You are on page 1of 16

ADZAN & IQAMAH

Adzan: merupakan tanda masuk waktu yang didengungkan dengan suara yang keras, hukumnya sunah muakkadah selalu dilakaukan Rasulallah saw setiap masuk waktu shalat fardhu.

Syarat Adzan 1. Masuk waktu. Tidak sah adzan sebelum masuk waktu karena ia merupakan pemberitahuan masuknya waktu kecuali waktu adzan subuh boleh dilakukan dua kali, pertama sebelum masuk waktu subuh dan yang kedua pada waktu masuk waktu. Sesuai dengan sabda Rasulallah saw Sesungguhnya Bilal adzan diwaktu malam, karena itu makanlah dan minumlah sehingga Ibnu Ummi Maktum adzan. (HR. Bukhari Muslim). Adzan yang pertama dianjurkan untuk membangunkan orang dari tidurnya agar memberikan kesempatan mandi bagi orang junub. 2. Tertib dalam kalimat-kalimatnya 3. Berturut turut / tidak boleh putus 4. Dengan bahasa Arab (untuk keseragaman) 5. Didengar oleh Masyarakat 6. Muadzin (yang beradzan) harus laki laki tidak boleh perempuan

Syarat Muadzin 1. Harus seorang Muslim tidak sah adzan seorang kafir 2. Harus sudah cukup usia sedikitnya 6 tahun 3. Berakal (tidak gila) Kesimpulannya adzan merupakan ibadah dan mereka yang memiliki syarat (selain tersebut diatas) bukan ahlinya.

Lafadh Adzan

2 x (Allah Mahabesar) 2 x (Allah Mahabesar)

2x (Aku bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah) 2x (Aku bersaksi Muhammad utusan Allah)

2 x (Mari kita shalat) 2x (Mari kita menuju kemenangan)

2x khusus subuh (Shalat itu lebih baik dari pada tidur)


2x (Allah Mahabesar)

1x (Tiada Tuhan selain Allah) (HR Muslim dan Abu Daud)

Lafadh Iqamah Iqamah merupakan tanda akan didirikan shalat, lafadhnya terdiri atas:

2 x (Allah Mahabesar) 1x (Aku bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah) 1x (Aku bersaksi Muhammad utusan Allah)

1 x (Mari kita shalat) 1x (Mari kita menuju kemenangan) 1x (Shalat didirikan)

2x (Allah Mahabesar)

1x (Tiada Tuhan selain Allah) (HR Muslim dan Abu Daud)


Sunah Adzan & Iqamah 1- Muadzin harus memiliki sifat amanah, karena ia bertanggung jawab akan masuknya waktu shalat dan ketepatannya. Juga karena adzan ini sangat berkaitan dengan puasa dan berbukanya kaum muslimin

