kaum Hawazin, dan dalam beberapa hari umat Islam telah bergerak menuju Hunain pada hari ke 5 dari bulan syawal, dengan demikian berarti mereka telah bermukim diMakkah selama 15 malam dari setelah terjadinya futuh Makkah,dimana futuh Makkah tersebut terjadi pada ke 19 dari bulan ramadhan, dan mereka sampai di Hunain pada tangal 10 syawal sore hari276. Dari penjelasan tersebut dapat dilihat bahwasannya kaum Muslimin setiap kali mereka mendekati Hunain, mereka berjalan dengan sangat pelan dan berhati-hati, karena sesungguhnya Hawazin itu tidak terlalu jauh dari Makkah, jaraknya hanya sekitar 20 kilo meter, berada disebelah timur Makkah dan pada zaman sekarang terkenal dengan sebutan syaroIi277. Adapaun pada awal keberangkatannya dari Makkah mereka berjalan dengan cepat278. Dan Rasulullah SAW telah menjadikan Atab bin Usaid sebagai pemimpin diMakkah selama beliau pergi bersama pasukan279 Jumlah pasukan kaum Muslimin ketika itu lebih banyak bila dibanding dengan jumlah pasukan pada perang-perang sebelumnya, dan telah bergabung dengan pasukan futuh Makkah trsebut(yang jumlahnya 10 ribu orang) dua ribu orang dari penduduk Makkah yang sudah memeluk Islam yang dikenal dengan sebutan Thulaqo(orang-orang yang terbebas) dimana riwayat-riwayat yang ada menyepakati itu, walaupun riwayat tersebut tidak sampai kepada derajat hadist shahih yang menjelaskan tentang jumlah penduduk Makkah(thulaqo) yang bergabung dengan pasukan kaum Muslimin, akan tetapi riwayat tersebut cukup untuk dijadikan sebagai
274

Ibnu Majah: Assunan 2/809, dan Nasa-I: Almujtabi 7/276, dan didalamnya ada keterputusan Ibrahim bin Abdurrahman(perawinya) dan kakenya Abdullah bin Abi Rabiah, dan layak untuk dijadikan bukti dalam sejarah dikarenakan sesuai dengan hukum-hukum Islam dalam kontek kesetiaan kepada ulama salaf 275 Kitab Al-Istiab 1/385, 3/537 276 Ibnu Hisyam dalam kitab siroh 2/437, sunan Baihaqi 3/151, Ibnu Tarkamani dalam kitab Aljauhar Annaqiy, sunan Annasa-I 3/100, dan Ibnu Hajar dalam kitab fathul bari 2/562, 8/27 277 Kitab Hamdul jasir: komentarnya hal 471 terhadap kitab Almanasik lilharbi wafawaidi hamzatin: kitab Qolbu jazirotil Arob hal 268 278 Sunan Abu Dawud 1/210, 2/9, dan Alhakim dalam Almustadrok 1/237, 2/83-84 dishahihkan dan disepakati oleh Adzahabi 279 Siroh Ibnu Hisyam 2/440, dan kitab Tarikh Khalifah hal 88, dan Tarikh Athobari hal 3/73, dan Hakim dalam Almustadrok 3/270, dan riwayat-riwayat ini walaupun tidak kuat secara hadist, tapi layak untuk dijadikan sebagai bukti kebenaran sejarah khususnya bahwa riwayat-riwayat tersebut sesuai dengan hukum-hukum Islam dalam hal kepemimpinan.

