You are on page 1of 4

Analisis Kualitatif & Kuantitatif Sakarin

0 Comments dan 0 Reactions Saturday, May 14, 2011 Posted by Faik Fauzi Mulachella Browse Home Task Analisis Kualitatif & Kuantitatif Sakarin

Struktur Sakarin Sakarin merupakan garam natrium dari asam sakarin yang memiliki tingkat kemanisan 300 kali dari gula biasa (sukrosa). Sedangkan siklamat merupakan salah satu jenis pemanis buatan yang memiliki tingkat kemanisan 30 kali daripada sukrosa. Karena tingkat kemanisannya yang sangat tinggi, maka sering disebut dengan biang gula. Dalam perdagangan, produk sakarin dikenal dengan nama Gucide, Glucid, Garantose, Saccharimol, Saccharol, dan Sykosa, sedangkan siklamat memiliki nama dagang yang dikenal sebagai Assugrin, Sucaryl, dan Sugar Twin dan Weight Watchers. Harga sakarin lebih murah dibanding dengan pemanis buatan lainnya, karena itu sakarin banyak digunakan pedagang kecil. Adapun siklamat lebih banyak digunakan oleh produsen tingkat industri besar, disebabkan sifatnya yang tidak menimbulkan after taste pahit serta sifatnya yang mudah larut dan tahan panas, sehingga banyak digunakan terutama dalam produk-produk minuman ringan. Sakarin diperkenalkan pertama kali oleh Fahlberg pada tahun 1879 secara tidak sengaja dari industri tar batubara. Penggunaannya secara komersial sudah diterapkan sejak tahun 1884. Namun sakarin baru terkenal oleh masyarakat luas setelah perang dunia I, di mana sakarin berperan sebagai pemanis alternatif pengganti gula pasir sulit diperoleh. Sakarin menjadi lebih populer lagi di pasaran pada tahun 1960-an dan 1970-an. Saat itu, sifatnya sebagai pemanis tanpa kalori dan harga murahnya menjadi faktor penarik utama dalam penggunaan sakarin. Selain itu sakarin tidak bereaksi dengan bahan makanan, sehingga makanan yang ditambahkan sakarin tidak mengalami kerusakan. Sifat yang penting untuk industri minuman kaleng atau kemasan. Karena itulah, sakarin dalam hal ini sering digunakan bersama dengan aspartame; agar rasa manis dalam minuman tetap bertahan lama. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, aspartame tidak bertahan lama dalam minuman kemasan. Sifat fisik sakarin yang cukup dikenal adalah tidak stabil pada pemanasan. Sakarin yang digunakan dalam industri makanan adalah sakarin sebagai garam natrium. Hal ini disebabkan sakarin dalam bentuk aslinya yaitu asam, bersifat tidak larut dalam air. Sakarin juga tidak mengalami proses penguraian gula dan pati yang menghasilkan asam; sehingga sakarin tidak menyebabkan erosi enamel gigi.

Sakarin merupakan pemanis alternatif untuk penderita diabetes melitus, karena sakarin tidak diserap lewat sistem pencernaan. Meskipun demikian, sakarin dapat mendorong sekresi insulin karena rasa manisnya; sehingga gula darah akan turun. Sakarin mulai diteliti sejak lebih dari 100 tahun yang lalu. Ahli yang pertama kali menentang penggunaan sakarin, karena dianggap merugikan kesehatan; adalah Harvey Wiley. Menurut beliau, sakarin memang manis seperti gula pasir biasa, namun karena struktur kimianya yang menyerupai tar batubara; tetap saja yang dikonsumsi adalah tar batubara yang seharusnya tidak dimakan. Namun pernyataan terus dibantah keras oleh presiden Amerika Serikat saat itu, Theodore Roosevelt. Memang sejak pertama diperkenalkan secara luas kepada masyarakat sampai saat itu, belum ada efek buruk sebagai akibat konsumsi sakarin. Sejak saat itu, keamanan penggunaan sakarin terus diperdebatkan sampai sekarang. Adapun bahaya yang ditimbulkan sakarin adalah efek karsinogenik. Pada sebuah penelitian di tahun 1977, mencit percobaan mengalami kanker empedu setelah mengkonsumsi sakarin dalam jumlah besar. Penentuan efek serupa pada manusia lebih sulit, karena sebagian besar produk makanan yang ada saat ini menggunakan beberapa pemanis buatan sekaligus. Penelitian oleh Weihrauch & Diehl (2004) menunjukkan bahwa konsumsi kombinasi pemanis buatan dalam jumlah besar (>1.6 gram/hari) meningkatkan risiko kanker empedu sebanyak hanya 1.3 kali lipat pada manusia. Namun pemanis manakah yang menimbulkan efek ini tidak diketahui. Setelah beberapa tahun meneliti, sebagian besar ahli akhirnya menyimpulkan bahwa sakarin tidak bersifat karsinogenik pada manusia. Batas maksimum penggunaan siklamat menurut ADI (acceptable daily intake) yang dikeluarkan oleh FAO ialah 50 - 300 ppm, sedangkan siklamat lebih besar yaitu 500 - 3000 ppm. Meski demikian, penggunaan jenis-jenis pemanis buatan ini hanya disarankan bila memiliki gangguan kesehatan, seperti penderita diabetes.