2- Disunahkan beradzan dengan suara yang bagus dan lantang. Rasulallah saw dalam hadisth di atas memerintahkan Abdullah bin Zed ra supaya mengajarkan Bilal ra apa yang ia mimpikan (adzan) sebab ia memiliki suara yang lebih bagus darinya. (HR Abu Daud dengan isnad shahih) 3- Disunahkan beradzan di tempat yang tinggi, sesuai dengan hadist yang diriwatkan dari Ibnu Umar ra, ia berkata: Rasulullah saw memiliki dua muadzin, yaitu Bilal dan Ibnu Ummi Maktum. Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya Bilal adzan pada waktu malam, maka makan dan minumlah sampai Ibnu Ummi Maktum adzan. Ia berkata: tidaklah di antara keduanya kecuali yang ini turun sedangkan yang satunya naik (HR Bukhari Muslim) 4- Disunahkan beradzan dalam keadaan berdiri tegak menghadap ke kiblat kecuali ketika sampai ke Hayya alash Shalah Hayya alal falah disunahkan memutarkan kepala ke kanan dan kiri sambil meletakan dua jarinya ke dalam dua telinganya. Dari Abu Juhaifah berkata: Aku melihat Bilal keluar ke Abthah lalu adzan menghadap ke kiblat, ketika ia sampai ke Hayyah Alash Shalah Hayya Alal Falah ia memutar kepalanya ke kanan dan kiri (HR Bukhari Muslim). Dalam riwayat lain Aku melihat Bilal adzan, mulutnya ke sana dan ke sini, sementara dua jarinya berada dalam dua telinganya (HR. At-Tirmidzi) 5- disunahkan muadzin suci dari hadast karena adzan adalah dzikir, sesuai dengan sabda Rasulallah saw: Aku tidak suka bedzikir kecuali dalam keadaan suci (HR Ahmad, Abu Dawud, an-Nasai dengan isnad shahih). 6- Disunahkan mengucapkan Asshalatu khairun minnaum di waktu adzan subuh sesuai dengan hadist tersebut di atas dari Ibnu Mahdhurah 7- Disunahkan dua kali adzan di waktu subuh, adzan pertama tanda masuk imsak dan adzan kedua tanda masuk waktu shalat subuh, sesuai dengan hadist trb di atas dari Ibnu Umar ra 8- Disunahkan mengeraskan suara ketika adzan. Dari Abdullah bin Abdurrahman ibnu Abi Shashaah ra, sesungguhnya Abu Said Al-Khudri ra berkata: sesungguhnya aku melihat kamu senang domba dan padang pasir maka bila kamu berada di sekitar domba-domba kamu atau padang pasir, dan kamu adzan untuk shalat maka keraskan suaramu ketika mengumandangkan adzan, karena aku mendengar Rasulullah saw bersabda: Tidaklah jin dan manusia dan tidak ada sesuatu pun yang mendengar suara keras

(lantang) seorang muadzin melainkan akan menjadi saksi kebaikan bagi si muadzin pada hari kiamat. (HR. Al-Bukhari) 9- Disunahkan bagi yang mendengar adzan mengikutinya seperti yang dikumandangkan muadzin kecuali ketika sampai kepada Hayya alash shalah, Hayya alash shalah, Hayya alal falah, Hayya alal falah disunahkan mengucapkan La haula wala quwata illa billah 10- Disunahkan bagi muadzin mengucapkan lafadz Ash-shalatu khairumminan naum di waktu subuh, dan orang yang mendengar dianjurkan membaca Shadaqta wa bararta (Engkau Mahabenar dan lagi Maha indah). 11- Disunnahkan juga bagi orang yang mendengar iqamat untuk mengucapkan seperti yang diucapkan, kecuali pada saat Qod qaamatish-shalah, pendengar dianjurkan membaca: Aqamahallahu wa adaamaha ma damatis samawati wal ardhi wa jaalni min shalihi ahliha (semoga Allah selalu mendirikan dan melanggengkan shalat semasih langgengnya langit dan bumi dan jadikanlah aku dari ahli shalat yang shalih). 12- Disunahkan membaca shalawat atas Nabi saw dan berdoa setelah adzan


Artinya : Ya Allah, Pemilik panggilan yang sempurna (adzan) ini dan shalat (wajib) yang didirikan, Berilah Al-Wasilah (derajat di Surga, yang tidak akan diberikan selain kepada Nabi saw) dan fadhilah kepada Muhammad. Dan bangkitkan beliau sehingga bisa menempati maqam terpuji yang telah Engkau janjikan. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji Rasulullah saw bersabda: Apabila kalian mendengar muadzin mengumandangkan adzan, maka ucapkanlah seperti yang ia ucapkan, lalu bacalah shalawat untukku, karena barang siapa membaca shalawat untukku satu kali, Allah akan mengucapkan shalawat untuknya sepuluh kali, kemudian mintalah wasilah untukku karena itu adalah sebuah derajat di surga yang tidak diberikan kecuali kepada seorang hamba Allah. Aku berharap akulah hamba tersebut. Barangsiapa memintakan wasilah kepada Allah untukku, ia berhak mendapat syafaatku. (HR Muslim)