landasan sejarah280. Oleh karena itu perang Hunain dikategorikan sebagai perang yang paling besar pada masa sejarah peperangan Islam dan sebagai perang paling berbahaya. Rasulullah SAW sangat memperhatikan pasukannya, sehingga apabila tiba waktu shalat isya dan mereka dekat dari musuh, maka Rasulullah menyuruh salahseorang sahabatnya untukmengawasi keadaan musuh dari sebuah gunung yang bisa memantau keadaan lembah Hunain, dan Rasulullah SAW telah mengungkapkan keyakinannya yang sangat kuat terhadap Allah SWT dan pertolonganNya ketika beliau menyampaikan kepada para sahabat tentang apa yang dilihatnya dari kaum Hawazin, Rasulullah berkata: itu semua(yang dimiliki kaum Hawazin) esok hari akan menjadi ghonimah bagi kaum Muslimin, kemudian Anas bin Murstad Alghonawi menawarkan diri untuk menjaga kaum Muslimnin, dimana mereka tidur ditempat tersebut, dan Rasulullah menasihati Anas agar tidak lalai dalam melakukan penjagaan terhadap kaum Muslimin sehingga terbit fajar, dan Anaspun melaksanakan misi penjagaan tersebut dengan sebaik-baiknya, maka Rasulullah menjanjikan kepada Anas bahwa ia akan menjadi penghuni surga281 Terbukti dengan adanya penduduk Makkah yang bergabung dengan pasukan kaum Muslimin memberikan dampak negative, mereka adalah orang-orang yang keIslamannya belum lama, dan mereka belum berlepas diri sepenuhnya dari semua kebiasaan jahiliyah yang mengakar dalam hati dan kehidupan mereka, sehingga ketika sebahagian dari mereka dalam perjalanan menuju Hunain, mereka melihat sebuah pohon yang dikenal dengan sebutan Dzatu Anwat atau pohon yang digunakan oleh orang kafir untuk menggantungkan senjata mereka dengan harapan bisa mendapatkan kekuatan, maka merekapun berkata kepada Rasulullah: wahai Rasulullah jadikanlah bagi kami Dzatu Anwat sebagaimana mereka juga memiliki Dzatu Anwat, maka Rasulullah menjawab:Maha suci Allah, perkataan kalian seperti halnya perkataan kaum nabi Musa, dimana mereka berkata kepada Musa:Jadikanlah bagi kami tuhan sebagaimana mereka juga memiliki tuhan demi Allah yang jiwaku berada dalam genggamanNya, sungguh kalian telah mengikuti prilaku orang-orang sebelum kalian282 Tidak diragukan lagi bahwa permintaan mereka ini menunjukan kepada pemahaman mereka yang masih rendah terhadap ketauhidan yang murni walaupun mereka sudah memeluk Islam, akan tetapi nabi SAW menjelaskan kepada mereka bahwa dalam permintaan tersebut terkandung makna syirik, dan nabi hanya mengingatkan mereka saja tanpa memberikan sangsi atau bersikap keras, hal ini tidak lain dikarenakan bahwa mereka itu masih baru dalam memeluk Islamnya.

280

Ibnu Hisyam dalam kitab siroh jilid 2/440, dan Tarik khalifah bin Khiyath hal 88, dan kitab Thobaqot karya Ibnu Saad jilid 2/154-155, dan Tarikh Athobari 3/73, dan Hakim dam Mustadrok 2/121, riwayat ini dishahihkan dan disepakati oleh Adzahabi, akan tetapi Iamam Alhaitami menyebutkan bahwa dalam riwayat tersebut ada Abdullah bin Iyadh, dimana ia tidak bisa dipercaya( dalam kitab Majma Azzawaa-id 6/186) 281 Sunan Abu Dawud 1/210, 2/9, dan itu adalah hadist yang sanadnya shahih (kitab Al-Ishobah 1/86) 282 Sunan Attirmidzi 3/321-322, dan ia berkata bahwa hadist tersebut hadist hasan shahih, dan Imam Annasa-I dalam Assunan Alqubra, sebagaimana terdapat juga dalam kitab Tuhfatul Asyraf 11/112 hadist no 15516 dan Imam Ahmad dalam Musnadnya 5/218 dan Ibnu Kastir dalam Tafsirnya 2/243. Imam Alhalabi berkata: hadist tersebut disampaikan oleh Ibnu Jarir dan diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari hadist Kastir bin Abdillah bin Amru bin Auf Almazani dari ayahnya dari kakenya dengan status hadist marfu