Metode Analisis Kadar Sakarin


Metode analisis penetapan kadar kualitatif dan kuantitatif kadar sakarin yang dapat digunakan untuk penetepan kadar sakarin dalam makanan dan minuman adalah sebagai berikut: a. Spektrofotometri UV Spektrofotometri adalah teknik pengukuran analisa kuantitatif dan kualitatif suatu zat bedasarkan interaksi sinar radiasi (frekuaensi tertentu ) dengan suat zat. Dimana dalam spektrofotometri UV panjang gelombang yang digunakan adalah daerah elektromagnetik dengan panjang gelombang 190-380 nm. Dasar Analisis: Hal yang menjadi dasar sakarin dapat ditetapkan dengan metode ini adalah adanya struktur /gugus kromofor yang dapat menyerap sinar UV. b. Spektrofotometri Visibel Spektrofotometri adalah Teknik pengukuran analisa kuantitatif dan kualitatif suatu zat bedasarkan interaksi sinar radiasi (frekuaensi tertentu ) dengan suat zat. Dimana dalam spektrofotometri UV panjang gelombang yang digunakan adalah daerah elektromagnetik dengan panjang gelombang 380-780 nm. Dasar Analisis: Sakarin yang dihidrolisis menjadi amin primer aromatik akan mampu membentuk kompleks dengan reagen N-1-Naftiletilendiamin yang menghasilkan warna.

c. Spektrofotometri Fluoresensi Prinsip Dasar spektroflouromerik adalah adanya sinar monokromatis penyebab promosi elektron pada senyawa organik dan atom yang dinamakan sinar eksitasi. Sinar tersebut diserap oleh senyawa atau atom setelah mengalami eksitasi elektron akan kembali ke tingkat dasar. Dasar Analisis: Sakarin dapt dibuat agar strukturnya lebih rigid dan planar dengan suatu reagen sehingga dapat berfluoresensi. d. KLTKT (Kromatografi Lapis Tipis Kinerja Tinggi) Densitometri disebut juga KLTKT adalah suatu metode analisis instrmental yang berdasarkan interaksi radiasi elektromagnetik dengan analit yang merupakan noda pada KLT secara kuantitatif. KLTKT dimaksudkan untuk mendapatkan pemisahan dan hasil analisis yang lebih baik dari KLT biasa. Kelebihannya terletak pada fase diamnya yang mana pada KLTKT ini, fase diam yang digunakan berukuran sangat halus dan pori-porinya seragam serta tebal lapisannya hanya 0,1 mm. Ukuran partikel fase diam yang lebih kecil ini akan menyebabkan semakin besarnya jumlah lempeng teoritis, karenanya pemisahan menjadi lebih efisien. Dasar Analisis: Sakarin yang dalam campuran dengan zat-zat lain lebih cocok menggunakan metode ini. Pada metode ini tidak perlu dilakukan separasi terlebih dahulu karena sudah terjadi pemisahan pada kromatografi lapis tipis dengan fae gerak dan fase diam yang sesuai. e. KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi) KCKT merupakan teknik pemisahan yang diterima secara luas untuk analisis dan pemurnian senyawa dalam suatu sampel pada sejumlah bidang keilmuan. KCKT paling sering digunakan untuk menetapkan kadar senyawa-senyawa tertentu seperti asam-asam amino, asam-asam nukleat dan protein-protein dalam cairan fisiologis; menentukan kadar senyawa aktif obat, produk hasil samping proses sintesis atau produk degradasi dalam sediaan farmasi; memonitor sampel-sampel yang berasal dari lingkungan; memurnikan senyawa dalam suatu campuran; memisahkan polimer dan menentukan distribusi berat molekulnya dalam suatu campuran; kontrol kualitas dan mengikuti jalannya reaksi sintesis. Dasar Analisis: Sama halnya dengan KLTKT, yaitu menetapkan kadar sakarin dalam campuran yang tidak memerlukan separasi terlebih dahulu. Bedanya adalah pada kadar sampel yang digunakan, yaitu dalam satuan g/ml, sedangkan KLTKT adalah mg/ml. f. Nitrimetri Nama lain dari metode ini adalah titrasi diazotasi, yaitu metode penetapan kadar secara kuantitatif menggunkan larutan baku NaNO2. Metode ini didasarkan pada reaksi diazotasi yakni reaksi antara amina aromatik primer dengan asam nitrit dalam suasana asam membentuk garam diazonium. Dasar Analisis: Sakarin mempunyai gugus amin sekunder aromatis yang dapat dihidrolisis menjadi gugus amin primer aromatis, sehingga dapat membentuk garam diazonium dengan NaNO2. g. Alkalimetri Merupakan penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunkan larutan baku basa.

Dasar Analisis: Sakarin merupakan senyawa yang bersifat asam karena ada gugus penarik electron yaitu atom O, kemudian untuk menstabilkannya dilepaskan atom H. Hal tersebut yang mendasari sakarin dapat ditetapkan kadarnya secara alkalimetri. h. N total Dasar Analisis: Metode ini dapat digunakan karena sakarin mengandung atom N yang dengan cara destruksi dan digesti dapat menghasilkan atom N. Kemudian dilakukan titrasi secara asidialkalimetri. i. Gravimetri Adalah cara analisis kuantitatif berdasarkan berat tetap (berat konstannya). Dalam analisis ini unsur atau senyawa yang dianalisis dipisahkan dari sejumlah bahan yang dianalisis. Bagian terbesar analisis gravimetri menyangkut perubahan unsur atau gugus dari senyawa yang dianalisis menjadi senyawa lain yang murni dan mantap (stabil) sehingga dapat diketahui berat tetapnya. Berat unsur atau gugus yang dianalisis selanjutnya dihitung dari rumus senyawa serta berat atom penyusunnya. Dasar Analisis: Sakarin dapat diendapkan dengan suatu reagen tertentu yang selanjutnya endapan tersebut diperlakukan sedemikian rupa sehingga didapatkan bobot konstan.