13- Disunahkan membaca doa (sesukanya) setelah membaca doa setelah adzan, sesui dengan sabda Rasulallah saw: Doa antara waktu adzan dan waktu iqamah tidak ditolak (HR Abdu Dawud, at-Tirmidzi) 14- Disunahkan bagi wanita mengucapkan iqamah tanpa adzan. Karena adzan harus dikumandangkan dengan suara yang keras dan lantang sedang wanita tidak diperbolehkan

2. SALAT BERJAMAAH

2.1 Pengertian Shalat Berjamaah (ada) Shalat berjamaah adalah shalat yang dilakukan secara bersama-sama oleh dua orang atau lebih, salah seorang di antara mereka menjadi imam dan yang lain sebagai makmum, dengan aturan serta kaifiat yang tertentu. 2.2 Fadilah Shalat Berjamaah (ada) Sesuai dengan sabda Nabi saw :

Artinya: Dari Ibnu ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda : Shalat berjamaah itu melebihi keutamaan shalat sendirian, dengan dua puluh tujuh derajat. (HR. Bukhari) Dan semakin banyak jamaah, semakin lebih banyak, sebagaimana sabda Nabi saw:

Artinya : Seseorang yang mengerjakan shalat bersama satu orang lebih baik dari sendirian, dan jika ia shalat bersama dua orang lebih baik dari bersama satu orang, dan jika ia shalat bersama orang yang lebih banyak lagi, maka hal itu sangat disukai oleh Allah SWT. (HR. Ahmad)

2.3 Gerakan-gerakan Shalat (ada) Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengerjakan gerakan shalat berjamaah, sebagai berikut : a. Apabila shalat telah diiqamatkan, maka datangilah dengan tenang. Sesuai dengan sabda Nabi saw :

Artinya: Dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi saw bersabda: Apabila kamu telah mendengarkan qamat, maka berjalanlah mendatangi shalat dan hendaklah berjalan dengan tenang dan tentram dan jangan terburu-buru. Maka apabila kamu dapat menyusul, shalatlah mengikuti imam, sedang yang sudah tetinggal, maka sempurnakanlah. (HR. Bukhari-Muslim) b. Hendaklah salah seorang di antara kamu menjadi imam. Sesuai dengan sabda Nabi saw :

Artinya: Dari Abu Said, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: Apabila ada tiga orang hendaklahsalah seorang di antara mereka menjadi imam, dan yang lebih berhak menjadi imam adalah yang lebih ahli membaca Al-quran. (Ahmad, Muslim dan Nasai) c. Orang buta boleh menjadi imam. Sebagaimana sabda Nabi saw:

Artinya: Dari Anas bahwa Nabi saw menguasakan kepada ibnu Maktum atas Madinah dua kali mengimami mereka, padahal dia buta.(HR. Ahamad dan Abu Daud) d. Jika makmum hanya seorang, berdirilah di sebelah kanan imam. Sebagaimana sabda Nabi saw:

Artinya: Dari Jabir bin Abdullah yang berkata, bahwa pada suatu ketika Nabi saw shalat maghrib, maka saya datang lalu berdiri disebelah kirinya, maka beliau mencegah aku dan menjadikan aku di sebelah kanannya. Kemudian datang temanku, maka kami berbaris di belangkangnya. (HR. Abu Daud) e. Hendaklah meluruskan dan merapatkan barisan. Sebagaimana sabda Nabi saw:

Artinya: Dari Anas bahwa Nabi saw bersabda: Ratakanlah shafmu, karena meratakan shaf itu termasuk sebagian dari kesempurnaan shalat. (HR. Bukhari-Muslim) f. Isilah shaf (barisan) yang kosong. Sebagaimana sabda Nabi saw:

Artinya: Dari Anas, bahwa Rasulullah SAW bersabda: Penuhilah lebih dahulu shaf yang pertama, kemudian shaf berikutnya. Hendaklah shaf yang tidak penuh itu shaf yang di belakang.(HR. Ahmad, Abu Daud, Nasai, dan Ibnu Majjah) Dan sabda Nabi saw:

Artinya: Dari ibnu Umamah yang berkata Rasulullah saw bersabda: Ratakanlah shafmu, lalu luruskanlah di antara bahumu dan belunak-belunak di samping saudaramu.

Dan penuhilah tempat yang terluang, sebab syaitan itu masuk di antaramu sebagaimana halnya anak kambing, yakni anak-anak kambing yang masih kecil. (HR. Ahmad) g. Shaf wanita, letaknya di belakang shaf pria. Sebagaimana sabda Nabi saw:

Artinya: Dari ibnu Abbas ra yang berkata: Saya shalat di samping Nabi saw, sedang Aisyah bersama kami, dia shalat di belakang kami dan aku di sisi Nabi saw. (HR. Ahmad dan Nasai) h. Kemudian, apabila imam bertakbir, maka bertakbirlah jangan mendahului, atau kita harus mengikuti imam. Kemudian sabda Nabi saw:

Artinya: Wahai umat manusia, saya adalah imammu, maka jangamlah kamu mendahului saya dalam mengerjakan ruku, sujud, berdiri, duduk atau pun berpaling dari sembayang. (HR. Ahmad-Muslim) i. Bacaan imam jangan panjang-panjang. Sebagaimana sabda Nabi saw:

Artinya: Jika salah seorang di antaramu shalat dengan orang banyak, maka hendaklah diringankannya, karena di antara merekan ada yang lemah, sakit, atau tua. Adapun jika ia shalat sendirian bolehlah dipenjangkannya sekendak hatinya . (HR. Jamaah). j. Hendaklah memperhatikan bacaan imam. Makmum hendaklah memperhatikan bacaan dan gerakan imam. Seandainya imam salah ataupun lupa tentang bacaan dan gerakan di saat shalat, makmum dapat menegur dengan bertasbih bagi laki-laki dan bertepuk tangan bagi perempuan. Sebagaimana sabda Nabi saw:

Artinya: Barang siapa yang terganggu oleh sesuatu dalam shalatnya, hendaklah ia mengucapkan Subhanallah. Bertepuk tangan untuk kaum wanita, sedang tasbih untuk kaum laki-laki. (HR. Ahmad, Abu Daud, dab Nasai). Kemudian sabda Nabi saw:

Artinya: Dari ibnu Umar, bahwa Nabi saw shalat, lalu membaca sesuatu ayat, tiba-tiba beliau lupa dan ragu bacaannya itu. Setelah selesai beliau bertanya kepada bapakku (Umar bin Khattab); Apakah anda ikut shalat bersama kami tadi?, Jawabannya: ya saya ikut. Beliau berkata; mengapa tidak anda ingatkan padaku?.(HR. Abu Daud) k. Jika imam telah membaca Waladh-dhallin maka bacalah Amin. Sebagaimana sabda Nabi saw:

Artinya: Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: Apabila imam telah membaca ghairil magdhlu bi alaihim walad-dhallin, maka membaca amin, sesungguhnya malaikat membaca amin bersama-sama dengan imam membaca amin. Barang siapa membaca amin bersama para malaikat, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lampau.(HR. Ahmad dan Nasai) l. Hendaklah imam mengeraskan takbir intiqal. Sebagaimana sabda Nabi saw:

Artinya: Dari Said ibnu Harits, berkata: Abu Said bershalat menjadi imam kita, maka membaca takbir dengan nyaring tatkala mengangkat kepalanya bangun dari sujud, ketika akan sujud, ketika bangun, dan ketika berdiri dari dua rakaat. Selanjutnya dikatakan; Demikianlah aku melihat Rasulullah saw.(HR. Bukhari dan Ahmad) m. Jika kamu menjumpai imam telah shalat, maka bertakbirlah lalu mengikuti gerakan imam dan jangan hitung rakaatnya, kecuali mendapat ruku. Sebagaimana sabda Nabi saw:

Artinya: Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw bersabda: Apabila kamu datang untuk shalat (jamaah) padahal kita sedang sujud, maka sujudlah dan jangan kamu menghitungnya satu rakaat. Dan barang siapa telah menjumpai rukunya imam, berarti dia menjumpai shalat (rakaat sempurna).(HR. Abu Daud, Hakim, dan ibnu Khuzaimah). n. Kemudian sempurnakanlah shalatmu setelah imam bersalam. Sebagaimana sabda Nabi saw:

Artinya: Dari Mughirah bin Syuban dari pada hadistnya yang panjang mengenai perang tabuk, bahwa mereka mengajukan Abdurrahman bin Auf ra, kemudian ia pun shalat mengimami mereka, maka Rasulullah mendapati satu di antara dua rakaat itu sehingga beliau shalat bersama orang banyak dalam rakaat yang akhir. Setelah

Abdurrahman

bin

Auf

salam,

maka

Rasulullah

berdiri

menyempurnakan

shalatnya.(Muslim). o. Imam menghadap makmum atau kearah sebelah kanan. Sebagaimana sabda Nabi saw:

Artinya: Dari Samurah, berkata: Adalah Nabi saw, apabila telah selesai mengerjakan shalat, beliau menghadapkan mukanya kepada kita.(HR. Bukhari).

2.4 Adab-adab Imam Sebelum memulai shalat dengan makmumnya, seorang imam setelah muazin selesai mengumandangkan azan dan komat, maka imam berdiri paling depan dan menghadap makmum untuk mengatur barisan terlebih dahulu. Jika sudah lurus, rapat dan rapi imam menghadap kiblat untuk mulai ibadah sholat berjamaah dengan khusyuk. Syarat Untuk Menjadi Imam Sholat Berjama'ah : a. Lebih banyak mengerti dan paham masalah ibadah solat. b. Lebih banyak hapal surat-surat Alquran. c. Lebih fasih dan baik dalam membaca bacaan-baca'an salat. d. Bacaan imam jangan panjang-panjang e. Sebagaimana sabda Nabi saw:

Artinya: Jika salah seorang di antaramu shalat dengan orang banyak, maka hendaklah diringankannya, karena di antara merekan ada yang lemah, sakit, atau tua. Adapun jika ia shalat sendirian bolehlah dipenjangkannya sekendak hatinya . (HR. Jamaah). f. Lebih senior atau tua daripada jama'ah lainnya. g. Tidak mengikuti gerakan shalat orang lain. h. Hendaklah imam mengeraskan takbir intiqal. i. Sebagaimana sabda Nabi saw:

Artinya: Dari Said ibnu Harits, berkata: Abu Said bershalat menjadi imam kita, maka membaca takbir dengan nyaring tatkala mengangkat kepalanya bangun dari sujud, ketika akan sujud, ketika bangun, dan ketika berdiri dari dua rakaat. Selanjutnya dikatakan; Demikianlah aku melihat Rasulullah saw.(HR. Bukhari dan Ahmad) j. Laki-laki. Tetapi jika semua makmum adalah wanita, maka imam boleh perempuan. 2.5 Hikmah Shalat Berjamaah (ada) Banyak umat Islam yang menganggap remeh urusan shalat berjamaah. Kenyataan ini dapat kita lihat di sekitar kita. Masih bagus mau shalat, pikir kebanyakan orang, sehingga tidak berjamaah pun dianggap sudah menjadi muslim yang baik, layak mendapat surga dan ridha Allah. Padahal, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dalam shahihain, sampai pernah hendak membakar rumah para sahabat yang enggan berjamaah. Kisah ini seharusnya dapat membuka mata kita betapa pentingnya berjamaah dalam melaksanakan rukun Islam kedua ini. Jika mengamati hadits-hadits yang berkaitan dengan shalat berjamaah, barangkali kita dapat menyimpulkan sendiri bahwa hukum shalat berjamaah nyaris wajib. Bagaimana tidak, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menerangkan bahwa hanya ada tiga hal yang dapat menjadi alasan bagi kita untuk meninggalkan shalat berjamaah; hujan deras, sakit, dan ketiduran. Di luar itu, beliau akan sangat murka melihat umat Islam menyepelekan shalat berjamaah. Perhatian besar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ini cukup beralasan. Karena di dalam shalat berjamaah terdapat banyak hikmah dan manfaat bagi umat Islam, baik untuk maslahat dien, dunia, dan akhirat mereka. Berikut ini beberapa hikmah dan manfaat yang bisa diunduh umat Islam dari shalat berjamaah. a. Allah telah mensyariatkan pertemuan bagi umat ini pada waktu-waktu tertentu. Ada yang dilaksanakan secara berulang kali dalam sehari semalam, yaitu shalat lima waktu dengan berjamaah di masjid. Ada juga pertemuan yang dilaksanakan sekali dalam sepekan, yaitu shalat Jum'at. Ada juga yang dilangsungkan setelah pelaksanaan ibadah yang agung, dan terulang dua kali setiap tahunnya. Yaitu Iedul Fitri sesudah pelaksanaan ibadah puasa

Ramadlan dan Iedul Adha sesudah pelaksanaan ibadah Haji. Dan ada juga yang dilaksakan setahun sekali yang dihadiri umat Islam dari seluruh penjuru negeri, yaitu wukuf di Arafah. Semua ini untuk menjalin hubungan persaudaraan dan kasih sayang sesama umat Islam, juga dalam rangka membersihkan hati sekaligus dakwah ke jalan Allah, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. b. Sebagai bentuk ibadah kepada Allah melalui pertemuan ini dalam rangka memperoleh pahala dari-Nya dan takut akan adzab-Nya. c. Menanamkan rasa saling mencintai. Melalui pelaksanaan shalat berjamaah, akan saling mengetahui keadaan sesamanya. Jika ada yang sakit dijenguk, ada yang meninggal di antarkan jenazahnya, dan jika ada yang kesusahan cepat dibantu. Karena seringnya bertemu, maka akan tumbuh dalam diri umat Islam rasa cinta dan kasih sayang. d. Ta'aruf (saling mengenal). e. Memperlihatkan salah satu syi'ar Islam terbesar. f. Memperlihatkan kemuliaan kaum muslimin. g. Memberi tahu orang yang kurang beragama terhadap syariat agamanya. h. Memberikan motifasi bagi orang yang belum bisa rutin menjalankan shalat berjamaah, sekaligus mengarahkan dan membimbingnya seraya saling mengingatkan untuk membela kebenaran dan senantiasa bersabar dalam menjalankannya. i. Membiasakan umat Islam untuk senantiasa bersatu dan tidak berpecah belah. j. Membiasakan seseorang untuk bisa menahan diri dari menuruti kemauan egonya. k. Membangkitkan perasaan orang muslim dalam barisan jihad, sebagaimana yang Allah l. Orang yang mengerjakan shalat lima waktu dengan berjamaah dan membiasakan diri untuk berbaris rapi, lurus dan rapat, akan menumbuhkan dalam dirinya kesetiaan terhadap komandan dalam barisan jihad sehingga dia tidak mendahului dan tidak menunda perintahperitnahnya. m. Menumbuhkan perasaan sama dan sederajat dan menghilang status sosial yang terkadang menjadi sekat pembatas di antara mereka. n. Dapat terlihat orang fakir miskin yang serba kekurangan, orang sakit, dan orang-orang yang suka meremehkan shalat. o. Akan menggugah keinginan untuk mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para shabatnya.

p. Berjamaah menjadi sarana turunnya rahmat dan keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. q. Akan menumbuhkan semangat dalam diri seseorang untuk meningkatkan amal shalihnya dikarenakan ia melihat semangat ibadah dan amal shalih saudaranya yang hadir berjamaah bersamanya. r. Akan mendapatkan pahala dan kebaikan yang berlipat ganda, sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "shalat berjamaah itu lebih utama 27 derajat daripada shalat sendirian." (HR. Muslim). s. Menjadi sarana untuk berdakwah, baik dengan lisan maupun perbuatan.

2.6 Cara Masbuk Makmum masbuk atau makmum yang ketinggalan, ketika kita pergi ke masjid atau mushola melihat shalat berjamaah sudah dimulai sangat disayangkan apabila hanya shalat sendiri, padahal sholat jamaah itu pahalanya sama dengan 27 kali sholat sendiri. Sebagaimana sabda Nabi saw:

Artinya: Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw bersabda: Apabila kamu datang untuk shalat (jamaah) padahal kita sedang sujud, maka sujudlah dan jangan kamu menghitungnya satu rakaat. Dan barang siapa telah menjumpai rukunya imam, berarti dia menjumpai shalat (rakaat sempurna).(HR. Abu Daud, Hakim, dan ibnu Khuzaimah). Ada cara agar kita tetap dapat mengikuti shalat berjamaah, yaitu sebagai berikut: a. Jika sholat baru di rakaat pertama, dan imam belum rukuk, maka kita bisa langsung mengikuti imam setelah takbiratul. Ihrom,sampai selesai tanpa menambah apapun. b. Jika imam sudah melewati rukuk pada rakaat pertama, maka kita juga bisa langsung mengikuti gerakan imam setelah takbiratul ihrom, tapi harus menambah 1 rakaat lagi setelah imam salam.

c. Jika imam sudah melewati rukuk pada rakaat kedua, maka kita juga bisa langsung mengikuti gerakan imam setelah takbiratul ihrom, tapi harus menambah 2 rakaat lagi setelah imam salam. d. Jika imam sudah melewati rukuk pada rakaat ke tiga, maka kita juga bisa langsung mengikuti gerakan imam setelah takbiratul ihrom, tapi harus menambah 3 rakaat lagi setelah imam salam, hitung rakaat terakhir saja. Contoh : kalo imam sholat ashar sudah selesai rukuk rakaat ke tiga, kita baru ikut jamaah, maka kita takbiratul ihrom, lalu langsung mengikuti gerakan imam, setelah sholat jamaah selesai (imam mengucap salam) kita berdiri untuk melanjutkan sholat dengan menambah 3 rakaat lagi, yaitu rakaat ke 2, lalu ke 3 dan rakaat terakhir. Walaupun jamaah tadi sudah selesai, kita masih mendapatkan kebaikan sholat jamaah sama seperti mereka. Apabila seorang makmum terlambat (masbuk) maka kewajibannya adalah menyempurnakan sholatnya dengan menambah rakaat yang kurang. Sebagaimana sabda Nabi saw:

Artinya: Dari Mughirah bin Syuban dari pada hadistnya yang panjang mengenai perang tabuk, bahwa mereka mengajukan Abdurrahman bin Auf ra, kemudian ia pun shalat mengimami mereka, maka Rasulullah mendapati satu di antara dua rakaat itu sehingga beliau shalat bersama orang banyak dalam rakaat yang akhir. Setelah Abdurrahman bin Auf salam, maka Rasulullah berdiri menyempurnakan shalatnya.(Muslim). Kemudian sabda Nabi saw : Dan apa yang kalian luput maka sempurnakanlah. (Hadits Abu Hurairah riwayat Al-Bukhari dan Muslim) Sabda beliau sempurnakanlah artinya lengkapi apa yang kurang dengan menambah kekurangannya, bukan dengan cara memulai dari awal rakaat. Misal masbuk pada shalat isya (4 rakaat) dan tertinggal 3 rakaat. Setelah imam salam, kita bangun dan tentunya melengkapi 3 rakaat lagi. Urutannya adalah : a. Rakaat pertama : melakukan tasyahud awal b. Rakaat kedua : tidak ada tasyahud

c. Rakaat ketiga : tasyahud akhir dan duduk tawarruk Telah dimaklumi bahwa dalam sholat yang punya dua tasyahhud terdapat dua kaifiat (cara) duduk, yaitu dengan cara iftirasy pada tasyahhud awal (dengan menancapkan kaki kanan dan duduk di atas kaki kiri) dan dengan cara tawarruq pada tasyahhud terakhir (dengan menancapkan kaki kanan dan menyelipkan kaki kiri dibawah kaki kanan sambil langsung duduk meyentuh lantai). Demikian diterangkan dalam beberapa hadits. Jadi tasyahhud yang bukan pada akhir sholat maka duduknya adalah dengan iftirasy sebab penyebutan tawarruq hanya diterangkan pada akhir tasyahhud saja.